Lanjutan
RY menulis:
Selama 26 abad (abad-5sM s/d 21M) sejak zaman Ezra/Daniel tidak ada masalah dengan terjemahan itu, dan dalam bahasa Indonesia sejak tahun 1629 terjemahan Alkitab bahasa Indonesia dengan sebutan Tuhan untuk Yahweh/Kurios dan Allah untuk El/Elohim/Eloah/Theos juga tidak mendatangkan masalah. Sejak kehadiran Islam penggunaan nama Allah oleh orang Yahudi, Kristen dan Arab dinegara-negara berbahasa Arab selama 15 abad sampai kini tidak pernah menjadi masalah. Masalah baru timbul belakangan ini ketika sekelompok pengagung nama ‘Yahweh’ memaksakan kehendak mereka menuntut semua nama TUHAN dalam Alkitab LAI diganti Yahweh dan nama Allah diganti karena dianggap nama dewa air/bulan, dan yang menyedihkan kelompok pengagung nama Yahwehlah yang kemudian memprovokasi kalangan fundamentalis Islam agar mendukung langkah mereka untuk melarang umat Kristen menggunakan nama Allah seperti yang terungkap dengan keluarnya Surat Mubaligh yang melarang umat Kristen menggunakan nama Allah, padahal umat Kristen sudah jauh lebih dahulu menggunakan nama itu.
Tanggapan K.H.S
Pernyataan Anda seperti ini sudah saya tanggapi namun tidak ada tanggapan balik dari Anda. Inilah hasilnya jika seseorang hanya “membebek” hasil terjemahan tanpa melakukan pengujian. Kita memiliki Alkitab asli Ibrani, dan bukan terjemahan Arablah yang dipakai sebagai sumber “kebenaran” untuk terjemahan ke dalam bahasa Indonesia. Ingat bahwa pandangan-pandangan yang kita bangun selama ini terjadi sebelum penemuan DSS (1947) yang publikasi gencarnya baru belakangan ini; keterlambatan informasi serta resistensi pandangan “lama” serta kurang responsifnya seseorang hanyalah memberikan produk semacam Anda ini.
Ezra/Daniel tidak pernah menggunakan kata “Allah” melainkan “Elah”; Anda saja yang nampaknya mengaburkan Eloah-Elah-Alah-Elaha-Alaha dengan Allah. Salah satu karakter yang tidak mau dikritisi (termasuk Anda) adalah menunjukkan respon dengan menganggap pihak lain sebagai pemaksa kehendak dan melancarkan tuduhan untuk mendukung argumentasinya; saya menyaksikan karakter-karakter semacam ini ada di Salib.net.
Tak satupun ada pihak yang memaksakan kehendak, melainkan kritik yang mestinya diakomodasi. Nampaknya Anda kurang berhasil menyerap ajaran kasih Yahshua-Yesus, dengan kesukaan menuduh pihak lain; Yang terdahulu Anda menuduh “pengagung YAHWEH” sebagai bidah saksi Yehowah, plus berpengetahuan dangkal dengan segala atribut negatifnya; dan sekarang melancarkan tuduhan ekstra “memprovokasi kalangan fundamentalis Islam...... .” Jelas Anda tidak memiliki “ketulusan” dalam menyediakan forum “diskusi” dalam Website Anda. Anda pun tidak mencerminkan watak kasih yang sejati. Jika Anda bertanggungjawab atas tuduhan Anda ini, tolong beberkan data yang Anda miliki bahwa kelompok “pengagung Yahweh” melakukan tindakan provokasi? Tolong, tunjukkan kepada saya bahwa “Surat Mubaligh” mengungkap keterlibatan “pengagung Yahweh”. Saya tunggu respon Anda!!!
Mungkin tiba saatnya sebagaimana Anda pernah menanyakan “roh” apa yang membimbing para pengagung Yahweh dan sudah saya jawab, namun tidak ada respon balik mengenai ini, saya balik bertanya dengan pertanyaan yang berasal dari Anda sebagai pengagung Allah. Sesungguhnya saya tidak tahu sama sekali siapa orangnya yang “pertanyaannya” Anda tanggapi ini, karena memang forum yang Anda sediakan bukanlah forum dua arah, melainkan sepihak saja, meskipun dengan embel-embel “diskusi” pada Website Anda.
RY menulis:
(T–3) Mengenai nama Tuhan, umat Islam berpendapat bahwa nama "Allah" adalah Nama Pribadi, bukan hanya sekedar sebutan dan Allah itu tidak beranak, diperanakkan, tidak pula memperanakkan. Marilah kita perhatikan kasus group band Dewa, mengapa FPI ngotot dengan tuntutannya? Karena mereka mempertahankan Nama Tuhan sesembahannya, yang tidak rela karena menurut FPI telah diperlakukan dengan tidak kudus oleh group band Dewa. Di Malaysia penggunaan nama Allah dalam Alkitab Kristen juga dilarang.
(J–3) Menyedihkan sekali sikap pengagung nama Yahweh yang mencari dalih kelompok fundamentalis Islam untuk menyalahkan umat Kristen dalam penggunaan nama Allah. Sikap ini mendua karena disatu sisi mereka melecehkan nama Allahnya Islam/Arab yang dianggap dewa air/bulan tetapi dipihak lain menggunakan konsep Islam mengenai Allah untuk mengadili konsep Kristen mengenai Allah. Kekeliruan konsep Islam mengenai ‘Allah yang beranak, diperanakkan, dan tidak pula memperanakkan’ seharusnya diluruskan dengan pengertian Kristen mengenai istilah ‘Anak (Allah)’ dan bukan sebaliknya. Fakta sejarah menunjukkan bahwa nama Allah sudah digunakan umat Kristen jauh sebelum ada agama Islam, bahkan sekuno abad-5sM kitab Ezra dan Daniel sudah menggunakan nama Elah/Alah untuk menyebut El/Elohim/Eloah. Nama El/Eloah/Elah/Alah/Ilah adalah sinonim El/Il Semitik yang berbeda dialek. Kata sandang seperti ‘the’ dalam bahasa Inggeris, dalam bahasa Aram disebut ‘ha’ dan diletakkan di belakang (Elaha/Alaha) dan dalam bahasa Arab ditulis ‘al’ dan diletakkan didepan (al-Ilah = Allah). Dalam bahasa Ibrani juga disebut ‘ha’ namun untuk menyebut nama Tuhan tidak lazim digunakan. Di Malaysia memang pernah ada kelompok fundamentalis Islam melarang penggunaaan nama Allah, namun fakta sejarah menunjukkan bahwa pada 1976 di Malaysia diterbitkan Alkitab Perjanjian Baru Bahasa Melayu (BM) dan Perjanjian Lama (1981) dan Alkitab BM lengkap (PL+PB) diterbitkan 1987 oleh ‘The Bible Society of Singapore, Malaysia and Brunei. Kemudian Alkitab BM itu disempurnakan sejak 1990 oleh The Bible Society of Malaysia, PB terbit 1995 dan PL terbit 1996, Alkitab Berita baik BM terbit 1996. Semua Alkitab ini menggunakan nama Allah untuk menerjemahkan El/Elohim/Eloah PL dan Theos PB.
Tanggapan K.H.S
Aha, Anda pun nampaknya lebih suka mengkreasi respon menjadi “salah”; menyedihkan pula Anda gagal menangkap esensi fakta tersebut. Saya tidak dalam rangka membelanya, dan inipun bukan dalih melainkan sebagai data bahwa yang dikemukakan tersebut memang menunjukkan bukti bahwa “Allah” adalah sebuah nama pribadi. Bahwa reaksinya negatif jelas tidak dibenarkan menurut HAM. Umat Kristen seperti saya pun sama sekali tidak terbeban untuk meluruskan pandangannya perihal “Allah”, karena memang “Allah” tidak ada padanannya dalam Alkitab Ibrani. Jika Anda merasa sebagai Pengagung “Allah” ya silakan saja. Adanya “perbedaan pandangan perihal kata “Allah” yang Anda tanggapi dengan istilah “melecehkan” menunjukkan bahwa Anda sama sekali tidak mampu menghayati “HAM” yang cikal-bakalnya sangat mungkin telah “ditanamkan” oleh Elohim Yahweh kepada Adam di taman Eden. Pandangan bahwa “Allah” itu dianggap berasal dari nama dewa dst. pada zaman Jahiliah, datang dari berbagai pihak; bahkan, inipun konon dikenalkan pula di Sekolah Teologia Kristen. Bahwa Anda kemudian menganggap hal ini suatu “pelecehan” hanyalah menunjukkan karakter Anda saja. Apakah Anda tidak baca pandangan teolog Barbara Thiering (Australia) dalam bukunya yang menyatakan bahwa Yesus itu beristri dan memiliki anak? Apakah kemudian Anda merasa bahwa ia melecehkan Anda atau umat Kristiani umumnya?
RY menulis:
(T–4) Umat Nasrani menyebut "Allah" bermasalah, karena dalam kekristenan ada istilah Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh dan Bunda Allah yang sebenarnya dalam Kitab Suci berbahasa asli, tidak pernah ada istilah itu semua dan Nama "Allah" tidak pernah ada dalam bahasa Ibrani.
(J–4) Perlu disadari bahwa dalam Alkitab Indonesia ada istilah Allah Bapa, Anak (Allah), dan Roh Kudus. Istilah Allah sudah ada dalam Kitab Suci berbahasa asli PL sebagai sinonim El/Elohim/Eloah dengan pengertian Aram. Istilah Allah ada dalam bahasa Ibrani yang terdiri 3 huruf akar kata yaitu Alef-Lamed-He (hla). Dalam PL akar kata itu bisa dimengerti sebagai ‘sumpah’(2Taw.6:22), tetapi itu bukan satu-satunya arti kata itu, sebab Alef-Lamed-He juga menjadi akar kata Elohim/Eloah. Dalam PL, Ezr.4:8 – 6:18;7:12-26 dan Dan.2:4b – 7:28 sekalipun ditulis dalam aksara Ibrani (hla) namun dibaca dalam dialek Aram, dan di situ akar kata Alef-Lamed-He dibaca Elah/Alah dalam dialek Aram. Pada Interlinear Bible dalam PC Study Bible, pada Ezr.5:1;16:4, akar kata Ibrani Alef-Lamed-He itu dibaca dalam dialek Aram sebagai ‘Alaah Yisraeel’ (dalam Ezr.6:21,22 akar kata yang sama dimengerti dalam dialek Ibrani sebagai ‘Elohe Yisraeel’), dan pada 6:9,10 & 7:21,23 dibaca ‘Alaah Shamaaya’ (Allah semesta langit)! Pada Dan.6:5 (ayat 6 dalam Alkitab LAI-TB), akar kata itu juga dibaca ‘Alaah’ dalam dialek Aram yang menunjuk pada ‘El’ Daniel. Dalam Dan.2:19,14 akar kata itu dibaca ‘Elah (Shamaya)’, dalam Dan.2:20 akar kata itu dibaca ‘Elaha,’ dan dalam Dan.2:47 dua akar kata di ayat itu dibaca ‘Elaha’ dan ‘Elah.’
Tanggapan K.H.S
Aha, semakin jelas Anda mau mengelabuhi pembaca ‘Alaah Shamaaya’ (Allah semesta langit). Anda mau menuntun pembaca dari Elah menjadi Alaah kemudian Allah. Menurut konkordance Strong nomor 426, dalam Ezra 5: 11, 12 ; 6: 9; 7:12, 21, 23 tertulis הּl'a? ’ělâhh, dan terbaca el-aw’ atau sering terbaca Elah (of Heaven); demikian juga dalam Dan.: 2:18,19, maupun di ayat-ayat lain yang tidak melibatkan “julukan Semesta Langit”; jika Anda lebih suka membaca “Alaah” barangkali selain karena pengaruh bahasa Arab, Anda memang punya tujuan menggiring ke arah ucapan Allah (semesta langit)
Inilah tipe orang yang bergengsi tinggi terlanjur mendarah daging “Allah” maniak. Tidak ada nabi dalam Alkitab yang tidak memanggil nama Yahweh; bahkan Yahshua-Yesus sendirilah yang memproklamasikan bahwa Yahweh Ia panggil sebagi BapaNya. Yoh. 6:32, “….. sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan BapaKu yang memberikan kamu roti …..” (Kel. 16:4, “Lalu berfirmanlah YHWH kepada Musa: ‘Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; …”)
Perihal istilah “Allah Bapa”, mari kita tinjau secara kebahasaan, bukan makna Teologi. Namun saya ingatkan sebelumnya, jika saya tidak keliru, dalam Alkitab tidak ditemui frase dua nama sebutan berjejeran. Jika “Allah” Anda pertimbangkan sebagai nama generik/sebutan, sementara “Bapa” juga sebutan, berarti “Allah Bapa” dua-duanya sebutan, dan ini tidak pernah saya temui; namun, tidak masalah jika Anda menuliskan “Allah Bapa kita”, “Elohim Bapa kita”; bandingkan dengan frase “Presiden Kepala Negara kita”. Jika “Allah” Anda pertimbangkan sebagai nama diri, maka susunannya menjadi terbalik yang mestinya “Bapa Allah”, analog dengan “Bapak Herlianto”, “Bapa Yahweh”, dst.
Makna Teologis, “Allah” tidak dikenal padanannya; yang ada adalah Elohim Bapa kita, lebih sering Yahweh adalah Bapa kita, Yes 64: 8 : “.. ya YHWH, Engkaulah Bapa kami, Ul.32:6: terhadap YHWH, hai bangsa (Israel) yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu;
Bandingkan dengan terjemahan LAI, TUHAN Allah, (Kej. 2: 4, 5, 7, 8, 9, 15, 16, 18, 19, 21 (2x), 22; 3: 1, 8 (2x), 9, 13, 14, 21, 22, 23); Dalam hal ini TUHAN dianggap nama diri (pengganti YHWH) dan Allah (Elohim) sebagai “gelar” jika dibandingkan dengan “SBY Presiden” ya bisa-bisa saja, tetapi konotasinya ada SBY yang bukan Presiden, atau adakah TUHAN yang bukan Allah?; padahal kita tahu bahwa hanya ada satu nama bagi “Allah” (tepatnya Elohim) yakni “TUHAN” (tepatnya YHWH); jadi mestinya Elohim YHWH. Lain hal nya dengan “Tuhan ALLAH” (tepatnya Tuhan YHWH atau Adonai YHWH) artinya pasti ada nama ALLAH yang punya kedudukan Tuhan. Itulah sebabnya ketika pengkotbah mengucapkan frase “tuhan allah” model LAI, mana ini yang dimaksudkan, “TUHAN Allah” atau “Tuhan ALLAH” atau “TUHAN ALLAH” (Yah Yahweh)?
RY menulis:
(T–5) Lembaga Alkitab Indonesia kurang tepat dalam menyajikan Kitab Suci bagi umat Nasrani, yaitu telah menerjemahkan "Nama Pribadi" menjadi "Sebutan", dan itu telah berlangsung cukup lama, sehingga menimbulkan kerancuan dan menyebabkan umat Nasrani di Indonesia banyak yang "tidak mengenal" nama Tuhannya sendiri dan akhirnya menimbulkan kontradiksi antara ayat satu dengan yang lainnya. Kata Tuhan itu merupakan sebutan dan kata Allah itu nama diri sesembahannya umat Islam. Terjemahan LAI tidak bebas dari kesalahan terbukti bahwa telah berkali-kali direvisi.
(J–5) Lembaga Alkitab Indonesia tepat dalam penerjemahan, yaitu sesuai yang dimaksudkan oleh penulis Alkitab. Kita harus sadar bahwa sekalipun jelas nama Yahweh adalah nama diri, Nama El/Elohim/Eloah bisa juga sebagai nama diri. Umumnya El dimaksud sebagai nama diri (band. El Elohe Yisrael dalam Kej.33:20 dengan Yahweh Elohe Yisrael dalam Kel.32:27;Yos.8:30), tetapi El juga dimengerti sebagai nama sebutan. Sekalipun Elohim lebih banyak dipakai sebagai sebutan dalam bentuk jamak, Elohim juga sewaktu-waktu dipakai sebagai nama diri Tuhan, sedangkan Eloah adalah bentuk tunggalnya Elohim. Penerjemahan LAI justru tepat menerjemahkan Kej.33:20 sebagai ‘Allah Israel adalah Allah’ (Allah pertama menunjuk sebutan sesembahan Israel sedangkan Allah kedua adalah nama diri sesembahan itu).
Tanggapan K.H.S
Anda semakin “serampangan” saja, tidak mampu membedakan “nama diri plus proper noun” dengan “nama generik atau common noun”. Anda semakin tidak mampu memahami makna ayat-ayat Alkitab berkaitan dengan term appelation (sebutan/panggilan). El itu arti aslinya “Yang Kuat”-(al)mighty, “Elohim” itu “sebutan untuk sesembahan”. Berdasarkan pengalaman bangsa Israel, ternyata Elohim mempunyai sifat El, maka El adalah Elohim-nya. Oleh karena itu bangsa Israel memanggil “Yang Kuat” sebagai “Sesembahan” (yang tidak lain bernamaYahweh). Jadi yang dimaksud El-Elohim oleh bangsa Israel itu tidak lain ya Yahweh; ini bukan berarti El-Elohim menjadi nama diri!!! Alangkah kacaunya jalan pikiran Anda. Bandingkan dengan pernyataan ini: “Kepala Negara” RI adalah “Presiden”; Susilo BY adalah “Kepala Negara” RI, atau Susilo BY adalah “Presiden” RI; hanya orang yang “kebingungan” sajalah yang menganggap bahwa “Presiden dan Kepala Negara” mengandung nama diri. Jadi, Allah, ALLAH,TUHAN, ketiganya nama diri?? Alangkah “kacaunya” Anda ini??? Pantas saja Anda tidak mampu melihat kekacauan terjemahan LAI, perihal: Allah, ALLAH, Tuhan, TUHAN, TUHAN ALLAH, Tuhan ALLAH, Tuhan Allah.
Ibraninya Kej 33:20, El, Elohe Yisrael. El (konkordansi no 410), mengandung makna, strength , dan berarti “great, mighty one, God”) Elohe bentukan dari kata Elohim (konkordansi no. 430) dengan akhiran kepemilikan (Israel), yang berarti “of the supreme God. Jika kita tidak ingin menerjemahkan istilah untuk sesembahan dalam kasus “khusus” ini, maka terjemahan yang lurus adalah, “El, adalah Elohim Israel”; KJV menerjemahkan “El, Elohe Israel, demikian juga NIV namun dengan catatan kaki, dapat berarti “God, the God of Israel”, sementara itu terjemahan literal J.P. Green, “El, the God of Israel”; di sini kita dapat melihat keterbatasannya bahasa Inggris, baik El maupun Elohim keduanya diterjemahkan God. Dalam kasus umum bisa-bisa saja, tetapi dalam kasus khusus yang memperbandingkan antar keduanya sebaiknya El tidak diterjemahkan. Dan nampaknya LAI lebih suka meniru NIV.
Jika El/Elohim/Eloah juga sebagai nama diri, mana ada bentukan kata Elohim-ku/mu/kita? Mana ada nama diri bisa didahului definite article “the” / “ha”. Apa barangkali Anda tidak pernah mengidentifikasi adanya Ha-El, Ha-Elohim? Anda kan tidak suka main comot? Periksalah seluruh Alkitab. Hanya Yahweh sajalah sebagai nama diri, tidak pernah ada “ha-Yahweh”. Jika, maaf, Herlianto sebagai nama diri, apa ada pihaknya yang menyebutnya Herlianto-ku, Herlianto-mu, Herlianto-kita? Hanya orang nekad yang mau menang sendiri dan memaksakan kehendak sajalah yang melakukannya (tetapi, jika memang ada demikian artinya ada lebih dari satu nama Herlianto). Saya ingatkan sekali lagi tolong buktikan dengan penerapan tatabahasa yang benar bahwa “Allah” (ingat dalam bahasa Arab) bisa nama diri sekaligus nama sebutan, dengan masing-masing mengacu sifat-sifat nama diri dan nama sebutan.
RY menulis:
Justru penerjemahan pengagung nama Yahweh rancu. Bayangkan ‘El Elohe Israel’ (Kej.33:20) diterjemahkan ‘Eloim Israel adalah Eloim’ (Kitab Suci Torat dan Injil) dengan pengertian ‘eloim’ itu sebutan bukan nama diri! Dalam Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan diterjemahkan ‘Yang Mahatinggi, Tuhannya Israel.’ (El nama diri diterjemahkan Yang Maha Tinggi dan Elohe diterjemahkan Tuhannya). Kalau KSTI rancu karena mendikotomikan Yahweh dengan El/Elohim/Eloah, maka KSUPT yang juga mendikotomikan keduanya rancu karena Adonai disebut Tuhan dan El/Elohim/Eloah juga diterjemahkan Tuhan (Dalam Kej.18:27,30,31,32, Adonai diterjemahkan Tuhan). LAI, mendasarkan diri pada pernyataan Alkitab bahwa El sinonim Yahweh maka ada kasus-kasus khusus dimana keduanya dipertukarkan untuk memperjelas, misalnya ‘Yahwe, Adonai’ diterjemahkan ‘TUHAN, Tuhan’ (Yos.3:13). Sekalipun Adonai merupakan sebutan, tetapi untuk menghindari pengulangan kalau keduanya disatukan, maka ‘Adonai Yahweh’ diterjemahkan sebagai Tuhan ALLAH (Yeh.7:2) dan ‘Yah Yahweh’ sebagai TUHAN ALLAH (Yes.12:12). Adakalanya ‘Adonai’ (Tuhan) menggantikan nama diri Yahweh (Yes.6:1,8; Mi.4:13; Za.4:14;6:5), penggantian mana dapat dimaklumi karena dalam penulisan dan penyalinan Kitab Suci sesudah pembuangan nama diri Yahweh banyak diganti Adonai tetapi sebelum Musa nama diri El banyak diganti Yahweh. Anggapan bahwa istilah ‘Tuhan’ adalah sebutan dan ‘Allah’ itu nama diri Tuhannya Islam, adalah pembatasan sempit karena keterbatasan nalar para pengagung nama Yahweh sendiri. Kita seharusnya bisa membuka diri dan keluar dari benteng-benteng pertahanan kita agar mengerti bahwa pengertian secara bahasa lebih luas daripada pembatasan kita seperti pengertian El/Elohim/Eloah di atas. Bahwa terjemahan LAI tidak bebas dari kesalahan dan direvisi dapat dimaklumi karena pengertian bahasa itu berkembang, justru menyedihkan kalau pengagung nama Yahweh menjiplak apa yang dianggapnya ‘salah’ dengan hanya mengganti nama-nama tertentu dalam Alkitab dan kemudian menganggap Kitab Suci jiplakan (KSTI dan KSUPT) sebagai satu-satunya yang ‘benar’ (KSTI dan KSUPT dalam banyak hal berbeda sekalipun mengacu pada terjemahan LAI yang sama).
Tanggapan K.H.S
Aha, Anda memang tidak mempunyai pegangan sebagai standar. Periksa saja apa itu arti El dalam konkordansi Strong; jika Anda berpandangan El sebagai nama diri silakan publikasikan pandangan Anda agar ketahuan kualitas pemahaman Anda. Pada dasarnya dalil terjemahan adalah bahwa istilah atau term panggilan untuk Sang Pencipta memang bisa saja diterjemahkan sepanjang itu nama generik (common noun), sebutan, maupun gelar; tetapi satu hal yang tidak boleh diterjemahkan melainkan di-transilerasi adalah “nama”pribadi, baik itu nama orang terlebih nama Sang Pencipta (proper name). Sayang saya tidak terlibat dalam terjemahan Alkitab yang Anda maksudkan. Tetapi, saya melihat semangat KSTI-KSUPT akan kerinduannya yang luar biasa untuk memanggil nama Yahweh, sebagaimana yang Dia kehendaki dan dilakukan pula oleh para nabi sesuai dengan kesaksian Alkitab; hanya itu!!!! Namun, jelas bahwa terjemahan LAI jauh lebih “menyesatkan” sebab mengganti nama YH YHWH semaunya saja menjadi TUHAN ALLAH (mengapa bukan ALLAH TUHAN, jika ingin mempertahankan YHWH = TUHAN); nampaknya seperti “mainan” saja. Bagaimana jika ada tertulis, “Oh, Sugi Sugiyarto .....”atau Oh, Herli Herlianto...”, mau Anda terjemahkan apa? Begitu juga, Oh, Sugi Sugi .., Oh Herli Herli....? (Sugi adalah panggilan nama saya di lingkungan asal saya, dan Sugiyarto nama lengkap saya).
Perhatikan terjemahan LAI berikut ini.
Yes. 26: 4, “Percayalah kepada TUHAN (Yahweh) selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH ( יהוה יה= Yah Yahweh) adalah gunung batu yang kekal”. Jadi, dalam hal ini Yah diterjemahkan TUHAN dan YHWH diterjemahkan ALLAH.
Yes. 38:11, “I said, ‘I shall not see Yah Yah (יה יה) in the land of the living; …’” (KJV-J. P. Green) bandingkan dengan terjemahan LAI: “Aku berkata, ‘aku tidak akan melihat TUHAN lagi di negeri orang-orang yang hidup;….’”. Jadi, dalam hal ini Yah Yah dilebur, diterjemahkan TUHAN. Sungguh “ANEH TAPI NYATA” alias OPO TUMON (bahasa Jawa) atas hasil terjemahan sekaliber LAI.
Jika LAI setuju apa yang diterangkan oleh Sdr. Herlianto tersebut, maka jelaslah bagi saya bahwa keduanya persis memiliki sifat “kekacauan” yang sama, “kebingungan” yang sama; atau setidak-tidaknya terjemahan LAI berhasil “membingungkan” warganya. Tentu saja karena sama-sama “bingungnya”, sama-sama “kacaunya”, masing-masing tidak lagi menyadari kebingungannya atau kekacauannya itu. Mengapa ini bisa terjadi? Nampaknya jawabannya hanyalah karena “kekerasan hati”, “gengsi” yang sangat tinggi sedemikian sehingga lebih baik “mempertahankan kekacauan terjemahan”, toh sudah mendarah daging dan tidak banyak yang protes, ketimbang mengakui kritik “pengagung Yahweh”. Terjemahan yang “lurus” sebenarnya sangat-sangat sederhana, tidak memerlukan “keahlian” sekaliber LAI. Andaikata sepakat,
(1) YHWH = Yahweh; YH = Yah; dan
(2a) Adon = Tuan; Adonai = Tuhan; dan El- Eloah- Elohim-Elah-Elahin =“Elohim”, atau
(2b) Adon =Adonai = Tuan; dan El- Eloah- Elohim-Elah-Elahin = Tuhan (kecuali kasus khusus),
maka tidak akan menjumpai “kekacauan” sebagaimana Alkitab-LAI (catatan: dalam bahasa Indonesia, jika menjumpai kata-kata khusus “tunggal” dan “jamak” maka hanya salah satu saja yang dipilih, biasanya yang jamak)
RY menulis:
Kita bersyukur dengan kehadiran Lembaga Alkitab Indonesia yang telah menjadi berkat dan menyampaikan firman Tuhan kepada orang Indonesia sehingga banyak yang bertobat dan memasuki hidup penuh kedamaian, kesejahteraan, dan kasih. Mempelajari firman Tuhan dari terjemahan LAI sudah terbukti menjadi berkat bagi banyak orang daripada terjemahan-terjemahan jiplakan yang menghasilkan perbantahan yang entah para pembacanya mau dibawa kemana.
Tanggapan K.H.S
Saya tidak pernah mempermasalahkan kehadiran LAI yang menjadi berkat, harap berwawasan jernih; yang dipermasalahkan adalah akurasi terjemahan, itupun hanya perihal sebutan dan nama pribadi Sang Pencipta. Ada seorang pendeta yang sangat senior (dalam arti umur pula) dari suatu gereja yang cukup besar; kehadirannya tentu menjadi berkat jemaatnya; ehh, mendadak bak guntur di siang bolong, ketahuan bahwa sang pendeta ini menyimpan isteri kedua (juga sudah tua) yang ternyata sudah berlangsung cukup lama (hampir puluhan tahun); pertanyaan saya, bagaimana komentar Anda perihal “berkat” yang dibawanya? Sebaliknya jika Belanda menjajah Indonesia kemudian kita pandang menjadi berkat oleh karena diboncengi pemberitaan Injil, maka bukan berarti kita harus tetap menerima posisi Belanda sebagi penjajah gara-gara telah menjadi berkat. Ini bukan berarti saya menyamakan LAI dengan sang Pendeta atau Belanda, tetapi menawarkan pola wacana yang serupa dan perlu disikapi; oleh karena itu tolong jangan coba-coba mengalihkan materi diskusi kalau tidak mau disebut mau mengkambinghitamkan biar mendapat dukungan. Hal yang sama pun berlaku seperti Protestan-Luther dengan Gereja Katolik; mana yang Anda nilai kehadirannya menjadi berkat??? Yang perlu kita sadari adalah jangan mengira bahwa sekali menjadi berkat akan bebas dari kekeliruan; mesti harus membenahi diri terus menerus agar fungsi menjadi berkat dapat terus dipertahankan. Jangan mengira bahwa kehadiran Apotek selalu menjadi berkat karena penyediaan obat-obatan di sana; ia akan menjadi sumber racun jika asal melayani kekeliruan “obat” tanpa kontrol.
RY menulis:
(T–6) Tetapi, bagaimana dengan ayat-ayat yang menyebut: “Inilah Namaku untuk selama-lamanya” (Kel.3:15); ucapan berkat: "Pertolongan kita adalah dalam nama YAHWEH" (Mzm.124:8); "Aku ini YAHWEH, itulah nama-Ku" (Yes.42:8); dan "NamaKu YAHWEH" (Yer.16:21)?
(J–6) Orang yang terpelajar seharusnya tidak membaca ayat-ayat secara harfiah dan textual yang dicomot dari konteksnya, ini merupakan kebiasaan para pengagung nama Yahweh termasuk tulisan Robert Morey yang menghasilkan kesimpulan yang tidak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh penulis yang tulisannya di kutip sepotong itu. Kita harus sadar bahwa sekalipun ada ayat-ayat yang berbunyi seperti di atas, fakta menunjukkan bahwa sebelum Musa hanya nama El yang dikenal dan baru pada masa Musa nama Yahweh diperkenalkan (Kel.6:1-2, lihat artikel ‘Nama Allah’ sebelumnya). Sekalipun nama Yahweh sudah diperkenalkan, nama El juga masih tetap digunakan dalam PL sesudah Musa. Dalam kitab Ayub, 50 kali El digunakan sebagai nama diri, dalam Mzm.43-83, lima belas kali El disebut sebagai nama diri, dan dalam Mzm.78, enam kali El disebut sebagai nama diri untuk menyebut Yahweh. Dengan meningkatnya kepercayaan akan kesucian nama Yahweh yang tidak boleh disebut sembarangan selama pembuangan di Babel, penggunaan nama ‘El’ sebagai nama diri Tuhan meningkat kembali. Sesudah pembuangan di Babel, ‘El’ masih tetap dipakai sebagai nama diri bahkan dalam kaitan keesaan, seperti dalam kitab Yesaya (40:18;43:10-12;45:14). Pada abad-3-2sM, Tenakh diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dimana Yahweh diterjemahkan menjadi Kurios dan El/Elohim/Eloah diterjemahkan menjadi Theos. Tidak ada bukti ayat PL maupun PB yang menunjukkan bahwa Allah Bapa marah atas penerjemahan itu, bahkan Yesus membaca Luk.4:18-19 dari Septuaginta, demikian juga di hari Pentakosta Roh Kudus sendiri mengilhami para Rasul sehingga mereka dapat berkotbah dalam bahasa-bahasa pendengar maka tentulah nama Yahweh/Kurios dan El/Theos diucapkan dalam bahasa-bahasa pendengar juga (lihat (J-2)). Maka kalau Allah Bapa, Anak (Allah) dan Roh Kudus sendiri merestui penerjemahan nama mereka, ayat-ayat mengenai nama Yahweh yang dipertanyakan tentulah memiliki pengertian bahwa yang dikehendaki Allah bukan pengucapan huruf-huruf nama itu yang penting tetapi hakekat atau apa yang tersirat dalam nama itu yang kekal dan mulia. Kalau Allah sendiri tidak berkeberatan namanya diterjemahkan asalkan tetap digunakan dalam konteks hakekat yang dikandungnya, maka kita tidak perlu dibingungkan oleh mereka yang seakan-akan yang memberi dan memiliki Nama itu dan merasa bahwa merekalah satu-satunya yang berhak mengatas-namakan Nama itu.
Salam kasih dari Redaksi
Tanggapan K.H.S
Aha, analisis Anda memang semakin “kacau-balau”, tidak lagi mampu membedakan nama diri dengan nama generik, bahkan menganggap penanggap main comot ayat-ayat yang sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa Yahweh adalah nama-Nya. Inilah tipe orang yang sudah “ketagihan” nama “Allah” yang sama sekali tidak dikenal dalam Alkitab asli Ibrani. Nama Yahweh justru disebut mulai dari awal Alkitab (Kejadian) hingga akhir Alkitab (Tawarih menurut Tenakh maupun Maleakhi menurut Masoretik OT). “Allah” yang tidak ada dalam sumber primernya saja Anda pertahankan sedemikian nekadnya plus berbagai tuduhan; bagaimana mungkin pengagung Yahweh yang menunjukkan sumber aslinya dianggap main comot?? Memangnya hanya Andakah yang paling “bisa” memahami Alkitab?
Lagi-lagi Anda mau mengelabuhi pembaca; Anda mementingkan hakikat nama, tetapi mengabaikan huruf-huruf nama ybs. Nama itu berbunyi jika ada hurufnya. Huruf ganti, nama tentu ganti dan konsekuensinya hakikat juga ganti; memangnya apa kita bisa mengganti huruf dan nama dengn hakikat yang tetap sama? Jika hanya sekedar ganti nama Yahweh diganti Allah, tentu saja hakikat nya tetap tak berubah tetapi hanya pindah saja dari Yahweh ke Allah. Bisakah kita menggantinya dengan nama baru? Tentu hakikatnya ya tetap saja kecuali “nama” itu sendiri. Namun pertanyaannya kemudian adalah, begitukah cara Anda menghormati Sang Pencipta yang tertulis dengan nama pribadi YHWH? Memang ada kultur yang tidak terlalu peduli perihal “nama” dalam arti “nama” tidak memiliki makna atau pesan apapun; tetapi tidak demikian bagi kultur Yahudi. Untuk itu mari kita pakai pathokan arti nama menurut orang Yahudi saat itu, yang tercatat dalam Konkordansi Strong. Nama dalam bahasa Ibraninya adalah “shem”; kata ini hampir sekitar 1000 kali termuat dalam Alkitab Ibrani. Menurut konkordansi Strong-8034 “shem” berarti: “a primitive word [perhaps rather from 7760 through the idea of definite and conspious position; compare 8064]; an appelletion, as a mark or memorial of individuality; by implication honor, authority, character:-+ base [in-] fame[mous], name[-d], renown, report. Jadi jelas bahwa, “shem” adalah “suatu sebutan atau panggilan, sebagai tanda atau peringatan pribadi, dengan implikasi kehormatan, kewenangan, karakter.
Inilah batasan “shem” untuk kultur Ibrani, yang tegas-tegas mencerminkan karakteristik tertentu; “sebutan atau panggilan” sebagai peringatan ini dalam sejarah peradaban manusia maju dinyatakan dengan huruf-huruf tertentu yang menghasilkan bunyi yang khas. Pengubahan “bunyi” dipahami mengubah hakikat nama itu sendiri!!
Alkitab memberi kesaksian adanya nama-nama “elohim” dari berbagai bangsa di sekeliling bangsa Israel, dan “Yahweh” adalah nama Elohim yang diakui secara nasional oleh bangsa Israel (walaupun jauh sebelumnya sudah disebut oleh Enoch) yang mengenalkan diri sebagai Sang Pencipta dengan segala karakterNya. Jadi jika seseorang mengakui adanya Sang Pencipta dengan “nama” lain, pastilah bukan Yahweh yang dimaksudkan. Demikian juga jika seseorang mengakui implikasi yang sama dari Yahweh tetapi menolak “panggilan” yang Dia kenalkan kepada manusia sebagai “nama”-Nya, ia sedang mempersekutukan sebuah nama lain dengan Dia (Yahweh). Terlebih-lebih jika pilihan nama lain ini dipahami sebagai “Elohim / Ilah” bangsa lain yang mempunyai “implikasi” yang berbeda seperti “Allah” misalnya. Untuk apa manusia mau mempersekutukan sebuah nama dengan nama Yahweh yang oleh Yahshua-Yesus dipanggil sebagai Bapa?
Yahweh Bless Us
Kristian H. Sugiyarto
Staf Pengajar Kimia, FMIPA, UNY
GKJ Demakijo, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com
HP. 08157935534
|