salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: billyfredriksobalely
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1569

People Online:
Members: 0
Visitors: 9
Bots: 1
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Perayaan HUT GKRI Exodus, Surabaya ke-22
Last post by Denny in Agenda Kita on Jul 07, 2014 at 00:30:51

COMING SOON - DEBAT TERBUKA
Last post by golgota in Agenda Kita on May 12, 2014 at 15:50:49

Membahas Kesalahan dan Kesesatan Pdt Stephen Tong
Last post by golgota in Agenda Kita on Apr 27, 2014 at 16:30:54

GSM: Kelas Christology / Doktrin Kristus (Yesus Adalah Allah
Last post by golgota in Agenda Kita on Apr 20, 2014 at 23:28:31

Buku terbaru Denny: "PENGANTAR MENGENAL AGAMA2 INDONESIA"
Last post by Denny in Lainnya on Apr 12, 2014 at 23:31:48

4 e-book Denny T. S. di Android dan i-Os
Last post by Denny in Lainnya on Mar 16, 2014 at 07:46:21

SPI 3: "DID JESUS SPEND SATURDAY IN HELL?"
Last post by Denny in Agenda Kita on Mar 16, 2014 at 07:41:09

DOKTRIN DAN APLIKASI (Denny Teguh Sutandio)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Feb 02, 2014 at 14:39:03

Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) Periode: Feb-Juni 2014
Last post by Denny in Agenda Kita on Feb 02, 2014 at 14:29:19

Apa yang membuat orang sulit dapat jodoh?
Last post by mawarmerahmuda in Love, Sex, and Dating on Jan 29, 2014 at 16:02:56

We have received
7572257
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Seiman
Result

Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Seiman
Bila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
Go to page 1, 2, 3, 4  Next
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Anas
Newbie
Newbie


Joined: Nov 08, 2004
Posts: 11

PostPosted: Wed Nov 10, 2004 1:35 am    Post subject: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Seiman Reply with quote

Surat Terbuka Bambang Noorsena
Untuk Saudara-saudara Seiman
Di Tanah Air


Shalom Aleikhem, Assalamu ‘alaikum!

Tahiyatan Thayyibatan Amma Ba’du:

Saudara-saudaraku seiman, telah banyak tenaga kita tercurah untuk menanggapi hujatan sia-sia kaum “Penentang Allah” pada tahun-tahun terakhir ini. Mereka sudah hambur-hamburkan banyak dana untuk mencetak “Alkitab bajakan” dari terjemahan LAI (karena mereka hanya membuang istilah “Allah”, dan memakai seluruh terjemahan ini)? Tetapi seluruh argumen-argumen mereka dangkal, dengan pencomotan referensi tanpa membaca penuh konteksnya, pengutipan harfiah ayat-ayat Alkitab tanpa melihat latar belakang historis, bahkan semua data archeologis dan filologis keserumpunan bahasa-bahasa semitik yang saya ajukan, mereka jawab sekenanya dengan membenturkan secara harfiah dengan ayat-ayat Alkitab, tanpa exegese yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Mereka tetap ngotot berkata Allah itu “dewa air”, “dewa bulan”, tanpa menang-gapi argumentasi saya mengenai pemakaian istilah “Allah” di lingkungan Yahudi dan Kristen dalam makna yang sama sekali berbeda dengan diberikan kaum jahiliyah Mekkah pada masa pra-Islam. Tentang bukti-bukti inskripsi Kristen Arab pra-Islam yang memakai istilah Allah, sudah saya buktikan lengkap dengan foto-foto inskripsi itu, antara lain sebagai berikut:

1.Inskripsi Zabad tahun 512 M, yang diawali dengan: Bism al-Ilah (Dengan Nama Allah), lengkap dengan tanda salib yang menujukkan asalnya dari lingkungan Kristen;
2.Inskripsi Umm al-Jimmal dari pertengahan abad ke-6 M, yang diawali dengan ungkapan: Allahu ghafran (Allah Yang Mengampuni).
3.Inskripsi lain, seperti Hurran al-Lajja dari tahun 568 M, dan seluruh inskripsi Arab pra-Islam yang semua berasal dari lingkungan Kristen.

Tentang bukti-bukti yang saya kemukakan ini, mereka berkata bahwa ar-gumentasi saya tidak berdasarkan ayat-ayat Alkitab. Saya tidak mengerti jalan pikiran mereka. Di satu pihak mereka menuduh saya seperti itu, tetapi di pihak lain mereka mendasarkan argumentasi pada kutipan dari buku ini dan buku itu, yang juga bukan Firman Tuhan untuk menolak istilah Allah. Tampaknya, mereka sudah mempunyai pra-paham dari ayat-ayat Alkitab yang mereka tafsirkan menurut kepentingan mereka, lalu mereka cari-cari berbagai kutipan untuk meneguhkan pra-paham mereka. Bahkan, dari traktat-traktar mereka juga mereka cantumkan gambar-gambar patung dari dewa-dewi pra-Islam yang tidak jelas kaitannya langsung dengan argumentasi yang mereka ajukan.

Di pihak lain, mereka memaksakan pemakaian nama Yahwe, yang mereka ka-takan “sembahan kaum Yahudi dan Kristen”, dan mereka lalu memaksakan pencan-tuman kembali nama itu dalam Perjanjian Baru. Padahal dalam teks asli Perjanjian Baru, nama itu diterjemahkan menjadi “Kurios” (Tuhan). Pernah Sdr. Teguh Hendarto, salah seorang dari kaum “Penentang Allah” itu, mengatakan kepada saya: “Memang dalam teks Yunani tidak ada nama Yahwe, tetapi belum tentu teks Yunani itu asli, mungkin kalau teks Ibrani ditemukan, nama Yahwe pasti ada”. Argumentasi ini tentu saja konyol, bagaimana mungkin mereka sudah begitu yakin mengajukan teori mereka, sementara “masih menunggu bukti teks asli Ibrani” ditemukan? Hal ini dilakukakan mereka, karena mereka kepepet.

Betapa tidak? Perjanjian Baru Ibrani yang mereka kutip dalam berbagai traktat mereka itu, jelas-jelas disebutkan bukan teks asli, bahkan jelas-jelas pula disebutkan bahwa itu hasil terjemahan dari bahasa Yunani. Sedangkan dalam seluruh teks asli Yunani nama Yahwe diterjemahkan Kurios, kecuali Haleluyah (Pujilah Yah/Yahwe) dalam Kitab Wahyu, karena ini sebuah seruan doa. Mereka menolak istilah Allah karena argumentasi mereka, bahwa Allah pernah disembah di Ka’bah pada zaman pra-Islam bersama dewi-dewi Mekkah, lalu saya mengajukan bukti bahwa nama Yahwe pun juga pernah disembah bersama-sama dewi kesuburan Palestina (inskripsi Qirbeth el-Qom dan inskripsi Kuntilel Ajrud).

Tetapi apakah ini berarti Yahwe “dewa dari agama kafir?” Tetapi jawaban mereka, sudah dapat diduga. “Itu kan sinkretisme di Israel pada zaman itu?”, tulis mereka. Ini jelas tidak fair. Sebab bukankah Allah dipuja bersama dewi-dewi Mekkah itu juga hasil sinkretisme? Dan karena itu pula, tidak mewakili pandangan teologis Islam atau Kristen Arab, karena makna seperti itu (Allah sebagai dewa kafir) tidak ada dalam al-Qur’an dan Injil berbahasa Arab. Satu lagi mereka menolak perbandingan fakta yang saya kemukakan di atas. Alasan mereka, dalam Islam Allah adalah “nama diri” (the proper name). Untuk itu mereka mengutip terjemahan-terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang menanggap bahwa Allah itu “The proper name”, sehingga tidak bisa diterjemahkan. Padahal, tidak semua umat Islam berpandangan seperti itu. Faktanya, ada umat Islam yang menanggap Allah itu “nama diri”, karena itu ghayr al-musytaq (tidak punya asal-usul dari kata lain), tetapi ada pula yang menanggapnya musytaq (berasal dari kata al-Ilah). Karena kedangkalan dan kemiskinan data yang mereka ajukan, saya menganggap tidak perlu berdiskusi dengan mereka.

Saya tidak terkejut, ketika membaca bahwa ada “segelintir umat Islam” dari Wonosobo mengajukan protes kepada LAI soal keberatan mereka istilah Allah tercantum dalam Alkitab. Pada bulan Juli lalu, ketika saya sempat pulang ke Indonesia, saya membaca juga keberatan serupa diajukan oleh seorang Muslim, yang kalau tidak salah dari salah satu pimpinan Paguyuban Pencak Silat. Ya, tidak perlu ditanggapi. Bagaimana guru Pencak Silat mengerti keserumpunan bahasa-bahasa Timur Tengah. Tentu saja, mereka sangat awam untuk berbicara mengenai soal-soal filologi sepelik ini. Munculnya “Kelompok Mubaligh Wonosobo”ini, yang malah mencantumkan judul surat mereka kepada LAI dengan “Peringatan Keras!”, membuat saya bertanya-tanya: “Apa-apaan lagi ini?” Teman-teman Muslim Wonosobo ini, jelas-jelas tidak paham ayat al-Qur’an yang tegas-tegas menyebutkan:

Alladzina ukhrijuu min diyarihim bi ghairi haqqin illa ‘an yaquluu Rabuna llahu,wa lau laa daf’u llahin nnaasa ba’dhuhum ba’dhin lahudimat shawami’u wa biya’un wa shalawatun wa masaajidu yudhkaru fiihasmu llahi katsiran, wa liyanshurana llahu min yanshuruhu. Innallaha laqawwiyyun aziiz.
Artinya: Orang-orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: Tuhan kami adalah Allah. Dan seandainya Allah tidak mencegah keganasan manusia atas manusia lainnya,tentu-lah telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagoge-sinagoge dan masjid-masjid yang didalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Perkasa (Q.s. Al-Hajj/22:40).

Bagaimana mungkin mereka menuntut orang Kristen untuk tidak menggu-nakan istilah Allah, sedangkan al-Qur’an sendiri menyaksikan bahwa dalam gereja-gereja, biara-biara, sinagoge-sinagoge dan masjid-masjid nama Allah sama-sama di-agungkan? Mereka ini benar-benar tidak memahami sejarah. Cobalah mereka berkunjung ke negara-negara Arab (kecuali Arab Saudi yang tidak boleh ada komunitas non-Islam). Mereka akan berjumpa bahwa orang-orang Kristen dan Muslim sama-sama menggunakan istilah Allah, meskpun secara teologis mereka memahaminya secara berbeda.

Saya menulis surat terbuka ini dari Kairo, tempat dimana saya sekarang tinggal, dan sehari-hari saya berbicara, belajar, berdoa dan mengaji Injil di Gereja Ortodoks Koptik dalam bahasa yang sama dengan saudara-saudara umat Islam. Bahkan saudara-sauradaku dalam Tuhan, kalau anda mengunjungi Kairo Kota Lama (Al-Qahirah al-Qadimah), anda akan menyaksikan di pintu Gereja “Al-Mu’alaqqah” (Haging’s Church) dipahatkan kaligrafi Arab yang indah: Allah Mahabah (Allah itu Kasih), dan juga di pintu yang lain: Ra’isu al-Hikmata Makhaafatu llah (Permulaan Hikmat adalah Takut kepada Allah).

Dari Gereja “al-Mu’alaqqah”, anda bisa melewati sebuah Gereja “Abu Sirga”, -- yang dahulu pernah tinggal “Keluarga Kudus” (Siti Maryam, Yesus Putra-Nya, dan Yusuf al-Najjar) sewaktu pengungsian mereka ke Mesir, -- dan akan menemukan juga sebuah sinagoge Yahudi “Ben Ezra”. Di sana anda bisa membaca data-data, bagaimana dahulu Rabbi Moshe Ben Ma’imun menulis buku-buku agama Yahudi dalam bahasa Ibrani dan Arab, antara lain 2 bukunya yang terkenal:

1.Al-Mishnah , yaitu Hukum Fiqh Yahudi , dalam bahasa dan huruf Arab);
2.Dalilat el-Hairin (Panduan Untuk Kaum Yang Kebingungan), dalam bahasa Arab tetapi beraksara Ibrani.
Dalam kedua buku ini, nama Allah dipakai untuk menerjemahkan El dan Elohim. Sedangkan ungkapan Allahuma juga sering muncul untuk menerjemahkan kata Elohim dalam konteks doa. Selanjutnya, kalau anda keluar dari kompleks gereja-gereja kuno tersebut, anda segera menyaksikan Masjid ‘Amr bin al-‘Ash. Pada sore hari, anda akan biasa mendengar gema adzan, dan “Taranim Mazamir” (mazmur-mazmur yang dikasidahkan) dan “Mulahan Injil” (yaitu pembacaan Injil secara tartil, tilawat). Dalam keseharian, disana gema adzan Allahu akbar, Allahu akbar (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar), dan Shadaqallahul adzim (Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya) menutup Pembacaan al-Qur’an, terdengar bersama-sama dengan pujian Trisagion: Quddusullah, Quddusul Qawwi ....(Kuduslah Allah, Kudualah Yang Maha Kuasa......), dan Al-Majdu lillahi daiman (Kemuliaan Bagi Allah senantiasa), yang biasanya menutup Pembacaan Injil.

Sebelum tahun 1973 (perang Mesir-Israel) bahkan umat Yahudi, Kristen dan Islam hidup bersama, dan bahasa Arab juga dipakai oleh umat Yahudi disamping bahasa Ibrani. Jadi, tidak mungkin kita mengkotak-kotakkan agama berdasarkan bahasa: Yahwe (bahasa Ibrani) sembahan Yahudi dan Kristen, dan Allah (bahasa Arab) sembahan Muslim. Apakah mereka itu takut imannya kabur, karena kesamaan bahasa? Umat yang dewasa adalah umat yang tidak takut dikaburkan. Mereka yang takut dengan kekaburan, itu berarti imannya sendiri masih kabur. Sudah jelas Tilawat al- Qur’an berbeda dengan Tilawat/Mulahan Injil, Dua Kalimat Syahadat berbeda dengan Qanun al-Iman (Pengakuan Iman Kristiani), apalagi kata “Allah” yang di sepanjang sejarah ketiga rumpun agama-agama semitik (Yahudi, Kristen dan Islam) tidak pernah menjadi masalah, sampai munculnya kaum yang berpandangan “hitam-putih” terse-but. Untuk itulah, bersama ini saya kirimkan salah satu artikel saya “Menjawab Hujatan Para Penentang Allah”, yang saya kutip dari buku saya: Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam (Yogyakarta: Yayasan Andi, 2002).

“Wa ‘ala kulli hal....”, kiranya Surat Terbuka ini dapat membantu anda semua dalam menyikapi secara cerdas segala propaganda dangkal mereka. Wal takun ‘alaikum jami’an Ni’matu Rabbina Yasu’ al-Masih wa Mahabatu llahi wa syarikatur Ruhil Quddus, Amien. (May the grace of our Lord Jesus Christ and the love of God and the felloship of the Holy Spirit be with you all, Amen).


Bambang Noorsena
Madinat al-Tahrir, Cairo, 9 Nopember 2004.[/url]
Back to top
View user's profile Visit poster's website
admin
Site Admin
Site Admin


Joined: Apr 24, 2004
Posts: 212

PostPosted: Thu Nov 11, 2004 3:25 am    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

Terima kasih buat surat terbuka dari Bp. Bambang Noorsena. Semoga para "pakar" dapat saling bertukar pikiran sampai kebenaran ditegakkan. Kami tunggu posting-posting berikutnya.
Back to top
View user's profile Visit poster's website
bandel
Newbie
Newbie


Joined: Nov 10, 2004
Posts: 4

PostPosted: Wed Nov 24, 2004 8:51 pm    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain


Sejak Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis oleh rasul-rasul Kristus, tetagramaton (keempat huruf suci Yhwh, Yahweh) diterjemahkan dalam bahasa Yunani Kyrios (Tuhan). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan rasul-rasulnya, yang biasanya melafalkan Yahweh dengan Adonay (Tuhan) atau ha Shem (Nama segala nama). United Bible Societies (UBS) dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga mengikuti kebiasaan ini, yang dibenarkan dan diikuti oleh orang Yahudi modern sekarang, untuk mener-jemahkan Yahwe dengan The Lord (dengan huruf besar semua). Yang pertama kali menggugat tradisi penerjemah-kan nama Allah ini adalah kelompok sempalan yang menamakan diri Yehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehuwa).


Kelompok ini, dengan bangga telah mengembalikan Yahwe dalam Perjanjian Baru, meskipun teks asli dari rasul-rasul sendiri tidak memper-tahankannya. Timbul pertanyaan: Bolehkah "nama diri" (the proper name) diterjemahkan? Ada "kelompok sempalan" akhir-akhir ini yang berpendapat, menerjemahkan Nama Yhwh dalam bahasa-bahasa lain berarti menghujat Nama-Nya. Tetapi mengapa Yesus dan Rasul-rasul-Nya tidak memperta-hankan Nama tersebut? Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kita memahami apakah makna "nama" dalam teologi dan kebudayaan Yahudi, yang melatarbelakangi kehidupan Yesus yang "lahir dari seorang perempuan yang takluk kepada hukum Taurat" (Galatia 4:4), dan diikuti oleh murid-murid Yesus serta Gereja-Nya sampai hari ini.



Nama Yahweh (TUHAN): Asal-usul dan Makna Teologis


Nama Yahweh untuk pertama kalinya dinyatakan kepada Nabi Musa (Keluaran 6:1). Allah menyatakan diri kepada Nabi Musa dalam nyala api yang keluar dari se-mak duri, dan ketika Allah mengutusnya menghadap kepada Firaun untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, Musa bertanya: "Ba-gaimana tentang Nama-Nya? (Ibrani: Mah symo). Apakah yang harus kujawab kepada mereka?" (Keluaran 3:13).


Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani memakai kata ganti Mi, "Siapakah" (bandingkan dengan kata Arab, Man). Tetapi di sini dalam ayat ini dipakai "Bagaimana (mah) tentang Nama-Nya?". Mah symo, sejajar dengan bahasa Arab: Ma smuhu, menuntut suatu jawaban yang lebih jauh, yaitu memberikan arti ("apa dan bagaimana") atau hakikat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu makna yang menunjuk kepada "Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan".


Jadi, kita tidak bisa memahaminya seperti nama-nama makhluk pada umumnya: Suradi, Yakub, Hendarto, dan lain-lain. Pertanyaan Nabi Musa ini lalu dijawab Allah dalam bahasa Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh, -- Aku adalah Aku (Keluaran 3:14). Dengan firman itu Allah menyatakan siapakah Diri-Nya. Secara gramatikal, apabila Allah sendiri yang mengucapkan Nama-Nya, maka kita menjumpai bentuk ehyeh (Aku Ada), sedangkan apabila umat Allah yang mengucapkan tentu saja memakai kata ganti orang ketiga Yahweh (Dia Ada).


Bagaimana pula secara gramatikal akhirnya kita menemukan bentuk Yahweh? Menurut sebuah tafsir dalam bahasa Ibrani yang cukup representatif (karena berasal dari kalangan rabbi-rabbi Yahudi sendiri), memang bentuk yahweh tersebut berkaitan erat dengan ke-"Maha hadir"-an Ilahi, baik dahulu, kini dan yang akan datang. Keber-Ada-an Allah apabila dikaitkan dengan ketiga aspek waktu tersebut, dalam bahasa Ibrani adalah: hayah, "Ia telah Ada" (He was), howeh, "Ia Ada" (He is), dan yihyeh, "Ia akan Ada" (He will be). Maksudnya di sini, Allah itu Mahakekal, tidak terikat oleh aspek waktu, dan hal itu dibuktikan dengan kekuasaan-Nya yang selalu dinamis.


Dari deksripsi di atas, jelas bahwa Perjanjian Baru lebih mengacu kepada makna teologis di balik Nama itu, yaitu kuasa-Nya yang hidup dan bukan mempertahankan secara harfiah huruf-huruf mati tersebut. Terjemahan Nama Yahweh ini, antara lain dapat kita baca dalam Wahyu Yohanes:


"Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada yang yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa" (Wahyu 1:8).


Perhatikanlah, ungkapan yang dicetak miring (kursif). Dalam bahasa Yunani: ho on kai ho en kai ho erksomenos, ho Pantakrator. Frase ini merupakan terjemahan dari sebuah doa (Siddur) Yahudi dari zaman pra-Kristen hingga sekarang, yaitu doa Adon ’olam yang sangat terkenal, yang memuat keterangan dari Nama Yahweh yang pantang diucapkan itu: We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif’arah (Ia yang sudah ada, yang ada, dan yang akan ada, kekuasaan-Nya kekal sampai selama-lamanya).



"Nama" dan "Pribadi" dalam Alkitab


Dalam kebudayaan Yahudi yang melatarbelakangi Alkitab, "nama" selalu terkait erat dengan "pribadi". Dalam Kitab Suci, "nama" dapat diru-muskan dalam 3 dalil:

1. Nama adalah pribadi itu sendiri;

2. Nama adalah pribadi yang diungkapkan; dan

3. Nama adalah pribadi yang hadir secara aktif.

Apabila ketiga pengertian ini diterapkan untuk Allah, maka penjelasan sekaligus dalil-dalilnya sebagai berikut:


1. Nama menunjuk kepada Pribadi itu sendiri


Dalam Alkitab nama seseorang selalu diidentikkan dengan pribadi seseorang. Lenyapnya seseorang sering disebut "namanya hilang". Misalnya, doa Israel ketika mereka dikalahkan dalam sebuah peperangan:

"…mereka akan melenyapkan nama kami dari bumi ini, dan apakah yang Kau lakukan untuk memulihkan Nama-Mu yang besar itu?" (Yosua 7:9).

Dalam hal Allah digambarkan lebih dramatis lagi, sebab TUHAN iden-tik dengan "Sang Nama". Imamat 24:11 dalam teks bahasa asli:

Wayyiqov ben ha isyah ha yisrael et ha Syem…

(Anak perempuan Israel itu menghujat Sang Nama dengan mengutuk...)


Karena itu, Terjemahan Baru/TB (1974) LAI menerjemahkan: "Anak perempuan Israel itu menghujat Nama TUHAN dengan mengutuk…) Dari contoh ayat di atas, jelaslah bahwa Nama menunjuk kepada Pribadi yang di-"Nama"-kan. Karena itu, yang dipentingkan bukan penyebutan Nama Ilahi Yahwe dalam bahasa asli Ibrani, melainkan lebih menunjuk kepada Pribadi Allah itu sendiri. Allah yang Mahakekal, Mahaesa, Mahahidup dan menyata-kan Diri-Nya kepada manusia.



Nama adalah Pribadi yang Diungkapkan


Apabila Amsal 18:10 menyebut bahwa Nama TUHAN (syem Yahwe) adalah menara yang kuat, maksudnya tidak lain adalah Pribadi Allah yang hidup dengan kekuasaan Ilahi-Nya yang menjaga dan melindungi kita umat-Nya. "Nama" di sini menunjuk kepada apa yang diketahui tentang Pribadi-Nya.


Contoh yang lebih jelas, Yesaya 30:27 dalam bahasa Ibrani: Hinneh, syem Yahwe ba mimerhaq…" Secara harfiah terjemahannya: "Perhatikanlah, Nama TUHAN datang dari tempat-Nya yang jauh…" Mengapa dikatakan "Nama TUHAN datang", dan tidak cukup dikatakan saja "TUHAN datang"? Jawab-annya, Nama di sini untuk menekankan "pengungkapan Pribadi-Nya". Tepat sekali, LAI menerjemahkan: "TUHAN datang menyatakan Diri-Nya dari tempat yang jauh…" Di sini, syem (Nama) diterjemahkan "menyatakan Diri-Nya".


Jadi, sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe, se-bagaimana ditafsirkan Saksi-saksi Yehuwa, dan di-ikuti oleh kelompok "bid’ah baru" Kristen tertentu pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia.



3.Nama adalah Pribadi yang hadir secara aktif


Makna ketiga dari Nama adalah kehadiran aktif Pribadi itu dalam ke-penuhan sifat-Nya yang diungkapkan. Mazmur 76:1 menyebutkan: "…Nama-Nya masyhur di Israel", dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang dasyat yang dialami oleh umat Israel. Begitu pula, di Gunung Karmel Nabi Elia mengusulkan "peperangan" Nama Tuhan dengan nama ilah-ilah selain-Nya. "Nama" dalam hal ini menunjuk kepada Pribadi yang hadir, yang dibuktikan dengan menjawab doa orang yang menyeru Nama-Nya.


Kemudian biarlah kamu memanggil nama ilah-mu (be shem elohekhem) dan akupun akan memanggil Nama Tuhan (beshem yahwe), maka ilah yang menjawab dengan api, Dialah Allah" (we hayah ha-elohim asyer yaeneh be esh hu ha-elohim)" (1 Raja-raja 18: 24).


Demikianlah apabila teks Ibrani di atas secara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab: "…wa al-ilah alladzi yujiibu binarin faa huwa Allah". Secara gramatikal, dalam konteks ayat tersebut, Allah adalah "al-Ilah alladzi yujiibu binarin" (Ilah yang menjawab dengan api itu). Maksudnya, Allah adalah Ilah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup.


Kutipan ini juga membuktikan bahwa kata Allah memang berasal dari al-Ilah, dan bukan "nama diri" (the proper name). Nama Diri Allah adalah yahweh, seperti disebutkan dibuktikan dengan "peperangan nama" di gunung Karmel di mana Yahwe tampil sebagai pemenang, karena Ia adalah Allah yang men-jawab doa umat-Nya. Ia adalah Pribadi Ilahi yang benar-benar hadir secara aktif:


Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah (1 Raja-raja 18:39).


Dalam bahasa aslinya, seruan itu berbunyi: Yahweh, hu ha elohim! Yahweh, hu haelohim. Dalam terjemahan bahasa Arab: Ar Rabb, huwa Allah! Ar Rabb, huwa Allah (Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah).


Jadi, jelaslah bahwa dalam hal "Nama Diri" Yahweh, semua umat Kristen sepakat. Masalahnya, baik UBS maupun LAI hanya mengikuti tradisi lama yang juga diikuti oleh Yesus, murid-murid-Nya dan Gereja Tuhan sepanjang abad, bahwa sekalipun nama Yahweh tetap dipertahankan dalam teks bahasa asli Kitab Suci (Perjanjian Lama) tetapi tidak membaca nama ilahi itu. Karena itu, kita dapat menerjemahkan nama Yahwe itu dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang dicontohkan oleh para penerjemah Alkitab dalam bahasa Yu-nani (Septuaginta) yang kemudian diikuti oleh rasul-rasul yang menulis Per-janjian Baru.


Catatan Penutup


Dari beberapa traktat dan publikasi yang diterbitkan kelompok baru "yang lebih Yahudi ketimbang orang Yahudi" ini, jelas sekali bahwa mereka menafsirkan Kitab Suci sangat harfiah, ayat demi ayat, tanpa melihat konteks dan sejarah teks-teks Alkitab. Kesan lain yang juga saya tangkap, para penganut "madzab baru" ini biasanya sangat fanatik, dan dalam membahas tema ini mereka sudah mempunyai kesimpulan dulu.

Karena itu, segala pembahasan ilmiah, sebagaimana pernah saya lakukan dalam forum yang juga menghadirkan Romo Dr. Martin Harun dari Lembaga Biblika Indonesia, dari beberapa pembicara lain dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), selalu mentah. Mengapa? Sebab kalau mereka terpojok, mereka lalu lari mencari ayat-ayat lain, sementara pembahasan yang sudah mulai terfokus menjadi kabur kembali. Artikel ini saya tulis untuk menunjukkan sangat dangkalnya pemikiran mereka, pantas saja tuntutan mereka tidak pernah digubris oleh LAI, yang adalah gudangnya para pakar Biblika dan bahasa-bahasa semitik yang sampai sekarang masih terus digunakan di Timur Tengah tersebut.


Cairo, 12 Nopember 2004


Note:
Oleh: Bambang Noorsena
Pengamat Hubungan antariman dan Pendiri Institute for Syriac
Christian Studies (ISCS), kini tinggal di Kairo, Mesir.

--------

www.iscs.or.id/modules...amp;sid=27
Back to top
View user's profile
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Tue Dec 07, 2004 4:18 pm    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

admin wrote:
Terima kasih buat surat terbuka dari Bp. Bambang Noorsena. Semoga para "pakar" dapat saling bertukar pikiran sampai kebenaran ditegakkan. Kami tunggu posting-posting berikutnya.

Shalom,
Tanggapan Terbuka terhadap Tulisan Bp. Bambang Noorseno Untuk mempermudah melihat pokok persoalan, tanggapan ini diselipkan pada setiap paragraf yang terkait dg initial KS. Dengan demikian tulisan Bp. Bambang N. ( dgn initial BN ) tertulis ulang dengan tanpa perubahan sama sekali.

BN : Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain Sejak Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis oleh rasul-rasul Kristus, tetagramaton (keempat huruf suci Yhwh, Yahweh) diterjemahkan dalam bahasa Yunani Kyrios (Tuhan). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan rasul-rasulnya, yang biasanya melafalkan Yahweh dengan Adonay (Tuhan) atau ha Shem (Nama segala nama). United Bible Societies (UBS) dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga mengikuti kebiasaan ini, yang dibenarkan dan diikuti oleh orang Yahudi modern sekarang, untuk mener-jemahkan Yahwe dengan The Lord (dengan huruf besar semua). Yang pertama kali menggugat tradisi penerjemah-kan nama Allah ini adalah kelompok sempalan yang menamakan diri Yehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehuwa).

Tanggapan KS: Tolong diuji pernyataan Anda ini. Periksa kata kyrios dalam “A concordance to Septuagint” yang ternyata ada 24 nomor untuk mengartikannya, beberapa diantaranya adalah, El, Elowah, Elohim, YHWH, Baal, Adon, Adonai dengan kombinasinya seperti Adonai YHWH. Tentunya Anda sangat paham bahwa dalam huruf-huruf Yunani tidak terdapat huruf Y, H, dan W, sehingga tidak memungkinkan menyalin the tetragramaton YHWH ke dalam huruf-huruf Yunani, dan nampaknya terpaksa harus menterjemahkan dan bukan menyalin. Dari mana Anda yakin bahwa Yesus mengikuti kebiasaan Yahudi yang biasanya melafalkan Yahweh dengan Adonai (Tuhan)?. Periksa Doa Yesus dalam Yoh, 17:6 – 26, misalnya. “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang ….; peliharalah mereka dalam nama-Mu (by the power of Your Name - NIV), yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku…. ; … Aku telah memelihara mereka dalam nama-Mu....; And I made known to them the name of You, ...” Semua orang Yahudi mengetahui bahwa yang dimaksud Bapa yaitu Elohim yang bernama Yahweh (“Tetapi sekarang, ya YHWH, Engkaulah Bapa kami!” Yes. 64: 8). Jadi Nama Bapa Yesus adalah Yahweh (bukan ALLAH apa lagi TUHAN), namun sering disebut (disingkat) “Yah” (ada 50 kata Yah, Periksa nomor konkordansi Strong 3050, dari Mazm. 68:5 – Yes. 38:11 untuk kata LORD). Sedangkan nama Ibrani Yesus adalah Yahshua (yang berarti Yahweh-Shua, Yahweh Juru selamat). Jadi secara hurufiah, Yesus benar-benar membawa nama Bapa-Nya sebagaimana dinyatakan dalam Doa tersebut; jadi jika Yahshua telah menyatakan dan memelihara murid-murid-Nya dalam nama-Mu, pastilah nama Yahweh yang dimaksudkan. Jadi memang Bapa Yahweh (Yah) memberikan nama-Nya kepada Anak-Nya yaitu Yahshua. Pemberian nama itu dapat ditelusuri melalui catatan Lukas tentang kelahiran Yesus dalam percakapan Maria dengan malaikat Gabriel. Sementara itu Yahshua menyatakan: “ I am come in My Father’s Name, ....” (Yoh.5:43). Jika nama Bapa diganti TUHAN atau ALLAH dan Anak-Nya menjadi Yesus, kedua nama Bapa-Anak ini sama sekali tidak mengandung arti bahwa Anak membawa nama Bapa-Nya. Tradisi Yahudi bukan suatu kriteria yang perlu diteruskan terutama jika tidak mengandung kebenaran; jika ya tradisi Yahudi bahkan Yesus selalu mengadakan ibadah Sabat-Sabtu, sementara sebagian besar umat kristiani memilih minggu. Tradisi dalam bentuk pengajaran Yahudi menyatakan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”, namun Yahshua mengajarkan “jika pipi kirimu ditampar, berikanlah pipi kananmu”; jika kedapatan berjinah haruslah dihukum benturan batu, jika berpuasa, berdoa berteriak-teriak pamer di jalanan, bahkan cuci tangan pun dijadikan tradisi pembenar; bagaimana ajaran Yahshua? Anda tentu tidak bermaksud demikian, namun waspadalah terhadap pembenaran “tradisi”. Dalam Hebrew-Bible tidak ada nama Allah melainkan nama Elohim, yaitu YHWH (yang dibaca Yahweh). Jadi, jika nama Elohim Bapa Abraham dituliskan YHWH, ini bukan terjemahan melainkan penyalinan huruf (transliteration bukan translation). Hati-hati pernyataan Anda perihal penerjemahan nama Allah menjadi Yehovah / Yehuwa; apa maksud Anda LAI dengan terbitan Kitab Suci Berbahasa Jawa yang menuliskan YHWH menjadi Yehuwah itu adalah penyandang sumber kelompok Saksi-saksi Yehuwa? Jangan asal main tuduh; tolong bercerminlah gereja Vatikan yang main tuduh Lutheran sebagai Anti-Christ, namun tahun 1974 (kalau tidak keliru) mulai mengakui baptisannya. Bahkan kepada Galileo pun terpaksa Gereja minta maaf (1994?). Lebih baik berargumentasi secara akademik ketimbang main tuduh atau main hakim.

BN : Kelompok ini, dengan bangga telah mengembalikan Yahwe dalam Perjanjian Baru, meskipun teks asli dari rasul-rasul sendiri tidak memper-tahankannya. Timbul pertanyaan: Bolehkah "nama diri" (the proper name) diterjemahkan? Ada "kelompok sempalan" akhir-akhir ini yang berpendapat, menerjemahkan Nama Yhwh dalam bahasa-bahasa lain berarti menghujat Nama-Nya. Tetapi mengapa Yesus dan Rasul-rasul-Nya tidak memperta-hankan Nama tersebut? Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kita memahami apakah makna "nama" dalam teologi dan kebudayaan Yahudi, yang melatarbelakangi kehidupan Yesus yang "lahir dari seorang perempuan yang takluk kepada hukum Taurat" (Galatia 4:4), dan diikuti oleh murid-murid Yesus serta Gereja-Nya sampai hari ini.

Tanggapan KS: Periksa kembali Yoh. 17:6-12 di atas. Dengan melihat teks asli PB (Yunani) Anda menyimpulkan bahwa Yesus dan para rasul-Nya tidak mempertahankan nama Yahweh. Sungguh suatu kesimpulan yang gegabah hanya karena “teks asli” PB tertulis dengan bahasa Yunani. Apakah jika teksnya berbahasa Yunani itu menjamin bahwa percakapan/cerita yang sesungguhnya juga harus dalam bahasa Yunani?. Jelas sama sekali tidak harus! Apakah penulis/penyalin PB itu sungguh-sungguh para rasul-Nya sendiri? Bisa ya, bisa tidak?. Untuk itu periksa contoh berikut:
(1) Ketika Yahshua (Yesus) pada hari Sabat di Sinagoge membaca Kitab Yes.61:1-2 sebagaimana dikisahkan pada Luk. 4:18-19, kitab berbahasa apa yang dibaca oleh Yesus? Ibrani bukan? Kedua ayat ini menulis Adonai YHWH 1 kali dan YHWH 2 kali; jika YHWH dibaca Adonai apakah akan ada yang terbaca Adonai Adonai?. Selain itu berarti nama ini “no meaning in term of nothing to do with the name of the Son Yahshua”. Thus, Yahshua should read Yahweh (instead of Adonai), sebab pada saat itulah Ia memproklamasikan bahwa diri-Nya diurapi oleh Yahweh sebagai Mesias (ay 21).
(2) Kis. 21:40 menyatakan bahwa Saulus berbicara dengan bahasa Ibrani, minimal mulai dari ps.22:1-21 yang memuat pertemuan/pertobatan Saulus pada Yahshua (Yesus), dan hal ini diulangi lagi dengan tegas bahwa teguran Yahshua pun dengan bahasa Ibrani (Kis.26:14). Jadi dari Sorga Yahshua pun memilih berbahasa Ibrani bukannya Aramaik apalagi Yunani; tentulah hal ini dilakukan karena Saulus (juga para rasul yang lain) adalah Ibrani tulen dan bukan mustahil Saulus tidak fasih berbahasa Yunani.
(3) Tolong hayati sungguh-sungguh cerita kelahiran Yahshua (Yesus) seperti diceritakan Lukas. Yusuf dan Maria orang Yahudi asli keturunan Daud yang juga Yahudi. Mereka didatangi Malaikat Gabriel dengan menyatakan bahwa Maria akan mengandung seorang anak oleh karena Yahweh, dan oleh karena itu dinamai Yesus (nama Yunani) yang akan menjadi Raja Israel. Mungkinkah seorang keturunan Yahudi yang kelak mempunyai pengikut/murid (12) asli Yahudi dan akan menjadi Raja Israel tiba-tiba memakai nama Yunani? Sangat aneh. Maka hampir pasti malaikat berbicara dalam bahasa Ibrani dengan menawarkan nama Ibrani pula yakni Yahshua.
Dari uraian tersebut (argumentasi lain masih sangat banyak) dapat ditarik asumsi dasar yaitu bahwa seluruh cerita/percakapan PB berlangsung dengan dominasi bahasa Ibrani-Aramaik. Sementara itu pencatatnya lebih fasih dalam bahasa Yunani dan bukan mustahil tidak terlalu ahli dalam Ibrani-Aramaik sehingga ada beberapa kesalahan (tidak saya ulas), dan naskah inilah yang selamat terpelihara hingga saat ini.

BN : Nama Yahweh (TUHAN): Asal-usul dan Makna Teologis
Nama Yahweh untuk pertama kalinya dinyatakan kepada Nabi Musa (Keluaran 6:1). Allah menyatakan diri kepada Nabi Musa dalam nyala api yang keluar dari se-mak duri, dan ketika Allah mengutusnya menghadap kepada Firaun untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, Musa bertanya: "Ba-gaimana tentang Nama-Nya? (Ibrani: Mah symo). Apakah yang harus kujawab kepada mereka?" (Keluaran 3:13).

Tanggapan KS: Nama Yahweh pertama muncul (sebagai pencipta alam semesta) ada dalam Kej.2:5, mulai dipanggil) orang sejak zaman kelahiran Enos (Kej.4:26). Nuh pun memuji dengan menyebut nama Yahweh (Kej. 9:26). Abraham membuat mezbah bagi Yahweh dan memanggil nama Yahweh (Kej. 12:8), dst. Ketika Yahweh menyatakan Nama-Nya kepada Musa, ternyata tidak ada tanggapan “surprise” atau “keterkejutan”. Ini mengindikasikan bahwa nama Yahweh memang bukan nama baru dan sudah dikenal oleh para leluhurnya, namun fungsinya atau karakternya memang belum ditegaskan sebagai nama Elohim suatu bangsa (Israel). Dan ini memang demikian sebagaimana kata tanya yang diajukan, “bagaimana tentang nama-Nya”. Hal ini menjadi lebih jelas ketika (andaikata) Kel. 6: 2 diterjemahkan menjadi bentuk pertanyaan (KJV):” …. by my name YHWH was I not known to them?”

BN : Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani memakai kata ganti Mi, "Siapakah" (bandingkan dengan kata Arab, Man). Tetapi di sini dalam ayat ini dipakai "Bagaimana (mah) tentang Nama-Nya?". Mah symo, sejajar dengan bahasa Arab: Ma smuhu, menuntut suatu jawaban yang lebih jauh, yaitu memberikan arti ("apa dan bagaimana") atau hakikat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu makna yang menunjuk kepada "Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan".
Jadi, kita tidak bisa memahaminya seperti nama-nama makhluk pada umumnya: Suradi, Yakub, Hendarto, dan lain-lain. Pertanyaan Nabi Musa ini lalu dijawab Allah dalam bahasa Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh, -- Aku adalah Aku (Keluaran 3:14). Dengan firman itu Allah menyatakan siapakah Diri-Nya. Secara gramatikal, apabila Allah sendiri yang mengucapkan Nama-Nya, maka kita menjumpai bentuk ehyeh (Aku Ada), sedangkan apabila umat Allah yang mengucapkan tentu saja memakai kata ganti orang ketiga Yahweh (Dia Ada).

Tanggapan KS: Memang banyak nama orang yang tidak jelas artinya, namun banyak pula yang mengandung arti tertentu, dan dalam hal inilah kita tidak boleh sembarangan menggantinya. Lebih-lebih Nama Yahweh yang datang dari Yahweh sendiri dengan makna yang sangat signifikan; jika diganti/diterjemahkan makna ini tidak akan tercermin lagi dari nama gantinya. Nama-nama orang Batak misalnya, selalu diikuti nama marganya yang berarti keturunan marga yang bersangkutan. Ada tidaknya arti sebuah nama jika Anda tidak tahu ya tanyakan kepada yang memberi nama atau yang punya nama itu sendiri. Dalam hal ini Yahweh lebih suka menjelaskan lebih dulu karakter-Nya ketimbang mempertegas Nama-Nya. Hal ini memang fungsi Yahweh sebagai pembebas bangsa Israel dari tangan Mesir memang berbeda dengan fungsi-Nya sebagai Elohim leluhurnya. Barangkali bangsa Israel memang sudah agak lupa Nama Yahweh oleh karena penindasan ratusan tahun di Mesir, sehingga nama Yahweh perlu disebutkan lagi (ay 15) namun ditegaskan pula bahwa Dia adalah Elohim leluhurnya.

BN : Bagaimana pula secara gramatikal akhirnya kita menemukan bentuk Yahweh? Menurut sebuah tafsir dalam bahasa Ibrani yang cukup representatif (karena berasal dari kalangan rabbi-rabbi Yahudi sendiri), memang bentuk yahweh tersebut berkaitan erat dengan ke-"Maha hadir"-an Ilahi, baik dahulu, kini dan yang akan datang. Keber-Ada-an Allah apabila dikaitkan dengan ketiga aspek waktu tersebut, dalam bahasa Ibrani adalah: hayah, "Ia telah Ada" (He was), howeh, "Ia Ada" (He is), dan yihyeh, "Ia akan Ada" (He will be). Maksudnya di sini, Allah itu Mahakekal, tidak terikat oleh aspek waktu, dan hal itu dibuktikan dengan kekuasaan-Nya yang selalu dinamis.
Dari deksripsi di atas, jelas bahwa Perjanjian Baru lebih mengacu kepada makna teologis di balik Nama itu, yaitu kuasa-Nya yang hidup dan bukan mempertahankan secara harfiah huruf-huruf mati tersebut. Terjemahan Nama Yahweh ini, antara lain dapat kita baca dalam Wahyu Yohanes: "Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada yang yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa" (Wahyu 1:8).

Tanggapan KS: ayat ini bukan terjemahan nama Yahweh, melainkan penegasan sifat Yahweh oleh Yahweh Elohim sendiri (dalam naskah Hebrew-PB), dan ini sama dengan pengenalan Yahweh dengan Musa; apa bedanya? Tanpa Wahyu 1:8 Musa pun (juga kita) akan memahami demikian.

BN: Perhatikanlah, ungkapan yang dicetak miring (kursif). Dalam bahasa Yunani: ho on kai ho en kai ho erksomenos, ho Pantakrator. Frase ini merupakan terjemahan dari sebuah doa (Siddur) Yahudi dari zaman pra-Kristen hingga sekarang, yaitu doa Adon ’olam yang sangat terkenal, yang memuat keterangan dari Nama Yahweh yang pantang diucapkan itu: We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif’arah (Ia yang sudah ada, yang ada, dan yang akan ada, kekuasaan-Nya kekal sampai selama-lamanya).

Tanggapan KS: Nama Yahweh oleh orang Yahudi “pantang” diucapkan bukanlah standar kebenaran karena firman Yahweh sendiri memang tidak demikian. Bagaimana oleh Nuh, Abraham dan keturunannya sebelum jadi bangsa Israel? Justru Yahweh ingin namaNya disebut dan para Nabi pun kesukaannya menyebut NamaNya ( Kel 3: 15, 1 Taw 16: 8-9, Mazmur 105: 1-2, Yesaya 26: 8) Kalau orang Yahudi dijadikan standar kebenaran, kenapa sebagian besar orang Yahudi menolak Yesus koq tidak diikuti sekalian? Yahudi tidak menyebut Nama Yahweh karena menghormati dan mengkuduskanNya, bukan menolak karena tidak dikenal seperti Kristen di Indonesia.


BN : "Nama" dan "Pribadi" dalam Alkitab
Dalam kebudayaan Yahudi yang melatarbelakangi Alkitab, "nama" selalu terkait erat dengan "pribadi". Dalam Kitab Suci, "nama" dapat diru-muskan dalam 3 dalil:
1. Nama adalah pribadi itu sendiri;
2. Nama adalah pribadi yang diungkapkan; dan
3. Nama adalah pribadi yang hadir secara aktif.

Apabila ketiga pengertian ini diterapkan untuk Allah, maka penjelasan sekaligus dalil-dalilnya sebagai berikut:
1. Nama menunjuk kepada Pribadi itu sendiri
Dalam Alkitab nama seseorang selalu diidentikkan dengan pribadi seseorang. Lenyapnya seseorang sering disebut "namanya hilang". Misalnya, doa Israel ketika mereka dikalahkan dalam sebuah peperangan:
"…mereka akan melenyapkan nama kami dari bumi ini, dan apakah yang Kau lakukan untuk memulihkan Nama-Mu yang besar itu?" (Yosua 7:9).
Dalam hal Allah digambarkan lebih dramatis lagi, sebab TUHAN iden-tik dengan "Sang Nama". Imamat 24:11 dalam teks bahasa asli:
Wayyiqov ben ha isyah ha yisrael et ha Syem… (Anak perempuan Israel itu menghujat Sang Nama dengan mengutuk...)
Karena itu, Terjemahan Baru/TB (1974) LAI menerjemahkan: "Anak perempuan Israel itu menghujat Nama TUHAN dengan mengutuk…) Dari contoh ayat di atas, jelaslah bahwa Nama menunjuk kepada Pribadi yang di-"Nama"-kan. Karena itu, yang dipentingkan bukan penyebutan Nama Ilahi Yahwe dalam bahasa asli Ibrani, melainkan lebih menunjuk kepada Pribadi Allah itu sendiri. Allah yang Mahakekal, Mahaesa, Mahahidup dan menyata-kan Diri-Nya kepada manusia.

Tanggapan KS: Anda tahu persis bahwa kata “nama” terjemahan dari kata Ibrani “shem”, namun mari kita periksa artinya menurut konkordansi Strong-8034: “a primitive word [perhaps rather from 7760 through the idea of definite and conspious position; compare 8064]; an appelletion, as a mark or memorial of individuality; by implication honor, character:-+ base [in-] fame[mous], name[-d], renown, report. Saya setuju bahwa nama (Yahweh) identik dengan pribadi-Nya itu sendiri, dan implikasinya sudah pula Anda jelaskan sebagaimana tuntutan arti kata “shem”; tetapi cara Anda menyikapinya justru tidak konsisten karena Anda mengabaikan bahwa “shem” menuntut arti as “a mark” (saya terjemahkan “tanda”). Tanda ini berupa huruf (yang hanya bisa disalin oleh karena perbedaan bahasa) untuk menghasilkan “bunyi” yang “karakteristik” sebagai memorial individu; perbedaan bahasa memang mengakibatkan perbedaan huruf, tetapi “bunyi”-nya mesti sama atau sangat dekat satu sama lain oleh karena logat-lidah saja. Bahkan untuk atom saja setiap bangsa berbeda menyebutnya namun harus memberi tanda yang sama sebagai tanda atom (simbol), misalnya tembaga harus dituliskan dengan huruf latin Cu as a mark. Jika Nama identik dengan pribadi maka mengganti nama bisa berarti mengganti pribadi atau tidak mungkin melukiskan pribadi Yahweh dengan nama selain Yahweh. Jangan dipaksakan pokoknya saya melukiskan pribadi Yahweh tetapi sorry saya memakai “a mark” lain; ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri (Yer. 32:20 : “….. kepada Israel dan kepada umat manusia, sehingga Engkau membuat nama bagi-Mu sendiri,… “), sedangkan TUHAN dan ALLAH jelas nama buatan LAI (NIV). Dalam KAMUS Alkitab terbitan LAI juga mengakui bahwa TUHAN = salinan dari nama Elohim Israel, yaitu Yahweh; ini menunjukkan bahwa sesungguhnya LAI juga menyadari namun tampak keraguannya. Yahweh bukan hanya diakui sebagi Elohim Israel sebagai bangsa tetapi jauh sebelumnya oleh para leluhurnya (Nuh, Abraham, Iskhak, Yakub) ketika belum sebagai bangsa. Herannya ketika ada warga ingin menyebutkan dan menggantikan sekalian dalam Alkitab, kenapa dimasalahkan bahkan dituduh bagian dari sempalan Saksi Yehova?


BN : Nama adalah Pribadi yang Diungkapkan
Apabila Amsal 18:10 menyebut bahwa Nama TUHAN (syem Yahwe) adalah menara yang kuat, maksudnya tidak lain adalah Pribadi Allah yang hidup dengan kekuasaan Ilahi-Nya yang menjaga dan melindungi kita umat-Nya. "Nama" di sini menunjuk kepada apa yang diketahui tentang Pribadi-Nya.
Contoh yang lebih jelas, Yesaya 30:27 dalam bahasa Ibrani: Hinneh, syem Yahwe ba mimerhaq…" Secara harfiah terjemahannya: "Perhatikanlah, Nama TUHAN datang dari tempat-Nya yang jauh…" Mengapa dikatakan "Nama TUHAN datang", dan tidak cukup dikatakan saja "TUHAN datang"? Jawab-annya, Nama di sini untuk menekankan "pengungkapan Pribadi-Nya". Tepat sekali, LAI menerjemahkan: "TUHAN datang menyatakan Diri-Nya dari tempat yang jauh…" Di sini, syem (Nama) diterjemahkan "menyatakan Diri-Nya".

Tanggapan KS: Cara terjemahan demikian jelas tidak jujur dengan menghilangkan kata nama, ini sudah bukan menerjemahkan melainkan menafsir sesuai seleranya. Dari struktur kalimat yang seharusnya maka yang menjadi subjek utama adalah betapa “hebatnya” nama itu sendiri, dan cara menafsirnya harus disesuaikan dengan apa yang tertulis, bukan kita menuliskan terjemahan sesuai dengan pola tafsir kita. No doubt, LAI has corrupted the words of Elohim, yang Anda nilai tepat sekali. Justru begitu banyaknya kata “nama” (ribuan) merupakan betapa pentingnya nama itu sendiri. NIV dan JP Green tetap menuliskan “the name of YHWH ...” Mendengar nama-Nya disebut sudah harus membayangkan pribadi-Nya. Nama Yahweh memang mangandung wibawa luarbiasa dan ini sangat ditakuti oleh orang-orang Yahudi; pribadi-Nya menjadi terbayangkan ketika nama-Nya disebut. Hanya Anda dan yang sealiran saja yang tidak takut sama nama Yahweh.

BN: Jadi, sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe, se-bagaimana ditafsirkan Saksi-saksi Yehuwa, dan di-ikuti oleh kelompok "bid’ah baru" Kristen tertentu pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia.

Tanggapan KS: lagu lama, jika berbeda pandangan langsung tuduh bidah! Zaman mudaku dulu sekitar tahun 1963-an gereja kami memberitahukan bahwa Pentakosta adalah bidah! Berargumentasilah secara akademik. Makalah perihal penyebutan nama Yahweh sudah sangat banyak dan sangat argumentatif dalam internet. Anda harus tahu apa arti bidah ataupun sesat! Jangan kalau tidak sepaham berarti sesat! Ini hanya untuk membenarkan diri sendiri saja. Kembali tanggapan di atas Yes. 30:27 dapat ditafsirkan bahwa kedatangan pribadi Yahweh itu oleh karena nama-Nya dikumandangkan-diteriakkan-disebut-sebut dari kejauhan, bukan mendadak datang begitu saja sebagaimana Anda tafsirkan oleh karena menghilangkan kata “nama”.

BN: 3.Nama adalah Pribadi yang hadir secara aktif
Makna ketiga dari Nama adalah kehadiran aktif Pribadi itu dalam ke-penuhan sifat-Nya yang diungkapkan. Mazmur 76:1 menyebutkan: "…Nama-Nya masyhur di Israel", dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang dasyat yang dialami oleh umat Israel. Begitu pula, di Gunung Karmel Nabi Elia mengusulkan "peperangan" Nama Tuhan dengan nama ilah-ilah selain-Nya. "Nama" dalam hal ini menunjuk kepada Pribadi yang hadir, yang dibuktikan dengan menjawab doa orang yang menyeru Nama-Nya. Kemudian biarlah kamu memanggil nama ilah-mu (be shem elohekhem) dan akupun akan memanggil Nama Tuhan (beshem yahwe), maka ilah yang menjawab dengan api, Dialah Allah" (we hayah ha-elohim asyer yaeneh be esh hu ha-elohim)" (1 Raja-raja 18: 24).

Tanggapan KS: Menurut LAI mestinya “memanggil nama TUHAN”; Nah jelaskan! Bahwa nama-Nya yang masyhur itu yang disebut-sebut, dipanggil-panggil dikagumi, adalah Yahweh, sementara bangsa lain menyebut nama elohimnya sendiri; selanjutnya terbukti bahwa Yahweh adalah Elohim yang beneran.

BN: Demikianlah apabila teks Ibrani di atas secara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab: "…wa al-ilah alladzi yujiibu binarin faa huwa Allah". Secara gramatikal, dalam konteks ayat tersebut, Allah adalah "al-Ilah alladzi yujiibu binarin" (Ilah yang menjawab dengan api itu). Maksudnya, Allah adalah Ilah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup.
Kutipan ini juga membuktikan bahwa kata Allah memang berasal dari al-Ilah, dan bukan "nama diri" (the proper name). Nama Diri Allah adalah yahweh, seperti disebutkan dibuktikan dengan "peperangan nama" di gunung Karmel di mana Yahwe tampil sebagai pemenang, karena Ia adalah Allah yang men-jawab doa umat-Nya. Ia adalah Pribadi Ilahi yang benar-benar hadir secara aktif:

Tanggapan KS: Terjemahaan Alkitab Ibrani-Arab bukanlah standar “kebenaran”; barangkali kristen-Arablah yang memaksakan demikian, maksud saya kata Allah (Arab) = Elohim (ibrani) itu hanya berlaku bagi kristen-Arab, sementara itu kaum muslim-Arab belum tentu setuju pemahaman bahwa Allah bukan nama diri, atau karena terpengaruh agama suku karena nama Allah sudah ada sebelum Kristen masuk di Arab. Lihat Kamus English-English Hornby misalnya, Allah = name of God among Muslims, and all faiths in Arabs. Kalau sebagian besar kaum muslim (juga kamus) berpendapat bahwa Allah itu nama diri berbeda dengan Anda, maka kesimpulan Anda tersebut bukan berupa “bukti” melainkan keyakinan tafsiran saja. Bandingkan dengan hasil riset C. Darwin. Jika Anda menyaksikan jejeran kerangka binatang dari yang paling sederhana hingga kerangka simpanse-gorila dan manusia (di salah satu museum di Sydney misalnya) Anda pasti akan terperangah dan barangkali langsung setuju bahwa memang mungkin terjadi evolusi, rumpun yang terdekat manusia berasal dari monyet! Ini bukan bukti melainkan tafsiran yang kemudian dikenal sebagai Teori Evolusi, dan teori evolui ini bukan satu-satunya teori yang dapat dipakai untuk menjelaskan fakta fosil.

BN: Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah (1 Raja-raja 18:39).

Tanggapan KS: Menurut LAI mestinya TUHAN (YHWH) bukannya Tuhan ( Yahweh hu ha’elohim )

BN: Dalam bahasa aslinya, seruan itu berbunyi: Yahweh, hu ha elohim! Yahweh, hu haelohim. Dalam terjemahan bahasa Arab: Ar Rabb, huwa Allah! Ar Rabb, huwa Allah (Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah).

Tanggapan KS: Orang-orang Kristen Arab (juga Anda) memang tidak hanya menterjemahkan, tetapi bahkan menggantikan nama Yahweh, karena Anda memang menganggap nama diri Yahweh bisa diperlakukan sebagaimana kemauan Anda. Orang Prancis sebagian juga begitu, namun tidak semuanya. Periksa saja misalnya “French Bible Jerusalem”, “The New Jerusalem Bible”, dan masih banyak yang lain yang tetap memelihara keberadaan nama Yahweh.

BN: Jadi, jelaslah bahwa dalam hal "Nama Diri" Yahweh, semua umat Kristen sepakat. Masalahnya, baik UBS maupun LAI hanya mengikuti tradisi lama yang juga diikuti oleh Yesus, murid-murid-Nya dan Gereja Tuhan sepanjang abad, bahwa sekalipun nama Yahweh tetap dipertahankan dalam teks bahasa asli Kitab Suci (Perjanjian Lama) tetapi tidak membaca nama ilahi itu. Karena itu, kita dapat menerjemahkan nama Yahwe itu dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang dicontohkan oleh para penerjemah Alkitab dalam bahasa Yu-nani (Septuaginta) yang kemudian diikuti oleh rasul-rasul yang menulis Per-janjian Baru.

Tanggapan KS: Sungguh aneh nama diri sepakat Yahweh namun sikapnya ternyata lebih suka mengikuti tradisi lama yang jelas bukan merupakan “kebenaran”. Darimana Anda tahu bahwa Yesus mengikuti tradisi tidak membaca nama Yahweh? Apakah trauma “ketakutan” orang-orang Israel menyebut nama Yahweh merupakan standar sikap yang benar untuk tidak menyebut nama-Nya tetapi boleh menggantinya? Lihat kembali dua tanggapan teratas. Apakah Nuh (Kej. 9:26) dan Abraham (Kej. 12:8) dan para nabi, juga melafalkan Adonai bagi Yahweh? Alkitab menuliskan mereka menyebut Yahweh! Hati-hati! Anda bisa cari informasi di Internet dengan judul “Tetragrammaton Found in Earliest Copies of the Septuagint”. Fragment Septuaginta “Nahal Hever Minor Prophet” (fragment of Jonah, Micah, Nahum, Habakuk, Zephaniah and Zechariah) memuat “YHWH” dalam huruf Paleo-Hebrew dated between 50 BCE and 50 CE. Fragments ini ditemukan di Nahal Hever cave, south of Qumran. Jadi pada mulanya Septuaginta tetap mempertahankan YHWH. Namun belakangan memang diganti dengan Kyrios, Tuhannya orang Yunani!

BN: Catatan Penutup
Dari beberapa traktat dan publikasi yang diterbitkan kelompok baru "yang lebih Yahudi ketimbang orang Yahudi" ini, jelas sekali bahwa mereka menafsirkan Kitab Suci sangat harfiah, ayat demi ayat, tanpa melihat konteks dan sejarah teks-teks Alkitab. Kesan lain yang juga saya tangkap, para penganut "madzab baru" ini biasanya sangat fanatik, dan dalam membahas tema ini mereka sudah mempunyai kesimpulan dulu.

Tanggapan KS: Mengikuti pola berpikir Anda saya bisa saja mengatakan sebaliknya justru Andalah yang mempunyai kesimpulan lebih dulu dengan berpegang asumsi bahwa karena naskah PB tercatat Yunani pastilah percakapan Alkitab PB juga berlangsung dalam bahasa Yunani dengan segala konsekuensinya sebagaimana Anda nyatakan bahwa Yesus dan para rasulnya setuju pemakaian kata Kurios, sampai-sampai nama pun di-Yunani-kan. Siapa yang fanatik? Andalah yang fanatik PB Yunani, ya kan? Saya justru mencari pembanding. Bayangkan LAI menerbitkan Alkitab berbahasa Indonesia dengan TUHAN (dan ALLAH) sebagai nama diri Tuhan, sementara itu ia juga menerbitkan Kitab Suci berbahasa Jawa dengan Yehuwah sebagai Pangeran! Saya orang Jawa apa tidak kebingungan jika menyebut nama Tuhan, Yehuwah ataukah TUHAN atau ALLAH? Siapa yang kebingungan, LAI juga? Nampaknya Anda gemar menjadi “penuduh” – “lebih Yahudi ketimbang orang Yahudi”. Tolong periksa Hebrew New Testament- (yang bisa di-download dari http:dvar-adonai.org/HtnMain_en.htm), dengan huruf apa kata Yahweh dituliskan? Tolong baca Kitab Matius DuTillet/Munster (dan masih ada yang lain lagi). Jika Anda menyatakan orang Yahudi tidak melafal Yahweh melainkan menggantinya Adonai, apa bedanya dengan Anda (dengan kelompok Anda) yang juga tidak melafal Yahweh tetapi menggantinya dengan TUHAN atau ALLAH? Saya Israel baru, tidak meniru Yahudi umumnya yang takut menyebut nama Yahweh, tetapi saya meniru bapa Abraham hingga para nabi. Bandingkan dengan diri Anda! Apakah orang Yunani juga mengenal ALLAH sebagai Tuhan?

BN: Karena itu, segala pembahasan ilmiah, sebagaimana pernah saya lakukan dalam forum yang juga menghadirkan Romo Dr. Martin Harun dari Lembaga Biblika Indonesia, dari beberapa pembicara lain dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), selalu mentah. Mengapa? Sebab kalau mereka terpojok, mereka lalu lari mencari ayat-ayat lain, sementara pembahasan yang sudah mulai terfokus menjadi kabur kembali. Artikel ini saya tulis untuk menunjukkan sangat dangkalnya pemikiran mereka, pantas saja tuntutan mereka tidak pernah digubris oleh LAI, yang adalah gudangnya para pakar Biblika dan bahasa-bahasa semitik yang sampai sekarang masih terus digunakan di Timur Tengah tersebut.

Tanggapan KS: Saya juga termasuk sama sekali bukan pakar Biblika apalagi bahasa semitik. Namun ingat, cara pengambilan keputusan/sikap tidak sepenuhnya ditentukan keahlian tersebut. Mereka yang melakukan penelitian untuk Hebrew New Testament jelas bukan orang sembarangan. Bayangkan seorang diri sebagai penulis, James Scott Trimm mampu menulis lengkap Alkitab yang bersumber dari Hebrew-Aramaic. Apa sih arti “ilmiah”. “Frangkly speaking” Anda memang hebat; namun bagaimana mungkin nama diri “as a mark or memorial of individuality” koq diganti, mestinya kan disalin agar “kedengaran” sama? Ilmiah macam apa ini?

BN: Cairo, 12 Nopember 2004
Note:
Oleh: Bambang Noorsena
Pengamat Hubungan antariman dan Pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), kini tinggal di Kairo, Mesir.

KS: Note:
Penanggap adalah salah seorang anggota GKJ
Pengajar Kimia, FMIPA – UNY, Yogyakarta kristiansugiyarto @ yahoo.com
Back to top
View user's profile
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Fri Dec 10, 2004 6:42 pm    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

admin wrote:
Terima kasih buat surat terbuka dari Bp. Bambang Noorsena. Semoga para "pakar" dapat saling bertukar pikiran sampai kebenaran ditegakkan. Kami tunggu posting-posting berikutnya.

Ini Tanggapan berikutnya:
Tanggapan atas tulisan Sdr. Bambang Noorseno

(BN) :Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad
Beberapa hari lalu, seorang teman dari komunitas jurnalis Kristen meminta saya untuk turut dalam perdebatan soal nama Allah. Terus terang, saya malas. Mengapa? Karena saya sangat mengenal "kaum penentang Allah" itu, pola pikir mereka "hitam putih", main kutip ayat-ayat Alkitab secara harfiah terlepas dari konteks (mirip dengan "metode ayat bukti" a la bidat Saksi-saksi Yehuwa), dan kekurangan paling serius mereka, tidak menguasai filologi bahasa-bahasa semitis, khususnya keserumpunan bahasa Ibrani, Aram dan Arab.

Tanggapan (KS) :Anda boleh membanggakan diri karena lingkungan Anda di sekitar Timur tengah. Kami berterima kasih malahan bisa belajar dari Anda. Saya tidak terlalu silau, sebab saya dapat mengerti kesaksian Alkitab bahwa mereka yang hidup di sekitar Yahshua (Yesus) se-desa saja banyak yang tidak bisa memahami ajaran-Nya. Bahkan Murid-murid Yahshua yang “konon” mengalami peristiwa Pentakosta saja terpaksa mengadakan sidang raya di Yerusalem tentang pertanggungjawaban babtisan Kornelius oleh Petrus yang tadinya juga ragu-ragu melakukannya sampai dengan adanya “penglihatan” khusus. Nah, hal ini bisa menimpa siapa saja termasuk Anda juga. Penuntun kami memang ayat-ayat Alkitab dan inilah yang memang dibaca dan ditafsir setiap kita belajar memahaminya termasuk belajar memahami nama Yahweh dengan segala perintah-perintah-Nya. Terserah atas kesukaan Anda memberi julukan kepada pihak lain, kami tidak akan berubah menjadi sebagaimana yang Anda julukkan. Menurut etika komunikasi umum, pemberian julukan yang tidak dikehendaki, dapat dipertimbangkan sebagai pelecehan atau pencemaran nama baik. Namun kami tidak merasakan itu, karena kami memiliki hikmat yang dari Yahweh.

(BN). Karena itu, saya anggap enteng saja gerakan mereka itu. Tetapi setelah melihat sepak terjang mereka semakin ngawur, hantam kromo, dan lebih penting lagi agaknya mereka didukung oleh dana yang cukup besar, saya harus belajar telaten menulis untuk menjelaskan kaum awam dalam bahasa Arab itu. Tulisan singkat ini, kiranya dapat membatu umat Kristiani di Indonesia yang "sedang diombang-ambingkan oleh penga-jaran mereka".

Tanggapan (KS) : Menurut saya yang main hantam kromo adalah LAI yang antara lain menerjemahkan kyrios menjadi Tuhan. Memang dana besar sangat dibutuhkan; itulah sebabnya kami cukup sulit mempublikasikan dalam bentuk Alkitab. LAI tanpa dukungan dana (subsidi) jelas akan rugi mencetak Alkitab dengan harga jual yang terjangkau. “Ngawur” atau “kurang cerdas” atau terserah julukan sejenis apa yang Anda berikan kepada kami bukan ditentukan oleh penilaian Anda, melainkan ditentukan oleh isi argumentasi dan analisisnya. We are quite sure about this matter.

(BN) Asal-usul Allah: Tinjauan dari Bahasa Arab
Kalau dr. Suradi mula-mula, -- sebagaimana banyak artikel-artikel polemik Kristen terbitan Amerika, -- menyangkal sama sekali bahwa istilah Allah cognate dengan El, Eloah, Elohim (Ibrani) dan Elah, Alaha (Aram/Suryani), kini para penerusnya mencoba memisahkan antara kata-kata ilah (sembahan), alihat, (sembahan-sembahan) dan al-Ilah (sembahan itu, sembahan yang benar) yang se-rumpun dengan istilah el, eloah, elohim dengan Allah yang dianggapnya "nama dari dewa Arab yang mengairi bumi". Allah, yang dianggapnya sebagai nama "dewa air", dirujuknya dari artikel Wahyuni Nafis, dalam bunga rampai The Passing Over: Melintas Batas Agama, menjadi dasar penolakannya terhadap penggunaan kata Allah dalam Alkitab Kristen di Indonesia.
Untuk meneguhkan pembedaan antara ilah, alih-ah, dan al-Ilah dengan Allah, Teguh Hendarto lalu menyangkal bahwa istilah Allah berasal dari al-Ilah (Bahana, Maret 2001). Menurut argumentasinya yang sangat awam mengenai bahasa Arab, ia menulis kalau al-Ilah dapat disingkat menjadi Allah, mengapa Alkitab tidak menjadi Altab? Untuk itu saya harus menjelaskannya secara sabar, karena mungkin ia tidak bisa membaca sepotongpun huruf Arab, meski gayanya yang kelewat percaya diri seolah-olah mau menggurui saya.
Begini, pada prinsipnya sebuah kata dalam bahasa-bahasa semitik dibentuk dari akar kata (al-jidr) yang biasanya terdiri dari 3 konsonan. Akar kata itu bisa dipecah-pecah menjadi kata benda, kata sifat, kata kerja dan kata benda baru. Misalnya, kitab dari kata k-t-b. Dari akar kata ini, lalu dibentuklah menjadi banyak kata: kata benda, kata kerja, dan sebagainya. Dari akar kata k-t-b kita dapat menemukan kata-kata sebagai berikut: kitaab (buku), kaatib (penulis), maktabah (perpustakaan), maktub (tertulis, termaktub), uktub (tulislah!), dan seterusnya.
Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (‘-l-h). Dari akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi dalam bahasa Ibrani atau Aram.
Selanjutnya, memisahkan sebutan Allah dari Ilah, al-Ilah juga tidak bisa dipertahankan. Sebab ahli bahasa Arab, baik dari kalangan Islam maupun Kristen, juga banyak yang menganggap bahwa sebutan Allah itu musytaq atau dapat dilacak asal-usulnya dari kata lain. Jadi, tidak benar anggapan kaum penentang Allah itu yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Memang, ada penerjemah al-Qur’an yang berpandangan demikian, misalnya terjemahan Abdallah Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Quran.

Tanggapan (KS) : Pola berpikir Anda ini jelas jauh dari nilai ilmiah; jelas ada dua “pendapat” koq terus membenarkan pendapat yang sealiran dan menyalahkan pendapat yang lain. Tegasnya di kalangan Islam sendiri kan jelas ada perbedaan pendapat. This is the fact. Pendapat Anda perihal asal-usul kata Allah memang considerably accepted, masuk akal, tetapi ingat ini teori bukan the fact. Faktanya yaitu ada kata Ilah, al-Ilah, dan Allah. Berkacalah pada Teori Evolusi C, Darwin. Evolusi itu teori bukan the fact; memang sangat masuk akal. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa faktanya kerangka fosil monyet serumpun dengan manusia, kemudian Darwin membangun teori evolusi yang menyatakan bahwa manusia diduga kuat berasal dari evolusi monyet! Be carefull if you want to be a scientist. OK!. Pendapat Anda yang memaksakan bahwa Allah itu dari Al-ilah, sama sekali tidak punya dasar pemahaman. Tata Bahasa Arab yang benar dan itu membuktikan Anda perlu belajar lagi. Al itu memang dapat berarti atau sama dengan “The” dan Ilah itu mufrod yaitu satu sesembahan / satu dewa / satu tuhan, tapi jangan main hantam kromo dengan mengatakan bahwa “Allah” itu dari Al-ilah!. Sebab kalau dua illah / tuhan itu namanya Ilahaani ( mutsannah ) sedangkan lebih dari dua illah itu disebut jamak taktsir sehingga menjadi aalihah. Contohnya : Alkitab itu Mufrod, dua kitab itu Alkitabaani (mutsannah), sedangkan kalau lebih dari dua kitab disebut jamak taktsir sehingga menjadi Alkutub. Contoh lain lagi: Alkursi ( satu kursi / mufrod ) kalau dua Kursi menjadi Alkursiaani ( mutsannah ), sedangkan kalau lebih dari dua kursi menjadi Alkaroosi (jamak taktsir). Perlu diketahui, bahwa dalam tata bahasa Arab / Annahwu wa shorfu jamak itu terbagi menjadi tiga yaitu Jamak Mudzkarsalim, contohnya : Almuslimuuna (orang islam laki2 banyak), kedua Jamak Muannassalim, contohnya: Almuslimaat (orang perempuan banyak), ketiga Jamak taktsir, contohnya tadi sudah diuraikan d iatas. Sedangkan “ALLAH” secara etimologi terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua. Kata “ALLAH” adalah ghairu musytag (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain - jadi jangan dibalik donk), karena kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jamak (plural). Demikian pula kata ini tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf. Kata “ALLAH” juga disebut sebagai isim murtajal, maksudnya kata “ALLAH” adalah nama asal bagi Dzat Yang wajib ada. Jadi tidak pernah ada dua Allah (Allahaani) atau banyak Allah (jamak) .... mana ada????!.
Kalau ilah memang bisa diberi Alif Lam (AL) sedangkan Allah tidak bisa diberi Alif Lam sehingga menjadi AlAllah. Karena kalau ilah itu belum diketahui (gelar) ... ilah yang mana???, sedangkan Allah sudah diketahui karena itu nama pribadi. Contoh: Muhammad tidak bisa menjadi Al Muhammad. Ilah bisa diartikan dewa sedangkan Allah tetap Allah (Kamus Indonesia-Arab-Inggris, Abd. Bin Nuh dan Oemar Bakry, cetakan ke 8 Th. 1993, Mutiara Sumber Widya – Jkt Halaman 76).

(BN) Jadi, tidak semua umat Islam berpandangan bahwa istilah Allah itu ghayr al-musytaq (tidak berasal dari kata lain, karena dianggap "the proper name"). Sama seperti "kaum penentang Allah" yang menganggap Yahweh tidak bisa diterjemahkan, begitu juga di kalangan Islam ada yang berpandangan seperti itu. Pdt. Jacob Sulistiono mengutip majalah Islam Sabili, yang memuat tulisan seorang Muslim yang menganggap bahwa Allah itu tidak bisa diterjemahkan, tetapi itu tidak mewakili pendapat seluruh umat Islam di dunia. Bahkan di kalangan Islam sendiri, Sabili sering dianggap mewakili kelompok Islam garis keras, setali tiga uang dengan "kaum penentang Allah", minimal dalam pandangan teologisnya yang sama-sama "hitam putih" itu.

Tanggapan (KS) : Inilah tipe orang yang emosional dalam diskusi ilmiah. Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti, dan sebaliknya Anda juga bersikeras bahwa Nama Yahweh bisa diganti. Sama-sama keras kan! Jadi jangan gunakan istilah ini karena ini bukan bagian dari academic culture. Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi / mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority. Yahweh memberi nama bagi diri-Nya sendiri (Yer 32: 20), manusia memberi nama-nama binatang, orang tua memberi nama anak-anaknya, Yahweh mengganti nama Abram menjadi Abraham (Kej.17:5) dan Sarai menjadi Sarah (Kej. 17:15), Yahweh memberi nama Anak-Nya Yahshua (melalui malaikat-Nya), Pemimpin Pegawai Istana Babel mengganti nama tawanannya, Daniel (yang artinya Elohim adalah hakimku) menjadi Beltsazar (nama Babilonian, yang artinya Bel atau Marduk melindungi hidupnya; Bel = Marduk = nama pemimpin berhala Babil), … dst. Mereka yang memberi atau mengganti nama ini mempunyai wewenang terhadap oknum yang diberi / diganti nama. Anda (dan kelompok sejenis) bertindak justru mengganti nama Yahweh menjadi LORD, GOD, TUHAN, ALLAH, dst. When and how did you get the such authority to do so? Apakah ini karena ilmu Anda yang merasa mahir bahasa semitik kemudian berhak mengganti nama Yahweh?. Menurut saya ini adalah tindakan sangat-sangat lancang. “I am Yahweh, that is My name; and My glory I will not give to another, nor My praise to carved images” (Yes. 42:28 – NKJV).

(BN) Salah satu diantara terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang
menerje-mahkan istilah Allah, misalnya silahkan membaca: The Massage of the Qur’an, oleh Muhammad Asad. Dalam terjemahan yang cukup otoritatif di dunia Islam Barat ini, ungkapan: Bismillahi Rahmani Rahim diterjemahkan: "In the Name of God, The Most Grocious, The Dispenser of Grace".
Memang, Sabili dalam salah satu terbitannya pernah menguraikan bahwa secara etimologis, kata Allah yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha' dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua) adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain). Karena itu, kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama' (plural). Demikian pula kata ini tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf. Jacob Sulistiono mengutip ini, saya yakin ia sendiri tidak mengerti apa itu bentuk mutsanah, jama’ atau mudhaf dalam bahasa Arab.
Harus saya jelaskan sekali lagi, padangan Sabili sama sekali tidak bisa dianggap representatif mewakili Islam. Banyak ulama Islam terkemuka yang berpandangan sebaliknya. Contohnya, kita bisa membaca kitab yang sangat terkenal di dunia Arab, al-Mu’jam al-Mufahras, yang menempatkan kata Allah tersebut di bawah heading (judul): hamzah, lam, haa ( ‘-l-h). Mengapa? Karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, sehingga Al- bisa hilang dalam kata: wallahi, bi-lahi, lil-lahi, dan sebagainya. Misalnya, pada kalimat Alhamdu lil-lah (segala puji bagi Allah), lil-lahi ta’ala (karena Allah Yang Maha Tinggi), kata sandang Al- di depan Allah juga dihilangkan.
Sedangkan kata Allah tidak bisa dijumpai dalam bentuk ganda dan jamak, secara historis dibuktikan karena kata sandang al- yang mendahului kata ilah, muncul untuk menegaskan: ilah itu, yang sudah mengandung makna pengkhususan. Maksudnya, bisa berarti Dia adalah ilah yang paling besar, sedangkan ilah-ilah lain berada di bawahnya, seperti dianut kaum Mekkah pra-Islam, seiring dengan pergeseran dari paham politeisme menuju henoteisme. Sebaliknya, bisa juga berarti "ilah satu-satunya, yang tidak ada ilah selain-Nya". Makna kedua ini, antara lain diberikan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, kaum Hanif pra-Islam di wilayah Arab untuk menegaskan Keesaan-Nya. Tradisi monoteisme inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Islam.
Selanjutnya, kata Allah memang tidak dapat dijadikan mudhaf, tetapi itu tidak berarti bahwa Allah itu nama diri. Sebab bukan hanya "nama diri" yang tidak bisa dijadikan mudhaf, tetapi setiap bentuk ma’rifah juga tidak bisa dijadikan mudhaf. Misalnya, kita berkata: Baitu al-Kabiiri (Rumah yang besar itu). Kata baitu dalam kalimat ini adalah "mudhaf", sedangkan al-kabiiri adalah "mudhaf ilaih". Tetapi kalau kita tambahkan al- sebelum bait, misalnya: al-baitu kabiirun (Rumah itu besar). Jadi, maknanya berbeda. Mengapa? Karena al-bait disini menjadi mubtada’ (subyek), bukan mudhaf lagi, sedangkan kabiirun adalah khabar (predikat).

Tanggapan (KS) : Ini penjelasan sangat bagus, mudah-mudahan semua pemahaman Islam demikian juga; namun kami menginginkan terjemahan Alkitab dari Ibrani aslinya ke dalam bahasa Indonesia, dengan menghindari title yang pernah dipakai sebagai title berhala bagi Nama Yahweh.

(BN) Metode "debat Kusir" dan "Logika
Jungkir Balik" Penentang Allah
Saya sangat paham apabila LAI selama ini tidak pernah menggubris tuntutan kelompok sempalan ini, yang menuntut agar dalam Alkitab bahasa Indonesia dihilangkan kata Allah. Mengapa? Anda baru mengetahui alasannya, kalau anda mengikuti metode "debat kusir" dan "logika jungkir balik" mereka. Saya sekedar mengulang beberapa contoh:
Mula-mula mereka menuduh Allah itu "dewa air" berdasarkan beberapa rujukan yang mereka anggap mendukung, bahwa Allah pernah disembah bersama dewa-dewa kafir Mekkah pra-Islam. Tuduhan ini lalu saya tanggapi, Pertama: berdasarkan inkripsi-inskripsi Arab Kristen pra-Islam, yaitu Zabad (521 M) dan Umm al-Jimmal (perte-ngahan abad ke-6 M) bahwa Allah sudah dimaknai secara monoteistik Kristen, lengkap dengan foto-foto inskripsi, bacaannya, ulasan para ahli filologi, dan perkembangannya di gereja-gereja Arab setelah Islam hingga zaman kita sekarang; dan kedua: berdasarkan inskripsi Kirbeth el-Qom dan Kunlitet Ajrud, yang ditemukan di wilayah Hebron, Yahweh pun juga pernah disembah bersama dewi kesuburan, Asyera.
Tanggapan saya ditanggapi balik. Pertama, bukti-bukti pemakaian Allah menurut inskripsi pra-Kristen itu, menurutnya tidak membuktikan keabsahan kata Allah, melainkan karena orang Arab Kristen tidak tahu asal-usulnya. Jadi, Hendarto sudah mempunyai praduga dulu, bahwa Allah itu "dewa air", "dewa bulan", "dewa matahari", atau dewa apapun Allah itu, ia tidak perduli, yang penting kata itu harus ditolak. Ia tidak menyelidiki dulu, bahkan buku Roberts Morrey, yang lebih merupakan karya polemik yang sangat provokatif anti-Islam itu, disebutnya sebagai "bukti archeologis?".
Padahal, dalam buku ini tidak ada pembahasan arkheologis sama sekali, kecuali berbagai sumber bacaan yang dirangkai-rangkai tanpa penelitian mendalam. Juga buku Steppen van Natan, Allah: Divine or Demonic, yang lebih menyerupai traktat tersebut, bagaimana "buku sampah" begini bisa disejajarkan dengan hasil penelitian Prof. Littmann, misalnya, yang meneliti inkripsi-inskripsi Arab pra-Islam itu sangat menda-lam, bahkan banyak ahli-ahli lain yang reputasinya tidak diragukan, yang telah menyerahkan hampir seluruh hidup mereka untuk penelitian ilmiah.
Jadi, mereka menolak kata Allah berdasarkan buku-buku para penginjil yang berangkat dari asumsi teologis "hitam-putih" dan sama sekali tidak mempunyai keahlian di bidang sejarah dan arkheologi. Tetapi ketika saya counter dengan bukti-bukti sejarah, dikatakannya "bahwa itu hanya statement manusia, yaitu orang Islam dan Kristen Arab, yang tidak korelasinya dengan Firman Tuhan dalam Alkitab". Komentar ini, mungkin disebabkan karena saya tidak banyak "main kutip ayat-ayat" seperti mereka. Maksud-nya, banyak ayat Alkitab mereka ajukan untuk mendukung anggapan mereka bahwa nama Yahwe tidak boleh diterjemahkan, sedangkan mereka mamahami nama ilahi itu sama seperti nama-nama makhluk-Nya. Untuk menunjukkan kedangkalan pemikiran mereka, silahkan baca artikel saya: "Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan?".
Kedua, kalau saya buktikan bahwa Yahwe juga pernah disembah bersama dengan dewi Asyera, dengan enteng ia mengatakan bahwa itu hasil sinkretisme di Israel pada zaman dahulu, tanpa secara fair juga menerapkan penilaian yang sama untuk kata Allah, bahwa istilah Arab ini juga diartikan secara salah oleh orang-orang Arab pra-Islam. Padahal bahasa itu netral, tergantung apa makna yang kita berikan. Inilah yang saya namakan motode "debat kusir" alias debat tukang dokar, dengan "logika jungkir balik" mereka itu.

Tanggapan (KS) :Semua sudah saya tanggapi pada tanggapan terdahulu. Namun perlu saya tambahkan bahwa Anda sendiri bersama-sama Pakar Islam yang sepakat bahwa ay. Al Qur’an (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 3) yang menyatakan bahwa “…. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. …. “ adalah untuk mengubah pemahaman “Allah” model politisme yang dianut pada zaman jahiliyah menjadi monotisme. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di Arab paham politeisme munculnya lebih tua dari monoteisme. Ini berarti bahwa kata “Allah” baik Anda selidiki asal-usulnya (cognate dengan El, Eloah, Elohim) atau tidak memang sudah muncul sebelum zaman Islam itu sendiri, dan kata “Allah” inilah yang diungkap dalam tulisan-tulisan (sebagai berhala/dewa) yang Anda anggap sebagai “buku sampah” tersebut. Ketika Anda menarik kesimpulan dengan mengabaikan umur kemunculan pemahaman kata “Allah” tersebut mencerminkan kualitas Anda seorang yang pandai mengemukakan fakta namun “misleading” dalam menyimpulkan; sebaiknya Anda belajar terus bagaimana menjadi seorang peneliti yang qualified. Siapa yang mengalami jungkir balik?

(BN) Yang lebih menggelikan lagi, Teguh Hendarto mengkoreksi terjemahan Alkitab al-Muqaddas (Today’s Arabic Version), terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut, yang saya kutip dalam makalah saya. Ungkapan Laa Ilaha illa Allah (Tidak ada Ilah kecuali Allah) yang tercatat dalam 1 Korintus 8:4, dengan gayanya yang menggurui, katanya terjemahan yang benar: Laa Ilaha al-Wahid. Ini bahasa Arab apa? Tidak ada artinya sama sekali, dan terang saja akan ditertawakan santri desa yang baru belajar Juzz Amma. Tetapi, ya itulah kualitas rata-rata kaum Penentang Allah itu. Semua ini saya ungkap di sini, karena gerakan mereka semakin gencar dan ngawur, seperti yang akan kita lihat di bawah ini.
Teguran Keras Mubaliq se-Indonesia:
Provokasi Opo maneh iki, Rek?
Sama ngototnya dengan Hendarto, kita juga dikacau oleh Pdt. Jacob Sulistyono, seorang penganut "sekte Yahweh" , yang lebih Yahudi ketimbang Yahudi sendiri, dalam perdebatannya di www.salib.net Banyak orang menduga, bahwa ia sendiri berada di belakang kasus "Surat Teguran Keras Mubaligh se-Indonesia", yang tidak jelas jun-trungannya itu. Menurutnya, Allah dalam Islam dan Yahwe dalam Kristen itu mutlak berbeda. "Umat Islam tidak suka orang Kristen menyebut Allah", tulisnya, "karena ada istilah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, sedangkan Islam percaya bahwa Allah itu tdk bisa disamakan dengan apapun". Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an yang menyebutkan sebagai berikut:
Qul huwa llaahu ahad. Allahush shamad. Lam Yalid wa lam yulad. Wa Lam Yakun lahu kufuwwan ahad. Artinya: "Katakanlah Dialah Allah Yang Esa. Allah, Dia adalah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 4).
Laqad kafar alladzina qaluu Innallaha huwa al-Masih ibn Maryam. Artinya: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih Putra Maryam" (Q.s. Al-Maaidah/5:17).
Dengan keterangan di atas, ia seolah-olah malah membenarkan bahwa Tuhan orang Kristen itu beranak dan diperanakkan. Padahal mestinya, sebagai orang yang mengaku pengikut Kristus, justru seharusnya ia menjelaskan kepada umat Islam bahwa istilah Putra Allah itu bukan dalam makna "beranak dan diperanakkan", bukan malah membenarkannya, sekedar demi mendukung penolakannya atas istilah Allah. Q.s. al-Ikhlas ditujukan untuk menolak keyakinan pra-Islam di Mekkah, bahwa Allah mempu-nyai anak-anak perempuan, yaitu al-Latta, Uzza dan Manah.

Tanggapan (KS) : Anda nampak kesulitan memahami tulisan orang lain, barangkali karena Anda lebih dikuasai emosi ketimbang nalar yang jernih. Yang dikemukakan P. Yakub adalah fakta adanya pemahaman orang-orang Islam yang ketika mendengar Istilah Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus dalam ajaran Kristen, mereka memahami bahwa Allah dalam Kristen itu beranak; ini pemahaman mereka orang-orang Islam tadi, dan oleh karena itu mereka menyerang dengan ayat Al Qur’an yang mereka kuasai (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 3). Ini karena Alkitab memakai istilah yang sama dengan Al Qur’an yaitu untuk kata Allah. Jadi jika dalam Kristen tidak memakai kata Allah melainkan istilah lain yang tidak ada dalam Al Qur’an, tidak akan mungkin mereka menyerangnya dengan ayat tersebut. Jadi dalam pandangan saya Anda sungguh-sungguh ceroboh; bagaimana mungkin Anda mengaku mengenali ajaran Kristen sementara P Yakub adalah seorang Pendeta bisa Anda duga seolah-olah membenarkan bahwa Tuhan orang Kristen itu beranak? Lebih-lebih lagi sebutan Putra Allah bagi Yesus (orang-orang Katolik sering sekali), dan ketika mendengar ajaran bahwa Yesus itu adalah Allah sendiri dalam wudjud manusia, tak pelak lagi orang-orang Islam tadi menjadi lebih merasa terganggu karena Yesus itu dalam Al Qur’an dipahami sebagai Isa al-Masih putra Maryam. Maka serangan lanjut adalah dengan (Q.s. Al-Maaidah/5:17), sehingga tidak mengherankan mereka sering menganggap orang-orang Kristen itu kafir. Jika saya menulis demikian ini jangan Anda anggap seolah-olah saya membenarkan bahwa orang Kristen itu kafir lho!. Sekali lagi ini pandangan kelompok orang-orang islam yang berpandangan demikian. Kita tentu tidak mempunyai wewenang (nanti dikiranya mau mengkristenkan!) menjelaskan ini kepada mereka kecuali jika diminta atau memang dalam wadah yang sesuai.

(BN) Sedangkan Q.s. al-Maidah 17 lebih diarahkan kepada keyakinan semacam mujja-simah (antropomorfisme) bidat Kristen di Mekkah, yang menganggap bahwa Allah sama dengan tubuh kemanusiaan Yesus itu sendiri. Sudah barang tentu, keyakinan ganjil seperti ini juga tidak pernah dianut oleh orang Kristen manapun, baik itu gereja Katolik, gereja-gereja ortodoks dan reformasi Protestan sekarang ini.
Para ahli lain juga menghubungkan keyakinan yang diserang al-Qur’an itu dengan sekte bidat Kristen Maryamin (penyembah Maryam), yang memuja Maryam dan mengarak patungnya di sekeliling ka’bah serta mempersembahkan kepadanya collyrida (roti persembahan), sehingga disebut juga sekte Collyridianisme. Karena itu, tepatnya yang ditolak al-Qur’an adalah keyakinan pseudo-trinity yang terdiri: Allah, ‘Isa al-Masih dan Maryam (Q.s. an-Nisa’/4:171; al-Maidah/5: 73, 116), dan sema sekali tidak cocok diterapkan untuk keyakinan Kristen sebenarnya.
Sebelum saya tutup artikel ini dengan penjelasan singkat makna Putra Allah dalam Iman Kristen, perlu saya tanyakan mengenai tuntutan Mubaligh se-Indonesia? Lembaga ini kalau memang ada, mewakili siapa sehingga berani meng-claim dirinya seolah-olah seluruh umat Islam Indonesia? Ini sangat berbahaya bagi kerukanan umat beragama, apalagi kalau lembaga fiktif ini sengaja dibuat kelompok Kristen tertentu untuk meloloskan pandangan-pandangannya yang tidak ilmiah itu.
Makna term Putra Allah: Belajar
Dari "bahasa teologis" Kristen Arab
Kalau begitu, apakah makna sebenarnya istilah Putra Allah dalam Iman Kristen? Harus ditegaskan, bahwa tidak ada umat Kristen yang pernah mempunyai sebersit pemikiran pun bahwa Allah secara fisik mempunyai anak, seperti keyakinan primitif orang-orang Mekkah pra-Islam tersebut. Saya ingin menjelaskan metafora ini berda-sarkan teks-teks sumber Kristen Arab, supaya terbangun kesalingpahaman teologis Kristen-Islam di Indonesia. Sebab selama ini ada jarak yang cukup lebar secara kultural antara "bahasa teologis" Kristen Barat, yang memang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, sehingga kesalahpahaman semakin berlarut-larut.
Istilah Putra Allah yang diterapkan bagi Yesus dalam Iman Kristen untuk mene-kankan praeksistensi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal, seperti disebutkan dalam Injil Yohanes 1:1-3. Ungkapan "Pada mulanya adalah Firman", untuk menekankan bahwa Firman Allah itu tidak berpermulaan, sama abadi dengan Allah karena Firman itu adalah Firman Allah sendiri.
Selanjutnya, "Firman itu bersama-sama Allah", menekankan bahwa Firman itu berbeda dengan Allah. Allah adalah Esensi Ilahi (Arab: al-dzat, the essence), yang dikiaskan Sang Bapa, dan Firman menunjuk kepada "Pikiran Allah dan Sabda-Nya. Akal Ilahi sekaligus Sabda-Nya" (‘aqlullah al-naatiqi, au natiqullah al-‘aaqli, faahiya ta’na al-‘aqlu wa al-naatiqu ma’an), demikianlah term-term teologis yang sering dijumpai dalam teks-teks Kristen Arab. Sedangkan penegasan "Firman itu adalah Allah", mene-kankan bahwa Firman itu, sekalipun dibedakan dari Allah, tetapi tidak berdiri di luar Dzat Allah. Mengapa? "Tentu saja", tulis Baba Shenuda III dalam bukunya Lahut al-Masih (Keilahian Kristus), "Pikiran Allah tidak akan dapat dipisahkan dari Allah ( ‘an ‘aqlu llahi laa yunfashilu ‘an Allah)". Dengan penegasan bahwa Firman itu adalah Allah sendiri, makan keesaan Allah (tauhid) dipertahankan.
Ungkapan "Firman itu bersama-sama dengan Allah", tetapi sekaligus "Firman itu adalah Allah", bisa dibandingkan dengan kerumitan pergulatan pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam, yang merumuskan hubungan antara Allah dan sifat-sifatnya: Ash Shifat laysat al-dzat wa laa hiya ghayruha (Sifat Allah tidak sama, tetapi juga tidak berbeda dengan Dzat Allah). Jadi, kata shifat dalam Ilmu Kalam Islam tidak hanya bermakna sifat dalam bahasa sehari-hari, melainkan mendekati makna hypostasis dalam bahasa teologis Kristen.
Dalam sumber-sumber Kristen Arab sebelum munculkan ilmu Kalam al-Asy’ari, hyposistasis sering diterjemahkan baik shifat maupun uqnum , "pribadi" (jamak: aqanim), asal saja dimaknai secara metafisik seperti maksud bapa-bapa gereja, bukan dalam makna psikologis. Sedangkan ousia diterjemahkan dzat, dan kadang-kadang jauhar. Istilah dzat dan shifat tersebut akhirnya dipentaskan kembali oleh kaum Suni dalam menghadapi kaum Mu’tazili yang menyangkal keabadian Kalam Allah (Al-Qur’an), sebagaimana gereja menghadapi bidat Arius yang menyangkal keabadian Yesus sebagai Firman Allah.
Kembali ke makna Putra Allah. Melalui Putra-Nya atau Firman-Nya itu Allah menciptakan segala sesuatu. "Segala seuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak sesuatupun yang jadi dari segala yang dijadikan" (Yohanes 1:3). Jelaslah bahwa mem-pertahankan keilahian Yesus dalam Iman Kristen, tidak berarti mempertuhankan kemanusiaan-Nya, apalagi dengan rumusan yang jelas-jelas keliru: "Sesungguhnya Allah adalah al-Masih Putra Maryam" (innallaha huwa al-masih ibn maryam).
Dalam rumusan ini, yang ditentang al-Qur’an adalah menyamakan kemanusiaan Yesus dengan Allah. Padahal yang kita dimaksudkan ketika mempertahankan keilahian Yesus, menunjuk kepada Firman yang kekal bersama-sama Allah, yang melalui-Nya alam semesta dan segala isinya ini telah diciptakan.
Dan karena sejak kekal Kristus adalah Akal Allah dan Sabda-Nya, maka jelaslah Firman itu adalah Allah. Karena Akal Allah berdiam dalam Allah sejak kekal (wa madaama al-Masih huwa ‘aql allah al-naatiqi, idzan faahuwa llah, lianna ‘aql allah ka’inu fii llahi mundzu azali). Dan karena itu pula, Firman itu bukan ciptaan (ghayr al-makhluq), karena setiap ciptaan pernah tidak ada sebelum diciptakan).
Secara logis, mustahillah kita membayangkan pernah ada waktu dimana Allah ada tanpa Firman-Nya, kemudian Allah menciptakan Firman itu untuk Diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada tanpa Pikiran atau Firman-Nya? Kini kita memahami secara jelas ajaran Tritunggal Yang Mahaesa, bahwa Allah, Firman dan Roh-Nya adalah kekal, sedangkan Firman dan Roh Allah selalu berdiam dalam keesaan Dzat-Nya, berada sejak kekal dalam Allah).
Selanjutnya, istilah Putra Allah berarti "Allah mewahyukan Diri-Nya sendiri melalui Firman-Nya". Allah itu transenden, tidak tampak, tidak terikat ruang dan waktu. "Tidak seorangpun melihat Allah", tulis Rasul Yohanes dalam Yohanes 1:18, "tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa Dialah yang menyatakan-Nya". Inilah makna tajjasad (inkarnasi). "Dengan inkarnasi Firman-Nya", tulis Baba Shenouda III, "kita melihat Allah. Tidak seorangpun melihat Allah dalam wujud ilahi-Nya yang kekal, tetapi dengan nuzulnya Firman Allah, kita melihat pewahyuan diri-Nya dalam daging" (Allahu lam yarahu ahadun qathu fi lahutihi, wa lakinahu lamma tajjasad, lamma thahara bi al-jasad).
Melalui Firman-Nya Allah dikenal, ibarat seseorang mengenal diri kita setelah kita menyatakan diri dengan kata-kata kita sendiri. Jadi, sebagaimana kata-kata se-seorang yang keluar dari pikiran seseorang mengungkapkan identitas diri, begitu Allah menyatakan Diri-Nya melalui Firman-Nya. Inilah maka ungkapan dalam Qanun al-Iman (Syahadat Nikea/Konstantinopel tahun 325/381), yang mengatakan bahwa Putra Allah yang Tunggal telah "lahir dari Sang Bapa sebelum segala zaman" (Arab: al-maulud min al-Abi qabla kulli duhur). Adakah di dunia ini seseorang yang dilahirkan dari Bapa? Jawabnya, tentu saja tidak ada! Setiap orang lahir dari ibu. Karena itu, Yesus disebut Putra Allah jelas bukan kelahiran fisik, tetapi kelahiran ilahi-Nya sebagai Firman yang kekal sebelum segala zaman.
Tetapi bukankah secara manusia Yesus dilahirkan oleh Bunda Maria? Betul, itulah makna kelahiran-Nya yang kedua dalam daging. Mengenai misteri ini, Bapa-bapa gereja merumuskan2 makna kelahiran (wiladah) Kristus itu, seperti dirumuskan dalam ungkapan yang indah:
As-Sayid al-Masih lahu miladain: Miladi azali min Ab bi ghayr umm qabla kulli ad-duhur, wa miladi akhara fi mal’i al-zamaan min umm bi ghayr ab. Artinya: "Junjungan kita al-Masih mempunyai dua kelahiran: Kelahiran kekal- Nya dari Bapa tanpa seorang ibu, dan kelahiran-Nya dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa insani’.
"Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu", menunjuk kepada kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. Tanpa seorang ibu, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bi ghayr jasadin) melalui seorang ibu, karena memang "Allah tidak beranak dan tidak diper-anakkan". Jadi, dalam hal ini Iman Kristen bisa sepenuhnya menerima dalil al-Qur’an: Lam Yalid wa Lam Yulad, karena memang tidak bertabrakan dengan makna teologis gelar Yesus sebagai Putra Allah.
Sebaliknya, "Lahir dari ibu tanpa bapa", menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan meneguhkan kelahiran kekal-Nya "sebelum segala abad". Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh Sayidatina Maryam al-Adzra’ (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah.
Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa ajaran Tritunggal sama sekali tidak berbicara tentang ilah-ilah selain Allah. Ajaran rasuli ini justru mengungkapkan misteri keesaan Allah berkat pewahyuan diri-Nya dalam Kristus, Penyelamat Dunia. Dalam Allah (Sang Bapa), selalu berdiam secara kekal Firman-Nya (Sang Putra) dan Roh Kudus-Nya. Kalau Putra Allah berarti Pikiran Allah dan Sabda-Nya, maka Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, yaitu hidup Allah yang abadi. Bukan Malaikat Jibril seperti yang sering dituduhkan beberapa orang Muslim selama ini. Firman Allah dan Roh Allah tersebut bukan berdiri di luar Allah, melainkan berada dalam Allah dari kekal sampai kekal.

Tanggapan (KS) : Sebenarnya apa yang Anda sampaikan dalam tulisan pada kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa kata “Allah” telah Anda jadikan sebagai pengganti kata “Tuhan” dan itu merupakan pemahaman orang Kristen yang saat ini menolak Nama Yahweh sebagai suatu nama pribadi. Padahal kalau Kata “Allah” yang telah dipahami oleh sebagian orang Kristen yang menolak nama Yahweh sebagai pengganti kata “Tuhan”, seharusnya disadari bahwa pemahaman tersebut tidak sah, melainkan terkesan dipaksakan, sebab orang yang beragama Budha dan Hindu tidak menerima kata “Allah” sebagai pengganti kata “Tuhan” dalam pemahaman mereka berbahasa Indonesia. Padahal dalam Kejadian 33: 20. Kata “Allah” telah diterjemahkan sebagai pengganti kata “Tuhan” (sebutan) dan sebagai Nama Diri Yahweh. Ini lucu dan sangat tidak ilmiah.

(BN) Jadi, jelaslah bahwa Iman Kristen tidak menganut ajaran sesat yang diserang oleh al-Qur’an, bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan. Untuk memahami Iman Kristen mengenai Firman Allah yang nuzul (turun) menjadi manusia ini, umat Islam hendaknya membandingkan dengan turunnya al-Qur’an alam Allah (nuzul al-Qur’an). Kaum Muslim Suni (Ahl l-Sunnah wa al-Jama’ah) juga meyakini keabadian al-Qur’an sebagai kalam nafsi (Sabda Allah yang kekal) yang berdiri pada Dzat-Nya, tetapi serentak juga terikat oleh ruang dan waktu, yaitu sebagai kalam lafdzi (Sabda Tuhan yang temporal) dalam bentuk mushaf al-Qur’an dalam bahasa Arab yang serba terbatas tersebut.
Dan sperti fisik kemanusiaan Yesus yang terikat ruang dan waktu, yang "dibu-nuh dalam keadaannya sebagai manusia" (1 Petrus 3:18), begitu juga mushaf al-Qur’an bisa rusak dan hancur. Tetapi Kalam Allah tidak bisa rusak bersama rusaknya kertas al-Qur’an. Demikianlah Iman Kristen memahami kematian Yesus, kematian-Nya tidak berarti kematian Allah, karena Allah tidak bisa mati. Saya kemukakan data-data paralelisasi ini bukan untuk mencocok-cocokkan dengan Ilmu Kalam Islam. Mengapa? Sebab justru seperti sudah saya tulis di atas, pergulatan Islam mengenai Ilmu Kalam dirumuskan setelah teolog-teolog Kristen Arab, menerjemahkan istilah-istilah teologis dari bahasa Yunani dan Aram ke dalam bahasa Arab.

Tanggapan (KS) : Saya kira penjelasan Anda memang standar pengajaran trinitas, dan oleh karena itu tidak perlu saya tanggapi. Hal ini kan mengandung makna yang sama jika kata Allah diganti dengan term Elohim misalnya.

(BN) Akhirul Kalam, semoga tulisan ini semakin merangsang pembaca untuk meng-gumuli teologi kontekstual yang mendesak dibutuhkan gereja-gereja di Indonesia, khususnya dalam merentas jalan menuju dialog teologis dengan Islam. Bukankah dialog teologis Kristen-Islam selama ini sering mengalami kebuntuan, karena "kesenjangan bahasa teologis" antara keduanya, akibat tajamnya pengkutuban Barat-Timur selama ini? Marilah kita realisasikan pesan rasuli, supaya kita siap sedia segala waktu "untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu…." (1 Petrus 3:15), dan bukan malah menghabiskan energi kita untuk mengurusi "kelompok-kelompok kurang cerdas yang suka bikin onar" itu.

Tanggapan (KS) : Terima kasih atas julukannya “kurang cerdas bikin onar”. Sadarkah Anda, bahwa secara tidak langsung Anda sudah menjadikan Yesus (Yahshua) sebagai pribadi kurang cerdas bikin onar juga, karena pengajarannya dianggap membahayakan dan mengusik komunitas “Ahli Taurat” yang merasa diri benar sehingga pengajaranNya ditolak dan dianggap tidak layak, sehingga Yesus lebih cocok disalib?. Tidak inginkah Anda mewujudkan pesan dalam Maleakhi 1:11, “Sebab dari terbit sampai terbenamnya matahari nama-Ku besar (masyhur) di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan kurban bagi nama-Ku ……, sebab nama-Ku besar (masyhur) di antara bangsa-bangsa, firman Yahweh Semesta Alam.” Saat ini “kelompok suka bikin onar” sedang mewujudkan nats tersebut. Kami sedang mengenalkan dan memasyhurkan nama Yahweh bukan TUHAN, apalagi ALLAH, di Indonesia (bukan di Israel). Sayang Anda lebih suka melakukannya tetapi untuk nama Allah (atau nama Ar Rabb?) di negara-negara Arab. Saya lebih membutuhkan hikmat dari Yahweh ketimbang “kecerdasan” sebagaimana Anda miliki dalam menggenapi nats Maleakhi tersebut.

(BN) Bambang Noorsena
Madinat al-Tahrir, Cairo, 16 Nopember 2004.
Note:
Oleh: Bambang Noorsena
Penulis adalah Pengamat Gereja-gereja Arab di Timur Tengah, Pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), anggota dewan konsultatif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), kini sedang melanjutkan studi di Kairo, Mesir.

( KS ) Note:
Yogyakarta, 08 Desember 2004
Penanggap adalah salah seorang anggota GKJ
Pengajar Kimia, FMIPA – UNY, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com
Back to top
View user's profile
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Tue Dec 14, 2004 3:31 pm    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Reply with quote

Ini Tanggapan yang belum masuk :
Tanggapan atas tulisan Sdr. Bambang Noorseno

( KS ) Prakata : Saya merasa bukan orang yang terlibat dalam “Hujatan Para Penentang Allah”, karena memang saya tahu persis itu melanggar HAM jika saya menghujat. Yang ingin saya terlibat adalah bagaimana Alkitab berbahasa indonesia itu seharusnya diterjemahkan dari “aslinya”; istilah-istilah, nama-nama yang mana yang seyogyanya dipertahankan, disalin, dan mana yang diterjemahkan seakurat mungkin. Untuk itu saya menanggapi surat terbuka dari Sdr. Bambang Noorseno yang saya selipkan pada setiap paragraf terkait.

( BN ): Menjawab Hujatan “Para Penentang Allah” Part 1

Baru-baru ini gereja-gereja di Indonesia diresahkan dengan terbitnya Alkitab Eliezer ben Abraham berjudul Kitab Suci Taurat dan Injil. Banyak orang Kristen bingung dengan gerakan ini, yang menuntut agar istilah Allah dalam Kitab Suci Kristen dihapuskan saja. Alasannya, nama Allah itu berasal dari “dewa air” yang mengairi bumi. Saya sendiri sudah pernah menanggapi usulan kontroversial ini dengan menggelar seminar yang menghadirkan pembicara Muslim dari IAIN (kini Universitas Islam Negeri/UIN)“Syarif Hidayatullah”, Dr. Kautsar Azhari Noer.1
Rekan Muslim saya ini menanggapi dengan kepala dingin, seraya mengatakan: “Itu hanya gerakan kaum awam yang tidak perlu ditanggapi”. Mengapa? Menurut Kautsar, “Setiap agama mengenal kontekstualisasi atau inkulturasi”. Ya, memang dahulu istilah Allah pernah dipakai di lingkungan orang-orang jahiliyah sebelum zaman Islam. Tetapi Islam justru datang untuk mengubah makna teologis istilah itu. Bahkan sebelum Islam, Yahudi dan Kristen sudah memakai istilah itu dalam makna monoteis, bukan sebagai “dewa air”, dan konotasi pagan lainnya.
1 Majalah DR, “Ketika Allah diperdebatkan”, 9-14 Agustus 1999.

Tanggapan ( KS ): Jadi diakui oleh Pakar Islam sendiri bahwa kata Allah memang mulanya dipakai oleh orang-orang jahiliyah dan kemudian Islam menggunakan kata yang sama namun dengan konsep berbeda (monoteis); dalam hal ini perubahan konsep tentu saja bisa diterima dan sah-sah saja atas kesepakatan bersama.
Seminar sejenis juga pernah diadakan di UKDW Yogyakarta pada 20 September 2003 dengan salah satu pembicara dari pihak Islam Prof. Dr. Machasin, MA dosen Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga. Tidak ada komentar istimewa bahkan mengemukakan adanya pendapat bahwa kata “Allah” sering diberi pengertian ” ‘alam ‘alâ al-ma ‘bǔd bi-haqq” (saya salin ulang namun maaf jika ada kekeliruan) yang artinya nama diri atas yang disembah dengan benar; kata “Allah” adalah kata Arab yang diciptakan “spontan” dan tidak diturunkan dari kata lain, termasuk dalam ungkapan ‘arabiyy murtajal jâmid, jadi bertolak belakang dengan pendapat yang lain sebagaimana Anda kemukakan perihal asal-usul kata Allah.

( BN ): Sekitar Penyimpangan Nama Yahwe
dan Istilah Allah
Setelah seminar tersebut, reaksi berdatangan dari pihak “penentang Allah” itu. Bahkan terbit traktat baru yang khusus me-nanggapi makalah saya. Saya sendiri memutuskan untuk meng-hentikan polemik ini. Sebab terus terang, saya sulit memahami “logika” kaum kurang cerdas itu. Bayangkan saja, menurut mereka Allah sebenarnya nama “dewa air”. Dasar mereka, buku-buku sumber yang mereka kutip secara sepenggal-sepenggal dan lepas dari konteks.
Karena itu, saya buktikan juga berdasarkan inskripsi-inskripsi kuno yang ditemukan di Kuntilet Ajrud, di sekitar Nablus sekarang, nama Yahwe pun pernah dipuja bersama-sama dewi kesu-buran Asyera. Salah satu bunyi inkripsi Kuntilet Ajrud, sebagai-mana disebut Andrew D. Clarke dan Bruce W. Winters (ed.), One God, One Lord: Christianity in a world of religious Pluralism, dalam bahasa Ibrani:
Birkatekem le-Yahweh syomron we le ‘asyeratah
Artinya: “Aku memberkati engkau demi Yahwe dari Smaria
dan demi Asyera”.1
Dengan fakta di atas, apakah kita dapat mengatakan jangan kita pakai lagi nama Yahwe, karena nama ini sekutu Asyera, dewi kesuburan Palestina? Argumentasi ini lalu dijawab oleh mereka, bahwa semua yang saya kemukakan itu tidak perlu ditanggapi, karena tidak berdasar Alkitab. Ya, maksud mereka saya tidak perlu mengutip data-data arkheologi segala dalam berargumerntasi, kecuali hanya berdasarkan ayat-ayat Alkitab. Nah, di sini jelas tidak fair-nya “kaum penentang Allah” itu. Mengapa? Sebab umat Islam tentu saja bisa bertanya balik, “Apakah Allah sebagai dewa air itu ada dalam al-Qur’an?”. Lalu umat Islam pun mengajak kita untuk berargumentasi tanpa penemuan sejarah segala, cukup dengan ayat-ayat al-Qur’an saja. Kalau begitu, jelas tidak ada sepotong ayat pun dalam al-Qur’an yang menyebut Allah sebagai dewa air.

Tanggapan ( KS ):
Fakta yang Anda kemukakan memang demikian, saya tulis ulang:
“ I bless you through Yahweh of Samaria, and through his Asherah!” Inskripsi ini ditemukan di Kuntilet Ajrud (dated between 850 to 750 BCE)
Bahkan ada inskripsi lain lagi yang ditemukan di ‘El Qom dengan dugaan umur yang sama, menyatakan:
“Uriyahu, the king, has written this. Bless the Uriyahu through Yahweh, and his enemies has been conquered through Yahweh”s Asherah.”

Persoalannya sekarang adalah, dapatkah kita menyimpulkan sebagaimana Anda lakukan “bahwa nama Yahweh berarti sekutu dari Asherah” dan oleh karena itu paralel dengan kasus nama Allah yang pernah dipakai sebagai nama dewa pada zaman jahiliyah? Asherah adalah Dewi (Ibu) bangsa Kanaan, padahal penyembahan Yahweh bersama dewa lain jelas dilarang (Ulangan 16:21-22).
Katakanlah saat itu orang menonjolkan satu figure dan disembah (patung lembu tuangan) sebagai Yahweh lalu dianggap sekutu patung Asyera (2Raj 17: 16), yang jadi pertanyaannya, apakah patung lembu emas tersebut berkata “Akulah Yahweh?”. Manusia bisa saja menjadikan benda tertentu menjadi Tuhannya, namun itu bukan Tuhan kan? Sedangkan Yahweh menyatakan nama diriNya dengan jelas ( Kel 3: 15, Yes 42: 8 dll).

Jadi jawabannya bergantung kemampuan analisis si Peneliti. Bagi saya, tegas tidak! sebab saya harus mempertimbangkan umur inskripsi yang dalam kasus ini tidak Anda lakukan.
Kasus ini justru sebagai bukti terjadinya kesalahan manusia dalam menyikapi nama Yahweh, dan bukan bukti karakter Yahweh itu sendiri yang nampaknya Anda identikkan dengan kasus sejenis untuk karakter Allah pada zaman jahiliyah. Jika dugaan umur inskripsi tersebut benar, berarti nama Yahweh muncul jauh lebih tua ketimbang kebersamaan-Nya dengan nama Asherah. Ingat Alkitab mencatat bahwa nama Yahweh mulai disebut sejak zaman Enos (Kej. 4:26), dan penegasan nama maupun karakter-Nya diulang sejak zaman Musa (Kel. 3). Kita dengan mudah dapat melacak dugaan umur para tokoh yang tertulis dalam Alkitab melalui diagram dalam The NIV Study Bible, bahwa Musa misalnya (tidak usah melacak mundur ke Enos), hidup pada sekitar kurun waktu 1500 – 1400 BCE, dan Abraham sekitar 2000 BCE.
Kemungkinan penyimpangan pemahaman (miskonsepsi) perihal Yahweh ini bahkan ada tertulis dalam Alkitab itu sendiri. Yer. 31:32 “…..although I was a husband (baal) unto them, says Jehovah.” Jadi ayat ini menunjukkan bahwa Yahweh mengidentifikasi pribadi-Nya sendiri sebagai “baal” sebagaimana ditemui juga pada Yes. 54:5 “For your Maker is your husband (baal)”. Dalam I Tawrh. 12:5 dituliskan nama seorang pejuang, Bealiah (no. konkordansi Strong 1183 berasal dari 1167-baal + 3050 – Yah), yang artinya “Yah is my baal.”
Padahal pemahaman umum adalah bahwa kata baal juga dipakai sebagai nama dewa sesembahan orang-orang penyembah berhala. Apakah jika demikian Yahweh itu juga tak ubahnya berhala? Namun periksalah arti kata baal (konkordansi Strong no. 1166, 1167) yaitu “husband” or “master”.
Kata baal bahkan dijumpai lebih mundur lagi pada Kej. 20:3 yang tertulis: “But Elohim came to Abimelech in a dream by night and said to him, Behold, you are about to die because the woman you have taken, she being married to a husband (baal).” Tak ayal lagi bahwa kata baal ini menunjuk “husband” atau “master” (dalam hal ini Abraham), bukan nama dewa baal. Dengan demikian kita bisa diyakinkan bahwa kata baal dalam ayat-ayat tersebut menunjuk pada “husband” atau “master”, bukan Baal (no. 1168) sebagai nama berhala yang memungkinkan nama Yahweh bisa diganti apa saja, GOD, LORD, ALLAH, TUHAN, dst. sesuai selera Anda.
Kasus lain yang mirip seperti dalam I Samuel 12:12 tertulis: “ … even though Yahweh your Elohim was your king (molech no. 4428).” Padahal Molech nama Kepala Dewa kaum Amonit. Sementara itu kata YHWH menurut konkordansi Strong (no. 3068) adalah Jewish national name of God, dan tidak ada keterangan yang menunjuk pada nama berhala.
Informasi yang dibutuhkan kemudian adalah mana yang lebih tua munculnya pemahaman baal sebagai “husband – master” dengan Baal sebagai “nama berhala”; dan molech (no. 4428) sebagai “king” dengan Molech (no. 4432) sebagai nama raja dewa. Klarifikasi ini sulit dilakukan. Bukan mustahil kata baal (“husband-master”) yang melukiskan karakter Yahweh justru menjadi lebih terkenal sehingga nama Yahweh menjadi tersingkirkan dan akhirnya muncul istilah baal yang kemudian berubah menjadi nama berhala!.
Penyimpangan pemahaman terhadap Yahweh malahan jelas terjadi ketika bangsa Israel meminta Harun membuatkan patung lembu dari emas untuk melukiskan keberadaan-Nya, dan ini efeknya berupa bencana yang sungguh luar biasa, karena memang bertentangan dengan karakter Yahweh yang sudah dilukiskan jauh sebelumnya, sejak zaman “kejadian” (Kel. 32:4-5 , “….berkatalah mereka: ‘Hai Israel inilah Elohimmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!’ ….. Berserulah Harun, katanya: ‘Besuk hari raya bagi Yahweh.’”) Apakah dengan demikian karakter Yahweh berubah menjadi lembu-emas! Definitely NOT. Yahweh is still Yahweh as discribed by Himself, no matter how men attempt to make Him fit into their own image of what He should be. ”…. Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun temurun” (Kej. 3:15). Bahkan akibatnya Yahweh sangat marah danmenghukum bangsa Israel melaui tangan Musa.

Mencermati kasus tersebut, maka teranglah bahwa kasus konsepsi kata “Allah” justru berlangsung secara “anti paralel” terhadap fakta inskripsi perihal Yahweh yang Anda kemukakan di atas, karena kata Allah yang dipahami sebagaimana dilukiskan pada zaman jahiliyah muncul lebih duluan ketimbang yang dipahami Islam sebagai the only true “ilah”. Dari mana referensinya Islam bisa mengubah konsepsi Allah menjadi monoteisme? Bukan mustahil justru oleh karena pengaruh bangsa Yahudi yang telah berpegang paham monoteisme sejak leluhurnya Nuh, Abraham… yang menempatkan Yahweh sebagai the only true Elohim. Nampaknya Anda berada dalam aliran yang mengabaikan waktu pemunculan kata Yahweh dalam berbagai bentuk penyimpangannya sehingga Anda menjadi yakin bahwa kata Yahweh bisa disimpangkan menjadi ALLAH, TUHAN, atau apa saja. Anda meng-klaim lebih ilmiah dengan mengemukakan fakta inskripsi ini.
Siapa ya yang jungkir balik?

( BN ): Menurut Al-Qur’an, Allah adalah Pencipta langit dan bumi (Q.s al-Jatsiyah/ 45 ayat 22: Wa khalaqa Allah as-samawati wa al-ardh). Begitu juga, Siapakah Allah itu bagi umat Kristen Arab? “Allah”, demikian Buthros ‘Abd al-Malik, dalam Qamus al-Kitab al-Mu-qaddas, adalah “nama dari Ilah (sembahan) yang menciptakan segala yang ada” (hadza ism al-Ilah khalaqa al-jami’ al-kainat).2 Begitu juga, setiap umat Arab Kristen sebelum atau sesudah Islam mengawali mengucapkan Qanun al-Iman (Syahadat Krsietn) yang diawali dengan kalimat:
Bi al-Haqiqati nu’minu bi ilahin wahidin, Allah al-Ab al-dhabit al-kull, khaliq as- sama’i wa al-ardh, kulli maa yura wa maa layuura” (Sesungguhnya Kami percaya kepada satu-satunya sembahan/ilah, yaitu Allah Bapa, yang berkuasa atas segala sesuatu, Khalik langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan).3

Tanggapan ( KS ): Pernyataan Anda bahwa Kristen-Arab memahami terminologi Allah (sesuai Qamus al-Kitab al-Mu-qaddas) sebagai “nama dari Ilah (sesembahan) yang menciptakan segala yang ada” (jadi pada dasarnya identik dengan kamus Hornby) jelas menimbulkan konflik istilah, sebab:
(1) Pada tulisan yang lain (yang telah saya tanggapi pertama) Anda menuliskan (saya copy-paste) 1 Raja-raja 18:39 Dalam bahasa aslinya, seruan itu berbunyi: Yahweh, hu ha elohim! Yahweh, hu haelohim. Dalam terjemahan bahasa Arab: Ar Rabb, huwa Allah! Ar Rabb, huwa Allah (Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah). Ini berarti kata Yahweh sebagai nama diri Elohim(nya Israel dan para leluhurnya) diganti Ar Rabb, dan kata Elohim diterjemahkan Allah. Pertanyaannya apakah Elohim itu nama diri? Selanjutnya dengan asumsi bahwa Anda benar dalam mengutip ayat tersebut, maka ini berarti terjadi kebingungan orang-orang Kristen Arab dalam menerjemahkan Alkitab asli Ibrani ke dalam bahasa Arab ketika menerapkan kata ”Allah”. Jika mengikuti kamus mestinya justru Yahweh diterjemahkan menjadi Allah, dan Elohim menjadi Ilah(?). Apa tidak demikian? Sementara itu Islam nampaknya hanya mengenal satu pemahaman bahwa Allah adalah nama sesembahan atau nama Tuhan muslim.
(2) Konflik menjadi semakin runyam ketika kata Allah dari bahasa Arab diadopsi menjadi bahasa Indonesia khususnya oleh LAI dan para pemakainya; sebab, LAI menerjemahkan Elohim menjadi Allah (bukan sebagai nama diri) tetapi juga menerapkan kata yang sama (dengan huruf kapital semua) sebagai nama diri ketika menerjemahkan Adonai YHWH (Lord GOD) menjadi Tuhan ALLAH. Ini berakibat sebutan “nama diri” Tuhannya orang Kristen Indonesia pemakai Alkitab LAI tercatat menjadi dua yaitu TUHAN dan ALLAH; dan anehnya mereka ini tidak menyadari.
Menghadapi situasi demikian ini para “Pengagung Yahweh” menyadari betul bahwa (1) kata Allah adalah nama diri Tuhan Islam dan semua kepercayaan di Arab (sesuai kamus Hornby), (2) dan oleh karena itu tidak mungkin tepat, baik untuk menerjemahkan kata Elohim (sesembahan) apalagi Yahweh (nama diri) yang tidak akan pernah diterjemahkan. Oleh karena itu ditinggalkan saja untuk menghindari konflik istilah.

( BN ): Mengapa mereka menuduh bahwa Allah itu sebagai “dewa air” berdasarkan sumber-sumber tulisan yang bukan al-Qur’an, sementara mereka menolak data-data yang saya kemukakan tentang penyimpangan nama Yahweh, karena tidak ada dalam Alkitab? Karena itu saya menyarankan agar belajar lebih banyak belajar tentang sejarah kekristenan di Timur Tengah, tempat dimana Kekristenan mula-mula berkembang. Peranan filologi (ilmu per-bandingan bahasa) juga sangat penting dalam memperkaya kajian ini, sebelum mereka begitu bersemangat menyebarkan pendapat yang terang-terangan tidak ilmiah itu.
Tanggapan ( KS ): Bahwa Allah pada mulanya sebelum Islam (zaman jahiliyah) dipahami sebagai “dewa air” dst. adalah fakta tertulis bukan tuduhan dari kelompok “Pengagung Yahweh” dan diakui sendiri oleh para Pakar muslim (lihat pernyataan Dr. Kautsar Azhari Noer sebagaimana pada awal tulisan Anda di atas. Kami tdk terlalu membesar-besarkan masalah dewa airnya, melainkan nama diri yang diterjemahkan, ini bagi kami jelas keliru. Apakah nama Anda kalau di Amerika bisa diterjemahkan? Saya rasa di Passport Anda kalau kata “Noorseno” diganti dengan “Noerseno” saja akan menimbulkan masalah di imigrasi manapun bukan?.

( BN ): Kata Allah dan padanannya dalam
bahasa Ibrani dan Aram

Dalam menilai kata Allah, harus kita pahami bahwa kata itu serumpun dengan kata-kata bahasa semitik yang lebih tua (yang dipakai di Timur Tengah: Ibrani dan Aram). Kata Allah itu cognate dengan kata Ibrani : El, Eloah, Elohim; dan kata Aram/Syriac: Elah, Alaha, yang semuanya terdapat dalam Perjanjian Lama maupun dalam Targum (yaitu komentar-komentar Taurat dalam bahasa Aram yang lazim dibaca mulai dari zaman sebelum Kristus, zaman Yesus dan hingga hari ini).
Perlu anda ketahui, sebagian kecil Kitab Perjanjian Lama juga ditulis dalam bahasa Arami, yakni beberapa pasal Kitab Ezra dan juga beberapa pasal dari Daniel. Marilah kita baca dan cermati, ayat-ayat yang meng-gunakan kata elah di bawah ini :
“Be Shum elah yisra’el......”
Artinya: “Demi Nama Elah Israel.......” (Daniel 5:1).
“... di elahekon hu elah elahin, umara malekin”
Artinya: “Sesungguhnya Elah-mu itu elah yang mengatasi
segala elah, dan berkuasa atas para raja” (Daniel 2:47).

Sedangkan bentuk Ibrani yang dekat dengan istilah Arami elah dan Arab ilah, al-ilah dan Allah adalah sebutan eloah, mi-salnya disebutkan:
“Eloah mi-Teman yavo we Qadosh me-Har Paran, Selah”
Artinya: “Eloah akan datang dari negeri Teman, dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran, Sela” (Habakuk 3:3.
Tetapi argumentasi inipun segera ditanggapi dengan traktat mereka. Menurut mereka, istilah el, elohim, eloah (Ibrani) dan elah, alaha (Aram/Syriac) tidak sejajr dengan istilah Arab ilah, al-ilah dan Allah. Dalam bahasa Arab, istilah Arab “Allah” berasal dari ilah (God, sembahan) dengan awalan kata sandang di depannya Al (Inggris: the), maknaya the god, “sembahan yang itu”. Maksudnya sembahan atau ilah yang benar. Laa ilaha ilallah. Tidak ada ilah selain Allah. Allah adalah satu-satunya ilah.
Ungkapan Laa ilaha ilallah ini, dijumpai pula dalam Alkitab terjemahan bahasa Arab, 1 Korintus 8:4-6 berbunyi:
“….wa ‘an Laa ilaha ilallah al-ahad,…faa lana ilahun wahidun wa huwa al-Ab alladzi minhu kullu syai’in wa ilaihi narji’u, wa huwa rabbun wahidun wa huwa Yasu’ al-Masih alladzi bihi kullu syai’in wa bihi nahya”.
Artinya: “Dan sesungguhnya tidak ada ilah selain Allah, Yang Mahaesa…dan bagi kita hanya ada satu Ilah/ sembahan yaitu Bapa, yang dariNya berasal segala sesuatu dan kepadaNya kita akan kembali, dan hanya ada satu Rabb/ Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang melaluiNya (sebagai Firman Allah) telah diciptakan segala sesuatu dan untuk Dia kita hidup.4
Tetapi begitu entengnya mereka menanggapi hal ini. Menurut brosur mereka, istilah allah memang ada dalam Alkitab berbahasa Ibrani, tetapi artinya “sumpah” (1 Raja-raja 8:31; 2 Tawa-rikh 6:22). Mereka benar, tetapi mereka juga harus tahu, sebagaimana kata Yahweh tidak turun dari langit, demikian pula kata elohim, eloah, elah berasal dari akar kata tertentu. Dibuktikan, istilah elah berasal dari akar kata el (Yang Mahakuat) dan alah (sumpah): “to swear, to bind oneself by an oath, so implifying faithfullness”.5 Jadi, di hadapan hadirat El (Yang Mahakuat) seseorang mengikat sumpah (alah). Dari kata El dan alah ini, kemudian terbentuklah kata elah.
Sedangkan bentuk elohim, dengan akhiran im menunjukkan jamak untuk mene-kankan kebesaran (pluralis maestaticus), yang oleh para pujangga gereja kuno ditafsirkan secara alegoris sebagai bukti dari sifat ketritunggalan Allah. Karena itu, sudah barang tentu sangat gegabah untuk menolak fakta keserumpunan antara bahasa Arab dengan bahasa Ibrani dan Aram, hanya dengan argumentasi dangkal seperti ini. Kata alah (dengan satu “l”) me-mang ada dalam bahasa Ibrani berarti “sumpah, kutuk”, berbeda dengan bahasa Arab allah (dengan hu-ruf “l”). Huruf “l” (lam) yang dobel dengan istilah Allah, menunjukkan asal-usulnya dari kata sandang Al (the) dan ilah (god) sebagaimana saya kemukakan di atas.6

Tanggapan ( KS ): Ada juga kata allah (ibrani konkordansi Strong no. 427) yang berarti oak (sejenis pohon) sebagai bentuk variasi dari elah (424), terdapat dalam Yos.24:26. Bagaimana tentang kata Yahweh, berasal dari bentukan kata apa? Orang bisa-bisa saja menduga bahkan juga berdasarkan data archeologi, tetapi Yeremiah meyakini bahwa nama Yahweh berasal dari Yahweh itu sendiri (Yer. 32:20 “….. kepada Israel dan kepada umat manusia, sehingga Engkau membuat nama bagi-Mu sendiri,…“); bukti tertulis inilah yang ada, kecuali jika Anda tidak meyakininya dan mampu menunjukkan bukti pemunculan kata Yahweh sebagai imaginasi berhala sebelum disebut pada zaman Enos. Nabi Yeremiah yang kurun waktu hidupnya sangat jauh lebih dekat ketimbang Anda terhadap sejak nama Yahweh disebut, mempercayai ini! Silakan melakukan penelitian mencari tahu asal-usul kata Yahweh, namun jangan lupa jika ketemu sejak kapan munculnya agar mempunyai bobot ilmiah!

( BN ): Istilah Allah di Lingkungan Kristen Syria Pra-Islam
Sebagaimana istilah Yahweh pernah dipuja secara salah di sekitar wilayah Samaria, terbukti dari inskripsi Kuntiled Ajrud dan Khirbet el-Qom, demikian juga istilah Allah disalahgunakan di sekitar Mekah sebelum zaman Islam. Tetapi istilah Allah dipakai sebagai sebutan bagi Khaliq langit dan bumi oleh orang-orang Kristen Arab di wilayah Syria. Hal ini dibuktikan dari sejumlah inskripsi Arab pra-Islam yang semuanya ternyata berasal dari ling-kungan Kristen.

Tanggapan ( KS ): Periksa kembali tanggapan saya terdahulu untuk “penyimpangan nama Yahweh”. Saya anjurkan Anda seyogyanya mengemukakan bukti bahwa pengenalan kata Allah oleh Kristen Arab di wilayah Syria (512) lebih tua sebagaimana dipahami pada zaman jahiliyah, baru menyimpulkan bahwa istilah Allah disalahgunakan. Pemahaman umum bahwa zaman Jahiliyah itu ratusan tahun sebelum Islam, oleh karena itu jangan-jangan malahan terbalik, seperti inskripsi Kuntilet yang Anda ajukan, sehingga peran Kristen tidak beda dengan peran Islam yang di-klaim ole Dr. Kautsar Azhari Noer. Jika Anda menyosialisasikan kepada para muslim di Indonesia bahwa kata Allah malahan muncul duluan oleh karena Kristen-Arab di Syria dan ini kemudian diartikan Allah dalam Al Qur’an tidak ubahnya turunan Kristen-Arab, barangkali akan menghebohkan atau menggelisahkan mereka! Mudah-mudahan aman saja. Namun ini bukan persoalan kita saat ini.

( BN ): Salah satu inskripsi kuno yang ditemukan pada ta-hun 1881 di kota Zabad, sebelah tenggara kota Allepo (Arab: Halab), sebuah kota di Syria sekarang, meneguhkan bukti terse-but. Inskripsi Zabad ini telah dibuktikan tanggalnya berasal dari zaman sebelum Islam, tepat-nya tahun 512. Menariknya, inskripsi ini diawali dengan perkataan Bism al-Ilah, “Dengan Nama al-Ilah” (bentuk singkatnya: Bismillah, “Dengan Nama Allah”), dan kemudian disusul dengan nama-nama orang Kristen Syria. Bunyi lengkap inskripsi Arab Kristen ini dapat direkostruksi sebagai berikut:
Bism al-Ilah: Serjius bar ‘Amad, Manaf wa Hani bar Mar al-Qais, Serjius bar Sa’d wa Sitr wa Sahuraih” (Dengan Nama Al-lah: Sergius putra Amad, Manaf dan Hani putra Mar al-Qais, Sergius putra Sa’ad, Sitr dan Shauraih).7
Menurut Yasin Hamid al-Safadi, dalam The Islamic Caligraphy, inskripsi pra-Islam lainnya yang ditemukan di Ummul Jimal dari pertengahan abad ke-6 Masehi, membuktikan bahwa berbeda yang terjadi di Arabia selatan, di sekitar Syria nama Allah disembah secara benar. Inskripsi Ummul Jimmal diawali dengan kata-kata Allah ghafran (Allah mengam-puni).8

Tanggapan ( KS ): Dengan asumsi bahwa penemuan ini benar-benar signifikan, maka menjadi lebih tegas lagi kerunyamannya sebab Allah dipahami sebagai nama, padahal nama Allah adalah Ar Rabb (?), oleh karena itu apa perlu kita tiru pemahaman kristen Syria yang menyatakan “Dengan nama Allah”, padahal Alkitab Ibrani mengungkapkan nama Yahweh? Di Indonesia sendiri orang-orang Kristen tidak pernah mau bersumpah/berjanji dengan berkata “demi Allah” melainkan “demi Tuhan (TUHAN?)”; Hanya orang-orang islamlah yang berkata demikian. Jika tanggapan saya ini keliru berarti penerapan kata “Allah” benar-benar “misterius”, tidak bisa saya pahami, kecuali jika kata “Allah” bisa dipakai untuk dua-duanya.

( BN ): Bahkan Spencer Trimingham dalam bukunya Christianity among the Arabs in the pre-Islamic Times, membuktikan bahwa pada tahun yang sama dengan diselenggraannya Majma’ (konsili) Efesus (431), di wilayah suku Arab Harits (Yunani: Aretas) dipimpin seorang uskup yang bernama ‘Abd Allah (Hamba Allah).9 Dari bukti-bukti archeologis ini, jelas bahwa sebutan Allah sudah dipakai di lingkungan Kristen sebeum zaman Islam yang dimaknai sebagai sebutan bagi Tuhan Yang Mahaesa, Pencipta langit dan bumi. BERSAMBUNG

Tanggapan ( KS) : Periksa kembali tanggapan paling atas perihal kata Allah sebagai kata Arab yang diciptakan spontan! Mudah-mudahan saja saudara kita muslim mau mengakui data yang Anda kemukakan; namun hasil ini pun nampaknya nothing to do dengan proses penerjemahan dari Alkitab asli-Ibrani. Bandingkan pula arti kata Allah di sini dengan Qamus; beda kan?

( BN ): 1 Andrew D. Clarcke dan Bruce W. Winters (ed.), Satu Allah satu Tuhan: Tinjauan Alkitabiyah tentang Pluralisme Agama (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1995), h. 50.
2 Buthros ‘Abd al-Malik (ed.), Qamus al-Kitab al-Muqaddas (Beirut: Jami’ al-Kana’is fii al-Syarq al-Adni, `1981), h. 107.
3 Al-Qamas Isodorus al-Baramus, Al-Agabiya: Shalawat As-Sa’at wa Ruh al-Tashra’at (Kairo: Maktabah Mar Girgis al-Syaikulani, 1996), h. 79.
4 “Risalat Bulus ar-Rasul ila Ahl Kurinthus al-Awwal 8:4-6”, dalam al-Kitab al-Muqaddas (Beirut: Dar al-Kitab al-Muqaddas fii al-Syarq al-Ausath, 1992).
5 Rev. C.I. Schofield (ed.), Holy Bible Schofield Reference (London: Oxford University Press, 1945), p. 3. Saya mengutip Scofield karena sumber ini sering dikutip dalam buku-buku polemik “"nggak pintar"” karya apologet Muslim Afrika, Ahmed Deedad. Pendekatan Deedat yang sering mencomot-comot buku-buku referensi tanpa melihat konteksnya secara keseluruhan, sama "tidak cerdas" dengan model kaum “Penentang Allah” di Indonesia akhir-akhir ini.
6 Kita lihat bahwa Al- yang mengawali kata Allah itu merupakan hamzah washl. Karena itu menjadi wallahi, billahi, dan sebagainya. Itu berarti kata Allah bukan merupakan akar kata yang asli. Sebab akar kata yang asli pasti menggunakan hamzah qath’. Lihat: Nurcholish Madjid, Dialog Keterbukaan: Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer (Jakarta; Paramadina, 1998), h. 262.
7 Bacaan Bism al-Ilah (Dengan Nama Al-Ilah) berasal dari Yasin Hamid al-Safadi, Kaligrafi Islam. Alih Bahasa: Abdul Hadi, WM (Jakarta: PT. Panca Simpati, 1986), h. 6, sedangkan M.A. Kugener, Note sur l’inscription triligue de Zebed (1907) seperti dikutip Spencer Trimingham Christianity Among the Arabs in pre Islamic Timnes (London-Beirut: Longman-Librairie du Liban, 1979), p. 226, membacanya: Teym al-Ilah. Tetapi apapun bunyi yang paling tepat dari awal inskripsi itu, yang jelas kata al-Ilah, Allah sudah dipakai dalam makna monoteistik Kristen, dan bukan dalam makna dewa pagan.
8 Yasin Hamid al-Safadi, Loc. Cit.
9 Spencer Trimingham, Op. Cit, h. 74.


Note:
Oleh: Bambang Noorsena
Pengamat Hubungan antariman dan Pendiri Institute for Syriac
Christian Studies (ISCS), kini tinggal di Kairo, Mesir.




Menjawab Hujatan “Para Penentang Allah” Part 2
Penggunaan Bahasa Ibrani, Yunani dan
Arami pada zaman Yesus
Cukup mengherankan, bahwa “para penentang Allah” itu selalu menggunakan Ha B’rit ha-Hadasah (Perjanjian Baru bahasa Ibrani) dan memperlakukannya seolah-olah bahwa itulah teks ba-hasa aslinya. Dengan Perjanjian Baru Ibrani ini tentu saja kita akan menjumpai nama Yahwe. Tetapi Perjanjian Baru bahasa Ibrani itu hasil terjemahan dari bahasa Yunani oleh United Bible Society in Israel, baru pada tahun 1970-an. Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Yunani koine dan rasul-rasul Yesus tidak mempertahankan nama diri Yahwe tersebut.

Tanggapan ( KS ): Saya lebih yakin bahwa percakapan dalam PB didominasi Ibrani-Aramaik (Sudah saya ulas pada tanggapan terdahulu) Koran The Japan Times, Thursday, Feb. 27, 2003, p. 20 memberitakan bahwa orang-orang Kristen Asyrian di Mosul (Niniwe) adalah satu-satunga suku bangsa yang tetap memelihara bahasa Aramaik hingga kini dan selalu mengajarkannya pada anak-anaknya; bahasa ini adalah bahasa semasa Yesus hidup; informasi ini mengindikasikan bahwa Alkitab Kristen Asirian tentulah berbahasa asli Aramaik yang bukan terjemahan dari PB Yunani, dan memang dari sinilah antara lain James Trimm menyusun Alkitab PB-Hebrew. Namun memang catatan tulisan yang lengkap dan bertahan hingga kanonisasi adalah dalam bahasa Yunani. Terang saja YHWH tidak ditemui dalam naskah Yunani sebab huruf-huruf Yunani tidak mampu menyalinnya! Baca Luk 4:18-19 yang ternyata dicatat dengan bahasa Yunani yang tidak sama persis dengan kitab Yes. 61:1-2 yang dibaca Yesus waktu itu. Baca pula Kis. 21:40 yang jelas-jelas bahwa Saulus berbicara dalam bahasa Ibrani mulai dari ps.22:1 – 21, demikian juga Yahshua berbicara dalam bahasa Ibrani dalam Kis. 26: 14, meskipun dicatat dalam bahasa Yunani. Jika PB Ibrani terbitan 1970 memuat YHWH, ini justru merupakan suatu bukti yang signifikan bahwa kyrios adalah kata Yunani yang salah atau minimal tidak tepat untuk menggantikan YHWH.

( BN ): Saya setuju bahwa Yesus ketika masuk ke sinagoge, Ia mengutip teks-teks Perjanjian Lama dalam Bahasa Ibrani (Lukas 4:18-19). Tetapi kita juga harus paham, bahwa Ia juga bercakap-cakap dalam bahasa Aram dengan murid-murid-Nya sebagai “bahasa ibu” masya-rakat Yahudi pada zaman itu. Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, karena bahasa ini menjadi bahasa yang paling luas digunakan di seluruh wilayah kekaisaran Romawi pada zaman itu. Meskipun demikian, Perjanjian Baru Yunani itu tidak dapat dipahami tanpa melihat latarbelakang budaya Aram,1 bahkan masih memelihara beberapa kata-kata Aram yang waktu itu juga biasa disebut Ibrani, sebab dianggap salah satu dialek tutur saja bagi masyarakat Yahudi di Galilea. Contoh-contoh kata-kata Aram yang dipelihara itu, antara lain: Talita Kum (Markus 5:41), Gabbata (Yohanes 19:13), Maranatha (1 Korintus 16:23). Salah satu bukti bahwa Yesus membaca Targum berbahasa Aram, dimana kata Alaha (yang cognate dengan bentuk Ibrani: Eloah, dan Arab: Allah) adalah ungkapan Yesus dalam Markus 15:33 yang berbunyi: Elohi, Elohi, l’mah sh’vaktani. Sebab dalam teks Mazmur 22:2 bahasa Ibraninya: Eli, Eli, lamah ‘azvatani.

Tanggapan ( KS ): Analisis yang Excellent; tidak hanya Luk. 4:18-19, bayangkan ketika Dia sedang berargumentasi dengan para ahli Taurat, Farisi, (misalnya perihal hukum kasih) dan ketika menunjuk nats-nats PL seperti misalnya ketika Yahshua menjawab godaan iblis.
Menurut LAI Matius:27:46, Yesus berseru Eli, Eli lama sabakhtani. Mana yang benar (bahasa Yunani-nya pun tercatat berbeda, silakan cek)? Eli, Eli ataukah Eloi, Eloi? Pastilah ucapan Yesus hanya satu jenis, dan pendengarnya mendengar hal yang sama yaitu dikiranya Yesus memanggil Elia baik dalam Markus maupun Matius. Dengan demikian pencatatnyalah yang nampaknya tidak mampu menerjemahkan bahasa Ibrani-Aramaik ke dalam Yunani secara “sempurna” sehingga keduanya mencatat satu hal dengan dua tulisan yang berbeda! Aneh kan! Apa Anda tidak akan sedikitnya bertanya-tanya (ekstrimnya curiga) adanya ketidak akuratan PD-Yunani (Silakan hayati alasan-alasan yang dikemukakan oleh James Trimm dalam penulisannya Hebraic Root Version)

( BN ): Selanjutnya, apabila Perjanjian Baru bahasa aslinya ditulis dalam bahasa Yunanidan rasul-rasul tidak mempertahankan nama Yahwe, lalu apa dasar mereka mati-matian mem-pertahankannya? Rasul-rasul penulis Perjanjian Baru menerjemahkan Kyrios (Tuhan) sebagai ganti Yahwe. Sebut satu contoh saja, misalnya Haddebarim/ Ulangan 6:4 dalam bahasa asli (Ibrani): Syema’ Ysrael, Adonai Elohenu, Adonay Ehad. Kutipan ayat ini ditemukan dalam Markus 12:29, dimana nama Yahwe diterjemahkan Kyrios (Tuhan), mengikuti terjemahan Yunani Septuaginta: Akoue, Israel, Kurios ho theos hemin, kurios eis esti (Dengarlah wahai Israel, Kurios (Tuhan) itu Theos kita, Kurios/Tuhan itu Esa). Jadi, sekali lagi Rasul Markus Sang Penulis Injil pun tidak mempertahankan nama Yahwe. Lalu apakah mereka berani berkata bahwa seluruh penulis Perjanjian Baru salah?

Tanggapan ( KS ): Asumsi saya bukan mustahil sesungguhnya terjadi percakapan sehari-hari dalam bahasa Ibrani-Aramaik, namun untuk penyebaran keluar terpaksa dicatat dalam bahasa Yunani, dan karena YHWH tidak bisa disalin dengan huruf Yunani terpaksalah dipakai kata Yunani yang sudah dipahaminya yaitu Kurios. Ingat bahwa kata kurios terdapat 24 nomor padanan kata dalam ibrani yaitu,al. El, Elowah, Elohim, YHWH, Adon, Adonai, Baal dan kombinasinya seperti Adonai YHWH (Lihat konkordansi Greek-Hebrew Septuaginta). Anda salah menulis ayat ibrani asli dalam Ul. 6:4, yaitu bukannya Adonai melainkan YHWH. Jadi mestinya “Syema’ Ysrael, YHWH Elohenu, YHWH Ehad”. Anda dalam mengambil kesimpulan terlalu dituntun oleh tulisan Yunani. Menurut saya Yesus berbahasa Ibrani-Aramaik dan mengucapkan YHWH dan Elohenu sebagaimana dalam Ul 6:4, sebab Dia sedang berargumentasi dengan seorang ahli taurat; andaikata benar penulisnya Rasul Markus Dia tetap menyebutkan YHWH.
Septuaginta diterjemahkan paling awal sekitar 300 – 200 BCE. Sebuah potongan kuno septuaginta yang diduga disalin pada 50 BCE – 50 CE (AD) masih mengandung kata YHWH tersebut; potongan ini disebut “Nahal Hever Minor Prophets”, sebab terdiri atas beberapa potongan dari kitab Yunus, Micah, Nahum, Habakuk, Zephaniah, dan Zechariah. Potongan naskah ini ditemukan di gua Nahal Hever, sebelah selatan Qumran. Potongan lain dari kitab Ayub 42 yang diduga tertanggal abad pertama CE (AD) juga masih berisi kata YHWH Paleo-Hebrew. Beberapa Skolar berpendapat bahwa tidak pernah ditemukan septuaginta tertanggal sebelum tahun 150 (CE/AD) yang mengganti YHWH dengan Kyrios. Manuskrip Septuaginta yang didapat setelah itu mengganti YHWH dengan kyrios, jadi jauh sesudah Yahshua (Yesus) dan para murid-saksi meninggal, dan itulah yang nampaknya menjadi acuan Anda yang menyimpulkan para rasul menyetujui penggunaan kata kyrios!

( BN ): Juga, dalam bahasa Ibrani istilah “Nama” itu tidak bisa dipahami secara harfiah seperti nama-nama: Suharto, Suradi, Marsudi, dan sebagainya. Dalam hal ini perlu anda bedakan antara “nama” (yang berasal dari bahasa manusia yang dibatasi konteks ruang dan waktu) dengan “Dia yang dinamakan” (Yang Absolut, tidak terbatas, tidak terhingga). “Nama” dalam teologi Yahudi lebih menunjuk kepada “Kuasa di balik Ia yang di-Nama-kan”. Karena itu, orang-orang Yahudi hanya mempertahankan tetagramaton (keempat huruf suci: yhwh) tetapi tidak membacanya dalam tradisi lisan, melainkan sudah lazim dibaca dengan: Adonay (Tuhanku) atau Ha-Shem (“the Name”, Sang Nama). Silahkan mereka memeriksa tradisi Yahudi ini, misalnya literatur Yahudi cukup otoritatif, Humasah Humasy Torah ‘im Targum Onqelos,2 berbahasa Ibrani dan Arami yang lazim dipakai pemeluk Yahudi hingga zaman sekarang ini.

Tanggapan ( KS ): Saya setuju bahwa makna nama manusia berbeda dengan makna nama Sang Pencipta. Secara sederhana makna nama manusia belum tentu dapat dipertahankan oleh yang punya nama itu sendiri karena keterbatasannya. Secara akademik, penggantian nama dalam terjemahan jelas “salah” untuk kepentingan komunikasi antar umat manusia. Oleh karena itu YHWH jelas “salah” ketika diterjemahkan TUHAN apalagi ALLAH. “Who can claim to have a right to change the very sacred name of our Elohim, YHWH?”. Sebaliknya nama YHWH berasal dari-Nya dan Dia bisa mempertahankan maknanya bahkan bisa mengembangkan sesuai kehendak-Nya. Saya menyikapi berdasarkan pesan dari Sang Nama YHWH itu sendiri bukan berdasarkan tradisi Yahudi bahkan termasuk LAI (sudah saya ulas di tempat lain). Pengucapan Adonai atas YHWH itu “doktrin” atau “ajaran” bukan kehendak YHWH sendiri. Coba Anda hayati Kel. 9:16 : “ …. that My Name may be declared throughout all the earth”

( BN ): Kesimpulan saya, apabila kita menolak usulan para “penentang Allah” itu, bukan sekedar menimbang manfaat atau mudharatnya saja. Manfaatnya jelas tidak ada sama sekali. Mudlaratnya jelas, bukan hanya membingungkan umat Kristiani, tetapi telah membuka “front permusuhan” dengan umat Islam. Tetapi lebih penting lagi, tidak ada gunanya berdialog dengan orang-orang yang memang tidak memenuhi standar berpikir ilmiah itu. “Tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui”, demikian Yudas 1:10, dan lanjutan ayat ini saya tidak tega untuk menuliskannya di sini.

Tanggapan ( KS ): Anda menganggap tidak ada manfaatnya, karena memang Anda merasa tidak mengubah atau mengganti Sang Nama YHWH, atau Sang Nama YHWH bisa diubah-diganti tanpa ada konsekuensi dari Yang Empunya Nama. Manfaat akademis sangat tegas yaitu mengikuti aturan terjemahan yang “baku” menghindari tafsir semaksimal mungkin dari pihak penerjemah sehingga hasilnya boleh dikata “sesuai dengan aslinya” dalam bahasa yang berbeda. Manfaat teologis ya bergantung mereka yang mau mengembangkannya. Masalah “membingungkan’ justru sejak saya mengenal Alkitab berbahasa Indonesia yang memakai term Tuhan, TUHAN, Allah, ALLAH, (sebelumnya Alkitab saya berbahasa Jawa dengan term Yehuwah) saya menjadi bingung. Saya sendiri berpendapat bahwa LAI sendiri sesungguhnya kebingungan ketika menerjemahkan (atau “menjiplak”?) term Lord, LORD, God, GOD (dugaan saya dari Alkitab versi NIV) dan Jehova (dugaan saya dari Alkitab versi KJV). Mereka yang mengaku tidak bingung barangkali karena tidak memperhatikan apa yang tertulis (atau overlook ketika membacanya) melainkan hanya dengar-dengaran saja, bahkan bukan mustahil berpikiran pokoknya Tuhan = TUHAN = Allah = ALLAH, Tuhan tidak bernama meskipun setiap saat mengucapkan doa “dikuduskanlah nama-Mu”, dan mengajak memasyhurkan nama-Nya, dst. Menjadikan kebingungan umat kristiani adalah konsekuensi logis dari suatu action yang berbeda dari kebiasaan pemahaman sebelumnya, dan inilah yang memang harus dipecahkan bersama.
Saya kurang paham atas istilah membuka “front permusuhan” dengan umat Islam. Di negara kita kan punya UUD, bahkan sudah meratifikasi deklarasi HAM PBB 1948 sejak tahun 1999, yang ps. 18 menyebutkan “Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani, dan agama, termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan dan kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaannya dengan cara sendiri maupun bersama-sama orang lain di tempat umum maupun di tempat tersendiri”. Anda tahu bahwa firman Tuhan melarang memusuhi apalagi menciptakan permusuhan. Negara kita kan tidak berdasarkan agama tertentu tetapi memelihara multi agama. Bahwa akan terjadi keterkejutan atau polemik ya tentu saja tak terhindarkan, namun sesungguhnya kan sudah dirintis dalam seminar-seminar, bahkan sesuai dengan pernyataan Anda, Dr. Kautsar Azhari Noer (pakar Islam) tidak perlu menanggapi dst.
Pernyataan Anda sangat aneh menganggap lebih memenuhi standar Ilmiah padahal melakukan penggantian sebuah nama dalam proses penerjemahan. Anda bebas menganggap diri Anda sendiri ilmiah bahkan lebih tahu, tetapi jangan mengira pihak lain tidak ilmiah dan tidak tahu. Saya sarankan Anda jangan gemar menghakimi dengan berbagai macam julukan yang berkonotasi merendahkan lawan dialog Anda, karena ini bukan standar etika berdialog yang mengakibatkan dialog akan tertutup bahkan bukan lagi suatu dialog karena tidak ada lagi kesetaraan; apalagi dalam bentuk tertulis yang tercatat tanpa terhapuskan. Anda jangan gemar “menghakimi” bahkan dengan ayat Alkitab sebagaimana Yudas 1:10; sadarilah, ayat ini bisa berbalik kepada Anda juga lho!

( BN ): 1 Matthew Black, An Aramaic Approach to the Gospels and Acts (Oxford: At the Clarendon Press, 1967).
2 Rabbi Nosson Scherman-Rabbi Meir Zlotowitz (ed.), Humasah Humasy Torah ‘im Targum Onqelos (Brooklyn: Mesorah Publications, Ltd. 1993), p. xxvi. Selanjutnya, mengenai Nama (dan nama-nama) Allah, cf. “Parashas Shemos”, p. 304-305.


Note:
Oleh: Bambang Noorsena
Pengamat Hubungan antariman dan Pendiri Institute for Syriac
Christian Studies (ISCS), kini tinggal di Kairo, Mesir.

( KS ): Note:
Yogyakarta, 08 Desember 2004
Penanggap adalah salah seorang anggota GKJ
Pengajar Kimia, FMIPA – UNY, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com
Back to top
View user's profile
fantioz
Newbie
Newbie


Joined: Dec 15, 2004
Posts: 9

PostPosted: Wed Dec 15, 2004 5:54 pm    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

Shalom ......

Mengapa justru di antara umat Kristen sendiri saling mempeributkan masalah ini. Sampai sejauh diskusi di forum ini semakin kelihatan bahwa sebenarnya tidak ada keterlibatan dari IMSI dalam surat teguran itu.

Saya yang kebetulan tinggal di Jawa Timur tidak mendengar berita tentang surat teguran itu di gereja-gereja Protestan maupun Katolik.

Justru yang nampak menonjol di forum ini adalah kepentingan pribadi saudara Pdt Yakub untuk tetap ingin mengganti kata Allah dalam Alkitab berbahasa Indonesia.

Saya menghargai usaha itu jika memang Anda anggap sebagai suatu kebenaran yang harus diperjuangkan. Tapi seyogyanya tidak menyangkut-pautkan dengan umat agama lain segala.

Tapi harap diingat Anda harus berjuang di seluruh dunia untuk mencegah penterjemahan kata Yahweh di seluruh Alkitab yang ada.

Apakah perjuangan seperti itu kira-kira lebih penting dibandingkan memikirkan sodara-sodara kita yang kekurangan?, yang belum mengenal kristu?s, yang masih tersesat? dan sebagainya.

Fantioz
Back to top
View user's profile Send e-mail
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Thu Dec 16, 2004 4:30 pm    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

fantioz wrote:
Shalom ......

Mengapa justru di antara umat Kristen sendiri saling mempeributkan masalah ini. Sampai sejauh diskusi di forum ini semakin kelihatan bahwa sebenarnya tidak ada keterlibatan dari IMSI dalam surat teguran itu.

Saya yang kebetulan tinggal di Jawa Timur tidak mendengar berita tentang surat teguran itu di gereja-gereja Protestan maupun Katolik.

Justru yang nampak menonjol di forum ini adalah kepentingan pribadi saudara Pdt Yakub untuk tetap ingin mengganti kata Allah dalam Alkitab berbahasa Indonesia.

Saya menghargai usaha itu jika memang Anda anggap sebagai suatu kebenaran yang harus diperjuangkan. Tapi seyogyanya tidak menyangkut-pautkan dengan umat agama lain segala.

Tapi harap diingat Anda harus berjuang di seluruh dunia untuk mencegah penterjemahan kata Yahweh di seluruh Alkitab yang ada.

Apakah perjuangan seperti itu kira-kira lebih penting dibandingkan memikirkan sodara-sodara kita yang kekurangan?, yang belum mengenal kristu?s, yang masih tersesat? dan sebagainya.

Fantioz

Shalom Pak Fantioz,
Bapak keliru besar kalau isue masalah ini merupakan kepentingan PRIBADI saya. Ini bukan masalah pribadi saya Pak, tetapi masalah kepentingan PRIBADI TUHAN SANG PENCIPTA sendiri yang NamaNya tdk ingin diganti2, disebut dengan sembarangan saja dilarang ( Kel 20: 7; Ulangan 5: 11 ) dan Tuhan sendiri menghendaki NamaNya disebut, diagungkan ( 1 Taw 16: 8, Maz 103: 1; Maz 105: 1; Yes 12: 4; Yes 26: 8 dll ). Dan Yahweh itulah Tuhan yang disembah Bapa Avraham, Yitskhaq dan Ya'aqov dan yang mengutus Moshe utk membawa org Israel keluar dari Mesir ke Kanaan!.
Sangat keliru dan sudah diciptakan opini publik oleh Bapak Rudy Lumban Tobing bahwa saya yang membuat surat IMSI dan berada dibalik itu, saya sudah katakan bahwa itu semua TIDAK BENAR, padahal saya sudah jelaskan saat beliau telepon saya, saya juga sudah memberi No. HP sekjen IMSI untuk klarifikasi masalah ini secara langsung, karena itu saya tidak takut menghadapi siapapun, saya lebih takut kepada Tuhan. Kesalahannya karena argumentasi yang dilontarkan para hamba Tuhan ... tidak berdasarkan firman Tuhan, walaupun para pendeta kalau berkhotbah selalu katakan kita harus kembali ke firman, lebih takut kepada Tuhan dr pd kepada manusia dll, tetapi kenyataannya tidak demikian. Tuduhan bahwa saya yang membuat surat IMSI itu merupakan fitnah keji yang tidak berkaca pada diri sendiri dan bisa saya anggap sebagai mencemarkan nama baik kalau mau, kalau saya mau ungkapkan, bapak Rudy Lumban Tobing juga ada sisi negatif dalam kehidupannya, namun untuk apa saya mengurus sisi hitam org lain? Wong saya juga menyadari masih belum sempurna koq!.
Coba bapak renungkan, LAI sudah menterjemahkan Nama Pribadi Yahweh menjadi TUHAN dan ALLAH ( semua dalam huruf kapital ), apakah berarti nama diri Tuhan di Indonesia menjadi dua? Nah sebenarnya hanya ini yang dikoreksi, artinya nama diri tidak bisa diterjemahkan. Titik. Nama bapak Fantioz, sampai dimanapun ya tetap Fantioz khan pak?. Nama Yesus pun sebenarnya Yeshua, namun itu nanti saja, wong memulihkan Nama sang pencipta yaitu Yahweh saja dianggap sesat apalagi kalau Nama Yesus diganti2... bisa2 jadi SESAT DOBEL. Ini masalahnya karena di Indonesia orang sdh terindoktrinasi bahwa kalau TIDAK SAMA DENGAN SAYA BERARTI SESAT. Coba disimak dengan baik dimana sesatnya, toh kami bukan saksi Yehuwa yg tdk mengaku Yesus sebagai Tuhan ( Yoh 1:1, Yoh 10: 10; Yoh 13: 13, Kisah 4: 12 dll ).
Maaf juga bahwa saya tidak punya kelompok, jadi kalau ada yang menganggap kelompok Yakub, kelompok yang mana? Saya tidak punya kelompok koq pak. Dan jangan mudah mengatakan sebagai "Sekte Yahweh" seperti yang sudah mulai dilontarkan oleh kelompok yang tidak menerima Nama Yahweh, puji Tuhan bapak Fantioz tidak mengatakan demikian, sebab kata2 sekte yang dilontarkan oleh orang Kristen yang anti Yahweh itu membuktikan tidak mengerti apa arti sekte dan tidak mengenal Nama Tuhannya sendiri yang menjadi Yesus.
Di Amerika ada Kitab Suci yang ada nama Yahweh, yaitu: The Scripture, Jerusalem Bible, The Word of Yahweh, bahkan King James Version yang sdh di revisi. Rekan saya Bapak Pdt. Carlos Coessoy dari GBT Muncar Jatim, malah punya tujuh versi dalam bahasa Inggris yang ada nama Yahweh. Terima kasih dan Tuhan memberkati.

Salam,
Yakub
Back to top
View user's profile
yustinus
Newbie
Newbie


Joined: Nov 16, 2004
Posts: 2

PostPosted: Fri Dec 17, 2004 1:56 am    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

Yakub wrote:
Shalom Pak Fantioz,
Bapak keliru besar kalau isue masalah ini merupakan kepentingan PRIBADI saya. Ini bukan masalah pribadi saya Pak, tetapi masalah kepentingan PRIBADI TUHAN SANG PENCIPTA sendiri yang NamaNya tdk ingin diganti2, disebut dengan sembarangan saja dilarang ( Kel 20: 7; Ulangan 5: 11 ) dan Tuhan sendiri menghendaki NamaNya disebut, diagungkan ( 1 Taw 16: 8, Maz 103: 1; Maz 105: 1; Yes 12: 4; Yes 26: 8 dll ). Dan Yahweh itulah Tuhan yang disembah Bapa Avraham, Yitskhaq dan Ya'aqov dan yang mengutus Moshe utk membawa org Israel keluar dari Mesir ke Kanaan!.
Kalo enggak salah di PL, Abraham (saya lupa2 juga sih siapa :p) pernah nanya Tuhan itu siapa.
Kalo enggak salah Tuhan jawab, Aku adalah Aku.
Bukankah itu artinya Tuhan memperkenalkan diri sebagai Aku ?

Saya enggak begitu ngerti Alkitab, tapi..... memangnya pernah ya Tuhan pengen disebut sebagai Yahwe ?
Atau Yahwe itu hanya nama sebutan untuk Tuhan yang diciptain Israel ?

Kalau memang Tuhan namanya enggak diganti2..... ya sewajarnya Dia ngasih tau dulu namanya siapa.
Kalo enggak kan kita nebak2 kayak sekarang mana yang bener mana yang enggak Smile
Back to top
View user's profile
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Wed Dec 22, 2004 12:58 am    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

yustinus wrote:
Yakub wrote:
Shalom Pak Fantioz,
Bapak keliru besar kalau isue masalah ini merupakan kepentingan PRIBADI saya. Ini bukan masalah pribadi saya Pak, tetapi masalah kepentingan PRIBADI TUHAN SANG PENCIPTA sendiri yang NamaNya tdk ingin diganti2, disebut dengan sembarangan saja dilarang ( Kel 20: 7; Ulangan 5: 11 ) dan Tuhan sendiri menghendaki NamaNya disebut, diagungkan ( 1 Taw 16: 8, Maz 103: 1; Maz 105: 1; Yes 12: 4; Yes 26: 8 dll ). Dan Yahweh itulah Tuhan yang disembah Bapa Avraham, Yitskhaq dan Ya'aqov dan yang mengutus Moshe utk membawa org Israel keluar dari Mesir ke Kanaan!.
Kalo enggak salah di PL, Abraham (saya lupa2 juga sih siapa :p) pernah nanya Tuhan itu siapa.
Kalo enggak salah Tuhan jawab, Aku adalah Aku.
Bukankah itu artinya Tuhan memperkenalkan diri sebagai Aku ?

Saya enggak begitu ngerti Alkitab, tapi..... memangnya pernah ya Tuhan pengen disebut sebagai Yahwe ?
Atau Yahwe itu hanya nama sebutan untuk Tuhan yang diciptain Israel ?

Kalau memang Tuhan namanya enggak diganti2..... ya sewajarnya Dia ngasih tau dulu namanya siapa.
Kalo enggak kan kita nebak2 kayak sekarang mana yang bener mana yang enggak Smile

Shalom Pak Fantoiz,
Yang bapak maksudkan adalah Moshe / Musa, bapak dapat baca di Keluaran 3: 14, namun terjemahan LAI kurang tepat, bukan "Aku adalah Aku" karena ayat tsb jika dibaca dalam bahasa Ibrani akan berbunyi: Wayomer Elohim el-Moshe ehyeh asyer ehyeh Wayomer Koh tomar livney Yisrael ehyeh selakhni aleikhem. Yang artinya : “Dan berfirman Elohim sesembahan Moshe: ”AKU ADA YANG AKU ADA” dan berfirman katakan kepada keturunan Israel “AKU ADA” mengutus aku kepadamu. Dalam ayat tersebut, pengertiannya Yahweh memberitahukan keberadaanNya, bahwa Dia ada dan Dialah yang mengutus Moshe dan hal ini harus diberitahukan kepada keturunan Israel supaya tidak ada penolakan oleh orang-orang Israel terhadap Moshe. Jadi bukannya Tuhan memperkenalkan diri sebagai Aku.
Tuhan Yahweh menyatakan namaNya dalam ayat 15 yang dalam bahasa Ibrani jika dibaca akan berbunyi sbb.: Wayomer Od Elohim el-Moshe Koh-tomar el-beney Yisrael Yahweh Elohey Avoteykem Elohey Avraham Elohey Yitskhaq We'Elohey Ya'aqov Shelakhani Aleykem Ze-shemi Le'olam Weze Zik’ri Ledor dor yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan lebih tepat berbunyi : “Selanjutnya berfirmanlah Elohim kepada Musa: Beginilah kau katakan kepada anak-anaknya Israel: YAHWEH, Elohimnya Avraham, Elohimnya Yitskhaq dan Elohimnya Ya’aqov, telah mengutus aku kepadamu: INILAH NAMAKU untuk selama lamanya dan inilah pengingat Aku untuk turun temurun.” dan dalam Yesaya 42: 8 berbunyi sbb. : Ani Yahweh hu shemi uk’vodi le’akher lo’aten ut’hilati laph’silim yang artinya : AKU INI YAHWEH, ITULAH NAMAKU, Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain, dan kemuliaanKu kepada patung.
Dan seperti pertanyaan bapak Fantioz, memang Yahweh ingin namaNya disebut khan? Bahkan tokoh2 dalam Kitab Suci juga menulis agar menyebut / memanggil NamaNya ( 1 Tawarikh 16: 8, Maz 103: 1, Maz 105: 1, Yes 26: 8 dll ). Sebenernya Nama Yahweh sudah dipanggil sejak jaman Enos lahir ( Kejadian 4: 26 ) yang dalam bahasa Ibrani berbunyi sbb.: Uleshet gam-hu yulad-ben wayiq’ra et-shemo Enosh az hukhal liq’ro beshem YAHWEH, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan berbunyi : “Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Shet juga dan anak itu dinamainya Enosh, waktu itulah orang mulai memanggil nama YAHWEH.
Jadi kita tidak menebak-nebak pak Fantioz. Karena YAHWEH melarang orang memanggil / menyebut NamaNya dengan sembarangan ( Keluaran 20: 7 ), apalagi mengganti dengan sembarangan.
Semoga memberikan pencerahan kepada bapak. Dan perlu bapak ketahui bahwa gerakan P'agung Nama Yahweh ini bukan saksi Yehuwa yang menganggap Yesus / Yeshua hanya sebagai malaikat saja. Kami tetap menganggap bahwa Yeshua / Yesus adalah Tuhan ( Yoh 1: 1, Yoh 10: 30, Yoh 13: 13, Kis 4: 12 dll ).

Salam,
Yakub
Back to top
View user's profile
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Wed Dec 22, 2004 12:58 am    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

yustinus wrote:
Yakub wrote:
Shalom Pak Fantioz,
Bapak keliru besar kalau isue masalah ini merupakan kepentingan PRIBADI saya. Ini bukan masalah pribadi saya Pak, tetapi masalah kepentingan PRIBADI TUHAN SANG PENCIPTA sendiri yang NamaNya tdk ingin diganti2, disebut dengan sembarangan saja dilarang ( Kel 20: 7; Ulangan 5: 11 ) dan Tuhan sendiri menghendaki NamaNya disebut, diagungkan ( 1 Taw 16: 8, Maz 103: 1; Maz 105: 1; Yes 12: 4; Yes 26: 8 dll ). Dan Yahweh itulah Tuhan yang disembah Bapa Avraham, Yitskhaq dan Ya'aqov dan yang mengutus Moshe utk membawa org Israel keluar dari Mesir ke Kanaan!.
Kalo enggak salah di PL, Abraham (saya lupa2 juga sih siapa :p) pernah nanya Tuhan itu siapa.
Kalo enggak salah Tuhan jawab, Aku adalah Aku.
Bukankah itu artinya Tuhan memperkenalkan diri sebagai Aku ?

Saya enggak begitu ngerti Alkitab, tapi..... memangnya pernah ya Tuhan pengen disebut sebagai Yahwe ?
Atau Yahwe itu hanya nama sebutan untuk Tuhan yang diciptain Israel ?

Kalau memang Tuhan namanya enggak diganti2..... ya sewajarnya Dia ngasih tau dulu namanya siapa.
Kalo enggak kan kita nebak2 kayak sekarang mana yang bener mana yang enggak Smile

Shalom Pak Fantoiz,
Yang bapak maksudkan adalah Moshe / Musa, bapak dapat baca di Keluaran 3: 14, namun terjemahan LAI kurang tepat, bukan "Aku adalah Aku" karena ayat tsb jika dibaca dalam bahasa Ibrani akan berbunyi: Wayomer Elohim el-Moshe ehyeh asyer ehyeh Wayomer Koh tomar livney Yisrael ehyeh selakhni aleikhem. Yang artinya : “Dan berfirman Elohim sesembahan Moshe: ”AKU ADA YANG AKU ADA” dan berfirman katakan kepada keturunan Israel “AKU ADA” mengutus aku kepadamu. Dalam ayat tersebut, pengertiannya Yahweh memberitahukan keberadaanNya, bahwa Dia ada dan Dialah yang mengutus Moshe dan hal ini harus diberitahukan kepada keturunan Israel supaya tidak ada penolakan oleh orang-orang Israel terhadap Moshe. Jadi bukannya Tuhan memperkenalkan diri sebagai Aku.
Tuhan Yahweh menyatakan namaNya dalam ayat 15 yang dalam bahasa Ibrani jika dibaca akan berbunyi sbb.: Wayomer Od Elohim el-Moshe Koh-tomar el-beney Yisrael Yahweh Elohey Avoteykem Elohey Avraham Elohey Yitskhaq We'Elohey Ya'aqov Shelakhani Aleykem Ze-shemi Le'olam Weze Zik’ri Ledor dor yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan lebih tepat berbunyi : “Selanjutnya berfirmanlah Elohim kepada Musa: Beginilah kau katakan kepada anak-anaknya Israel: YAHWEH, Elohimnya Avraham, Elohimnya Yitskhaq dan Elohimnya Ya’aqov, telah mengutus aku kepadamu: INILAH NAMAKU untuk selama lamanya dan inilah pengingat Aku untuk turun temurun.” dan dalam Yesaya 42: 8 berbunyi sbb. : Ani Yahweh hu shemi uk’vodi le’akher lo’aten ut’hilati laph’silim yang artinya : AKU INI YAHWEH, ITULAH NAMAKU, Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain, dan kemuliaanKu kepada patung.
Dan seperti pertanyaan bapak Fantioz, memang Yahweh ingin namaNya disebut khan? Bahkan tokoh2 dalam Kitab Suci juga menulis agar menyebut / memanggil NamaNya ( 1 Tawarikh 16: 8, Maz 103: 1, Maz 105: 1, Yes 26: 8 dll ). Sebenernya Nama Yahweh sudah dipanggil sejak jaman Enos lahir ( Kejadian 4: 26 ) yang dalam bahasa Ibrani berbunyi sbb.: Uleshet gam-hu yulad-ben wayiq’ra et-shemo Enosh az hukhal liq’ro beshem YAHWEH, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan berbunyi : “Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Shet juga dan anak itu dinamainya Enosh, waktu itulah orang mulai memanggil nama YAHWEH.
Jadi kita tidak menebak-nebak pak Fantioz. Karena YAHWEH melarang orang memanggil / menyebut NamaNya dengan sembarangan ( Keluaran 20: 7 ), apalagi mengganti dengan sembarangan.
Semoga memberikan pencerahan kepada bapak. Dan perlu bapak ketahui bahwa gerakan P'agung Nama Yahweh ini bukan saksi Yehuwa yang menganggap Yesus / Yeshua hanya sebagai malaikat saja. Kami tetap menganggap bahwa Yeshua / Yesus adalah Tuhan ( Yoh 1: 1, Yoh 10: 30, Yoh 13: 13, Kis 4: 12 dll ).

Salam,
Yakub
Back to top
View user's profile
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Wed Dec 22, 2004 1:11 am    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Reply with quote

Melengkapi tanggapan Surat terbuka Bambang Noorseno oleh Bapak Kristian Sugiyarto, maka saya Paulus Komar akan melengkapi hanya mengambil tiap-tiap paragraf dari surat terbukanya Bambang Noorseno yang perlu diluruskan dengan warna biru dan italic, sebagai berikut :
Dari bagian file pertama yaitu Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain.

Bambang Noorseno menulis :
Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani memakai kata ganti Mi, "Siapakah" (bandingkan dengan kata Arab, Man). Tetapi di sini dalam ayat ini dipakai "Bagaimana (mah) tentang Nama-Nya?". Mah symo, sejajar dengan bahasa Arab: Ma smuhu, menuntut suatu jawaban yang lebih jauh, yaitu memberikan arti ("apa dan bagaimana") atau hakikat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu makna yang menunjuk kepada "Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan".

Tanggapan Paulus :
Mengapa memakai “Ma” (ﻤﺎ ) karena :
- Nama (ismun - اﺴﻢ ) adalah kata benda bukan orang atau syakhshun.
- “Ma” sama dengan dalam bahasa Inggris “what”, dalam bahasa Inggrispun bukan “Who” yang artinya “siapa” dalam menanyakan Nama, tetapi What is your name, karena name itu bukan seseorang.

Sepertinya anda tidak konsekuen dengan pernyataan anda yang mengatakan Nama bisa saja diganti, apalah arti sebuah nama, tetapi nyatanya anda menulis tentang “Kuasa di balik Dia yang di-Namakan”, itu artinya Nama itu berkuasa dan hanya nama Yahweh di dalam Yeshua yang berkuasa di bumi dan di sorga.

Argumentasi Anda tentang “Ma” itu hanya akal-akalan saja yang mau membela yang tidak benar supaya menjadi benar di hadapan orang yang tidak mengerti apa-apa tentang bahasa Arab.
“Ma” itu artinya bukan “bagaimana” seperti yang Anda tulis, melainkan “Apa”, karena kalau kata “bagaimana”, dalam bahasa Arab adalah “Kaifa”.
Ma itu juga bisa diartikan “tidak” kalau dimasukkan ke dalam Fi’lul Madhi ( maa qoro’tu syaian - ﻤﺎﻘﺮﺃﺖﺸﻳﺋﺎ - saya tidak membaca sesuatu) .
“Ma” juga bisa mengungkapkan sesuatu yang kita kagumi atau merendahkan sesuatu. Contoh: Maa Ajmala Haadzal Jabal ( Betapa indahnya gunung ini ).
ﻤﺎﺃﺠﻤﻞﻫﻨﺍﺍﻠﺠﺑﻞ
Maa Aqbaha Wajhaka ( Betapa jeleknya wajahmu ).
ﻤﺍﺃﻘﺒﺢﻮﺠﺤﻚ

Bambang Noorseno menulis :
Jadi, sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe, se-bagaimana ditafsirkan Saksi-saksi Yehuwa, dan di-ikuti oleh kelompok "bid’ah baru" Kristen tertentu pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia.

Tanggapan Paulus :
Sepertinya Anda sendiri tidak mengerti apa itu Bidáh - ﺍﻠﺒﺪﻋﺔ?. Mengapa! Karena Bidáh adalah suatu ajaran yang dibikin atau dibuat pengikut suatu kelompok tanpa ada sumbernya. Sekarang tunjukkan kepada kami, dimana ayat dalam Alkitab berbahasa Ibrani yang mengatakan bahwa NAMA TUHAN yang menciptakan langit dan bumi dan seisinya bernama Allah? Yang ada hanya Yahweh ( Yeremia 33: 2 ).
Kullu bidátin dholalah, wakullu dholalah fin naar. Jadi sekarang yang termasuk Bidáh itu siapa? Dalam Alkitab berbahasa Arabpun Nama Yahweh TIDAK DIGANTI, Anda bisa lihat sendiri.

Bambang Noorseno menulis:
Demikianlah apabila teks Ibrani di atas secara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab: "…wa al-ilah alladzi yujiibu binarin faa huwa Allah". Secara gramatikal, dalam konteks ayat tersebut, Allah adalah "al-Ilah alladzi yujiibu binarin" (Ilah yang menjawab dengan api itu). Maksudnya, Allah adalah Ilah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup.

Tanggapan Paulus :
“Fa” ﻔ disini bukan panjang bung seperti yang Anda tulis “Faa” ﻔﺎ. Sepertinya anda harus belajar Tajwid lagi biar kalo menulis Arab tidak ngawur.
Laa budda lak an tataállam wa tuámmiq luqhotal árobiah marrotan tsaaniah. ﻻﺒﺪﻠﻚﺃﻨﺘﺘﻌﻠﻢﻠﻐﺔﺍﻠﻌﺮﺒﻴﺔﻤﺮﺔﺛﺎﻨﻴﺔ
Kadang yang seharusnya bunyinya pendek Anda tulis panjang, contohnya: Seharusnya Fahuwa ( ﻔﻬﻭ ) tetapi ditulis Faahuwa ( ﻔﺎﻫﻭ ) Seharusnya Binaarin ( ﺒﻨﺎﺮ ) tetapi ditulis binarin ( ﺒﻨﺮ ) bahasa Arab apaan tuh?
Kalau saya lihat dalam Kitab Suci berbahasa Arabpun masih ada kesalah-pahaman tentang penyebutan TUHAN, kadangkala ditulis Allah bahkan dalam 1 Raja 18: 39 tertulis ... Antar robbul ilah ( ﺃﻨﺖﺍﻠﺮﺐﺍﻹﻠﻪ ) yang artinya Engkau adalah Tuhan yang Tuhan karena kalimat diatas itu dalam Nahwu wasshorfu adalah Naat man’ut yang diartikan “yang” tetapi ketika ada Nama YAHWEH tidak di ganti, tetap YAHWEH, contohnya dalam Keluaran 3: 15, Yeremia 33: 2 dll. Jadi Nama tidak bisa diganti / diubah ! Nah “Antar robbul ilah” yang dimaksud disini khan YAHWEH Tuhan !.
Masa Nama Bambang Noorseno bisa diganti menjadi Bambang Norak lo ... he ... he...
Hadzaa tamzah faqoth walaa tudkhil ilalqolbi.

Dibawah ini jawaban dari bagian file kedua yaitu Menjawab Hujatan “Para Penentang Allah” Part 1.
Bambang Noorseno menulis:
Menurut Al-Qur’an, Allah adalah Pencipta langit dan bumi (Q.s al-Jatsiyah/ 45 ayat 22: Wa khalaqa Allah as-samawati wa al-ardh). Begitu juga, Siapakah Allah itu bagi umat Kristen Arab? “Allah”, demikian Buthros ‘Abd al-Malik, dalam Qamus al-Kitab al-Mu-qaddas, adalah “nama dari Ilah (sembahan) yang menciptakan segala yang ada” (hadza ism al-Ilah khalaqa al-jami’ al-kainat).2 Begitu juga, setiap umat Arab Kristen sebelum atau sesudah Islam mengawali mengucapkan Qanun al-Iman (Syahadat Krsietn) yang diawali dengan kalimat:

Tanggapan Paulus:
Kalau di dalam Al Qur’an, memang yang menciptakan langit dan bumi itu adalah Allah, tetapi dalam Alkitabul Muqoddas, Yeremia 33: 2 yang menciptakan langit dan bumi dan yang membentuknya adalah bernama YAHWEH, “Qoolar robbu shooni’uhaa, arrobbu mushowwiruhaa liyutsabbittahaa, Yahwahu ismuhu.” - ﻘﺎﻞﺍﻠﺮﺐﺼﺎﻨﻌﻬﺎﺍﻠﺮﺐﻤﺼﻮﺮﻫﺎﻠﻴﺛﺒﺘﻫﺎﻴﻬﻮﺍﺴﻤﻪ Apa Anda kurang jelas? Apalagi Alkitab yang berbahasa Ibrani !.

Bambang Noorseno menulis:
Bi al-Haqiqati nu’minu bi ilahin wahidin, Allah al-Ab al-dhabit al-kull, khaliq as- sama’i wa al-ardh, kulli maa yura wa maa layuura” (Sesungguhnya Kami percaya kepada satu-satunya sembahan/ilah, yaitu Allah Bapa, yang berkuasa atas segala sesuatu, Khalik langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan).3

Tanggapan Paulus:
Kalau dilihat syahadat orang Kristen Arabpun rancu, mengapa? Karena satu sisi mereka berkata ilaahin waahidin atau Tuhan yang satu / Esa, tetapi setelah kalimat tersebut ada kalimat Allah-al-ab ( Allahul Ab ), Allah Bapa, sedangkan pengajaran Islam Allah itu Esa tidak berbapak dan beranak, sedangkan Allah jaman jahiliyah justru sebaliknya!.
Jadi orang Kristen Arabpun tidak ubahnya seperti orang Kristen Indonesia yang dipengaruhi oleh kepercayaan sebelumnya ( jaman Jahiliyah – agama sebelumnya ), maka kebenaran Firman Tuhan HARUS mengacu kepada FIRMAN TUHAN itu sendiri bukan mengacu kepada orang Kristen Arab atau orang Kristen manapun, sebab yang menilai itu Tuhan Yahweh sendiri, bukan orang Kristen Arab. Seandainya orang Kristen Arab menyebut Tuhannya dengan “Lucifer” apakah juga akan diikuti? Sedangkan Yahweh menghendaki namaNya disebut dan para Nabipun mengajarkan demikian juga ( Baca Keluaran 3: 15, 1 Taw 16: 8, Maz 103: 1, Maz 105: 1, Yesaya 26: 8 dll ). Dalam karakter komputerpun, kata “Allah” merupakan satu kesatuan yang TIDAK BISA dikutak katik, silakan lihat dalam “Symbol” karakter komputer Anda.

Bambang Nooseno menulis :
Sedangkan bentuk Ibrani yang dekat dengan istilah Arami elah dan Arab ilah, al-ilah dan Allah adalah sebutan eloah, mi-salnya disebutkan:

Tanggapan Paulus:
Allah bukan penggalan dari ilah, karena :
- Allah adalah NAMA PRIBADI TUHAN yang disembah oleh Umat Islam, “Bismillaah” dengan Nama Allah, sedangkan ilah adalah gelar atau sebutan.
- Kalau Allah dari ilah seperti banyak yang dijelaskan oleh pendeta-pendeta yang mengaku dosen Islamologi: Allah dari ilah dengan menghilangkan Alif sehingga tinggal “lah”, maka artinya sudah berubah, bukan tuhan / dewa lagi, tetapi “li syakhshin” atau “baginya laki-laki”
- Ilah itu sudah satu paket kosa kata yang tidak bisa dipenggal-penggal. Kenapa? Karena Ilah adalah kata benda, berbeda dengan kata kerja.
- Ilah bisa dimasukkan Alif Lam karena ilah adalah gelar atau sebutan. Contoh lain: “Ustaadzun” yang artinya “guru”, jadi bisa dmasukkan Alif Lam sehingga menjadi “Al-ustaadzu” yang berarti “Guru laki-laki itu”, sedangkan Allah tidak bisa karena dia NAMA PRIBADI Tuhan orang Islam (bismillaah) yang sudah diketahui dan Allah itu adalah kata benda yang sudah menjadi satu paket. Contoh lain: Fatimah tidak bisa ditulis menjadi Al-Fatima karena Fatimah itu NAMA PRIBADI seseorang, mana bisa Allah menjadi Al-allah ?.
- Ilah / Al-ilah ada mutsanahnya (ilahaani) artinya dua tuhan / dua dewa dan jamaknya dalam hal ini adalah jamak taktsir menjadi Aalihah artinya banyak tuhan atau banyak dewa. Sedangkan “Allah” tidak ada mutsannah (tastniahnya) Allahaani, kalau ada... artinya bukan Allah lagi tetapi Allahaani dan ini mengganti nama tuhan orang Islam. Apalagi dalam jamak, sama sekali tidak ada karena NAMA PRIBADI tidak bisa diduakan, apalagi dijamakkan. Contoh: Fatimah kalau dimutsannahkan Fatimataani, berarti namanya bukan Fatimah lagi, tetapi tante Fatimataani. Maka NAMA PRIBADI tidak bisa diganti atau diterjemahkan.
- Ilah / Al-ilah bisa diterjemahkan menjadi dewa atau yang disembah, sedangkan Allah tidak bisa ... Allah ya tetap Allah ( Kamus Indonesia-Arab-Inggris karangan Abd bin Nuh dan Oemar Bakry Hal. 76 ).

Bambang Noorseno menulis:
Ungkapan Laa ilaha ilallah ini, dijumpai pula dalam Alkitab terjemahan bahasa Arab, 1 Korintus 8:4-6 berbunyi:
“….wa ‘an Laa ilaha ilallah al-ahad,…faa lana ilahun wahidun wa huwa al-Ab alladzi minhu kullu syai’in wa ilaihi narji’u, wa huwa rabbun wahidun wa huwa Yasu’ al-Masih alladzi bihi kullu syai’in wa bihi nahya”.
Artinya: “Dan sesungguhnya tidak ada ilah selain Allah, Yang Mahaesa…dan bagi kita hanya ada satu Ilah/ sembahan yaitu Bapa, yang dariNya berasal segala sesuatu dan kepadaNya kita akan kembali, dan hanya ada satu Rabb/ Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang melaluiNya (sebagai Firman Allah) telah diciptakan segala sesuatu dan untuk Dia kita hidup.4

Tanggapan Paulus:
Kalau saya bandingkan dengan Alkitabul-Muqoddas The Bible Society in the Middle East in behalf of Call of Hope, Printed in Finland by Saarijarven offset oy Saarijarvi 1994. 1 Korintus 8: 4-6 TIDAK DITEMUKAN KATA ALLAH, disana hanya Ilah.
Ayat 4: ... wa an laisa ilaahun aakhor illaa waahidan
Ayat 5: liannahu wa in wujida maa yusamma aalihah, siwaaun kaana fis-samaai aw ‘alal ardhi.
Ayat 6: laakin lanaa ilaahun waahid: Al-aabul ladzii jamii’ul asyyaai wa nahnu lahu. Wa robbun waahid yasuu’ul masiihu, alladzii bihi jam’ul asyyaai wanahnu bihi

Artinya:
Ayat 4: Dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang lain kecuali satu / Esa.
Ayat 6: Akan tetapi bagi kita hanya satu tuhan yaitu Bapa yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan kita adalah milikNya dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus yang olehNya dijadikan segala sesuatu dan kita bersama denganNya.

Makanya Alkitabul-Muqoddas juga TIDAK BISA MENJADI TOLOK UKUR, karena tergantung penterjemah yang menterjemahkannya, apalagi dalam ayat 5 ada kalimat: “Aalihatun katsiiruun wa arbaabun katsiirun.”
- Aalihatun itu jamak dari ilah.
- Arbaabun jamak dari robbun.
Coba Pikir sendiri aja !!!!!!!!!!.

Laka qolbun laa tafqohu bihaa
wa laka udzunun laa tasma’u bihaa
wa laka ‘ainun laa tandzhuru bihaa
Anta kal an’aam bal anta adhollu minhu


Dibawah ini jawaban dari bagian file ketiga yaitu Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad.

Bambang Noorseno menulis:
Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (‘-l-h). Dari akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi dalam bahasa Ibrani atau Aram.
Tanggapan Paulus:
Memang dalam bahasa Arab akar katanya, wazannya ada 3 huruf, “Fa’-‘Ain-Lam” ini adalah KATA KERJA. Namun yang kita bicarakan adalah kata benda yaitu Allah dan ilah. Tidak semua kata benda itu berasal dari kata kerja yang bisa diubah-ubah dalam hal ini, ilmush-shorf.
Contoh: - Kirdun = Monyet
- Kalbun = Anjing
- Sirwaalun = Celana
Semua contoh tersebut tidak ada kata kerjanya! Apalagi yang Anda bilang Allah itu dari Hamzah Lam dan Ha... tidak akan Anda temukan bung !. Yang ada “Hamzah - Lam - Lam – Ha”, dan inipun ( Hamzah - Lam - Lam - Ha ) itu sudah dimasukkan dengan Hamzah atas wazan Af’ala ( Hamzah – Fa – Ain – Lam ) yang berawalan “Me” ... tetapi kalau diuraikan menurut Kaidah Shorfi TIDAK BISA menjadi Allah.
Contoh: Af a’la – Yuf i’lu – if ‘aalan ﺇﻔﻌﺎﻻ - ﻴﻔﻌﻞ - ﺃﻔﻌﻞ coba disamakan dengan Allaha – Yullihu, Illaahan ﺇﻠّﻪً - ﻴﻠّﻪ - ﺃﻠّﻪ , tetap saja ini BUKAN NAMA tetapi tuhan atau sebutan karena Allah itu ada dengan sendirinya seperti kuubun (gelas). Makanya tidak semua kata benda itu berasal dari kata kerja!.

Bambang Noorseno menulis:
Harus
Back to top
View user's profile
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Wed Dec 22, 2004 1:14 am    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

Melengkapi tanggapan Surat terbuka Bambang Noorseno oleh Bapak Kristian Sugiyarto, maka saya Paulus Komar akan melengkapi hanya mengambil tiap-tiap paragraf dari surat terbukanya Bambang Noorseno yang perlu diluruskan dengan warna biru dan italic, sebagai berikut :
Dari bagian file pertama yaitu Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain.

Bambang Noorseno menulis :
Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani memakai kata ganti Mi, "Siapakah" (bandingkan dengan kata Arab, Man). Tetapi di sini dalam ayat ini dipakai "Bagaimana (mah) tentang Nama-Nya?". Mah symo, sejajar dengan bahasa Arab: Ma smuhu, menuntut suatu jawaban yang lebih jauh, yaitu memberikan arti ("apa dan bagaimana") atau hakikat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu makna yang menunjuk kepada "Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan".

Tanggapan Paulus :
Mengapa memakai “Ma” (ﻤﺎ ) karena :
- Nama (ismun - اﺴﻢ ) adalah kata benda bukan orang atau syakhshun.
- “Ma” sama dengan dalam bahasa Inggris “what”, dalam bahasa Inggrispun bukan “Who” yang artinya “siapa” dalam menanyakan Nama, tetapi What is your name, karena name itu bukan seseorang.

Sepertinya anda tidak konsekuen dengan pernyataan anda yang mengatakan Nama bisa saja diganti, apalah arti sebuah nama, tetapi nyatanya anda menulis tentang “Kuasa di balik Dia yang di-Namakan”, itu artinya Nama itu berkuasa dan hanya nama Yahweh di dalam Yeshua yang berkuasa di bumi dan di sorga.

Argumentasi Anda tentang “Ma” itu hanya akal-akalan saja yang mau membela yang tidak benar supaya menjadi benar di hadapan orang yang tidak mengerti apa-apa tentang bahasa Arab.
“Ma” itu artinya bukan “bagaimana” seperti yang Anda tulis, melainkan “Apa”, karena kalau kata “bagaimana”, dalam bahasa Arab adalah “Kaifa”.
Ma itu juga bisa diartikan “tidak” kalau dimasukkan ke dalam Fi’lul Madhi ( maa qoro’tu syaian - ﻤﺎﻘﺮﺃﺖﺸﻳﺋﺎ - saya tidak membaca sesuatu) .
“Ma” juga bisa mengungkapkan sesuatu yang kita kagumi atau merendahkan sesuatu. Contoh: Maa Ajmala Haadzal Jabal ( Betapa indahnya gunung ini ).
ﻤﺎﺃﺠﻤﻞﻫﻨﺍﺍﻠﺠﺑﻞ
Maa Aqbaha Wajhaka ( Betapa jeleknya wajahmu ).
ﻤﺍﺃﻘﺒﺢﻮﺠﺤﻚ

Bambang Noorseno menulis :
Jadi, sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe, se-bagaimana ditafsirkan Saksi-saksi Yehuwa, dan di-ikuti oleh kelompok "bid’ah baru" Kristen tertentu pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia.

Tanggapan Paulus :
Sepertinya Anda sendiri tidak mengerti apa itu Bidáh - ﺍﻠﺒﺪﻋﺔ?. Mengapa! Karena Bidáh adalah suatu ajaran yang dibikin atau dibuat pengikut suatu kelompok tanpa ada sumbernya. Sekarang tunjukkan kepada kami, dimana ayat dalam Alkitab berbahasa Ibrani yang mengatakan bahwa NAMA TUHAN yang menciptakan langit dan bumi dan seisinya bernama Allah? Yang ada hanya Yahweh ( Yeremia 33: 2 ).
Kullu bidátin dholalah, wakullu dholalah fin naar. Jadi sekarang yang termasuk Bidáh itu siapa? Dalam Alkitab berbahasa Arabpun Nama Yahweh TIDAK DIGANTI, Anda bisa lihat sendiri.

Bambang Noorseno menulis:
Demikianlah apabila teks Ibrani di atas secara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab: "…wa al-ilah alladzi yujiibu binarin faa huwa Allah". Secara gramatikal, dalam konteks ayat tersebut, Allah adalah "al-Ilah alladzi yujiibu binarin" (Ilah yang menjawab dengan api itu). Maksudnya, Allah adalah Ilah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup.

Tanggapan Paulus :
“Fa” ﻔ disini bukan panjang bung seperti yang Anda tulis “Faa” ﻔﺎ. Sepertinya anda harus belajar Tajwid lagi biar kalo menulis Arab tidak ngawur.
Laa budda lak an tataállam wa tuámmiq luqhotal árobiah marrotan tsaaniah. ﻻﺒﺪﻠﻚﺃﻨﺘﺘﻌﻠﻢﻠﻐﺔﺍﻠﻌﺮﺒﻴﺔﻤﺮﺔﺛﺎﻨﻴﺔ
Kadang yang seharusnya bunyinya pendek Anda tulis panjang, contohnya: Seharusnya Fahuwa ( ﻔﻬﻭ ) tetapi ditulis Faahuwa ( ﻔﺎﻫﻭ ) Seharusnya Binaarin ( ﺒﻨﺎﺮ ) tetapi ditulis binarin ( ﺒﻨﺮ ) bahasa Arab apaan tuh?
Kalau saya lihat dalam Kitab Suci berbahasa Arabpun masih ada kesalah-pahaman tentang penyebutan TUHAN, kadangkala ditulis Allah bahkan dalam 1 Raja 18: 39 tertulis ... Antar robbul ilah ( ﺃﻨﺖﺍﻠﺮﺐﺍﻹﻠﻪ ) yang artinya Engkau adalah Tuhan yang Tuhan karena kalimat diatas itu dalam Nahwu wasshorfu adalah Naat man’ut yang diartikan “yang” tetapi ketika ada Nama YAHWEH tidak di ganti, tetap YAHWEH, contohnya dalam Keluaran 3: 15, Yeremia 33: 2 dll. Jadi Nama tidak bisa diganti / diubah ! Nah “Antar robbul ilah” yang dimaksud disini khan YAHWEH Tuhan !.
Masa Nama Bambang Noorseno bisa diganti menjadi Bambang Norak lo ... he ... he...
Hadzaa tamzah faqoth walaa tudkhil ilalqolbi.

Dibawah ini jawaban dari bagian file kedua yaitu Menjawab Hujatan “Para Penentang Allah” Part 1.
Bambang Noorseno menulis:
Menurut Al-Qur’an, Allah adalah Pencipta langit dan bumi (Q.s al-Jatsiyah/ 45 ayat 22: Wa khalaqa Allah as-samawati wa al-ardh). Begitu juga, Siapakah Allah itu bagi umat Kristen Arab? “Allah”, demikian Buthros ‘Abd al-Malik, dalam Qamus al-Kitab al-Mu-qaddas, adalah “nama dari Ilah (sembahan) yang menciptakan segala yang ada” (hadza ism al-Ilah khalaqa al-jami’ al-kainat).2 Begitu juga, setiap umat Arab Kristen sebelum atau sesudah Islam mengawali mengucapkan Qanun al-Iman (Syahadat Krsietn) yang diawali dengan kalimat:

Tanggapan Paulus:
Kalau di dalam Al Qur’an, memang yang menciptakan langit dan bumi itu adalah Allah, tetapi dalam Alkitabul Muqoddas, Yeremia 33: 2 yang menciptakan langit dan bumi dan yang membentuknya adalah bernama YAHWEH, “Qoolar robbu shooni’uhaa, arrobbu mushowwiruhaa liyutsabbittahaa, Yahwahu ismuhu.” - ﻘﺎﻞﺍﻠﺮﺐﺼﺎﻨﻌﻬﺎﺍﻠﺮﺐﻤﺼﻮﺮﻫﺎﻠﻴﺛﺒﺘﻫﺎﻴﻬﻮﺍﺴﻤﻪ Apa Anda kurang jelas? Apalagi Alkitab yang berbahasa Ibrani !.

Bambang Noorseno menulis:
Bi al-Haqiqati nu’minu bi ilahin wahidin, Allah al-Ab al-dhabit al-kull, khaliq as- sama’i wa al-ardh, kulli maa yura wa maa layuura” (Sesungguhnya Kami percaya kepada satu-satunya sembahan/ilah, yaitu Allah Bapa, yang berkuasa atas segala sesuatu, Khalik langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan).3

Tanggapan Paulus:
Kalau dilihat syahadat orang Kristen Arabpun rancu, mengapa? Karena satu sisi mereka berkata ilaahin waahidin atau Tuhan yang satu / Esa, tetapi setelah kalimat tersebut ada kalimat Allah-al-ab ( Allahul Ab ), Allah Bapa, sedangkan pengajaran Islam Allah itu Esa tidak berbapak dan beranak, sedangkan Allah jaman jahiliyah justru sebaliknya!.
Jadi orang Kristen Arabpun tidak ubahnya seperti orang Kristen Indonesia yang dipengaruhi oleh kepercayaan sebelumnya ( jaman Jahiliyah – agama sebelumnya ), maka kebenaran Firman Tuhan HARUS mengacu kepada FIRMAN TUHAN itu sendiri bukan mengacu kepada orang Kristen Arab atau orang Kristen manapun, sebab yang menilai itu Tuhan Yahweh sendiri, bukan orang Kristen Arab. Seandainya orang Kristen Arab menyebut Tuhannya dengan “Lucifer” apakah juga akan diikuti? Sedangkan Yahweh menghendaki namaNya disebut dan para Nabipun mengajarkan demikian juga ( Baca Keluaran 3: 15, 1 Taw 16: 8, Maz 103: 1, Maz 105: 1, Yesaya 26: 8 dll ). Dalam karakter komputerpun, kata “Allah” merupakan satu kesatuan yang TIDAK BISA dikutak katik, silakan lihat dalam “Symbol” karakter komputer Anda.

Bambang Nooseno menulis :
Sedangkan bentuk Ibrani yang dekat dengan istilah Arami elah dan Arab ilah, al-ilah dan Allah adalah sebutan eloah, mi-salnya disebutkan:

Tanggapan Paulus:
Allah bukan penggalan dari ilah, karena :
- Allah adalah NAMA PRIBADI TUHAN yang disembah oleh Umat Islam, “Bismillaah” dengan Nama Allah, sedangkan ilah adalah gelar atau sebutan.
- Kalau Allah dari ilah seperti banyak yang dijelaskan oleh pendeta-pendeta yang mengaku dosen Islamologi: Allah dari ilah dengan menghilangkan Alif sehingga tinggal “lah”, maka artinya sudah berubah, bukan tuhan / dewa lagi, tetapi “li syakhshin” atau “baginya laki-laki”
- Ilah itu sudah satu paket kosa kata yang tidak bisa dipenggal-penggal. Kenapa? Karena Ilah adalah kata benda, berbeda dengan kata kerja.
- Ilah bisa dimasukkan Alif Lam karena ilah adalah gelar atau sebutan. Contoh lain: “Ustaadzun” yang artinya “guru”, jadi bisa dmasukkan Alif Lam sehingga menjadi “Al-ustaadzu” yang berarti “Guru laki-laki itu”, sedangkan Allah tidak bisa karena dia NAMA PRIBADI Tuhan orang Islam (bismillaah) yang sudah diketahui dan Allah itu adalah kata benda yang sudah menjadi satu paket. Contoh lain: Fatimah tidak bisa ditulis menjadi Al-Fatima karena Fatimah itu NAMA PRIBADI seseorang, mana bisa Allah menjadi Al-allah ?.
- Ilah / Al-ilah ada mutsanahnya (ilahaani) artinya dua tuhan / dua dewa dan jamaknya dalam hal ini adalah jamak taktsir menjadi Aalihah artinya banyak tuhan atau banyak dewa. Sedangkan “Allah” tidak ada mutsannah (tastniahnya) Allahaani, kalau ada... artinya bukan Allah lagi tetapi Allahaani dan ini mengganti nama tuhan orang Islam. Apalagi dalam jamak, sama sekali tidak ada karena NAMA PRIBADI tidak bisa diduakan, apalagi dijamakkan. Contoh: Fatimah kalau dimutsannahkan Fatimataani, berarti namanya bukan Fatimah lagi, tetapi tante Fatimataani. Maka NAMA PRIBADI tidak bisa diganti atau diterjemahkan.
- Ilah / Al-ilah bisa diterjemahkan menjadi dewa atau yang disembah, sedangkan Allah tidak bisa ... Allah ya tetap Allah ( Kamus Indonesia-Arab-Inggris karangan Abd bin Nuh dan Oemar Bakry Hal. 76 ).

Bambang Noorseno menulis:
Ungkapan Laa ilaha ilallah ini, dijumpai pula dalam Alkitab terjemahan bahasa Arab, 1 Korintus 8:4-6 berbunyi:
“….wa ‘an Laa ilaha ilallah al-ahad,…faa lana ilahun wahidun wa huwa al-Ab alladzi minhu kullu syai’in wa ilaihi narji’u, wa huwa rabbun wahidun wa huwa Yasu’ al-Masih alladzi bihi kullu syai’in wa bihi nahya”.
Artinya: “Dan sesungguhnya tidak ada ilah selain Allah, Yang Mahaesa…dan bagi kita hanya ada satu Ilah/ sembahan yaitu Bapa, yang dariNya berasal segala sesuatu dan kepadaNya kita akan kembali, dan hanya ada satu Rabb/ Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang melaluiNya (sebagai Firman Allah) telah diciptakan segala sesuatu dan untuk Dia kita hidup.4

Tanggapan Paulus:
Kalau saya bandingkan dengan Alkitabul-Muqoddas The Bible Society in the Middle East in behalf of Call of Hope, Printed in Finland by Saarijarven offset oy Saarijarvi 1994. 1 Korintus 8: 4-6 TIDAK DITEMUKAN KATA ALLAH, disana hanya Ilah.
Ayat 4: ... wa an laisa ilaahun aakhor illaa waahidan
Ayat 5: liannahu wa in wujida maa yusamma aalihah, siwaaun kaana fis-samaai aw ‘alal ardhi.
Ayat 6: laakin lanaa ilaahun waahid: Al-aabul ladzii jamii’ul asyyaai wa nahnu lahu. Wa robbun waahid yasuu’ul masiihu, alladzii bihi jam’ul asyyaai wanahnu bihi

Artinya:
Ayat 4: Dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang lain kecuali satu / Esa.
Ayat 6: Akan tetapi bagi kita hanya satu tuhan yaitu Bapa yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan kita adalah milikNya dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus yang olehNya dijadikan segala sesuatu dan kita bersama denganNya.

Makanya Alkitabul-Muqoddas juga TIDAK BISA MENJADI TOLOK UKUR, karena tergantung penterjemah yang menterjemahkannya, apalagi dalam ayat 5 ada kalimat: “Aalihatun katsiiruun wa arbaabun katsiirun.”
- Aalihatun itu jamak dari ilah.
- Arbaabun jamak dari robbun.
Coba Pikir sendiri aja !!!!!!!!!!.

Laka qolbun laa tafqohu bihaa
wa laka udzunun laa tasma’u bihaa
wa laka ‘ainun laa tandzhuru bihaa
Anta kal an’aam bal anta adhollu minhu


Dibawah ini jawaban dari bagian file ketiga yaitu Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad.

Bambang Noorseno menulis:
Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (‘-l-h). Dari akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi dalam bahasa Ibrani atau Aram.
Tanggapan Paulus:
Memang dalam bahasa Arab akar katanya, wazannya ada 3 huruf, “Fa’-‘Ain-Lam” ini adalah KATA KERJA. Namun yang kita bicarakan adalah kata benda yaitu Allah dan ilah. Tidak semua kata benda itu berasal dari kata kerja yang bisa diubah-ubah dalam hal ini, ilmush-shorf.
Contoh: - Kirdun = Monyet
- Kalbun = Anjing
- Sirwaalun = Celana
Semua contoh tersebut tidak ada kata kerjanya! Apalagi yang Anda bilang Allah itu dari Hamzah Lam dan Ha... tidak akan Anda temukan bung !. Yang ada “Hamzah - Lam - Lam – Ha”, dan inipun ( Hamzah - Lam - Lam - Ha ) itu sudah dimasukkan dengan Hamzah atas wazan Af’ala ( Hamzah – Fa – Ain – Lam ) yang berawalan “Me” ... tetapi kalau diuraikan menurut Kaidah Shorfi TIDAK BISA menjadi Allah.
Contoh: Af a’la – Yuf i’lu – if ‘aalan ﺇﻔﻌﺎﻻ - ﻴﻔﻌﻞ - ﺃﻔﻌﻞ coba disamakan dengan Allaha – Yullihu, Illaahan ﺇﻠّﻪً - ﻴﻠّﻪ - ﺃﻠّﻪ , tetap saja ini BUKAN NAMA tetapi tuhan atau sebutan karena Allah itu ada dengan sendirinya seperti kuubun (gelas). Makanya tidak semua kata benda itu berasal dari kata kerja!.

Bambang Noorseno menulis:
Harus
Back to top
View user's profile
fantioz
Newbie
Newbie


Joined: Dec 15, 2004
Posts: 9

PostPosted: Tue Dec 28, 2004 8:37 pm    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

Quote::

Dan seperti pertanyaan bapak Fantioz, memang Yahweh ingin namaNya disebut khan? Bahkan tokoh2 dalam Kitab Suci juga menulis agar menyebut / memanggil NamaNya ( 1 Tawarikh 16: 8, Maz 103: 1, Maz 105: 1, Yes 26: 8 dll )

Saya terus terang tidak begitu ahli dalam Alkitab. Tapi kalo gak salah Yesus sendiri pernah menyapa Bapa dengan Eloi sewaktu menjelang wafat di kayu salib. Dengan teriakan Eloi .... Eloi .....

Apakah Eloi di sini dalam Perjanjian baru sudah merupakan terjemahan? Jika iya kenapa para prajurit Pilatus mengira bahwa Yesus memanggil Elia?
Di sini Eloi mirip dengan Elia, secara pengucapan.

Mengapa Yesus tidak berteriak "Yahwe .... Yahwe .... lama sabakhtani" ?


Mohon penjelasan


Shalom


Fantioz
Back to top
View user's profile Send e-mail
eirena
Newbie
Newbie


Joined: Nov 21, 2004
Posts: 7

PostPosted: Tue Dec 28, 2004 10:01 pm    Post subject: Re: Surat Terbuka Bambang Noorsena Untuk Saudara-saudara Sei Reply with quote

fantioz wrote:
Quote::

Dan seperti pertanyaan bapak Fantioz, memang Yahweh ingin namaNya disebut khan? Bahkan tokoh2 dalam Kitab Suci juga menulis agar menyebut / memanggil NamaNya ( 1 Tawarikh 16: 8, Maz 103: 1, Maz 105: 1, Yes 26: 8 dll )

Saya terus terang tidak begitu ahli dalam Alkitab. Tapi kalo gak salah Yesus sendiri pernah menyapa Bapa dengan Eloi sewaktu menjelang wafat di kayu salib. Dengan teriakan Eloi .... Eloi .....

Apakah Eloi di sini dalam Perjanjian baru sudah merupakan terjemahan? Jika iya kenapa para prajurit Pilatus mengira bahwa Yesus memanggil Elia?
Di sini Eloi mirip dengan Elia, secara pengucapan.

Mengapa Yesus tidak berteriak "Yahwe .... Yahwe .... lama sabakhtani" ?


Mohon penjelasan


Shalom


Fantioz


Eirena: Saya kirim email dari Pak Bambang semoga membantu semua rekan-rekan dalam membahas persoalan YHWH. Selamat Natal dan Tahun Baru.


Sekali Lagi, Soal YHWH dan Allah:
Tanggapan Atas Beberapa Tanggapan


Oleh: Bambang Noorsena*)


*) Penulis bukan pendeta, melainkan pengamat hubungan antaragama dan pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), anggota dewan konsultatif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), bersama keluarga tinggal di Mesir.


1. Catatan Pengantar

Ketiga artikel saya mengenai seputar kontroversi Allah dan YHWH, ditanggapi secara bertubi-tubi oleh kelompok ABA (Asal Bukan Allah) di www.salib.net Rupanya, mumpung website ini bersedia memuat tulisan-tulisan mereka, sebab banyak pembaca sudah bosan dengan argumentasi mereka yang hanya berputar-putar. Mas Anas seminggu lalu menulis via e-mail mengenai tanggapan ini, tetapi saya belum bisa membalasnya karena posisi saya masih di Luxor, dan baru tanggal 23 Desember saya kembali ke Kairo. Prinsipnya, sudah saya katakan, saya tidak akan menganggapi satu persatu, karena tidak ada waktu dan tidak terlalu perlu.

Soal kata-kata saya yang dianggap oleh mereka kasar, sombong dan sebagainya, tentu harus dilihat latarbelakangnya sejak awal. Pertama, artikel “Menjawab Gugatan Penentang Allah”, ditulis tahun 2000 ketika dr. Suradi gencar-gencarnya menyebarkan traktat mengenai Allah sebagai “dewa air”, yang tak ayal pula telah melahirkan reaksi keras dari kalangan Islam tertentu, sampai munculnya kasus Fatwa Mati dari para ulama Jawa Barat. Kedua, julukan “kurang cerdas”, “kurang terpelajar”, dan sebagainya, ini lebih merupakan reaksi atas sebuah aksi. Mengapa? Karena mereka telah membajak terjemahan Alkitab LAI, hanya kata Allah saja yang dibuang dan diganti elohim (ditulisnya: eloim), tidak perduli itu bahasa aslinya el, eloah, elohim (Ibrani) atau elah (Aram).

Terus yang menggelikan, seperti pernah dikatakan Romo Martin Harun, pada halaman terakhir terjemahan bajakan mereka, ditulis ungkapan bahasa Ibrani: Barukh Atta Adonay, diterjemahkan: “Tuhan Memberkati anda!” Padahal kalimat itu berasal dari doa Yahudi yang lengkapnya berbunyi: Barukh Atta YHWH (baca: Adonay) Elohenu Melek ha ‘olam. Artinya: “Terpujilah Engkau Ya TUHAN, Ilah kami, Raja yang kekal” (A. Th. Philips, ed. Sefer Tefilah Makol Hasanah, New York: Hebrew Publishing Co, t.t., p. 723). Dari kasus kecil ini saja, kita bertanya: Bagaimana mungkin menerjemahkan seluruh Alkitab Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani/Aram, sedangkan dalam kasus kecil saja membuat kesalahan? Inilah latar belakangnya kata-kata saya yang dianggap kasar itu, sebab dibandingkan dengan perbuatan pidana yang mereka lakukan, yaitu pembajakan hak cipta, tentu saja kata-kata saya itu tidak sebanding. Belum lagi, dampaknya pada hubungan Kristen-Islam, terbukti dengan munculnya "Fatwa Mati" yang menghebohkan itu.

Selanjutnya, menanggapi beberapa tanggapan dari kelompok ABA, yang mengkoreksi bahasa Arab saya. Pertama, sekali lagi argumentasi mereka terkadang tidak relevan dengan pokok bahasan. Misalnya, menurutnya Allah itu nama diri, karena itu kata tersebut tidak mempunyai bentuk plural. Untuk itu, diuraikan dengan panjang lebar mengenai jenis bentuk jamak dalam bahasa Arab: jamak mudzakar salim, jamak muanats salim, dan jamak taksir. Padahal mengatakan Allah tidak ada bentuk jamaknya, sudah cukup, kalau hanya untuk menjadikannya sebagai argumentasi bahwa Allah itu ghayr al-musytaq, menurut salah satu pandangan yang berkembang di kalangan Islam.

Kedua, soal kaidah transliterasi Arab ke dalam huruf Latin. Saya kira setiap orang yang mengerti bahasa Arab, akan tahu bahwa: Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah harus dibaca Ahlussunnah wal Jama’ah. Tetapi dalam tradisi penulisan ilmiah, biasanya ditulis kata demi kata dengan definite artikel (al) apa adanya, entah itu huruf syamsiah atau bukan. Cobalah membaca karya-karya ilmiah standar internasional, contohnya: Encyclopedia of Islam. Tradisi ilmiah ini juga umum diterima oleh kalangan cendekiawan Muslim. Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid), misalnya, ketika mengutip ayat al-Qur’an, biasanya menulis: Inna al-Diin ‘inda Allah al-Islam (baca: [i]Innaddiina ‘indalaahil Islam[/i]). Itulah tradisi penulisan ilmiah, karena pembacanya dianggap sudah mengerti, yang tentu saja berbeda kalau kita baru belajar tajwid.

Begitu juga, dalam bahasa percakapan, tidak lazim misalnya mengucapkan: Kullu Sanatin wa antum bikhairin, melainkan Kullu Sanah wa antum bikhair. Jadi, ucapan menurut tajwid: Shabahul khairi, Kalamun nafsi, Kullu sanatin wa antum bikhairin, hanya ada di kelas-kelas pelajaran bahasa Arab, dan tidak akan dijumpai dalam percakapan sehari-hari. Satu catatan kecil lagi, dalam hal kaidah penerjemahan. Terjemahkan saya, al-Baitu kabirun, “Rumah itu besar”, dikoreksi: “Rumah itu adalah besar”. Dalam bahasa Indonesia, “adalah” tidak harus selalu dicantumkan, karena menurut “rasa bahasa” justru janggal. Jadi, cukuplah “Rumah itu besar”.

Kasus yang sama misalnya, kalau kita jumpai kalimat: Ana huwa Nuur al-‘aalam (baca: Ana huwa Nuurul ‘alaam) tidak perlu diterjemahkan secara harfiah: “Akulah Dia Terang Dunia”, cukuplah dalam bahasa Indonesia: “Akulah Terang Dunia”. Lain-lain lagi, tidak akan saya tanggapi detil, cukuplah pembaca saya ingatkan dengan pepatah Jawa: Jalma limpad seprapat tamat. Sampeyan semua pasti mengerti maksudnya. Kualitas orang itu bisa dilihat dari pikirannya, cara bicaranya, cara menulisnya. Kalau memang mempunyai kapabiltas, belum ngomong banyak, ibarat baru seperempat saja sudah tamat, bisa paham seluruh yang dimak- sudkannya.


2. Soal al-Ilah dan Allah dan
Kajian Filologi Lebih Mendalam


Saya sudah menjelaskan sampai terus terang saja capek, bahwa dalam Islam ada 2 pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan Allah itu ghayr al-musytaq atau tidak berasal dari kata lain, tetapi ada juga yang menganggapnya musytaq atau berasal dari kata lain. Kontroversi ini, bukan hanya terjadi pada masa modern, tetapi justru sejak masa klasik. Sekedar catatan saja, bahwa Sibawayh justru menerima pendapat bahwa kata Allah itu bentukan dari kata lain. Malahan pula, al-Kisa’i dan al-Fara’ menulis bahwa bacaan: Bismillah (Dengan Nama Allah) juga berasal dari: Bism al-Ilah (Dengan Nama al-Ilah). Dengan demikian, pendapat klasik ini paralel dengan inskripsi Arab-Kristen yang ditemukan di Zabad (512 M). Itu pendapat pertama.

Sebaliknnya, pendapat kedua dianut oleh Abu al-Ma’ali, al-Khatabi dan al-Ghazali yang menganut pendapat bahwa Allah itu asli. Begitu pula, ada mufasirin yang menganut pendapat pertama, seperti Al-Baidhawi dan al-Zamakhsari, sedangkan ulama lain seperti an-Nawawi menganut pendapat kedua. Pada zaman modern ini, pemikir-pemikir Islam seperti Fazlur Rahman, Isma’il al-Faruqi, Nurcholish Madjid menganut pendapat bahwa Allah berasal dari al-Ilah. Begitu pula, konkordansi al-Qur’an Al-Mu’jam al-Mufahras karya Muhammad Faur ‘Abd al-Baqi (Kairo, tanpa tahun, pp. 40-75). Sedangkan ulama-ulama tradisional, yang kelihatannya lebih dilatarbelakangi alasan teologis, menganut pendapat bahwa kata Allah itu asli, dan tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa lain.

Saya lebih menyetujui pendapat pertama, dengan argumentasi yang lebih saya dasarkan pada kajian bahasa, dan bukan dari sudut pandang teologis Islam yang agaknya berkembang zaman belakangan. Mengenai kata Allah dari al-Ilah ini, saya mengutip Al-Ma’jam al-Mufahras yang menempatkan kata Allah pada heading: hamzah, lam, haa (‘-l-h), karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, bukan hamzah qath’i. Karena itu, kalau sebelum kata Allah didahului dengan harf jar li (kepada), al- hilang (li llahi). Konkritnya, setelah li kata sandang al- hilang, tinggal llah (2 huruf lam karena di-syadah dan haa) . Jadi, bukan menjadi lah (dengan satu huruf lam dan haa), seperti yang ditulis penanggap, yang selanjutnya mengajukan argumentasi dari segi ilmu tajwid. Padahal argumentasi dari ilmu tajwid, dalam kasus ini juga tidak sepenuhnya kena. Mengapa? Karena ilmu-ilmu seperti tajwid, nahwu dan sharaf ini disusun setelah zaman Islam, dengan rujukan utamanya al-Qur’an, padahal perubahan al-Ilah menjadi Allah terjadi jauh sebelum Islam.

Hal ini tidak berarti kita bisa menabrak kaidah-kaidah ilmu kebahasaan, melainkan melacaknya lebih dalam yang mendahului munculnya ilmu-ilmu itu. Dari perspektif ulama Islam yang menanggap Allah tidak bisa diterjemahkan, mengajukan argumentasi: “Kalau Allah berasal dari al-Ilah, maka tidak dibenarkan menyebut: Yaa Allah, seperti tidak dibenarkan menyebut: Yaa al-Rahman, melainkan: Yaa Rahman”. Ini memang benar. Tetapi ungkapan Yaa Allah menjadi benar, karena kata Allah sudah dianggap satu kata tunggal, setelah kata sandang al- dan ilah disatukan pada masa sebelumnya, jauh sebelum kaidah kebahasaan itu dirumuskan. Ahmad Amien mengungkapkan, pada masa pra-Islam seruan doa yang lebih pupuler: Allahumma (Wahai Allah), dan ungkapan itu berkaitan dengan kata Ibrani Elohim (Ahmad Amien, Fajr al-Islam, Kairo, 1992, pp. 121-122).

Karena itu, kajian sepelik ini tidak cukup didekati dengan ilmu-ilmu yang dikembangkan kemudian setelah pandangan teologis suatu agama mengalami pembakuan. Dalam pada itu, kita harus melacaknya jauh ke masa pra-Islam, dan sedapat mungkin menghindari tafsiran teologis. Mulai dari syair-syair Arab pra-Islam, inskripsi-inskripsi Arab Kristen di gereja-gereja Syria, pemakaian bahasa ini di lingkungan gereja-gereja Arab sebelum dan sesudah Islam, baru kemudian membandingkan dengan bahasa Arab al-Qur’an. Harus saya tegaskan, hanya dengan membaca pelajaran dasar bahasa Arab saja, sudah barang tentu sangat jauh dari memadai. Untuk lebih memberikan gambaran kepada pembaca, saya akan ambilkan beberapa contoh:

Dalam pengajaran bahasa Arab kita hanya akan menjumpai kaidah, misalnya, mengenai al-mamnu’u min al-syarf : “kata yang dikecualikan dari syarat tanwin, sedangkan alamat jar-nya fathah”. Misalnya, nama-nama seperti: ‘usamah, mu’awiyah, ibrahim, yang tidak bisa di-tanwin seperti muhammad, mahmud, kamaal dan sebagainya. Konkritnya, kita bisa menjumpai muhammadun, muhammadan, muhammadin, tetapi tidak demikian dengan nama Ibrahim atau nama Isma’il. Disini hanya menemui kaidah-kaidah bagaimana berbahasa yang benar, bukan bagaimana asal-usul munculnya kaidah-kaidah itu, dan menarik konsekuensinya lebih lanjut. Nah, menurut kaidah salah satu alasan perkecualian itu (al-mamnu’u min al-syarf), karena nama Ibrahim termasuk “nama orang asing” (al-‘alam al-‘ajnabi). Mengapa dimasukkan nama orang asing? Pertanyaan ini yang justru penting, yang tentu tidak dibahas lebih lanjut dalam kajian bahasa Arab. Jawabnya, nama Ibrahim itu sudah eksis sejak zaman sebelum Islam, yaitu sudah dipakai sebelumnya oleh orang Yahudi dan Kristen.

Orang Yahudi di Israel pasti mengucapkannya: Avraham, orang Kristen yang berlatar belakang bahasa Aram melafalkan: Abraham, dan sesudah berdiam di dunia Arab mereka melafalkannya: Ibrahim. Padahal di Indonesia, Ibrahim itu identik Islam, sedangkan Abraham identik Kristen. Ini terlepas dari klaim teologis bahwa Islamlah pewaris yang sah dari millat Ibrahim. Begitu juga klaim teologis serupa, baik dari kalangan Yahudi maupun Kristen. Sebab ilmu bahasa, sudah barang tentu, terlepas dari klaim-klaim teologis agama apapun. Bahasa itu netral, bagian dari kebudayaan manusia. Lebih-lebih lagi, bahasa-bahasa di Timur Tengah itu serumpun, dan dalam proses perkembangan sejarahnya yang panjang terjadi interaksi yang terus menerus.

Karena itu, lebih lanjut kita harus masuk dalam kajian filologi. Bagaimana misalnya cognate antara el, eloah, elohim (Ibrani), elah, alaha (Aram), ilah, alihat, al-ilah, allah, allahumma (Arab), bahkan dengan rumpun semitik yang lebih tua lagi: il, ilu (Akkadia). Begitu juga, perubahan bentuk nama-nama diri seperti Yeshua (Ibrani), menjadi Yesho, ‘Isho (Suryani/Syriac Barat), Yeshu’, ‘Isha (Suryani/Syriac Timur) dan Yasu’, ‘Isa (Arab). Lihat: Olaf Schumann, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan (Jakarta, 1990). Perubahan seperti ini adalah gejala lingustik yang lazim, yang dalam ilmu bahasa dikenal dengan proses “korespondensi bunyi” (the phonetic correspondence). Nah, ini hanya sekelumit contoh mengenai rumitnya kajian filologi, tidak sesederhana yang dibayangkan para penanggap tulisan saya yang “kebakaran jenggot” (khususnya penanggap terakhir yang memaki-maki saya) itu, dengan hanya mengajukan referensi Kamus Arab-Indonesia-Inggris, karya Abd bin Nuh dan Oemar Bakry. Apalagi di Indonesia, yang umumnya menganggap bahasa Arab secara eksklusif sebagai “bahasa Islam”, hingga tidak pernah dibahas keserumpunannya dengan bahasa-bahasa semitik yang lebih tua.

Manfaat filologi dan kajian sejarah ini sangat penting, karena sampai sekarang bahasa apapun terus memperkaya diri dengan menyerap bahasa-bahasa lain, tidak terkecuali bahasa Arab. Fenomena pinjam meminjam (borrowing) ini, dalam kajian bahasa Arab modern cukup mudah untuk memilah-milah, manakah yang kata Arab asli dan dari manakah akar katanya (al-jidr), ataukah manakah yang serapan dari bahasa-bahasa asing. Misalnya, kata-kata seperti: al-dimukrathiyyah (demokrasi), al-liturjiyyah (liturgi), al-yuraniyum (uranium), jelas-jelas serapan dari bahasa asing, sehingga tidak ditemukan akar katanya. Tetapi menjadi sulit, kalau sebuah kata muncul dari masa pra-Islam, dan kata itu tercantum dalam al-Qur’an yang sudah barang tentu tidak boleh dikuti-kutik lagi. Saya kira ini adalah problem hampir semua agama dalam memandang teks-teks suci mereka.

Meskipun demikian, banyak ahli yang kini tertarik kepada kajian ini. Untuk mengemukakan satu contoh saja, kata “amiin” dalam doa. Jelaslah bahwa kata ini sudah dipakai dalam bahasa Ibrani dan Aram (yang kemudian diambil begitu saja tanpa terjemahan dalam semua bahasa). Karena itu, kata ini jelas-jelas pinjaman dari bahasa lain. Selanjutnya, menarik sekali ditanyakan, apakah kata “amiin” ini dalam bahasa Arab termasuk dalam harf, ism ataukah fi’il? Juga, dari akar-kata apakah “amiin” itu? Kalau kita hanya mendasarkan kepada tatabahasa Arab, pastilah jawabannya tidak tuntas. Sebut saja, misalnya Syeikh Nawawi menulis: “Amin, yaitu kata benda yang mengandung makna kata kerja perintah, yakni: kabulkanlah!” (Amiin wa huwa ismun bima’na fi’lun amrin wa huwa istajib). Itu saja yang dapat kita baca dari Maraah Labiid Tafsiir al-Muniir, karya Syeikh Nawawi al-Bantani.

Tentu saja, keterangan ini dari segi historis tidak mampu menjawab bagaimana kata asing itu masuk dalam bahasa Arab. Mungkin problem ini baru bisa dituntaskan kalau kita memasuki kajian filologi. Sayyed Mahmud al-Qimni, seorang pemikir Muslim, mengupas masalah ini dalam bukunya, Ibrahim an-Nabi wa al-Tarikh al-Majhul, membuktikan bahwa ternyata kata ini pinjaman dari bahasa lain. Menurut al-Qimni, kata ini tidak hanya dipinjam dari bahasa Ibrani, melainkan dibuktikan lebih jauh dari bahasa Mesir kuno, terkait dengan kata: Amen, atau Amon, “Dia Yang Esa dan Tersembunyi”, menurut konsep henoteisme Mesir kuno. Jadi, kata ini diambilalih oleh Perjanjian Lama Ibrani (mungkin ketika bangsa Yahudi pra-Musa hidup dalam perbudakan Firaun), lalu diikuti Perjanjian Baru Yunani dan bahasa-bahasa lain, dan kemudian diteruskan dalam bahasa Arab melalui al-Qur’an. Dalam kajian filologi yang lebih mendalam, al-Qimni juga sepakat bahwa kata Allah memang berasal dari al-Ilah.

Karena itu, lebih lanjut kita harus memahami “filsafat bahasa” yang melatarbelakangi disusunnya Ilmu Nahwu. Misalnya, melacaknya langsung dari tulisan perintis ilmu ini, Sibuwayh. Cobalah kita membaca kajian-kajian penulis modern mengenai karya Sibawayh dari sudut metodologi, syntax, fonologi bahkan kutipan syair-syair pra-Islam yang menjadi salah satu rujukan bapa kajian nahwu ini, misalnya M.K. Al-Bakka, Manhaj Kitab Sibawayhi fi al-Taqwim al-Nahwi (Bagdad, 1989). Syukur-syukur, kalau kita bisa sanggup membaca langsung 5 jilid Kitab Sibawayh (Cairo, 1968). Sibawayh mengambil kaidah dalam menyusun tata bahasa Arab dari sumber al-Qur’an dan Hadits, selain ia juga meneliti bahasa percakapan kaum Badui dan syair-syair pra-Islam.

Tetapi patut dicatat pula, bahwa di kalangan Kristen Arab juga berkembang pemakaian bahasa Arab yang style-nya agak berbeda, karena banyak sekali mendapat pinjaman dari bahasa Ibrani, Aram, Koptik, Yunani yang tidak dijumpai dalam bahasa Arab Islam. Contoh ungkapan-ungkapan Arab Kristen ini, yang bertumbuh di luar alur perkembangan bahasa Arab teologis Islam, antara lain dibahas oleh W. Montgomerry Watt, “Two Interesting Christian-Arabic Usages”, dalam Early Islam: Collected Articles (Edinburgh, 1990), pp. 71-74.

Kembali ke pembahasan mengenai Allah. Perlu dicatat pula, bahwa dalam al-Qur’an kata Allah tidak muncul bersama-sama dengan al-Ilah, tetapi sering dihubungkan dengan kata ilah (cf. Laa ilaha illa Allah, Allahu laa ilaha ila Huwa). Sedangkan dalam beberapa terjemahan Alkitab bahasa Arab, Allah sering muncul bersama al-Ilah. Begitu juga dalam syair-syair pra-Islam. Hal itu disebabkan karena al-Qur’an menerima bentuk singkat al-Ilah (yaitu Allah), sedangkan kalangan Arab Kristen menampilkan kedua-duanya, Allah dan al-Ilah. Dan berbeda dengan anggapan sebagian umat Islam, dalam Alkitab al-Muqaddas (Alkitab bahasa Arab) kata Allah itu bukan “nama diri Sang Pencipta” (the proper name of God).

Itulah sebabnya, sampai sekarang dalam buku-buku liturgi Kristen-Arab ungkapan: Yaa Allaah, sering bergantian muncul dengan: Ayuha al-Ilah (baca: Ayuhal Ilah). Ungkapan Ayuha al-Ilah, tidak dijumpai dalam al-Qur’an dan tidak lazim dalam bahasa teologis Islam. Inilah salah satu alasan mengapa para pakar Kristen pada umumnya menganut pendapat bahwa kata Allah adalah bentukan dari kata al-Ilah., Penggunaan ungkapan Yaa Allah, Ayuha al-Ilah dan Allahumma ini, dalam doa-doa Kristen-Arab misalnya dapat kita ikuti contohnya dari 3 versi pembukaan doa trisagion: (1) Quddusu Anta Yaa Allah, (2) Quddusu Anta Ayuha al-Ilah, dan (3) Quddusu Anta Allahumma. Artinya, kurang lebih sama saja: “Kuduslah Engkau, Ya Allah!” . Lihat: Mar Ignatius Afram Barshaum, Al-Tuhfat al-Ruhiyyah fi al-Shalat al-Fardhiyyah, Aleppo, 1992).


3. Penolakan “Allah”: Bertolak dari Asumsi Teologis


Diakui atau tidak, gerakan “asal bukan Allah” ini diawali oleh sebuah asumsi teologis tertentu, seperti tampak dari traktat “sampah” Stephen van Natan dan karya polemikus Robert Morrey yang diwarnai sikap anti-Islam itu. Pandangan polemik ini, di Indonesia mula-mula dimunculkan melalui traktat-traktat Dr. Suradi (“Siapakah Yang Bernama Allah?”, dan sebagai-nya), yang sekarang diteruskan oleh para “pengagung empat huruf YHWH” yang kini bermasalah dengan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Jadi, seluruh argumentasi penolakan yang mereka bangun, sebenarnya mula-mula hanya untuk mempertahankan asumsi teologis, bahwa Allah itu nama dewa kafir sebelum Islam.

Padahal harus ditekankan, terlepas dari penolakan orang Kristen bahwa Islam secara teologis adalah kesinambungan dari agama Yahudi dan Kristen, tetapi tidak bisa disangkal bahwa bahasa Ibrani, Aram dan Arab adalah termasuk dalam rumpun bahasa-bahasa semitik. Karena itu, membaca kamus terbitan manapun di bawah kolong langit ini, akan kita jumpai: el, eloah, elohim, ha-elohim (Ibrani), memang cognate dengan allah, ilah, alihat, al-Ilah, allahuma (Arab). Lihat: M. Al-Taunaji, Qamus ‘Arabi-‘Ibri – ‘Ibri-‘Arabi (Tripoli, 2004, pp. 20-21). Begitu juga, mengenai cognate bentuk Arab ilah, alihat, allah dengan bahasa Aram alah, alahin, alaha dapat kita baca dari karya Jibril al-Qardahi, Al-Lubab: Qamus Suryani-‘Arabi (Aleppo, 1994). Tidak ada satu kamus pun di dunia ini, yang menulis Allah: “dewa kafir bangsa Arab”, theos, “dewa pagan bangsa Yunani”, kecuali sebagai keyakinan teologis seseorang.

Kalau orang berpikir “hitam putih” seperti ini, konsekuensinya akan semakin meluas. Misalnya, nanti akan ada penolakan terhadap term “teologis” (karena berasal dari theos, yang dicap “dewa kafir Yunani”, dan Logos, “an intermediary being” dalam filsafat Helenis). Apalagi dalam kasus bahasa-bahasa serumpun seperti Ibrani, Aram dan Arab. Jadi, tidak bisa kita mengikuti keyakinan beberapa kelompok fundamentalis Kristen, bahwa gara-gara istilah Allah dipakai oleh orang-orang Mekkah pra-Islam dalam makna pagan, kemudian orang-orang awam Kristen ditakut-takuti: “Awas, Allah itu Dewa Bulan!”, karena orang Islam memasang tanda bulan sabit di atas kubah masjid, seperti tuduhan keji Morrey itu.

Sudah saatnya orang Kristen mengembangkan refleksi teologis yang biblikal, “Apakah dewa bulan itu memang ada?”. Jawabnya: Ada, tetapi tidak benar-benar ada! Maksud saya, ada dalam pemikiran orang jahiliyah, dan tidak sungguh-sungguh ada secara nyata. “Dewa air”, “dewi kucing”, “dewi matahari”, semua itu ada dalam pikiran orang-orang yang secara salah mencitrakan Sang Pencipta, TUHAN Yang Mahaesa. Dan lebih penting, kalau kita mengakui bahwa ilah-ilah lain itu memang benar-benar ada disamping “satu-satunya Ilah” (al-Ilah, Allah), apakah kita tidak menjadi politeis terselubung? Mengapa? Karena kita percaya satu Tuhan, tetapi ilah-ilah lain memang diakui ada. Kita harus jujur mengakui, bahwa setiap agama memang mempunyai konsep mengenai ilah yang berbeda-beda. Tetapi perbedaan konsep kita mengenai ilah-ilah atau tuhan-tuhan itu, tentu tidak berarti ada banyak tuhan-tuhan sebanyak jumlahnya agama-agama di dunia.

Jadi, meskipun memang banyak yang disebut ilah-ilah dan tuhan-tuhan di dunia ini, tetapi hanya ada satu Allah. “Tidak ada berhala di dunia ini”, kata Rasul Paulus, “dan tidak ada ilah kecuali Allah Yang Maha Esa” (wa ‘an laa ilaha illa allah al-ahad) (1 Korintus 8:4, Today’s Arabic Version). Singkatnya, kalau kita mengaku beriman kepada satu TUHAN (Ulangan 6:4), tetapi kita tidak menegasikan ilah-ilah lain yang sebenarnya tidak ada itu, apakah tauhid (monotheism) kita tidak cacat? Itulah makna penegasan: Laa ilaha illa Allah, yang kalau kita rekonstruksikan dari bahasa Aram: Lait alaha ella had alaha. Maksudnya: “Tidak ada ilah kecuali Allah (al-Ilah, “satu-satunya Ilah”).

4. Perjanjian Baru Ibrani Bukan Teks Asli

Kalau salah seorang penanggap, membuktikan bahwa dalam Yesaya 33:2, tetagramaton YHWH tidak diterjemahkan, tidak perlu aneh. Begitu juga dalam dalam beberapa terjemahan Alkitab bahasa Inggris tidak menerjemahkan YHWH, tidak ada yang aneh. Untuk kepentingan kajian kritis, bukan hal yang perlu ditentang. Begitu juga Alkitab bahasa Jawa, yang diterjemahkan sebelum penerjemah mengikuti tradisi akademik United Bible Societies (UBS) dan TENAKH: The Jewish Holy Scriptures, yang menerjemahkan YHWH dengan “The LORD”. Tetapi menjadi masalah, kalau dalam Perjanjian Baru kita membaca kata YHWH. Mengapa? Karena tidak pernah ada bukti adanya manuskrip asli Perjanjian Baru bahasa Ibrani, kecuali hasil terjemahan UBS dari bahasa asli Yunani pada beberapa dasawarsa terakhir ini.

Seorang penanggap mengatakan, terjemahan Arab itu banyak, sambil mengutip salah satu terjemahan terbitan Call of Hope, Jerman. Perlu saya sampaikan, terjemahan Call of Hope yang dikutip oleh penanggap itu adalah hasil terjemahan Van Dyck. Sedangkan saya mengutip Al-Kitab al-Muqaddas, Today’s Arabic Version, terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut. Berbeda-beda, wajar karena memang itu terjemahan, bukan teks asli. Tetapi menjadi aneh bin ajaib, kalau kelompok para pengagung empat huruf itu mengambil salah satu terjemahan Ibrani, lalu seolah-olah memberlakukannya sebagai teks asli.

Lebih parah lagi, berdasarkan teks terjemahan itu, mereka mencoba untuk mengkoreksi teks asli Yunani. Apakah berlebihan kalau saya katakan “logika jungkir balik?”. Mereka tidak mempercayai keakuratan teks Perjanjian Baru, tetapi anehnya mereka tidak bisa mengajukan bukti adanya teks asli Ibrani. Memang Yesus ketika mengutip Yesaya 61:1-2, masuk akal saja mengutip dalam bahasa Ibrani. Tetapi teks asli yang sampai kepada kita adalah bahasa Yunani. Bisa-bisa saja kita merekonstruksikan sabda-sabda asli Yesus itu dalam bahasa Ibrani (ketika membaca Perjanjian Lama), dan juga bahasa Aram (ketika mengajar sehari-hari), seperti dilakukan Matthew Black, An Aramaic Approach to the Gospels and Acts (Oxford, 1967). Tetapi para teolog tetap menghormati teks asli Yunani, sekalipun mereka membedahnya dengan pendekatan kritik teks, kritik bentuk, kritik sastra, yang dilakukan dalam rangka memperjelas konteks mula-mula kehidupan Yesus, sabda-sabda dan pengajaran-Nya yang dicatat dalam teks Perjanjian Baru.

Mengenai teks sumber ini, saya hanya mengajukan satu contoh saja inkonsistensi mereka dalam menyikapi teks-teks Perjanjian Baru. Misalnya, dipersoalkan redaksi: Eli, Eli Lamma Sabakhtani menurut Matius 27:46 dengan Eloi, Eloi Lama Sabakhtani menurut Markus 15:34. Mana yang benar? “Pasti ucapannya hanya satu”, tulis mereka. Dengan perbedaan ini mereka lalu meragukan teks Yunani, tetapi mereka tidak bisa mengajukan teks asli yang mereka bayangkan berbahasa Ibrani itu. Sungguh-sungguh aneh, sebab dalam terjemahan Ibrani pun perbedaan itu tetap ada. Lebih-lebih lagi, harus ditegaskan tidak hanya ada satu terjemahan Ibrani.

“…..Elahi, elahi, Lemah Syabaqtani, asyer feruso Eli, Eli Lamah ‘Azvatani”.Markus 15:34, Ha B’rit Ha Hadasah (England: The Society for Distributing The Holy Sciptures, 1971).

“….El, El, Lemana syebaqtani, dehayenu Eli, Eli Lamah ‘azvatani”.Markus 15:34, Ha B’rit Ha Hadasah. The New Covenant Aramaic
Peshitta Text with Hebrew Translation
(Jerusalem: The Bible Society in Israel, 1986).

“….Eli, Eli Lemah Syavaqtani, we targumo Eli, Eli Lamah ‘azvetani”Matius 27:46, Ha B’rit Ha Hadasah (England: The Society for Distributing The Holy Sciptures, 1971).

Ungkapan “dan terjemahannya” (we targumo) ini, dengan jelas menunjukkan bahwa teks asli ditulis dalam bahasa Yunani, karena itu ketika mengutip kata-kata asli Yesus dalam bahasa Aram, perlu ada penjelasan dalam bahasa Yunani. Berdasarkan teks asli Yunani tersebut, beberapa waktu akhir ini mulai diterjemahkan dalam bahasa Ibrani. Masih banyak sekali contoh-contoh seperti ini, tetapi mereka tetap saja memberlakukan terjemahan Ibrani (entah terbitan mana yang mereka ambil), seolah-olah sebagai teks asli.

Selanjutnya, salah seorang penanggap mengajukan asumsi bahwa seluruh cerita atau percakapan Perjanjian baru didominasi bahasa Ibrani-Aram, sementara itu pencatatnya lebih fasih dalam bahasa Yunani dan bukan mustahil tidak terlalu ahli dalam bahasa Ibrani-Aram sehingga ada beberapa kesalahan. “Naskah inilah yang selamat terpelihara hingga saat ini”, tulisnya. Saya bertanya, “Naskah manakah yang berhasil diselamatkan itu?” Tidak pernah ada naskah Perjanjian Baru dalam bahasa asli Ibrani. Nah, bagaimana mungkin mereka begitu gencar menyiarkan pandangan-pandangan mereka, tanpa dukungan teks asli manapun, kecuali hanya praduga-praduga belaka.

Soal rekonstruksi beberapa ahli atas percakapan Yesus dalam bahasa Aram, memang menarik. Sekalipun demikian, dari sudut kritik teks sangat lemah. Mengapa? Sebab kita memiliki manuskrip Perjanjian Baru yang berasal dari tahun yang begitu dekat dengan waktu penulis-annya mula-mula. Misalnya, manuskrip Injil Yohanes dari Kanon Muratori kira-kira berasal dari tahun 115 M, sehingga jarak manuskrip tua ini dengan waktu Injil keempat itu ditulis (kira-kira tahun 90 M) hanya berjarak sekitar 25 tahun saja. Sedangkan Peshitta berbahasa Aram, ditemukan bertanggal belakangan jauh setelah manuskrip-manuskrip Yunani, dan itupun tidak semua naskah Perjanjian Baru lengkap. Apalagi Perjanjian Baru bahasa Ibrani, yang baru jelas-jelas baru diterjemahkan sekiatar tahun 1970-an.

5. Soal Bahasa Ibrani, Aram dan Yunani

Membaca beberapa argumentasi penanggap, saya menyimpulkan mereka tampaknya tidak paham perbedaan bahasa Ibrani dan Aram. Hal ini terbukti dari ungkapan salah seorang penanggap, bahwa dari surga Yeshua memilih berbahasa Ibrani, dan bukan Aramaik apalagi Yunani. Tetapi seperti sudah saya kutip di atas, ia menulis pula bahwa percakapan Perjanjian Baru didominasi bahasa Ibrani Aramaik. Untuk para pembaca, saya ingin memberikan gambaran singkat mengenai kedudukan ketiga bahasa itu pada zaman Yesus.

Salah satu keunikan Injil adalah pewartaan Yesus mula-mula di tengah dunia yang multi etnik dan multilingual di Galilea pada abad pertama Masehi. Dalam Yesaya 8:22 dinubuatkan daerah pelayanan Sang Mesiah: derek hayyam ‘aver hayyarden gelil haggoyim (jalan ke laut, daerah seberang Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa). Latarbelakang ini sangat mempengaruhi corak keagamaan Kristiani sejak semula. Beberapa ahli menyimpulkan, bahwa Yesus dan penduduk Galilea khususnya dan Israel pada umumnya berbicara dalam bahasa Ibrani, Aram dan sedikit Yunani.

Pertama, mengenai bahasa Ibrani dan Aram sebagai dua bahasa serumpun. Kedua bahasa ini erat bertalian, banyak kata dalam kedua bahasa ini sama. Tata bahasa dan sintaksisnya juga sama. Pada zaman Abraham (kira-kira 1900 sebelum Masehi) kedua bahasa itu dapat dikatakan identik, artinya belum terpecah satu sama lain. Dalam sebuah liturgi Yahudi kuno, disebutkan mengenai Abraham: Arami obed Avi, “Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara (Ulangan 26:5). Tetapi berabad-abad kemudian (kira-kira 1100-722 sebelum Masehi) dari bahasa yang satu itu melahirkan dua cabang bahasa: Ibrani di kalangan orang Yahudi di Palestina dan bahasa Aram di kerajaan-kerajaan Aram di Mesopotamia: Damaskus, Zobah dan Hamat. Bahasa Ibrani dipakai oleh Saul, Daud, Salomo dan nabi-nabi lainnya, sehingga Perjanjian Lama untuk sebagian besar ditulis dalam bahasa ini. Bahasa Ibrani (atau dikenal sebagai bahasa Ibrani klasik) bertahan sebagai bahasa resmi kerajaan Israel sampai jatuhnya Yerusalem tahun 587 sM.


Sementara itu, bahasa Aram berkembang pesat ketika orang-orang Asyiria menguasai kembali Mesopotamia (883-606 sM) dan akhirnya bahasa Aram menjadi bahasa resmi kerajaan. Keadaan ini semakin kuat di kalangan orang-orang Babel (606-539 sM) dan kelak di kalangan Persia (539-333 sM). Pada zaman ini bahasa Aram terus mendesak bahasa Ibrani sampai zaman Yesus, khususnya di wilayah Galilea, Samaria dan daerah-daerah sekitarnya. Pada zaman itu bahasa Aram tersebar luas sebagai “lingua franca” di wilayah Timur, sedangkan bahasa Yunani dipakai sebagai “lingua franca” di wilayah Barat. Sementara itu bahasa Ibrani membeku sebagai “bahasa suci” di Bait Allah dan sinagoge-sinagoge Yahudi.

Kendati secara praktis bahasa Aram berbeda dengan bahasa Ibrani klasik, tetapi pada zaman Yesus bahasa Aram disebut juga sebagai bahasa Ibrani. Hal ini tampak pada catatan-catatan Perjanjian Baru, yang menyebut kata-kata Aram seperti: Gabbatha (Yohanes 19:13) sebagai bahasa Ibrani juga. Begitu pula, sejarahwan Yahudi Flavius Yosephus memberitahukan kepada kita bahwa ia menulis bukunya The Jewish War dalam “bahasa Ibrani”, meskipun kenyataannya ia menulis “dalam dialek Ibrani”, yaitu bahasa Aram. Karena pada zaman itu bahasa Aram, kendatipun dibedakan dari bahasa Ibrani sebagai “bahasa kekusasteraan rabbinis” (yang biasa disebut juga bahasa Ibrani Mishnah), tetapi bahasa Aram hanya dianggap sebagai dialek bahasa Ibrani tutur Galilea. Karena itu, Petrus dikenali karena dialek bahasanya (Matius 26:73).

Bahasa Ibrani, Aram maupun Yunani dijumpai bersama-sama di wilayah Israel pada abad pertama Masehi. Penemuan inskripsi-inskripsi kuno (graffiti, monogram dan simbol) di bekas sinagoge Kapernaum yang ditulis dalam bahasa Ibrani Aram, Paleo-estrangelo Syriac, Yunani, bahkan Latin membuktikan dunia multi-etnik dan multi-lingual Yesus Kristus. Lebih-lebih lagi, jelas sekali dalam Injil Yohanes 19:19 dicatat bahwa inksripsi di atas kayu salib Yesus dicatat dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Untuk pembaca bisa membayangkan, selain teks asli Yunani, di bawah ini dapat kita ikuti rekonstruksi bunyi inskripsi itu dalam Ibrani (baik Ibrani Mishnah maupun Ibrani tutur, entah mana yang tercantum pada waktu itu), dan juga dalam bahasa Latin:

* Iesous ho Nasoraios ho Basileos ton Ioudaion (bahasa Yunani).
* Yeshua ha Natseri Melak ha-Yehudim (bahasa Ibrani Mishnah).
* Yeshua Natsraya Malka da yhudeim (bahasa Aram/Syriac).
* Iesus Nazarenus Rex Yudaerum (bahasa Latin).

Kalau begitu, bagaimana mengucapkan nama Sang Juru Selamat yang sah? Yeshua, Iesous atau Iesus? Jawabnya, semua sah-sah saja, karena semua bahasa itu hidup pada zaman-Nya. Jadi, dalam bahasa Aram inilah Yesus berbicara sehari-hari dan mengajar murid-muridnya, begitu juga ketika dikatakan bahwa Yesus bebicara dengan Paulus dalam bahasa Ibrani (Kisah 26:14), kemungkinan besar dalam bahasa Ibrani tutur Galilea atau Aram. Tetapi ketika membaca Taurat dan Kitab Nabi-nabi di sinagoge, pasti Yesus mendaraskannya dalam bahasa Ibrani (Lukas 4:18-20). Tetapi mungkin juga Yesus juga berbicara dalam bahasa Yunani, misalnya dalam percakapannya dengan seorang perwira di Kapernaum (Lukas 7:1-10).

Pertanyaan penting sekarang, mengapa hanya bahasa Ibrani saja yang mereka ajukan, bahkan mau mereka mutlakkan? Perlu dicatat, bahwa bahasa Ibrani sekarang adalah bentuk modern dari bahasa Ibrani mishnaik. Mengapa tidak merekontruksi juga bahasa Ibrani dialek tutur Galilea yang dipakai Yesus sehari-hari, atau lebih dikenal dengan bahasa Aram? Semua usaha merekonstruksi “the original language of Jesus” itu patut kita hormati, dengan catatan tanpa harus mempertentangkannya dengan “the original texts of the New Testament”, me-lainkan mengiringi, memperdalam dan memperjelas konteks Ibrani dan Aram dari Perjanjian Baru yang kita terima dan kita warisi dalam bahasa Yunani itu.


6. Mengenai Penemuan Laut Mati
(The Dead Sea Scrolls)


Salah seorang penanggap juga mengajukan fakta, bahwa fragmen-fragmen Kitab Yunus, Nahum, Habakuk, Zefanya dan Zakariya yang ditemukan di Laut Mati (Qumran) juga memuat tetagramaton YHWH (antara tahun 50 sM sampai 50 M). Hal itu memang benar, tetapi jangan berhenti pada fakta ini. Sebab dari ribuan naskah Qumran yang ditemukan, tidak semua ditulis dalam bahasa Ibrani. Sebagian yang lain, misalnya sejumlah tafsiran Kitab Suci, juga tertulis dalam bahasa Aram. Dan bersama dengan penemuan naskah-naskah Perjanjian Lama Yunani yang memuat tetagramaton, puluhan naskah berbahasa Aram dari Laut Mati menerjemahkan YHWH dengan Mar (bandingkan: seruan liturgis tertua: Maranatha, “Tuhan kami datanglah!”, yang diterapkan bagi Kristus).

“Futhermore, Qumran evidences the use of the term “Lord” (Mara) for YHWH, the tetagrammaton. This suggests that the origin of the Church’s use of the term “Lord” for Christ is not to be found in the Hellenistic environment, but in the original Hebrew “church”, as it was a feature of Jewish sectarianism before Christianity” (James H. Charles Worth, ed., Jesus and The Dead Sea Scrolls, New York, 1992, p. 304).

Lagi pula, tidak semua ibadah sinagoge dan Bait Allah dipanjatkan dalam bahasa Ibrani klasik. Pembacaan TENAKH (Perjanjian Lama) memang dalam bahasa Ibrani klasik, begitu juga doa seperti Syemoneh Esrei (Delapan Belas Berkat), tetapi sebagian lainnya dalam bahasa Aram, misalnya doa Qadisy yang terkenal itu (Th. Philips, ed., Sefer Tehilat makol hash shanah. New York, tanpa tahun, p. 722). Dibuktikan pula, doa Qadisy ini ternyata melatarbelakangi pengajaran Yesus mengenai Doa Bapa Kami, yang melaluinya Sayidina al-Masih sendiri telah memperdalam doa Yahudi tersebut, dan merefleksikannya kembali dalam terang kedatangan-Nya sebagai Sang Mesiah.

Berdasarkan penemuan Qumran pula, keragu-raguan terhadap teks Yunani juga tidak terlalu beralasan. Naskah-naskah Yunani juga ditemukan di Gua 7 Qumran, dan salah satu dari naskah-naskah tersebut fragmen Injil Markus 6:52-53 dan 1 Timotius 3:16, 4:3 (Carsten Peter Thiede dan Matthew D’ancona, The Jesus Papyrus (London, 1997), pp. 163–164). Bukti baru ini menunjukkan bahwa teori selama ini yang menentukan penulisan Injil Markus setelah tahun 60 akan gugur. Sebab menurut kesaksian sejarahwan Yahudi, Flavius Yosephus dalam Antiquities of The Jews, bahwa komunitas kaum Essene yang mendiami wadi Qumran berakhir akibat serangan militer Roma pada tahun 68 M.
Kemungkinan naskah-naskah itu dibawa oleh orang-orang Kristen Yerusalem yang mengungsi setelah pecah perang Yahudi tahun 66 M. Konsektuensi logis dari temuan ini, Injil Markus harus ditulis pada masa yang lebih awal lagi, dan Injil yang ditulis oleh murid Petrus di Roma ini memang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani. Jadi, tidaklah berasalan meragu-ragukan teks Yunani, sementara tidak pernah ada manuskrip dalam bahasa lain yang secara kritik teks dibuktikan lebih tua dari manuskrip Yunai tersebut. Tidak pula beralasan mempertentangan bahasa Ibrani dengan Yunani, bahkan terlalu naïf pula sampai mengkotak-kotakkan, Yahweh sebagai sembahan Yahudi-Kristen, Kyrios dewa kafir Yunani, dan Allah dewa kafir orang Arab, sebagaimana yang saya kemukakan pada awal artikel ini.

7. Asal-usul YHWH dan Allah

Dalam artikel “Menjawab Hujatan Para Penentang Allah”, sudah saya buktikan bahwa sebagaimana Allah pra-Islam pernah dimaknai secara pagan, begitu juga nama Yahwe juga pernah dipuja bersama-sama dewi kesuburan, Asyera. Lalu saya tekankan, kalau istilah Allah ditolak karena alasan bahwa kata itu pernah dimaknai secara pagan, apakah karena alasan yang sama Yahwe juga kita tolak?

Tetapi seorang penanggap merasa dapat mematahkan argumentasi saya. Menurutnya, kedua kasus itu berbeda. Alasannya, karena kalau umat Yahudi dan Kristen di Arab, dan kemudian Islam, akhirnya memurnikan kata Allah yang sebelumnya bermakna pagan, sebaliknya Yahwe mula-mula dipahami secara monoteis lalu dislewengkan kemudian menjadi pagan. Ditekankannya pula, bahwa Yahwe tidak baru muncul zaman Nabi Musa, melainkan nama itu sudah mulai disebut sejak zaman Enos (Kejadian 4:26).

Para ahli telah membuktikan secara liguistik kesejajaran istilah ehyeh, Yah, Yahweh dalam bahasa Ibrani dengan Ayya (dewa Akkadia purba), Yaw, Yehaw, Yehi (dewa pagan Byblos), dan yahwa, yiha (dewa Mesir menurut inskripsi Soleb, ‘Amara dan Medinet Habu dekat Luxor), yang sebagian justru berasal dari masa pra-biblikal (lihat: Gwendolyn Leick, A Dictionary of Ancient Near Eastern Mithology, London, 1996; James B. Prichard, ed., The Ancient Near East: An Anthology of Texts and Picture, 1958; Barry J. Beitzel, “Exodus 3:14 and The Divine Name: A Case of Biblical Paronomasia”, dimuat dalam Trinity Journal, 1980, pp. 5-20).

Tetapi bagi saya, bukan terletak disitu masalahnya. Mengapa? Pijakan penyanggah yang mensyaratkan pengujian umur inskripsi-inskripsi segala itu, disebabkan karena anggapannya bahwa YHWH maupun Allah adalah nama diri yang tidak bisa diterjemahkan, sehingga perlu untuk membuktikan siapakah yang berhak atas hak cipta “the proper name” itu. Sedangkan bagi saya, yang terpenting adalah makna teologis di balik istilah-istilah tersebut, yang semuanya diambil dari bahasa-bahasa manusia. Maksud saya, bagaimana kita memahami Sang Pencipta yang tidak terbatas itu, di balik nama, rumusan dan deskripsi bahasa-bahasa manusia yang serba terbatas.

Dalam pada itu, baik dewa-dewa di Babel, Byblos, Mesir, Kanaan, Mekkah atau Yunani maupun Tuhan yang memperkenalkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dirumuskan dalam bahasa-bahasa yang sama. Bahasa dunia, dan bukan bahasa surga. Tidak ada perbedaan, misalnya, bahasa Arab itu bahasanya thuyul, bahasa Yunani itu bahasa dhemit, dan bahasa Ibrani itu bahasanya malaikat. Dan karena “gundul”-nya orang Ibrani, Aram dan Arab itu memang mirip satu sama lain, karena mereka berasal dari kakek moyang yang sama, sudah barang tentu banyak dijumpai istilah-istilah yang berasal dari akar kata yang sama. Itulah sebabnya el, eloah, alohim (Ibrani) mirip dengan ilah, allah dan allahumma (Arab). Mengapa? Karena semuanya termasuk dalam bahasa-bahasa semitik.

Begitu juga kemiripan dalam rumpun bahasa-bahasa lain, seperti dewa (Sanskrit), deo (Latin), theos (Yunani). Tapi mana ada orang Kristen yang mengatakan bahwa Gloria in exelsis Deo sama dengan Gloria in exelsis “Dewa”? Tidak ada! Karena meskipun secara linguistik bisa dilacak keserumpunan antara kata Dei, Deus dan Dewa, tetapi secara teologis makna yang diberikan atas kata-kata yang serumpun itu berbeda. Karena itu, yang penting bagi kita bukan memutlakkan huruf-hurufnya, melainkan beranjak lebih dalam untuk memahami makna di balik huruf-huruf yang mati itu. Apakah yang harus kita pahami dari pernyataan ilahi di balik Nama YHWH, dan bukan mengagungkan aksara-aksaranya. Sekali lagi, bahasa itu netral, tergantung siapa yang memaknai.

Selanjutnya menanggapi tafsiran harfiah penanggap, kalau nama YHWH itu sudah disebut sejak zaman Enos. YHWH itu bahasa Ibrani. Kalau begitu, apakah pada zaman Enos bahasa Ibrani sudah ada? Kalau belum, bahasa apakah yang dipakai pada zaman Enos? Sebab diantara bahasa-bahasa rumpun semitik saja, bahasa Ibrani bukan bahasa yang paling tua, apalagi Enos ada jauh sebelum Sem putra Nuh, yang melalui keturunannya kita warisi “bahasa-bahasa semitik” (istilah semitik/samiyyah dikaitkan dengan bahasa-bahasa yang dihubungkan dengan keturunan Sem). Karena itu, kita tidak akan menjumpai bukti arkheologis bahwa pada zaman Enos ada sebuah prasasti yang menyebut nama Ibrani YHWH untuk Sang Pencipta langit dan bumi.

Jadi, apakah makna Kejadian 4:26, “….waktu itulah orang-orang mulai memanggil nama TUHAN (YHWH)”? Sedangkan menurut Keluaran 6:2, Sang Pencipta menyatakan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub dengan nama El Shadai (El Yang Maha Kuasa), “….tetapi dengan Nama-Ku TUHAN (YHWH) Aku belum menyatakan diri”. Mengenai Keluaran 6:2 ini, terlalu mudah untuk kita menemukan bukti-bukti arkheologis nama YHWH pada zaman Musa. Tetapi mengatakan bahwa nama itu sudah ada dan dipuja pada zaman Enos, tentu saja sangat sulit dibuktikan.

Lalu apakah Kejadian 4:26 tersebut salah? Tidak, tetapi tafsiran harfiah penanggaplah yang salah. Mengapa? Kita tahu, bahwa penulisan Taurat dihubungkan dengan peranan besar Musa dan zaman sesudahnya. Nah, secara teologis Musa menekankan pentingnya mengenal Sang Pencipta melalui Nama YHWH, yang menekankan kehadiran Dia Yang Mahaada. Karena itu, bukan berarti huruf-huruf YHWH itu sudah ada pada zaman Enos, tetapi pengertian teologis mengenai Sang Pencipta Yang Mahaada dan Mahahidup, seperti yang terkandung dalam nama YHWH itulah, yang sudah dikenal manusia sejak awal sejarahnya yang paling dini, meskipun mungkin dalam bahasa lain.

Hal ini bisa dibandingkan dengan istilah Allah. Sebagaimana nama YHWH, teori bahwa kata Allah sebagai nama diri yang tidak bisa diterjemahkan, juga lebih dilatarbelakangi suatu keyakinan teologis, ketimbang dibuktikan dari segi historis. Beberapa penulis Muslim yang menganut pandangan ini, menekankan bahwa ungkapan-ungkapan dalam al-Qur’an itu diterima apa adanya dalam bahasa Arab, misalnya:

Innani ana Allahu Laa ilaha illa Ana…
Artinya: “Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada ilah selain Aku…”
(al-Qur’an, .surah Thaha/20 ayat 14).

Perlu dipertanyakan, apakah Musa berbicara dalam bahasa Arab, dan menyebut Tuhan sebagai Allah? Tentu saja tidak! Tetapi semua wacana Tuhan dengan nabi-nabi pra-Islam, bahkan juga kepada Adam, Idris (Henokh), Nuh, yang kita tidak tahu apa bahasa mereka, semuanya dituliskan al-Qur’an dalam bahasa Arab. Mengapa? Karena Nabi Muhammad dalam keyakinan Islam menerima wahyu dari Tuhan dalam bahasa Arab.

Begitu pula dengan nama YHWH sebelum Musa, tidak harus dipahami secara harfiah seperti itu. Bahkan dalil ini juga berlaku setelah kedatangan Yesus, yang kita yakini sebagai penggenapan semua nubuat Perjanjian Lama. Salah seorang penanggap mengajukan laporan dari The Japan Times, 27 Februari 2003, mengenai umat Kristen Assyria di Mosul (Niniwe) yang sampai hari ini masih mempertahankan bahasa Yesus (Syriac/Aramaic), lalu menghubung-kannya dengan nama YHWH. Perlu saya sampaikan kepada seluruh pembaca, bahwa melalui Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), lembaga kajian yang saya dirikan, bidang kajian kami adalah gereja-gereja yang mempertahankan bahasa Yesus ini dalam liturgi, termasuk Gereja Asyyria Timur yang disinggung dalam koran itu.

Perlu diketahui pula, bahwa Syriac/Aramaic Christianity itu dibagi dalam 2 kelompok: Pertama, gereja-gereja yang memakai bahasa Aram dialek Barat (Gereja Ortodoks Syria, Gereja Katolik Syria, Gereja Maronit Lebanon), dan; Kedua, gereja-gereja yang memakai bahasa Aram dialek Timur (Gereja Assyria Timur dan Gereja Katolik Khaldea). Disamping itu, kedua dialek tersebut juga dipakai di beberapa cabang gereja rumpun Syria di India Selatan. Nah, Alkitab yang mereka pakai adalah Peshitta (Peshitto). Masalahnya, dalam Peshitta sendiri YHWH diterjemah-kan menjadi Mar, Marya (TUHAN). Sekedar contoh, cukuplah saya kutipkan Markus 12:29 menurut Peshitta dialek Timur/Assyria:

Syma’ Yisrael, Marya Alahan Marya had hu. “Dengarlah, wahai Israel, Marya (TUHAN) itu alah (ilah) kita, Marya (TUHAN) itu Esa”
(Peshitta Qyama Hadatta ha Ktaba Dadyateqa Hadatta (Yerusalem: The Bible Society on Israel and the Aramaic Scriptures Research Society in Israel, 1986).

Memang, ada klaim Gereja Assyria bahwa Perjanjian Baru aslinya dituliskan dalam bahasa Aram (dan bukan Ibrani klasik). Tetapi klaim tersebut tidak semua bisa dibuktikan berdasarkan penemuan manuskrip-manuskrip asli, seperti yang berlaku pada ribuan manuskrip Yunani. Kajian berdasarkan kritik bentuk dari teks-teks Yunani bisa menolong, tetapi mungkin hanya berlaku untuk Injil Matius yang mula-mula ditulis dalam bahasa Aram, seperti kesaksian para bapa Gereja kuno.

8. Sekilas YHWH dalam Alkitab bahasa Inggris

Terakhir, berikut ini tambahan keterangan mengenai sejarah pengucapan YHWH, dan bagaimana beberapa Alkitab berbahasa Inggris mencantumkan nama yang sudah lama ditabu-kan pengucapannya oleh umat Yahudi itu. Sebagaimana kita ketahui, bahwa sejak tetagra-mmaton itu tidak diucapkan, melainkan dibaca dengan kata lain: Adonai (Tuhan) atau Ha Syem (Sang Nama), pembacaan yang sebenarnya dari YHWH itu tidak diketahui lagi, sampai abad ke-16 Masehi para ahli mulai mengemukakan berbagai teori.

Tetagrammaton pertama kali tercantum dalam Alkitab bahasa Inggris karya William Tyndale (1525). Tyndale membaca IeHoVaH (Konsonan YHWH dibaca dengan vocal atau huruf-huruf hidup: AdOnAy). Pola ini diikuti kemudian oleh Miles Coverdale’s (1535), The Great Bible (1539), The Geneva Bible (1560), The Bishop’s Bible (1568) dan The Authorized Version edisi 1611, yang meskipun secara umum memakai terjemahan The LORD, tetapi mencantumkan IeHoVaH di beberapa tempat. Selanjutnya. spelling JEHOVAH baru muncul dalam King James Version edisi tahun 1762-1769.

Sedangkan bacaan Yahweh baru muncul pada awal atau pertengahan abad ke-19 Masehi, berdasarkan rekonstruksi para pakar biblika. Pengucapan Yahweh tersebut, antara lain didasarkan atas beberapa transkripsi teks Yunani atas kata Ibrani tersebut: IAOUE, IAOUAI, dan IABE yang berasal dari sekitar abad pertama sebelum dan sesudah Masehi. Karya Klement dari Iskandariya, Stromata, dan keterangan sejarahwan Yahudi Flavius Josephus mengenai bacaan tetagrammaton, juga dijadikan acuan. Bacaan manakah yang benar? Belum ada kepastian sampai sekarang. Pelafalan Yahweh mungkin didukung oleh penggalan kata ini pada ungkapan Halelu-Yah (Pujilah Yah), sebaliknya lafal Yehovah mungkin juga bisa dilacak dari nama-nama diri seperti Yeho-ram, Yeho-shafat, Yeho-shua, dan sebagainya.

Patut dicatat, baik Josephus maupun Klement dari Iskandariya, ketika membahas bacaan tetagrammaton tersebut, mereka tidak bermaksud mempertahankan huruf-huruf itu, tetapi lebih karena usaha kajian ilmiah. Begitu juga saya kira, beberapa terjemahan Inggris yang mencan-tumkan nama Ibrani itu. Jadi sangat berbeda dengan gerakan Yahweh baru-baru ini, atau sekte Saksi-saksi Yehuwa yang muncul sebelum itu. Masalahnya sekarang, apakah gerakan Yahwe itu sudah merasa menemukan bacaan yang benar-benar pas, sesuai dengan aslinya ketika nama tersebut diperkenalkan pada zaman Nabi Musa?

Dan yang lebih penting lagi, secara teologis patut dipertanyakan: Kalau memang benar, “nama ilahi” itu, -- sesuai dengan tafsiran harfiah para pemujanya, -- benar-benar dikehendaki Sang Pencipta, mengapa TUHAN membiarkan “nama”-Nya hilang dari sejarah, dan muncul kembali hanya dalam bacaan kira-kira? Selanjutnya, kaitan pemeliharaan “nama itu” dalam Perjanjian Baru, patut pula dipertanyakan. Menanggapi asumsi mereka bahwa teks asli Perjanjian Baru berbahasa Ibrani telah hilang, mengapa Sang Pencipta tidak menjaga “Kitab Suci”-Nya sendiri, dan membiarkan tangan-tangan nakal manusia menggerayangi teks-teks suci yang memuat “nama” itu, yang semestinya dijaga sampai akhir zaman? Sebab sampai sekarang, “teks asli Ibrani Perjanjian Baru” itu memang tidak pernah ada, kecuali hanya dalam pikiran orang-orang yang sedang mengigau di tidur siang mereka.

9. Cacatan Penutup

Karena itu, saya mengajak seluruh saudara-saudara seiman dimana saja berada, tidak perlu kita menghabiskan energi untuk menanggapi gerakan mereka. Sebab bagi kita, yang penting bukan mempertahankan huruf-huruf dari nama ilahi YHWH itu, melainkan apa makna penyataan Allah yang berfirman melalui media bahasa. “Nama” dalam pemikiran Ibrani menunjuk kepada “Kuasa di balik Dia Yang Dinamakan”. Jadi, yang penting adalah Pribadi Agung Sang Pencipta, sebagaimana diungkapan dalam doa Yahudi “Adon ha-‘Olam”, yang merujuk kepada makna tetagrammaton:

We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif’arah (Ia yang sudah ada, yang ada, dan yang akan ada, kekuasaan-Nya kekal sampai selamanya). Lih. Rabbi Nossom Scherman/Rabbi Meir Zlotowijz (ed.), Humash Humasiy Torah ‘im Targum Onqelos Farasiy Haftarot we Humash Megilot. Hebrew-Aramaic-English (New York, 1996), p. 304.

Jadi, apakah yang hendak diungkapkan Sang Pencipta dengan menyebut diri-Nya dalam bahasa manusia yang terbatas itu sebagai YHWH? Saya ulangi tulisan saya terdahulu, YHWH terkait dengan akar kata ywh (ada, hidup). Maknanya, TUHAN itu Mahaada dan Mahahidup. Dan adanya TUHAN sudah barang tentu itu tidak sama dengan adanya ciptaan yang terbatas. Karena itu, dengan nama YHWH tersebut, Sang Pencipta memperkenalkan diri-Nya: hayah (He was, “Dia yang sudah ada”), howeh (He is, “Dia yang kini ada”), dan yihyeh (He will be, “Dia yang akan ada”).

Doa Yahudi itulah yang melatarbelakangi Wahyu 1:8, yang berbunyi: “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang. Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8). Allah Yang Mahaada, mahahidup dan selalu menolong umat-Nya. Kita percaya bahwa Pribadi Agung itu telah menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, Firman Allah Yang Hidup (1 Yohanes 1:1). Dengan nuzul Firman-Nya, Allah yang tidak terbatas masuk dalam dimensi ruang dan waktu, mengambil keterbatasan kita, agar kita “boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya” (cf. 2 Petrus 1:4) yang tidak terbatas itu. Padahal TUHAN mengatasi segala keterbatasan kita, termasuk keterbatasan huruf-huruf dan bahasa manusia. Akhirul kalam, dari “kota seribu menara” ini, izinkanlah saya mengucapkan: “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Kullu ‘Aam wa Antum bi khayr . ***

Kampus Dar Comboni Institute, Cairo, 26 Desember 2004.
Back to top
View user's profile
Display posts from previous:   
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index -> Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA All times are GMT + 7 Hours
Go to page 1, 2, 3, 4  Next
Page 1 of 4


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum


Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.