salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: agus.soetopo
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1525

People Online:
Members: 0
Visitors: 2
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Buku2 pengajaran iman Kristen yg ditulis oleh: Denny Teguh S
Last post by Denny in Lainnya on May 18, 2012 at 01:28:12

Buku: "BAHASA LIDAH: MASIH ADAKAH?" (Denny Teguh S.)
Last post by Denny in Lainnya on Apr 18, 2012 at 00:13:58

Renungan Paskah 2012: TUHAN YESUS TELAH BANGKIT! (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 08, 2012 at 02:52:50

Renungan Jumat Agung 2012: KEMATIAN SANG ANAK ALLAH (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 05, 2012 at 00:14:12

Get my new book: GENERASI TUA VS GENERASI MUDA (Denny T. S.)
Last post by Denny in Lainnya on Mar 18, 2012 at 02:07:53

Paskah Akbar Surabaya 2012
Last post by Denny in Agenda Kita on Mar 18, 2012 at 02:01:33

Tantangan Untuk Beritakan Injil di Wilayah Timur Tengah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Mar 17, 2012 at 12:58:39

Diresmikan, Syarat Dapat Gelar S1 Harus Publikasi Ilmiah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 07:08:29

Suka duka jadi anak jenius
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 06:41:05

Kemampuan Pelajar Asia Timur, 3 Tahun Diatas Negara Maju
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 22, 2012 at 18:59:09

We have received
5086930
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Tanggapan Surat Bapak Bambang Noorseno 5
Result

Tanggapan Surat Bapak Bambang Noorseno 5
Bila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Thu Jan 06, 2005 6:47 pm    Post subject: Tanggapan Surat Bapak Bambang Noorseno 5 Reply with quote

Sekali Lagi, Soal YHWH dan Allah: Tanggapan Atas Beberapa Tanggapan
Posted on Tuesday, 28 December 2004 (19:05:44) WIT by SALIB
eirena writes "Oleh: Bambang Noorsena*)
*) Penulis bukan pendeta, melainkan pengamat hubungan antaragama dan pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), anggota dewan konsultatif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), bersama keluarga tinggal di Mesir.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Tanggapan berikut saya sampaikan dengan menyelipkan sedekat mungkin dengan sasaran yang dituju dan untuk itu tetap menampilkan tulisan asli Sdr. Bambang N. Pemberian garis bawah pada bagian-bagian tertentu hanya bermaksud untuk penegasan saja.

BN menulis:
1. Catatan Pengantar
Ketiga artikel saya mengenai seputar kontroversi Allah dan YHWH, ditanggapi secara bertubi-tubi oleh kelompok ABA (Asal Bukan Allah) di www.salib.net Rupanya, mumpung website ini bersedia memuat tulisan-tulisan mereka, sebab banyak pembaca sudah bosan dengan argumentasi mereka yang hanya berputar-putar. Mas Anas seminggu lalu menulis via e-mail mengenai tanggapan ini, tetapi saya belum bisa membalasnya karena posisi saya masih di Luxor, dan baru tanggal 23 Desember saya kembali ke Kairo. Prinsipnya, sudah saya katakan, saya tidak akan menganggapi satu persatu, karena tidak ada waktu dan tidak terlalu perlu.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Terima kasih atas julukan barunya ABA; bagi saya tidak masalah. Anda memang benar-benar gemar menarik kesimpulan bersifat yang menghakimi, termasuk kemurahan Salib.net, bahkan kebosanan pembaca dan anggapan argumentasi yang berputar-putar. Tolong dijawab, dengan kondisi Anda yang merasa paling super sibuk itu dan paling berharga untuk menulis di Salib.net, kapan Anda dapatkan data yang mendukung hasil kesimpulan Anda? Pengelola Salib.net itu sangat akomodatif termasuk menerima tulisan Anda; dan melalui diskusi inilah kita pembaca dapat belajar, bukan belajar tuduh-menuduh.

BN menulis:
Soal kata-kata saya yang dianggap oleh mereka kasar, sombong dan sebagainya, tentu harus dilihat latarbelakangnya sejak awal. Pertama, artikel “Menjawab Gugatan Penentang Allah”, ditulis tahun 2000 ketika dr. Suradi gencar-gencarnya menyebarkan traktat mengenai Allah sebagai “dewa air”, yang tak ayal pula telah melahirkan reaksi keras dari kalangan Islam tertentu, sampai munculnya kasus Fatwa Mati dari para ulama Jawa Barat. Kedua, julukan “kurang cerdas”, “kurang terpelajar”, dan sebagainya, ini lebih merupakan reaksi atas sebuah aksi. Mengapa? Karena mereka telah membajak terjemahan Alkitab LAI, hanya kata Allah saja yang dibuang dan diganti elohim (ditulisnya: eloim), tidak perduli itu bahasa aslinya el, eloah, elohim (Ibrani) atau elah (Aram).

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Anda yang paling duluan memuat tulisan di WWW.Salib.net (Surat terbuka…). Tulisan Anda surat terbuka buat umat kristiani se Indonesia itu sesungguhnya buat siapa? Buat dr. Suradi ataukah buat seluruh dunia. Saat ini Anda tidak berhadapan dengan dr. Suradi, melainkan dengan siapa saja yang tergerak untuk merespon. Tolong dijawab mengapa reaksi Anda berdasarkan pada seorang dr. Suradi? Apakah “para pengagung Yahweh” itu sama atau dibawah pimpinan dr. Suradi? Saya memiliki banyak traktat antara lain serangan terhadap kelompok King James Version Only; nyatanya dunia kristen tidak dihebohkan. Jika tidak puas lawanlah dengan traktat; membalas dengan Fatwa Mati jelas melanggar HAM PBB 1948. Apakah pencetus fatwa mati itu memang dilahirkan oleh Sang Pencipta dengan tugas memfatwa mati orang lain! Memang ada traktat yang provokatif, namun belum tentu pembacanya terprovokasi.

BN menulis:
Terus yang menggelikan, seperti pernah dikatakan Romo Martin Harun, pada halaman terakhir terjemahan bajakan mereka, ditulis ungkapan bahasa Ibrani: Barukh Atta Adonay, diterjemahkan: “Tuhan Memberkati anda!” Padahal kalimat itu berasal dari doa Yahudi yang lengkapnya berbunyi: Barukh Atta YHWH (baca: Adonay) Elohenu Melek ha ‘olam. Artinya: “Terpujilah Engkau Ya TUHAN, Ilah kami, Raja yang kekal” (A. Th. Philips, ed. Sefer Tefilah Makol Hasanah, New York: Hebrew Publishing Co, t.t., p. 723). Dari kasus kecil ini saja, kita bertanya: Bagaimana mungkin menerjemahkan seluruh Alkitab Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani/Aram, sedangkan dalam kasus kecil saja membuat kesalahan? Inilah latar belakangnya kata-kata saya yang dianggap kasar itu, sebab dibandingkan dengan perbuatan pidana yang mereka lakukan, yaitu pembajakan hak cipta, tentu saja kata-kata saya itu tidak sebanding. Belum lagi, dampaknya pada hubungan Kristen-Islam, terbukti dengan munculnya Fatwa Mati yang menghebohkan itu.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Saya tidak dalam rangka membelanya. Di negara kita kan ada undang-undangnya perihal hak cipta. Alkitab berbahasa Indonesia terbitan LAI tahun 1989 tidak tertulis Copyright-nya. Sangat mungkin LAI tidak menerjemahkan langsung dari aslinya, melainkan hanya menerjemahkan dari Alkitab berbahasa Inggris atau Belanda atau yang lain; misterius. Jika ini benar berarti LAI tidak memperhatikan etika. Adalah sangat aneh suatu Kitab tanpa Kata Pengantar.
Saya tidak tahu persis penulisan” Barukh Atta Adonay” dan “Tuhan Memberkati anda!” itu ditulis sebagai terjemahannya ataukah dihubungkan dengan tanda sama dengan (=) ataukah tanda koma (,) ataukah titik dua (:) ataukah salah tulis, ataukah salah tulis tanda penghubung, sehingga maksudnya penulis tulisan bahasa Indoneisa tersebut bukan terjemahan dari tulisan Ibrani di depannya. Jika ingin mengetahui persisnya, ya tanyakan langsung kepada penulisnya.
Anda harus belajar berhati-hati dalam menilai seseorang, dan menganggap masalah kecil saja salah apalagi terjemahan yang besar. Apa Anda kira LAI yang konon banyak para ahli biblika itu bebas dari kesalahan. Contoh sederhana Anda periksa judul perikop Mazmur72, yakni: Of Solomon (NIV), A Psalm for Solomon (KJV), A Psalm of Solomon (RSV), Prayer for the king (NEB), Of Solomon (J.P. Green), Dari Salomo (LAI, 1989); Mazmur72 ini ditutup ay 20, “Sekianlah doa-doa Daud bin Isai”.
Coba mari kita telaah terbitan Alkitab LAI untuk perikop ini. Menurut judulnya para pembaca langsung berpendapat bahwa Mazm Ps 72 diucapkan oleh Salomo (dari Salomo), kenyataannya ay.20 menutupnya dengan pernyataan bahwa penulis doa ini adalah Daud (bapaknya Salomo!). Dulu saya menduga ada kesalahan pada ay.20; setelah saya memiliki alkitab-alkitab tsb. dan saya cek ternyata telah sesuai aslinya. Jadi Jelas bahwa LAI sangat gegabah menerjemahkan judul saja yang berbahasa Inggris! Of itu tidak selalu dari, bisa juga tentang (about). Ini terjadi pada pihak sekaliber LAI yang Anda banggakan (saya sesungguhnya juga membanggakan, sayang tidak akomodatif), namun kesalahan bisa menimpa siapa saja! Oleh karena itu hati-hatilah mengritik kesalahan seseorang kemudian meremehkannya.

BN menulis:
Selanjutnya, menanggapi beberapa tanggapan dari kelompok ABA, yang mengkoreksi bahasa Arab saya. Pertama, sekali lagi argumentasi mereka terkadang tidak relevan dengan pokok bahasan. Misalnya, menurutnya Allah itu nama diri, karena itu kata tersebut tidak mempunyai bentuk plural. Untuk itu, diuraikan dengan panjang lebar mengenai jenis bentuk jamak dalam bahasa Arab: jamak mudzakar salim, jamak muanats salim, dan jamak taksir. Padahal mengatakan Allah tidak ada bentuk jamaknya, sudah cukup, kalau hanya untuk menjadikannya sebagai argumentasi bahwa Allah itu ghayr al-musytaq, menurut salah satu pandangan yang berkembang di kalangan Islam.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Saya tidak paham bahasa Arab, namun dalam kasus kata”Allah” sangat jelas mudah dipahami adanya dua(2) pendapat yang saling bertolak belakang. Dalam hal ini Anda menganggap kata “Allah” adalah hasil bentukan dan bukan nama diri. Tetapi anehnya Anda mendukung pemahaman Kristen Arab melaui kutipan kamus sebagaimana tulisan Anda terdahulu (saya copy-paste) sebagai berikut:
Begitu juga, Siapakah Allah itu bagi umat Kristen Arab? “Allah”, demikian Buthros ‘Abd al-Malik, dalam Qamus al-Kitab al-Mu-qaddas, adalah “nama dari Ilah (sembahan) yang menciptakan segala yang ada” (hadza ism al-Ilah khalaqa al-jami’ al-kainat).2
Perhatikan bagian tulisan Anda yang saya garis-bawahi di atas. Sudah saya tegaskan pada tanggapan terdahulu bahwa kata “Allah” sungguh sulit untuk diadopsi; suatu saat nampaknya bukan nama melainkan bentukan (Anda menjelaskan The god menjadi God) tetapi pada saat lain menjadi nama dari Ilah. Apa tidak membingungkan? Atau Anda yang membuat orang lain bingung?

BN menulis:
Kedua, soal kaidah transliterasi Arab ke dalam huruf Latin. Saya kira setiap orang yang mengerti bahasa Arab, akan tahu bahwa: Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah harus dibaca Ahlussunnah wal Jama’ah. Tetapi dalam tradisi penulisan ilmiah, biasanya ditulis kata demi kata dengan definite artikel (al) apa adanya, entah itu huruf syamsiah atau bukan. Cobalah membaca karya-karya ilmiah standar internasional, contohnya: Encyclopedia of Islam. Tradisi ilmiah ini juga umum diterima oleh kalangan cendekiawan Muslim. Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid), misalnya, ketika mengutip ayat al-Qur’an, biasanya menulis: Inna al-Diin ‘inda Allah al-Islam (baca: Innaddiina ‘indalaahil Islam). Itulah tradisi penulisan ilmiah, karena pembacanya dianggap sudah mengerti, yang tentu saja berbeda kalau kita baru belajar tajwid.

Begitu juga, dalam bahasa percakapan, tidak lazim misalnya mengucapkan: Kullu Sanatin wa antum bikhairin, melainkan Kullu Sanah wa antum bikhair. Jadi, ucapan menurut tajwid Shabahul khairi, atau Kullu sanatin wa antum bikhairin, hanya ada di kelas-kelas pelajaran bahasa Arab, dan tidak akan dijumpai dalam percakapan sehari-hari. Satu catatan kecil lagi, dalam hal kaidah penerjemahan. Terjemahkan saya, al-Baitu kabirun, “Rumah itu besar”, dikoreksi: “Rumah itu adalah besar”. Dalam bahasa Indonesia, “adalah” tidak harus selalu dicantumkan, karena menurut “rasa bahasa” justru janggal. Jadi, cukuplah “Rumah itu besar”.

Kasus yang sama misalnya, kalau kita jumpai kalimat: Ana huwa Nuur al-‘aalam (baca: Ana huwa Nuurul ‘alaam) tidak perlu diterjemahkan secara harfiah: “Akulah Dia Terang Dunia”, cukuplah dalam bahasa Indonesia: “Akulah Terang Dunia”. Lain-lain lagi, tidak akan saya tanggapi detil, cukuplah pembaca saya ingatkan dengan pepatah Jawa: Jalma limpad seprapat tamat. Sampeyan semua pasti mengerti maksudnya. Kualitas orang itu bisa dilihat dari pikirannya, cara bicaranya, cara menulisnya. Kalau memang mempunyai kapabiltas, belum ngomong banyak, ibarat baru seperempat saja sudah tamat, bisa paham seluruh yang dimak- sudkannya.

2. Soal al-Ilah dan Allah dan Kajian Filologi Lebih Mendalam

Saya sudah menjelaskan sampai terus terang saja capek, bahwa dalam Islam ada 2 pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan Allah itu ghayr al-musytaq atau tidak berasal dari kata lain, tetapi ada juga yang menganggapnya musytaq atau berasal dari kata lain. Kontroversi ini, bukan hanya terjadi pada masa modern, tetapi justru sejak masa klasik. Sekedar catatan saja, bahwa Sibawayh justru menerima pendapat bahwa kata Allah itu bentukan dari kata lain. Malahan pula, al-Kisa’i dan al-Fara’ menulis bahwa bacaan “Bismillah” (Dengan Nama Allah) juga berasal dari “Bism al-Ilah” (Dengan Nama al-Ilah). Dengan demikian, pendapat klasik ini paralel dengan inskripsi Arab-Kristen yang ditemukan di Zabad (512 M). Itu pendapat pertama.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Alasan capek sama sekali tidak relevan. Sudah jelas ada 2 pendapat berbeda, tentu pihak yang tidak sepaham pun ingin agar alasannya diketahui orang, bukan Anda saja. Lagi-lagi Anda mengemukakan inskripsi Zabad dengan tulisan “Bismillah” (Dengan Nama Allah) dari pihak Arab-Kristen; sekali lagi apa ini tidak menunjukkan bahwa “Allah” adalah nama? Tolong dijawab. Alkitab Ibrani tidak pernah mencatat “dengan nama Allah (Elohim)” melainkan dalam nama YHWH, “Diberkatilah dia yang datang dalam nama YHWH” = Mazm. 118:26; demikan juga jika mengucapkan sumpah/nazar (Mat. 5:33 ; Im.19:12; Bil.30:2, 3 ; Ul. 6:13; Ul. 23:21). Jadi sekalipun itu dianggap sebagai inskripsi Arab-Kristen, namun jelas tidak sesuai dengan Alkitab (Ibrani), lalu apa bisa dipakai untuk panutan terjemahan?

BN menulis:
Sebaliknnya, pendapat kedua dianut oleh Abu al-Ma’ali, al-Khatabi dan al-Ghazali yang menganut pendapat bahwa Allah itu asli. Begitu pula, ada mufasirin yang menganut pendapat pertama, seperti Al-Baidhawi dan al-Zamakhsari, sedangkan ulama lain seperti an-Nawawi menganut pendapat kedua. Pada zaman modern ini, pemikir-pemikir Islam seperti Fazlur Rahman, Isma’il al-Faruqi, Nurcholish Madjid menganut pendapat bahwa Allah berasal dari al-Ilah. Begitu pula, konkordansi al-Qur’an Al-Mu’jam al-Mufahras karya Muhammad Faur ‘Abd al-Baqi (Kairo, tanpa tahun, pp. 40-75). Sedangkan ulama-ulama tradisional, yang kelihatannya lebih dilatarbelakangi alasan teologis, menganut pendapat bahwa kata Allah itu asli, dan tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa lain.

Saya lebih menyetujui pendapat pertama, dengan argumentasi yang lebih saya dasarkan pada kajian bahasa, dan bukan dari sudut pandang teologis Islam yang agaknya berkembang zaman belakangan. Mengenai kata Allah dari al-Ilah ini, saya mengutip Al-Ma’jam al-Mufahras yang menempatkan kata Allah pada heading: hamzah, lam, haa (‘-l-h), karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, bukan hamzah qath’i. Karena itu, kalau sebelum kata Allah didahului dengan harf jar li (kepada), al- hilang (li llahi). Konkritnya, setelah li kata sandang al- hilang, tinggal llah (2 huruf lam, karena di-syadah dan ha) . Jadi, bukan menjadi lah (dengan satu huruf lam dan ha), seperti yang ditulis penanggap, yang selanjutnya mengajukan argumentasi dari segi ilmu tajwid. Padahal argumentasi dari ilmu tajwid, dalam kasus ini juga tidak sepenuhnya kena. Mengapa? Karena ilmu-ilmu seperti tajwid, nahwu dan sharaf ini disusun setelah zaman Islam, dengan rujukan utamanya al-Qur’an, padahal perubahan al-Ilah menjadi Allah terjadi jauh sebelum Islam.

Hal ini tidak berarti kita bisa menabrak kaidah-kaidah ilmu kebahasaan, melainkan melacaknya lebih dalam yang mendahului munculnya ilmu-ilmu itu. Dari perspektif ulama Islam yang menanggap Allah tidak bisa diterjemahkan, mengajukan argumentasi: “Kalau Allah berasal dari al-Ilah, maka tidak dibenarkan menyebut: Yaa Allah, seperti tidak dibenarkan menyebut Yaa al-Rahman, melainkan Yaa Rahman”. Ini memang benar. Tetapi ungkapan Yaa Allah menjadi benar, karena kata Allah sudah dianggap satu kata tunggal, setelah kata sandang al- dan ilah disatukan pada masa sebelumnya, jauh sebelum kaidah kebahasaan itu dirumuskan. Ahmad Amien mengungkapkan, pada masa pra-Islam seruan doa yang lebih pupuler: Allahumma (Wahai Allah), dan ungkapan itu berkaitan dengan kata Ibrani Elohim (Ahmad Amien, Fajr al-Islam, Kairo, 1992, pp. 121-122).

Karena itu, kajian sepelik ini tidak cukup didekati dengan ilmu-ilmu yang dikembangkan kemudian setelah pandangan teologis suatu agama mengalami pembakuan. Dalam pada itu, kita harus melacaknya jauh ke masa pra-Islam, dan sedapat mungkin menghindari tafsiran teologis. Mulai dari syair-syair Arab pra-Islam, inskripsi-inskripsi Arab Kristen di gereja-gereja Syria, pemakaian bahasa ini di lingkungan gereja-gereja Arab sebelum dan sesudah Islam, baru kemudian membandingkan dengan bahasa Arab al-Qur’an. Harus saya tegaskan, hanya dengan membaca pelajaran dasar bahasa Arab saja, sudah barang tentu sangat jauh dari memadai. Untuk lebih memberikan gambaran kepada pembaca, saya akan ambilkan beberapa contoh:
Dalam pengajaran bahasa Arab kita hanya akan menjumpai kaidah, misalnya, mengenai al-mamnu’u min al-syarf : “kata yang dikecualikan dari syarat tanwin, sedangkan alamat jar-nya fathah”. Misalnya, nama-nama seperti: ‘usamah, mu’awiyah, ibrahim, yang tidak bisa di-tanwin seperti muhammad, mahmud, kamaal dan sebagainya. Konkritnya, kita bisa menjumpai mu-hammadun, muhammadan, muhammadin, tetapi tidak demikian dengan nama Ibrahim atau nama Isma’il. Disini hanya menemui kaidah-kaidah bagaimana berbahasa yang benar, bukan bagaimana asal-usul munculnya kaidah-kaidah itu, dan menarik konsekuensinya lebih lanjut. Nah, menurut kaidah salah satu alasan perkecualian itu (al-mamnu’u min al-syarf), karena nama Ibrahim termasuk “nama orang asing” (al-‘alam al-‘ajnabi). Mengapa dimasukkan nama orang asing? Pertanyaan ini yang justru penting, yang tentu tidak dibahas lebih lanjut dalam kajian bahasa Arab. Jawabnya, nama Ibrahim itu sudah eksis sejak zaman sebelum Islam, yaitu sudah dipakai sebelumnya oleh orang Yahudi dan Kristen.

Orang Yahudi di Israel pasti mengucapkannya: Avraham, orang Kristen yang berlatar belakang bahasa Aram melafalkan: Abraham, dan sesudah berdiam di dunia Arab mereka melafalkannya: Ibrahim. Padahal di Indonesia, Ibrahim itu identik Islam, sedangkan Abraham identik Kristen. Ini terlepas dari klaim teologis bahwa Islamlah pewaris yang sah dari millat Ibrahim. Begitu juga klaim teologis serupa, baik dari kalangan Yahudi maupun Kristen. Sebab ilmu bahasa, sudah barang tentu, terlepas dari klaim-klaim teologis agama apapun. Bahasa itu netral, bagian dari kebudayaan manusia. Lebih-lebih lagi, bahasa-bahasa di Timur Tengah itu serumpun, dan dalam proses perkembangan sejarahnya yang panjang terjadi interaksi yang terus menerus.

Karena itu, lebih lanjut kita harus masuk dalam kajian filologi. Bagaimana misalnya cognate antara el, eloah, elohim (Ibrani), elah, alaha (Aram), ilah, alihat, al-ilah, allah, allahumma (Arab), bahkan dengan rumpun semitik yang lebih tua lagi: il, ilu (Akkadia). Begitu juga, perubahan bentuk nama-nama diri seperti Yeshua (Ibrani), menjadi Yesho, ‘Isho (Suryani/Syriac Barat), Yeshu’, ‘Isha (Suryani/Syriac Timur) dan Yasu’, ‘Isa (Arab). Lih. Olaf Schumann, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan (Jakarta, 1990). Perubahan seperti ini adalah gejala lingustik yang lazim, yang dalam ilmu bahasa dikenal dengan proses “korespondensi bunyi” (the phonetic correspondence). Nah, ini hanya sekelumit contoh mengenai rumitnya kajian filologi, tidak sesederhana yang dibayangkan para penanggap tulisan saya yang “kebakaran jenggot” itu, dengan hanya mengajukan referensi Kamus Arab-Indonesia-Inggris, karya Abd bin Nuh dan Oemar Bakry. Apalagi di Indonesia, yang umumnya menganggap bahasa Arab secara eksklusif sebagai “bahasa Islam”, hingga tidak pernah dibahas keserumpunannya dengan bahasa-bahasa semitik yang lebih tua.

Manfaat filologi dan kajian sejarah ini sangat penting, karena sampai sekarang bahasa apapun terus memperkaya diri dengan menyerap bahasa-bahasa lain, tidak terkecuali bahasa Arab. Fenomena pinjam meminjam (borrowing) ini, dalam kajian bahasa Arab modern cukup mudah untuk memilah-milah, manakah yang kata Arab asli dan dari manakah akar katanya (al-jidr), ataukah manakah yang serapan dari bahasa-bahasa asing. Misalnya, kata-kata seperti: al-dimukratiyyah (demokrasi), al-liturjiyyah (liturgi), al-yuraniyum (uranium), jelas-jelas serapan dari bahasa asing, sehingga tidak ditemukan akar katanya. Tetapi menjadi sulit, kalau sebuah kata muncul dari masa pra-Islam, dan kata itu tercantum dalam al-Qur’an yang sudah barang tentu tidak boleh dikuti-kutik lagi. Saya kira ini adalah problem hampir semua agama dalam memandang teks-teks suci mereka.

Meskipun demikian, banyak ahli yang kini tertarik kepada kajian ini. Untuk mengemukakan satu contoh saja, kata “amiin” dalam doa. Jelaslah bahwa kata ini sudah dipakai dalam bahasa Ibrani dan Aram (yang kemudian diambil begitu saja tanpa terjemahan dalam semua bahasa). Karena itu, kata ini jelas-jelas pinjaman dari bahasa lain. Selanjutnya, menarik sekali ditanyakan, apakah kata “amiin” ini dalam bahasa Arab termasuk dalam harf, ism ataukah fi’il? Juga, dari akar-kata apakah “amiin” itu? Kalau kita hanya mendasarkan kepada tatabahasa Arab, pastilah jawabannya tidak tuntas. Sebut saja, misalnya Syeikh Nawawi menulis: “Amin, yaitu kata benda yang mengandung makna kata kerja perintah, yakni: kabulkanlah!” (amiin wa huwa ismun bima’na fi’lun amrin wa huwa istajib). Itu saja yang dapat kita baca dari Maraah Labiid Tafsiir al-Muniir, karya Syeikh Nawawi al-Bantani.

Tentu saja, keterangan ini dari segi historis tidak mampu menjawab bagaimana kata asing itu masuk dalam bahasa Arab. Mungkin problem ini baru bisa dituntaskan kalau kita memasuki kajian filologi. Sayyed Mahmud al-Qimni, seorang pemikir Muslim, mengupas masalah ini dalam bukunya, Ibrahim an-Nabi wa al-Tarikh al-Majhul, membuktikan bahwa ternyata kata ini pinjaman dari bahasa lain. Menurut al-Qimni, kata ini tidak hanya dipinjam dari bahasa Ibrani, melainkan dibuktikan lebih jauh dari bahasa Mesir kuno, terkait dengan kata: Amen, atau Amon, “Dia Yang Esa dan Tersembunyi”, menurut konsep henoteisme Mesir kuno. Jadi, kata ini diambilalih oleh Perjanjian Lama Ibrani (mungkin ketika bangsa Yahudi pra-Musa hidup dalam perbudakan Firaun), lalu diikuti Perjanjian Baru Yunani dan bahasa-bahasa lain, dan kemudian diteruskan dalam bahasa Arab melalui al-Qur’an. Dalam kajian filologi yang lebih mendalam, al-Qimni juga sepakat bahwa kata Allah memang berasal dari al-Ilah.

Karena itu, lebih lanjut kita harus memahami “filsafat bahasa” yang melatarbelakangi disusunnya Ilmu Nahwu. Misalnya, melacaknya langsung dari tulisan perintis ilmu ini, Sibawayh. Cobalah kita membaca kajian-kajian penulis modern mengenai karya Sibawayh dari sudut metodologi, syntax, fonologi bahkan kutipan syair-syair pra-Islam yang menjadi salah satu rujukan bapa kajian nahwu ini, misalnya M.K. al-Bakka, Manhaj Kitab Sibawayhi fi al-Taqwim al-Nahwi (Bagdad, 1989). Syukur-syukur, kalau kita bisa sanggup membaca langsung 5 jilid buku Kitab Sibawayh (Cairo, 1968). Sibawayh mengambil kaidah dalam menyusun tata bahasa Arab dari sumber al-Qur’an dan Hadits, selain ia juga meneliti bahasa percakapan kaum Badui dan syair-syair pra-Islam.

Tetapi patut dicatat pula, bahwa di kalangan Kristen Arab juga berkembang pemakaian bahasa Arab yang style-nya agak berbeda, karena banyak sekali mendapat pinjaman dari bahasa Ibrani, Aram, Koptik, Yunani yang tidak dijumpai dalam bahasa Arab Islam. Contoh ungkapan-ungkapan Arab Kristen ini, yang bertumbuh di luar alur perkembangan bahasa Arab teologis Islam, antara lain dibahas oleh W. Montgomerry Watt, “Two Interesting Christian-Arabic Usages”, dalam Early Islam: Collected Articles (Edinburgh, 1990), pp. 71-74.

Kembali ke pembahasan mengenai Allah. Perlu dicatat pula, bahwa dalam al-Qur’an kata Allah tidak muncul bersama-sama dengan al-Ilah, tetapi sering dihubungkan dengan kata ilah (cf. Laa ilaha illa Allah, Allahu laa ilaha ila Huwa). Sedangkan dalam beberapa terjemahan Alkitab bahasa Arab, Allah sering muncul bersama al-Ilah. Begitu juga dalam syair-syair pra-Islam. Hal itu disebabkan karena al-Qur’an menerima bentuk singkat al-Ilah (yaitu Allah), sedangkan kalangan Arab Kristen menampilkan kedua-duanya, Allah dan al-Ilah. Dan berbeda dengan anggapan sebagian umat Islam, dalam Alkitab al-Muqaddas (Alkitab bahasa Arab) kata Allah itu bukan “nama diri Sang Pencipta” (the proper name of God).

Itulah sebabnya, sampai sekarang dalam buku-buku liturgi Kristen-Arab ungkapan: Yaa Allaah, sering bergantian muncul dengan: Ayuha al-Ilah (baca: Ayuhal Ilah). Ungkapan “Ayuha al-Ilah”, tidak dijumpai dalam al-Qur’an dan tidak lazim dalam bahasa teologis Islam. Inilah salah satu alasan mengapa para ahli Kristen pada umumnya menganut pendapat bahwa kata Allah adalah bentukan dari kata al-Ilah., Penggunaan ungkapan: Yaa Allah, Ayuha al-Ilah dan Allahumma ini, dalam doa-doa Kristen-Arab misalnya dapat kita ikuti contohnya dari 3 versi pembukaan doa trisagion: (1) Quddusu Anta Yaa Allah, (2) Quddusu Anta Ayuha al-Ilah, dan (3) Quddusu Anta Allahumma. Artinya, kurang lebih sama saja: “Kuduslah Engkau, Ya Allah!” . Lih. Mar Ignatius Afram Barshaum, Al-Tuhfat al-Ruhiyyah fi al-Shalat al-Fardhiyyah, Aleppo, 1992).

3. Penolakan “Allah”: Bertolak dari Asumsi Teologis

Diakui atau tidak, gerakan “asal bukan Allah” ini diawali oleh sebuah asumsi teologis tertentu, seperti tampak dari traktat “sampah” Stephen van Natan dan karya polemikus Robert Morrey yang diwarnai sikap anti-Islam itu. Pandangan polemik ini, di Indonesia mula-mula dimunculkan melalui traktat-traktat Dr. Suradi (“Siapakah Yang Bernama Allah?”, dan sebagai-nya), yang sekarang diteruskan oleh para “pengagung empat huruf YHWH” yang kini bermasalah dengan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Jadi, seluruh argumentasi penolakan yang mereka bangun, sebenarnya mula-mula hanya untuk mempertahankan asumsi teologis, bahwa Allah itu nama dewa kafir sebelum Islam.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Yang namanya “traktat” itu kan sederhana saja, dan Anda tentu boleh saja menganggap “sampah”. Saya anjurkan Anda belajar menghargai “karya” orang lain sesimpel apapun jika Anda ingin dihargai. Data Archaeology tentang adanya dewa bulan dst. memang ada dan bisa dilacak melalui www.biblebelievers.org...ongod.htm, www.nccg.org/islam/Isl...llah.html; apa Anda tidak atau pura-pura tidak tahu? Tentu saja ada penafsiran yang berbeda, dan ini wajar seperti teori Anda perihal kata “Allah”. Yang mengherankan adalah Anda bisa mengakui inskripsi yang Anda ajukan tetapi Anda nampaknya menghindar data Arkeologi yang diajukan orang lain gara-gara tidak sejalan.
Bahwa penolakan itu berawal dari asumsi teologis tertentu itu kan hanya “triger” saja. Perhatikan analogi “kejatuhan” Gus Dur dari jabatan Presiden, yang menjadi pemicu kan hanyalah kasus Bulog (Gate); di balik itu kan sesungguhnya banyak problem lain.
Apa maksud Anda “Pengagung Yahweh punya masalah” dengan LAI? Bukan dalam rangka membela; setahu saya para “pengagung Yahweh” ini sangat mengasihi dan menghormati LAI dan tentu seluruh umat Kristen Indonesia; mereka memberi masukan agar diterbitkan Alkitab seperti yang diinginkan; namun herannya LAI menolak; ya terpaksalah dicetak sendiri (namun ingat, ada label tidak diperjualbelikan, diterbitkan dan dibagikan secara cuma-cuma). Tindakan ini dilakukan semata-mata justru untuk menghormati hasil terjemahan LAI kecuali perubahan Nama Yahweh dan beberapa istilah. LAI kemudian melakukan action hukum (?). Saya sebagai anggota jemaat mendapat fotocopynya surat LAI yang minta dukungan gereja-gereja termasuk dari pihak Katolik yang menolaknya!. Apa tidak aneh? LAI mengambil sikap pendekatan masa, bukan demokratis dialogis? Hanya penerbitan yang diperdagangkan saja yang dapat dipidana jika dikatagorikan penjiplakan.

BN menulis:
Padahal harus ditekankan, terlepas dari penolakan orang Kristen bahwa Islam secara teologis adalah kesinambungan dari agama Yahudi dan Kristen, tetapi tidak bisa disangkal bahwa bahasa Ibrani, Aram dan Arab adalah termasuk dalam rumpun bahasa-bahasa semitik. Karena itu, membaca kamus terbitan manapun di bawah kolong langit ini, akan kita jumpai: el, eloah, elohim, ha-elohim (Ibrani), memang cognate dengan allah, ilah, alihat, al-Ilah, allahuma (Arab). Lihat: Dr. M. el-Taunaji, Qamus ‘Arabi-‘Ibri – ‘Ibri-‘Arabi (Tripoli, 2004, pp. 20-21). Begitu juga, mengenai cognate bentuk Arab ilah, alihat, allah dengan bahasa Aram alah, alahin, alaha dapat kita baca dari karya Jibril al-Qardahi, Al-Lubab: Qamus Suryani-‘Arabi (Aleppo: Dar Mardin lin Nasyr, 1994). Tidak ada satu kamus pun di dunia ini, yang menulis Allah: “dewa kafir bangsa Arab”, theos, “dewa pagan bangsa Yunani”, kecuali sebagai keyakinan teologis seseorang.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Jika ingin mengetahui seluk-beluknya ya periksalah Ensiklopedi, atau Jurnal, bukan di Kamus.

BN menulis:
Kalau orang berpikir “hitam putih” seperti ini, konsekuensinya akan semakin meluas. Misalnya, nanti akan ada penolakan terhadap term “teologis” (karena berasal dari theos, yang dicap “dewa kafir Yunani”, dan Logos, “an intermediary being” dalam filsafat Helenis). Apalagi dalam kasus bahasa-bahasa serumpun seperti Ibrani, Aram dan Arab. Jadi, tidak bisa kita mengikuti keyakinan beberapa kelompok fundamentalis Kristen, bahwa gara-gara istilah Allah dipakai oleh orang-orang Mekkah pra-Islam dalam makna pagan, kemudian orang-orang awam Kristen ditakut-takuti: “Awas, Allah itu Dewa Bulan!”, karena orang Islam memasang tanda bulan sabit di atas kubah masjid.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Lho apa memang pandangan bahwa pada zaman jahiliyah “Allah” itu dipandang sebagai salah satu dewa tertinggi itu keliru? Ini kan fakta kejadian lampau yang diakui sendiri oleh para ahli Islam sebelum Islam itu sendiri ada. Bahwa Islam kemudian mengadopsi “Allah” sebagai Sang Pencipta itu kan hak mereka dan tidak perlu dicampuri. Demikian juga jika pihak Kristen ada yang tidak ingin mengadopsinya dengan pertimbangan tertentu, apa perlu Anda memaksakan teori Anda bahwa Allah itu cognate dengan Elohim dianggap sebagai bukti. Camkan! sekali lagi faktanya ada kata “Allah”, Alaha, Eloah, Elohim, dsb. Kemudian Anda membangun teori dan berusaha membuat opini bahwa “Allah” cognate dengan Elohim. Anda tidak pernah menyaksikan adanya proses pembentukan kata baru”Allah” tersebut! Science saja tidak berani memastikan secara eksak! Hanya pikiran Anda sajalah yang memperpanjang penolakan terhadap istilah-istilah lain seperti teologi, dsb. Istilah-istilah ini kan tidak ada dalam Alkitab yang kita imani, melaikan konsumsi untuk komunikasi publik?

BN menulis:
Sudah saatnya orang Kristen mengembangkan refleksi teologis yang biblikal, “Apakah dewa bulan itu memang ada?”. Jawabnya: Ada, tetapi tidak benar-benar ada! Maksud saya, ada dalam pemikiran orang jahiliyah, dan tidak sungguh-sungguh ada secara nyata. “Dewa air”, “dewi kucing”, “dewi matahari”, semua itu ada dalam pikiran orang-orang yang secara salah mencitrakan Sang Pencipta, Tuhan Yang Mahaesa. Dan lebih penting, kalau kita mengakui bahwa ilah-ilah lain itu memang benar-benar ada disamping “satu-satunya Ilah” (al-Ilah, Allah), apakah kita tidak menjadi politeis terselubung? Mengapa? Karena kita percaya satu Tuhan, tetapi ilah-ilah lain memang diakui ada. Kita harus jujur mengakui, bahwa setiap agama memang mempunyai konsep mengenai ilah yang berbeda-beda. Tetapi perbedaan konsep kita mengenai ilah-ilah atau tuhan-tuhan itu, tentu tidak berarti ada banyak tuhan-tuhan sebanyak jumlahnya agama-agama di dunia.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Pembeberan adanya dewa bulan yang diyakini para politeistik itu bukan berarti pengakuan monoteistik luntur menjadi politeistik terselubung. Anda sedang bersilat lidah, bukan berlogika lurus. Jika orang Kristen membeberkan bahwa nabi orang Islam adalah Muhammad apakah itu berarti orang Kristen tersebut juga beragama Islam secara terselubung? Tolong ditanggapi.

BN menulis:
Jadi, meskipun memang banyak yang disebut ilah-ilah dan tuhan-tuhan di dunia ini, tetapi hanya ada satu Allah. “Tidak ada berhala di dunia ini”, kata Rasul Paulus, “dan tidak ada ilah kecuali Allah Yang Maha Esa” (wa ‘an laa ilaha illa allah al-ahad) (1 Korintus 8:4, Today’s Arabic Version). Singkatnya, kalau kita mengaku beriman kepada satu TUHAN (Ulangan 6:4), tetapi kita tidak menegasikan ilah-ilah lain yang sebenarnya tidak ada itu, apakah tauhid (monotheism) kita tidak cacat? Itulah makna penegasan: Laa ilaha illa Allah, yang kalau kita rekonstruksikan dari bahasa Aram: Lait alaha ella had alaha. Maksudnya: “Tidak ada ilah kecuali Allah (al-Ilah, “satu-satunya Ilah”).

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Memang hanya ada satu Elohim yakni Yahweh, Mazm. 18:32, Ul.32:12, Yes. 43:10, 44:8, 45:5 (“ Akulah YHWH dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Elohim.”) Namun dalam praktek manusia membuat banyak berhala sebagai sesembahan menyaingi Yahweh, dan oleh karena itulah Yahweh berfirman:”Jangan ada padamu elohim lain di hadapan-Ku” (Ul. 5:7). Penyembahan berhala itu sering dilakukan oleh bangsa Israel dan ini nyata yang kemudian di mata Yahweh merupakan tindakan “perzinahan” (Yes. 57:6-13).

BN menulis:
4. Perjanjian Baru Ibrani Bukan Teks Asli

Kalau salah seorang penanggap, membuktikan bahwa dalam Yesaya 33:2, tetagramaton YHWH tidak diterjemahkan, tidak perlu aneh. Begitu juga dalam dalam beberapa terjemahan Alkitab bahasa Inggris tidak menerjemahkan YHWH, tidak ada yang aneh. Untuk kepentingan kajian kritis, bukan hal yang perlu ditentang. Begitu juga Alkitab bahasa Jawa, yang diterjemahkan sebelum penerjemah mengikuti tradisi akademik United Bible Societies (UBS) dan TENAKH: The Jewish Holy Scriptures, yang menerjemahkan YHWH dengan “The LORD”. Tetapi menjadi masalah, kalau dalam Perjanjian Baru kita membaca kata YHWH. Mengapa? Karena tidak pernah ada bukti adanya manuskrip asli Perjanjian Baru bahasa Ibrani, kecuali hasil terjemahan UBS dari bahasa asli Yunani tiga dasawarsa lalu.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Anda mengajak melakukan kajian kritis, tetapi hanya pilih-pilih yang sesuai dengan selera Anda saja. Anda sama sekali tidak berani melakukan kajian kritis terhadap The JHS yang menerjemahkan YHWH dengan LORD (juga NIV dan yang sealiran); dan jika “tak terhindarkan” YHWH juga diterjemahkan dengan GOD dalam Alkitab yang sama lho! Jangan-jangan Anda malahan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu untuk menutup-nutupi! Model berbahasa macam apa ini, YHWH = LORD dan GOD!
Mari kita kritisi Perjanjian Baru (PB) Yunani yang sesungguhnya sudah saya jelaskan pada tanggapan sebelumnya, dan sekarang saya tambahkan aspek lain.
(1) PB Yunani yang Anda ikuti itu yang mana? Yang diterjemahkan oleh NIV (maupun yang “sealiran”seperti LAI) atau oleh J.P. Green (dan yang “sealiran” seperti KJV)? Apa Anda kira bahwa hanya ada satu macam PB Yunani? Mari kita tinjau satu kasus yang menunjukkan “kesembronoan”penulis PB Yunani secara akademik dalam Mark. 1:2 –(3)
Ay.2: ”Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: ‘Lihatlah ….; ay.3: …. Persiapkanlah jalan untuk Tuhan (Kurios)“ (NIV dan LAI).
Ay.2: ”Seperti ada tertulis dalam kitab para nabi: ‘Lihatlah …..; ay.3: ….. Persiapkanlah jalan untuk Tuhan (Kurios)“ (J.P Green, KJV).
Untuk lebih memudahkan analisis keduanya diterjemahkan persis sama mengikuti LAI. Perbedaan antara keduanya adalah tercantumnya kata nabi Yesaya dalam sumber NIV (Ibrani), tetapi para nabi dalam sumber J. P. Green (Ibrani). Catatan kaki keduanya menunjukkan hal yang sama yakni ay.2 merujuk Mal.3:1 dan ay.3 merujuk Yes. 40:3. Oleh karena rujukannya dari dua nabi dan memang demikian kenyataannya maka jelaslah bahwa penulis PB Yunani NIV bertindak “ceroboh”, yang diingat hanya nabi Yesaya saja padahal rujukan Malaekhi malahan muncul lebih dulu! Ini jelas bukti bahwa ada PB Yunani yang berbeda-beda bergantung penyalinnya.
Perbedaan yang lain misalnya kata “puasa” yang banyak terdapat dalam sumber J.P. Green (Ibrani), namun tidak muncul dalam NIV (Ibrani); untuk ini hanya akan saya tunjukkan ayat-ayatnya jika ada yang merasa membutuhkan.
(2) Sungguh mengherankan sikap kritisi Anda; Anda menganggap masalah jika dalam PB terbaca YHWH, sebaliknya merasa tidak masalah jika membaca beraneka “istilah” untuk mengganti YHWH. Dalam PB Yunani, kurios oleh LAI diterjemahkan Tuhan? NIV dan J.P. Green keduanya memang menerjemahkan Lord. Jadi kesimpulan saya LAI (maaf) hanya ”mencontek” saja dari Alkitab yang sealiran NIV-J.P. Green.
Nah, sudah saya kemukakan dalam tanggapan yang terdahulu bahwa konkordansi septuaginta yang dibuat oleh orang Yahudi sendiri mencatat kurios dengan 24 padanan kata, salah satunya adalah YHWH. Jika ide pengarang Injil Markus itu memang benar-benar Markus yang sedang merujuk Yes. 40:3, maka yang ada di sana (di benaknya Markus) exactly YHWH only; no question! Jadi, kalau saya mengikuti alur pikir Markus dalam menerjemahkan Kurios menjadi YHWH, apakah masalahnya? Anda ini maunya menerjemahkan Kurios dengan acuan konkordansi plus kitab Yesaya ataukah menerjemahkan Lord Alkitab NIV atau aliran “Yunani” yang “nampaknya mau memutus hubungan” PB dengan PL? Jika Anda maunya menerjemahkan Lord, itu berarti Anda tidak sedang menerjemahkan PB Yunani, melainkan PB yang sudah diterjemahkan NIV!
Tolong dijawab, apakah pandangan saya ini kritis atau Anda merasa lebih kritis dengan bersikap “manggut-manggut” pokoknya PB Yunani itu asli, meskipun ada dua PB Yunani yang berbeda-beda dan bahkan “ceroboh” ya tidak masalah, dua-duanya asli meskipun beda dan yang lebih penting harus tidak kenal YHWH sekalipun PB sedang mengulangi nats PL yang mencatat YHWH, sebab acuanku adalah terjemahan PB Yunani sealiran NIV!

Perihal adanya manuskrip PB Ibrani, sudah saya singgung dan anjurkan pada tanggapan terdahulu untuk membaca Alkitab J. S. Trimm beserta alasan penyusunannya, namun Anda nampaknya “overlook”atau Anda punya pandangan lain menunggu komentar saya. OK, saya kemukakan sebagian yang sangat kecil dan singkat saja. Detailnya bisa diunduh dari www.nazarene.net/hantri/.
Paus Julius III menandatangani keputusan larangan Talmud di Roma pada 12 Agustus 1553. Tulisan apa saja yang berbau Yahudi (ditulis dengan karakter Ibrani) disita dari rumah-rumah Yahudi dan Sinagoge yang dirampoknya. Salah satu manuskrip Ibrani yang dirampas adalah manuskrip Matius Ibrani. Manuskrip ini terabaikan oleh para skolar hingga suatu ketika ditemukan oleh Jean Du Tillet, Uskup Brieu Prancis yang kemudian menyimpannya di Bibliotheque Nationale, Paris (konon masih ada sampai sekarang dengan kode Hebrew ms.No.132); manuskrip ini kemudian dikenal sebagai Matius Ibrani versi Du Tillet. Dua skolar H. Schonfield dan G. Howard memberikan tanggapan terhadap manuskip ini sebagai berikut:
...certain linguistic proofs... seem to show that the Hebrew text [DuTillet] underlies the Greek, and that certain renderings in the Greek may be due to a misread Hebrew
original. (An Old Hebrew Text of St. Matthew's Gospel; 1927, p. 17)
Jadi menurut kedua skolar tersebut, Matius Ibrani DuTillet-lah yang justru mendasari PB Yunani, dan terjemahan-terjemahan tertentu dalam PB Yunani (maksudnya yang “janggal”) disebabkan antara lain oleh terjadinya “kesalahan baca (teks) Ibraninya”.
Manuskrip yang lain yang diduga kuat asli dan bukan dari terjemahan PB Yunani adalah Shem Tob Hebrew Matthew (1380), Old Syriac Aramaic Gospels –OSAG (abad 5), The Peshitta Aramaic NT, Munster Hebrew Hebrews (1537 dan 1557) dan The Crawford Text Aramaic Revelation. (OSAG tersebut hanya mampu bertahan hingga akhir abad ke 5 oleh desakan popularitas versi Peshitta, dan sekarang tinggal 2 manuskrip yang berhasil diselamatkan dengan kode Codex S.C. dan Codex S.S.). Manuskrip-manuskrip inilah yang bersama-sama dengan PB Latin dan PB Yunani dipakai oleh J. S. Trimm untuk “merekontruksi” PB Ibrani.
Jadi, pernyataan Anda bahwa tidak pernah ada bukti adanya manuskrip asli PB Ibrani, kecuali hasil terjemahan UBS (1970) dari bahasa asli Yunani adalah tidak benar.
Berikut adalah komentar David Stern yang menggunakan UBS; Although Stern uses the UBS Greek New Testament text and NOT the Hebrew and Aramaic manuscripts as the source for his Jewish New Testament version (Which also appears in THE COMPLETE JEWISH BIBLE) (JNT p. xxii; CJB p. xxxi) he also admits:
“Nevertheless, there is good reason to think that several books of the New Testament either were written in Hebrew or Aramaic, or drew upon source materials in those languages; this case has been made by one scholar or another for all four Gospels, Acts, Revelation and several of the General Letters.... In fact, some phrases in the New Testament manuscripts make sense unless one reaches through the Greek to the underlying Hebrew expressions. “ (David Stern; Complete Jewish Bible p. xxxi) (an almost identical statement appears in JNT p. xvii)
Sdr. Bambang yang terkasih, ketimbang Anda “kutak-kutik” mempelajari asal-usul kata hanya untuk mengganti Sang Nama YHWH yang jelas-jelas melanggar kaidah terjemahan, apa tidak lebih baik Anda “kutak-kutik” nats PB Yunani yang nampak janggal kemudian dicari jawabannya. Saya menemukan banyak, dan sangat terbantu oleh karya semacam J. S. Trimm.

BN menulis:
Seorang penanggap mengatakan, terjemahan Arab itu banyak, sambil mengutip salah satu terjemahan terbitan Call of Hope, Jerman. Perlu saya sampaikan, terjemahan Call of Hope yang dikutip oleh penanggap itu adalah hasil terjemahan Van Dyck. Sedangkan saya mengutip Al-Kitab al-Muqaddas, Today’s Arabic Version, terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut. Berbeda-beda, wajar karena memang itu terjemahan, bukan teks asli. Tetapi menjadi aneh bin ajaib, kalau kelompok para pengagung empat huruf itu mengambil salah satu terjemahan Ibrani, lalu seolah-olah memberlakukannya sebagai teks asli.
Lebih parah lagi, berdasarkan teks terjemahan itu, mereka mencoba untuk mengkoreksi teks asli Yunani. Apakah berlebihan kalau saya katakan “logika jungkir balik?”. Mereka tidak mempercayai keakuratan teks Perjanjian Baru, tetapi anehnya mereka tidak bisa mengajukan bukti adanya teks asli Ibrani. Memang Yesus ketika mengutip Yesaya 61:1-2, masuk akal saja mengutip dalam bahasa Ibrani. Tetapi teks asli yang sampai kepada kita adalah bahasa Yunani. Bisa-bisa saja kita merekonstruksikan sabda-sabda asli Yesus itu dalam bahasa Ibrani (ketika membaca Perjanjian Lama), dan juga bahasa Aram (ketika mengajar sehari-hari), seperti dilakukan Matthew Black, An Aramaic Approach to the Gospels and Acts (Oxford, 1967). ……..

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Periksa kembali tanggapan saya di atas. Dalam hal-hal tertentu, saya memang tidak harus begitu saja mempercayai keakuratan PB Yunani. Selain koreksi terhadap perbedaan PB. Yunani-NIV versus J.P. Green yang telah saya kemukakan di atas, marilah kita koreksi lagi perihal silsilah Yesus mulai dari pembuangan Babel s/d Yesus dalam Mat. 1: 12-16. Nama-nama yang terlibat dalam silsilah ini hanya berjumlah 13 (1. Salathiel, 2. Zorobabel, 3. Abiud, 4. Eliakim, 5. Azur, 6. Sadoc, 7. Achim, 8. Eliud, 9. Eleazar, 10. Matthan, 11. Jacob, 12. Joseph, 13. Yeshua/Jesus), sementara itu ay. 17 menyebutkan adanya 14 keturunan seperti halnya 2 kelompok keturunan sebelumnya.
Pertanyaan saya, Anda ini ketika membaca Alkitab dengan super sibuk mendalami bahasa semitiknya itu untuk tujuan apa? Apakah memang hanya untuk (maaf) menonjolkan kehebatan Anda sehingga tidak sempat mengoreksi jumlah nama-nama keturunan yang hanya 13 namun dikatakan 14, yang sesungguhnya hanya memerlukan nalar-logika sederhana saja? Tolong dijawab siapa yang menerapkan logika jungkir balik. Keyataan demikian akan membuat seseorang mencari jawaban di mana kesalahannya, dan kenyataannya J.S. Trimm berhasil menemukannya satu nama yang perlu ditambahkan, yakni Abner (Avner) sebagai anak Abiud atau yang memperanakkan Eliakim, sehingga jumlahnya menjadi 14. Informasi ini diperoleh dari Matius Ibrani versi Du Tillet. Anda sekarang saya beri dorongan untuk mencurigai kebenaran penemuan tersebut, namun sebagaimana tuntutan Anda, tunjukkan kepada saya naskah PB Yunani yang mampu menjawabnya. Tolong ditanggapi!
Sdr. Bambang yang terkasih. Saya akui secara jujur sebagaimana tanggapan saya terdahulu, Anda memang hebat dalam berbahasa semitik, tetapi di sini apakah Anda sedang (maaf) “bersilat lidah” dalam tulisan Anda yang saya garis-bawahi di atas? Yesus itu tidak mengutip Yes. 61:1-2, tetapi Ia membacanya (Luk. 4:16, 18-19) setelah menerima dan terus membuka Kitab Yesaya (Luk. 4:17), dan akhirnya menutupnya dst.; peristiwa ini kemudian dicatat dalam kitab yang kita sebut sebagai Luk. 4: 16-21 dst. Jadi yang dibaca itu Kitab Yesaya beneran, tetapi peristiwa itu dicatat dalam bahasa Yunani. Oleh karena itu, jika kita ingin menguji kebenaran peristiwa tersebut, catatannya (PB Yunani) ya harus dicocokkan dengan PL Ibrani yang dibaca, dan inilah yang saya lakukan. Apakah Anda memang kesulitan menangkap tanggapan saya terdahulu untuk Luk. 4:16-21?
Saya kawatir Anda hanya terpana pada segi kebahasaan saja dengan menerima begitu saja doktrin kebenaran isi PB Yunani yang bagi Anda nampaknya untouchable, sehingga sangat tidak peduli logika isinya.
Dalam kasus Matthew Black, ia melakukannya berdasarkan The OSAG, yang paling tidak disusun berdasarkan teks Aramaik asli sebagaimana hasil studi Cureton:
…this Gospel of St. Matthew appears at least to be built upon
the original Aramaic text which was the work of the Apostle himself.
(Remains of a Very Ancient Recention of the Four Gospels in Syriac; Dr. William Cureton; 1858, p. vi)
Dengan adanya manuskrip PB Ibrani dan Aramaik yang diduga asli dalam arti bukan terjemahan PB Yunani, maka pertimbangan logika sederhana akan mengatakan bahwa paling tidak PB Yunani is not the only one of the original sources for NT texts. PB Yunani bukan satu-satunya sumber teks asli PB, dan bukan mustahil bahkan sebaliknya yakni manuskrip Ibrani-Aramaiklah yang lebih pantas asli karena mampu mengoreksi “kejanggalan-kejanggalan” PB Yunani sebagaimana yang dilakukan oleh J.S. Trimm.

BN menulis:
Tetapi para teolog tetap menghormati teks asli Yunani, sekalipun mereka membedahnya dengan pendekatan kritik teks, kritik bentuk, kritik sastra, yang dilakukan dalam rangka memperjelas konteks mula-mula kehidupan Yesus, sabda-sabda dan pengajaran-Nya yang dicatat dalam teks Perjanjian Baru.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Lho, saya ini tetap mengakui adanya PB Yunani, namun saya tidak percaya begitu saja bahwa ini merupakan satu-satunya sumber PB. Tolong pikirkan yang jernih keakuratan PB Yunani sebagaimana saya tanggapi di atas (Sesungguhnya masih banyak kejanggalan PB Yunani). Anda saya nilai sama sekali tidak sedang berlogika, tetapi sedang mempertahankan loyalitas Anda terhadap PB Yunani yang tidak ada YHWH. Sudah saya jelaskan tanggapan terdahulu, huruf Yunani itu tidak bisa menyalin Y, H dan W. Namun potongan septuaginta (Yunani) yang diduga berumur sebelum tahun 150 AD (CE) masih menuliskan YHWH dalam huruf Paleo Ibrani, dan ini baru diganti kurios sesudahnya. Apakah Anda tidak baca tanggapan saya? Tolong dijawab.

BN menulis:
Mengenai teks sumber ini, saya hanya mengajukan satu contoh saja inkonsistensi mereka dalam menyikapi teks-teks Perjanjian Baru. Misalnya, dipersoalkan redaksi: Eli, Eli Lamma Sabakhtani menurut Matius 27:46 dengan Eloi, Eloi Lama Sabakhtani menurut Markus 15:34. Mana yang benar? “Pasti ucapannya hanya satu”, tulis mereka. Dengan perbedaan ini mereka lalu meragukan teks Yunani, tetapi mereka tidak bisa mengajukan teks asli yang mereka bayangkan berbahasa Ibrani itu. Sungguh-sungguh aneh, sebab dalam terjemahan Ibrani pun perbedaan itu tetap ada. Lebih-lebih lagi, harus ditegaskan tidak hanya ada satu terjemahan Ibrani.
“…..Elahi, elahi, Lemah Syabaqtani, asyer feruso Eli, Eli Lamah ‘Azvatani”.Markus 15:34, Ha B’rit Ha Hadasah (England: The Society for Distributing
The Holy Sciptures, 1971).

“….El, El, Lemana syebaqtani, dehayenu Eli, Eli Lamah ‘azvatani”.
Markus 15:34, Ha B’rit Ha Hadasah. The New Covenant Aramaic
Peshitta Text with Hebrew Translation (Jerusalem: The Bible Society in Israel, 1986).

“….Eli, Eli Lemah Syavaqtani, we targumo Eli, Eli Lamah ‘azvetani”Matius 27:46, Ha B’rit Ha Hadasah (England: The Society for Distributing
The Holy Sciptures, 1971).

Ungkapan “dan terjemahannya” (we targumo) ini, dengan jelas menunjukkan bahwa teks asli ditulis dalam bahasa Yunani, karena itu ketika mengutip kata-kata asli Yesus dalam bahasa Aram, perlu ada penjelasan dalam bahasa Yunani. Berdasarkan teks asli Yunani tersebut, beberapa waktu akhir ini mulai diterjemahkan dalam bahasa Ibrani. Masih banyak sekali contoh-contoh seperti ini, tetapi mereka tetap saja memberlakukan terjemahan Ibrani (entah terbitan mana yang mereka ambil), seolah-olah sebagai teks asli.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Saya kira tidak berlebihan jika menyarankan Anda lebih belajar lagi berlogika. Bayangkan saja andaikata Anda berkebangsaan Inggris menjadi seorang guru (katakanlah guru bahasa Inggris) kemudian mendikte para murid Anda yang juga berkebangsaan Inggris untuk menulis satu kata saja yang Anda ucapkan sekali saja; ternyata murid Anda Matius menulis “word”, dan Markus juga menulis “word”. Kemudian seorang Yunani A menyalin tulisan Matius: “word”, dan orang Yunani B yang tidak begitu fasih berbahasa Inggris menyalin tulisan Markus: “work” misalnya. Selanjutnya orang-orang Indonesia membaca hasil kerja kedua orang Yunani tadi; apakah tidak kebingungan mana yang benar, salah satu saja kan yang benar? kecuali jika kejadiannya lebih dari satu kali dan murid tidak hadir bersama-sama. Apakah cara pandang demikian ini inkonsisten? Oleh karena teks dalam tulisan Yunani sementara perbedaan ucapan yang dipermasalahkan adalah bahasa non-Yunani (Ibrani atau Aramaik?) apakah tidak timbul kecurigaan jangan-jangan penyalinnya memang tidak menguasai kedua bahasa ini, persis seperti analogi “murid Anda di atas”? Jangan hanya gara-gara saya tidak menunjukkan teks asli lain kemudian dianggap aneh karena meragukannya. Jika sehabis turun hujan kemudian saya masuk rumah dan menyaksikan ternyata lantai basah, apakah suatu keanehan jika mencurigai ada kebocoran? Mencari sumber kebocoran adalah tugas lain. Tolong ditanggapi

BN menulis:
Selanjutnya, salah seorang penanggap mengajukan asumsi bahwa seluruh cerita atau percakapan Perjanjian baru didominasi bahasa Ibrani-Aram, sementara itu pencatatnya lebih fasih dalam bahasa Yunani dan bukan mustahil tidak terlalu ahli dalam bahasa Ibrani-Aram sehingga ada beberapa kesalahan. “Naskah inilah yang selamat terpelihara hingga saat ini”, tulisnya. Saya bertanya, “Naskah manakah yang berhasil diselamatkan itu?” Tidak pernah ada naskah Perjanjian Baru dalam bahasa asli Ibrani. Nah, bagaimana mungkin mereka begitu gencar menyiarkan pandangan-pandangan mereka, tanpa dukungan teks asli manapun, kecuali hanya praduga-praduga belaka.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Yang saya maksudkan naskah yang selamat terpelihara secara lengkap adalah ya PB-Greek. Kalau memang sudah ada teks PB. Ibrani canon jelas tidak akan ada polemik semacam ini. Tetapi orang kan bisa curiga berdasarkan kelemahan-kelemahan yang ada sehingga berusaha mencari sumber lain.

BN menulis:
Soal rekonstruksi beberapa ahli atas percakapan Yesus dalam bahasa Aram, memang menarik. Sekalipun demikian, dari sudut kritik teks sangat lemah. Mengapa? Sebab kita memiliki manuskrip Perjanjian Baru yang berasal dari tahun yang begitu dekat dengan waktu penulis-annya mula-mula. Misalnya, manuskrip Injil Yohanes dari Kanon Muratori yang jarak naskah tertua ini dengan waktu Injil keempat itu ditulis hanya berjarak sekitar 30 tahun saja. Sedangkan Peshitta berbahasa Aram, ditemukan bertanggal belakangan setelah teks Yunani, dan itupun tidak semua naskah Perjanjian Baru lengkap. Apalagi Perjanjian Baru bahasa Ibrani, yang baru jelas-jelas baru diterjemahkan tahun 1970-an.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Tidak ada jaminan bahwa manuskrip Ibrani-Aramaik yang bertanggal belakangan ketimbang PB Yunani selalu harus diartikan diduga meniru PB Yunani. Hal ini disebabkan pada zaman itu belum ada mesin cetak yang bisa melipat gandakan; penyalinan dengan tulisan tangan terus dilakukan berulang-ulang sehingga memakan waktu hari bulan dan bahkan tahunan; selain bisa keliru bisa juga salinan yang terdahulu rusak/hilang/dimusnahkan musuh dsb.

BN menulis:
5. Soal Bahasa Ibrani, Aram dan Yunani

Membaca beberapa argumentasi penanggap, saya menyimpulkan mereka tampaknya tidak paham perbedaan bahasa Ibrani dan Aram. Hal ini terbukti dari ungkapan salah seorang penanggap, bahwa dari surga Yeshua memilih berbahasa Ibrani, dan bukan Aramaik apalagi Yunani. Tetapi seperti sudah saya kutip di atas, ia menulis pula bahwa percakapan Perjanjian Baru didominasi bahasa Ibrani Aramaik. Untuk para pembaca, saya ingin memberikan gambaran singkat mengenai kedudukan ketiga bahasa itu pada zaman Yesus.

Salah satu keunikan Injil adalah pewartaan Yesus mula-mula di tengah dunia yang multi etnik dan multilingual di Galilea pada abad pertama Masehi. Dalam Yesaya 8:22 dinubuatkan daerah pelayanan Sang Mesiah: derek hayyam ‘aver hayyarden gelil haggoyim (jalan ke laut, daerah seberang Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa). Latarbelakang ini sangat mempengaruhi corak keagamaan Kristiani sejak semula. Beberapa ahli menyimpulkan, bahwa Yesus dan penduduk Galilea khususnya dan Israel pada umumnya berbicara dalam bahasa Ibrani, Aram dan sedikit Yunani.

Pertama, mengenai bahasa Ibrani dan Aram sebagai dua bahasa serumpun. Kedua bahasa ini erat bertalian, banyak kata dalam kedua bahasa ini sama. Tata bahasa dan sintaksisnya juga sama. Pada zaman Abraham (kira-kira 1900 sebelum Masehi) kedua bahasa itu dapat dikatakan identik, artinya belum terpecah satu sama lain. Dalam sebuah liturgi Yahudi kuno, disebutkan mengenai Abraham: Arami obed Avi, “Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara (Ulangan 26:5). Tetapi berabad-abad kemudian (kira-kira 1100-722 sebelum Masehi) dari bahasa yang satu itu melahirkan dua cabang bahasa: Ibrani di kalangan orang Yahudi di Palestina dan bahasa Aram di kerajaan-kerajaan Aram di Mesopotamia: Damaskus, Zobah dan Hamat. Bahasa Ibrani dipakai oleh Saul, Daud, Salomo dan nabi-nabi lainnya, sehingga Perjanjian Lama untuk sebagian besar ditulis dalam bahasa ini. Bahasa Ibrani (atau dikenal sebagai bahasa Ibrani klasik) bertahan sebagai bahasa resmi kerajaan Israel sampai jatuhnya Yerusalem tahun 587 sM.

Sementara itu, bahasa Aram berkembang pesat ketika orang-orang Asyiria menguasai kembali Mesopotamia (883-606 sM) dan akhirnya bahasa Aram menjadi bahasa resmi kerajaan. Keadaan ini semakin kuat di kalangan orang-orang Babel (606-539 sM) dan kelak di kalangan Persia (539-333 sM). Pada zaman ini bahasa Aram terus mendesak bahasa Ibrani sampai zaman Yesus, khususnya di wilayah Galilea, Samaria dan daerah-daerah sekitarnya. Pada zaman itu bahasa Aram tersebar luas sebagai “lingua franca” di wilayah Timur, sedangkan bahasa Yunani dipakai sebagai “lingua franca” di wilayah Barat. Sementara itu bahasa Ibrani membeku sebagai “bahasa suci” di Bait Allah dan sinagoge-sinagoge Yahudi.

Kendati secara praktis bahasa Aram berbeda dengan bahasa Ibrani klasik, tetapi pada zaman Yesus bahasa Aram disebut juga sebagai bahasa Ibrani. Hal ini tampak pada catatan-catatan Perjanjian Baru, yang menyebut kata-kata Aram seperti: Gabbatha (Yohanes 19:13) sebagai bahasa Ibrani juga. Begitu pula, sejarahwan Yahudi Flavius Yosephus memberitahukan kepada kita bahwa ia menulis bukunya The Jewish War dalam “bahasa Ibrani”, meskipun kenyataannya ia menulis “dalam dialek Ibrani”, yaitu bahasa Aram. Karena pada zaman itu bahasa Aram, kendatipun dibedakan dari bahasa Ibrani sebagai “bahasa kekusasteraan rabbinis” (yang biasa disebut juga bahasa Ibrani Mishnah), tetapi bahasa Aram hanya dianggap sebagai dialek bahasa Ibrani tutur Galilea. Karena itu, Petrus dikenali karena dialek bahasanya (Matius 26:73).

Bahasa Ibrani, Aram maupun Yunani dijumpai bersama-sama di wilayah Israel pada abad pertama Masehi. Penemuan inskripsi-inskripsi kuno (graffiti, monogram dan simbol) di bekas sinagoge Kapernaum yang ditulis dalam bahasa Ibrani Aram, Paleo-estrangelo Syriac, Yunani, bahkan Latin membuktikan dunia multi-etnik dan multi-lingual Yesus Kristus. Lebih-lebih lagi, jelas sekali dalam Injil Yohanes 19:19 dicatat bahwa inksripsi di atas kayu salib Yesus dicatat dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Untuk pembaca bisa membayangkan, selain teks asli Yunani, di bawah ini dapat kita ikuti rekonstruksi bunyi inskripsi itu dalam Ibrani (baik Ibrani Mishnah maupun Ibrani tutur, entah mana yang tercantum pada waktu itu), dan juga dalam bahasa Latin:

* Iesous ho Nasoraios ho Basileos ton Ioudaion (bahasa Yunani).
* Yeshua ha Natseri Melak ha-Yehudim (bahasa Ibrani Mishnah).
* Yeshua Natsraya Malka da yhudeim (bahasa Aram/Syriac).
* Iesus Nazarenus Rex Yudaerum (bahasa Latin).

Kalau begitu, bagaimana mengucapkan nama Sang Juru Selamat yang sah? Yeshua, Iesous atau Iesus? Jawabnya, semua sah-sah saja, karena semua bahasa itu hidup pada zaman-Nya. Jadi, dalam bahasa Aram inilah Yesus berbicara sehari-hari dan mengajar murid-muridnya, begitu juga ketika dikatakan bahwa Yesus bebicara dengan Paulus dalam bahasa Ibrani (Kisah 26:14), kemungkinan besar dalam bahasa Ibrani tutur Galilea atau Aram. Tetapi ketika membaca Taurat dan Kitab Nabi-nabi di sinagoge, pasti Yesus mendaraskannya dalam bahasa Ibrani (Lukas 4:18-20). Tetapi mungkin juga Yesus juga berbicara dalam bahasa Yunani, misalnya dalam perca-kapannya dengan seorang perwira di Kapernaum (Lukas 7:1-10).

Pertanyaan penting sekarang, mengapa hanya bahasa Ibrani saja yang mereka ajukan, bahkan mau mereka mutlakkan? Perlu dicatat, bahwa bahasa Ibrani sekarang adalah bentuk modern dari bahasa Ibrani mishnaik. Mengapa tidak merekontruksi juga bahasa Ibrani dialek tutur Galilea yang dipakai Yesus sehari-hari, atau lebih dikenal dengan bahasa Aram? Semua usaha merekonstruksi “the original language of Jesus” itu patut kita hormati, dengan catatan tanpa harus mempertentangkannya dengan “the original texts of the New Testament”, me-lainkan mengiringi, memperdalam dan memperjelas konteks Ibrani dan Aram dari Perjanjian Baru yang kita terima dan kita warisi dalam bahasa Yunani itu.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Saya memang tidak bisa berbahasa semitik, namun mengenai sejarah penyebarannya tidak perlu saya tanggapi karena memang tidak ada yang istimewa berkaitan dengan diskusi ini. Kami dengan mudah dapat mengikutinya dari banyak pakar dari internet (di luar Anda yang juga hanya baca saja).
Ingat multi bahasa zaman kehidupan Yesus (Yahshua) terutama juga disebabkan oleh hadirnya penjajah. Logika normal akan menyatakan bahwa bisa terjadi saling menguasai bahasa khususnya pada jajaran “elit” pemerintahan; pengalaman yang sama dialami oleh bangsa Indonesia pada zaman penjajahan Belanda atau Jepang. Namun ingat bahwa sifat bangsa Yahudi boleh dianggap sangat egois, baik dalam mempertahankan kultur, mata uang apalagi bahasa Ibrani. Bangsa Israel di pembuangan Mesir selama sekitar 400 tahun saja tidak kehilangan karakter bahasanya. Bangsa Israel yang terserak karena pembuangan Babel (sekitar 70 tahun) dan runtuhnya Jerusalem saja terus berusaha kembali dan membangun negerinya sebagaimana kita saksikan saat ini.
Namun dalam kasus Luk. 7:1-10, Anda (maaf) bertindak ceroboh! Sdr. Bambang yang terkasih. Tolong perikop Luk. 7:1-10 dibaca ulang jika Anda pernah membacanya, jangan hanya dibaca bahasanya tetapi dimengerti isinya. Di sana tidak pernah ada pertemuan langsung antara Yesus dengan seorang Perwira, apalagi percakapan antara keduanya; yang ada adalah percakapan langsung antara Yesus dengan tua-tua Yahudi sebagai utusan Perwira dan mereka ini, dengan kata lain, hanya menirukan pesan perwira, dan pesan inilah yang dicatat dalam Lukas (ay.3,6,10). Perhatikan juga ay. 9 akhir “… iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel”. Jelas bahwa percakapan berlangsung antara orang-orang Yahudi yang akhirnya ditutup dengan pernyataan yang nampaknya menyindir orang-orang Israel (sangat mungkin Yesus dikerumuni oleh orang-orang Israel kebanyakan), dan oleh karena itu boleh dikata mustahil percakapan antar orang-orang Yahudi koq berlangsung dalam bahasa Yunani. Percakapan antara Perwira dengan tua-tua Yahudi sebagai utusannya tidak dicatat. Tolong ditanggapi.
Apakah Anda pernah membaca Alkitab PL-PB mulai dari Kejadian 1:1- s/d Wahyu 22:21? Apakah tujuan Anda membaca Alkitab itu untuk menyelidiki asal-usul kata/bahasa atau untuk memahami isinya? Kemungkinan percakapan dengan bahasa Yunani justru bisa terjadi pada peristiwa pengadilan Yesus menjelang disalib; namun, itupun sangat pendek, dan bukan mustahil Pilatus menggunakan penerjemah. Pengadilan dihadapan Herodes dicatat oleh Lukas, namun kenyataannya percakapan antara keduanya tidak terekam; padahal, jika percakapan ini berlangsung dalam bahasa Yunani alangkah mudahnya dicatat oleh penyalin Yunani.
Inskripsi multi-bahasa dalam Yoh. 19:19 bisa dipandang sebagai bukti bahwa:
(1) kejadian tersebut berlangsung dalam tanggung jawab pemerintahan penjajah.
(2)Yesus dikenal oleh dunia (yang diwakili berbagai bahasa) sebagai Raja orang Yahudi
Jadi, tidak perlu harus berkaitan dengan multi bahasa yang dipakai oleh yang disalib (Yahshua) dan masyarakat Yahudi khususnya.

BN menulis:
6. Mengenai Penemuan Laut Mati (The Dead Sea Scrolls)

Salah seorang penanggap juga mengajukan fakta, bahwa fragmen-fragmen Kitab Yunus, Nahum, Habakuk, Zefanya dan Zakariya yang ditemukan di Laut Mati (Qumran) juga memuat tetagramaton YHWH (antara tahun 50 sM sampai 50 M). Hal itu memang benar, tetapi jangan berhenti pada fakta ini. Sebab dari ribuan naskah Qumran yang ditemukan, tidak semua ditulis dalam bahasa Ibrani. Sebagian yang lain, misalnya sejumlah tafsiran Kitab Suci, juga tertulis dalam bahasa Aram. Dan bersama dengan penemuan naskah-naskah Perjanjian Lama Yunani yang memuat tetagramaton, puluhan naskah berbahasa Aram dari Laut Mati menerjemahkan YHWH dengan Mar (cf. seruan liturgis tertua: Maranatha, “Tuhan kami datanglah!”, yang diterapkan bagi Kristus).

“Futhermore, Qumran evidences the use of the term “Lord” (Mar) for YHWH, the tetagrammaton. This suggests that the origin of the Church’s use of the term “Lord” for Christ is not to be found in the Hellenistic environment, but in the original Hebrew “church”, as it was a feature of Jewish sectarianism before Christianity” (James H. Charles Worth, ed., Jesus and The Dead Sea Scrolls, New York, 1992, p. 304).

Lagi pula, tidak semua ibadah sinagoge dan Bait Allah dipanjatkan dalam bahasa Ibrani klasik. Pembacaan TENAKH (Perjanjian Lama) memang dalam bahasa Ibrani klasik, begitu juga doa seperti Syemoneh Esrei (Delapan Belas Berkat), tetapi sebagian lainnya dalam bahasa Aram, misalnya doa Qadisy yang terkenal itu (Th. Philips, ed., Sefer Tehilat makol hash shanah. New York: Hebrew Publishing Company, tanpa tahun, p. 722). Dibuktikan pula, doa Qadisy ini ternyata melatarbelakangi pengajaran Yesus mengenai Doa Bapa Kami, yang melaluinya Yesus telah menmperdalam doa Yahudi tersebut, dan merefleksikannya kembali dalam terang kedatangan-Nya sebagai Sang Mesiah.

Berdasarkan penemuan Qumran pula, keragu-raguan terhadap teks Yunani juga tidak terlalu beralasan. Naskah-naskah Yunani juga ditemukan di Gua 7 Qumran, dan salah satu dari naskah-naskah tersebut fragmen Injil Markus 6:52-53 dan 1 Timotius 3:16, 4:3 (Carsten Peter Thiede dan Matthew D’ancona, The Jesus Papyrus (London, 1997), pp. 163–164). Bukti baru ini menunjukkan bahwa teori selama ini yang menentukan penulisan Injil Markus setelah tahun 60 akan gugur. Sebab menurut kesaksian sejarahwan Yahudi, Flavius Yosephus dalam Antiquities of The Jews, bahwa komunitas kaum Essene yang mendiami wadi Qumran berakhir akibat serangan militer Roma pada tahun 68 M.

Kemungkinan naskah-naskah itu dibawa oleh orang-orang Kristen Yerusalem yang mengungsi setelah pecah perang Yahudi tahun 66 M. Konsektuensi logis dari temuan ini, Injil Markus harus ditulis pada masa yang lebih awal lagi, dan Injil yang ditulis oleh murid Petrus di Roma ini memang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani. Jadi, tidaklah berasalan meragu-ragukan teks Yunani, sementara tidak pernah ada manuskrip dalam bahasa lain yang secara kritik teks dibuktikan lebih tua dari manuskrip Yunai tersebut. Tidak pula beralasan mempertentangan bahasa Ibrani dengan Yunani, bahkan terlalu naïf pula sampai mengkotak-kotakkan, Yahweh sebagai sembahan Yahudi-Kristen, Kyrios dewa kafir Yunani, dan Allah dewa kafir orang Arab, sebagaimana yang saya kemukakan pada awal artikel ini.

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto
Saya mengemukakan data The Dead Sea Scroll “Nahal Hever Minor Prophets” hanya yang dibutuhkan saja untuk membantah pernyataan Anda yang mengatakan bahwa Septuaginta tidak berisi YHWH melainkan kurios. Kenyataannya Anda tidak mau mencabut pernyataan Anda ini meskipun Anda tidak mampu lagi mengelaknya dari signifikansi data yang saya kemukakan tersebut. Mestinya septuaginta berikutnya setelah tahun 200-an yang mengubah YHWH menjadi kurios, perlu dikritisi minimal dalam terjemahannya kurios itu; tidak kemudian malahan Anda pakai sebagai dasar menerjemahkannya menjadi Tuhan! Bahkan kenyataannya Anda malahan menganjurkan saya tidak berhenti pada fragment Nahal tsb. Itu menunjukkan bahwa Anda mau mengalihkan materi diskusi; siapa sesungguhnya yang bersikap “berputar-putar” sebagaimana Anda tuduhkan kepada kami pada awal tulisan Anda ini? Namun demikian, baiklah saya tetap senang melayaninya.
The DSC mencakup sekitar 600 bagian manuskrip baik yang berkaitan dengan Alkitab maupun non -Alkitab, dengan s
Back to top
View user's profile
Display posts from previous:   
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index -> Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum



Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Hotline kami di 08883023916 bila Anda ingin info lebih lanjut mengenai pelayanan SALIBNET MINISTRIES atau bila Anda membutuhkan pelayanan kami.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.