salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: agus.soetopo
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1525

People Online:
Members: 0
Visitors: 3
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Buku2 pengajaran iman Kristen yg ditulis oleh: Denny Teguh S
Last post by Denny in Lainnya on May 18, 2012 at 01:28:12

Buku: "BAHASA LIDAH: MASIH ADAKAH?" (Denny Teguh S.)
Last post by Denny in Lainnya on Apr 18, 2012 at 00:13:58

Renungan Paskah 2012: TUHAN YESUS TELAH BANGKIT! (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 08, 2012 at 02:52:50

Renungan Jumat Agung 2012: KEMATIAN SANG ANAK ALLAH (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 05, 2012 at 00:14:12

Get my new book: GENERASI TUA VS GENERASI MUDA (Denny T. S.)
Last post by Denny in Lainnya on Mar 18, 2012 at 02:07:53

Paskah Akbar Surabaya 2012
Last post by Denny in Agenda Kita on Mar 18, 2012 at 02:01:33

Tantangan Untuk Beritakan Injil di Wilayah Timur Tengah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Mar 17, 2012 at 12:58:39

Diresmikan, Syarat Dapat Gelar S1 Harus Publikasi Ilmiah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 07:08:29

Suka duka jadi anak jenius
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 06:41:05

Kemampuan Pelajar Asia Timur, 3 Tahun Diatas Negara Maju
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 22, 2012 at 18:59:09

We have received
5086996
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Tanggapan atas Septuaginta Redaksi Yabina
Result

Tanggapan atas Septuaginta Redaksi Yabina
Bila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Sugiyarto
Newbie
Newbie


Joined: Nov 26, 2004
Posts: 148

PostPosted: Mon May 16, 2005 11:55 am    Post subject: Tanggapan atas Septuaginta Redaksi Yabina Reply with quote

SEPTUAGINTA
Berikut saya sampaikan tanggapan terhadap tulisan dari Redaksi Yabina (RY). Sesungguhnya materi ini berupa lanjutan tanggapan saya atas artikel RY terdahulu namun karena saya kemas dengan PDF file (karena memuat gambar huruf Ibrani dan Yunani) ternyata hingga kini tidak /belum bisa dimuat baik oleh Redaksi Yabina.net maupun Redaksi Salib.net.


RY menulis:
Septuaginta adalah terjemahan Tenakh ke bahasa Yunani, namun yang perlu dipertanyakan adalah mengapa Tenakh perlu diterjemahkan? Untuk mengerti ini kita harus tahu bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa yang ada sejak manusia hadir di bumi dan terus bertahan sepanjang masa.
Alkitab mencatat bahwa keturunan Sem (Semitik) berasal dari Mesopotamia dan kemudian hijrah ke Kanaan dimana Abraham tinggal selama puluhan tahun disitu sampai meninggalnya dan mengikuti bahasa lokal Kanaan (Kej.12-25). Besan Abraham dan mertua Ishak, Bethuil (Kej.25:20), adalah orang Aram, termasuk Laban saudara isteri Ishak dan mertua Yakub juga orang Aram dan berbahasa Aram (Kej.31:47). Ketika keturunan Abraham tinggal di Mesir mereka berbicara bahasa Kanaan (Yes.19:18) dan kelihatannya masih tetap demikian ketika kembali ke Kanaan.


Tanggapan K.H.S
Kej. 14:13, “ Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu…” Di sini Abraham sudah disebut sebagai orang Ibrani; jadi, apa ciri-cirinya jikalau salah satunya bukan bahasanya?
Demikian juga buyutnya (cicitnya), yakni Yusuf ketika menjadi hamba Potifar di Mesir pun juga dikenalnya sebagai “orang Ibrani” (Kej. 39:14, 17); begitu juga pengawal istana ketika mengenalkan Yusuf kepada Firaun atas kemampuannya dalam meramal mimpi juga menyebutkan sebagai hamba Ibrani (Kej. 41:12).
Kej. 42: 22 -23, Lalu Ruben menjawab mereka: "Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita." 23 Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa.
Dari ayat ini kita boleh dipastikan bahwa saudara-saudara Yusuf (Keluarga Yakub) bercakap-cakap dengan bahasa Ibrani- bahasa keluarga Yakub, bukan bahasa lokal Mesir.
Kata”Ibrani” (konkordansi Strong no. 5680) adalah patron atau keturunan dari Eber buyut (cicit) dari Sem. Dengan demikian sebelum manusia diserakkan dengan berbagai bahasa pada peristiwa “Menara Babel”, cikal bakal bangsa dan tentu saja bahasa Ibrani telah ada sangat mungkin mulai Eber. Memang dipahami pula bahwa bahasa Ibrani serumpun dalam bahasa semitik (Sem). Jadi jika Abraham sebagai keturunan (ke 6) dari Eber dipanggil sebagai orang Ibrani dengan ciri khas pembawa bahasa Ibrani, tentulah tidak serampangan, mengingat Abraham sangat kaya dan mempunyai banyak budak dan “bala tentara” (Kej. 14:14) dengan konsekuensi mengembangkan tutur kata Ibrani dalam keluarga besarnya.
Jadi, jika RY menyatakan bahwa Abraham berbahasa “kenaan” yang tidak begitu jelas pula deskripsinya itu artinya RY sangat mengecilkan arti julukan Ibrani bagi Eber-Abraham. Tentu, bahasa terus berkembang dalam segala aspeknya mulai dari bahasa lisan berubah menjadi bahasa tulis.



RY menulis:
Sekitar masa kerajaan (abad-10sM) bahasa Ibrani yang disebut bahasa Yehuda tumbuh dari bahasa Kanaan dan Amorit dan menggunakan aksara Kanaan terdiri 22 huruf. Pada masa Sanherib (700sM) rakyat Israel berbahasa Yehuda dan juga kalangan terpelajar berbahasa Aram (2Raj.18:26). Mungkin karena terdiri huruf konsonan dan tidak ada vokal, bahasa Yehuda/Ibrani Kuno (Palaeo Hebrew) tidak bertahan lama, sebab pada abad-6sM bahasa ini hanya digunakan dalam menulis dan menyalin kitab agama dan sebagai bahasa percakapan digunakan Aram. Pada masa Ezra (abad-5sM), rakyat tidak lagi mengerti bahasa Ibrani sehingga perlu diterjemahkan secara lisan ke dalam bahasa Aram (Neh.8:2-9), terjemahan demikian kemudian dikumpulkan sebagai Targum, bahkan beberapa bagian kitab Ezra, Yeremia dan Daniel ditulis dalam huruf Ibrani tetapi berbahasa ucap Aram.


Tanggapan K.H.S
Kemunduran bahasa Ibrani terutama sebagai akibat pembuangan Babel sebagaimana dialami oleh Daniel. Ia masih tetap bisa berbahasa Ibrani dan tentu saja karena pergaulannya di pembuangan menjadikan ia dkk. mampu berbahasa Aram. Perlu diingatkan bahwa mereka yang kesulitan berbahasa Ibrani adalah mereka yang lahir pada masa pembuangan (Babel) dan inilah yang RY anggap sebagai rakyat tidak lagi mengerti bahasa Ibrani, sementara mereka yang tetap tinggal di negerinya Israel tetap mampu berbahasa Ibrani; hal ini dibuktikan dengan perkawinan antara keturunan mereka yang pulang dari pembuangan Babel dengan mereka yang tinggal di Israel ternyata saling kesulitan berkomunikasi; jadi yang tetap tinggal di Israel tidak cakap berbahasa Aram melainkan Ibrani. Jika bagian-bagian kitab Ezra, Yeremia dan Daniel mengandung bahasa ucap Aram tentu saja tidak salah karena memang ditujukan pula kepada Yahudi di pembuangan, apalagi Daniel yang jelas bercakap-cakap dalam bahasa Aram dengan Nebukadnesar. Justru kitab-kitab para nabi ini masih didominasi tulisan Ibrani membuktikan bahwa bahasa Aram tidak bisa mematikan bahasa Ibrani.



RY menulis:
Masa abad-6 s/d 3sM, bahasa Ibrani disebut Ibrani Kitab Suci karena hanya digunakan sebagai bahasa tulis dalam penulisan dan penyalinan kitab suci. Inipun terpengaruh bahasa Aram dimana bentuk yang semula mengikuti huruf Kanani berkembang mengikuti huruf pesegi Aram. Pada akhir masa inilah Alexander (abad-4sM) raja Yunani menguasai kawasan dari Yunani, Asyur, Babilonia, sampai Mesir. Pengaruh Helenisasi dibawah Alexander di Yudea mendalam karena Alexander bisa menyesuaikan diri dengan kepercayaan lokal. Dalam perjalanan ke Mesir di Yerusalem ia mengikuti kebaktian Yahudi di Bait Allah. Di Aleksandria dibangun perpustakaan besar Yunani. Ditengah matinya bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan dan kuatnya bahasa Aram sebagai bahasa percakapan umum, bahasa Yunani ikut populer terutama dikalangan orang Yahudi yang mayoritasnya berada diperantauan, juga yang tinggal di Palestina yang kembali dari Babel yang berbahasa Aram.


Tanggapan K.H.S
The term "Palestine" came from the name that the conquering Roman Empire gave the ancient Land of Israel in an attempt to obliterate and de-legitimize the Jewish presence in the Holy Land. The name "Palestine" was invented in the year 135 C.E. Before it was known as Judea, which was the southern kingdom of ancient Israel. The Roman Procurator in charge of the Judean-Israel territories was so angry at the Jews for revolting that he called for his historians and asked them who were the worst enemies of the Jews in their past history. The scribes said, "the Philistines." Thus, the Procurator declared that Land of Israel would from then forward be called "Philistia" [further bastardized into "Palaistina"] to dishonor the Jews and obliterate their history. Hence the name "Palestine." ( WHO ARE THE PALESTINIANS? WHAT & WHERE is PALESTINE? )

Pernyataan RY bahwa bahasa Ibrani pada masa ini adalah bahasa “mati” dan hanya merupakan “bahasa tulis kitab suci” adalah hanya keyakinan (teori) saja yang tidak mau mengakui data inskripsi bahkan pelaku sejarah yang akan saya bahas lebih lanjut. Helenisasi memang berhasil di Alexandria (Mesir) khususnya bagi keturunan bangsa Israel –diaspora yang tidak lagi mampu berbahasa Ibrani. Sepertinya RY sangat meremehkan daya juang bangsa Israel akan identitasnya terhadap bahasanya.



RY menulis:
Setelah kematian Alexander (323sM) dibawah penerusnya wangsa Ptolomeus di Mesir dan Seleukus di Siria dilakukan helenisasi seluruh kawasan dimana Yudea berada ditengahnya. Penduduk Yudea terpecah menjadi dua fraksi Mesir dan Siria, namun sekalipun keduanya berebut pengaruh di Yudea, mereka memiliki kesamaan yaitu bahasa Yunani yang tidak diperebutkan. Dibawah Antiochus III (192sM) kedua wangsa berdamai dan ia mencari simpati dengan cara membebaskan pajak selama 3 tahun, melepaskan tawanan Yahudi, dan membantu membangun kerusakan Bait Allah.
Karena bahasa Aram dan Yunani makin menjadi bahasa percakapan umum yang meluas di sekitar laut tengah yang dikuasai wangsa Yunani, Aristeas dalam suratnya kepada Philocratus melaporkan bahwa Dimetrius, penasehat raja, meminta kepada raja Ptolomeus Philadelphus (283-247sM) agar kitab suci Yahudi diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, lebih-lebih karena banyak orang Yahudi tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Ptolomeus kemudian meminta kepada imam besar Eliezer di Yerusalem untuk mengirimkan kitab Torat dan 72 tua-tua Yahudi untuk menerjemahkannya di Aleksandria. Terjemahan Pentateuch selesai dalam 72 hari dan disebut Septuaginta (LXX), selanjutnya dalam satu abad berikutnya semua kitab Tenakh dan kitab Apokrifa diterjemahkan juga ke dalam bahasa Yunani dan nama Septuaginta dimaksudkan seluruhnya. Septuaginta dengan cepat meluas sampai ke Yudea karena proses helenisasi berjalan mulus di Yudea selama sekitar satu-setengah abad dan makin banyak penduduk menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa percakapan di samping bahasa Aram dan banyak yang juga menggunakan nama Yunani.


Tanggapan K.H.S
Nampaknya perlu ditegaskan lagi perihal surat Aristeas, yakni untuk penerjemahan Pentaeuch bagi Yahudi-diaspora yang tinggal di Aleksandria- Mesir, sehingga setelah selesai LXX tersebut ditinggal di sana, tepatnya di perpustakaan Aleksandria sesuai dengan tujuan semula. Perihal selesainya Pentateuh selama 70-72 hari bagi saya sesungguhnya terlalu mencengangkan. Dalam ceritanya konon setiap penerjemah menerjemahkan sendiri-sendiri atau berpasangan di suatu tempat yang diisolasi, kemudian hasilnya setiap hari dicocokkan bagi semua yang terlibat (daftar nama-nama penerjemah yang tercatat hanya 71, yang satunya tercecer tak terekam, lihat surat Ariteas, ay 47-50, R.H. Charles-Editor Oxford: The Clarendon Press, 1913 ).

Silakan coba saja RY menyalin dengan komputer kitab Pentateuch terbitan LAI, dapat selesai atau tidak dalam 70 hari; apalagi menerjemahkan ke dalam bahasa lain dengan tulisan tinta, masih harus diseragamkan pula bahasanya. Perlu diingat bahwa ke 70-72 penerjemah inilah yang dikukuhkan oleh Imam Eliezer sebagai komisi penerjemah, dan ketika telah selesai dibubarkan dan pulang ke Yerusalem lagi, setelah konon dipestakan dengan berbagai hadiah berharga. Baru setelah itu mulai terjadi penerjemahan bagi kitab-kitab lainnya termasuk apokripa; namun ini tidak jelas atas permintaan atau perintah siapa ataukah penerjemah mempunyai kualitas “kewenangan” semacam “scribe” atau tidak. Tidak mengherankan jika hasilnya (bahasanya) tidak sebagus atau tidak seseragam Greek Pentateuch sebelumnya; berbagai macam penerjemah menghasilkan berbagai macam kualitas terjemahan, konon terjemahan Kitab Yesaya ternyata paling jelek. Perlu disadari bahwa penerjemahnya pada awalnya memang benar-benar orang Yahudi yang paham betul maksud pasal-pasal teks Ibrani, namun bukan hal yang mudah dalam mengekspresikan ke dalam bahasa Yunani. Akibatnya, revisi demi revisi terus saja berlanjut; tidak hanya satu abad sebagaimana RY nyatakan melainkan sekitar 3 abad bahkan lebih, tergantung “batasan” LXX yang dianut.

Philo of Alexandria (fl. 1st c CE) confirms that only the Torah was commissioned to be translated, and some modern scholars have concurred, noting a kind of consistency in the style of the Greek Penteteuch. Over the course of the next three centuries, however, other books of the Hebrew Scriptures were translated into Greek in an order that is not altogether clear. By observing technical terms and translation styles, by comparing the Greek versions to the Dead Sea Scrolls, and by comparing them to Hellenistic literature, scholars are trying to stitch together a history of the translations that eventually found their way into collections. It seems that sometimes a Hebrew book was translated more than once, or that a particular Greek translation was revised. In other cases, a work was composed afresh in Greek, yet was included in the collection of scriptures. (Introduction,The History of the Septuagint, and its Terminology - students.cua.edu/16kalvesmaki/lxx/)

Bukti bahwa proses terjemahan tersebut tidak mudah, sebagaimana dinyatakan oleh Jesus (Joshua) ben Sirach. Ia adalah seorang ahli kitab (scribe) yang mengajar dan tinggal di Yerusalem. Pada sekitar 130 BC ia datang ke Aleksandria-Mesir untuk menerjemahkan buku kakeknya (namanya juga sama, Jesus) yakni Ecclesiasticus yang ditulis dalam bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani agar dapat diketahui oleh orang-orang Yahudi di Aleksandria. Buku ini menekankan pola hidup menurut Torah dan berisi penghiburan bagi bangsa Yahudi yang menderita oleh karena helenisasi penjajah. Jesus ben Sirach dalam prolognya menyatakan:
[color=red]You are urged therefore to read with good will and attention, and to be indulgent in cases where, despite out diligent labor in translating, we may seem to have rendered some phrases imperfectly. For what was originally expressed in Hebrew does not have exactly the same sense when translated into another language. Not only this work, but even the law itself, the prophecies, and the rest of the books differ not a little as originally expressed.

[color=red]When I came to Egypt in the thirty-eighth year of the reign of Euergetes and stayed for some time, I found opportunity for no little instruction. It seemed highly necessary that I should myself devote some pains and labor to the translation of the following book, using in that period of time great watchfulness and skill in order to complete and publish the book for those living abroad who wished to gain learning, being prepared in character to live according to the law. (http://www.piney.com/DocSirach.html)
[/color]

Jadi, jelas bahwa pada waktu itu:
(1) buku Ecclesiasticus yang berbahasa Ibrani adalah bacaan orang-orang Yahudi paling tidak para murid Jesus ben Sirach; dengan kata lain bahasa Ibrani bahasa yang tidak pernah mati baik untuk tulis-menulis begitu juga dalam percakapan (ingat Ecclesiasticus bukan Hebrew Sripture-Tenakh);
(2) bahasa Yunani bukanlah hal yang mudah paling tidak untuk keperluan tulis;
(3) dijumpai terjemahan Septuaginta yang banyak kekurangan / kesalahannya, dan
(4) sekaligus petunjuk bahwa Jesus ben Sirach tidak menemui Septuaginta, LXX, beredar di Yerusalem – Israel, karena ia baru menyadarinya ketika di Aleksandria.

Peran LXX menjadi menonjol dengan efek tidak lagi memperhatikan Tenakh, dan ini mendapat tantangan para Yahudi-Yerusalem, sehingga pengembangan LXX justru semakin terhambat khususnya peredarannya di Israel. Namun demikian, studi terjemahan seluruh Hebrew Scripture ke dalam bahasa Yunani terus saja dilakukan bahkan setelah Era Kristus, yakni pada abad ke 2 C.E., oleh Aquila (117-138 CE), Symmachus (180-192 CE), dan Theodotion (161-180 CE). Dan pada abad ke 3 C.E, Origen (182 – 251 C.E.) yang cakap baik dalam bahasa Ibrani maupun Yunani membukukan hasil kerja Greek-OT yang sangat komprehensif, ke dalam apa yang disebut “Hexapla”.

Heksapla berbentuk tabel 6 kolom yang memuat kata demi kata; kolom 1 memuat Tanakh (Ibrani), kolom 2 transilerasinya ke dalam Greek oleh Origen, kolom 3 Terjemahan Greek oleh Aquila, kolom 4 terjemahan Greek oleh Symmachus, kolom 5 Septuaginta (minimal ada 3 versi), dan kolom 6 terjemahan Greek oleh Theodotion. Dari studi yang dilakukan Origen dapat diketahui bahwa saat itu ditemui minimal 3 versi Septuaginta, yang menuliskan YHWH tetap dengan huruf Ibrani (kuno), yang menerjemahkannya dengan huruf Yunani KS (Kurios), dan yang dengan huruf Yunani PIPI. Kolom-kolom lainnya, 1,2,3,4, dan 6, tetap menuliskan YHWH dengan huruf Ibrani (kuno). (Sampel Tabel Heksapla dalam format picture dapat diunduh di www.tetragrammaton.org/lxx.htm Appendix J, sayang saya tidak terampil mempostingnya)
Jadi nama YHWH lebih banyak dipertahankan ketimbang yang tertulis dalam Septuaginta seperti yang beredar saat ini (Ralf-Brenton).
[/color]


RY menulis:
“Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi di pengadilan dan bahasa pergaulan sehari-hari, seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisan di atas papirus, surat-surat cinta, tagihan, resep, mantera, esai, puisi, biografi, dan surat-surat dagang, semuanya tertulis dalam bahasa Yunani, bahkan tetap demikian hingga masa pendudukan Romawi. ... bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme.“ (Merril C. Tenney, Survey Perjanjian Baru, h.23-24, 29).


Tanggapan K.H.S
Berdasarkan peninggalan tulisan-tulisan berbahasa Yunani, RY kemudian menarik kesimpulan bahwa bahasa keseharian adalah Yunani, memang bisa diterima meskipun tidak harus mutlak, sementara bahasa native Ibrani menjadi mati adalah dugaan yang “kurang cermat” dan tidak mungkin bisa dipertahankan atau bahkan “menyesatkan”, sebab peninggalan inskripsi Ibrani (Dead Sea Scroll) berlimpah ruah (semua kitab OT kecuali Esther, serta rangkap eksemplarnya yang sangat banyak); tetapi, RY hanya menganggap sebagai bahasa tulis untuk dalih mematikan bahasa percakapan Ibrani!!! Pengalaman umum seperti saya yang dibesarkan dalam liturgi bahasa jawa, ketika dikenalkan Alkitab berbahasa Indonesia, saya tidak segera berani berkotbah apalagi berdoa dengan bahasa Indonesia dalam waktu yang sangat lama meskipun saya sudah berpengalaman menjadi guru dengan bahasa pengantar Indonesia. Apa lagi bahasa Inggris!!; mengapa? Sebab, hubungan dengan Tuhan hanya bisa saya “hayati” melalui bahasa ibu saya; perasaan saya “agak kurang sopan-mengena”. Jadi, suatu dugaan yang sangat ganjil, jika bangsa Yahudi menulis Kitab Sucinya dangan bahasa native-nya Ibrani dengan berbagai komentar-tafsir, tata tertib pola kehidupan dalam bahasa Ibrani pula (Dead Sea Scroll) kemudian dikatakan mereka mempercakapkannya dalam bahasanya si penjajah!!
Perlu diingat kembali bahwa Babylonians overrun Assyrian Empire pada sekitar 547- 422 BCE, diikuti Persians overrun Babylonian Empire 422 – 347 BCE, diteruskan Greeks overrun Persian Empire 347 – 139 BCE, dilanjukan Romans overrun Greek Empire, 139 BCE – 312 CE. Dengan demikian Bangsa Israel sejak pembuangan Babel hingga abad 3 CE telah mengalami pengeroyokan dari berbagai bahasa, Aramaik, Greek, dan Latin. Oleh karena itu harus diperhitungkan adanya persaingan ketiga bahasa tersebut khususnya Yunani dan Latin terhadap bahasa asli Ibrani. Bukti bahwa bahasa latin berperan juga dicatat oleh penulis Injil Yochanan (Selain kemudian penyalinan Kitab Suci Vulgate)
John 19:19-20 reveals that Hebrew, Latin, and Greek were the languages spoken in Palestine at the time the Savior was impaled. Not all understood Greek, Latin, or Hebrew. [color=red]When the Messiah was teaching His disciples on this earth, the Koine Greek continued as the international language, but was relatively unknown or not understood in the rural towns nor by the Apostles, according to French archaeologist Ernest Renan.

Tak pelak lagi bahwa bahasa Aram, Yunani dan kemudian Latin terus berkompetisi dengan bahasa asli Ibrani, dan penggunnaannya dalam keagamaan ternyata boleh dikatakan tidak pernah ada peninggalan bahasa non-Ibrani. Perlu diperhitungkan pula bahwa si penjajah / pendatang pun pasti mendapat pengaruh untuk belajar bahasa dari bangsa yang dijajah yakni Ibrani, persis penjajah Belanda pun banyak yang harus belajar bahasa Indonesia saat itu.
[/color]


RY menulis:
Helenisasi damai terganggu ketika Antiochus IV Epiphanes berkuasa (175sM). Waktu itu Yason ingin merebut kedudukan imam besar dari Onias saudaranya, dan ia meminta izin Anthiocus untuk membangun gymnasium di Yerusalem dan menjadikannya kota Yunani. Gymnasium ditujukan untuk dewa-dewi Yunani dan pemainnya bertelanjang dada. Para imam Yahudi pun banyak yang bertelanjang dada mengikuti perlomaan dan mengabaikan tugas mereka di Bait Allah. Anthiokus IV ketika pulang perang dengan wangsa di Mesir mampir di Yerusalem (171sM) dan menajiskan Bait Allah dan merampas banyak perkakas di Bait Allah (1Mak.1:21-25; 2Mak.5:11-16;6:1-9).
Bukan bahasa-helenis, tetapi paganisme-helenis yang dipaksakan itulah yang mendorong keluarga Matathias memberontak (1Mak.2:1-14). Dibawah anaknya Yudas, pemberontakan mencapai puncaknya dan Bait Allah direbut kembali dan ditahbiskan (165sM) dan dirayakan sebagai Hanukkah. Anthiokus IV marah dan menyerang kembali tetapi ia keburu meninggal dan penggantinya memberi kebebasan beragama. Sekalipun Yudas ingin mengembalikan Yudaisme dan membenci pengaruh asing, ia sendiri meminta bantuan Romawi, tahun 161sM ia terbunuh dalam perang.
Perayaan Hanukkah memang mengembalikan kesucian ibadat di bait Allah, namun itu tidak mengusir helenisasi dalam bahasa. Yudas sendiri memakai nama panggilan Makabeus dalam bahasa Yunani dan keturunan Simon saudaranya, yang kemudian memerintah Yudea, banyak yang menggunakan nama Yunani juga seperti John Hirkanus, Aristobulus, Alexander Yanneus, dan Antigonus Matathias. Helenisasi bahasa Yunani sudah penuh di Yudea ketika Yesus hidup.


Tanggapan K.H.S
Nampaknya gaya bahasa RY memang memilih posisi sebagai “helenis” penindas Yahudi, sehingga memandang sebelah mata Yahudi seperti diibaratkan “kertas kosong putih” yang bebas ditulisi apa saja menurut kehendak si penjajah. Baiklah agar diskusi menjadi berimbang saya memosisikan diri di pihak Yahudi yang tertindas/terjajah pada waktu yang bersangkutan; oleh karena itu bukan istilah “pemberontakan” yang saya pakai melainkan “perjuangan-perlawanan-revolusi” layaknya bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda/Jepang.

Ada 2 kelompok pada masa helenisasi di Yudea, yaitu “Helenis” dan lawannya “Hasidim”. Kelompok pertama pendukung kultur Yunani (barangkali sebagian besar klas menengah atau atas), yang berbicara dalam bahasa Yunani dan mengadopsi adat Yunani, dan kelompok kedua adalah sebagian besar rakyat, yang tetap setia agama dan tradisi Yahudi serta menentang kultur Yunani.
Program helenisasi bagi Yahudi berupa perombakan tidak hanya kebiasaan ritual keagamaan melainkan termasuk kultur aktivitas sosial lainnya seperti “sport”. Penguasa Yunani memaksa memasukkan patung dewa Zeus ke Bait Suci Yerusalem, bahkan patung raja sebagai dewa, disertai ritual prostitusi. [color=red]Antiochus appointed a governor for Jerusalem named Philipus, and ordered him to require all Jews to bow before an idol of the King (the King himself was also frequently considered a god)
; demikian juga meyembelih babi di atas altar sebagai kurban, bahkan termasuk larangan ibadah hari Sabbat. Selain itu melarang melakukan “sunat” bagi anak-anak mereka dan banyak orang tua serta anak-anak yang disunat menjadi korban penjagalan serdadu Yunani. Tak pelak lagi helenisasi medapat perlawanan sengit dari bangsa Yahudi. Perjuangan-revolusi keluarga Hasmonean (Ibraninya Hashmonaim) dimulai di desa Modi’in (sebelah barat Yerusalem) di suatu kaki pegungungan Yudea, ketika serdadu “penjajah” (dibawah pimpinan Apelles) memaksa imam Mattathias – Matityahu ben Yochanan (ayah Judah Macabee) agar menyembelih babi sebagai kurban di atas altar di depan jemaatnya serta memaksa memakannya. Jelas ini melanggar Torah, dan terjadilah perlawanan langsung dimana Mattathias berhasil membunuh pemimpinnya. Dalam perlawanan selanjutnya bahkan Maccabee berhasil membunuh Apollonius (the general who sacked Jerusalem) dan secara ringkas perjuangannya menghasilkan kemenangan dengan perayaan Chanukah yang selalu diperingati oleh bangsa Yahudi (penyucian Bait Yahweh, Yoh. 10:22). Maccabee melanjutkan perjuangannya untuk mengamankan wilayah Yahudi dari Gentile sekelilingnya, dan berhasil membunuh Nicanor (seorang jenderal Syria- penjajah baru); tetapi, pada suatu pertempuran sengit berikutnya melawan jenderal Bacchides di Alana , 161 B.C., ia terbunuh. Perjuangan dilanjutkan saudara-saudaranya dibawah pimpinan Jonathan, dan bahkan berhasil menduduki posisi “Imam Agung” dari keluarga Hasmonean yang berlanjut dalam periode 163 – 37 B.C. Namun kemerdekaan dinasti Hasmonean (atas Yudea) hanya berlangsung sekitar 1 abad saja.

Era kejayaan Hasmonean ditandai dengan pencetakan berbagai jenis uang logam. Uang keping logam pada salah satu sisinya dipenuhi huruf-huruf Ibrani kuno, dan sisi yang lain berbagai objek seperti tanaman sebagai simbol bangsa dan agama.

Perayaan Chanukah ditradisikan dimulai di Eropa pada sekitar abad pertengahan antara lain dengan pemberian kepingan uang (koin) Chanukah untuk permainan “dreidel” yang terdiri atas 4 muka, masing-masing ditulisi dengan huruf pertama dari frase Ibrani nes gadol haya sham (yang artinya “sebuah mujizat besar terjadi di sana). Anak-anak dan para orang tua bermain hingga seseorang memenangkan untuk semua koin. Permaian ini dalam tradisi Israel modern diubah maknanya menjadi “sebuah mujizat besar terjadi di sini”, dan “dreidel” disebut dengan bahasa Ibrani “sevivon”.

Menuruti simpulan RY bahasa Ibrani telah mati dalam percakapan; saya tidak bisa membayangkan betapa naifnya dugaan tersebut, sebab jika suatu permaian dalam perayaan Chanukah di negeri rantauan saja orang-orang Yahudi masih mampu melakukan dengan permainan kata-kata Ibrani yang tidak mungkin tidak terucapkan.

Perihal nama Maccabee
Pengaruh helenisasi memang merambah sampai dengan nama-nama dan ini adalah hal yang natural meskipun tidak menjamin yang bersangkutan berubah menjadi helenis; sebagai contoh saja nama Daniel dkk., juga nama-nama WNI Cina, bahkan saya pun memakai nama tambahan “Kristian”. Perlu diingat bahwa terjemahan bahasa Inggris biasanya memang mengambil dari nama yang di-Yunanikan dengan penambahan akhiran misalnya s, seperti YahShua - YeShua menjadi Iesous- Jesus-Yesus.
Dalam kasus Yudah Maccabee (dilafalkan JOO duh MAK uh bee) diubah menjadi Yudas Makabeus. Nampaknya Redaksi Yabina “tersesat” bahwa Yudah memakai nama julukan Yunani Makabeus. Oleh karena kehebatannyalah Yudah mendapat gelar / julukan kehormatan a hebrew name Maccabee (Aramaik, Maqqaba) yang artinya “Sang Pemukul”. Jika julukan ini disalin ke nama Yunani ya tentu menjadi Makabeus.
Maccabee juga merupakan akronim Ibrani dari mi kamocha ba'elim HaShem (“Siapa yang seperti Engkau di antara para dewa itu, Ya Yahweh / Sang Nama”). Hebrew acrostic untuk kata Maccabee tersebut merupakan slogan-teriakan para pejuang Yahudi yang berjuang secara heroik. Saya tidak bisa membayangkan jalan pikiran RY jika tetap berpandangan bahwa slogan Ibrani tersebut hanya tulisan belaka tidak pernah diucapkan sebab bahasa ibrani telah mati dalam percakapan!!! Padahal slogan tersebut merupakan slogan –yel dalam perjuangan / pertempuran. Jadi apakah para pejuang yang dipimpinan (keluarga) Maccabee itu meneriakkan slogan tersebut dengan bahasa Yunani!!!
Ketenaran Maccabee terekam dalam bukunya (Apokrif) Makabe 1-4 (5), yang juga ditemui dalam koleksi Sefer HaChitzonim.
Buku 1Maccabee diduga ditulis pada tahun 100 BC segera setelah kematian John Hyrcanus I, oleh penulis Yahudi yang tak dikenal, dalam bahasa asli Hebrew Vorlage yang naskah aslinya sudah hilang (George Lyons, Professor of Biblical Literature, for the Wesley Center for Applied Theology at Northwest Nazarene University).
Ketenaran Maccabee hingga kini terus dikenang dalam bentuk pencetakan Emblem oleh The National Jewish Committee on Scouting (The Maccabee Emblem for Tiger Cubs and Cub Scouts in Grades One-Three), bahkan juga merk industri minuman Beer.

Perjuangan Yahudi setelah Era Dinasti Hasmonean dan sesudah Era Y’Shua.
Bukti-bukti kehidupan bahasa Ibrani ditunjukkan dalam bentuk peninggalan kepingan uang logam.

Pada masa Alexander Jannaeus (ruled 103-76 BCE), kepingan uang logam tercatat separohnya berbahasa Ibrani dengan simbol-simbol dan tulisan Ibrani seperti “Yehonatan The King”, dan separoh lain dengan simbol-simbol dan tulisan Yunani “King Alexander”. Memang pada saat itu sudah terbiasa orang- orang Yahudi memiliki nama Ibrani-Yunani (Yehonatan - Aleksander). Jenis kepingan uang logam yang lain tertulis dengan huruf Ibrani “Yehonatan the High Priest and the Council of the Jew”.

Pada masa Aristobulus II (ruled 67-63 BCE), kepingan uang logam mirip sebelumnya, hanya berganti tulisan nama Ibrani “Judah the High Priest and the Council of the Jew”.

Pada masa Hyrcanus II (ruled 63-40 BCE), nampaknya ada perubahan peta politik yang ditandai dengan perubahan simbol-simbol kepingan uang logam dan makna tulisan nama Ibrani yang sebelumnya “Jehohanan the High Priest and Council of the Jew” menjadi “Jehohanan the High Priest and Head of the Council of the Jew”.

Pada masa Antigonus (ruled 40-37 BCE), kepingan uang logam tercatat tulisan Yahudi “Mattayah the High Priest and Council of the Jew”, dan separoh lain dengan tulisan Yunani “King Antigonus”.

Pada masa Revolusi melawan Roma (66CE – 70 CE) semua koin menggunakan huruf-huruf antique hebrew sengaja mengingatkan kerajaan Israel kuno, dan tidak pernah menggunakan tulisan Yunani. Koin yang paling terkenal adalah Tyrian Shekels masa revolusi, untuk pajak Bait Suci, dengan inskripsi sheqel yisroael, SHEKEL OF ISRAEL, Year 1, 2, 3 atau 4. (menyatakan tahun perjuangan); pada sisi lain terdapat simbol-simbol perjuangan yang dikelilingi inskripsi yerushalaim hakodesh, JERUSALEM THE HOLY. Koin lain yang penuh issue revolusioner terbuat dari perunggu dengan simbol sebuah pot / vas dengan dua pegangan dan inskripsi tahun revolusi dengan huruf ibrani antik yang cukup besar terbaca shanat shtayim, YEAR TWO, 67/68 atau shanat shalosh, YEAR THREE, 68/69 (Tahun 66 CE = tahun pertama revolusi); sisi lain berisi gambar daun anggur dari suatu cabang, dikelilingi legenda herut tzion, FOR THE FREEDOM OF ZION.
Koin revolusi terakhir dijumpai tahun 69 C.E. yang melukiskan perayaan Sukot (Tabernakel). Salah satunya melukiskan pohon palm dengan 7 cabang, 2 keranjang buah, yang dikelilingi oleh inskripsi l'goalit tzion, FOR THE REDEMPTION OF ZION. (http://www.geocities.com/Athens/Agora/4229/greek.html)
[/color]


RY menulis:
“Yesus berbicara juga bahasa Yunani ... tetapi bahasa ibu mereka saat itu adalah bahasa Aram.” (ME Duyverman, Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, h.16).


Tanggapan K.H.S
Jika Y’Shua (Yesus) bisa mengerti juga bahasa Yunani itu masih bisa dipahami, namun jika dalam NT Ia berbahasa Yunani atau Aram adalah pandangan Sarjana Teologi yang statis, sebelum studi publikasi Dead Sea Scroll. Jika bahasa Aram adalah saudara (sister) bahasa Ibrani, maka bukan hal yang sulit ketika bahasa Aram diadopsi ke dalam bahasa Ibrani, dan kemudian menjadi miliknya, sehingga banyak ditemuai terpencar dalam Scripture. Sebagai contoh, Yer. 10:11, bahkan Kej. 31:47. Dalam PB ditemui kata-kata Aramik, misalnya “Talitha cumi, Ephphata, Rabboni, Abba” Namun, banyak juga kata-kata Ibraninya, misalnya Sikera (Luk. 1:15), Pascha = (Luk. 2:41), Sabbata (Mat. 12:10), Rabbi (Mat. 23:7,8). Adopsi kosa kata adalah hal yang natural apalagi dalam bahasa yang serumpun, Ibrani-Aramaik. Abba (= Bapa) adalah kosa kata Aramaik, tetapi Ab (= Bapa) adalah Ibrani, keduanya nampak seakar seperti halnya Rabboni vs Rabbi
Korupsi adalah bahasa Indonesia yang diadopsi dari corruption, demikian juga “Allah” yang diimport 100% dari Arab (Aturan peng-Indonesiaan, mestinya tidak ada double konsonan yang sama, kecuali untuk membedakan kata lain yang sudah ada, misalnya “massa” untuk membedakan “masa”). Bahang (terjemahan dari heat; panas = hot) diperkenalkan oleh Malaysia, dan sekarang sudah menjadi kosa kata Indonesia.
Jika Paulus dalam pertobatannya terhadap Y’Shua berbicara dalam bahasa Ibrani pastilah bukan Aram atau non-Ibrani lainnya. Jika Alkitab (Yoh. 19:17) menyebutkan bahwa “golgotha” (no. 1115 Aram or comp. 1538 Ibrani “gulgoleth” = the sklull) adalah bahasa Ibrani (padahal sesungguhnya berasal dari bahasa Aram) bukan mustahil bahwa kata ini memang sudah diadopsi dan menjadi Ibrani, kecuali jika penyalin Kitab Yohanes melakukan “kebodohan” dalam konteks ini.



RY menulis:
“Septuaginta ... Pada masa Kristus, kitab tersebut telah tersebar luas di antara para Perserakan di wilayah Timur Tengah dan menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen yang mula-mula.” (Tenny, h.32).


Tanggapan K.H.S
Septuaginta menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen mula-mula, ini memang benar meskipun harus dipertegas Septuaginta yang mana dan Jemaat Kristen mula-mula yang mana pula (di luar Israel?)
Tetapi, jika Septuaginta pada masa Kristus telah tersebar luas dan menjadi bacaanNya…, sulit diyakini bahkan harus ditegaskan lagi Septuaginta yang mana, lihat kasus studi Hexapla Origen; yang paling mungkin adalah bahwa Septuaginta tersebar di luar wilayah Israel.



RY menulis:
“Septuaginta adalah Alkitab yang digunakan oleh Yesus dan para rasul. Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru dikutip langsung dari Septuaginta, sekalipun itu berbeda dengan teks Masoret.” (Norman Geisler, A General Introduction to the Bible, h.254).
Di Sinagoga di Nazaret, Yesus membaca kitab Yesaya dari Septuaginta (Luk.4:18-19):
“Bagian terbesar kutipan ini berasal dari teks Yes.61:1-2 dari LXX. Merawat orang-orang yang remuk hati, adalah bagian dari sumber peninggalan naskah Lukas yang terbaik, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas berasal dari teks LXX dari Yes.58:6.” (The Interpreters’ Bible, Vol.8,90-91).



Tanggapan K.H.S
Dalam kasus Luk. 4: 18-19, ternyata RY hanya main “cross-check verses” dengan mencomot referensi seseorang tanpa menguji apa maksudnya, dan ini tentu bukan bukti bahwa Y’Shua membaca Septuaginta.
Kasus Luk 4: 16-22 tidak ada pembandingnya dari Injil yang lain. Jika kita analisis secara teliti, penyalin Kitab Lukas intinya bertujuan menegaskan pemenuhan nubuatan Yes. 6:1-2 pada diri Y’Shua, dan dalam hal ini Y’Shua sendirilah yang memproklamasikan diriNya sendiri sebagai “manifestasi” Roh Yahweh sebagaimana dinyatakan oleh Yesaya, yang saat itu “tergenapi”!!!
Andaikata alur kejadian tersebut benar adanya sebagaimana penuturan penyalin Kitab Lukas, maka yang terjadi adalah bahwa Y’Shua menerima scroll (Kitab) Yesaya, kemudian membacanya, menutupnya kembali, dan selanjutnya “berkotbah” dengan pesan inti “tergenapinya” nubuat Yesaya yang baru saja dibacaNya. Agak mengherankan bahkan janggal jika Y’Shua pada awalnya membaca Yes. 61:1-2, kemudian membalik kedepan (atau bahkan mungkin ganti Scroll Yesaya yang lain) untuk membaca lagi “potongan” Yes. 58:6 dan menyisipkannya dalam bacaan, sebab potongan ayat dalam Yes. 58:6 sesungguhnya dalam konteks “puasa” bukan nubuatan. Sebaliknya penekanan bagian “merawat orang-orang yang remuk hati” dan “untuk membebaskan orang-orang yang tertindas” makna keduanya tertulis dalam Yes. 61:1-2 menurut Tanakh (Old Testament maupun Dead Sea Scroll). Jadi, referensi yang RY kutip tersebut berupa studi cross-check verses, bukan bukti bahwa Y’Shua membaca Septuaginta. Saya sudah pernah copy-paste ayat-ayat tersebut untuk Septuaginta dan Lukas (dalam bahasa Yunani), keduanya tidak persis sama, meskipun juga tidak persis sama dengan teks OT. Redaksi Yabina sama sekali tidak berani menganalisis kesalahan siapa atau apa yang terjadi, tetapi malahan menunjukkan analisis “cross-chek verses”, jadi tidak menjawab permasalahan.
Ayat-ayat Yesaya yang terkait kasus Lukas tersebut dalam teks Masoretik persis sama dengan teks Dead Sea Scroll (bisa diunduh melalui internet) seperti terjemahan berikut ini.

Dead Sea Scroll dari Column XLIX Isaiah 61:1-2
(Chapter 61:1) The Spirit of the Lord GOD is upon me; because YHWH has anointed me to preach good tidings to the weak; {& he has sent me&} to bind up the brokenhearted, to call to the captives
27. liberty, and to the imprisoned the opening of prison. (2.) To announce the favorable year of YHWH, and the day of vengeance for our God; to comfort all who mourn;

Column XLVII Isaiah Chapter 58:
(6.) Is not this the fast which
29. I have chosen? to open the bands of wickedness, to undo the heavy yokes, and to set the oppressed free, {&yod&} and every

Column XLVIII Isaiah 58:6 -7
1. (Continue Chapter 58:6) yoke you will tear away. (7.) Is it not to divide your bread to the hungry, and that you bring the refugee poor {&yod&} into your house? when you see the naked, ….
(Catatan: 1. Simbol {& he has sent me&} menyatakan bahwa bagian teks di dalam simbol ditulis terangkat di atas garis. Jadi sama sekali tidak ada perbedaan dengan teks Masoretik. 2. Lord GOD merupakan terjemahan dari Adonay YHWH yang mestinya diterjemahkan Lord YHWH). Jadi validitas naskah OT teruji oleh naskah DSS.

Bukti bahwa Y’Shua membaca Hebrew Scripture (Tenakh) bukan Septuaginta:
A. Analisis Matthew 23:35, “supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang yang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah” (terjemahan LAI):
(1) dalam hal ini Y’Shua berbicara tentang penumpahan darah manusia
(2) Zakharia anak Berekhya (Zakh. 1:1) adalah seorang nabi yang tidak menjadi kurban pembunuhan, jadi terjadi kesalahan pengutipan yang dilakukan oleh penyalin Matius PB-Greek ini.
(3) Zakharia yang menjadi kurban pembunuhan adalah Zakharia anak imam Yoyada (2Tawrh. 24:20-22) yang berseru saat kematiannya: “Semoga Yahweh melihatnya dan menuntut balas” (LAI); lihat catatan kaki Alkitab LAI.
(4) Kisah Habel dimuat dalam Kitab Kejadian (paling awal) dan kisah Zakharia anak Yoyada dimuat dalam Kitab 2Tawarih yang merupakan kitab paling akhir menurut Hebrew Scripture (Tenakh), tetapi berada jauh di urutan tengah dalam Septuaginta yang konon menurut RY telah selesai tersebar luas pada zaman Y’Shua. RY tidak mungkin punya bukti bahwa pada saat itu susunan Septuaginta persis sama dengan susunan Tenakh.
(5) Jadi tegas bahwa Y’Shua sedang menjelaskan / mengecam para ahli Torah dan Farisi berdasarkan seluruh Kitab Suci yang ada pada waktu itu (dari awal kitab hingga akhir kitab), yakni Hebrew Scripture (Tenakh).
(6) Dengan demikian Y’Shua tentulah terbiasa menggunakan Tenakh dengan konsekuensi berbahasa Ibrani ketika menjelaskan peristiwa-peristiwa tersebut.
(7) Kesalahan pengutipan PB-Greek ini (butir 2 di atas) tidak dijumpai dalam naskah kopian Hebrew kuno yang ada di tangan Jerome. Jerome writes of Hebrew Matthew: "In the Gospel which the Nazarenes use, for 'Son of Barachias' I find 'of Joiada' written" (Jerome; Com on Mt. 23:35) Jadi bukan mustahil bahwa Penyalin PB-Greek memang lebih berpegang pada Septuaginta sebagai acuan dengan kitab Zakaria menduduki pada bagian akhir bersama Maleakhi namun berakibat terjadi kekeliruan pengutipan menurut Zakh. 1:1, dan proses penyalinan tersebut berlangsung sesudah Era Y’Shua (di luar wilayah Israel?)

B. Analisis Mat. 5: 17-19 (ay 18 = Luk 16:17), “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Torah ……. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. ……... , satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Torah, sebelum semuanya terjadi.”
Frase “meniadakan melainkan menggenapi Torah” adalah idiom khas Ibrani saat itu yang sesungguhnya berarti,” meniadakan Torah = menginterpretasi dan mengajarkan Torah secara salah”, sedangkan “menggenapi Torah = menginterpretasi dan mengajarkan Torah secara benar”.
Demikian juga “iota atau satu titik” artinya “paling kecil”. Kata” iota” (Yunani, no. konkordansi Strong 2503) menunjuk pada huruf Ibrani ke 10, “Yowd” atau “Y”, yang memang merupakan huruf paling kecil di antara huruf-huruf ibrani lainnya, dan “titik” atau “title” atau “ker-ah’-yah” (Yunani, no. konkordansi 2762) menunjuk pada ”puncak-apex” suatu huruf ibrani, yang artinya adalah partikel terkecil. Dalam bahasa Ibrani, huruf-huruf Ibrani semuanya berupa konsonan yang tertolong terbaca dengan mengembangkan berbagai macam“particle” di bagian bawah-tengah-atas huruf yang bersangkutan, dan partikel terkecil (di atas huruf) adalah sebuah “titik”. Yang demikian ini tidak akan ditemui dalam bahasa Yunani; oleh karena itu Y’Shua boleh dipastikan sedang mengajar perihal kebenaran Torah-nya bangsa Yahudi bagi orang-orang Yahudi dengan idiom khas Ibrani yang hanya bisa dipahami dengan bahasa Ibrani. Akan menjadi ganjil dan bahkan tidak bermakna sebagaimana seharusnya, jika Y’Shua membaca Greek OT (atau Septuaginta).

C. Analisis Luk 24:44, “………, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku (Y’Shua) dalam Kitab Torah Musa, dan Kitab Nabi-Nabi (Neviim), dan Kitab Mazmur (Tehilim).” Tehilim adalah Kitab urutan pertama dalam bagian Kitab terakhir Ketuvim yang masih memuat nubuatan tentang Y’Shua. Jadi, urut-urutan ketiga macam kitab Suci ini Torah-Neviim- Ketuvim, sesuai dengan urutan dalam Tenakh, bukan Septuaginta atau OT yang kita miliki saat ini. Lagi-lagi, suatu indikasi bahwa Y’Shua memakai referensi Tenakh bukan Septuaginta.
Sesungguhya masih banyak yang lain namun untuk sementara dikemukakan 3 contoh tersebut.



RY menulis:
Ada yang menyebut Josephus mengaku menderita belajar bahasa Yunani dan mendorong orang Yahudi agar tidak menyerah dan belajar bahasa asing. Nyatanya ini ucapan politis, karena faktanya ia membelot ke negara asing Romawi dan mengganti namanya dengan nama Romawi, Flavius Josephus, sehingga ia disebut penghianat oleh orang Yahudi. Kala itu Romawi berkuasa di Yudea mengalahkan wangsa Yunani namun dalam hal bahasa, bahasa Romawi tidak mampu menggantikan bahasa Yunani. Josephus menulis ‘Jewish War’ dalam bahasa Aram yang disebut ‘lidahnya orang Ibrani,’ tetapi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, dan banyak karyanya di tulis dalam bahasa Yunani.
“Karya pertamanya adalah Sejarah Perang Yahudi, ditulis pertama kalinya dalam bahasa Aram untuk kepentingan orang Yahudi di Mesopotamia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Yunani.” (J.D. Douglas (ed), The New Bible Dictionary, h.660)


Tanggapan K.H.S
Maaf nampaknya RY memang kurang teliti. Josephus “mengaku menderita belajar bahasa Yunani” itu bukan karena disebutkan oleh seseorang; jangan-jangan malahan pendapat saya? Sudah saya copy-paste-kan ucapan Josephus sendiri dalam bahasa Inggris agar tidak disangka dibuat-buat, namun nyatanya RY malahan menganggap ini pendapat seseorang dan merupakan ucapan politis? Pengakuan Josephus tersebut ditulis sendiri oleh Josephus dalam karyanya “Antique” Buku 20 Bab 11, ayat 2; secara lengkap demikian bunyinya:

Antique 20:11:2
For those of my own nation freely acknowledge that I far exceed them in the learning belonging to Jews; I have also taken a great deal of pains to obtain the learning of the Greeks, and understand the elements of the Greek language, although I have so long accustomed myself to speak our own tongue, that I cannot pronounce Greek with sufficient exactness; for our nation does not encourage those that learn the languages of many nations, and so adorn their discourses with the smoothness of their periods; because they look upon this sort of accomplishment as common, not only to all sorts of free-men, but to as many of the servants as please to learn them. But they give him the testimony of being a wise man who is fully acquainted with our laws, and is able to interpret their meaning; on which account, as there have been many who have done their endeavors with great patience to obtain this learning, there have yet hardly been so many as two or three that have succeeded therein, who were immediately well rewarded for their pains.

Kesulitan Josephus berbahasa Yunani dibuktikan oleh para ahli yang menyatakan bahwa banyak gramar yang ditemui salah (faulty) dalam banyak karyanya.
Redaksi Yabina boleh-boleh saja menyatakan Yosephus membelot, namun tunjukkan analisis yang lurus; untuk itu saya tampilkan kutipan karyanya dalam “Wars” Buku 5 Bab 9 ayat 2-3.

Wars (5:9:2-3)
2. ……..
But then Titus, knowing that the city would be either saved or destroyed for himself, did not only proceed earnestly in the siege, but did not omit to have the Jews exhorted to repentance; so he mixed good counsel with his works for the siege. And being sensible that exhortations are frequently more effectual than arms, he persuaded them to surrender the city, now in a manner already taken, and thereby to save themselves, and sent Josephus to speak to them in their own language; for he imagined they might yield to the persuasion of a countryman of their own.
3. So Josephus went round about the wall, and tried to find a place that was out of the reach of their darts, and yet within their hearing, and besought them, in many words, to spare themselves, to spare their country and their temple, and not to be more obdurate in these cases than foreigners themselves; for that the Romans, who had no relation to those things, had a reverence for their sacred rites and places, although they belonged to their enemies, and had till now kept their hands off from meddling with them; while such as were brought up under them, and, if they be preserved, will be the only people that will reap the benefit of them, hurry on to have them destroyed.

Berikut adalah informasi perihal Yosephus dari Jewish Virtual Library:
During the Great Revolt from 66-73 CE, Josephus served as a general of the Galilee. When the Roman army overcame his forces, Josephus and 40 compatriots fled to a cave. They agreed to commit suicide. Josephus fixed the lots so that his name would come out last. After the others killed themselves, Josephus convinced the remaining fighter to surrender with him.
As a prisoner of the Romans, Josephus volunteered to write the history of the Great Revolt. General (later Emperor) Vespasian agreed. Josephus thus provided the Romans (and now us) with a first-hand account of the fall of Jerusalem in 70 CE. It must be emphasized that Josephus was writing for Vespasian, so his work is definitely biased. He mentions several times in his Greek writings that he created an Aramaic version of the events as well, but it, unfortunately, is not extant.
Following the end of the war, Josephus was taken to Rome, where he wrote The Jewish War. His second major work, Jewish Antiquities, described the entire history of the Jews.

Jadi, sesungguhnya Josephus menyadari betul bahwa perlawanan Yahudi sehebat apapun tidak akan bisa mengalahkan pasukan penjajah Roma. Itulah sebabnya atas desakan – ancaman Roma, Josephus menyampaikan “seruan” dalam bahasa lokal (Ibrani) agar Yahudi menyerah sehingga tembok (Bait Suci) Yerusalem tidak perlu diruntuhkan. Pada ayat-ayat selanjutnya (Wars 5:9: 4-) Josephus sangat menderita atas “kenekatan pejuang” Yahudi, dan hasilnya sungguh-sungguh berupa pembantaian yang mengerikan. Nampaknya daripada mati Josephus akhirnya lebih baik menyerahkan diri. Ia dipenjara di Roma, namun karena “hubungan baiknya” dengan Vespasian (ayah Titus) ia akhirnya terselamatkan bahkan dihadiahi nama keluarga, Flavius, dan selama di penjara itulah ia menulis Wars dan juga Antique (nama lengkap Titus adalah Titus Flavius Vespasianus). Justru oleh karena Josepus selamat, kita bisa memiliki satu-satunya saksi keruntuhan Yerusalem (~ 70 C.E) dalam bentuk bukti tertulis.
Kesulitan memahami bahasa Yunani (pada waktu itu jelas masih Yunani koine) tidak hanya dialami oleh Yosephus melainkan juga Jesus ben Sirach (lihat tanggapan sebelumnya)



RY menulis:
Memang bahasa Aram secara umum dan di Perjanjian Baru disebut bahasa Ibrani (hebraisti = lidah Ibrani; hebraidi dialektos = dialek Ibrani), tetapi maksudnya adalah bahasa Aram. Bruce Metzger, profesor Perjanjian Baru dari Princeton, mengatakan:
“Bahasa ibu orang Yahudi Palestina di waktu itu adalah Aram. Sekalipun para Rabi dan Ahli-Kitab masih menggunakan bahasa Ibrani klasik Perjanjian Lama, untuk mayoritas umat ini adalah bahasa mati. ... Barangkali karena rasa bangga yang salah, dan kemungkinan besar karena tidak dapat membedakan ketepatan ilmiah, bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa “Ibrani.” ... Bahasa percakapan umum semitik orang Yahudi Palestina pada waktu Yesus hidup adalah “Aram” (The Language of the New Testament, dalam The Interpreter’s Bible, Vol.7, 43).


Tanggapan K.H.S
Memang pendapat tersebut cukup dominan, toh itu hanya dugaan saja, artinya kutipan RY sama sekali bukan mencerminkan bukti; namun akhir-akhir ini dengan munculnya studi HRV, maka pendapat tadi perlu dikaji-ulang. RY boleh-boleh saja menduga bahwa bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa “Ibrani” dan menyatakan sebagai rasa bangga yang salah. Tetapi fakta arkheologi –Dead Sea Scroll berbicara bahwa tulisan – inskripsi berbahasa Ibrani dibanding Aramaik sekitar 9 berbanding 1. Bahkan Kitab Suci PB, hanya bisa dipahami dengan idiomatik Ibrani termasuk yang memakai tulisan aramaik sekalipun, dan tidak berlaku sebaliknya.



RY menulis:
Septuaginta menerjemahkan Yahweh/Adonai menjadi ‘Kurios’ dan El/Elohim/Eloah dengan ‘Theos,’ namun ada yang menyebut bahwa beberapa fragmen abad-1M menunjukkan LXX aslinya tidak menerjemahkan tetragramaton dan baru pada abad-2M diterjemahkan menjadi Kurios. Melihat fragmen itu kita dapat mengetahui bahwa itu salinan yang dimiliki pemuja nama Yahweh kala itu dimana kata Kurios diganti YHWH, indikasinya ada naskah LXX yang memuat nama YHWH Ibrani kuno yang lebih dari 5 abad lebih tua, malah ada naskah Tenakh Ibrani miznah yang nama YHWHnya ditulis dalam Ibrani kuno juga. Ada juga fragmen LXX abad-1M yang didalamnya memuat nama YHWH Ibrani miznah yang semasa. Banyak juga fragmen LXX yang menunjukkan nama Kurios & Theos, dan adalah tidak logis kalau itu baru ditulis pada abad-2M sebab pada tengah kedua abad-1M, kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine yang sama dan menggunakan gaya bahasa dan kosakata LXX termasuk nama Kurios & Theos.


Tanggapan K.H.S
Inilah yang memang harus kita kaji secara cermat. Cara analisi RY yang khas adalah melemparkan semacam “tuduhan” bahwa adanya nama YHWH oleh sebab “tindakan” pemuja Yahweh-lah yang mengganti Kurios. Cara main “tuduh” bukanlah cara yang argumentatif-akademik dan mestinya ditunjukkan alat bukti. Jika tuduhan RY betul, dapatkah RY menunjukkan bukti (inskripsi) Septuaginta tertua dengan kata Kurios / Teos ketika menerjemahkan YHWH (hebrew)?
ccat.sas.upenn.edu/rs/...#jewishmss memuat informasi yang sangat baik untuk studi penelusuran penggunaan YHWH – Kurios dalam Septuaginta (Greek OT).

(1) Bangsa Yahudi sadar betul akan nama YHWH yang tidak boleh sembarangan diucapkan, dan respon persisnya memang sulit diketahui meskipun secara tradisi mengungkapkanNya dengan panggilan umum Adonai (Kurios = Lord = Tuhan)
(2) Oleh karena itu Jewish scribes tidak akan pernah menerjemahkan nama YHWH termasuk dalam Greek Pentateuch pertama kali (LXX)
(3) Inskripsi LXX tertua berkaitan dengan tetragrammaton YHWH yang berhasil diidentifikasi berumur sekitar abad 1 BCE hingga 3 /4 CE antara lain seperti berikut. (Foto-foto inskripsi berikut ini dapat diunduh pada alamat tsb.)

Inskripsi abad 1 BCE, PFouad 266b, Deuteronomy 17-33 [#848 = vh56 = AT27] menuliskan tetragrammaton YHWH dengan huruf aramaik kotak/Ibrani dengan ukuran kecil; 4Q120=LXXLev\b, Leviticus 2-5 [#802 = vh046 = AT22] menuliskan IAW dengan menyisakan spasi sebelum dan sesudahnya;

Inskripsi yang sedikit lebih muda, pada akhir abad 1 BCE, 4Q126 unidentified Greek [no Goettingen #; unknown to vh], nampaknya menuliskan KURIO[] namun kurang begitu jelas.

Inskripsi yang lehih muda, 50 BCE – 50 CE, 8HevXIIgr = Nahal Hever Minor Prophets [#943 = vh285], menuliskan YHWH dengan huruf Ibrani Paleo;

Inskripsi pada sekitar abad 1 CE, POxy 3522 Job 42 [Goettingen #??; unknown to vh], menuliskan tetragrammaton YHWH juga dalam Ibrani Paleo tetapi dengan urutan dari kiri ke kanan oleh penulis aslinya;

Inskripsi yang lebih muda lagi, abad 2 CE, PYale1 recto and verso of Genesis 14 [#814 = vh012 = AT6], menuliskan KU dengan menyisakan spasi yang sangat jelas.

Inskripsi abad 2/3 CE, POxy 656 Genesis 14-27 [#905(U4) = vh013 = AT8] menuliskan variasi pengganti Tetragrammaton jakni QEOS dan KURIOS (tidak disingkat), adanya spasi kosong selebar kira-kira 4 huruf (Gen. 15:8), namun pada manuskrip lain diisi KURIE. Pada tempat lain muncul singkatan KU dengan menyisakan spasi kosong.

Inskripsi abad 3 CE, POxy 1007 = PLitLond 199, Genesis 2-3 [#907 = vh005] menuliskan huruf Ibrani Peleo double Yowds (YY), dan QEOS yang diperkecil ukurannya.

Inskripsi abad 3/4 CE, PVindob 39777 = StudPal 11.114 = PWien Rainer 18, Ps 68/69, 80/81 (Symmachus) [Goettingen #?? = vh167], menuliskan YHWH dengan huruf Ibrani Paleo.

Jadi, tetragramaton disalin dalam berbagai variasi, huruf Ibrani Paleo, Aramaik kotak, singkatan YY (bahkan juga ZZ untuk data yang lain), IAW, QEOS, KURIOS, KURIE, singkatan KU (bahkan juga KS untuk data yang lain). Adanya spasi yang kosong sama sekali (selebar 4 huruf-huruf tetragrammaton) dan sebagian kosong ketika terisi oleh berbagai bentuk singkatan tersebut dapat dipikirkan bahwa:
(1) Pada awalnya Jewish Scribes selalu menuliskan YHWH dengan huruf Ibrani.
(2) Karena pengaruh helenis bagi pembaca, spasi tempat YHWH yang mestinya ada ketika terjadi proses penerjemahan dikosongkan (sementara?), kemudian terjadilah proses pengisian yang ternyata tidak seragam, bergantung pada penerjemah/pemakai. Penyingkatan YY (Ibrani) atau IAW (Yunani), mungkin berasal dari Jewish Scribes yang sedikit “terkontaminasi” helenis, sedangkan pengisian Kurios-Kurie-Qeos-KU hampir pasti dilakukan oleh (pre) Jewish-Kristen, toh ketika menjumpai YHWH, secara tradisi dibaca Adonai atau Kurios (Yunani), dan ketika menjumpai Adonai YHWH toh dibaca Adonai Elohim (Kurios Teos).
(3) Dengan demikian justru (pre?) Jewish Kristenlah yang paling berperan melakukan penggantian YHWH (Ibrani) menjadi Kurios (Yunani); sementara itu Aquila, Symmachus, Theodotian (abad 2 CE) , dan Origen (abad 3 CE) tetap terus mempertahankan (Lihat kasus studi Heksapla); bahkan Jerome dalam menerjemahkan Vulgate, tidak melulu mengambil referensi Septuaginta melainkan Hebrew Scripture dan Theodotian.
Perihal kaitannya dengan PB-Greek, perlu diingat bahwa kata Kurios dan Teos tentu sudah ada sejak Septuaginta diterjemahkan pada pertama kalinya, sebab kedua kata ini untuk menerjemahkan Adonai dan Elohim. Permasalahan menjadi muncul kemudian ketika PB-Greek menggunakan kosa kata yang sama tersebut untuk ditujukan pada Tetragrammaton, YHWH, karena YHWH menurut tradisi dibaca Adonai. Perlu diingat pula bahwa inskripsi PB-Greek yang dipercayai tertua adalah John. 18:31-33, 37-38 dalam fragmen John Rylands, tertanggal 125 A.D. Dengan demikian ketidaklogisan RY karena analisisnya yang kurang mampu menyajikan data saja
.


Amin.
Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org


Yahweh Bless Us
Penanggap
Kristian H. Sugiyarto
GKJ. Demakijo, Yogyakarta
Back to top
View user's profile
Display posts from previous:   
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index -> Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum



Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Hotline kami di 08883023916 bila Anda ingin info lebih lanjut mengenai pelayanan SALIBNET MINISTRIES atau bila Anda membutuhkan pelayanan kami.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.