salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: agus.soetopo
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1525

People Online:
Members: 0
Visitors: 4
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Buku2 pengajaran iman Kristen yg ditulis oleh: Denny Teguh S
Last post by Denny in Lainnya on May 18, 2012 at 01:28:12

Buku: "BAHASA LIDAH: MASIH ADAKAH?" (Denny Teguh S.)
Last post by Denny in Lainnya on Apr 18, 2012 at 00:13:58

Renungan Paskah 2012: TUHAN YESUS TELAH BANGKIT! (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 08, 2012 at 02:52:50

Renungan Jumat Agung 2012: KEMATIAN SANG ANAK ALLAH (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 05, 2012 at 00:14:12

Get my new book: GENERASI TUA VS GENERASI MUDA (Denny T. S.)
Last post by Denny in Lainnya on Mar 18, 2012 at 02:07:53

Paskah Akbar Surabaya 2012
Last post by Denny in Agenda Kita on Mar 18, 2012 at 02:01:33

Tantangan Untuk Beritakan Injil di Wilayah Timur Tengah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Mar 17, 2012 at 12:58:39

Diresmikan, Syarat Dapat Gelar S1 Harus Publikasi Ilmiah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 07:08:29

Suka duka jadi anak jenius
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 06:41:05

Kemampuan Pelajar Asia Timur, 3 Tahun Diatas Negara Maju
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 22, 2012 at 18:59:09

We have received
5086879
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Mohon Tanggapan Para Ahli
Result

Mohon Tanggapan Para Ahli
Bila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Robbie
Newbie
Newbie


Joined: Feb 25, 2005
Posts: 10

PostPosted: Tue Mar 01, 2005 3:11 am    Post subject: Mohon Tanggapan Para Ahli Reply with quote

Salam Sejahtera,

Saya adalah salah seorang yang menyenangi sejarah Alkitab. Baru-baru ini saya menemukan sebuah artikel yang berjudul "Mengapa Alkitab Semitik?". Untuk itu sebagai orang awam saya ingin kupasan, kritik, tanggapan atau semacamnya dari para ahli termasuk dari Bapak Bambang Noorsena. Terlepas dari pro dan kontra terhadap tulisan beliau yang pasti saya suka gaya menulis beliau (apakah pak Bambang seorang dosen?). Perlu saya sampaikan bahwa dalam forum ini saya adalah orang netral yang menginkan pembahasan tambahan pengetahuan. Berikut artikel tersebut saya kutip sesuai dengan aslinya (copy paste):

MENGAPA ALKITAB SEMITIK ?




Kedudukan Bahasa Ibrani Dalam Masyarakat Yahudi


Bahasa Ibrani tergolong ke dalam rumpun bahasa Semitik, yakni rumpun bahasa yang dipakai oleh keturunan Sem anak Nuh (Kej 10). Pada umumnya jika kita menyebut bahasa Ibrani maka kita tengah mengacu kepada bahasa yang dipakai untuk menyusun Taurat. Oleh para pakar Alkitab bahasa Ibrani ini dinamakan bahasa Ibrani klasik. Sejak kembalinya bangsa Israel dari pembuangan di Babylon, bahasa ini mulai ditinggalkan sebagai bahasa sehari-hari dan digantikan dengan bahasa Aramaic-Hebrew dialekto (Kis.21:40;22:2) yang kemudian dinamakan bahasa Ibrani Mishnah (sebab dipakai untuk menyusun Mishnah). Ada pula pakar Alkitab yang menyebutnya sebagai bahasa Neo-Ibrani. Bahasa ini sangat dipengaruhi oleh bahasa Aramaik, bahkan kemudian digantikan olehnya pada abad keempat Masehi. Bahasa Aramaik telah menjadi bahasa lingua franca di daerah Timur sejak abad ketujuh sebelum Masehi sampai dengan pemunculan agama Islam di abad ketujuh Masehi. Bahasa ini pada gilirannya digantikan oleh bahasa Arab, yang juga masih termasuk dalam rumpun bahasa Semitik.



Classic Hebrew 1800 BCE to 400 BCE.

Mishnah Hebrew 400 BCE to 400 CE.

Modern Hebrew 1800 CE to present.



Bahasa Aramaik sendiri terdiri atas dua rumpun besar: Aramaik Barat dan Aramaik Timur, dimana kedua rumpun tersebut masih terbagi lagi atas sub-sub rumpun. Bahasa Ibrani Mishnah yang dipakai oleh orang Yahudi misalnya merupakan sub-rumpun Aramaik Barat Tengah. Oleh sebab itu untuk selanjutnya kita akan menyebutnya sebagai bahasa Aramaik saja.



Old Aramaic 1000 BCE to 700 BCE.

Imperial (Official) Aramaic 700 BCE to 200 BCE.

Middle Aramaic 200 BCE to 200 CE.

Late Aramaic 200 CE to 700 CE.

Modern Aramaic 700 CE to present



Yeshua berbicara dalam bahasa Aramaik dialek Galilea (bd. Kis 26:14). Dialek ini mudah dikenali oleh orang-orang Yudea seperti halnya logat Queen English mudah dikenali oleh penduduk New York. Hal ini juga menjelaskan mengapa Kefa (Petrus) mudah dikenali sebagai orang Galilea pengikut Mesias di luar rumah Kayafas (Mat 16:73). Meski begitu, Yeshua tidak diragukan lagi juga dapat berbicara dalam bahasa Yunani dan Latin seperti misalnya dalam percakapan dengan prajurit Romawi.



Lalu bagaimana dengan nasib bahasa Ibrani klasik ?



Walaupun bahasa ini tidak lagi menjadi bahasa aktif, bahasa ini tetap digunakan sebagai bahasa peribadatan dan liturgi. Tetapi kemudian timbul persoalan bagaimana supaya Tanakh tetap dapat dimengerti oleh masyarakat. Untuk itu para ahli Taurat membuat terjemahan Tanakh ke dalam bahasa Aramaik yang kita kenal sebagai Targum. Jadi di dalam kebaktian Sabat, setelah Taurat dibacakan dalam bahasa Ibrani klasik, seorang rabbi akan membacakan ulang dari Targum dan menjelaskannya kepada jemaat. Hal yang sama pula yang dilakukan oleh Yeshua ketika Ia mengajar di sinagoga-sinagoga. Yang jelas Yesus tidak memakai Septuaginta seperti yang dipercaya selama ini. Ada dua alasan untuk itu:



1) Septuaginta adalah Tanakh terjemahan Yunani yang ditolak dan tidak pernah dipakai atau dimengerti bahasanya oleh orang Yahudi di Palestina.

2) Masyarakat Yahudi pada zaman itu hanya menguasai bahasa Aramaik oleh sebab itu para rabbi Yahudi bekerja keras menghasilkan Targum.



Jika Septuaginta dipakai dengan asumsi masyarakat Yahudi adalah penutur bahasa Yunani maka untuk apa mereka mengusahakan terjemahan Targum ? Adapun bahasa Yunani pada masa itu (Koine) meski dipaksakan untuk menjadi bahasa formal oleh penguasa Yunani (dalam usaha Hellenisasi) tidak mendapat tempat di dalam masyarakat Yahudi yang sangat anti budaya asing (bandingkan Kis 21:2). Bahasa Yunani hanya dipakai oleh orang-orang Yahudi di diaspora, atau orang-orang Yahudi yang sudah ter-Hellenisasi (berpendidikan di sekolah Yunani) yang mana jumlahnya sangat kecil. Sayangnya banyak pengajar Kristen yang mengabaikan realitas sejarah dan kondisi sosiologis pada masa itu.



Berapa Banyak Orang Yahudi Yang Mengerti Bahasa Yunani ?



Mari kita baca keterangan Flavius Josephus, seorang sarjana Yahudi kenamaan yang hidup pada masa Perjanjian Baru.



"I have proposed to myself, for the sake of such as live under the government of the Romans, to translate those books into the Greek tongue, which I formerly composed in the language of our country, and sent to the Upper Barbarians; Joseph, the son of Matthias, by birth a Hebrew, a priest also, and one who at first fought against the Romans myself, and was forced to be present at what was done afterwards, [am the author of this work]." (Preface to Wars Against the Jews, 1.1-2)



"And I am so bold as to say, now I have so completely perfected the work I proposed to myself to do, that no other person, whether he were a Jew or foreigner, had he ever so great an inclination to it, could so accurately deliver these accounts to the Greeks as is done in these books. For those of my own nation freely acknowledge that I far exceed them in the learning belonging to Jews; I have also taken a great deal of pains to obtain the learning of the Greeks, and understand the elements of the Greek language, although I have so long accustomed myself to speak our own tongue, that I cannot pronounce Greek with sufficient exactness; for our nation does not encourage those that learn the languages of many nations, and so adorn their discourses with the smoothness of their periods." (Antiquities, 20.11.2)



Josephus mengakui bahwa ia menulis semua buku-bukunya dalam bahasa ibunya Ibrani dan kemudian merasa perlu untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Yunani. Bahkan sarjana sekelas Josephus pun mengakui bahasa Yunaninya kurang fasih sebab bangsanya memang tidak menganjurkan seseorang untuk mempelajari bahasa asing. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Yunani merupakan bahasa yang sedikit penuturnya di dalam masyarakat Yahudi.



Pemakaian Bahasa Ibrani Dalam Literatur Yahudi


Ketika Mattityahu (Matius) menuliskan Injil Mesias, ia mempergunakan bahasa Ibrani. Hal ini dikonfirmasi oleh keterangan Bapa-bapa Gereja seperti Papias (Eusebius, H.E. 3.39.16), Irenaeus (Adv. Haer. 3.1.1), Origen (Eusebius, H.E. 6.25.4), Eusebius (H.E. 3.24.6), Epiphanius (Panarion 30. 13.1-30.22.4) dan Yerome (Epist. 20.5). Hal ini dimengerti sebab baik Mattityahu maupun pembacanya adalah penutur bahasa tersebut. Demikian pula dengan surat Ibrani, surat Yakobus, surat Petrus, surat Yudas, surat Yohanes, dan Wahyu. Baru setelah itu karena dirasa perlu maka beberapa orang menyalin tulisan-tulisan kanonikal tersebut ke dalam bahasa lain. Pernyataan Papias yang terkenal, bahwa Matius mencatat pengajaran Mesias (ta logia) dalam bahasa Ibrani dan ia berusaha untuk menerjemahkannya dengan sebaik-baiknya, memberikan implikasi bahwa hasil terjemahannya itu boleh jadi merupakan teks Injil Matius yang sekarang kita pakai.



Peranan penerjemah juga terlihat pada tulisan kanonikal Yochanan (Yohanes). Kita dapat melihat perbedaan menyolok dari kualitas grammar Yunani yang dipakai dalam Injil Yohanes dengan grammar Yunani dari Wahyu Yohanes. Hal ini membuktikan bahwa Yochanan mula-mula menulis keduanya dalam bahasa Aramaik kemudian dua orang yang berbeda, pada tahun yang berbeda, menerjemahkannya ke dalam bahasa Yunani. (Sumber: The Semitic Origin of The New Testament, James Trimm).



Sebenarnya bukan hanya Injil saja yang ditulis dalam bahasa Aramaik tetapi juga seluruh literatur Yahudi yang sezaman dengan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Aramaik, seperti Talmud dan Gemara. Tidak ada satupun yang ditulis dalam bahasa Yunani. Peninggalan-peninggalan historis lainnya juga membuktikan hal tersebut seperti misalnya temuan manuskrip Laut Mati, manuskrip Damaskus, surat Bar Kochba, semuanya ditulis dengan menggunakan huruf Ibrani.



Dalam Bahasa Apa Paulus Menulis Suratnya ?


Surat-surat Rav Sha’ul (Paulus) ditujukan kepada orang-orang Yunani dan Yahudi di diaspora sehingga masuk akal bila ia menuliskannya dalam bahasa Yunani. Tetapi mari kita pelajari dahulu beberapa aspek:



Paulus adalah seorang penutur Ibrani asli (native speaker). Sebagai orang Farisi ia tidak memperoleh pendidikan di sekolah Yunani sebab sekte Farisi tidak memperbolehkan pengikutnya bersekolah Yunani. Ia tidak dapat menulis Yunani dengan baik (Gal 6:11), selalu bepergian dengan ditemani penerjemah (Roma 16:22, 1Tes 1:1, 2Tes 1:1) dan sering menemukan kesulitan untuk menerangkan teologi kelas tinggi di hadapan para pendengarnya orang Yunani (2Pet 3:15-16).



Besar kemungkinan surat-surat Paulus ditulis dengan bantuan seorang penerjemah. Menurut keterangan St. Yerome (Ad Hebidiam, Epistula 120, 11 (c. 406/7), walaupun Paulus menguasai beragam bahasa, ia tidak dapat berkhotbah dengan fasih dalam bahasa Yunani sehingga ia memakai Titus sebagai penerjemahnya (Lukas penulis Injil juga diketahui sebagai salah seorang rekan penerjemah). Jadi kemungkinan besar Paulus menuliskannya terlebih dahulu ke dalam bahasa Ibrani baru kemudian diterjemahkan oleh orang lain di bawah pengawasannya ke dalam bahasa Yunani. Hanya bagian-bagian tertentu seperti salam ditulis dengan tangannya sendiri sebagai tanda keaslian (1Kor 16:21-23, 2Tes 3:17). Pada bagian yang ia tulis sendiri, ia kerap menyisipkan terminologi Aramaik yang amat diragukan dimengerti oleh pembaca Yunani seperti misalnya Maranatha (Mar=Master, Marana=Our Master, Maranatha = "Our Master comes!").



Kebiasaan seperti ini, yakni menulis surat dalam bahasa Aramaik untuk diantarkan kepada jemaat-jemaat di kota lain dalam bahasa-bahasa lokal, sampai hari ini masih dipelihara oleh Patriach Holy Catholic Assyrian Church of The East (Gereja Suryaya Timur) yang berkedudukan di Irak. Keberadaan Gereja Suryaya Timur ini dapat ditelusuri berasal dari zaman para rasul. Sampai hari ini mereka terus memelihara Alkitab mereka yang ditulis dalam bahasa Aramaik Timur. Kita mengenalnya sebagai Peshitta yang secara harfiah artinya "sederhana", sederhana karena jelas ia tidak memerlukan proses penerjemahan.



Alkitab Teks Semitik Pada Masa Kini


Sayangnya pengetahuan akan hal ini tidak dimiliki oleh para pengajar Kristen yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Kristen dari Barat (Eropa). Mereka mengira bahwa satu-satunya manuskrip Perjanjian Baru yang ada di dunia ini hanya manuskrip Yunani. Di bawah saya kutip salah satu posting mail dari seorang pengajar Kristen senior:



"...Alkitab Perjanjian Baru ditulis aslinya dalam bahasa Yunani Koine. Tidak satupun naskah Perjanjian Lama dalam bahasa Aram atau Ibrani yang ditemukan tetapi ribuan naskah bahasa Yunani dengan mudah ditemukan."



Ia tidak mengetahui bahwa sedikitnya kita mempunyai empat versi Perjanjian Baru dalam bahasa Semitik yang merupakan turunan dari teks Semitik yang asli: Injil Matius dalam bahasa Ibrani versi Shem Tov dan DuTillet, Empat Injil dalam bahasa Aramaik versi Old Syriac Aramaic, Wahyu dalam bahasa Aramaik versi Crawford dan Perjanjian Baru Peshitta dalam bahasa Aramaik. Yang terakhir ini digunakan secara luas oleh Gereja Suryaya Timur.



Teks Yunani Merupakan Terjemahan Dari Teks Semitik


Berikut ini adalah kutipan dari pakar-pakar linguistik yang mendalami soal orginalitas Perjanjian Baru:



...certain linguistic proofs... seem to show that the Hebrew text [DuTillet] underlies the Greek, and that certain renderings in the Greek may be due to a misread Hebrew original. (An Old Hebrew Text of St. Matthew's Gospel; 1927, p. 17)



...this Gospel of St. Matthew [Old Syriac] appears at least to be built upon the orginal Aramaic text which was the work of the Apostle himself. (Remains of a Very Ancient Recension of the Four Gospels in Syriac;1858;p. vi)



When we turn to the New Testament we find that there are reasons for suspecting a Hebrew or Aramaic original for the Gospels of Matthew, Mark, John and for the apocalypse. (Hugh J. Schonfield; An Old Hebrew Text of St. Matthew's Gospel; 1927; p. vii)



The material of our Four Gospels is all Palestinian, and the language in which it was originally written is Aramaic, then the principle language of the land... (C. C. Torrey; Our Translated Gospels; 1936 p. ix)



Mereka semua sepakat bahwa teks-teks Semitik di atas bukan merupakan terjemahan dari teks Yunani tetapi sebaliknya merupakan sumber bagi teks Yunani itu sendiri. Hal ini antara lain dibuktikan dengan banyaknya idiom-idiom Aramaik yang salah diterjemahkan ke dalam teks Yunani (Sumber: On announcement of The Hebraic Roots Version New Testament, James Trimm).



Beberapa Contoh Ketidak-Akuratan Terjemahan PB


Berikut ini saya mencoba menyajikan contoh-contoh yang sederhana dimana sebuah kalimat di dalam Perjanjian Baru terbaca janggal di dalam bahasa Yunani, tetapi baru menjadi masuk akal jika kita membacanya dalam bahasa Ibrani dan Aramaik.



KIS 11:27-30



"Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia. Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa SELURUH DUNIA bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius. Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam DI YUDEA. Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus."



Ayat di atas menimbulkan kejanggalan, mengapa orang-orang di Antiokhia mengirimkan bantuan kepada orang-orang DI YUDEA padahal SELURUH DUNIA sedang ditimpa bahaya kelaparan. Mereka tentunya juga sedang menghadapi bahaya kelaparan.



Solusinya terletak pada kata DUNIA yang digunakan dalam manuskrip Aramaik adalah A'RA (Strong's #772) yang merupakan bentuk Aramaik dari kata Ibrani ERETZ (Strong's 776). Kata ini dapat diartikan sebagai "dunia" (seperti dalam Amsal 19:4), "bumi" (seperti dalam Dan 2:35) atau "tanah" (seperti dalam Dan 9:15) dan sering digunakan sebagai eufemisme untuk "Negeri Israel" (seperti dalam Dan 9:6). Jelas bahwa kata ini disini tidak dimaksudkan sebagai "dunia" tetapi "Negeri Israel".



MAT 26:6 = MRK 14:3



"Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta,..."



Kita ketahui bahwa penyandang kusta tidak diperbolehkan menetap di dalam kota (lihat Ima 13:46). Karena bahasa Ibrani dan Aramaik kuno ditulis tanpa huruf hidup, maka tidak ada perbedaan antara kata Aramaik GAR'BA (kusta) dan GARABA (pembuat atau penjual buli-buli pualam). Karena kisah tersebut menceritakan tentang seorang wanita membawa buli-buli pualam, maka amat jelas bahwa Simon adalah seorang penjual atau pembuat buli-buli, bukan seorang penyandang kusta.



MAT 19:24 = MRK 10:25 = LUK 18:25



"..., lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Elohim."



Kata "unta" dalam teks Aramaik adalah GAMLA yang dapat berarti "unta" tetapi juga dapat berarti "tali tambang". Dalam perkataan ini tentunya yang dimaksud oleh Yeshua adalah "tali tambang".



Kesalahan-kesalahan remeh ini sebenarnya membuktikan dengan sangat jelas dan tidak terbantahkan bahwa teks Yunani yang dipakai sekarang merupakan hasil terjemahan dari teks asli yang berbahasa Semitik.



Terjemahan Buruk Menjadi Alat Pembenaran Teologi Yang Keliru


Contoh-contoh ketidak-akuratan terjemahan di atas merupakan hal yang remeh yang tidak menghasilkan akibat yang signifikan. Tetapi marilah saya tunjukkan dua dari contoh terjemahan yang buruk yang dipakai sebagai pembenaran terhadap teologi yang keliru.



YOH 1:17



For the law was given by Moses, but grace and truth came by Jesus Christ. (John. 1:17 King James Bible Version)



Jika anda mempunyai KJV, tolong perhatikan kata "but" adalah dalam cetak miring. Kata-kata yang dicetak miring di dalam KJV adalah kata-kata yang ditambahkan oleh penerjemah. Biasanya ditujukan supaya menghaluskan terjemahan sehingga terdengar "enak" dalam bahasa Inggris. Akan tetapi pada ayat-ayat tertentu (seperti ayat di atas), bias penerjemah sangat jelas terlihat. Jika kita belajar dan percaya bahwa tidak ada pertentangan antara "hukum Taurat" dan "kasih karunia" maka tidak ada alasan bagi kita untuk menempatkan kata "but" disini. Kata "and" seharusnya lebih cocok di dalam konteks ini kecuali kalau kita masih menganut teologi anti-Taurat. Dan sesungguhnya di dalam teks kuno Aramaik "Old Syriac", Yoh 1:17 tertulis sebagai berikut:



"in that the Torah through Moshe was given, and grace and truth through Yeshua the Messiah came to pass." (John 1:17 dari teks Aramaik "Old Syriac")



EFE 2:15



"Having abolished in his flesh the enmity, even the law of commandments contained in ordinances" (Ephesus 2:15a King James Bible Version)



Perhatikan kata "even " dan "contained" di dalam KJV adalah dua kata yang ditambahkan untuk memberikan arti terhadap teks Yunani dari ayat tersebut. Tanpa kedua kata tersebut, teks Yunani yang ada akan sulit dimengerti. Akan halnya, di dalam teks Aramaik hal ini tidak terjadi. Kata kerja pasif "ditiadakan" (abolished) dalam teks Aramaik adalah dalam bentuk singular sehingga tidak mungkin mempunyai dua subyek. Jadi yang ditiadakan adalah hanya rasa permusuhan. Anak kalimat berikutnya merupakan sebuah klausa dalet yang dapat diartikan "of", "that", "which", atau "because". Dalam ayat ini artinya adalah "because" seperti halnya dalam Daniel 3:29, 4:9, 6:3, 23 dan 7:11 sehingga kemudian dapat diterjemahkan menjadi:



"Dan rasa permusuhan telah ditiadakan, dengan jadinya Ia sebagai manusia dan dengan hukum Taurat, karena perintah di dalam ketetapan-Nya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera." (Efesus 2:15 dari teks Aramaik)



Penutup


Berikut ini kata pengantar dari Kitab Kebijaksanaan Yesus Ben-Sirakh (c. 200-100 BCE) yang terdapat di dalam Deuterokanonika:



"Para pembaca dipersilakan mengadakan pembacaan karangan ini dengan rela hati dan penuh minat, lagi pula menaruh kemurahan hati, andai kata kami sendiri, meskipun sedapat-dapatnya mengusahakan terjemahannya, kurang teliti menyalin beberapa kalimat. Sebab sesuatu tidak sama daya artinya kalau dibaca dalam bahasa aslinya, yaitu Ibrani, atau diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Dan tidak hanya karangan ini saja, tetapi juga Taurat sendiri, para nabi dan kitab-kitab lain itu tidak kecil perbedaannya, apabila orang membaca dalam bahasa aslinya." (Sir 1:1)



Kutipan dari pengantar Kitab Yesus bin Sirakh, yang menyinggung proses penerjemahan buku tersebut dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Yunani. Sekaligus dinyatakan manfaat membaca Alkitab dalam bahasa aslinya, karena setiap terjemahan - walaupun seteliti mungkin - tidak dapat mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam aslinya tanpa perbedaan apapun. (Dikutip dari Pengantar Bahasa Ibrani, Dr. DL Bakker)



Kesimpulan


Bahasa yang dipakai untuk menyusun Perjanjian Baru adalah bahasa Aramaik-Hebrew dialekto yang dipakai oleh masyarakat Yahudi pada masa itu. Dari bahasa ini kemudian kelak diusahakan terjemahan-terjemahan ke dalam bahasa-bahasa lain. Dalam suatu proses penerjemahan, bukan tidak sedikit terjadi perbedaan daya arti antara bahasa sumber dan bahasa target. Oleh sebab itu untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap apa yang disampaikan oleh para penulis Perjanjian Baru, penulis menyarankan untuk memakai Alkitab dalam bahasa aslinya, Ibrani. Semoga tulisan ini bermanfaat.



Copyright © 2001 Nazarenes Community. www.angelfire.com/id/nasrani. This material can be reproduced without obligation but no editing is allowed. Any contact should be addressed to nazarenes @ angelfire.com. May peace be upon you.
Back to top
View user's profile
Sugiyarto
Newbie
Newbie


Joined: Nov 26, 2004
Posts: 148

PostPosted: Sat Mar 12, 2005 12:35 pm    Post subject: Re: Mohon Tanggapan Para Ahli Reply with quote

Robbie wrote:
Salam Sejahtera,

Saya adalah salah seorang yang menyenangi sejarah Alkitab. Baru-baru ini saya menemukan sebuah artikel yang berjudul "Mengapa Alkitab Semitik?". Untuk itu sebagai orang awam saya ingin kupasan, kritik, tanggapan atau semacamnya dari para ahli termasuk dari Bapak Bambang Noorsena. Terlepas dari pro dan kontra terhadap tulisan beliau yang pasti saya suka gaya menulis beliau (apakah pak Bambang seorang dosen?). Perlu saya sampaikan bahwa dalam forum ini saya adalah orang netral yang menginkan pembahasan tambahan pengetahuan. Berikut artikel tersebut saya kutip sesuai dengan aslinya (copy paste):

MENGAPA ALKITAB SEMITIK ?




Kedudukan Bahasa Ibrani Dalam Masyarakat Yahudi


Bahasa Ibrani tergolong ke dalam rumpun bahasa Semitik, yakni rumpun bahasa yang dipakai oleh keturunan Sem anak Nuh (Kej 10). Pada umumnya jika kita menyebut bahasa Ibrani maka kita tengah mengacu kepada bahasa yang dipakai untuk menyusun Taurat. Oleh para pakar Alkitab bahasa Ibrani ini dinamakan bahasa Ibrani klasik. Sejak kembalinya bangsa Israel dari pembuangan di Babylon, bahasa ini mulai ditinggalkan sebagai bahasa sehari-hari dan digantikan dengan bahasa Aramaic-Hebrew dialekto (Kis.21:40;22:2) yang kemudian dinamakan bahasa Ibrani Mishnah (sebab dipakai untuk menyusun Mishnah). Ada pula pakar Alkitab yang menyebutnya sebagai bahasa Neo-Ibrani. Bahasa ini sangat dipengaruhi oleh bahasa Aramaik, bahkan kemudian digantikan olehnya pada abad keempat Masehi. Bahasa Aramaik telah menjadi bahasa lingua franca di daerah Timur sejak abad ketujuh sebelum Masehi sampai dengan pemunculan agama Islam di abad ketujuh Masehi. Bahasa ini pada gilirannya digantikan oleh bahasa Arab, yang juga masih termasuk dalam rumpun bahasa Semitik.



Classic Hebrew 1800 BCE to 400 BCE.

Mishnah Hebrew 400 BCE to 400 CE.

Modern Hebrew 1800 CE to present.



Bahasa Aramaik sendiri terdiri atas dua rumpun besar: Aramaik Barat dan Aramaik Timur, dimana kedua rumpun tersebut masih terbagi lagi atas sub-sub rumpun. Bahasa Ibrani Mishnah yang dipakai oleh orang Yahudi misalnya merupakan sub-rumpun Aramaik Barat Tengah. Oleh sebab itu untuk selanjutnya kita akan menyebutnya sebagai bahasa Aramaik saja.



Old Aramaic 1000 BCE to 700 BCE.

Imperial (Official) Aramaic 700 BCE to 200 BCE.

Middle Aramaic 200 BCE to 200 CE.

Late Aramaic 200 CE to 700 CE.

Modern Aramaic 700 CE to present



Yeshua berbicara dalam bahasa Aramaik dialek Galilea (bd. Kis 26:14). Dialek ini mudah dikenali oleh orang-orang Yudea seperti halnya logat Queen English mudah dikenali oleh penduduk New York. Hal ini juga menjelaskan mengapa Kefa (Petrus) mudah dikenali sebagai orang Galilea pengikut Mesias di luar rumah Kayafas (Mat 16:73). Meski begitu, Yeshua tidak diragukan lagi juga dapat berbicara dalam bahasa Yunani dan Latin seperti misalnya dalam percakapan dengan prajurit Romawi.



Lalu bagaimana dengan nasib bahasa Ibrani klasik ?



Walaupun bahasa ini tidak lagi menjadi bahasa aktif, bahasa ini tetap digunakan sebagai bahasa peribadatan dan liturgi. Tetapi kemudian timbul persoalan bagaimana supaya Tanakh tetap dapat dimengerti oleh masyarakat. Untuk itu para ahli Taurat membuat terjemahan Tanakh ke dalam bahasa Aramaik yang kita kenal sebagai Targum. Jadi di dalam kebaktian Sabat, setelah Taurat dibacakan dalam bahasa Ibrani klasik, seorang rabbi akan membacakan ulang dari Targum dan menjelaskannya kepada jemaat. Hal yang sama pula yang dilakukan oleh Yeshua ketika Ia mengajar di sinagoga-sinagoga. Yang jelas Yesus tidak memakai Septuaginta seperti yang dipercaya selama ini. Ada dua alasan untuk itu:



1) Septuaginta adalah Tanakh terjemahan Yunani yang ditolak dan tidak pernah dipakai atau dimengerti bahasanya oleh orang Yahudi di Palestina.

2) Masyarakat Yahudi pada zaman itu hanya menguasai bahasa Aramaik oleh sebab itu para rabbi Yahudi bekerja keras menghasilkan Targum.



Jika Septuaginta dipakai dengan asumsi masyarakat Yahudi adalah penutur bahasa Yunani maka untuk apa mereka mengusahakan terjemahan Targum ? Adapun bahasa Yunani pada masa itu (Koine) meski dipaksakan untuk menjadi bahasa formal oleh penguasa Yunani (dalam usaha Hellenisasi) tidak mendapat tempat di dalam masyarakat Yahudi yang sangat anti budaya asing (bandingkan Kis 21:2). Bahasa Yunani hanya dipakai oleh orang-orang Yahudi di diaspora, atau orang-orang Yahudi yang sudah ter-Hellenisasi (berpendidikan di sekolah Yunani) yang mana jumlahnya sangat kecil. Sayangnya banyak pengajar Kristen yang mengabaikan realitas sejarah dan kondisi sosiologis pada masa itu.



Berapa Banyak Orang Yahudi Yang Mengerti Bahasa Yunani ?



Mari kita baca keterangan Flavius Josephus, seorang sarjana Yahudi kenamaan yang hidup pada masa Perjanjian Baru.



"I have proposed to myself, for the sake of such as live under the government of the Romans, to translate those books into the Greek tongue, which I formerly composed in the language of our country, and sent to the Upper Barbarians; Joseph, the son of Matthias, by birth a Hebrew, a priest also, and one who at first fought against the Romans myself, and was forced to be present at what was done afterwards, [am the author of this work]." (Preface to Wars Against the Jews, 1.1-2)



"And I am so bold as to say, now I have so completely perfected the work I proposed to myself to do, that no other person, whether he were a Jew or foreigner, had he ever so great an inclination to it, could so accurately deliver these accounts to the Greeks as is done in these books. For those of my own nation freely acknowledge that I far exceed them in the learning belonging to Jews; I have also taken a great deal of pains to obtain the learning of the Greeks, and understand the elements of the Greek language, although I have so long accustomed myself to speak our own tongue, that I cannot pronounce Greek with sufficient exactness; for our nation does not encourage those that learn the languages of many nations, and so adorn their discourses with the smoothness of their periods." (Antiquities, 20.11.2)



Josephus mengakui bahwa ia menulis semua buku-bukunya dalam bahasa ibunya Ibrani dan kemudian merasa perlu untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Yunani. Bahkan sarjana sekelas Josephus pun mengakui bahasa Yunaninya kurang fasih sebab bangsanya memang tidak menganjurkan seseorang untuk mempelajari bahasa asing. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Yunani merupakan bahasa yang sedikit penuturnya di dalam masyarakat Yahudi.



Pemakaian Bahasa Ibrani Dalam Literatur Yahudi


Ketika Mattityahu (Matius) menuliskan Injil Mesias, ia mempergunakan bahasa Ibrani. Hal ini dikonfirmasi oleh keterangan Bapa-bapa Gereja seperti Papias (Eusebius, H.E. 3.39.16), Irenaeus (Adv. Haer. 3.1.1), Origen (Eusebius, H.E. 6.25.4), Eusebius (H.E. 3.24.6), Epiphanius (Panarion 30. 13.1-30.22.4) dan Yerome (Epist. 20.5). Hal ini dimengerti sebab baik Mattityahu maupun pembacanya adalah penutur bahasa tersebut. Demikian pula dengan surat Ibrani, surat Yakobus, surat Petrus, surat Yudas, surat Yohanes, dan Wahyu. Baru setelah itu karena dirasa perlu maka beberapa orang menyalin tulisan-tulisan kanonikal tersebut ke dalam bahasa lain. Pernyataan Papias yang terkenal, bahwa Matius mencatat pengajaran Mesias (ta logia) dalam bahasa Ibrani dan ia berusaha untuk menerjemahkannya dengan sebaik-baiknya, memberikan implikasi bahwa hasil terjemahannya itu boleh jadi merupakan teks Injil Matius yang sekarang kita pakai.



Peranan penerjemah juga terlihat pada tulisan kanonikal Yochanan (Yohanes). Kita dapat melihat perbedaan menyolok dari kualitas grammar Yunani yang dipakai dalam Injil Yohanes dengan grammar Yunani dari Wahyu Yohanes. Hal ini membuktikan bahwa Yochanan mula-mula menulis keduanya dalam bahasa Aramaik kemudian dua orang yang berbeda, pada tahun yang berbeda, menerjemahkannya ke dalam bahasa Yunani. (Sumber: The Semitic Origin of The New Testament, James Trimm).



Sebenarnya bukan hanya Injil saja yang ditulis dalam bahasa Aramaik tetapi juga seluruh literatur Yahudi yang sezaman dengan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Aramaik, seperti Talmud dan Gemara. Tidak ada satupun yang ditulis dalam bahasa Yunani. Peninggalan-peninggalan historis lainnya juga membuktikan hal tersebut seperti misalnya temuan manuskrip Laut Mati, manuskrip Damaskus, surat Bar Kochba, semuanya ditulis dengan menggunakan huruf Ibrani.



Dalam Bahasa Apa Paulus Menulis Suratnya ?


Surat-surat Rav Sha’ul (Paulus) ditujukan kepada orang-orang Yunani dan Yahudi di diaspora sehingga masuk akal bila ia menuliskannya dalam bahasa Yunani. Tetapi mari kita pelajari dahulu beberapa aspek:



Paulus adalah seorang penutur Ibrani asli (native speaker). Sebagai orang Farisi ia tidak memperoleh pendidikan di sekolah Yunani sebab sekte Farisi tidak memperbolehkan pengikutnya bersekolah Yunani. Ia tidak dapat menulis Yunani dengan baik (Gal 6:11), selalu bepergian dengan ditemani penerjemah (Roma 16:22, 1Tes 1:1, 2Tes 1:1) dan sering menemukan kesulitan untuk menerangkan teologi kelas tinggi di hadapan para pendengarnya orang Yunani (2Pet 3:15-16).



Besar kemungkinan surat-surat Paulus ditulis dengan bantuan seorang penerjemah. Menurut keterangan St. Yerome (Ad Hebidiam, Epistula 120, 11 (c. 406/7), walaupun Paulus menguasai beragam bahasa, ia tidak dapat berkhotbah dengan fasih dalam bahasa Yunani sehingga ia memakai Titus sebagai penerjemahnya (Lukas penulis Injil juga diketahui sebagai salah seorang rekan penerjemah). Jadi kemungkinan besar Paulus menuliskannya terlebih dahulu ke dalam bahasa Ibrani baru kemudian diterjemahkan oleh orang lain di bawah pengawasannya ke dalam bahasa Yunani. Hanya bagian-bagian tertentu seperti salam ditulis dengan tangannya sendiri sebagai tanda keaslian (1Kor 16:21-23, 2Tes 3:17). Pada bagian yang ia tulis sendiri, ia kerap menyisipkan terminologi Aramaik yang amat diragukan dimengerti oleh pembaca Yunani seperti misalnya Maranatha (Mar=Master, Marana=Our Master, Maranatha = "Our Master comes!").



Kebiasaan seperti ini, yakni menulis surat dalam bahasa Aramaik untuk diantarkan kepada jemaat-jemaat di kota lain dalam bahasa-bahasa lokal, sampai hari ini masih dipelihara oleh Patriach Holy Catholic Assyrian Church of The East (Gereja Suryaya Timur) yang berkedudukan di Irak. Keberadaan Gereja Suryaya Timur ini dapat ditelusuri berasal dari zaman para rasul. Sampai hari ini mereka terus memelihara Alkitab mereka yang ditulis dalam bahasa Aramaik Timur. Kita mengenalnya sebagai Peshitta yang secara harfiah artinya "sederhana", sederhana karena jelas ia tidak memerlukan proses penerjemahan.



Alkitab Teks Semitik Pada Masa Kini


Sayangnya pengetahuan akan hal ini tidak dimiliki oleh para pengajar Kristen yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Kristen dari Barat (Eropa). Mereka mengira bahwa satu-satunya manuskrip Perjanjian Baru yang ada di dunia ini hanya manuskrip Yunani. Di bawah saya kutip salah satu posting mail dari seorang pengajar Kristen senior:



"...Alkitab Perjanjian Baru ditulis aslinya dalam bahasa Yunani Koine. Tidak satupun naskah Perjanjian Lama dalam bahasa Aram atau Ibrani yang ditemukan tetapi ribuan naskah bahasa Yunani dengan mudah ditemukan."



Ia tidak mengetahui bahwa sedikitnya kita mempunyai empat versi Perjanjian Baru dalam bahasa Semitik yang merupakan turunan dari teks Semitik yang asli: Injil Matius dalam bahasa Ibrani versi Shem Tov dan DuTillet, Empat Injil dalam bahasa Aramaik versi Old Syriac Aramaic, Wahyu dalam bahasa Aramaik versi Crawford dan Perjanjian Baru Peshitta dalam bahasa Aramaik. Yang terakhir ini digunakan secara luas oleh Gereja Suryaya Timur.



Teks Yunani Merupakan Terjemahan Dari Teks Semitik


Berikut ini adalah kutipan dari pakar-pakar linguistik yang mendalami soal orginalitas Perjanjian Baru:



...certain linguistic proofs... seem to show that the Hebrew text [DuTillet] underlies the Greek, and that certain renderings in the Greek may be due to a misread Hebrew original. (An Old Hebrew Text of St. Matthew's Gospel; 1927, p. 17)



...this Gospel of St. Matthew [Old Syriac] appears at least to be built upon the orginal Aramaic text which was the work of the Apostle himself. (Remains of a Very Ancient Recension of the Four Gospels in Syriac;1858;p. vi)



When we turn to the New Testament we find that there are reasons for suspecting a Hebrew or Aramaic original for the Gospels of Matthew, Mark, John and for the apocalypse. (Hugh J. Schonfield; An Old Hebrew Text of St. Matthew's Gospel; 1927; p. vii)



The material of our Four Gospels is all Palestinian, and the language in which it was originally written is Aramaic, then the principle language of the land... (C. C. Torrey; Our Translated Gospels; 1936 p. ix)



Mereka semua sepakat bahwa teks-teks Semitik di atas bukan merupakan terjemahan dari teks Yunani tetapi sebaliknya merupakan sumber bagi teks Yunani itu sendiri. Hal ini antara lain dibuktikan dengan banyaknya idiom-idiom Aramaik yang salah diterjemahkan ke dalam teks Yunani (Sumber: On announcement of The Hebraic Roots Version New Testament, James Trimm).



Beberapa Contoh Ketidak-Akuratan Terjemahan PB


Berikut ini saya mencoba menyajikan contoh-contoh yang sederhana dimana sebuah kalimat di dalam Perjanjian Baru terbaca janggal di dalam bahasa Yunani, tetapi baru menjadi masuk akal jika kita membacanya dalam bahasa Ibrani dan Aramaik.



KIS 11:27-30



"Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia. Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa SELURUH DUNIA bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius. Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam DI YUDEA. Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus."



Ayat di atas menimbulkan kejanggalan, mengapa orang-orang di Antiokhia mengirimkan bantuan kepada orang-orang DI YUDEA padahal SELURUH DUNIA sedang ditimpa bahaya kelaparan. Mereka tentunya juga sedang menghadapi bahaya kelaparan.



Solusinya terletak pada kata DUNIA yang digunakan dalam manuskrip Aramaik adalah A'RA (Strong's #772) yang merupakan bentuk Aramaik dari kata Ibrani ERETZ (Strong's 776). Kata ini dapat diartikan sebagai "dunia" (seperti dalam Amsal 19:4), "bumi" (seperti dalam Dan 2:35) atau "tanah" (seperti dalam Dan 9:15) dan sering digunakan sebagai eufemisme untuk "Negeri Israel" (seperti dalam Dan 9:6). Jelas bahwa kata ini disini tidak dimaksudkan sebagai "dunia" tetapi "Negeri Israel".



MAT 26:6 = MRK 14:3



"Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta,..."



Kita ketahui bahwa penyandang kusta tidak diperbolehkan menetap di dalam kota (lihat Ima 13:46). Karena bahasa Ibrani dan Aramaik kuno ditulis tanpa huruf hidup, maka tidak ada perbedaan antara kata Aramaik GAR'BA (kusta) dan GARABA (pembuat atau penjual buli-buli pualam). Karena kisah tersebut menceritakan tentang seorang wanita membawa buli-buli pualam, maka amat jelas bahwa Simon adalah seorang penjual atau pembuat buli-buli, bukan seorang penyandang kusta.



MAT 19:24 = MRK 10:25 = LUK 18:25



"..., lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Elohim."



Kata "unta" dalam teks Aramaik adalah GAMLA yang dapat berarti "unta" tetapi juga dapat berarti "tali tambang". Dalam perkataan ini tentunya yang dimaksud oleh Yeshua adalah "tali tambang".



Kesalahan-kesalahan remeh ini sebenarnya membuktikan dengan sangat jelas dan tidak terbantahkan bahwa teks Yunani yang dipakai sekarang merupakan hasil terjemahan dari teks asli yang berbahasa Semitik.



Terjemahan Buruk Menjadi Alat Pembenaran Teologi Yang Keliru


Contoh-contoh ketidak-akuratan terjemahan di atas merupakan hal yang remeh yang tidak menghasilkan akibat yang signifikan. Tetapi marilah saya tunjukkan dua dari contoh terjemahan yang buruk yang dipakai sebagai pembenaran terhadap teologi yang keliru.



YOH 1:17



For the law was given by Moses, but grace and truth came by Jesus Christ. (John. 1:17 King James Bible Version)



Jika anda mempunyai KJV, tolong perhatikan kata "but" adalah dalam cetak miring. Kata-kata yang dicetak miring di dalam KJV adalah kata-kata yang ditambahkan oleh penerjemah. Biasanya ditujukan supaya menghaluskan terjemahan sehingga terdengar "enak" dalam bahasa Inggris. Akan tetapi pada ayat-ayat tertentu (seperti ayat di atas), bias penerjemah sangat jelas terlihat. Jika kita belajar dan percaya bahwa tidak ada pertentangan antara "hukum Taurat" dan "kasih karunia" maka tidak ada alasan bagi kita untuk menempatkan kata "but" disini. Kata "and" seharusnya lebih cocok di dalam konteks ini kecuali kalau kita masih menganut teologi anti-Taurat. Dan sesungguhnya di dalam teks kuno Aramaik "Old Syriac", Yoh 1:17 tertulis sebagai berikut:



"in that the Torah through Moshe was given, and grace and truth through Yeshua the Messiah came to pass." (John 1:17 dari teks Aramaik "Old Syriac")



EFE 2:15



"Having abolished in his flesh the enmity, even the law of commandments contained in ordinances" (Ephesus 2:15a King James Bible Version)



Perhatikan kata "even " dan "contained" di dalam KJV adalah dua kata yang ditambahkan untuk memberikan arti terhadap teks Yunani dari ayat tersebut. Tanpa kedua kata tersebut, teks Yunani yang ada akan sulit dimengerti. Akan halnya, di dalam teks Aramaik hal ini tidak terjadi. Kata kerja pasif "ditiadakan" (abolished) dalam teks Aramaik adalah dalam bentuk singular sehingga tidak mungkin mempunyai dua subyek. Jadi yang ditiadakan adalah hanya rasa permusuhan. Anak kalimat berikutnya merupakan sebuah klausa dalet yang dapat diartikan "of", "that", "which", atau "because". Dalam ayat ini artinya adalah "because" seperti halnya dalam Daniel 3:29, 4:9, 6:3, 23 dan 7:11 sehingga kemudian dapat diterjemahkan menjadi:



"Dan rasa permusuhan telah ditiadakan, dengan jadinya Ia sebagai manusia dan dengan hukum Taurat, karena perintah di dalam ketetapan-Nya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera." (Efesus 2:15 dari teks Aramaik)



Penutup


Berikut ini kata pengantar dari Kitab Kebijaksanaan Yesus Ben-Sirakh (c. 200-100 BCE) yang terdapat di dalam Deuterokanonika:



"Para pembaca dipersilakan mengadakan pembacaan karangan ini dengan rela hati dan penuh minat, lagi pula menaruh kemurahan hati, andai kata kami sendiri, meskipun sedapat-dapatnya mengusahakan terjemahannya, kurang teliti menyalin beberapa kalimat. Sebab sesuatu tidak sama daya artinya kalau dibaca dalam bahasa aslinya, yaitu Ibrani, atau diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Dan tidak hanya karangan ini saja, tetapi juga Taurat sendiri, para nabi dan kitab-kitab lain itu tidak kecil perbedaannya, apabila orang membaca dalam bahasa aslinya." (Sir 1:1)



Kutipan dari pengantar Kitab Yesus bin Sirakh, yang menyinggung proses penerjemahan buku tersebut dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Yunani. Sekaligus dinyatakan manfaat membaca Alkitab dalam bahasa aslinya, karena setiap terjemahan - walaupun seteliti mungkin - tidak dapat mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam aslinya tanpa perbedaan apapun. (Dikutip dari Pengantar Bahasa Ibrani, Dr. DL Bakker)



Kesimpulan


Bahasa yang dipakai untuk menyusun Perjanjian Baru adalah bahasa Aramaik-Hebrew dialekto yang dipakai oleh masyarakat Yahudi pada masa itu. Dari bahasa ini kemudian kelak diusahakan terjemahan-terjemahan ke dalam bahasa-bahasa lain. Dalam suatu proses penerjemahan, bukan tidak sedikit terjadi perbedaan daya arti antara bahasa sumber dan bahasa target. Oleh sebab itu untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap apa yang disampaikan oleh para penulis Perjanjian Baru, penulis menyarankan untuk memakai Alkitab dalam bahasa aslinya, Ibrani. Semoga tulisan ini bermanfaat.



Copyright © 2001 Nazarenes Community. www.angelfire.com/id/nasrani. This material can be reproduced without obligation but no editing is allowed. Any contact should be addressed to nazarenes @ angelfire.com. May peace be upon you.

Tanggapan Smile

(1) Perkenankanlah saya lebih dahulu menyatakan diri sebagai “bukan seorang ahli”, sehingga sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagaimana Anda harapkan.
(2) Namun karena saya merasa berkepentingan dan terlibat dalam materi terkait, maka dengan ini saya akan sampaikan beberapa hal.
(3) Artikel ini sumber aslinya merukan pendahuluan dari “A Collection of Evidence Supporting Original Hebrew Aramaic New Testament” by James Trimm
(4) Detail info mengenai artikel ini pada penerapannya untuk mengritisi Alkitab dapat diunduh melalui alamat www.nazarene.net/hantr...xtcom.pdf.
(5) Dengan dasar itulah James Scott Trimm kemudian menyusun Alkitab yang di claim berasal dari sumber Ibrani-Aramaic. Sampel untuk Genesis dan Matius bisa diunduh bebas (sayang saya lupa alamatnya, barangkali juga dari alamat di atas).
(6) Artikel ini jelas-jelas tidak netral dalam arti melawan anggapan para teolog umumnya yang menyatakan bahwa satu-satunya sumber otentik PB adalah PB Greek termasuk Sdr. Bambang Noorseno.
(7) Berdasarkan info J. Trimm tsb. dan data-data Dead Sea Scroll, Septuaginta serta referensi lain yang saya miliki itulah saya menjawab artikel yang dimuat oleh Sdr. Bambang Noorseno dalam Forum dialog dengan Pdt. Yakub Sulistyo, yang sejak Januari lalu belum memberi respon atas tanggapan saya terakhir. Silakan cek lagi jika Anda berminat mengujinya.
(8) Harapan Anda agar Sdr. Bambang Noorseno mau menanggapi mudah-mudahan terkabul. Dalam hal ini saya menunggunya pula.
(9) Tanggapan saya yang berdasarkan pada Artikel yang Anda upload ini juga saya pakai untuk menanggapi artikel Sdr. Herlianto, yang saat ini sedang digarap untuk di upload di Yabinet.
(10) Seperti Anda saya juga berharap munculnya seseorang yang mau menanggapi Artikel ini, khususnya justru yang menolaknya, sebab saya sudah tidak mungkin netral lagi dan ingin menguji kebenarannya.
(11) Jika Anda menyatakan diri netral, itu karena Anda belum meghayatinya. Jika sudah pastilah Anda akan suatau ketika dipaksa untuk berdiri di satu pihak, menolak atau menerimanya.
(12) Terima kasih atas hadirnya Artikel ini, saya tidak bisa menawarkan apa-apa, namun jika Anda ingin berdiskusi silakan sebutkan saja permasalahannya agar bisa didiskusikan secara akurat tidak menyimpang kemana-mana.
Best wishes, YBU
Kristian H. Sugiyarto
Staf Pengajar Kimia FMIPA UNY
kristiansugiyarto @ yahoo.com
HP. 08157935534
Back to top
View user's profile
Display posts from previous:   
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index -> Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum



Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Hotline kami di 08883023916 bila Anda ingin info lebih lanjut mengenai pelayanan SALIBNET MINISTRIES atau bila Anda membutuhkan pelayanan kami.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.