Syalom !!!
Dulu aku tidak percaya dengan penyakit syndrome baby blues, tapi setelah aku membaca pengalaman seorang ibu yang melahirkan anak pertamanya, aku teringat dengan apa yang kuaalami setahun yang lalu, Baby blues adalah perasaan kacau-balau yang melanda ibu yang baru melahirkan. Konon 80 persen perempuan mengalaminya setelah persalinan. Detik ini senang karena punya bayi, detik berikutnya tiba-tiba sedih dan menangis bercucuran air mata. Susah untuk konsentrasi pada sesuatu, hilang selera makan, susah tidur, kadang bawaannya pengen maraaaah terus.juga waktu itu gampang panik setiap kali bayi menangis dan kebingungan harus melakukan apa. Pengalaman ibu tadi membuat saya sadar akan apa yang saya alami setahun yang lalu ketika melahirkan anak pertama saya di bandung. Dan itu mulai saya rasakan pasca melahirkan bulan-bulan pertama pada bulan JUNI tahun 2007. Jauh sebelum kelahiran, saya dan suami sudah mempersiapkan biaya untuk kelahiran anak kami. Waktu itu suami terpaksa harus menjual usahanya karena tempat tinggal kami pisah yang manah aku masih bekerja di bandung. Aku menyarankan kepada suami untuk menjual usahanya dan membuat usaha yang baru di bandung agar kami tinggal bersama di bandung apalagi setelah aku melahirkan nanti. Dan akhirnya biaya untuk melahirkan kami sisihkan dari hasil penjualan usaha kami, dan sebagian untuk usaha kecil-kecilan, namun apa dikata sebelum semua itu terjadi, kami mengalami musibah yang mana uang buat persalinanku saat itu ludes dari ATM karena suamiku kena hypnotis lewat sebuah sms yang menawarkan pekerjaan. Dimana saat itu memang suamiku sangat butuh, sementara sebagian dari penjualan usaha suamiku kami terima dengan cara dicicil, terpaksa kami harus bersabar karena memang sudah perjanjian. Sementara kami juga harus membayar cicilan hutang kepada seorang kerabat di Jakarta, saat itulah aku merasakan suatu tekanan yang berusaha kututupi dari suami karena akupun sangat mengasihinya, dan ternyata dia pun melakukan hal yang sama kepadaku. Hari persalinan pun semakin mendekati, ternyata persalinanku harus melalui Caesar karena beberapa faktor medis yang tidak memungkinkan, kami pun semakin bingung akhirnya berbagai cara, suamiku mengupayakan agar kami dapat keringanan dari pihak RS yang akan menanganiku, singkat cerita, anak kamipun lahir, hari itu aku sangat bahagia begitupun suamiku, tapi saat aku pulang dari RS amarah kutahan dalam dadaku, setiba aku di rumah aku melihat pakaian bayiku berjatuhan dari jemuran, lalu aku masuk ke dlm rumah aku ingin istirahat namun kondisi tempat tidur yang bertumpuk pakaian, rumah yang sangat kotor, aku melihat piring kotor, cucian bertumpuk, banyaknya pasukan dari teman-teman iparku yang menambah kebisinganku. Padahal saat itu yang kuinginkan ketenangan dan berbaring di sebelah bayiku, tapi bayiku digendong kesana-kemari oleh teman-teman iparku dengan ketawa dan teriakan yang centil, kondisi kontrakan kami yang sangat kecil membuat aku muak dengan orang-orang saat itu, akhirnya dengan kondisiku yang masih sangat lemah aku harus mengepel, mengganti sprey dan merapikan jemuran/popok anaku yang terbang kemana-mana, dan pada malam harinya mertuaku tiba di rumah kontrakan kami, kehadiran mertuaku kukira akan sedikit mengurangi bebanku, dan setidaknya aku bisa makan enak seperti masakan mamaku yang kurindukan, namun apa dikata ternyata mertua tidak bisa masak, akhirnya aku yang masak dan segala pekerjaan rumah kulakukan dari pagi hingga malam hari, terkadang aku nangis sambil mengerjakan pekerjaan rumah, aku berpikir kalau seandainya mamaku sehat, ia akan datang, dan aku bisa makan enak, dia bisa mengajariku merawat bayiku, aku juga berharap mertua bisa sedikit mengontrol iparku yang seorang perawat tapi sangat dan sangat malas dan jorok, namun ternyata apa yang terjadi, mertuaku menyiapkan segala keperluannya iparku saat berangkat kerja termasuk perlengkapan pribadinya hingga menyetrika dan mencuci pakaian iparku. beberapa hari kemudian suamiku harus pergi ke suatu tempat nan jauh, untuk mencari pekerjaan itupun atas saran mertuaku dan untuk menghindari kerabat yang di jakarta, padahal aku tidak menginginkan itu, tapi suamiku lebih mendengarkan ibunya daripada istrinya, akhirnya suamiku harus pergi meninggalkan istri dan bayinya yang masih merah, kegalauan di hatiku pun bertambah, bagaimana nanti aku merawat bayiku tanpa suamiku, bagaimana menghadapi mertua, bagaimana menghadapi iparku dll, beberapa kali aku curhat sama suamiku agar ia menasehati adiknya, ya setidaknya membantu sedikit-sedikit pekerjaan rumah namun tidak ada artinya, karena di depanku saja iparku pernah teriak dari kamar mandi “masakin indomi donk bang aku lapar banget, dah gak keburu lagi” (seorang perawat RS.Kristen masuk kerja jam 07.00 bangunnya 06.20). menambah tumpukan amarahanku lagi di dada, aku tidak bisa mengendong bayiku sesuka hatiku, sementara mertua dan iparku sesuka hati memindahtangan bayiku padahal bayiku sedang tidur, tiap kali aku ingin menggendong bayiku, mertua selalu bilang “nanti kalau dia sudah bangun kamu gendong”, tapi setelah bangun mertuaku malah ngasih ke iparku, saat bayiku terbangun dan menangis kukira itulah kesempatanku untuk menyusui, tapi ternyata mertua malah membuatkan susu sapi untuk anaku, dan akhirnya ASIku pun membengkak, yang membuat aku panas dingin tidak karuan, setiap tengah malam aku harus ganti baju beberapa kali karena ASIku tumpah kemana-mana, mertua selalu sedia susu sapi tiap rengekan kecil bayiku, tiap kali aku mau memberi ASI pada bayiku, kondisinya dalam keadaan kenyang, akhirnya ASI berhenti karena tidak pernah disedot. kemarahan yang menumpuk di dadaku naik sampai ke ubun-ubunku dan kemudian keluar dengan melemparkan sebuah piring yang tak sadar kulakukan, tubuhku bergetar tangisku pun tersendat tak bisa kumengerti kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri yang sudah tidak beraturan dan sepertinya aku terkena post-partum depression, kata-kata yang kuucapkan yang kuingat saat itu “Mulai besok aku gak akan beli susu sapi untuk anakku, sebab dia bukan anak sapi, dan tidak ada anggaran untuk susu sapi, kecuali anakmu/suamiku punya penghasilan” karena saat itu aku adalah tulang punggung dalam RTku. Dan tak jarang mertuaku dan iparku selalu melecehkanku dari segi berpakaian, trus terang sejak menikah aku memang tidak pernah beli baju, jadi baju warisan mamaku suka kupakai. Karena bajuku waktu gadis sudah tidak muat lagi, sikap mereka terkadang membuat aku sakit hati, terkadang aku berpikir “sadar gak ya mereka kenapa penampilanku kuno, Aku gak bisa mengenakan perhiasan dan baju bagus seperti mereka”. sejak itu hari-hariku penuh dengan air mata, aku curhat kepada tanteku di aceh, dia mengatakan kamu tidak salah, kemarahan kamu memang harus kamu tumpahkan, aku pun jadi teringat dengan jurus ke-2 pengalaman seorang ibu di Iran yang pernah kubaca dalam menghadapi syndrome baby blues :
Lepaskan saja emosi, gak usah ditahan-tahan. Mau nangis, marah, ya keluarin aja. Sadarilah, bahwa kondisi ini normal dan dialami oleh hampir semua ibu, jadi tidak perlu ada rasa bersalah, apalagi merasa:”Aku ini bukan ibu yang baik”.
Namun apa dikata suamiku jauh, semua aku pikirkan sendiri, termasuk kebutuhan hidup, aku hidup dengan gaji pas-pasan yang kuterima dari perusahaan dimana aku bekerja. Sementara pemahaman dari orang di sekelilingkupun tidak kudapatkan.
Kesedihanku mulai berakhir setelah aku memutuskan untuk pisah rumah dari iparku dan setelah mertuaku pulang, lambat laun bebanku berkurang, aku mulai menerima kitadakhadiran suami dalam rumahku, aku semakin terarah, ditambah dengan tawa dan teriakan-teriakan kecil anakku yang lucu,
Dan tak kuduga suamiku sangat merindukan anaknya, iapun pulang di waktu yang tak kusangka, seperti mimpi karena ia datang pada malam hari, kebahagian begitu lengkap, Jujur setiap permasalahan dalam RTku aku dan suamiku selalu sehati, dan kami hampir tidak pernah bertengkar, kadang kala, saat menjelang tidur kami bercerita dan saling mengakui bahwa “Kami adalah Jodoh”, ditambah kehadiran seorang anak, suamiku begitu perhatian. aku tidak perduli makan apa kami nanti, yang jelas aku bahagia,
Seandainya suamiku mendengarkan aku saat itu, aku tidak akan pernah ribut dengan ipar dan mertuaku, ongkos pesawatnya bisa kami gunakan buat bayar kontrakan rumah tahun depan, sekarang aku ingin saran dari netters semua, hingga saat ini sejak aku pisah dari ipar dan mertuaku, aku gak pernah berhubungan dengan mereka, karena aku masih sangat membencinya bahkan aku ingin mengaggap mereka tidak ada. Karena ketika kami pacaran suamiku punya usaha yang menjanjikan, ia selalu menopang keuangan keluarganya, sampai biaya kuliah adik-adiknya. Namun karena usaha suamiku, saat ini kami terbelit hutang sebesar 50jt kepada seorang teman di Jakarta, tidak ada keluarga yang peduli dan membantu kami, akhirnya kami kabur menghilangkan jejak sementara, dan suatu hari ada tamu datang ke kantorku ternyata tamu itu ingin bertemu denganku aku tidak bisa menghindar, dan aku selalu membohongi mereka, karena sikap mereka sudah mulai pakai ancam-mengancam, senjata saya hanya kata “TIDAK TAHU” karena masalah hutang-piutang itu transaksinya memang aku tidak tahu, sebab saat itu kami belum menikah. Saat ini kami hanya menyerahkan diri kepada Tuhan, dan selalu berdoa agar Tuhan memberikan jalan keluar atas permasalahan kami semua. Tapi ada yang mengganjal dalam hatiku “bagaimana Tuhan akan menjawab doaku sementara akar kepahitan yang ada dalam hatiku belum bisa kusingkirkan”, para netters tolong bantu aku atas permasalahan yang kuhadapi saat ini, trims GBU
|