Tanggapan Terbuka terhadap Tulisan Bp. Bambang Noorseno
Untuk mempermudah melihat pokok persoalan, tanggapan ini diselipkan pada setiap paragraf yang terkait dengan huruf italic. Dengan demikian tulisan Bp. Bambang N. tertulis ulang dengan tanpa perubahan sama sekali.
BN menulis:
Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain
Sejak Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis oleh rasul-rasul Kristus, tetagramaton (keempat huruf suci Yhwh, Yahweh) diterjemahkan dalam bahasa Yunani Kyrios (Tuhan). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan rasul-rasulnya, yang biasanya melafalkan Yahweh dengan Adonay (Tuhan) atau ha Shem (Nama segala nama). United Bible Societies (UBS) dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga mengikuti kebiasaan ini, yang dibenarkan dan diikuti oleh orang Yahudi modern sekarang, untuk mener-jemahkan Yahwe dengan The Lord (dengan huruf besar semua). Yang pertama kali menggugat tradisi penerjemah-kan nama Allah ini adalah kelompok sempalan yang menamakan diri Yehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehuwa).
Tanggapan KS:
Tolong diuji pernyataan Anda ini. Periksa kata kyrios dalam “A concordance to Septuagint” yang ternyata ada 24 nomor untuk mengartikannya, beberapa diantaranya adalah, El, Elowah, Elohim, YHWH, Baal, Adon, Adonai dengan kombinasinya seperti Adonai YHWH. Tentunya Anda sangat paham bahwa dalam huruf-huruf Yunani tidak terdapat huruf Y, H, dan W, sehingga tidak memungkinkan menyalin the tetragramaton YHWH ke dalam huruf-huruf Yunani, dan nampaknya terpaksa harus menterjemahkan dan bukan menyalin. Dari mana Anda yakin bahwa Yesus mengikuti kebiasaan Yahudi yang biasanya melafalkan Yahweh dengan Adonai (Tuhan)?. Periksa Doa Yesus dalam Yoh, 17:6 – 26, misalnya. “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang ….; peliharalah mereka dalam nama-Mu (by the power of Your Name - NIV), yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku…. ; … Aku telah memelihara mereka dalam nama-Mu....; And I made known to them the name of You, ...” Semua orang Yahudi mengetahui bahwa yang dimaksud Bapa yaitu Elohim yang bernama Yahweh (“Tetapi sekarang, ya YHWH, Engkaulah Bapa kami!” Yes. 64: 8). Jadi Nama Bapa Yesus adalah Yahweh (bukan ALLAH apa lagi TUHAN), namun sering disebut (disingkat) “Yah” (ada 50 kata Yah, Periksa nomor konkordansi Strong 3050, dari Mazm. 68:5 – Yes. 38:11 untuk kata LORD). Sedangkan nama Ibrani Yesus adalah Yahshua (yang berarti Yahweh-Shua, Yahweh Juru selamat). Jadi secara hurufiah, Yesus benar-benar membawa nama Bapa-Nya sebagaimana dinyatakan dalam Doa tersebut; jadi jika Yeshua telah menyatakan dan memelihara murid-murid-Nya dalam nama-Mu, pastilah nama Yahweh yang dimaksudkan. Jadi memang Bapa Yahweh (Yah) memberikan nama-Nya kepada Anak-Nya yaitu Yahshua. Pemberian nama itu dapat ditelusuri melalui catatan Lukas tentang kelahiran Yesus dalam percakapan Maria dengan malaikat Gabriel. Sementara itu Yahshua menyatakan: “ I am come in My Father’s Name, ....” (Yoh.5:43). Jika nama Bapa diganti TUHAN atau ALLAH dan Anak-Nya menjadi Yesus, kedua nama Bapa-Anak ini sama sekali tidak mengandung arti bahwa Anak membawa nama Bapa-Nya. Tradisi Yahudi bukan suatu kriteria yang perlu diteruskan terutama jika tidak mengandung kebenaran; jika ya tradisi Yahudi bahkan Yesus selalu mengadakan ibadah Sabat-Sabtu, sementara sebagian besar umat kristiani memilih minggu. Tradisi dalam bentuk pengajaran Yahudi menyatakan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”, namun Yahshua mengajarkan “jika pipi kirimu ditampar, berikanlah pipi kananmu”; jika kedapatan berjinah haruslah dihukum benturan batu, jika berpuasa, berdoa berteriak-teriak pamer di jalanan, bahkan cuci tangan pun dijadikan tradisi pembenar; bagaimana ajaran Yahshua? Anda tentu tidak bermaksud demikian, namun waspadalah terhadap pembenaran “tradisi”. Dalam Hebrew-Bible tidak ada nama Allah melainkan nama Elohim, yaitu YHWH (yang dibaca Yahweh). Jadi, jika nama Elohim Bapa Abraham dituliskan YHWH, ini bukan terjemahan melainkan penyalinan huruf (transliteration bukan translation). Hati-hati pernyataan Anda perihal penerjemahan nama Allah menjadi Yehovah / Yehuwa; apa maksud Anda LAI dengan terbitan Kitab Suci Berbahasa Jawa yang menuliskan YHWH menjadi Yehuwah itu adalah penyandang sumber kelompok Saksi-saksi Yehuwa? Jangan asal main tuduh; tolong bercerminlah gereja Vatikan yang main tuduh Lutheran sebagai Anti-Christ, namun tahun 1974 (kalau tidak keliru) mulai mengakui baptisannya. Bahkan kepada Galileo pun terpaksa Gereja minta maaf (1994?). Lebih baik berargumentasi secara akademik ketimbang main tuduh atau main hakim.
BN menulis:
Kelompok ini, dengan bangga telah mengembalikan Yahwe dalam Perjanjian Baru, meskipun teks asli dari rasul-rasul sendiri tidak memper-tahankannya. Timbul pertanyaan: Bolehkah "nama diri" (the proper name) diterjemahkan? Ada "kelompok sempalan" akhir-akhir ini yang berpendapat, menerjemahkan Nama Yhwh dalam bahasa-bahasa lain berarti menghujat Nama-Nya. Tetapi mengapa Yesus dan Rasul-rasul-Nya tidak memperta-hankan Nama tersebut? Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kita memahami apakah makna "nama" dalam teologi dan kebudayaan Yahudi, yang melatarbelakangi kehidupan Yesus yang "lahir dari seorang perempuan yang takluk kepada hukum Taurat" (Galatia 4:4), dan diikuti oleh murid-murid Yesus serta Gereja-Nya sampai hari ini.
Tanggapan KS:
Periksa kembali Yoh. 17:6-12 di atas. Dengan melihat teks asli PB (Yunani) Anda menyimpulkan bahwa Yesus dan para rasul-Nya tidak mempertahankan nama Yahweh. Sungguh suatu kesimpulan yang gegabah hanya karena “teks asli” PB tertulis dengan bahasa Yunani. Apakah jika teksnya berbahasa Yunani itu menjamin bahwa percakapan/cerita yang sesungguhnya juga harus dalam bahasa Yunani?. Jelas sama sekali tidak harus! Apakah penulis/penyalin PB itu sungguh-sungguh para rasul-Nya sendiri? Bisa ya, bisa tidak?. Untuk itu periksa contoh berikut:
(1) Ketika Yahshua (Yesus) pada hari Sabat di Sinagoge membaca Kitab Yes.61:1-2 sebagaimana dikisahkan pada Luk. 4:18-19, kitab berbahasa apa yang dibaca oleh Yesus? Ibrani bukan? Kedua ayat ini menulis Adonai YHWH 1 kali dan YHWH 2 kali; jika YHWH dibaca Adonai apakah akan ada yang terbaca Adonai Adonai?. Selain itu berarti nama ini “no meaning in term of nothing to do with the name of the Son Yahshua”. Thus, Yahshua should read Yahweh (instead of Adonai), sebab pada saat itulah Ia memproklamasikan bahwa diri-Nya diurapi oleh Yahweh sebagai Mesias (ay 21).
(2) Kis. 21:40 menyatakan bahwa Saulus berbicara dengan bahasa Ibrani, minimal mulai dari ps.22:1-21 yang memuat pertemuan/pertobatan Saulus pada Yahshua (Yesus), dan hal ini diulangi lagi dengan tegas bahwa teguran Yahshua pun dengan bahasa Ibrani (Kis.26:14). Jadi dari Sorga Yahshua pun memilih berbahasa Ibrani bukannya Aramaik apalagi Yunani; tentulah hal ini dilakukan karena Saulus (juga para rasul yang lain) adalah Ibrani tulen dan bukan mustahil Saulus tidak fasih berbahasa Yunani.
(3) Tolong hayati sungguh-sungguh cerita kelahiran Yahshua (Yesus) seperti diceritakan Lukas. Yusuf dan Maria orang Yahudi asli keturunan Daud yang juga Yahudi. Mereka didatangi Malaikat Gabriel dengan menyatakan bahwa Maria akan mengandung seorang anak oleh karena Yahweh, dan oleh karena itu dinamai Yesus (nama Yunani) yang akan menjadi Raja Israel. Mungkinkah seorang keturunan Yahudi yang kelak mempunyai pengikut/murid (12) asli Yahudi dan akan menjadi Raja Israel tiba-tiba memakai nama Yunani? Sangat aneh. Maka hampir pasti malaikat berbicara dalam bahasa Ibrani dengan menawarkan nama Ibrani pula yakni Yahshua.
Dari uraian tersebut (argumentasi lain masih sangat banyak) dapat ditarik asumsi dasar yaitu bahwa seluruh cerita/percakapan PB berlangsung dengan dominasi bahasa Ibrani-Aramaik. Sementara itu pencatatnya lebih fasih dalam bahasa Yunani dan bukan mustahil tidak terlalu ahli dalam Ibrani-Aramaik sehingga ada beberapa kesalahan (tidak saya ulas), dan naskah inilah yang selamat terpelihara hingga saat ini.
BN menulis:
Nama Yahweh (TUHAN): Asal-usul dan Makna Teologis
Nama Yahweh untuk pertama kalinya dinyatakan kepada Nabi Musa (Keluaran 6:1). Allah menyatakan diri kepada Nabi Musa dalam nyala api yang keluar dari se-mak duri, dan ketika Allah mengutusnya menghadap kepada Firaun untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, Musa bertanya: "Ba-gaimana tentang Nama-Nya? (Ibrani: Mah symo). Apakah yang harus kujawab kepada mereka?" (Keluaran 3:13).
Tanggapan KS:
Nama Yahweh pertama muncul (sebagai pencipta alam semesta) ada dalam Kej.2:5, mulai dipanggil) orang sejak zaman kelahiran Enos (Kej.4:26). Nuh pun memuji dengan menyebut nama Yahweh (Kej. 9:26). Abraham membuat mezbah bagi Yahweh dan memanggil nama Yahweh (Kej. 12:8), dst. Ketika Yahweh menyatakan Nama-Nya kepada Musa, ternyata tidak ada tanggapan “surprise” atau “keterkejutan”. Ini mengindikasikan bahwa nama Yahweh memang bukan nama baru dan sudah dikenal oleh para leluhurnya, namun fungsinya atau karakternya memang belum ditegaskan sebagai nama Elohim suatu bangsa (Israel). Dan ini memang demikian sebagaimana kata tanya yang diajukan, “bagaimana tentang nama-Nya”. Hal ini menjadi lebih jelas ketika (andaikata) Kel. 6: 2 diterjemahkan menjadi bentuk pertanyaan (KJV):” …. by my name YHWH was I not known to them?”
BN menulis :
Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani memakai kata ganti Mi, "Siapakah" (bandingkan dengan kata Arab, Man). Tetapi di sini dalam ayat ini dipakai "Bagaimana (mah) tentang Nama-Nya?". Mah symo, sejajar dengan bahasa Arab: Ma smuhu, menuntut suatu jawaban yang lebih jauh, yaitu memberikan arti ("apa dan bagaimana") atau hakikat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu makna yang menunjuk kepada "Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan".
Jadi, kita tidak bisa memahaminya seperti nama-nama makhluk pada umumnya: Suradi, Yakub, Hendarto, dan lain-lain. Pertanyaan Nabi Musa ini lalu dijawab Allah dalam bahasa Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh, -- Aku adalah Aku (Keluaran 3:14). Dengan firman itu Allah menyatakan siapakah Diri-Nya. Secara gramatikal, apabila Allah sendiri yang mengucapkan Nama-Nya, maka kita menjumpai bentuk ehyeh (Aku Ada), sedangkan apabila umat Allah yang mengucapkan tentu saja memakai kata ganti orang ketiga Yahweh (Dia Ada).
Tanggapan KS:
Memang banyak nama orang yang tidak jelas artinya, namun banyak pula yang mengandung arti tertentu, dan dalam hal inilah kita tidak boleh sembarangan menggantinya. Lebih-lebih Nama Yahweh yang datang dari Yahweh sendiri dengan makna yang sangat signifikan; jika diganti/diterjemahkan makna ini tidak akan tercermin lagi dari nama gantinya. Nama-nama orang Batak misalnya, selalu diikuti nama marganya yang berarti keturunan marga yang bersangkutan. Ada tidaknya arti sebuah nama jika Anda tidak tahu ya tanyakan kepada yang memberi nama atau yang punya nama itu sendiri. Dalam hal ini Yahweh lebih suka menjelaskan lebih dulu karakter-Nya ketimbang mempertegas Nama-Nya. Hal ini memang fungsi Yahweh sebagai pembebas bangsa Israel dari tangan Mesir memang berbeda dengan fungsi-Nya sebagai Elohim leluhurnya. Barangkali bangsa Israel memang sudah agak lupa Nama Yahweh oleh karena penindasan ratusan tahun di Mesir, sehingga nama Yahweh perlu disebutkan lagi (ay 15) namun ditegaskan pula bahwa Dia adalah Elohim leluhurnya.
BN menulis:
Bagaimana pula secara gramatikal akhirnya kita menemukan bentuk Yahweh? Menurut sebuah tafsir dalam bahasa Ibrani yang cukup representatif (karena berasal dari kalangan rabbi-rabbi Yahudi sendiri), memang bentuk yahweh tersebut berkaitan erat dengan ke-"Maha hadir"-an Ilahi, baik dahulu, kini dan yang akan datang. Keber-Ada-an Allah apabila dikaitkan dengan ketiga aspek waktu tersebut, dalam bahasa Ibrani adalah: hayah, "Ia telah Ada" (He was), howeh, "Ia Ada" (He is), dan yihyeh, "Ia akan Ada" (He will be). Maksudnya di sini, Allah itu Mahakekal, tidak terikat oleh aspek waktu, dan hal itu dibuktikan dengan kekuasaan-Nya yang selalu dinamis.
Dari deksripsi di atas, jelas bahwa Perjanjian Baru lebih mengacu kepada makna teologis di balik Nama itu, yaitu kuasa-Nya yang hidup dan bukan mempertahankan secara harfiah huruf-huruf mati tersebut. Terjemahan Nama Yahweh ini, antara lain dapat kita baca dalam Wahyu Yohanes:
"Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada yang yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa" (Wahyu 1:8).
Tanggapan KS:
ayat ini bukan terjemahan nama Yahweh, melainkan penegasan sifat Yahweh oleh Yahweh Elohim sendiri (dalam naskah Hebrew-PB), dan ini sama dengan pengenalan Yahweh dengan Musa; apa bedanya? Tanpa Wahyu 1:8 Musa pun (juga kita) akan memahami demikian.
BN menulis:
Perhatikanlah, ungkapan yang dicetak miring (kursif). Dalam bahasa Yunani: ho on kai ho en kai ho erksomenos, ho Pantakrator. Frase ini merupakan terjemahan dari sebuah doa (Siddur) Yahudi dari zaman pra-Kristen hingga sekarang, yaitu doa Adon ’olam yang sangat terkenal, yang memuat keterangan dari Nama Yahweh yang pantang diucapkan itu: We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif’arah (Ia yang sudah ada, yang ada, dan yang akan ada, kekuasaan-Nya kekal sampai selama-lamanya).
Tanggapan KS:
Nama Yahweh oleh orang Yahudi “pantang” diucapkan bukanlah standar kebenaran karena firman Yahweh sendiri memang tidak demikian. Bagaimana oleh Nuh, Abraham dan keturunannya sebelum jadi bangsa Israel? Justru Yahweh ingin namaNya disebut dan para Nabi pun kesukaannya menyebut NamaNya ( Kel 3: 15, 1 Taw 16: 8-9, Mazmur 105: 1-2, Yesaya 26: 8) Kalau orang Yahudi dijadikan standar kebenaran, kenapa sebagian besar orang Yahudi menolak Yesus koq tidak diikuti sekalian? Yahudi tidak menyebut Nama Yahweh karena menghormati dan mengkuduskanNya, bukan menolak karena tidak dikenal seperti Kristen di Indonesia.
BN menulis:
"Nama" dan "Pribadi" dalam Alkitab
Dalam kebudayaan Yahudi yang melatarbelakangi Alkitab, "nama" selalu terkait erat dengan "pribadi". Dalam Kitab Suci, "nama" dapat diru-muskan dalam 3 dalil:
1. Nama adalah pribadi itu sendiri;
2. Nama adalah pribadi yang diungkapkan; dan
3. Nama adalah pribadi yang hadir secara aktif.
Apabila ketiga pengertian ini diterapkan untuk Allah, maka penjelasan sekaligus dalil-dalilnya sebagai berikut:
1. Nama menunjuk kepada Pribadi itu sendiri
Dalam Alkitab nama seseorang selalu diidentikkan dengan pribadi seseorang. Lenyapnya seseorang sering disebut "namanya hilang". Misalnya, doa Israel ketika mereka dikalahkan dalam sebuah peperangan:
"…mereka akan melenyapkan nama kami dari bumi ini, dan apakah yang Kau lakukan untuk memulihkan Nama-Mu yang besar itu?" (Yosua 7:9).
Dalam hal Allah digambarkan lebih dramatis lagi, sebab TUHAN iden-tik dengan "Sang Nama". Imamat 24:11 dalam teks bahasa asli:
Wayyiqov ben ha isyah ha yisrael et ha Syem…
(Anak perempuan Israel itu menghujat Sang Nama dengan mengutuk...)
Karena itu, Terjemahan Baru/TB (1974) LAI menerjemahkan: "Anak perempuan Israel itu menghujat Nama TUHAN dengan mengutuk…) Dari contoh ayat di atas, jelaslah bahwa Nama menunjuk kepada Pribadi yang di-"Nama"-kan. Karena itu, yang dipentingkan bukan penyebutan Nama Ilahi Yahwe dalam bahasa asli Ibrani, melainkan lebih menunjuk kepada Pribadi Allah itu sendiri. Allah yang Mahakekal, Mahaesa, Mahahidup dan menyata-kan Diri-Nya kepada manusia.
Tanggapan KS:
Anda tahu persis bahwa kata “nama” terjemahan dari kata Ibrani “shem”, namun mari kita periksa artinya menurut konkordansi Strong-8034: “a primitive word [perhaps rather from 7760 through the idea of definite and conspious position; compare 8064]; an appelletion, as a mark or memorial of individuality; by implication honor, character:-+ base [in-] fame[mous], name[-d], renown, report. Saya setuju bahwa nama (Yahweh) identik dengan pribadi-Nya itu sendiri, dan implikasinya sudah pula Anda jelaskan sebagaimana tuntutan arti kata “shem”; tetapi cara Anda menyikapinya justru tidak konsisten karena Anda mengabaikan bahwa “shem” menuntut arti as “a mark” (saya terjemahkan “tanda”). Tanda ini berupa huruf (yang hanya bisa disalin oleh karena perbedaan bahasa) untuk menghasilkan “bunyi” yang “karakteristik” sebagai memorial individu; perbedaan bahasa memang mengakibatkan perbedaan huruf, tetapi “bunyi”-nya mesti sama atau sangat dekat satu sama lain oleh karena logat-lidah saja. Bahkan untuk atom saja setiap bangsa berbeda menyebutnya namun harus memberi tanda yang sama sebagai tanda atom (simbol), misalnya tembaga harus dituliskan dengan huruf latin Cu as a mark. Jika Nama identik dengan pribadi maka mengganti nama bisa berarti mengganti pribadi atau tidak mungkin melukiskan pribadi Yahweh dengan nama selain Yahweh. Jangan dipaksakan pokoknya saya melukiskan pribadi Yahweh tetapi sorry saya memakai “a mark” lain; ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri (Yer. 32:20 : “….. kepada Israel dan kepada umat manusia, sehingga Engkau membuat nama bagi-Mu sendiri,… “), sedangkan TUHAN dan ALLAH jelas nama buatan LAI (NIV). Dalam KAMUS Alkitab terbitan LAI juga mengakui bahwa TUHAN = salinan dari nama Elohim Israel, yaitu Yahweh; ini menunjukkan bahwa sesungguhnya LAI juga menyadari namun tampak keraguannya. Yahweh bukan hanya diakui sebagi Elohim Israel sebagai bangsa tetapi jauh sebelumnya oleh para leluhurnya (Nuh, Abraham, Iskhak, Yakub) ketika belum sebagai bangsa. Herannya ketika ada warga ingin menyebutkan dan menggantikan sekalian dalam Alkitab, kenapa dimasalahkan bahkan dituduh bagian dari sempalan Saksi Yehova?
BN menulis:
Nama adalah Pribadi yang Diungkapkan
Apabila Amsal 18:10 menyebut bahwa Nama TUHAN (syem Yahwe) adalah menara yang kuat, maksudnya tidak lain adalah Pribadi Allah yang hidup dengan kekuasaan Ilahi-Nya yang menjaga dan melindungi kita umat-Nya. "Nama" di sini menunjuk kepada apa yang diketahui tentang Pribadi-Nya.
Contoh yang lebih jelas, Yesaya 30:27 dalam bahasa Ibrani: Hinneh, syem Yahwe ba mimerhaq…" Secara harfiah terjemahannya: "Perhatikanlah, Nama TUHAN datang dari tempat-Nya yang jauh…" Mengapa dikatakan "Nama TUHAN datang", dan tidak cukup dikatakan saja "TUHAN datang"? Jawab-annya, Nama di sini untuk menekankan "pengungkapan Pribadi-Nya". Tepat sekali, LAI menerjemahkan: "TUHAN datang menyatakan Diri-Nya dari tempat yang jauh…" Di sini, syem (Nama) diterjemahkan "menyatakan Diri-Nya".
Tanggapan KS:
Cara terjemahan demikian jelas tidak jujur dengan menghilangkan kata nama, ini sudah bukan menerjemahkan melainkan menafsir sesuai seleranya. Dari struktur kalimat yang seharusnya maka yang menjadi subjek utama adalah betapa “hebatnya” nama itu sendiri, dan cara menafsirnya harus disesuaikan dengan apa yang tertulis, bukan kita menuliskan terjemahan sesuai dengan pola tafsir kita. No doubt, LAI has corrupted the words of Elohim, yang Anda nilai tepat sekali. Justru begitu banyaknya kata “nama” (ribuan) merupakan betapa pentingnya nama itu sendiri. NIV dan JP Green tetap menuliskan “the name of YHWH ...” Mendengar nama-Nya disebut sudah harus membayangkan pribadi-Nya. Nama Yahweh memang mangandung wibawa luarbiasa dan ini sangat ditakuti oleh orang-orang Yahudi; pribadi-Nya menjadi terbayangkan ketika nama-Nya disebut. Hanya Anda dan yang sealiran saja yang tidak takut sama nama Yahweh.
BN menulis:
Jadi, sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe, se-bagaimana ditafsirkan Saksi-saksi Yehuwa, dan di-ikuti oleh kelompok "bid’ah baru" Kristen tertentu pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia.
Tanggapan KS:
lagu lama, jika berbeda pandangan langsung tuduh bidah! Zaman mudaku dulu sekitar tahun 1963-an gereja kami memberitahukan bahwa Pentakosta adalah bidah! Berargumentasilah secara akademik. Makalah perihal penyebutan nama Yahweh sudah sangat banyak dan sangat argumentatif dalam internet. Anda harus tahu apa arti bidah ataupun sesat! Jangan kalau tidak sepaham berarti sesat! Ini hanya untuk membenarkan diri sendiri saja. Kembali tanggapan di atas Yes. 30:27 dapat ditafsirkan bahwa kedatangan pribadi Yahweh itu oleh karena nama-Nya dikumandangkan-diteriakkan-disebut-sebut dari kejauhan, bukan mendadak datang begitu saja sebagaimana Anda tafsirkan oleh karena menghilangkan kata “nama”.
BN menulis:
3.Nama adalah Pribadi yang hadir secara aktif
Makna ketiga dari Nama adalah kehadiran aktif Pribadi itu dalam ke-penuhan sifat-Nya yang diungkapkan. Mazmur 76:1 menyebutkan: "…Nama-Nya masyhur di Israel", dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang dasyat yang dialami oleh umat Israel. Begitu pula, di Gunung Karmel Nabi Elia mengusulkan "peperangan" Nama Tuhan dengan nama ilah-ilah selain-Nya. "Nama" dalam hal ini menunjuk kepada Pribadi yang hadir, yang dibuktikan dengan menjawab doa orang yang menyeru Nama-Nya.
Kemudian biarlah kamu memanggil nama ilah-mu (be shem elohekhem) dan akupun akan memanggil Nama Tuhan (beshem yahwe), maka ilah yang menjawab dengan api, Dialah Allah" (we hayah ha-elohim asyer yaeneh be esh hu ha-elohim)" (1 Raja-raja 18: 24).
Tanggapan KS:
Menurut LAI mestinya “memanggil nama TUHAN”; Nah jelaskan! Bahwa nama-Nya yang masyhur itu yang disebut-sebut, dipanggil-panggil dikagumi, adalah Yahweh, sementara bangsa lain menyebut nama elohimnya sendiri; selanjutnya terbukti bahwa Yahweh adalah Elohim yang beneran.
BN menulis:
Demikianlah apabila teks Ibrani di atas secara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab: "…wa al-ilah alladzi yujiibu binarin faa huwa Allah". Secara gramatikal, dalam konteks ayat tersebut, Allah adalah "al-Ilah alladzi yujiibu binarin" (Ilah yang menjawab dengan api itu). Maksudnya, Allah adalah Ilah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup.
Kutipan ini juga membuktikan bahwa kata Allah memang berasal dari al-Ilah, dan bukan "nama diri" (the proper name). Nama Diri Allah adalah yahweh, seperti disebutkan dibuktikan dengan "peperangan nama" di gunung Karmel di mana Yahwe tampil sebagai pemenang, karena Ia adalah Allah yang men-jawab doa umat-Nya. Ia adalah Pribadi Ilahi yang benar-benar hadir secara aktif:
Tanggapan KS:
Terjemahaan Alkitab Ibrani-Arab bukanlah standar “kebenaran”; barangkali kristen-Arablah yang memaksakan demikian, maksud saya kata Allah (Arab) = Elohim (ibrani) itu hanya berlaku bagi kristen-Arab, sementara itu kaum muslim-Arab belum tentu setuju pemahaman bahwa Allah bukan nama diri, atau karena terpengaruh agama suku karena nama Allah sudah ada sebelum Kristen masuk di Arab. Lihat Kamus English-English Hornby misalnya, Allah = name of God among Muslims, and all faiths in Arabs. Kalau sebagian besar kaum muslim (juga kamus) berpendapat bahwa Allah itu nama diri berbeda dengan Anda, maka kesimpulan Anda tersebut bukan berupa “bukti” melainkan keyakinan tafsiran saja. Bandingkan dengan hasil riset C. Darwin. Jika Anda menyaksikan jejeran kerangka binatang dari yang paling sederhana hingga kerangka simpanse-gorila dan manusia (di salah satu museum di Sydney misalnya) Anda pasti akan terperangah dan barangkali langsung setuju bahwa memang mungkin terjadi evolusi, rumpun yang terdekat manusia berasal dari monyet! Ini bukan bukti melainkan tafsiran yang kemudian dikenal sebagai Teori Evolusi, dan teori evolui ini bukan satu-satunya teori yang dapat dipakai untuk menjelaskan fakta fosil.
BN menulis:
Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah (1 Raja-raja 18:39).
Tanggapan KS:
Menurut LAI mestinya TUHAN (YHWH) bukannya Tuhan ( Yahweh hu ha’elohim )
BN menulis:
Dalam bahasa aslinya, seruan itu berbunyi: Yahweh, hu ha elohim! Yahweh, hu haelohim. Dalam terjemahan bahasa Arab: Ar Rabb, huwa Allah! Ar Rabb, huwa Allah (Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah).
Tanggapan KS:
Orang-orang Kristen Arab (juga Anda) memang tidak hanya menterjemahkan, tetapi bahkan menggantikan nama Yahweh, karena Anda memang menganggap nama diri Yahweh bisa diperlakukan sebagaimana kemauan Anda. Orang Prancis sebagian juga begitu, namun tidak semuanya. Periksa saja misalnya “French Bible Jerusalem”, “The New Jerusalem Bible”, dan masih banyak yang lain yang tetap memelihara keberadaan nama Yahweh.
BN menulis:
Jadi, jelaslah bahwa dalam hal "Nama Diri" Yahweh, semua umat Kristen sepakat. Masalahnya, baik UBS maupun LAI hanya mengikuti tradisi lama yang juga diikuti oleh Yesus, murid-murid-Nya dan Gereja Tuhan sepanjang abad, bahwa sekalipun nama Yahweh tetap dipertahankan dalam teks bahasa asli Kitab Suci (Perjanjian Lama) tetapi tidak membaca nama ilahi itu. Karena itu, kita dapat menerjemahkan nama Yahwe itu dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang dicontohkan oleh para penerjemah Alkitab dalam bahasa Yu-nani (Septuaginta) yang kemudian diikuti oleh rasul-rasul yang menulis Per-janjian Baru.
Tanggapan KS:
Sungguh aneh nama diri sepakat Yahweh namun sikapnya ternyata lebih suka mengikuti tradisi lama yang jelas bukan merupakan “kebenaran”. Darimana Anda tahu bahwa Yesus mengikuti tradisi tidak membaca nama Yahweh? Apakah trauma “ketakutan” orang-orang Israel menyebut nama Yahweh merupakan standar sikap yang benar untuk tidak menyebut nama-Nya tetapi boleh menggantinya? Lihat kembali dua tanggapan teratas. Apakah Nuh (Kej. 9:26) dan Abraham (Kej. 12:8) dan para nabi, juga melafalkan Adonai bagi Yahweh? Alkitab menuliskan mereka menyebut Yahweh! Hati-hati! Anda bisa cari informasi di Internet dengan judul “Tetragrammaton Found in Earliest Copies of the Septuagint”. Fragment Septuaginta “Nahal Hever Minor Prophet” (fragment of Jonah, Micah, Nahum, Habakuk, Zephaniah and Zechariah) memuat “YHWH” dalam huruf Paleo-Hebrew dated between 50 BCE and 50 CE. Fragments ini ditemukan di Nahal Hever cave, south of Qumran. Jadi pada mulanya Septuaginta tetap mempertahankan YHWH. Namun belakangan memang diganti dengan Kyrios, Tuhannya orang Yunani!
BN menulis:
Catatan Penutup
Dari beberapa traktat dan publikasi yang diterbitkan kelompok baru "yang lebih Yahudi ketimbang orang Yahudi" ini, jelas sekali bahwa mereka menafsirkan Kitab Suci sangat harfiah, ayat demi ayat, tanpa melihat konteks dan sejarah teks-teks Alkitab. Kesan lain yang juga saya tangkap, para penganut "madzab baru" ini biasanya sangat fanatik, dan dalam membahas tema ini mereka sudah mempunyai kesimpulan dulu.
Tanggapan KS:
Mengikuti pola berpikir Anda saya bisa saja mengatakan sebaliknya justru Andalah yang mempunyai kesimpulan lebih dulu dengan berpegang asumsi bahwa karena naskah PB tercatat Yunani pastilah percakapan Alkitab PB juga berlangsung dalam bahasa Yunani dengan segala konsekuensinya sebagaimana Anda nyatakan bahwa Yesus dan para rasulnya setuju pemakaian kata Kurios, sampai-sampai nama pun di-Yunani-kan. Siapa yang fanatik? Andalah yang fanatik PB Yunani, ya kan? Saya justru mencari pembanding. Bayangkan LAI menerbitkan Alkitab berbahasa Indonesia dengan TUHAN (dan ALLAH) sebagai nama diri Tuhan, sementara itu ia juga menerbitkan Kitab Suci berbahasa Jawa dengan Yehuwah sebagai Pangeran! Saya orang Jawa apa tidak kebingungan jika menyebut nama Tuhan, Yehuwah ataukah TUHAN atau ALLAH? Siapa yang kebingungan, LAI juga? Nampaknya Anda gemar menjadi “penuduh” – “lebih Yahudi ketimbang orang Yahudi”. Tolong periksa Hebrew New Testament- (yang bisa di-download dari http:dvar-adonai.org/HtnMain_en.htm), dengan huruf apa kata Yahweh dituliskan? Tolong baca Kitab Matius DuTillet/Munster (dan masih ada yang lain lagi). Jika Anda menyatakan orang Yahudi tidak melafal Yahweh melainkan menggantinya Adonai, apa bedanya dengan Anda (dengan kelompok Anda) yang juga tidak melafal Yahweh tetapi menggantinya dengan TUHAN atau ALLAH? Saya Israel baru, tidak meniru Yahudi umumnya yang takut menyebut nama Yahweh, tetapi saya meniru bapa Abraham hingga para nabi. Bandingkan dengan diri Anda! Apakah orang Yunani juga mengenal ALLAH sebagai Tuhan?
BN menulis:
Karena itu, segala pembahasan ilmiah, sebagaimana pernah saya lakukan dalam forum yang juga menghadirkan Romo Dr. Martin Harun dari Lembaga Biblika Indonesia, dari beberapa pembicara lain dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), selalu mentah. Mengapa? Sebab kalau mereka terpojok, mereka lalu lari mencari ayat-ayat lain, sementara pembahasan yang sudah mulai terfokus menjadi kabur kembali. Artikel ini saya tulis untuk menunjukkan sangat dangkalnya pemikiran mereka, pantas saja tuntutan mereka tidak pernah digubris oleh LAI, yang adalah gudangnya para pakar Biblika dan bahasa-bahasa semitik yang sampai sekarang masih terus digunakan di Timur Tengah tersebut.
Tanggapan KS:
Saya juga termasuk sama sekali bukan pakar Biblika apalagi bahasa semitik. Namun ingat, cara pengambilan keputusan/sikap tidak sepenuhnya ditentukan keahlian tersebut. Mereka yang melakukan penelitian untuk Hebrew New Testament jelas bukan orang sembarangan. Bayangkan seorang diri sebagai penulis, James Scott Trimm mampu menulis lengkap Alkitab yang bersumber dari Hebrew-Aramaic. Apa sih arti “ilmiah”. “Frangkly speaking” Anda memang hebat; namun bagaimana mungkin nama diri “as a mark or memorial of individuality” koq diganti, mestinya kan disalin agar “kedengaran” sama? Ilmiah macam apa ini?
BN menulis :
Cairo, 12 Nopember 2004
Note:
Oleh: Bambang Noorsena
Pengamat Hubungan antariman dan Pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), kini tinggal di Kairo, Mesir.
KS menulis:
Note:
Penanggap adalah salah seorang anggota GKJ
Pengajar Kimia, FMIPA – UNY, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com
|