Tanggapan lanjut KHS:
Tanggapan Anda saya nilai masih kurang tepat sasaran dalam menjawab pertanyaan saya, yakni mengapa terjemahan lebih mengacu pada vocabulary Arab atau kristen Arab ketimbang Ibrani, padahal aslinya kan tidak ada Arabic Bible. Ketika bahasa Ibrani sudah banyak dikenal oleh para teolog Kristen, mengapa tidak ada tinjau ulang. Sebagai contoh jika Elohim diterjemahkan Allah (bahasa Arab), apa sih sukarnya membiarkan begitu saja tetap Elohim toh sangat mudah diucapkan sehingga menambah kosa kata Indonesia. Sementara itu kata Ibrani “allah” (no. konkordansi Strong, 427, terdapat dalam Yos.24: 26) yang artinya variasi dari jenis tanaman oak. Jadi, aneh kalau kita menerjemahkan Elohim (Ibrani) menjadi Allah (Arab), sementara itu ada kata Ibrani, “allah”, yang artinya jauh menyimpang. Kenapa kita tidak mengadopsi langsung saja tetap Elohim, dan bukan Allah?. Rancunya lagi, apa Anda tidak menyadari bahwa proper name YHWH oleh LAI diterjemahkan dua macam yaitu TUHAN dan ALLAH? Lebih-lebih lagi masih ada kata yang sama namun beda menulisnya yakni Tuhan dan Allah. Apakah Anda tidak memikirkan konsekuensi bagi “pendengarnya”. Bahkan banyak teolog kristen sendiri menjadi salah kaprah ketika menuliskannya baik dalam wujud nyayian maupun liturgi, yang berakibat membawa pemahaman bahwa Tuhan = TUHAN bahkan = Allah = ALLAH. Contoh mencolok adalah tema natal 2004: “... Allah sumber pengharapan dunia ....” (Yer. 14:22), yang tepat mestinya “…. Elohim Yahweh sumber pengharapan dunia…… Struktur kalimat menunjukkan bahwa yang berperan utama adalah Yahweh; jadi Alkitab LAI mengakibatkan “misleading” (dalam arti pemahaman) bahwa Elohim tidak mempunyai nama atau minimal nama personal bagi Elohim tidaklah penting. Pemahaman kristen umumnya dewasa ini Tuhan tidak bernama meskipun sering berdoa “dikuduskanlah nama-Mu”; dan ketika diingatkan bahwa yang dipanggil “Bapa kami yang di sorga” itu tidak lain adalah Yahweh, telinga mereka menjadi “asing”. Memang ada yang berpendapat bahwa Allah adalah sebutan umum bagi sesembahan (God) tetapi lebih banyak yang mengacu sebagai nama diri Tuhannya Arab. Allah = name of God among Muslims, and all faiths in Arabs, (Kamus Inggris-Inggris, Hornby). Ingat sahadat Islam: “There is no God except Allah ...” = “Tidak ada Tuhan selain Allah” (yang bisa kita baca di layar TV setiap Adzan) dan bandingkan dengan “Akulah YHWH dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Elohim (Mazm. 18:32, Ul.32:12, Yes. 43:10, 44:8, 45:5).
Pernyataan Anda perihal tidak adanya bukti bahwa Bapa melarang menerjemahkan NamaNya, sungguh suatu pernyataan yang aneh. Bagaimana mungkin suatu pribadi membuat pernyataan untuk melarang menerjemahkan nama pribadi yang bersangkutan. Begitu juga berlaku sebaliknya, yakni tentu juga tidak ada anjuran menerjemahkan suatu nama. Coba carilah contoh kejadian atau tulisan yang memuat larangan atau anjuran menerjemahkan nama dalam berbagai karangan / tulisan / naskah. Tidak akan pernah Anda temui. Mengapa? Karena hal ini sudah jadi pemahaman umum bahwa nama personal tidak akan pernah diterjemahkan. Yang ada adalah menjaga keharuman / keagungan / kekudusan nama dsb., tidak hanya bagi manusia tetapi juga Yahweh; adanya adalah larangan menyebut Nama-Nya dengan sembarangan sebagaimana Kel. 20:7.
Apa Anda tidak mengerti kata “nama” terjemahan dari kata Ibrani “shem”?; namun mari kita periksa artinya menurut konkordansi Strong-8034: “a primitive word [perhaps rather from 7760 through the idea of definite and conspious position; compare 8064]; an appelletion, as a mark or memorial of individuality; by implication honor, character:-+ base [in-] fame[mous], name[-d], renown, report. Jadi nama (Yahweh) identik dengan pribadi-Nya dengan segala implikasinya sebagaimana kita saksikan dalam Alkitab. Nama itu dinyatakan dengan mark or memorial of individuality; mark ini berupa huruf-huruf yang menghasilkan suara (bunyi) ketika dibaca, dalam hal ini yakni יהדה yang dibaca Yahweh; kegagalan mengenali mark (huruf) akan mengalami kegagalan dalam menghasilkan bunyi untuk keperluan memorial individu / pribadi dengan segala implikasinya. Oleh karena itu huruf untuk nama ini tidak mungkin diterjemahkan melainkan ditransilerasi agar menghasilkan bunyi yang sama atau sangat dekat dengan aslinya, dalam hal ini YHWH (Yahweh).
Ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri, bukan oleh Musa, juga bukan oleh kaum Yahwis (Yer. 32:20 : “….. kepada Israel dan kepada umat manusia, sehingga Engkau membuat nama bagi-Mu sendiri,… “), sedangkan TUHAN dan ALLAH jelas nama buatan LAI (NIV). Jadi dalam hal ini jelas bahwa LAI telah mengganti nama Yahweh dengan menerjemahkan LORD dan GOD. Pemahaman yang umum adalah bahwa yang memberi / mengganti nama itu selalu mempunyai authority untuk itu, dan Alkitab bersaksi demikian; Yahweh mengganti nama Abram menjadi Abraham, Penguasa Babilon mengubah nama Daniel dkk, dsb. Lha LAI (atau yang sealiran) mempunyai kuasa apa terhadap Nama Sang Pencipta Yahweh? Kapan, bagaimana, dan mana bukti mendapatkan kuasa mengganti Nama Sang Bapa tersebut? Aliran Mormon saja justru merasa mendapat kuasa dan bukti!
Dalam hal kasus Kel. 20:7, “Jangan menyebut nama Yahweh, Elohimmu, dengan sembarangan ....”, kata sembarangan berasal dari Ibrani “shâv” (שוא) konkordansi Strong no. 7723, yang artinya antara lain: vain, desolating, false, vanity. Tentu saja Anda tidak merasakan melakukannya secara sembarangan. Namun setelah mengetahui proper name yang sesungguhnya, saya merasa bahwa saya harus menyebut secara benar, artinya jika bukan Yahweh ya itu suatu kekeliruan.
Jika Anda menyatakan bahwa “Teos” diterjemahkan “Allah” itu lebih tepat ketimbang diterjemahkan “el / Eloah / Elohim”, itu artinya Anda tidak mengerti sama sekali menggunakan kamus secara benar, yakni konkordansi Septuaginta yang saya tawarkan kepada Anda. Jika kita akan mempelajarai padanan kata Hebrew-Greek, hanya konkordansi Septuaginta itulah yang paling valid. Jadi Teos dicari artinya dulu ke bahasa Ibrani, baru kemudian ke bahasa lain; cara inilah yang diingatkan oleh “pemuja Yahweh” kepada LAI Inilah konkordansi untuk Teos dengan beberapa pemakaian dalam senyawaannya, jangan hanya seenaknya saja (sayang saya tidak bisa mempostingkan dalam bentuk huruf Ibrani maupun Yunaninya, sehingga harus saya terjemahkan)
Theos.
1. Avir ; 2. Adonai ; 3. El ; 4. Eloaha, Eloha, a. sing b. pl c. Elah ; 5. Elil ; 6. Yah ; 7. a. Yahweh, b. Yehwah ; 8. Ilai ; 9. Atsav ; 10. Tsur ; 11. Qodesh ; 12. Shadai ; 13. a. to eidos tou th. P’nuel , b. eidos theou P’niel; 14. Kurios ho th, ho k. Theos, kurios theos a. Adonai, b. Elah, c. Elohim, d. Yahweh, e. Mare, f. Yehwah, 15. krisis phara tou th. Elohim, 16. to oros tou th. Ha’elohim, 17. to kriterion tou th Ha’elohim, 18. ho tophos ou eistekei ho th ekei ho th. Elohim, 19. to tophos tou th. Ha’elohim, 20. ho th. Tou ouranou Shadai, 21. oikos theou Elohim.
Jika setiap Teos diterjemahkan God (Elohim), dan Kurios diterjemahkan Lord (Tuhan), sebagaimana dilakukan LAI, itu namanya terjemahan “serampangan” saja tanpa memperhatikan konteksnya. Anehnya Anda menganggap usulan “pemuja Yahweh” masih mentah, Sdr. Bambang Noorseno mengganggapnya “hantam kromo”.
Perihal inskripsi Zabad (512) yang ditulis penganut Kristen yang dimulai dengan ucapan ‘Bism al-Ilah’ (Dengan nama Allah), ini jelas mengindikasikan bahwa Allah adalah nama bukan titel umum. Jika Allah disini dikembalikan ke bahasa Ibrani Elohim, Anda tidak akan pernah menemui gaya bahasa tersebut, melainkan “demi (nama) Yahweh” baik itu untuk bernazar, maupun untuk bersumpah (Im. 19:12 ; Bil. 30: 2, 3 ; Ul. 6:13 ; 23: 21). Saya juga sudah mengunduh inskripsi tersebut, namun hanyalah berupa tablet bertulisan saja, tidak ada ulasan lebih lanjut. Jika Anda memiliki ulasannya, tolong diungkapkan supaya kita dapat mempelajarinya. Paling tidak dalam rangka apa inskripsi tersebut ditulis; saya tidak curiga, tetapi harus waspada dan teliti. Tablet yang dipasang pada bangunan gereja saya ditandatangani Pendeta dan Bupati (bukan kristiani). Kristen-Arab bukanlah standar terjemahan / pemahaman Alkitab Ibrani – Yunani. Jadi sekalipun itu dianggap sebagai inskripsi Arab-Kristen, namun jelas tidak sesuai dengan pemahaman pada Alkitab (Ibrani), lalu apa bisa dipakai untuk panutan terjemahan?
Jika Anda menyatakan bahwa orang-orang Kristen-Arab lebih duluan menggunakan kata “Allah” (inskripsi Zabad 512) jauh sebelum zaman jahiliyah itu kapan? Tolong saya diberi dugaan tahunnya?
Anda nampaknya begitu saja menerima apa yang dikemukakan Ulil Absar Abdala untuk mendukung pemahaman Anda, tetapi yang penting mana buktinya, baik tekstual maupun praktek lapangan.
YBU
Penanggap
Kristian H. Sugiyarto
Staf Pengajar Kimia, FMIPA, UNY
GKJ Demakijo, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com
HP. 08157935534
|