 Welcome Anonymous
Membership:
 Latest: agus.soetopo
 New Today: 0
 New Yesterday: 0
 Overall: 1525
People Online:
 Members: 0
 Visitors: 1
 Bots: 2
 Staff: 0
Staff Online:No staff members are online!
Last 10 Forum Messages
We have received 5087009page views since April 2004
Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!
|
| Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Kontroversi Perjanjian Baru Lanjutan | |
Kontroversi Perjanjian Baru LanjutanBila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
| View previous topic :: View next topic |
| Author |
Message |
Sugiyarto Newbie


Joined: Nov 26, 2004 Posts: 148
|
Posted: Tue Jul 26, 2005 10:26 am Post subject: Kontroversi Perjanjian Baru Lanjutan |
|
2. Berikut saya tampilkan berbagai komentar terkait dari “para Bapak Gereja”
www.earlychristianwrit...s-ogg.html
Early Christian Writings
The Gospel of the Nazoreans
The following selection is excerpted from Ron Cameron's The Other Gospels: Non-Canonical Gospel Texts (Philadelphia: The Westminster Press, 1982), pp. 99-102. Philipp Vielhauer and George Ogg of New Testament Apocrypha originally made the translation.
(1) To these (citations in which Matthew follows not the Septuagint but the Hebrew original text) belong the two: "Out of Egypt have I called my son" and "For he shall be called a Nazaraean." (Jerome, De viris inlustribus 3)
(2) In the so-called Gospel according to the Hebrews instead of "essential to existence" I found "mahar," which means "of tomorrow, so that the sense is: "Our bread of tomorrow" - that is, of the future - "give us this day." (Jerome, Commentary on Matthew 1 [on Matthew 6:11])
(3) In the Gospel which the Nazarenes and the Ebionites use, which we have recently translated out of Hebrew into Greek, and which is called by most people the authentic (Gospel) of Matthew, the man who had the withered hand is described as a mason who pleaded for help in the following words: "I was a mason and earned (my) livelihood with (my) hands; I beseech thee, Jesus, to restore me to my health that I may not with ignominy have to beg for my bread." (Jerome, Commentary on Matthew 2 [on Matthew 12:13])
(4) But since the Gospel (written) in Hebrew characters which has come into our hands enters the threat not against the man who had hid (the talent), but against him who had lived dissolutely - for he (the master) had three servants: one who squandered his master's substance with harlots and flute-girls, one who multiplied the gain, and one who hid the talent; and accordingly one was accepted (with joy), another merely rebuked, and another cast into prison - I wonder whether in Matthew the threat which is uttered after the word against the man who did nothing may not refer to him, but by epanalepsis to the first who had feasted and drunk with the drunken. (Eusebius, Theophania 22 [on Matthew 25:14-15])
(5) Barabbas. . . is interpreted in the so-called Gospel according to the Hebrews as "son of their teacher." (Jerome, Commentary on Matthew 4 [on Matthew 27:16])
(6) But in the Gospel which is written in Hebrew characters we read not that the veil of the temple was rent, but that the lintel of the temple of wondrous size collapsed. (Jerome, Epistula ad Hedybiam 120.8)
(e). Josephus
Josephus (sejarahwan Yahudi, 37-100 C.E) dalam bukunya “Antiquities of the Jews” sering menggunakan kata-kata Ibrani demikian juga Aramaik; namun, para penganut teori Aramaik (termasuk Sdr. Herlianto) jika menjumpai kata Ibrani “selalu” yang dimaksudkan adalah Aramik. Pandangan ini ditentang oleh Grintz. J. M (dalam Journal of Biblical Literature, 1960, 32-47) dengan mengemukakan pernyataan:
“ An investigation into writings of Josephus demonstrates beyond doubt that whenever Josephus mentions Hebrew tongue (glotta Ebraion), Hebrew dialect (Ebraion dialekton), etc., he always means “Hebrew” and no other language” (Grintz, 1960:42). Dua contoh gemilang ditunjukkan berikut ini:
(1) Josephus menulis: “ ….. whence it is that we Celebrate a rest from our labors on that day, and call it the Sabbath (Sabbata), which word denotes rest in the Hebrew tongue (Ebraion dialekton).” (Antiquities, I, I, 1).
Dalam contoh ini Grintz menyimpulkan bahwa Josephus menuliskan kata Sabbata dari kata Ibrani “SHBT” yang sesuai dengan yang terdapat dalam Kitab Suci Ibrani (menurut konkordansi Strong no 7673, SBTH). Dalam bahasa Aramaik, kata kerja “SHBT” tidak ada melainkan “NCH”.
(2) Josephus menulis: “….This man was called Adam, which in the Hebrew tongue (glotta Ebraion) signifies one that is red,…” (Antiquities, I, I, 2).
Dalam contoh ini Grintz menyimpulkan bahwa Josephus menuliskan kata Adam (ADM, artinya manusia-man, no. 120) dari bahasa Ibrani “adom” (merah-red, no. 122) yang artinya merah; sementara itu kata “merah” dalam bahasa Aramaik adalah “sumka”, dan tidak ada akar kata “ADM”
Dengan demikian pandangan bahwa pada zaman Y’Shua bahasa Ibrani telah mati dan digantikan Aramaik kecuali untuk keperluan tulis Religius hanyalah berupa keyakinan para penganutnya sebagaimana diungkapkan oleh Bruce Metzger yang dikutip oleh RY.
Tentu saja seseorang boleh tidak begitu saja percaya, namun kesaksian meraka adalah kesaksian yang sangat dekat dengan peristiwa yang kita diskusikan, dan kita bisa mengkajinya.
3. Dead Sea Scroll
Naskah DSS dan kepingan uang logam (coin) sudah saya bahas pada tanggapan “Satu Allah Tiga Agama”; oleh karena itu konsentrasi hanya diarahkan pada adanya tambahan lagi DSS sektarian yang juga tertulis dalam bahasa Ibrani; dengan demikian tidak mungkin lagi dibantah bahwa bahasa Ibrani hanya bahasa tulis bagi kepentingan religius. Naskah sektarian (yang belum pernah saya sebutkan) yang paling panjang adalah Temple Scroll (sekitar 8,75 meter, konon setara lebih dari 80 Bab OT, ditemukan di Gua 11) yang berumur sekitar abad 1 BC-AD. (saya juga memiliki copy fotonya)
4. Literatur Rabinik.
Salah satu bukti bahwa bahasa Ibrani tidak pernah mati adalah diterbitkannya naskah Misnah. Selain memiliki Torah tertulis, bangsa Yahudi juga memiliki tradisi “Oral Law”, yang tentu saja selalu disampaikan secara lisan / ucap sejak zaman Musa, hingga akhirnya sekitar 200 CE “dilestarikan” dalam bentuk tulisan agar lebih terjamin eksistensinya, dan ini merupakan salah satu literatur rabinik. Mencengangkan, apa yang dikatakan Y’Shua dalam Injil banyak yang ditemui paralel dengan literatur ini.
Literatur Rabinik juga memuat, konon sekitar 5000 parabel (perumpamaan), dan hanya 2 saja dalam tulisan Aramaik; perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan oleh Y’Shua (dalam Injil) banyak ditemui memiliki kemiripan dengan yang yang ada dalam literatur rabinik termasuk perumpamaan “anak yang hilang” yang sajian teksnya saya jadikan contoh karakteristik naskah Ibrani berikut (butir 6). Ini mendukung dugaan bahwa bahasa Ibrani tetap dipakai dalam tutur-kata, dan Y’Shua menyampaikan hal yang sama kepada para murid-Nya.
(Detil bukti lebih lanjut tidak akan saya ungkap, jika RY tertarik, silakan baca “Understanding the Difficult Words of Jesus”, David Bivin and Roy Blizzard, Jr.,2001).
5. Kata Ibrani dalam PB Yunani
Meskipun kata-kata Ibrani telah diketahui padanannya dalam bahasa Yunani, sungguh mengejutkan jika ternyata selain Aramaik, beberapa tetap dituliskan dalam kata Ibrani namun diikuti artinya dalam bahasa Yunani, misalnya Mesiah (Yoh. 1:41 ; 4:25). Fakta menunjukkan bahwa justru lebih banyak istilah Ibrani muncul dalam PB-Greek ketimbang Aramaik, misalnya, sikera (=strong drink; Luk. 1:15), sabbata (Mat. 12:10), pascha = paskah (Luk. 2:41), Rabbi (= guru; Mat. 23:7,8), levonah (Mat. 2:11), mammon (Luk. 16:9), Wai (Mat. 23:13) Beelzebul (Luk. 11:15), corban (Mark. 7:11), satan (Luk. 10:18), cammon (Mat. 23:23), raca (= empty; Mat. 5:22), moreh (= rebel; Mat. 5:22), bath (= ukuran cairan 8-9 gallon; Luk. 16:6), kor (= ukuran padatan 10 – 12 bushel ; Luk. 16:7), zuneem (= tares; Mat. 13:25), Boanerges (Mark. 3:17), mor (= myrrh; Luk. 7:37), sheekmah (Luk. 17:6), hosanna (Yoh. 12:13), amen sekitar 100 kali.
Perlu diingat pula kata Ibrani primitif untuk bapa(k) adalah Ab (konkordansi no.1) yang nampaknya “cognate” dengan Abba yang mungkin berasal dari akar kata Ab ( Aramaik konkordansi no. 2).
Ephphatha (konkordanssi no 2188 untuk Aramaik) yang artinya “terbukalah” (Mark 7:34) menurut Brown dkk. (Gesenius’ Hebrew-English Lexicon, Oxford, 1958, p. 834) diambil langsung dari (akar kata dalam) Ibrani Bibel phphatha, חתפ, (konkordansi no. 6605) yang berarti “buka”, sebagaimana terdapat dalam standar Hebrew-English Lexicon of the Old Testament; selanjutnya Bruce Metzger menyatakan bahwa “‘ephphatha” dapat dipandang sebagai Ibrani atau Aramaik (The Oxford Companion to the Bible, Oxford University Press, 1993), p. 272.). Bahkan Isaac Rabinowitz lebih tegas menyatakan bahwa tidak ada dasar filologis yang valid untuk meyakini bahwa ephphatha dapat mewakili bentuk Aramaik. “The transliteration can, indeed, only represent the Hebrew niphal masculine singular imperative … Ephphatha is certainly Hebrew, not Aramaic” (“Ephphatha, Mark 7:34, Certainly Hebrew, not Aramaic”, Journal of Semitic Studies, 1971, 16 , 155.)”
Demikian juga, cumi, atau cum, (Mark 5:41) yang artinya “bangkitlah, berdirilah” adalah kata Ibrani yang diucapkan Yesus untuk membangkitkan anak Yairus yang mati. Kata ini berasal langsung dari Alkitab PL Ibrani םוק, “cum” (konkordansi no. 6965 untuk Ibrani dan no. 6966 untuk Aramaik); dalam Ibrani modern saat ini kata tersebut juga berati “bangunlah” (Reuben Grossman and Moses Segal, Compendious Hebrew-English Dictionary (Tel Aviv, Dvir Publishing House, 1952, in. loc.. The Oxford-English Hebrew Dictionary, Oxford University Press, 1996, p. 366)
Contoh lain adalah perkataan Y’Shua di kayu Salib: “Eli, Eli, lama sabakthani” (Mat. 27:46) atau“Eloi, Eloi, lama sabakthani” ( Mark 15:34). Ini menunjukkan bahwa Y’Shua benar-benar berkata-kata dalam bahasa Ibrani, yang kemudian disertakan artinya dalam bahasa Yunani oleh para penyalin PB Greek.
Meskipun penyalin Kitab Matius vs Markus berbeda dalam menuliskan kata “Eli vs Eloi”, para pendengarnya ternyata mendengar suara yang sama yakni dikatakan bahwa Y’Shua memanggil nabi Eliyah, bahkan menunggu-nunggu apakah Eliyah akan datang menyelamatkan-Nya. Jadi pastilah Dia menyebut salah satu dari keduanya, Eli ataukah Eloi; mana yang paling tepat? “Eli” dalam panuturan Ibrani dapat berarti 2 macam:
(1) my El, dan inilah yang paling mungkin diucapkan Y’Shua sesuai dengan sebutan-Nya sebagai ImmanuEl (artinya El beserta kita), dan
(2) panggilan singkat bagi nama nabi Eli-Yah (Eliyah artinya Yahweh my El), dan inilah yang didengar oleh para saksi saat-saat akhir kematian Y’Shua. Ini sangat logis sebab hanya pengikut-pengikut Y’Shua sajalah yang percaya bahwa Dia memang berasal dari El (ImmanuEl), tetapi sebaliknya para saksi bukan pengikut-Nya itupun sangat familiar akan nama besar nabi Eliyah.
Sementara itu “Eloi” menurut konkordansi Strong adalah bahasa Aramaik yang hanya satu kemungkinan arti yaitu “My El” (meskipun ada pendapat bahwa sesungguhnya juga kata Ibrani dengan dialek lain). Jadi jika Y’Shua mengucapkan “Eloi”, hampir pasti para pendengarnya sulit menghubungkannya dengan nama nabi Eliyah, dan dengan demikian ucapan Y’Shua tentulah “Eli, Eli” sebagaimana direkam oleh Matius, namun ditulis oleh (penyalin) Markus dalam bahasa Aramaik (atau mungkin dialek lain) menjadi “Eloi, Eloi”. Kata“lama” bisa Ibrani maupun Aramaik, demikian juga “sabak” bukan saja Aramaik melainkan juga Ibrani Misnahik.
6. Teks Injil PB Greek itu sendiri (bukti internal)
a. Salah satu karakteristik struktur naskah Ibrani adalah pemakain kata sambung “dan” (baik dalam kalimat maupun antar kalimat atau paragraf) yang “sangat berlebihan” untuk ukuran struktur kalimat non-Ibrani (bahasa Yunani, Inggris maupun Indonesia). Berikut saya demonstrasikan contoh dengan mengacu terjemahan LAI namun saya sisipi tambahan kata “dan” ( kata Yunaninya de = kai) sebagaimana aslinya yang tertulis dalam PL Ibrani maupun PB Greek. (kata-kata yang saya coret bawahnya berikut ini seharusnya ada menurut terjemahan literal, tetapi dihilangkan dalam terjemahan LAI, demikian juga sebagian besar NIV)
Mat. 1:1-6
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak, dan (de) Ishak memperanakkan Yakub, dan (de) Yakub memperanakkan Yehuda dan (kai) saudara-saudaranya. dan (de) Yehuda memperanakkan Peres dan (kai) Zerah dari Tamar, dan (de) Peres memperanakkan Hezron, dan (de) Hezron memperanakkan Aram, dan (de) Aram memperanakkan Aminadab, dan (de) Aminadab memperanakkan Nahason, dan (de) Nahason memperanakkan Salmon, dan (de) Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, dan (de) Boas memperanakkan Obed dari Rut, dan (de) Obed memperanakkan Isai, dan (de) Isai memperanakkan Raja Daud. dan (de) Daud memperanakkan …..dst.
Luk. 15: 20 – 23 (perumpamaan anak hilang)
Maka bangkitlah ia dan (kai) pergi kepada bapanya. dan (de) Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu (kai) tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. dan (kai) Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan (kai) mencium dia. dan (de) Kata anak itu kepadanya: Bapa aku telah berdosa terhadap surga dan (kai) terhadap bapa, dan (kai) aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi (de) ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, dan (kai) pakaikanlah itu kepadanya dan (kai) kenakanlah cincin pada jarinya dan (kai) sepatu pada kakinya. Dan (kai) ambilah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan (kai) marilah kita makan dan bersukacita.
Sebagai pembanding berikut saya tampilkan nats PL-Ibrani:
1Tawr. 1:17-23
Keturuan Sem ialah Elam, dan Asyur, dan Arpakhsad, dan Lud, dan Aram, dan Us, dan Hul, dan Geter dan Mesekh. dan Arpakhsad memperanakkan Selah, dan selah memperanakkan Eber. dan Bagi Eber lahir dua anak laki-laki; nama yang seorang ialah Peleg, sebab….., dan nama adiknya ialah Yoktan. dan Yoktan memperanakkan Almodad, dan Selef, dan Hazar-Mawet, dan Yerah, dan Hadoram, dan Uzal, dan Dikla, dan Ebal, dan Abimael, dan Syeba, dan Ofir, dan Hawila, dan Yobab; itulah semuanya anak-anak Yoktan.
Komentar: Sangat mencengangkan bahwa “style” demikian ini banyak ditemui tidak hanya dalam PL melainkan dalam PB-Greek juga, dan siapa saja bisa mengembangkan untuk meneliti contoh perikop yang lain perihal penggunaan kata “dan”, bahkan mulai dari Kejadian. Oleh karena itu sulit dihindari untuk tidak menyatakan bahwa PB-Greek tentulah berasal dari tutur-kata Ibrani, bukan dari tutur kata Yunani.
Sebagai pemimpin Yabina, saya mempersilakan Sdr. Herlianto untuk mencermati karakteristik naskan Ibrani dalam pemakaian kata “dan” tersebut, dan silakan uji kebenarannya dalam Alkitab Interlinear Greek-Hebrew English (IGHE). Saya telah melakukan itu, dan ditemukan bahkan hampir setiap bab dan sebagian besar paragraf didahului kata “dan” (and). Ini bukan pekerjaan yang sulit bahkan sangat mudah dan siapapun dapat mengerjakannya kapan saja. Namun, jika yang dibaca Alkitab terbitan LAI tentu saja tidak akan ditemui (termasuk YHWH). Alkitab NIV menyisakan sebagian, dan jika tidak punya IGHE, periksa saja Alkitab King James Version (Dake’s Annotated Reference Bible).
b. Idiomatik Ibrani.
Analisis Mat. 5: 17-19 (ay 18 = Luk 16:17), “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Torah ……. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. ……... , satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Torah, sebelum semuanya terjadi.”
Frase “meniadakan melainkan menggenapi Torah” adalah idiom khas Ibrani saat itu yang sesungguhnya berarti, ”meniadakan Torah = menginterpretasi dan mengajarkan Torah secara salah”, sedangkan “menggenapi Torah = menginterpretasi dan mengajarkan Torah secara benar”.
Demikian juga “iota atau satu titik” artinya “paling kecil”. Kata” iota” (Yunani, no. konkordansi Strong 2503) menunjuk pada huruf Ibrani ke 10, yakni seperti koma menggantung ( ’ ) yang dibaca “Yowd” atau ditransilerasi “Y”(latin) atau “i” (Yunani), yang memang merupakan huruf paling kecil di antara huruf-huruf Ibrani lainnya. Sedangkan “titik” atau “title” atau “horn” (tanduk) terjemahan dari “ker-ah’-yah” (Yunani, no. konkordansi 2762) menunjuk pada ”puncak-apex” suatu huruf ibrani, yang artinya adalah partikel terkecil (posisi “horn” dan yang lainnya dapat dilihat pada alamat berikut): http://www.hebrew4christians.com/Grammar/Introduction/Why_Hebrew_/why_hebrew_.html.
Dalam banyak huruf Ibrani pada bagian ujung puncaknya terdapat lengkungan mirip tanduk (atau ujung pancing). Yang demikian ini hanya ditemui dalam huruf Ibrani dan tidak akan ditemui dalam huruf Yunani; oleh karena itu Y’Shua boleh dipastikan sedang mengajar perihal kebenaran Torah-nya bangsa Yahudi bagi orang-orang Yahudi dengan idiom khas Yahudi yang hanya bisa dipahami dengan bahasa Ibrani. Akan menjadi ganjil dan bahkan tidak mungkin bermakna sebagaimana seharusnya, jika Y’Shua mengungkapkannya dengan bahasa tutur Yunani.
c. Pengajaran Y’Shua dengan perumpamaan dan analisis beberapa ayat.
Analisis Luk 24:44, “………, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku (Y’Shua) dalam Kitab Torah Musa, dan Kitab Nabi-Nabi (Neviim), dan Kitab Mazmur (Tehilim).” Kitab Suci Yahudi yang disebut Tenakh terdiri atas 3 bagian besar dengan susunan urutan: Torah (Pentateuch) - Neviim (Para Nabi) - Ketuvim, berbeda dengan susunan Kitab Perjanjian Lama kita dewasa ini. Tehilim (Mazmur) terdapat dalam bagian terakhir yakni Ketuvim (yang terdepan Mazmur, dan yang terakhir Tawarih). Jadi, nampaknya Y’Shua menyebutkan “nubuatan tentang diri-Nya” sesuai dengan urut-urutan kitab Suci Tenakh yang berbahasa Ibrani, bukan Septuaginta berbahasa Yunani yang berbeda urut-urutannya. Ini suatu indikasi bahwa Y’Shua memakai referensi tutur-kata Ibrani ketimbang Yunani. Hal yang paralel juga ditemui pada Matthew 23:35 (Baca dalam bagian kontroversi ketidakcermatan PB Greek).
Analisis penyangkalan Petrus Mat. 26: 27 “ Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: ‘Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.’” (LAI).
“Surely you are one of them, for your accent gives you away”
(Matthew 26:73b, NIV).
“Surely you are one of them, for you are a Galilean, and your accent shows it” (Mark 14:70b, NKJV, and margin).
Jadi jelas bahwa dalam hal ini Petrus menjawab dengan bahasa berdialek tertentu (Galilea), dan ini tidak mungkin dialek Yunani.
For example, the Interpreter’s Dictionary of the Bible tells us, "The dialect daily spoken by Jesus and the disciples was Galilean Aramaic, which, as is noted in Matt. 26:73, was recognizably different from the S [southern] dialect spoken in and around Jerusalem. It was in this same Galilean dialect that the Aramaic of the Palestinian Talmud and the older Midrashim was written" (article "Aramaic", Vol. 1, p. 186). The edition quoted above is copyrighted 1962.
In more recent times, an expanding circle of scholars has rejected this commonly believed notion as erroneous. They are now convinced that the language Jesus used to teach his talmidim – disciples – was Hebrew, not Aramaic.
b. Hasil penelitian Lindsay
Berikut saya sarikan tulisan Brian Knowles (“Which Language Did Jesus Speak – Aramaic or Hebrew?”) dari alamat:
www.godward.org/Hebrew...hebrew.htm
Prof. David Flusser (Sarjana Yahudi Ortodok dari Universitas Yerusalem), menekuni kehidupan para rabi abad pertama, dan termasuk di dalamnya adalah Yesus. Dalam bukunya” Jewish Sources in Early Christianity”, Flusser meyatakan teori yang umum bahwa Markus menulis pertamakalinya dalam bahasa Yunani. Bahasa tutur orang-orang Yahudi pada waktu itu adalah Ibrani, Aramaik, dan untuk tingkatan tertentu dalam bahasaYunani. Hingga akhir-akhir ini dipercayai oleh banyak sarjana bahwa bahasa tutur para murid Yesus adalah Aramaik. Memang mungkin sekali bahwa Yesus benar-benar menggunakan bahasa Aramaik dari waktu ke waktu, tetapi selama periode itu, Ibrani adalah bahasa harian maupun bahasa studi. Injil Markus berisi sedikit kata-kata Aramaik, dan inilah yang mendistorikan (“menyesatkan”) para sarjana (Flusser, p. 11).
Salah satu hal yang menguatkan pendapat para sarjana perihal peran bahasa Ibrani pada periode Bait Suci kedua adalah penemuan naskah gulungan laut mati (DSS). Flusser menulis, “Saat ini, setelah penemuan naskah DSS Ibrani Ben Sira (Ecclesiasticus) dan surat-surat Bar Kokhba, dan studi lebih lanjut bahasa naskah-naskah kuno Yahudi, telah diterima pandangan bahwa sebagian besar rakyat (Yahudi) lancar dalam berbahasa Ibrani. ……. perumpamaan-perumpamaan dalam Literatur Rabbinik…. disampaikan dalam bahasa Ibrani di dalam semua periode. Tidak ada dasar untuk berasumsi bahwa Yesus tidak berbicara dalam bahasa Ibrani; dan ketika kita diberi tahu bahwa Paul berbicara dalam bahasa Ibrani (Kis. 21:40), kita harus menerima informasi ini seperti yang dinyatakannya” (Flusser, p. 1).
Membicarakan pengajaran Yesus, Flusser menjelaskan, “Ada perkataan Yesus yang dapat diterjemahkan baik dengan Ibrani maupun Aramaik; tetapi ada beberapa yang hanya dapat diterjemahkan ke dalam Ibrani, dan tidak ada satu pun yang hanya dapat diterjemahkan ke dalam Aramaik. Oleh karena itu seseorang dapat mendemonstrasikan asal-usul Injil Ibrani dengan menerjemahkan balik (Injil Yunani) ke dalam bahasa Ibrani (Flusser, p. 11).
Dalam penelitiannya, Dr. Robert Lindsey berhubungan sangat dekat dengan Prof. Flusser. Ia mulai ambisinya yang kuat dalam projek penerjemahan PB-Yunani ke dalam bahasa Ibrani untuk mengidentifikasi asal-usulya. Cerita silsilah Yesus pada awal Kitab Matius menunjukkan hasil yang mencengangkan, bahwa Matius membangun ceritanya dengan tipikal pola Ibrani (lihat butir 6 di atas), meskipun naskah yang kita miliki adalah dalam bahasa Yunani. Lindsey melanjutkan terjemahanya terus ke dalam bahasa Ibrani ternyata dihasilkan struktur kata-kalimat Ibrani yang sempurna seperti naskah Ibrani.
Ketika membandingkan antara Kitab Markus dengan Kitab Matius dan lukas, Ia mulai menyadari adanya sesuatu yang menghantui (spooky) terjadi. Sintak bahasa Yunani yang digunakan (PB-Yunani) ternyata bukanlah bahasa Yunani yang baik, tetapi sintak ucapannya itu sempurna (excellent) untuk Ibrani. Ini suatu misteri yang perlu dicari penyelesaiannya.
Akhirnya disimpulkan bahwa “behind the Greek ‘originals’ there had been
a Hebrew undertext.”
Komentar: Untuk menguji keakuratan simpulan tersebut, siapa saja bisa mencobanya kapan saja dengan syarat minimal cakap dalam kedua bahasa Ibrani dan Yunani. Namun jika tidak, salah satunya cara adalah cukup dengan bahasa Inggris saja kemudian membaca terjemahan literal, kata-demi kata yang dapat dibaca dari KJV-Dake’s Annotated Ref. Bible dengan mengidentifikasi (1) penggunaan kata sambung “dan / and” yang sangat berlebihan, dan (2) penggunaan kata kerja pada awal-awal kalimat; struktur kalimat Ibrani biasa ditemui dengan dimulai dengan kata kerja (bukan subjek).
Kontroversi Ketidakcermatan PB Greek
PB Greek yang kita miliki ini ternyata mengandung beberapa kelemahan dalam mengacu nats seperti contoh berikut ini:
(1) Mat. 1: 13-17, jumlah keturunan kelompok ketiga (terakhir) dikatakan 14 (ay.17) tetapi ternyata hanya tertulis 13 nama. (Dua nama diantaranya dalam kelompok terakhir ini adalah …., Elyakim, Abihud, ….. ) Mengapa PB Greek melakukan kesalahan demikian? J. Trimm menjelaskan bahwa nama rnbא Av’ner (Abner) hanya muncul dalam Matius Hebrew of DuTillet tetapi tidak ada dalam Matius PB Greek. Nama yang “terlewatkan / hilang” ini mungkin disebabkan oleh kemiripan tulisan Ibrani antara nama tersebut (Avner/Abner) yang sering dieja (dengan tambahan sisipan) rnybא dengan nama sebelumnya yakni dwhybא Avihud (silakan bandingkan keduanya). Dugaan kesalahan tulis (scibal error) ini didukung bukti munculnya nama rwybא Avi’ur (kombinasi dari keduanya) dalam kitab Aramaic of Old Syriac, tetapi terkoreksi menjadi dwybא Avi'ud dalam kitab Peshitta Aramaic seperti PB Greek. Jadi, sangat mungkin ada nama Abner yang mestinya terselib di antara Elyakim dan Abihud.
(2) Matthew 23:35, menuliskan perkataan Y’Shua: “…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang yang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah” (terjemahan LAI); padahal jika kita periksa yang mengalami pembunuhan bukan Zakharia anak Berekhnya (Zakh. 1:1) melainkan Zakharia anak Yoyada (2Tawrh. 24:20-22). Kesalahan pengutipan PB-Greek ini tidak dijumpai dalam naskah kopian Hebrew kuno yang ada di tangan Jerome; “Dalam Injil yang digunakan Nazaren, untuk ‘Anak Berekhya’ saya mendapati ‘Anak Yoyada’ ditulis”.
Jerome writes of Hebrew Matthew: "In the Gospel which the Nazarenes use, for 'Son of Barachias' I find 'of Joiada' written" (Jerome; Com on Mt. 23:35).
Dalam hal ini Y’Shua memang mengingatkan terjadinya pembunuhan mulai dari awal kitab sucinya orang Yahudi, Tenakh, (Habel termuat dalam Kejadian) hingga kitab suci akhir (Zakharia termuat dalam Tawarih); urutan Tenakh adalah pertama Kejadian, ……., Tawarih (terakhir), sedangkan urutan Septuaginta adalah pertama Kejadian, ……, Tawarih, ….., Zakharia (terakhir). Analisis ini sekaligus mendukung pandangan bahwa Y’Shua mengacu / membaca Tenakh-Ibrani dan bukannya Septuaginta – Yunani.
(3) Mat. 27:9-10, “Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: ‘Mereka menerima tiga puluh perak ….. seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku’”. Isi ayat ini sesungguhnya mengacu pada Zakharia 11:12-13, tetapi anehnya tertulis Yeremia yang sama sekali tidak memuatnya (silakan mengecek!). Alkitab Ibrani Shem Tob benar dengan menulis Zakharia, sedangkan Old Syriac Aramaic dan Peshitta hanya menulis ”nabi” (the prophet) saja. Kekeliruan PB Greek ini bisa diuji siapa saja dan kapan saja.
(4) Dalam Mark. 2:26, tertulis “…… Abyatar menjabat sebagai Imam Besar ……” yang benar adalah Abimelek, ayahnya, yang menjabat Imam Besar pada saat peristiwa itu, dan Abiatar baru menjadi Imam Besar setelah peristiwa tsb. (1Sam, 21:1; 22:20); menurut J. Trimm, Aramaic Old Syriac tidak memuat kesalahan ini.
Komentar: Terjadinya “kekeliruan” PB-Greek merupakan misteri yang perlu jawaban. Bisa saja menimbulkan kecurigaan atas adanya proses penyalinan Yunani yang kurang cermat dari aslinya Ibrani (entah tulis atau tutur) oleh penyalin yang tidak berlatar-belakang Ibrani?
Penutup
Sebagian besar apa yang saya kemukakan di atas sesungguhnya dapat kita uji secara langsung bahkan mengembangkannya, dan inilah metode yang saya lakukan; dengan demikian “kebenaran” analisis bukan hanya berdasarkan keyakinan belaka. Oleh karena itu saya menyarankan agar RY yang sajian materinya dibaca orang banyak harap lebih kritis dalam analisisnya, jangan asal percaya begitu saja atas pandangan teolog lain tanpa melakukan uji sepanjang dapat dilakukannya.
Jadi jika RY menyatakan bahwa Y’Shua dalam ajarannya berbicara dengan bahasa Yunani (dan juga membaca Septuaginta), itu artinya bahwa pandangan RY hanya berdasarkan keyakinan belaka atas bacaan referensinya tanpa melakukan pengujian yang menunjuk fakta yang bisa diuji oleh siapa saja.
Yahweh Bless Us
Kristian H. Sugiyarto
Staf Pengajar Kimia, FMIPA, UNY
GKJ Demakijo, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com
HP. 08157935534
|
|
| Back to top |
|
 |
|
|
You cannot post new topics in this forum You cannot reply to topics in this forum You cannot edit your posts in this forum You cannot delete your posts in this forum You cannot vote in polls in this forum You cannot attach files in this forum You can download files in this forum
|
|