salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: agus.soetopo
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1525

People Online:
Members: 0
Visitors: 1
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Buku2 pengajaran iman Kristen yg ditulis oleh: Denny Teguh S
Last post by Denny in Lainnya on May 18, 2012 at 01:28:12

Buku: "BAHASA LIDAH: MASIH ADAKAH?" (Denny Teguh S.)
Last post by Denny in Lainnya on Apr 18, 2012 at 00:13:58

Renungan Paskah 2012: TUHAN YESUS TELAH BANGKIT! (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 08, 2012 at 02:52:50

Renungan Jumat Agung 2012: KEMATIAN SANG ANAK ALLAH (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 05, 2012 at 00:14:12

Get my new book: GENERASI TUA VS GENERASI MUDA (Denny T. S.)
Last post by Denny in Lainnya on Mar 18, 2012 at 02:07:53

Paskah Akbar Surabaya 2012
Last post by Denny in Agenda Kita on Mar 18, 2012 at 02:01:33

Tantangan Untuk Beritakan Injil di Wilayah Timur Tengah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Mar 17, 2012 at 12:58:39

Diresmikan, Syarat Dapat Gelar S1 Harus Publikasi Ilmiah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 07:08:29

Suka duka jadi anak jenius
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 06:41:05

Kemampuan Pelajar Asia Timur, 3 Tahun Diatas Negara Maju
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 22, 2012 at 18:59:09

We have received
5086921
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Melengkapi Tanggapan Surat Terbuka Bambang Noorseno 1-3
Result

Melengkapi Tanggapan Surat Terbuka Bambang Noorseno 1-3
Bila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Wed Dec 22, 2004 3:48 pm    Post subject: Melengkapi Tanggapan Surat Terbuka Bambang Noorseno 1-3 Reply with quote

PK menulis:
Melengkapi tanggapan Surat terbuka Bambang Noorseno oleh Bapak Kristian Sugiyarto, maka saya Paulus Komar akan melengkapi hanya mengambil tiap-tiap paragraf dari surat terbukanya Bambang Noorseno yang perlu diluruskan dengan warna biru dan italic, sebagai berikut :
Dari bagian file pertama yaitu Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain.

Bambang Noorseno menulis :
Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani memakai kata ganti Mi, "Siapakah" (bandingkan dengan kata Arab, Man). Tetapi di sini dalam ayat ini dipakai "Bagaimana (mah) tentang Nama-Nya?". Mah symo, sejajar dengan bahasa Arab: Ma smuhu, menuntut suatu jawaban yang lebih jauh, yaitu memberikan arti ("apa dan bagaimana") atau hakikat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu makna yang menunjuk kepada "Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan".

Tanggapan Paulus :
Mengapa memakai “Ma” (ﻤﺎ ) karena :
- Nama (ismun - اﺴﻢ ) adalah kata benda bukan orang atau syakhshun.
- “Ma” sama dengan dalam bahasa Inggris “what”, dalam bahasa Inggrispun bukan “Who” yang artinya “siapa” dalam menanyakan Nama, tetapi What is your name, karena name itu bukan seseorang.

Sepertinya anda tidak konsekuen dengan pernyataan anda yang mengatakan Nama bisa saja diganti, apalah arti sebuah nama, tetapi nyatanya anda menulis tentang “Kuasa di balik Dia yang di-Namakan”, itu artinya Nama itu berkuasa dan hanya nama Yahweh di dalam Yeshua yang berkuasa di bumi dan di sorga.

Argumentasi Anda tentang “Ma” itu hanya akal-akalan saja yang mau membela yang tidak benar supaya menjadi benar di hadapan orang yang tidak mengerti apa-apa tentang bahasa Arab.
“Ma” itu artinya bukan “bagaimana” seperti yang Anda tulis, melainkan “Apa”, karena kalau kata “bagaimana”, dalam bahasa Arab adalah “Kaifa”.
Ma itu juga bisa diartikan “tidak” kalau dimasukkan ke dalam Fi’lul Madhi ( maa qoro’tu syaian - ﻤﺎﻘﺮﺃﺖﺸﻳﺋﺎ - saya tidak membaca sesuatu) .
“Ma” juga bisa mengungkapkan sesuatu yang kita kagumi atau merendahkan sesuatu. Contoh: Maa Ajmala Haadzal Jabal ( Betapa indahnya gunung ini ).
ﻤﺎﺃﺠﻤﻞﻫﻨﺍﺍﻠﺠﺑﻞ
Maa Aqbaha Wajhaka ( Betapa jeleknya wajahmu ).
ﻤﺍﺃﻘﺒﺢﻮﺠﺤﻚ

Bambang Noorseno menulis :
Jadi, sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe, se-bagaimana ditafsirkan Saksi-saksi Yehuwa, dan di-ikuti oleh kelompok "bid’ah baru" Kristen tertentu pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia.

Tanggapan Paulus :
Sepertinya Anda sendiri tidak mengerti apa itu Bidáh - ﺍﻠﺒﺪﻋﺔ?. Mengapa! Karena Bidáh adalah suatu ajaran yang dibikin atau dibuat pengikut suatu kelompok tanpa ada sumbernya. Sekarang tunjukkan kepada kami, dimana ayat dalam Alkitab berbahasa Ibrani yang mengatakan bahwa NAMA TUHAN yang menciptakan langit dan bumi dan seisinya bernama Allah? Yang ada hanya Yahweh ( Yeremia 33: 2 ).
Kullu bidátin dholalah, wakullu dholalah fin naar. Jadi sekarang yang termasuk Bidáh itu siapa? Dalam Alkitab berbahasa Arabpun Nama Yahweh TIDAK DIGANTI, Anda bisa lihat sendiri.

Bambang Noorseno menulis:
Demikianlah apabila teks Ibrani di atas secara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab: "…wa al-ilah alladzi yujiibu binarin faa huwa Allah". Secara gramatikal, dalam konteks ayat tersebut, Allah adalah "al-Ilah alladzi yujiibu binarin" (Ilah yang menjawab dengan api itu). Maksudnya, Allah adalah Ilah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup.

Tanggapan Paulus :
“Fa” ﻔ disini bukan panjang bung seperti yang Anda tulis “Faa” ﻔﺎ. Sepertinya anda harus belajar Tajwid lagi biar kalo menulis Arab tidak ngawur.
Laa budda lak an tataállam wa tuámmiq luqhotal árobiah marrotan tsaaniah. ﻻﺒﺪﻠﻚﺃﻨﺘﺘﻌﻠﻢﻠﻐﺔﺍﻠﻌﺮﺒﻴﺔﻤﺮﺔﺛﺎﻨﻴﺔ
Kadang yang seharusnya bunyinya pendek Anda tulis panjang, contohnya: Seharusnya Fahuwa ( ﻔﻬﻭ ) tetapi ditulis Faahuwa ( ﻔﺎﻫﻭ ) Seharusnya Binaarin ( ﺒﻨﺎﺮ ) tetapi ditulis binarin ( ﺒﻨﺮ ) bahasa Arab apaan tuh?
Kalau saya lihat dalam Kitab Suci berbahasa Arabpun masih ada kesalah-pahaman tentang penyebutan TUHAN, kadangkala ditulis Allah bahkan dalam 1 Raja 18: 39 tertulis ... Antar robbul ilah ( ﺃﻨﺖﺍﻠﺮﺐﺍﻹﻠﻪ ) yang artinya Engkau adalah Tuhan yang Tuhan karena kalimat diatas itu dalam Nahwu wasshorfu adalah Naat man’ut yang diartikan “yang” tetapi ketika ada Nama YAHWEH tidak di ganti, tetap YAHWEH, contohnya dalam Keluaran 3: 15, Yeremia 33: 2 dll. Jadi Nama tidak bisa diganti / diubah ! Nah “Antar robbul ilah” yang dimaksud disini khan YAHWEH Tuhan !.
Masa Nama Bambang Noorseno bisa diganti menjadi Bambang Norak lo ... he ... he...
Hadzaa tamzah faqoth walaa tudkhil ilalqolbi.

PK menulis:
Dibawah ini jawaban dari bagian file kedua yaitu Menjawab Hujatan “Para Penentang Allah” Part 1.

Bambang Noorseno menulis:
Menurut Al-Qur’an, Allah adalah Pencipta langit dan bumi (Q.s al-Jatsiyah/ 45 ayat 22: Wa khalaqa Allah as-samawati wa al-ardh). Begitu juga, Siapakah Allah itu bagi umat Kristen Arab? “Allah”, demikian Buthros ‘Abd al-Malik, dalam Qamus al-Kitab al-Mu-qaddas, adalah “nama dari Ilah (sembahan) yang menciptakan segala yang ada” (hadza ism al-Ilah khalaqa al-jami’ al-kainat).2 Begitu juga, setiap umat Arab Kristen sebelum atau sesudah Islam mengawali mengucapkan Qanun al-Iman (Syahadat Krsietn) yang diawali dengan kalimat:

Tanggapan Paulus:
Kalau di dalam Al Qur’an, memang yang menciptakan langit dan bumi itu adalah Allah, tetapi dalam Alkitabul Muqoddas, Yeremia 33: 2 yang menciptakan langit dan bumi dan yang membentuknya adalah bernama YAHWEH, “Qoolar robbu shooni’uhaa, arrobbu mushowwiruhaa liyutsabbittahaa, Yahwahu ismuhu.” - ﻘﺎﻞﺍﻠﺮﺐﺼﺎﻨﻌﻬﺎﺍﻠﺮﺐﻤﺼﻮﺮﻫﺎﻠﻴﺛﺒﺘﻫﺎﻴﻬﻮﺍﺴﻤﻪ Apa Anda kurang jelas? Apalagi Alkitab yang berbahasa Ibrani !.

Bambang Noorseno menulis:
Bi al-Haqiqati nu’minu bi ilahin wahidin, Allah al-Ab al-dhabit al-kull, khaliq as- sama’i wa al-ardh, kulli maa yura wa maa layuura” (Sesungguhnya Kami percaya kepada satu-satunya sembahan/ilah, yaitu Allah Bapa, yang berkuasa atas segala sesuatu, Khalik langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan).3

Tanggapan Paulus:
Kalau dilihat syahadat orang Kristen Arabpun rancu, mengapa? Karena satu sisi mereka berkata ilaahin waahidin atau Tuhan yang satu / Esa, tetapi setelah kalimat tersebut ada kalimat Allah-al-ab ( Allahul Ab ), Allah Bapa, sedangkan pengajaran Islam Allah itu Esa tidak berbapak dan beranak, sedangkan Allah jaman jahiliyah justru sebaliknya!.
Jadi orang Kristen Arabpun tidak ubahnya seperti orang Kristen Indonesia yang dipengaruhi oleh kepercayaan sebelumnya ( jaman Jahiliyah – agama sebelumnya ), maka kebenaran Firman Tuhan HARUS mengacu kepada FIRMAN TUHAN itu sendiri bukan mengacu kepada orang Kristen Arab atau orang Kristen manapun, sebab yang menilai itu Tuhan Yahweh sendiri, bukan orang Kristen Arab. Seandainya orang Kristen Arab menyebut Tuhannya dengan “Lucifer” apakah juga akan diikuti? Sedangkan Yahweh menghendaki namaNya disebut dan para Nabipun mengajarkan demikian juga ( Baca Keluaran 3: 15, 1 Taw 16: 8, Maz 103: 1, Maz 105: 1, Yesaya 26: 8 dll ). Dalam karakter komputerpun, kata “Allah” merupakan satu kesatuan yang TIDAK BISA dikutak katik, silakan lihat dalam “Symbol” karakter komputer Anda.

Bambang Nooseno menulis :
Sedangkan bentuk Ibrani yang dekat dengan istilah Arami elah dan Arab ilah, al-ilah dan Allah adalah sebutan eloah, mi-salnya disebutkan:

Tanggapan Paulus:
Allah bukan penggalan dari ilah, karena :
- Allah adalah NAMA PRIBADI TUHAN yang disembah oleh Umat Islam, “Bismillaah” dengan Nama Allah, sedangkan ilah adalah gelar atau sebutan.
- Kalau Allah dari ilah seperti banyak yang dijelaskan oleh pendeta-pendeta yang mengaku dosen Islamologi: Allah dari ilah dengan menghilangkan Alif sehingga tinggal “lah”, maka artinya sudah berubah, bukan tuhan / dewa lagi, tetapi “li syakhshin” atau “baginya laki-laki”
- Ilah itu sudah satu paket kosa kata yang tidak bisa dipenggal-penggal. Kenapa? Karena Ilah adalah kata benda, berbeda dengan kata kerja.
- Ilah bisa dimasukkan Alif Lam karena ilah adalah gelar atau sebutan. Contoh lain: “Ustaadzun” yang artinya “guru”, jadi bisa dmasukkan Alif Lam sehingga menjadi “Al-ustaadzu” yang berarti “Guru laki-laki itu”, sedangkan Allah tidak bisa karena dia NAMA PRIBADI Tuhan orang Islam (bismillaah) yang sudah diketahui dan Allah itu adalah kata benda yang sudah menjadi satu paket. Contoh lain: Fatimah tidak bisa ditulis menjadi Al-Fatima karena Fatimah itu NAMA PRIBADI seseorang, mana bisa Allah menjadi Al-allah ?.
- Ilah / Al-ilah ada mutsanahnya (ilahaani) artinya dua tuhan / dua dewa dan jamaknya dalam hal ini adalah jamak taktsir menjadi Aalihah artinya banyak tuhan atau banyak dewa. Sedangkan “Allah” tidak ada mutsannah (tastniahnya) Allahaani, kalau ada... artinya bukan Allah lagi tetapi Allahaani dan ini mengganti nama tuhan orang Islam. Apalagi dalam jamak, sama sekali tidak ada karena NAMA PRIBADI tidak bisa diduakan, apalagi dijamakkan. Contoh: Fatimah kalau dimutsannahkan Fatimataani, berarti namanya bukan Fatimah lagi, tetapi tante Fatimataani. Maka NAMA PRIBADI tidak bisa diganti atau diterjemahkan.
- Ilah / Al-ilah bisa diterjemahkan menjadi dewa atau yang disembah, sedangkan Allah tidak bisa ... Allah ya tetap Allah ( Kamus Indonesia-Arab-Inggris karangan Abd bin Nuh dan Oemar Bakry Hal. 76 ).

Bambang Noorseno menulis:
Ungkapan Laa ilaha ilallah ini, dijumpai pula dalam Alkitab terjemahan bahasa Arab, 1 Korintus 8:4-6 berbunyi:
“….wa ‘an Laa ilaha ilallah al-ahad,…faa lana ilahun wahidun wa huwa al-Ab alladzi minhu kullu syai’in wa ilaihi narji’u, wa huwa rabbun wahidun wa huwa Yasu’ al-Masih alladzi bihi kullu syai’in wa bihi nahya”.
Artinya: “Dan sesungguhnya tidak ada ilah selain Allah, Yang Mahaesa…dan bagi kita hanya ada satu Ilah/ sembahan yaitu Bapa, yang dariNya berasal segala sesuatu dan kepadaNya kita akan kembali, dan hanya ada satu Rabb/ Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang melaluiNya (sebagai Firman Allah) telah diciptakan segala sesuatu dan untuk Dia kita hidup.4

Tanggapan Paulus:
Kalau saya bandingkan dengan Alkitabul-Muqoddas The Bible Society in the Middle East in behalf of Call of Hope, Printed in Finland by Saarijarven offset oy Saarijarvi 1994. 1 Korintus 8: 4-6 TIDAK DITEMUKAN KATA ALLAH, disana hanya Ilah.
Ayat 4: ... wa an laisa ilaahun aakhor illaa waahidan
Ayat 5: liannahu wa in wujida maa yusamma aalihah, siwaaun kaana fis-samaai aw ‘alal ardhi.
Ayat 6: laakin lanaa ilaahun waahid: Al-aabul ladzii jamii’ul asyyaai wa nahnu lahu. Wa robbun waahid yasuu’ul masiihu, alladzii bihi jam’ul asyyaai wanahnu bihi

Artinya:
Ayat 4: Dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang lain kecuali satu / Esa.
Ayat 6: Akan tetapi bagi kita hanya satu tuhan yaitu Bapa yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan kita adalah milikNya dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus yang olehNya dijadikan segala sesuatu dan kita bersama denganNya.

Makanya Alkitabul-Muqoddas juga TIDAK BISA MENJADI TOLOK UKUR, karena tergantung penterjemah yang menterjemahkannya, apalagi dalam ayat 5 ada kalimat: “Aalihatun katsiiruun wa arbaabun katsiirun.”
- Aalihatun itu jamak dari ilah.
- Arbaabun jamak dari robbun.
Coba Pikir sendiri aja !!!!!!!!!!.

Laka qolbun laa tafqohu bihaa
wa laka udzunun laa tasma’u bihaa
wa laka ‘ainun laa tandzhuru bihaa
Anta kal an’aam bal anta adhollu minhu


PK menulis:
Dibawah ini jawaban dari bagian file ketiga yaitu Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad.

Bambang Noorseno menulis:
Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (‘-l-h). Dari akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi dalam bahasa Ibrani atau Aram.

Tanggapan Paulus:
Memang dalam bahasa Arab akar katanya, wazannya ada 3 huruf, “Fa’-‘Ain-Lam” ini adalah KATA KERJA. Namun yang kita bicarakan adalah kata benda yaitu Allah dan ilah. Tidak semua kata benda itu berasal dari kata kerja yang bisa diubah-ubah dalam hal ini, ilmush-shorf.
Contoh: - Kirdun = Monyet
- Kalbun = Anjing
- Sirwaalun = Celana
Semua contoh tersebut tidak ada kata kerjanya! Apalagi yang Anda bilang Allah itu dari Hamzah Lam dan Ha... tidak akan Anda temukan bung !. Yang ada “Hamzah - Lam - Lam – Ha”, dan inipun ( Hamzah - Lam - Lam - Ha ) itu sudah dimasukkan dengan Hamzah atas wazan Af’ala ( Hamzah – Fa – Ain – Lam ) yang berawalan “Me” ... tetapi kalau diuraikan menurut Kaidah Shorfi TIDAK BISA menjadi Allah.
Contoh: Af a’la – Yuf i’lu – if ‘aalan ﺇﻔﻌﺎﻻ - ﻴﻔﻌﻞ - ﺃﻔﻌﻞ coba disamakan dengan Allaha – Yullihu, Illaahan ﺇﻠّﻪً - ﻴﻠّﻪ - ﺃﻠّﻪ , tetap saja ini BUKAN NAMA tetapi tuhan atau sebutan karena Allah itu ada dengan sendirinya seperti kuubun (gelas). Makanya tidak semua kata benda itu berasal dari kata kerja!.

Bambang Noorseno menulis:
Harus saya jelaskan sekali lagi, padangan Sabili sama sekali tidak bisa dianggap representatif mewakili Islam. Banyak ulama Islam terkemuka yang berpandangan sebaliknya. Contohnya, kita bisa membaca kitab yang sangat terkenal di dunia Arab, al-Mu’jam al-Mufahras, yang menempatkan kata Allah tersebut di bawah heading (judul): hamzah, lam, haa ( ‘-l-h). Mengapa? Karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, sehingga Al- bisa hilang dalam kata: wallahi, bi-lahi, lil-lahi, dan sebagainya. Misalnya, pada kalimat Alhamdu lil-lah (segala puji bagi Allah), lil-lahi ta’ala (karena Allah Yang Maha Tinggi), kata sandang Al- di depan Allah juga dihilangkan.

Tanggapan Paulus:
Memang setiap kosa kata dalam bahasa Arab yang diawali dengan Hamzah Wasal, Hamzah Wasalnya bisa dihilangkan. Misalnya: “Ismun / nama” ketika dimasuki kata sebelumnya Hamzah Wasalnya TIDAK DIBACA.
Contoh: Bi ismi menjadi Bismi dan kebetulan kata Allah ini didahului oleh Hamzah Wasal, tetapi Anda jangan lupa bahwa TIDAK SEMUA kata benda berasal dari Hamzah Wasal. Coba perhatikan ini:
- Ilghooun ( ﺇﻠﻐﺎﺀ ) = Penghapusan / Pembatalan. Anda tidak bisa membacanya Bilqhooi ( ﺒﻠﻐﺎﺀ ) namun tetap bil ilghooi ( ﺒﺎﻹﻠﻐﺎﺀ )
- Ilaahun / Al-ilaahu ( ﺃﻹﻠﻪ ) ketika diawali dengan satu huruf Misalnya bi ( ﺒ ) Anda TIDAK BISA membacanya Bilaahi ( ﺒﻠﻪ ) / billaahi, tetap dibaca Bil ilaahi ( ﺒﺎﻹﻠﻪ ), karena Hamzah disini Hamzah qoth’i.
Nah dengan demikian kalau Allah itu bisa dibaca Billaahi, itu bukan berarti dia sebutan, tetapi adalah NAMA PRIBADI yang tidak bisa dikutak katik kajibhatik aw kajabiinik.

Bambang Noorseno menulis:
Selanjutnya, kata Allah memang tidak dapat dijadikan mudhaf, tetapi itu tidak berarti bahwa Allah itu nama diri. Sebab bukan hanya "nama diri" yang tidak bisa dijadikan mudhaf, tetapi setiap bentuk ma’rifah juga tidak bisa dijadikan mudhaf. Misalnya, kita berkata: Baitu al-Kabiiri (Rumah yang besar itu). Kata baitu dalam kalimat ini adalah "mudhaf", sedangkan al-kabiiri adalah "mudhaf ilaih". Tetapi kalau kita tambahkan al- sebelum bait, misalnya: al-baitu kabiirun (Rumah itu besar). Jadi, maknanya berbeda. Mengapa? Karena al-bait disini menjadi mubtada’ (subyek), bukan mudhaf lagi, sedangkan kabiirun adalah khabar (predikat).

Tanggapan Paulus:
Baitu al-kabiiri / baitul-kabiiri justru ini yang jumlah idhofah (mudhof-mudhofun ilaih) dan Anda salah dalam menterjemahkannya yang memakai Rumah YANG besar. Karena kalau Anda menterjemahkan Rumah YANG besar, Anda harus menulis : Al-baitu al-kabiiru atau baitun kabiirun, karena Naat man ut yang berarti Rumah YANG besar, sedangkan tulisan Anda, Baitu Al-kabiiri (ini jumlah) idhofah yang berarti cukup dengan diterjemahkan RUMAH BESAR.
Sepertinya Anda TIDAK MENGERTI BAHASA ARAB, makanya banyak orang Kristen dibohongi oleh Anda dengan dalil-dalil yang dibikin-bikin ( Yeremia 14: 14 ). Saya jadi curiga dengan kekristenan Anda?.
In kunta tsaabitan fii dzikrillaah alaika an tadkhula diinal islaam faqoth, wa laa tufassidil islam, bii dalilika al ladzii ghairul ma’quul. Lianna fi ro’yil laqod ‘alimta aw fahimta al farqu bainal-ismi wal-laqobi fiihaadzihi hal “Al-ilah wa Allah”, wa laakin fi kanisatik ta’budullaah fa bidzaalika takuunu khoofan lam tajid syaian awii fuluus min ro’iiyatika in tu’mim Yahwah ...

Sedangkan :
Al-baitu kabiirun diterjemahkan yang benar sbb. : Rumah itu adalah besar, bukan hanya diterjemahkan Rumah itu besar.

Bambang Noorseno menulis:
"Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu", menunjuk kepada kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. Tanpa seorang ibu, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bi ghayr jasadin) melalui seorang ibu, karena memang "Allah tidak beranak dan tidak diper-anakkan". Jadi, dalam hal ini Iman Kristen bisa sepenuhnya menerima dalil al-Qur’an: Lam Yalid wa Lam Yulad, karena memang tidak bertabrakan dengan makna teologis gelar Yesus sebagai Putra Allah.
Sebaliknya, "Lahir dari ibu tanpa bapa", menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan meneguhkan kelahiran kekal-Nya "sebelum segala abad". Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh Sayidatina Maryam al-Adzra’ (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah.
Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa ajaran Tritunggal sama sekali tidak berbicara tentang ilah-ilah selain Allah. Ajaran rasuli ini justru mengungkapkan misteri keesaan Allah berkat pewahyuan diri-Nya dalam Kristus, Penyelamat Dunia. Dalam Allah (Sang Bapa), selalu berdiam secara kekal Firman-Nya (Sang Putra) dan Roh Kudus-Nya. Kalau Putra Allah berarti Pikiran Allah dan Sabda-Nya, maka Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, yaitu hidup Allah yang abadi. Bukan Malaikat Jibril seperti yang sering dituduhkan beberapa orang Muslim selama ini. Firman Allah dan Roh Allah tersebut bukan berdiri di luar Allah, melainkan berada dalam Allah dari kekal sampai kekal.

Tanggapan Paulus:
Dari penjelasan Anda, nampaknya Anda bingung, kadangkala Anda menganggap “Allah” itu sebutan atau sebagai pengganti kata “Tuhan”, namun disisi lain anda bilang bahwa “Allah” itu adalah Nama Bapa yang Anda sebut tidak ada ilah-ilah selain Allah. Kelihatannya pintar tetapi jahil murokkab. Sekarang kalau Allah hanya sebagai sebutan, orang Islam dimanapun tidak ada mengganti Nama Allah meskipun mereka berada di luar Arab.
Contoh: Ketika mereka mengucapkan “Allahu Akbar” dalam sholat ... orang Amerika pun akan mengucapkan kalimat yang sama yaitu “Allahu Akbar”, bukan “God / Lord Akbar?” Maka kalo ngomong itu jangan kayak mulut ember.
Saya ini hanya karyawan swasta yang tidak perlu “menonjolkan Nama diri” karena pekerjaan saya selalu berinteraksi dengan tamu-tamu dari Timur Tengah yang hidup bukan dari uang jemaat kayak Anda, yang tidak berani mengatakan yang benar karena takut tidak makan. OK!
Kapan kita bisa bertemu tetapi ada orang Muslim, orang Kristen Pengagung Allah dan Orang Kristen Pengagung Yahweh. Antazhiruk !!! Karena saya membaca tulisan Anda itu terlalu sombong dengan mengatakan orang Kristen Pengagung Yahweh itu sebagai “kelompok-kelompok kurang cerdas yang suka bikin onar”. Berapa tahun sih Anda mempelajari Islam? Jangan-jangan kayak Orang Kristen pengagung Allah yang lain, waktu diajak muhadatsah alasannya sudah lama tidak mengucapkan ... jadi lupa!. Padahal coba Anda baca buku-buku karangan Bapak Abdullah Wasi’an – Surabaya!!! Kebanyakan orang Kristen pindah ke Islam karena tidak bisa mempertahankan adanya doktrin Trinitas ( Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus ) yang Anda bangga-banggakan, padahal dalam Kitab Suci Ibrani TIDAK PERNAH ADA ISTILAH ALLAH BAPA, ALLAH ANAK, ALLAH ROH KUDUS.

Bambang Noorseno menulis:
Jadi, jelaslah bahwa Iman Kristen tidak menganut ajaran sesat yang diserang oleh al-Qur’an, bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan. Untuk memahami Iman Kristen mengenai Firman Allah yang nuzul (turun) menjadi manusia ini, umat Islam hendaknya membandingkan dengan turunnya al-Qur’an alam Allah (nuzul al-Qur’an). Kaum Muslim Suni (Ahl l-Sunnah wa al-Jama’ah) juga meyakini keabadian al-Qur’an sebagai kalam nafsi (Sabda Allah yang kekal) yang berdiri pada Dzat-Nya, tetapi serentak juga terikat oleh ruang dan waktu, yaitu sebagai kalam lafdzi (Sabda Tuhan yang temporal) dalam bentuk mushaf al-Qur’an dalam bahasa Arab yang serba terbatas tersebut.

Tanggapan Paulus :
Disini Anda juga salah menulis bahasa Arab ke bahasa Indonesia ( Ahl I-Sunnah wa al-Jama’ah ), yang benar adalah Ahlus sunnah wal jama’ah. Kenapa? Karena Ahlu itu khobar mubtada manshub yang berharokah marfu’ bidhommah, lalu di idghomkan ke huruf shin dengan perantara Alif Lam, maka dibaca Ahlus sunnah wal jama’ah.
Belajar dulu lagi ya!!. Biar tidak ditertawai oleh murid-murid TPA.

Disini juga Anda salah mengartikan dan menulisnya bukan “Kalam Nafsi” tetapi “Kalaamun nafsi” atau “kalimatun nafsi” yang artinya perkataan atau ucapan diri sendiri dan TIDAK ADA KATA ALLAH disini.

Waaah ... ini juga Anda membohongi orang lagi, kasihan sekali yang tidak tahu. Masa “Kalam lafdzi” diartikan “Sabda Tuhan yang temporal”, mana ada kata “ilah” nya? Mendingan pulang aja dari Cairo, buka ladang dan mencangkul disawah buat makan anak bini yang penting halal dari pada membohongi jemaat hanya untuk perut. Jangan-jangan Anda ke Cairo hanya lewat saja alias ikut rombongan tour, malu donk aaah.
Pesan bagi Anda, orang Kristen yang masih “Tidak mengenal Tuhan yang disembah oleh para nabi” dalam kitab Suci Anda sendiri, lebih baik KEMBALI KE FIRMAN TUHAN YANG ANDA YAKINI SAJA, JANGAN BERCERMIN KEPADA ORANG KRISTEN ARAB, LAI, SINODE ANDA atau INSTITUSI DUNIA APAPUN !.
Saya sering mendengar pendeta kalau berkhotbah mengatakan Kita harus kembali ke Firman Tuhan ( Firman Tuhan yang mana? ) dan jangan takut menghadapi resiko apapun demi kebenaran ( kebenaran yang mana? ). – Baca Mazmur 112: 1, Matius 10: 28.
Semoga penjelasan ini memberikan pencerahan kepada Anda. Tuhan memberkati.
Wassalam.

Penulis :
Paulus Komar
Karyawan swasta.
Back to top
View user's profile
Display posts from previous:   
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index -> Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum



Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Hotline kami di 08883023916 bila Anda ingin info lebih lanjut mengenai pelayanan SALIBNET MINISTRIES atau bila Anda membutuhkan pelayanan kami.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.