salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: agus.soetopo
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1525

People Online:
Members: 0
Visitors: 2
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Buku2 pengajaran iman Kristen yg ditulis oleh: Denny Teguh S
Last post by Denny in Lainnya on May 18, 2012 at 01:28:12

Buku: "BAHASA LIDAH: MASIH ADAKAH?" (Denny Teguh S.)
Last post by Denny in Lainnya on Apr 18, 2012 at 00:13:58

Renungan Paskah 2012: TUHAN YESUS TELAH BANGKIT! (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 08, 2012 at 02:52:50

Renungan Jumat Agung 2012: KEMATIAN SANG ANAK ALLAH (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 05, 2012 at 00:14:12

Get my new book: GENERASI TUA VS GENERASI MUDA (Denny T. S.)
Last post by Denny in Lainnya on Mar 18, 2012 at 02:07:53

Paskah Akbar Surabaya 2012
Last post by Denny in Agenda Kita on Mar 18, 2012 at 02:01:33

Tantangan Untuk Beritakan Injil di Wilayah Timur Tengah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Mar 17, 2012 at 12:58:39

Diresmikan, Syarat Dapat Gelar S1 Harus Publikasi Ilmiah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 07:08:29

Suka duka jadi anak jenius
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 06:41:05

Kemampuan Pelajar Asia Timur, 3 Tahun Diatas Negara Maju
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 22, 2012 at 18:59:09

We have received
5087039
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Tanggapan Bismilah 2.
Result

Tanggapan Bismilah 2.
Bila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Sugiyarto
Newbie
Newbie


Joined: Nov 26, 2004
Posts: 148

PostPosted: Tue Oct 18, 2005 1:15 pm    Post subject: Tanggapan Bismilah 2. Reply with quote

BISMILLAH

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto:

Berikut saya sampaikan tanggapan atas tanggapan Yabina terhadap artikel “Bismillah”. Sebelumnya, saya sampaikan beberapa hal berkaitan dengan “sikap” Yabina.

1.Dari seluruh tanggapan saya, Yabina hanya sekali saja memuatnya dalam website-nya Yabina.org, yakni pada pertama kali saya memberikan tanggapan yang sangat simpel. Selebihnya Yabina saya anggap tidak “berani” memuatnya, dan oleh karena itu saya memuatnya di Salib.net.

2.Nampaknya Yabina mempunyai “polecy” tersendiri untuk “melindungi” wawasannya dalam Website-nya, sangat mungkin agar nampak tidak ada yang mampu mengritisinya.

3.Untuk kasus yang terakhir ini (Bismillah) demikian juga, dan pembaca Salib.net dapat mengujinya langsung bahwa Yabina merasa mendapat banyak tanggapan, dan memilihnya yang menurut dia “yang penting”, dan ini nampaknya berkaitan dengan yang ia bisa pertahankan saja.

4.Sekarang saya menjadi lebih tahu dan semakin yakin, bahwa Yabina memang tidak memiliki keberanian untuk memuat apa adanya; dan oleh karena itu saya pun tidak terlalu yakin atas kebenaran / kelurusan berbagai tanggapan yang ia tanggapi khususnya yang terakhir ini; namun, ini tidak terlalu penting bagi saya, dan yang penting adalah saya akan menanggapi tulisannya yang memang perlu ditanggapi.

5.Jadi tegasnya menurut penilaian saya hingga kini, tanggapan saya yang mengena langsung pada “permasalahan diskusi” selalu ia hindari untuk menjawabnya, dan dengan demikian jelaslah bahwa ia sesungguhnyalah tidak mengutamakan argumentasi yang relevan, tetapi lebih mengedepankan style-nya sebagai “tukang tuduh”. Perlu diingat bahwa sejak awalnya ia melancarkan tuduhan kepada “Pengagung YHWH” sebagai (1) Saksi Jehovah, (2) Terlibat dalam “aksi Mubalik-IMSI”, (3) Melancarkan “teror”sebutan asal “comot” ayat Alkitab, “kurang” terpelajar, dan sifat-sifat inferior lain yang sejenis. Ini adalah “trade mark”style ketua redaksi Yabina.org. yang gemar melancarkan “teror” tentu dengan maksud “menciutkan” nyali “lawan” diskusi. Nampaknya tidak terlalu berlebihan jika saya memberikan semacam “stigma” bahwa di dalam diri Sdr. Herlianto terdapat “roh Penuduh”. Ia pernah mengajak pembaca untuk “mendoakan” para “Pengagung YHWH” karean ia meragukan “roh” apa yang ada pada diri para “Pengagung YHWH”. Hebatnya pula dia berpendapat bahwa adanya kata “YHWH” dalam septuaginta disebabkan oleh “ulah” Saksi Jehovah yang “menempelinya sebagai ganti “Kurios”; jadi sekali lagi Sdr. Herlianto melancarkan “tuduhan”, dan hingga kini tidak satupun respon yang disampaikan kepada saya atas bantahan-bantahan / argumentasi-argumentasi yang saya sampaikan kepadanya

6.Sdr. Herlianto tidak mampu melakukan bantahan argumentatif terhadap tanggapan saya perihal (1) Proper name (proper noun) untuk YHWH, (2) kronologi penulisan Septuaginta, (3) YHWH dalam Heksapla Origen 185-254 CE, (4) adanya YHWH dalam Septuaginta, (5) teori bahasa Ibrani atas pengajaran Yesus-Yahshua, (6) bantahan bahwa bahasa Ibrani telah mati pada seputar zaman Yesus-Yahshua, (7) bahwa partikel “ha” berlaku bagi non proper name dan ini ditemui baik pada Ha El maupun Ha Elohim.



Redaksi Yabina menulis:

Artikel berjudul ‘A018 - Bismillah’ mendapat beberapa tanggapan, beberapa tanggapan yang penting untuk dijawab diramu dalam bentuk Diskusi di bawah ini:
(Tanggapan–1)
Bagi saya mengucapkan kata ‘Bismillah’ adalah haram karena kata/ungkapan Arabic itu mengandung nama ‘Allah,’ sama halnya dengan kata ‘Alhamdulillah’ dan ‘Astagafirullah’ dll.
(Jawab–1)
Sebenarnya penanggap mencerminkan sikap salah kaprah yang sudah diungkapkan dalam awal artikel ‘Bismillah’ bahwa:
“Pertanyaan ini timbul dilatar belakangi kekurang-tahuan yang dicampur-adukkan dengan prasangka dan sikap alergi terhadap semua yang berbau Arab dan Islam, seakan-akan yang Arab itu pasti Islam dan yang Islam itu pasti Arab. Kerancuan berfikir demikian seharusnya hilang dari pemikiran karena Arab tidak identik dengan Islam, dan orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen sudah jauh ada sebelum adanya agama Islam, dan bahasa Arab sudah hadir di Timur Tengah jauh sebelum penulisan Al-Quran.”
Cobalah berjalan-jalan di Palestina dan bergaul dengan orang Yahudi, Kristen, dan Islam yang berbahasa Arab, maka akan terdengar kata-kata itu diucapkan bersama oleh ketiganya, demikian juga dalam Al-Quran sudah disebutkan bahwa Nama ‘Allah’ diucapkan baik di gereja, sinagog, maupun mesjid (QS.22:40). Itu berarti nama itu sudah diucapkan di gereja dan dinagog jauh sebelum ada mesjid dibangun sekalipun dengan pengertian pengajaran yang berbeda.


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto:

Ini sangat jelas bahwa Anda merasa lebih tahu dan melancarkan tuduhan bahwa lawan diskusi Anda menderita “alergi. Akan kita buktikan siapa sesungguhnya yang “kurang tahu”.

Apa alasanya Anda memakai Al Quran sebagai dasar penyebutan Nama Sesembahan yang ada dalam Alkitab kita yang sesungguhnya bersumber primer dari Tenakh Yahudi.

Andaikata betul bahwa kata “Allah” telah dipakai oleh gereja Arab jauh sebelum Islam, dari mana Anda tahu bahwa kata “Allah” ini suatu kebenaran? Bagaimana jika sesungguhnya yang digunakan adalah “Al Ilah” sebagaimana terdapat dalam Inskripsi “Zabad” (tahun 512 Masehi) namun dipahami oleh Islam Arab sebagai “Allah” sebagaimana tercatat dalam Al Quran (QS.22:40)?

Bagaimana andaikata yang diucapkan oleh Gereja Arab tersebut adalah “Alah” (awas hanya lamed tunggal) yang mestinya “Elah” namun kedengaran oleh bahasa Arab sebagai “Aloh” dan kemudian dipahami oleh Islam sebagai “Allah”? Jika memang Gereja Arab sebelum Islam menggunakan term “Allah”, mengapa cara Anda membuktikan justru menunjuk pada Al Quran, dan sebaliknya tidak berusaha mencari peninggalan dari Gereja Arab itu sendiri?

Apakah memang Anda menaruhkan iman Anda pada keakuratan apa yang tertulis dalam Al Quran? Mengapa Anda hanya menerima begitu saja term “Allah” yang digunakan oleh Gereja Arab sebelum Islam (andaikata betul) tanpa melakukan “pengujian” atas dasar sumber primer yang kita miliki?

Bagaimana umpama saja Gereja Arab sebelum Islam sudah benar menyebut “Al Ilah” atau “Elah” dengan sengau yang sulit terbedakan dengan “Allah”yang dipahami pihak Islam, kemudian terdesak sehingga pemahaman Gereja Arab menjadi kacau dan akhirnya yang muncul adalah “Allah”?

Hal ini terjadi juga bagi umat kristen Indonesia, yang tidak menyadari adanya term TUHAN di samping Tuhan. Hampir tidak pernah ditemui publikasi kristiani Indonesia menuliskan TUHAN ketimbang Tuhan. Renungkan!! Anda, maaf, meskipun terpelajar nampaknya sangat kurang daya kritisi Anda.

Sudah saya ajukan argumentasi bahwa sebagaimana dalam Inskripsi “Zabad”, term “Bism Al-Ilah” (Arab) pastilah sejajar artinya dengan “Beshem Ha Elohim” (Ibrani), dan oleh karena “Ha Elohim” menunjuk YHWH, maka “Bism Al- Ilah” sesungguhnya menunjuk pada “Beshem YHWH”(Ibrani). Sdr. Herlianto, Apakah Anda belum pernah menemui term ini dalam Tenakh (OT)? Mari saya tunjukkan, meskipun saya tidak berlatarbelakang Teolog atau “kurang terpelajar” sebagaimana Anda tuduhkan, “comotan” ayat-ayat berikut:

1 Raja-Raja:

18:24, “And you shall call on the name of your gods and I (Eliyah) will call on the name of YHWH (BeShem YHWH), and the God (HaElohim) who answers by fire He (is) the God (HaElohim).”

18:32, “And he (Eliyah) built an altar with the stones in the name of YHWH (BeShem YHWH). “
22:16 “ And the king said to him, “How many times have I adjured you that you shall speak nothing to me but truth in the name of YHWH (BeShem YHWH),”

2 Raja-Raja:

2:24, “And he (Elisa) turned behind him and saw them and cursed them in the name of YHWH (BeShem YHWH). And came out …”
5:11, “And Naaman was angry ……, he (Elisa) shall come out surely, and stand and call on the name of YHWH- (BeShem YHWH), his Elohim, and wave his hand …”

Dalam Islam, “Al-Ilah” ini selalu dipahami menunjuk pada “Allah”, maka munculnya term “Bismillah” selalu diartikan “dalam nama Allah”.

Berikut adalah ayat-ayat yang memuat frase beshem YHWH dalam seluruh Alkitab menurut BibleWorks 6,
Beshem YHWH:
Kej. 4:26; 12:8 ; 13:4 ; 21:33; 26:25; Kel.33:19; 34:5; Ul. 18:5; 18:7; 18:22; 21:5; 1Sam.17:45; 20:42; 2Sam. 6:18; 1Raja.18:24; 18:32; 22:16; 2Raja.2:24; 5:11; 1Taw.16:2; 21:19; 2Taw. 18:15; 33:18; Mazm, 20:8; 118:10,11, 12, 26; 124:8; 129:8; Yesaya 48:1; 50:10; Yer. 11:21; 26:9,16, 20; 44:16; Yoel 3:5; Amos 6:10; Mikha 4:5; Zefaya 3:9, 12; Zakharia 13:3 (total ada 43 kali)


Pertanyaannya adalah, Anda mau mengikuti term“Bism Al-Ilah” (sebagaimana terdapat dalam Inskripsi Zabad, ataukah term “Bismillah” sebagaimana diyakini oleh Islam. Jika Anda menganggap bahwa keduanya sama dan kemudian artinya pun menunjuk pada “dalam nama Allah”, siapakah yang “salah kaprah”, Anda ataukah Pengagung YHWH?

Sekali lagi saya ingatkan dalam Alkitab Tenakh (OT) yang ada adalah “Beshem YHWH”.

Kesimpulan saya, Anda tidak hanya salah kaprah, melainkan “betul-betul salah”.

Oh, saudaraku Herli, Herli!! Agaknya Anda telalu terpesona akan produktivitas (tulisan) Anda dalam berbagai macam bidang, sehingga “lupa” tanpa menguji “keakuratan” tulisan Anda sendiri.

Dalam tanggapan terdahulu sudah saya buktikan anggapan Anda yang keliru bahwa kata sandang “Ha” tidak umum dipakai untuk Elohim. Saya mengajak Anda meneliti lanjut Lho, nyatanya sama sekali tidak Anda tanggapi; saya sudah mengumpulkan lagi, Lho, jumlahnya hingga sekitar 200 kali. Jika Anda benar-benar”tulus” mencari kebenaran Alkitab, mestinya Anda melayani ajakan saya, namun kenyataannya, No comment at all?[/i][/color]

Redaksi Yabina menulis:

(T–2) Bukankah ada tradisi dalam Yudaisme untuk ‘me-reverse’ nama ELOHIM dan menyebutkan dengan kata ganti hormat: “ADONAI” (literal: Tuanku) atau “Hashem” (literal: Sang Nama).

(J–2) Ada baiknya penanggap mempelajari lagi soal ‘Nama-Nama Allah,’ sebab yang di-reverse menjadi ADONAI itu BUKAN nama ELOHIM tetapi YHWH, karena nama ini ada masanya oleh sekelompok orang dalam pembuangan di Babil dianggap sangat suci sehingga haram untuk diucapkan. Demikian juga, ADONAI itu memiliki tiga arti bukan sekedar secara literal dimengerti sebagai ‘Tuanku.’ Adonai umumnya dimaksudkan sebagai: (1) Pengganti nama diri YHWH; (2) ‘Tuhan,’ sebutan untuk ‘YHWH’; dan (3) secara terbatas digunakan sebutan kehormatan ‘Tuan’ (juga ditujukan kepada raja atau pejabat). Dalam kitab Kejadian fasal 18, ada 10 kata YAHWEH dan 5 kata ADONAI, dalam penerjemahan ke bahasa Inggeris/Indonesia, Yahweh diterjemahkan sebagai LORD/TUHAN (ay.1,13,14,17,19,19,20,22,26,33), Adonai, 4 diterjemahkan sebagai sebutan untuk YHWH (Lord/Tuhan, ay.27,30,31,32) dan 1 diterjemahkan oleh LAI sebagai sebutan penghormatan (Tuanku, ay.3, yaitu ketika Abraham baru bertemu dengan ‘Malak Yahweh’ yang menjelma menjadi manusia dan ia belum sadar bahwa Malak Yahweh itu Tuhan sendiri).


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto:

Aha, tanggapan Anda memang betul, namun nampaknya Anda hanya “pamer” masalah ini; dan inipun Anda bagai kerbau dinyonyok hidungnya, alias “nurut” begitu saja tanpa mampu mengkritisi terjemahan LORD / the LORD untuk YHWH. Saya paham betul masalah ini dan tak mungkin saya mengajukan pertanyaan semacam ini; nampaknya Anda memang hanya mau mempostingkan hal-hal yang Anda nampak bisa menjawabnya. Saya ragu apakah Anda bisa membedakan kapan dipakai “the LORD” dan kapan dipakai “LORD” sebagai ganti “YHWH” dalam English Bible sejenis NIV.


Redaksi Yabina menulis:

(T–3) Apakah saudara berani mengirimkan artikel Bismillah ke milis Islam, coba kalau berani mengatakan didepan orang Islam bahwa kata Allah berasal dari kata Elohim Ibrani yang dalam bahasa Aramnya adalah Alaah, pasti saudara akan dilawan!

(J–3) Faktanya, artikel ‘Bismillah’ juga dikirimkan ke milis Islam namun tidak satupun ada tanggapan dari membernya. Apakah ini berarti bahwa member milis Islam itu lebih dewasa dalam mengerti sejarah bahasa dan bangsa Arab dan dengan rendah hati mengakui bahwa bahasa dan bangsa Arab itu sudah lebih dari satu milenium sudah ada sebelum kelahiran agama Islam, daripada beberapa member milis Kristen yang merasa lebih ‘Arab’ daripada orang Arab dan lebih ‘Yahudi’ daripada orang Yahudi? Sejauh ini penulis belum pernah sekalipun mendapat perlakuan kasar dari pihak Islam, namun sebaliknya dr. Suradi, tokoh gerakan yang anti nama Allah, malah mendapat ‘Fatwa Mati’ sehingga terpaksa hijrah ke mancanegara dan takut dihukum mati kalau pulang ke Indonesia.


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto:

Aha, Anda memang cakap “melempar batu sembunyi tangan”! Saya tidak begitu jelas Anda tujukan kepada siapa pernyataan Anda “lebih Arab daripada orang Arab dan lebih Yahudi daripada orang Yahudi”. Nampaknya justru lebih tepat Anda tujukan kepada Anda sendiri plus Sdr. Bambang Noorseno (yang juga melemparkan term sejenis). Andalah (juga Bmbang N) yang mendemonstrasikan Inskripsi “Al Ilah” dalam artikel “Bismillah” (juga Bmbang N dalam artikelnya di Salib.net). Anda sendirilah yang mendahului memamerkan informasi adanya 4 Alkitab Arabic yang konon tidak memuat “YHWH” melainkan “Allah”; namun setelah saya tanggapi dengan info dari P. Komar secara lengkap bunyi ayat arabicnya yang mengandung Yahwah dan bukan Allah melainkan al ilah, Anda lalu balik “memelintir” tuduhan milis Kristen yang merasa lebih Arab daripada orang Arab. Andalah yang justru mengikuti pemahaman orang Yahudi yang takut menyebut Nama YHWH dengan penggantinga Adonai (Tuhan) atau HaShem (Sang Nama) seperti halnya gereja Ortodoks (Bambang N), karena memang Anda sudah terlanjur alergi YHWH dan menderita “Allah manic”.

Anda cakap pula mencoba mengalihkan perhatian atas materi diskusi!! Anda menyeret lagi nama dr. Suradi atas “Fatwa Mati”. Baik saya tanggapi lanjut, namun perlu Anda ketahui bahwa saya benar-benar belum pernah bertemu dengan beliau; jadi jika ada unsur “pembelaan” sesungguhnya bukan karena nama beliau (maaf jika terbaca oleh dr. Suradi), melainkan demi esensi kebenaran kasus itu sendiri. Jika “Fatwa” ini adalah action yang diyakini “benar”, mengapa tidak dulu-dulu juga dilakukan terhadap Morey? Sdr. Herlianto, mana mungkin “nyawa” seseorang ditentukan oleh suatu “fatwa”, bukan suatu “pengadilan” jika memang kehidupan seseorang “menimbulkan” masalah? Memangnya apa “fatwa” mempunyai “hak” untuk “menciptakan” kehidupan-kematian?
Sdr. Herlianto, Anda benar-benar tidak mampu menyerap kasih Yesus-Yahshua yang sejati untuk masalah semacam ini . Sudah saya jelaskan bahwa “Fatwa” Mati” jelas-jelas melanggar HAM PBB (1948), apapun alasannya, dan tanggapan Anda jelas-jelas hanya sebatas membiarkan atau bahkan seolah-olah menyalahkan atau mencemooh pihak yang “terkena” fatwa. Dr. Suradi bukanlah “pengarang” “Allah sebagai nama tokoh dewa (air?) dst;” Anda tahu sendiri pengarangnya adalah Morey, dan masih ada yang lain lagi, bahkan tokoh muslim pun ada yang mengakuinya.

Siapakah orangnya yang “tidak takut ancaman mati?”. Coba saja Anda berbuat sesuatu yang menimbulkan “fatwa mati”, apa yang akan Anda lakukan? Hanya orang-orang yang memiliki karunia rohani “mati sahid” (menurut model Peter Wagner dalam “Karunia Roh untuk pertumbuhan Jemaat”) saja yang sanggup “diadili”.

(Harap tidak dibaca orang lain, kecuali Sdr. Herlianto pribadi). OK, saya cukup lama berpengalaman tinggal dalam persekutuan/gereja di Luar Negeri yang anggotanya banyak yang “ilegal”, dan mereka sungguh menderita “kecemasan, tertekan”, takut kalau-kalau tertangkap petugas Imigrasi any time, sebab tidak hanya deportasi yang dihadapi, melainkan juga “penjara”. Mereka terasa terisolasi, dan dalam persekutuan sesungguhnya mereka mendambakan “kebersamaan”. Perlu Anda ketahui, bahwa dalam kondisi semacam ini sangat memungkinkan “segala” macam tindakan apapun dianggap “halal” demi lolos dari kejaran petugas Imigrasi. Menghadapi yang demikian ini saya pun cukup bingung-sedih; memang tentu berusaha melindungi jika terjadi semacam penggeledahan, namun dalam persekutuan doa menjadi sulit karena memang perlu disadari bahwa posisi yang bersangkutan memang dalam “kegelapan” / “illegal”. Nah Sdr. Herlianto, coba silakan menanyai “anak Anda” yang sedang di rantauan dan jika mengalami peristiwa semacam ini, “penderitaan” semacam apa yang ia alami dan tindakan macam apa yang ia lakukan? Jika Anda” tidak mau tahu” maka tak pelak lagi bahwa Anda “bukan” seorang ayah yang paham akan penderitaan “anak”. Berdoalah secara khusus atas kondisi anak Anda saat ini ketimbang “menyeret” nama dr. Suradi, gara-gara Anda hanya mau melindungi diri karena kebingungan dalam berargumentasi. Saya sangat “happy” jika tulisan saya perihal “anak Anda”ini keliru, atau setidak-tidaknya saat ini kondisinya sudah “beres”. Saya mohon maaf jika terjadi kekeliruan dalam hal ini, karena saya tidak mengkonfirmasi langsung akurasi informasi yang saya terima, dan saya cukup prihatin jika informasi ini benar adanya.



Redaksi Yabina menulis:

(T–4) Bagi saya ‘Allah’ tidak sama dengan ‘Alaah.’ Elohim itu adalah gelar, saya kira belum terbukti bahwa Alaah terjemahan dari kata Elohim yang di’Arami’kan. Jika benarpun ditulis sebagai ‘Alaah’ bukan ‘Allah.’

(J–4) Bagi orang Arab, Aram, Yahudi yang tinggal di Palestina kedua istilah itu menunjuk hal yang sama. ‘Bashum Alaah (Beshum Elah, Aram) identik dengan ‘Bismi al-Ilah’ (Arab, lihat inskripsi Zabad, 512). Kita jangan terjerat konsep gramatik modern yang mempersempit istilah Allah menjadi ‘al-ilah’ karena bagi orang berbahasa Arab sebelum tatabahasa berkembang bagi mereka keduanya ucapannya sama, orang dulu ada yang menyebut kata dasarnya saja, tetapi ada juga yang menyebut dengan memberi penekanan dengan kata sandang. Ingat bahwa dalam artikel ‘Bismillah’ disebutkan bahwa Ezr.5:1 itu tulisan Ibraninya dan ejaannya (hla), sama dengan arti ‘sumpah’ Ibrani, padahal yang dimaksudkan adalah ‘Alaah Yisraaeel’ (ini bukan bahasa tulis tetapi ejaan dalam PC-Study Bible). Dalam Ezr.6:14 kalimat ‘Alaah Yisraaeel’ juga ada (ditulis dalam aksara Ibrani dimengerti dalam bahasa Aram) tetapi pada fasal yang sama (Ezr.6:21,22) yang ditulis dalam aksara dan dimengerti dalam bahasa Ibrani ada tertulis ‘Elohe Yisraaeel.’ Jadi, Alaah (Aram) sama dengan Elohim (Ibrani). Bagi orang brani kuno, El & Elohim bisa digunakan sebagai nama diri atau sebutan, namun memang El digunakan lebih banyak sebagai nama diri sedangkan Elohim lebih banyak digunakan sebagai sebutan dan bentuk jamak dari Eloah.


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto:

Aha; inilah letak salah kaprah yang benar-benar salah pada diri Anda “Alaah in term of Elah” is one thing, and “Allah” is another thing. Anda berusaha mengelabuhi dan memang mengaburkan kepada pihak lain / pembaca ya?. Orang seperti saya, harus waspada. Sdr. Herlianto, saya sedikit “bingung” mengikuti “kebingungan” atas pernyataan-pernyataan Anda di sini. Andalah yang mendemonstrasikan dan memepersempit dengan bahasa Arab bahwa “al ilah” menjadi “Allah”, dan saya membantahnya.



Redaksi Yabina menulis:

(T–5) Dengan kita menyebut ‘Bismillah’ apakah itu bukan berarti kita menganut faham Inklusivisme yang menganggap ‘Allah’ Agama-agama itu sama?

(J–5) Tidak juga, Allah dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam menunjuk pada oknum ‘El/Allah Abraham/Ibrahim’ yang sama namun ketiganya memiliki konsep pengajaran yang berbeda mengenai Allah yang sama itu (Ingat ritual Idul Adha). Kalau kita berbicara mengenai kesamaan oknum dari ketiga agama Samawi atau agama semitik itu, tentu berbeda halnya dengan faham kesatuan agama-agama yang dikenal sebagai ‘Inklusivisme.’ Setidaknya dalam dialog agama ada tiga konsep mengenai Tuhan, yaitu: (1) Tuhan Theisme (Dalam agama semitik dikenal sebagai Yahweh dan Allah), (2) Tuhan Monisme (mistik); dan (3) Tuhan ‘Non-Theisme’ (seperti dipercayai dalam Buddhisme). Jelas ketiganya menunjuk pada oknum-oknum yang berbeda, yang pertama menunjuk Tuhan yang berpribadi, yang kedua menunjuk Tuhan yang sekedar kekuatan semesta, dan yang ketiga menunjuk pada Tuhan yang ‘non-existence.’ Apalagi, kalau diperpanjang dengan konsep Tuhan ke-(4) yaitu ‘Demonisme/Diabolisme’ tentu makin berbeda. Mengakui kesamaan oknum Allah agama-agama Semitik jangan diperpanjang seakan-akan menyamakan dengan oknum Tuhan ‘Yang SATU’ dalam Inklusivisme.


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto:

Lihat tanggapan-tanggapan saya sebelumnya. “Allah” is associated with “Al-Ilah” in Islam, but “YHWH” associated with “Ha-Elohim” in Tenakh. Jadi “Allah” dan “YHWH” adalah “dua” nama (proper name) yang tidak berhubungan satu sama lain dalam arti “YHWH” bukanlah “Allah” dan sebaliknya.



Redaksi Yabina menulis:

(T–6) Sebutan istilah Ibrani untuk "demi nama Allah Israel" di Ezra 5:1 bukan "Bashum Alaah Yisraeel" sebagaimana diuraikan, melainkan: "Beshum Ela Yisrael." Sebutan istilah Ibrani untuk "Allah Israel" di Ezra 6:14 bukan "Alaah Yisraeel", melainkan: "Ela Yisrael."

(J–6) Masalah sebutan Alah atau Ela(h) bukan masalah prinsip karena keduanya variasi ejaan dan menunjuk pada istilah yang sama. Yang prinsip seperti dalam konteks artikel itu adalah bahwa kata tiga huruf alef-lamed-he (hla) itu bisa dibaca dengan pengertian ‘sumpah’ (1Raj.8:31;2Taw.6:22) tetapi kata yang sama juga menjadi kata dasar ‘eloah’ dan ‘elohim,’ dan bila dimengerti dengan pengertian bahasa aram bisa berarti elah/alah. Dalam Interlinear Bible - PC Study Bible, secara umum, memang kata itu ditulis ejaannya sebagai ‘elah’ seperti a.l. dalam Ezr.5:12;7:14,19,23;Dan.2:19,23,28,44,47;3:29;6:10,11,16,22, dan ‘elaha’ seperti a.l. dalam Ezr.4:24;5:2,5,8,13,14,15,16,17;6:3,5,7,8,12,16,17,18;7:16,17,18,24,25,26; Dan.3:17,28,29;4:2;5:18,21,26;6:20,23,26; Yer.10:11, namun secara khusus, ditulis dalam ejaan ‘alaah’ dalam Ezr.5:1,11;6:14; Dan.3:15;6:5,7,12. Ezr.5:1;6:14 dikaitkan dengan Israel dan dieja ‘Alaah Yisraa’eel’ sedangkan dalam Ezr.7:15 dieja ‘Elah Yisraa’eel.’ Ezr.5:1 dieja sebagai ‘Bashum Alaah Yisraa’eel.’


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto:

Sdr. Herlianto, tolong uraikan dengan detail penjelasan Interlinear Bible –PC Study Bible yang Anda pakai sebagai referensi, dengan konkordansi apa, dan dengan vowal-points bagaimana atau bahasanya apa, agar tidak mengaburkan pembaca?

Sejak awal saya selalu mencantumkan (nomor) konkordansi Strong. Nah pernyataan Anda ini (“pengejaan”):


namun secara khusus, ditulis dalam ejaan ‘alaah’ dalam Ezr.5:1,11;6:14; Dan.3:15;6:5,7,12. Ezr.5:1;6:14 dikaitkan dengan Israel dan dieja ‘Alaah Yisraa’eel’ sedangkan dalam Ezr.7:15 dieja ‘Elah Yisraa’eel.’ Ezr.5:1 dieja sebagai ‘Bashum Alaah Yisraa’eel.’

Menurut referensi berikut tidak benar!!!.

Alef-lamed-he dalam semua ayat tersebut di dalam Tenakh selalu dibaca elah;

Alef mendapat vowel-points she-vaw seg-ole, jadi terbaca ê as in mEt;

BShm, huruf B mendapat vowal-points she-vaw “e” as in avErage dan dagesh lene vocalized as "kurang cerdas", Kepath; dan Sh mendapat vowal-points kib-boots “u” as in fUll, jadi nampaknya terbaca BeShum, sehingga dalam Ezra 5:1, terbaca “Beshum Elah”, bukan “Bashum Alaah”. (Elah dengan nomor konkordansi Strong 426, dan Shem 8034).

Namun dalam Kitab 1,2 Raja-raja terbaca BeShem, sebab B mendapat vowal points yang sama seperti pada Ezra 5:1, sedangkan untuk Sh mendapat vowal points tsay-ray, ê as in thEy.

Tenakh yang saya baca adalah (1) Interlinear Greek-Hebrew-English (J.P. Green) yang Ibraninya diambil dari Masoretik Teks The British and Foreign Bible Society, 1866., dan saya uji dengan (2) Tenakh dari Alkitab terbitan LAI teks Ibrani Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS) terbitan Lembaga Alkitab Jerman 1990 dengan teks Bahasa Indonesia LAI terbitan 1974, yang dikeluarkan 1999. Hal ini saya lakukan because I have no” terpelajar” - theolog background at all, namun saya tidak ingin dikelabuhi oleh seseorang macam Anda. Oleh karena itu tolong silakan uji kembali dalam referensi Anda.


Redaksi Yabina menulis:

Kita perlu sadar bahwa ejaan ‘e’ dan ‘a’ itu dalam bahasa Aram sama karena merupakan variasi ejaan dialek yang berbeda, apalagi dalam naskah aslinya Ibrani belum ada tanda-tanda baca. Dalam seminar Lembaga Alkitab Indonesia yang membahas bahasa-bahasa Alkitab yang sering dihadiri, dalam seminar di Kinasih, Manuel Jinbachian dari United Bible Societies yang menjadi salah satu penerjemah Alkitab ke bahasa Arab mengatakan bahwa dalam Alkitab Peshitta (Aram-Siria), El/Elohim/Eloah biasa dibaca sebagai Elah/Elaha; Alah/Alaha; atau Aloh/Aloho tergantung dialek pembacanya (identik dengan Ilah/Allah Arab). Sebagai member milis ‘Palestinian Christian’ pernah soal ejaan Allah ditanyakan dan mendapat jawaban dari orang Arab Kristen yang mengatakan bahwa di Palestina ada puluhan ejaan untuk menyebut nama yang sama itu, dan baik umat Yahudi, Kristen maupun Islam yang berbahasa Arab mengejanya a.l. sebagai El, Eloah, Elohim, Ela, Elah, Ila, Ilah, Alo, Aloh, Ala, Alah dan berbagai ucapan lain yang mirip, namun dari konteks percakapan itu semua saling mengerti apa yang dimaksud.

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto:

Bagi saya juga tidak terlalu masalah jika “e” terbaca “a” dalam alef-lamed- he, oleh karena pengaruh logat; namun, Elah-Alaah, bukanlah “Allah” (double lamed). Anda jangan hanya “nekad” saja, tetapi buktikan bahwa “Allah” identik dengan Elohim. Saya telah mengajukan argumentasi lho, dan silakan membantah argumen yang saya ajukan. Jangan hanya bilang jika itu diucapkan ya saling dimengerti; ini sama sekali bukan argumentasi.

Yahweh Bless Us

Kristian H. Sugiyarto
Staf Pengajar Kimia, FMIPA, UNY
GKJ Demakijo, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com
HP. 08157935534
Oktober, 2005
Back to top
View user's profile
Display posts from previous:   
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index -> Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum



Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Hotline kami di 08883023916 bila Anda ingin info lebih lanjut mengenai pelayanan SALIBNET MINISTRIES atau bila Anda membutuhkan pelayanan kami.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.