|
Seorang teman berkata "Ini memang hukuman TUHAN, karena terlalu sering umat Kristen dikerjai di Indonesia". Komentar yang terdengar sederhana ketika serial bencana terjadi sejak Tsunami Aceh, Lumpur Sidoarjo, Gempa Jogyakarta hingga kemudian Gempa di Padang, Sumatera Barat. Dan, bukannya sedikit orang Kristen yang kemudian memiliki pikiran yang sama seputar rajinnya BENCANA ALAM menyapa dan mengunjungi Indonesia.
Kali ini, Wasior di Teluk Wondana, Papua Barat mengalami bencana yang disebut banyak orang "Tsunami Kecil". Apa sebab? Sebuah Banjir Bandang yang luar biasa menerpa Kota Wasior yang seketika porak poranda, hancur lebur dan melumat hampir semua sudut kota. Membawa ratusan nyawa menyertai banjir bandang dan ratusan lainnya lagi raib entah kemana. Kota Wasiorpun lunglai, tak berbentuk dan meninggalkan nestapa dan horor bagi penduduknya yang kemudian tercerai berai mencari tempat lebih aman.
Dan tiba-tiba, Kabupaten Kepulauan Mentawai, tepatnya di Pulau Pagai mengalami bencana. Kali ini bukan Tsunami Kecil, tetapi Tsunami sungguhan. Tidak tanggung-tanggung, Tsunami sungguhan bulan Oktober 2010 ini melalap 2 dusun dan bahkan menghilangkan sejumlah wisatawan asing asal Australia. Ratusan nyawa melayang dan ratusan lainnya hilang, dan ribuan, sebagaimana biasanya terdampar di tempat pengungsian.
Sudah selesai? Masih belum juga. Hampir bersamaan dengan Tsunami di Mentawai, Indonesia kembali terperangah dan lunglai bersedih dengan erupsi Gunung Merapi. Gunung paling aktif di dunia ini, kembali unjuk kebuasan dengan merenggut belasan nyawa manusia, termasuk Mbah Maridjan dan sudah pasti menghancurkan banyak harta benda milik manusia. Termasuk juga menumbangkan banyak pohon, membakarnya dengan awan panas yang rajin disemprotkan Merapi jika meletus. Dan, seperti biasa ribuan orang akan mengungsi, dan memang telah mengungsi di Kabupaten Sleman. Indonesiapun termenung, muram dan durja.
Dan, Jakarta yang biasanya ramai, menjadi semakin riuh oleh desis kebosanan, gerutu kelelahan dan ocehan ocehan kekesalan lain akibat harus menempuh jarak hanya sejauh 2 KM dengan waktu tempuh lebih dari 2 jam. Hujan selama 3 jam, tiba-tiba melumpuhkan Jakarta. Membuat obral janji kampanye Gubernur Foke menjadi bahan olok-olok karena pernah menjanjikan menaklukkan banjir di Jakarta. "Serahkan ke ahlinya" ujar beliau masa kampanye. Dan, Foke memang pakar tata kota. Tapi, setelah 3 tahun, semakin nyata jika Banjir di Jakarta justru yang menaklukkan Foke dan membuat janjinya terkesan menjadi ANGIN SORGA. Jakarta tetap macet, TAMBAH PARAH malahan.
Bencana Banjir Bandang di Wasior, Tsunami di Mentawai, Letusan Merapi di Kaliurang, Banjir dan Macet di Jakarta. Dan, pasti masih banyak daerah lain yang bermuram durja oleh kunjungan sang BENCANA ALAM. Bencanapun tidak lagi pilih-pilih tempat, dan sudah pasti Bencana tidak mengenal daerah A yang beragama Budha, B yang beragama Kristen, C yang beragama Hindhu atau D yang beragama Islam. Bencana tidak mengikuti logika manusia, karena jika memang dia hendak berkunjung, lebih banyak karena faktor tak terduganya. Meskipun unsur kelalaian manusia juga bukannya sedikit dalam kasus Banjir misalnya.
Tetapi, lepas dari Bencana yang tidak lagi pilih-pilih tempat dan menghapuskan kekerdilan beberapa orang yang menyangka bahwa Bencana di A dan B untuk menghukum kelompok orang tertentu, ada beberapa hal yang terkesan memilukan. Wasior, sebuah Kota di Papua Barat hancur lebur. Pada masa-masa sulitnya, betapa ringkih dan minimalnya perhatian para pemangku kepentingan. Bahkan Presidenpun masih harus menunggu beberapa lama untuk mengunjungi kota yang sedang menangisi kematian banyak warganya dan kematian aktifitas Kota itu. Sungguh bertolak belakang dengan Presiden Chili yang sampai ikutan menunggui proses evakuasi para penambang Chili yang terkurung puluhan hari di bawah tanah.
Dengarlah komentar banyak aktivis, betapa lamban penanganan bencana di Wasior. Benar, medan dan transportasi menuju Wasior sangatlah sulit. Tetapi, bukanlah alasan bagi siapapun pemangku kepentingan untuk membiarkan Orang Wasior, orang Papua Barat untuk menangis sendirian. Para pemangku kepentingan memiliki dana, fasilitas, alat dan technologi untuk mencapai Wasior. Dan untuk kepentingan rakyatlah, termasuk rakyat Wasiorlah mereka diberi mandat menjadi pemimpin. Tapi, sedihnya kisah yang terjadi di Wasior masih jauh dari ideal yang menyebutkan pemimpin memperoleh mandat dari masyarakatnya.
Saat sekarang, bukan hanya Wasior, tetapi masyarakat seputar Gunung Merapi serta masyarakat di Mentawai sedang sama-sama terkulai layu, menangisi kemalangan mereka. Sekali lagi, mereka, baik Wasior, Mentawai maupun Kaliurang Jogya dan Sleman adalah kita semua, Indonesia. Adalah tanggungjawab semua, terutama para pemangku kepentingan dan birokrasi Negeri ini yang memiliki dana, trnasportasi, fasilitas dan kewenangan untuk melakukan sesuatu bagi mereka yang mengalami bencana.
Tetapi lihatlah bedanya. Sementara Wasior yang porak poranda serta Mentawai yang juga luluh mengalami penanganan yang relatif lambat, di Jogyakarta laporan riil time disampaikan dari jam ke jam. Dengan cepat status dan posisi Mbah Maridjan teridentifikasi, dengan cepat korban di gorong-gorong Cipete ditemukan, begitu cepat alur informasi seputar Merapi dan Jakarta. Kedua tempat itu, memang memiliki resource yang banyak untuk menghadapi bencana. Bandingkan dengan Wasior dan Mentawai, yang ironisnya Wasior sekarang seperti tenggelam dibalik hiruk pikuk penanganan emergency di Mentawai dan Merapi. Bahkan Mentawaipun kurang mendapat porsi pemberitaan dan porsi penanganan yang cepat dan tepat. Karena selain medannya sulit, transportasi juga sulit, bahkan para petinggi Kabupetn Mentawaipun lebih suka tinggal di Padang dengan alasan transportasi ke Mentawai sulit. Tapi anehnya, kiriman emergency response ke Pulau Pagai bisa dilakukan oleh lembaga bantuan lain. Bukankah ini ironi?
Bukan pada tempatnya menyebutkan bahwa tempat A adalah konsentrasi orang A, dan bahwa tuhan sedang menghukum kelompok orang A. Identifikasi seperti ini akan semakin menyesatkan, termasuk di kalangan Gereja dan kekristenan. Tetapi, melihat bagaimana penanganan Wasior yang porak poranda tetapi sangat terlambat dan lamban, response pemerintah yang lamban, dana yang seret; Melihat Mentawai yang juga lamban ditindaklanjuti, maka patut kita bertanya: Apakah penanganan bencana juga harus mempertimbangkan faktor sektarian? Apakah Wasior dan Mentawai bukan INDONESIA? Bukan saudara kita Indonesiakah di Wasior dan Mentawai hingga pemberitaan dan penanganan bencana disana begitu lamban?
Aaaaaaach, mereka juga INDONESIA. Tetapi, mereka sedang mendapatkan perlakuan berbeda. Sampai kapan seperti ini? Sampai kapan Indonesia berhenti bekeluh kesah? Sudah cukup mereka digempur bencana, seharusnya sekarang mereka digempur oleh simpati, bantuan, dukungan dan sokongan moral, dana dan bantuan kita. Begitu seharusnya INDONESIA. Begitu mestinya visi Sumpah Pemuda. Sayang, realitas kini, sedang tidak demikian ......
written and copyright by: Audy WMR Wuisang
|
|