salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: agus.soetopo
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1525

People Online:
Members: 0
Visitors: 2
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Buku2 pengajaran iman Kristen yg ditulis oleh: Denny Teguh S
Last post by Denny in Lainnya on May 18, 2012 at 01:28:12

Buku: "BAHASA LIDAH: MASIH ADAKAH?" (Denny Teguh S.)
Last post by Denny in Lainnya on Apr 18, 2012 at 00:13:58

Renungan Paskah 2012: TUHAN YESUS TELAH BANGKIT! (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 08, 2012 at 02:52:50

Renungan Jumat Agung 2012: KEMATIAN SANG ANAK ALLAH (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 05, 2012 at 00:14:12

Get my new book: GENERASI TUA VS GENERASI MUDA (Denny T. S.)
Last post by Denny in Lainnya on Mar 18, 2012 at 02:07:53

Paskah Akbar Surabaya 2012
Last post by Denny in Agenda Kita on Mar 18, 2012 at 02:01:33

Tantangan Untuk Beritakan Injil di Wilayah Timur Tengah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Mar 17, 2012 at 12:58:39

Diresmikan, Syarat Dapat Gelar S1 Harus Publikasi Ilmiah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 07:08:29

Suka duka jadi anak jenius
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 06:41:05

Kemampuan Pelajar Asia Timur, 3 Tahun Diatas Negara Maju
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 22, 2012 at 18:59:09

We have received
5086948
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Tanggapan Surat Bapak Bambang Noorseno 5b
Result

Tanggapan Surat Bapak Bambang Noorseno 5b
Bila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Thu Jan 06, 2005 7:20 pm    Post subject: Tanggapan Surat Bapak Bambang Noorseno 5b Reply with quote

The DSC mencakup sekitar 600 bagian manuskrip baik yang berkaitan dengan Alkitab maupun non -Alkitab, dengan sekitar 40 ribu fragments (potongan). Rasio bahasa yang digunakan untuk Scroll yang sekular adalah 9 (Ibrani): 1(Aramaik). Menakjubkan, Scroll tentang komentar/tafsir Alkitab semuanya ditulis dengan bahasa Ibrani. Bagaimana logika Anda! Mari kita belajar logika lagi! Hampir tidak mungkin kita menyimpulkan bahwa suatu komentar/catatan/tafsiran tentang Alkitab itu ditulis dengan bahasa lain ketimbang bahasa yang popular bagi masyarakat saat itu. Dengan kata lain bahasa yang popular saat itu tentulah Ibrani.
Inskripsi slogan yang ditemukan dari hasil penggalian di Bait Suci Yerusalem sekitar abad pertama BC/AD tak satupun berbahasa Aramaik, semuanya Ibrani.
Penggalian Benteng Herodes di Masada (Laut Mati) ditemukan sekitar 14 Scroll dan lebih dari 4 ribu coin serta lebih dari 700 pecahan periuk bertulisan; lagi-lagi Rasio bahasa yang digunakan adalah sekitar 9 (Ibrani): 1(Aramaik).
Bukti lain yang mendukung popularitas bahasa Ibrani saat itu termasuk kehidupan Yesus ditunjukkan oleh tulisan pada kepingan uang (coin) dan inskripsi yang lain. Dari abad ke 4 BC s/d akhir Revolusi Bar-Cochba tahun 135 AD, keseluruhan sejarah kepingan uang Yahudi hanya ditemukan satu coin yang bertulisan Aramaik, sisanya semuanya dalam bahasa Ibrani.
Surat-surat Bar-Cochba kepada para prajuritnya berbahasa Ibrani; dua surat berbahasa Yunani berasal dari orang bernama Yunani dan salah satunya menyatakan minta maaf karena suratnya terpaksa ditulis dalam bahasa Yunani karena di sekelilingnya tidak satupun yang bisa berbahasa Ibrani. Surat Gamaliel (30-110 CE) juga ditemukan berbahasa Aramaik.
Kesaksian seorang sejarahwan Yahudi, F. Yosephus (37-100 CE) tak mungkin dibantah. Ia bersaksi bahwa Ibrani adalah bahasa orang-orang Yahudi pada abad pertama. Ia merupakan satu-satunya saksi runtuhnya Bait Suci Jerusalem (70 CE) dengan pernyataannya bahwa ia diminta oleh pihak Roma untuk menerjemahkan “seruan” Roma ke dalam bahasa Ibrani agar Yahudi menyerah. Josephus gives us a point-blank statement regarding the language of his people during his time: “I have also taken a great deal of pains to obtain the learning of the Greeks, and understanding the elements of the Greek language although I have so long accustomed myself to speak our own language, that I cannot pronounce Greek with sufficient exactness: for our nation does not encourage those that learn the languages of many nations. Jadi jelas bahwa kesaksian Yosephus sesuai dengan data Arkeologi pemberontakan Bar-Cochba di atas.
Seorang Sejarahwan saja sangat kesulitan dan tidak tahu persis bahkan merasa menderita belajar bahasa Yunani, dan bangsanya tidak memberi dorongan untuk belajar bahasa bangsa lain; oleh karena itu sangat aneh jika suasana dominasi Ibrani, Alkitab asli justru ditulis dalam tulisan Yunani; ini tentu ada penyebabnya dan inilah yang harus kita pecahkan. Dengan hancurnya Jerusalem tersebut hampir semua naskah alkitab Ibrani (khususnya PB) musnah, sebab diduga penghancuran Jerusalem disebabkan oleh pembangkangan Kristen Yahudi. Itulah sebabnya yang selamat adalah naskah Kristen Gentile alias naskah PB Yunani. Sdr. Bambang yang terkasih, saya kira hanya orang yang “very narrow minded” saja yang menyatakan bahwa keraguan PB Yunani tidak beralasan!
Saya tidak ingin mengungkap isi PB Yunani yang sesungguhnya berisi hampir segalanya bersifat Ibrani; ungkapan aramaik pun tidak bisa dipahami dengan tepat tanpa bantuan Ibrani. Demikian pula “kejanggalan-kejanggalan” yang hanya terjawab oleh naskah Ibrani sebagaimana dilakukan J. S. Trimm.
Anda keliru besar jika ada pengkothakan bahwa Yahweh sebagai sembahan Kristen-Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Anda memang tidak memahami isi Alkitab. Yahweh adalah Sang Pencipta (Kej 2:4), yang secara nasional diakui oleh bangsa Yahudi. Tetapi sebelum bangsa Israel lahir, Dia sudah menjadi sesembahan Enos (Ke. 4:26). Justru Anda dan yang sealiran sajalah yang bisa berpendapat begitu sebab mengganti Yahweh dengan TUHAN, ALLAH, LORD, GOD, dsb.

BN menulis:
7. Asal-usul YHWH dan Allah

Dalam artikel “Menjawab Hujatan Para Penentang Allah”, sudah saya buktikan bahwa sebagaimana Allah pra-Islam pernah dimaknai secara pagan, begitu juga nama Yahwe juga pernah dipuja bersama-sama dewi kesuburan, Asyera. Lalu saya tekankan, kalau istilah Allah ditolak karena alasan bahwa kata itu pernah dimaknai secara pagan, apakah karena alasan yang sama Yahwe juga kita tolak?

Tetapi seorang penanggap merasa dapat mematahkan argumentasi saya. Menurutnya, kedua kasus itu berbeda. Alasannya, karena kalau umat Yahudi dan Kristen di Arab, dan kemudian Islam, akhirnya memurnikan kata Allah yang sebelumnya bermakna pagan, sebaliknya Yahwe mula-mula dipahami secara monoteis lalu dislewengkan kemudian menjadi pagan. Ditekankannya pula, bahwa Yahwe tidak baru muncul zaman Nabi Musa, melainkan nama itu sudah mulai disebut sejak zaman Enos (Kejadian 4:26).

Para ahli telah membuktikan secara liguistik kesejajaran istilah: ehyeh, Yah, Yahweh dalam bahasa Ibrani dengan Ayya (dewa Akkadia purba), Yaw, Yehaw, Yehi (dewa pagan Byblos), dan yahwa, yiha (dewa Mesir menurut inskripsi Soleb, ‘Amara dan Medinet Habu dekat Luxor), yang sebagian justru berasal dari masa pra-biblikal (lih. Gwendolyn Leick, A Dictionary of Ancient Near Eastern Mithology, London, 1996; James B. Prichard, ed., The Ancient Near East: An Anthology of Texts and Picture, 1958; Barry J. Beitzel, “Exodus 3:14 and The Divine Name: A Case of Biblical Paronomasia”, dimuat dalam Trinity Journal, 1980, pp. 5-20).

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Inilah sikap seorang yang merasa bahwa teori asal-usul kata dianggap sebagai kebenaran. Nampaknya keyakinan Anda akan kebenaran teori, sekali lagi teori, melebihi keyakinan seorang ilmuwan IPA. Ada beberapa teori asal-usul Alam semesta, salah satunya adalah The Big Bang Theory. Tak satu pun scientist mengambil sikap “membenarkan” teori tsb. Apalagi menganggapnya sebagai bukti kebenaran; hal yang sama juga berlaku bagi teori evolusi Darwin untuk asal usul manusia. Apakah para ahli itu menyaksikan proses Enos atau leluhur yang lain menyebut YHWH gara-gara ia (dan mereka) mengenal nama dewa Babilon atau dewa Mesir; andaikata ya apakah memang mulanya YHWH itu dewa Mesir atau dewa Babilonia? Saya juga membaca bahwa nama Yahweh mungkin berasal dari Yao (Gnostis), bahkan mungkin cognate dengan Yaw (teks Ugaritik).
Saya menjadi semakin jelas bahwa Anda mempelajari Alkitab hanya mempelajari bahasanya saja. Saya beruntung sebagai seorang yang menekuni IPA tidak mudah begitu saja dipermainkan oleh penerapan ilmu “kutak-kutik” asal-usul kata. Referensi Dictionary Anda tentu sah-sah saja. Namun tidak setiap kata dalam Dictionary selalu meyakinkan. Saya terbelalak ketika membaca Kamus bahasa Indonesia John M. Echols dan H Shadily untuk kata aqueous yang diterjemahkan encer oleh karena mahasiswa saya memang bersikeras menerjemahkan demikian dalam mata kuliah bahasa Inggris untuk Kimia yang saya ampu.; terjemahan dalam kamus ini jelas salah, no question!
Kembali tentang nama-nama dewa (sembahan) yang mirip/sejajar tentu saja bisa terjadi; namun bagi leluhur Israel Yahweh telah dipahami secara monoteistik; sementara itu Mesir dan Babilonia memahami sesembahan mereka secara politeistik. Apakah Anda tidak mempertimbangkan bagaimana pengenalan YHWH kepada Musa melalui api?

BN menulis:
Tetapi bagi saya, bukan terletak disitu masalahnya. Mengapa? Pijakan penyanggah yang mensyaratkan pengujian umur inskripsi-inskripsi segala itu, disebabkan karena anggapannya bahwa YHWH maupun Allah adalah nama diri yang tidak bisa diterjemahkan, sehingga perlu untuk membuktikan siapakah yang berhak atas hak cipta “the proper name” itu. Sedangkan bagi saya, yang terpenting adalah makna teologis di balik istilah-istilah tersebut, yang semuanya diambil dari bahasa-bahasa manusia. Maksud saya, bagaimana kita memahami Sang Pencipta yang tidak terbatas itu, di balik nama, rumusan dan deskripsi bahasa-bahasa manusia yang serba terbatas.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Lho, lhoo, lhoo, lhoooo! Sikap Anda sungguh-sungguh (maaf) very “peculiar” oleh karena memang sulit diikuti oleh siapapun yang mengabaikan umur inskripsi. Sangat sayang Anda yang cakap beraneka bahasa (semitik) ternyata sedemikian tidak ilmiah sikap Anda. Sdr. Bambang yang terkasih; pernyataan Anda dalam Salib.net ini bisa dibaca oleh seluruh insan di muka bumi lho! Diskusi ini dapat dipakai untuk wacana pencerahan agar menjadi berkat bagi para pembacanya. Bagaimana reputasi Anda nantinya, apakah Anda memang sedang capai?
Anda barusan saja membandingkan umur-umur manuskrip Alkitab PB, demikian juga penggunaan term “Allah” oleh Kristen-Arab menurut inskripsi Zabad (512) yang ternyata lebih duluan ketimbang Islam berdasarkan umur! Hal yang sama saya demonstrasikan secara terbalik pemakaian kata YHWH dalam inskripsi Kuntilet. Dan ini memang tidak perlu mempertimbangkan apakah term itu untuk nama atau bukan. Siapa sih yang berputar-putar? Inskripsi tanpa dugaan umur hanyalah jadi “dongeng” belaka. Bahkan sekalipun tanpa tulisan tahun, umur materialnya selalu diburu orang melalui pengujian dengan “carbon dating” misalnya!
Anda mementingkan Teologi? Apa Anda kira saya tidak demikian? Apa ada orang berteologi terus tidak memerlukan Sang Nama? Bagaimana mungkin kita akan berteologi “lurus” jika terjemahannya saja “menyimpang”. Setahu saya berteologi itu menafsir, dan ini sangat bergantung (bekal) orangnya, jadi sama sekali tidak netral? Terjemahan sebaliknya “harus diusahakan senetral” mungkin, menghindari semaksimal mungkin tafsir si penerjemah. LAI yang hanya mengeluarkan satu jenis Alkitab saja menghasilkan banyak aliran gereja; ini kan hasil pandangan teologi yang berbeda! Yang benar aja! Secara akademik, YHWH itu nama, ya harus diterjemahkan YHWH; jika cara membaca dianggap hilang marilah kita diskusikan. Tolong Sdr. Bambang, pahamilah teologi yang berkembang di gereja umumnya bahwa “perempuan diciptakan dari lelaki” gara-gara kata “tsela” (Ibrani) diterjemahkan “rusuk” (rib); bahkan muncul perkembangan selanjutnya: perempuan diciptakan bukan dari kepala lelaki agar perempuan jangan menginjak-injak lelaki, demikian juga sebaliknya bukan dari telapak kaki lelaki; melainkan dari tulang rusuk yang dekat dengan hati, jadi perempuan harus dikasihi lelaki; kedengaran OK tetapi teologi omong kosong!. Cobalah menerjemahkan “tsela” menjadi “bagian” (side) sebagaimana tersedianya kata yang diijinkan menurut konkordansi. Tidak pernah Alkitab menyatakan Adam pertama seorang diri itu lelaki. Kej. 5:2, ”He created them male and female and blessed them, and called their name Adam in the day when they were created” (J.P. Green).
Lihatlah tema Natal 2004 hasil para ahli biblika di PGI + KWI: “Allah sumber pengharapan dunia” (Yes. 14:22). Saya tidak memasalahkan isi pesan yang memang “normatif” bisa disampaikan pada kesempatan kapan saja tidak harus saat Natal; bahkan andaikata tidak bicara Yesus, nyaris pesan natal menjadi pesan yang bisa datang dari siapa saja. Benarkah pernyataan tema tersebut sesuai dengan Yes. 14:22, “……Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN (Yahweh) Allah (Elohim) kami, pengharapan kami …” ? Struktur kalimat menunjukkan bahwa peran utama dilakukan oleh Sang Nama yakni TUHAN (Yahweh), bukan julukan umum Allah (Elohim). Siapa itu Yahweh? Dialah Elohim kami. Mengapa PGI + KWI bisa berbuat demikian? Jawabannya bisa sangat sederhana, yakni LAI melakukan terjemahan yang tidak mengikuti kaidah kebahasaan. Saya yakin orang-orang Kristen Indonesia yang begitu saja membenarkan LAI tidak mampu membedakan term Allah, ALLAH, Tuhan, dan TUHAN, bahkan termasuk Anda pun barangkali tidak menyadari bahwa nama YHWH (Yahweh) diterjemahkan TUHAN dan ALLAH (semuanya dengan huruf kapital). Hal ini jelas mendistorsi substansi yang didengar oleh telinga yang kemudian disalurkan ke otak dan akibatnya terbangunlah miskonsepsi. Miskonsepsi ini sedemikian kuatnya sehingga turut melanda para Pendeta (Pengajar, PGI, KWI), yang tidak lagi sadar bahwa sesungguhnya telah kehilangan Sang Nama. Jika ada yang mengingatkan bahwa Bapa yang dikenalkan Yesus (Yahshua) itu bernama Yahweh, telinga para pendengar malahan merasa asing.

BN menulis:
Dalam pada itu, baik dewa-dewa di Babel, Byblos, Mesir, Kanaan, Mekkah atau Yunani maupun Tuhan yang memperkenalkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dirumuskan dalam bahasa-bahasa yang sama. Bahasa dunia, dan bukan dalam bahasa surga. Tidak ada perbedaan, misalnya, bahasa Arab itu bahasanya thuyul, dan bahasa Ibrani itu bahasanya malaikat. Dan karena “gundul”-nya orang Ibrani, Aram dan Arab itu memang mirip satu sama lain, karena mereka berasal dari kakek moyang yang sama, sudah barang tentu banyak dijumpai istilah-istilah yang berasal dari akar kata yang sama. Itulah sebabnya el, eloah, alohim (Ibrani) mirip dengan ilah, allah dan allahumma (Arab). Mengapa? Karena semuanya termasuk dalam bahasa-bahasa semitik.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Saya setuju saja bahwa bobot bahasa apa saja di hadapan Tuhan itu sama dan itu bahasa dunia bukan bahasa surga. Apakah Anda kesulitan memahami argumentasi saya terdahulu yang berkaitan dengan misalnya Kis. 26:14? Jika ya tolong dipahami secara ekstra hati-hati untuk nats tersebut. Yesus (karena Ia sudah meninggal, maka tentulah Ia datang dari surga) mengenalkan diriNya kepada Saulus (Paul) dengan bahasa Ibrani, bukan bahasa yang lain. Andaikata Saul (sangat mungkin) fasih berbahasa Aramaik dan atau sedikit Yunani demikian juga tentulah Yesus; namun kenyataannya percakapan berlangsung dalam bahasa Ibrani. Informasi yang penting dalam peristiwa tersebut hanyalah untuk menekankan bahwa percakapan yang sesungguhnya pada masa PB tentulah bukan dengan bahasa Yunani meskipun kita mempunyai naskah lengkap PB Yunani.

BN menulis:
Begitu juga keserumpunan bahasa-bahasa lain, seperti dewa (Sanskrit), deo (Latin), theos (Yunani). Tapi mana ada orang Kristen yang mengatakan bahwa Gloria in exelsis Deo sama dengan Gloria in exelsis “Dewa”? Tidak ada! Karena meskipun secara linguistik bisa dilacak keserumpunan antara kata Dei, Deus dan Dewa, tetapi secara teologis makna yang diberikan atas kata-kata yang serumpun itu berbeda. Karena itu, yang penting bagi kita bukan memutlakkan huruf-hurufnya, melainkan beranjak lebih dalam untuk memahami makna di balik huruf-huruf yang mati itu. Apakah yang harus kita pahami dari pernyataan ilahi di balik Nama YHWH, dan bukan mengagungkan aksara-aksaranya. Sekali lagi, bahasa itu netral, tergantung siapa yang memaknai.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Siapa sih yang mengagungkan aksara? Aksara menjadi bermakna ketika dibaca atau dibunyikan kecuali Inskripsi yang memang “bisu”; YHWH ini makna ilahinya kan Nama Sang Pencipta, dan Nama Dia inilah yang saya agungkan, bukan Anda kutak-kutik semaunya saja. Anda nampaknya terlalu meremehkan pandangan teologi pihak lain dan merasa paling teologis. Sdr. Bambang N yang terkasih; secara lugas (maaf) saya katakan, hanya orang buta-huruflah yang tidak memerlukan aksara, hanya orang tulilah yang tidak memerlukan bunyi (suara), dan hanya orang bisulah yang tidak membutuhkan pengucapan untuk pujian bagi Sang Nama yang benar. Saya tidak buta-huruf, dan oleh karena itu butuh aksara; saya tidak tuli, maka butuh lafal aksara, dan saya tidak bisu, maka butuh pengucapan aksara. Aksara yang bertindak sebagai Sang Pencipta menurut Alkitab Ibrani adalah YHWH; saya perlu menyebutNya karena memang itulah salah satu perintahNya, dan yang terakhir saya harus memujiNya dengan kemerduan suara yang dikaruniakan kepada saya, lagi-lagi ini sesuai dengan perintahNya.

BN menulis:
Selanjutnya menanggapi tafsiran harfiah penanggap, kalau nama YHWH itu sudah disebut sejak zaman Enos. YHWH itu bahasa Ibrani. Kalau begitu, apakah pada zaman Enos bahasa Ibrani sudah ada? Kalau belum, bahasa apakah yang dipakai pada zaman Enos? Sebab diantara bahasa-bahasa rumpun semitik saja, bahasa Ibrani bukan bahasa yang paling tua, apalagi Enos ada jauh sebelum Sem putra Nuh, yang melalui keturunannya kita warisi “bahasa-bahasa semitik” (istilah semitik/samiyyah dikaitkan dengan bahasa-bahasa yang dihubungkan dengan keturunan Sem). Karena itu, kita tidak akan menjumpai bukti arkheologis bahwa pada zaman Enos ada sebuah prasasti yang menyebut nama Ibrani YHWH untuk Sang Pencipta.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
“ nama YHWH ini mulai dipanggil sejak zaman Enos” (Kej. 4: 26). Inilah pernyataan Alkitab bertulisan Ibrani yang tentunya dari seorang penulis Ibrani; jadi lafal/bunyi “Yahweh” yang kedengaran turun temurun itulah yang kemudian ditulis dengan huruf-huruf tetragramaton Ibrani. Apakah Enos sudah bisa menulis atau berbahasa macam apa itulah tantangan Anda jika dianggap penting. Namun satu hal yang tegas adalah Enos mulai memanggil (mengucapkan), memperdengarkan lafal yang berbunyi Yahweh; jika ucapan/ lafal demikian ini tidak pernah terdengar oleh para keturunannya, tentulah penulis Kej. 4:26 tidak mungkin bisa mengekspresikan dalam bentuk aksara. Seorang pendengar tidak perlu harus berbahasa yang sama dengan Si pengucap. Entah bahasa apa yang dimiliki Enos atau para leluhur Israel, mulut meraka bisa menghasilkan suara yang oleh bangsa Yahudi (tepatnya penulis Alkitab Ibrani) dapat ditangkap dan diwujudkan dalam bentuk aksara YHWH.

BN menulis:
Jadi, apakah makna Kejadian 4:26, “….waktu itulah orang-orang mulai me-manggil nama TUHAN (YHWH)”? Sedangkan menurut Keluaran 6:2, Sang Pencipta menyatakan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub dengan nama El Shadai (El Yang Maha Kuasa), “….tetapi dengan Nama-Ku TUHAN (YHWH) Aku belum menyatakan diri”. Mengenai Keluaran 6:2 ini, terlalu mudah untuk kita menemukan bukti-bukti arkheologis mengenai nama YHWH pada zaman Musa. Tetapi mengatakan bahwa nama itu sudah ada dan dipuja pada zaman Enos, tentu saja sangat sulit dibuktikan.

Lalu apakah Kejadian 4:26 tersebut salah? Tidak, tetapi tafsiran harfiah penanggaplah yang salah. Mengapa? Kita tahu, bahwa penulisan Taurat dihubungkan dengan peranan besar Musa dan zaman sesudahnya. Nah, secara teologis Musa menekankan pentingnya mengenal Sang Pencipta melalui Nama YHWH, yang menekankan kehadiran Dia Yang Mahaada. Karena itu, bukan berarti huruf-huruf YHWH itu sudah ada pada zaman Enos, tetapi pengertian teologis mengenai Sang Pencipta Yang Mahaada dan Mahahidup, seperti yang terkandung dalam nama YHWH itulah, yang sudah dikenal manusia sejak awal sejarahnya yang paling dini, meskipun mungkin dalam bahasa lain.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Anda memang cakap bersilat lidah melaui tulisan. Saya hanya membatasi tanggapan untuk inskripsi Kuntilet yang Anda ajukan ketika tanpa mempertimbangkan umur, dan saya konfrontasikan dengan munculnya sebutan Yahweh sejak zaman Enos bahkan yang lebih muda lagi zaman Musa. Apakah Anda pura-pura tidak tahu bahwa diagram Old Testament Chronology yang dipaparkan pada halaman depan The NIV Study Bible itu disusun berdasarkan data Archaeology? Anda sekarang membelokkan lagi masalah betapa tidak pentingnya sebutan nama melainkan hakikat kehadiran Sang Nama. Justru saya sangat menjunjung tinggi hakikat yang Empunya Sang Nama itulah saya tidak boleh gegabah menggantiNya. Apakah Anda overlook lagi bahwa hal ini sudah saya nyatakan kesetujuan saya dengan hakikat Sang Nama yang Anda ajukan? Hakikat Sang Nama kalau dibahas tidak mungkin selesai karena hakikatNya yang dinamis, dan sekali lagi ini bergantung bekal si penafsir.
Dalam pembatasan perikop pengenalan Yahweh kepada Musa (Kej. 6:2), bisa saja saya menafsir sebagai berikut. Dalam Kitab bahasa Ibrani perikop ini terdapat pada ayat 3: “Wa era (dan Aku telah menampakkan diri) el-Avraham (kepada Avraham) el-Yitskhaq (kepada Yitskhaq) we’el-Yaaqov (dan kepada Yaaqov) be’el shadai (sebagai Elohim yang Maha Kuasa) ushemi Yahweh (dan dengan NamaKu Yahweh) lo (tidakkah / bukankah) nodaa’ti (telah menampakkan diri / menyatakan diri) lahem (kepada mereka)?”

Dalam terjemahan Kitab Suci the Scripture : “And I appeared to Abraham, to Yitshaq, and to Ya’aqob, as El Shaddai. And by My Name, Yahweh, was I not known to them?

Dalam terjemahan Kitab Suci the Word of Yahweh: And I appeared unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, by the name of El Shaddai, but by my name Yahweh was I not known to them?
Terjemahan dalam bentuk kalimat tanya ini juga ditemui dalam KJV.

LAI memang menerjemahkan sebagaimana Anda pakai sebagai acuan, yakni dalam bentuk kalimat pernyataan, bukan kalimat tanya, dan efeknya tentu menghasilkan tafsir teologi yang jelas berbeda. Dalam referensi yang saya baca, ditawarkan 4 model tafsir untuk nats ini; namun yang paling tepat menurut saya adalah dalam bentuk kata tanya. Mengapa? Sebab percakapan antara Yahweh dengan para leluhurIsrael khususnya Abraham telah tercatat jauh sebelumnya; namun oleh karena penderitaan bangsa Israel di Mesir(sekitar 400 tahun) boleh dikata berakibat bangsa Israel sudah melupakan Nama Yahweh (atau lupa-lupa ingat) dan ini bisa dibuktikan dengan tidak pernah dijumpainya ibadah penyembahan bangsa Israel kepada Yahweh. Kalimat tanya tersebut mempertegas bahwa Yahweh sesungguhnya memang dikenal oleh para leluhurnya, namun dalam pemahaman dan pengalaman pribadi yang sangat berbeda. Bahwa pengenalan itu sangat diperlukan oleh Musa karena Musa yang kehidupan kesehariannya boleh dikata terisolasi dari rakyat jelata Israel (yakni di lingkungan kerajaan yang nota bene menindas Israel) koq tiba-tiba mau memimpin bangsa ini keluar dari Mesir. Apa bisa diterima kepemimpiannya, mengingat ia pernah memperoleh teguran tak terduga oleh orang Ibrani yang terlibat dalam perkelahian antar sesama Ibrani (Kej. 2:11-14). Atas wewenang siapa Musa mau meng-claim sebagai pemimpin? Setelah Yahweh mengangkatnya sebagai pemimpin dengan keterlibatan Yahweh secara fisik langsung dalam berbagai bentuk mukjizat (yang tentu belum pernah didengarnya dari para nenek-moyangnya apalagi disaksikannya) bangsa Israel mulai belajar memahami pribadi Yahweh sebagai Sang Pembebas, dst. dst. Bangsa Israel bisa menerima jika Musa memimpin atas wewenang dari Yahweh, sebab Sang Nama Yahweh ini adalah Elohim para leluhurnya, yang tentu saja pernah didengarnya. Penjelasan ini terpaksa saya tulis hanya dalam rangka untuk menunjukkan bahwa hakikat Sang Nama bisa ditafsir sesuai bekal pemahaman penafsir, dan kenyataannya tafsiran yang Anda tekankan (yang sekali lagi juga saya setujui) tidak sama dengan ungkapan saya (Anda boleh saja mengoreksi, silakan!).
Lebih lanjut pengabaian Sang Nama yang terucap berdasarkan yang tertulis yakni Yahweh menunjukkan Anda tidak mengakui pengalaman Musa dan para Nabi ketika mereka “membandingkan” kemahakuasaan antar nama-nama elohim masing-masing bangsa (misalnya Baal) dalam suatu “pertandingan”. Mereka boleh dikata tidak pernah menghadirkan Dia dengan hanya sebutan julukan-generik Elohim, melainkan karakteristik individual, Yahweh. Apa Anda tidak menyadari bahwa Alkitab mencatat sebutan “Yahweh” sekitar 6800 kali berbanding El, Eloah, Elohim yang total ketiganya tidak lebih dari 3000 kali, kurang dari separohnya? Hal ini saja menunjukkan betapa Sang Nama Yahweh menjadi central Alkitab.

BN menulis:
Hal ini bisa dibandingkan dengan istilah Allah. Sebagaimana nama YHWH, teori bahwa kata Allah sebagai nama diri yang tidak bisa diterjemahkan, juga lebih dilatarbelakangi suatu keyakinan teologis, ketimbang dibuktikan dari segi historis. Beberapa penulis Muslim yang menganut pandangan ini, menekankan bahwa ungkapan-ungkapan dalam al-Qur’an itu dite-rima apa adanya dalam bahasa Arab, misalnya:

Innani ana Allahu Laa ilaha illa Ana… Artinya: “Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada ilah selain Aku…” (al-Qur’an, .surah Thaha/20 ayat 14).

Perlu dipertanyakan, apakah Musa berbicara dalam bahasa Arab, dan menyebut Tuhan sebagai Allah? Tentu saja tidak! Tetapi semua wacana Tuhan dengan nabi-nabi pra-Islam, bahkan juga kepada Adam, Idris (Henokh), Nuh, yang kita tidak tahu apa bahasa mereka, semuanya dituliskan al-Qur’an dalam bahasa Arab. Mengapa? Karena Nabi Muhammad dalam keyakinan Islam menerima wahyu dari Tuhan dalam bahasa Arab.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Nah, dalam hal inilah kita diuji untuk mencermati semua naskah (baca Kitab Suci) yang ada, baik akurasi maupun umur naskah (sejarah). Sebenarnya relatif agak mudah membandingkan akurasi Bible dengan Al Quran karena dalam banyak hal menunjuk oknum dan peristiwa yang mirip. Saya juga sudah mendapat banyak informasi perihal ini namun nampaknya tidak perlu dikembangkan karena memang saya tidak terlibat dalam “studi banding.”

BN menulis:
Begitu pula dengan nama YHWH sebelum Musa, tidak harus dipahami secara harfiah seperti itu. Bahkan dalil ini juga berlaku setelah kedatangan Yesus, yang kita yakini sebagai penggenapan semua nubuat Perjanjian Lama. Salah seorang penanggap mengajukan laporan Koran The Japan Times, 27 Februari 2003, mengenai umat Kristen Assyria yang sampai hari ini masih mempertahankan bahasa Yesus (Syriac/Aramaic), lalu menghubungkannya dengan nama YHWH. Perlu saya sampaikan kepada seluruh pembaca, bahwa melalui Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), lembaga kajian yang saya dirikan, bidang kajian kami adalah gereja-gereja yang mempertahan-kan bahasa Yesus ini dalam liturgi, termasuk Gereja Asyyria Timur yang disinggung dalam koran itu.

Perlu diketahui pula, bahwa Syriac Christianity itu dibagi dalam 2 kelompok: Pertama, gereja-gereja yang memakai bahasa Aram dialek Barat (Gereja Ortodoks Syria, Gereja Katolik Syria, Gereja Maronit Lebanon), dan; Kedua, gereja-gereja yang memakai bahasa Aram dialek Timur (Gereja Assyria Timur dan Gereja Katolik Khaldea). Disamping itu, kedua dialek tersebut juga dipakai di beberapa cabang gereja rumpun Syria di India Selatan. Nah, Alkitab yang mereka pakai adalah Peshitta (Peshitto). Masalahnya, dalam Peshitta sendiri YHWH diterjemahkan menjadi Mar, Marya (TUHAN). Sekedar contoh, cukuplah saya kutipkan Markus 12:29 menurut Peshitta dialek Timur/Assyria:

Syma’ Yisrael, Marya Alahan Marya had hu. “Dengarlah, wahai Israel, Marya (TUHAN) itu
alah (ilah) kita, Marya (TUHAN) itu Esa”.
(Qeyama Hadatta: The New Covenant Aramaic Peshitta Text with Hebrew Translation, Jerusalem: The Aramaic Scriptures Research in Israel, 1986).

Memang, ada klaim Gereja Assyria bahwa Perjanjian Baru aslinya dituliskan dalam bahasa Aram (dan bukan Ibrani klasik). Tetapi klaim tersebut tidak semua bisa dibuktikan berdasarkan penemuan manuskrip-manuskrip asli, seperti yang berlaku pada ribuan manuskrip Yunani. Kajian berdasarkan kritik bentuk dari teks-teks Yunani bisa menolong, tetapi mungkin hanya berlaku untuk Injil Matius yang mula-mula ditulis dalam bahasa Aram, seperti kesaksian para bapa Gereja kuno.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Kabar bagus atas posisi Anda; jika Anda belajar kritis, tolong terjemahkan The Old Syriac Gospels (khusunya 2 manuskrip yang selamat Codex Syrus Curetonianus dan Codex Syrus Sinaiticus) kemudian bandingkan dengan PB Yunani. Referensi saya (Victor Alexander, 1998) menyatakan bahwa ketika ia menerjemahkan Markus dan Matius kemudian Yohanes dan diteruskan Lukas dari Ancient Aramaic Gospel (yang dibeli dari official Ancient Church of the East New Testament Book) berkesimpulan bahwa hasilnya bukan dari terjemahan PB Greek, dan inilah yang diduga berasal dari original ancient tongue.

BN menulis:
8. Sekilas YHWH dalam Alkitab bahasa Inggris

Terakhir, berikut ini tambahan keterangan mengenai sejarah pengucapan YHWH, dan bagaimana beberapa Alkitab berbahasa Inggris mencantumkan nama yang sudah lama ditabu-kan pengucapannya oleh umat Yahudi itu. Sebagaimana kita ketahui, bahwa sejak tetagra-mmaton itu tidak diucapkan, melainkan dibaca dengan kata lain: Adonai (Tuhan) atau Ha Syem (Sang Nama), pembacaan yang sebenarnya dari YHWH itu tidak diketahui lagi, sampai abad ke-16 Masehi para ahli mulai mengemukakan berbagai teori.

Tetagrammaton pertama kali tercantum dalam Alkitab bahasa Inggris karya William Tyndale (1525). Tyndale membaca IeHoVaH (Konsonan YHWH dibaca dengan vocal atau huruf-huruf hidup: AdOnAy). Pola ini diikuti kemudian oleh Miles Coverdale’s (1535), The Great Bible (1539), The Geneva Bible (1560), The Bishop’s Bible (1568) dan The Authorized Version edisi 1611, yang meskipun secara umum memakai terjemahan The LORD, tetapi mencantumkan IeHoVaH di beberapa tempat. Selanjutnya. spelling JEHOVAH baru muncul dalam King James Version edisi tahun 1762-1769.

Sedangkan bacaan Yahweh baru muncul pada awal atau pertengahan abad ke-19 Masehi, berdasarkan rekonstruksi para pakar biblika. Pengucapan Yahweh tersebut, antara lain didasarkan atas beberapa transkripsi teks Yunani atas kata Ibrani tersebut: IAOUE, IAOUAI, dan IABE yang berasal dari sekitar abad pertama sebelum dan sesudah Masehi. Karya Klement dari Iskandariya, Stromata, dan keterangan sejarahwan Yahudi Flavius Josephus mengenai bacaan tetagrammaton, juga dijadikan acuan. Bacaan manakah yang benar? Belum ada kepastian sampai sekarang. Pelafalan Yahweh mungkin didukung oleh penggalan kata ini pada ungkapan Halelu-Yah (Pujilah Yah), sebaliknya lafal Yehovah mungkin juga bisa dilacak dari nama-nama diri seperti Yeho-ram, Yeho-shafat, Yeho-shua, dan sebagainya.

Patut dicatat, baik Josephus maupun Klement dari Iskandariya, ketika membahas bacaan tetagrammaton tersebut, mereka tidak bermaksud mempertahankan huruf-huruf itu, tetapi lebih karena usaha kajian ilmiah. Begitu juga saya kira, beberapa terjemahan Inggris yang mencantumkan nama Ibrani itu. Jadi sangat berbeda dengan gerakan Yahweh baru-baru ini, atau sekte Saksi-saksi Yehuwa yang muncul sebelum itu. Masalahnya sekarang, apakah gerakan Yahwe itu sudah merasa menemukan bacaan yang benar-benar pas, sesuai dengan aslinya ketika nama tersebut diperkenalkan pada zaman Nabi Musa?

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Banyak memang kajian pengucapan untuk YHWH, namun sepanjang pengetahuan saya, kajian yang dilakukan R. Clover (Chapter IX “Is the Correct Pronunciation Known?” dalam The Sacred Name) adalah yang paling signifikan.
Pandangan Anda memang berbeda karena Anda dan yang sealiran sangat loyal akan kebiasaan Yahudi yang takut membaca-Nya; keloyalan Anda ini menuntun sikap Anda jika mungkin jangan ada penulisan YHWH dalam Alkitab agar tidak terbaca meskipun hal ini bertentangan dengan firman Yahweh. Bagi saya tanpa memerlukan pemahaman teologi pun jika kaidah terjemahan diikuti dengan patuh, maka YHWH harus muncul sebagaimana adanya menurut teks asli, dan konsekuensinya harus ada dan pasti diketahui “pembacaan-Nya”. Logika sederhana mengatakan bahwa jika Sang Empunya mengenalkan nama-Nya, pastilah nama itu bisa diucapkan; perintah untuk memelihara, mengkuduskan dan memasyhurkan Sang Nama ini ada dalam Alkitab. Saya bersikap bahwa teologi Anda yang berkesimpulan mengganti-Nya dengan sebutan lain “tidak lebih berharga” dari perintah Sang Nama itu sendiri. Saya tidak usah kawatir untuk dinyatakan tidak berdasarkan teologi yang “benar” menurut versi Anda, tetapi mengikuti petunjuk-Nya yang sudah sangat jelas, pastilah benar.
Sudah saya ajukan pada tanggapan terdahulu bahwa penggantian Adonai untuk YHWH minimal menimbulkan problem pendengaran. Berikut saya kemukakan satu contoh lagi (baca lagi contoh saya yang terdahulu):
Mazm. 110:1 The LORD says to my Lord ( NIV); Yahweh declared to my Lord (NJB)
Ayat ini diucapkan lagi oleh Yesus dalam PB (misalnya Mat. 22:44)
Sdr. Bambang yang terkasih. Jika Yahweh dibaca Adonai, dan Lord juga Adonai, maka pendengar akan mendengar demikian: “Adonai said to my-Adonai”. Pertanyaannya, mungkinkah orang yang bisa menangkap bacaan tsb. hanya Anda karena keahlian Anda akan bahasa Semitik? Tata bahasa macam apa ini: “Adonai berkata kepada Adonai-ku”. Tolong ditanggapi, sebab tanggapan saya terdahulu belum Anda tanggapi.

BN menulis:
Dan yang lebih penting lagi, secara teologis patut dipertanyakan: Kalau memang benar, “nama ilahi” itu, -- sesuai dengan tafsiran harfiah para pemujanya, -- benar-benar dikehendaki Sang Pencipta, mengapa TUHAN membiarkan “nama”-Nya hilang dari sejarah, dan muncul kembali hanya dalam bacaan kira-kira? Selanjutnya, kaitan pemeliharaan “nama itu” dalam Perjanjian Baru, patut pula dipertanyakan. Menanggapi asumsi mereka bahwa teks asli Perjanjian Baru berbahasa Ibrani telah hilang, mengapa Sang Pencipta tidak menjaga “Kitab Suci”-Nya sendiri, dan membiarkan tangan-tangan nakal manusia menggerayangi teks-teks suci yang memuat “nama” itu, yang semestinya dijaga sampai akhir zaman? Sebab sampai sekarang, “teks asli Ibrani Perjanjian Baru” itu memang tidak pernah ada, kecuali hanya dalam pikiran orang-orang yang sedang mengigau di tidur siang mereka.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Menanggapi pertanyaan (1) Anda di atas, dari mana Anda tahu bahwa Yahweh membiarkan nama-Nya hilang dari sejarah? Apakah karena Ilmu Bahasa Semitik Anda yang mumpuni itu? Kenapa Anda tidak sekalian mengajukan pertanyaan yang sejenis misalnnya, “mengapa Yahweh membiarkan manusia jatuh dosa?”. “Mengapa Yahweh membiarkan seorang pendeta yang sedang berkotbah di gereja (Poso) mati dirtembak”. Sesungguhnya saya dan bahkan tak seorang pun bisa menjawabnya secara akurat. Jika saya dipaksakan menjawabnya, barangkali tidak memuaskan; saya bisa saja mengatakan:
(1) pertanyaan itu tidak betul, buktinya nama-Nya yang tertulis YHWH terus ada, sepanjang sejarah, bahkan sekalipun terkubur dalam Dead Sea Scroll, atau
(2) barangkali Yahweh ingin mempertemukan saya dengan Anda melalui Salib.net, kemudian mengingatkan Anda; tidak mengenakkan atau bahkan menyinggung kan!
(3) jika ingin memperoleh jawaban silakan tanyakan langsung pada yang Empunya Nama!

Untuk pertanyaan (2), dari mana Anda tahu bahwa sang Pencipta tidak menjaga Kitab SuciNya/ Apakah Anda sudah tanyakan dan memperoleh jawaban karena Anda bisa berbahasa semitik? Secara paralel bisa saya paksakan jawaban sebagai berikut:
(1) pernyataan Anda itu tidak betul, buktinya banyak diterbitkan tidak hanya Alkitab Ibrani yang jelas menjaga pemunculan YHWH, namun banyak naskah-naskah sejenis, meskipun sayangnya Anda dan yang sealiran lebih loyal pada PB Yunani.
(2) barang kali Yahweh ingin mempertemukan saya dengan Anda untuk mengingatkan bahwa Andalah (bersama yang sealiran) melakukan penggerayangan dengan tangan-tangan jahilnya beserta seruan teologisnya sehingga melakukan penggantian Sang Nama Yahweh menjadi sesuka Anda, LORD, GOD, TUHAN, ALLAH, dst.
Jawaban saya sangat variatif dan barangkali bisa menyinggung seseorang, oleh karena itu tolong sebaiknya pertanyaan dan pernyataan Anda itu tidak usah Anda lontarkan, agar saya tidak perlu merespon.

BN menulis:
9. Cacatan Penutup

Karena itu, saya mengajak seluruh saudara-saudara seiman dimana saja berada, tidak perlu kita menghabiskan energi untuk menanggapi gerakan mereka. Sebab bagi kita, yang penting bukan mempertahankan huruf-huruf dari nama ilahi YHWH itu, melainkan apa makna penyataan Allah yang berfirman melalui media bahasa. “Nama” dalam pemikiran Ibrani menunjuk kepada “Kuasa di balik Dia Yang Dinamakan”. Jadi, yang penting adalah Pribadi Agung Sang Pencipta, sebagaimana diungkapan dalam doa Yahudi “Adon ha-‘Olam”, yang merujuk kepada makna tetagrammaton:

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Sdr. Bambang yang saya kasihi. Cara-cara (imbauan) Anda ini adalah cara-cara yang bersifat masal, mencari pengikut, mencari dukungan; sebaiknya mengembangkan budaya akademik, menempuh model demokratis dialogis, bukan demokrasi demonstrasi masal. Ajaklah pembaca berfikir dan merespon; saya sangat senang jika ada respon dari orang lain khususnya justru yang tidak sepaham, agar jika terdapat kesalahan bisa dikoreksinya. Sayangnya hingga kini saya justru mendapat respon baik via email maupun telepon (dari AS) yang isinya justru mendukung dan minta pencerahan lebih lanjut.

BN menulis:
We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif’arah (Ia yang sudah ada, yang ada, dan yang akan ada, kekuasaan-Nya kekal sampai selamanya). Lih. Rabbi Nossom Scherman/Rabbi Meir Zlotowijz (ed.), Humash Humasiy Torah ‘im Targum Onqelos Farasiy Haftarot we Humash Megilot. Hebrew-Aramaic-English (New York, 1996), p. 304.

Jadi, apakah yang hendak diungkapkan Sang Pencipta dengan menyebut diri-Nya dalam bahasa manusia yang terbatas itu sebagai YHWH? Saya ulangi tulisan saya terdahulu, YHWH terkait dengan akar kata ywh (ada, hidup). Maknanya, TUHAN itu Mahaada dan Mahahidup. Dan adanya TUHAN sudah barang tentu itu tidak sama dengan adanya ciptaan yang terbatas. Karena itu, dengan nama YHWH tersebut, Sang Pencipta memperkenalkan diri-Nya: hayah (He was, “Dia yang sudah ada”), howeh (He is, “Dia yang kini ada”), dan yihyeh (He will be, “Dia yang akan ada”).

Doa Yahudi itulah yang melatarbelakangi Wahyu 1:8, yang berbunyi: “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang. Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8). Allah Yang Mahaada, mahahidup dan selalu menolong umat-Nya. Kita percaya bahwa Pribadi Agung itu telah menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, Firman Allah Yang Hidup (1 Yohanes 1:1). Dengan nuzul Firman-Nya, Allah yang tidak terbatas masuk dalam dimensi ruang dan waktu, mengambil keterbatasan kita, agar kita “boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Petrus 1:4) yang tidak terbatas itu. Padahal TUHAN mengatasi segala keterbatasan kita, termasuk keterbatasan huruf-huruf dan bahasa manusia. Akhirul kalam, dari Kairo “kota seribu menara” ini, izinkanlah saya mengucapkan: “Selamat Natal dan Tahun Baru”. ‘Idul Milad sa’ida wa Sanah Jadidah. Kullu ‘Aam wa Antum bi khayr . ***

Dar Comboni Institute, Cairo, 26 Desember 2004

Tambahan Ringkas Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
(1) Saya menolak penggantian nama YHWH dengan term lain apa pun karena melanggar kaidah penerjemahan dan efeknya mendistorsi pemahaman teologis.
(2) Saya keberatan pemakaian kata “Allah” karena term ini dalam keadaan “in conflict” yakni (a) dipahami sebagai kata bentukan yang akhirnya menjadi term khusus yang tidak jelas khususnya untuk diterapkan dalam Kitab Suci Kristen; (b) dipahami sebagai nama sesembahan dalam Islam (sebagai kata yang muncul spontan bukan bentukan); dan (c) dalam bahasa Ibrani ada kata “allah” (no. konkordansi Strong, 427, terdapat dalam Yos.24: 26) yang artinya variasi dari jenis tanaman oak. Jadi, aneh kalau kita menerjemahkan Elohim (Ibrani) menjadi Allah (Arab), sementara itu ada kata Ibrani, “allah”, yang artinya jauh menyimpang. Kenapa kita tidak mengadopsi langsung saja tetap Elohim, dan bukan Allah?

Yogyakarta, 03 Januari 2005
Penanggap adalah salah seorang anggota GKJ
Pengajar Kimia, FMIPA – UNY, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com, HP. 08157935534
Back to top
View user's profile
Display posts from previous:   
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index -> Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum



Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Hotline kami di 08883023916 bila Anda ingin info lebih lanjut mengenai pelayanan SALIBNET MINISTRIES atau bila Anda membutuhkan pelayanan kami.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.