salib.net - Mewartakan Salib dari Golgota



· Taruh di Home Page

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: agus.soetopo
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 1525

People Online:
Members: 0
Visitors: 6
Bots: 2
Staff: 0
Staff Online:

No staff members are online!
Last 10 Forum Messages

Buku2 pengajaran iman Kristen yg ditulis oleh: Denny Teguh S
Last post by Denny in Lainnya on May 18, 2012 at 01:28:12

Buku: "BAHASA LIDAH: MASIH ADAKAH?" (Denny Teguh S.)
Last post by Denny in Lainnya on Apr 18, 2012 at 00:13:58

Renungan Paskah 2012: TUHAN YESUS TELAH BANGKIT! (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 08, 2012 at 02:52:50

Renungan Jumat Agung 2012: KEMATIAN SANG ANAK ALLAH (Denny)
Last post by Denny in Belajar Alkitab on Apr 05, 2012 at 00:14:12

Get my new book: GENERASI TUA VS GENERASI MUDA (Denny T. S.)
Last post by Denny in Lainnya on Mar 18, 2012 at 02:07:53

Paskah Akbar Surabaya 2012
Last post by Denny in Agenda Kita on Mar 18, 2012 at 02:01:33

Tantangan Untuk Beritakan Injil di Wilayah Timur Tengah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Mar 17, 2012 at 12:58:39

Diresmikan, Syarat Dapat Gelar S1 Harus Publikasi Ilmiah
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 07:08:29

Suka duka jadi anak jenius
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 28, 2012 at 06:41:05

Kemampuan Pelajar Asia Timur, 3 Tahun Diatas Negara Maju
Last post by mawarmerahmuda in Lainnya on Feb 22, 2012 at 18:59:09

We have received
5086873
page views since
April 2004

Mewartakan Salib dari Golgota

Copy and paste the text below to insert the button displayed above on your site. Thanks for your support!

Forum dan Diskusi > > Khusus > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA > > Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad
Result

Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad
Bila Anda mengkuti peristiwa yang terjadi terakhir ini, Anda pasti tahu atau mendengar nama "Yakub" atau lebih lengkapnya Pdt. Yakub Soelistio. Beliaulah yang dituduh menjadi "sumber" dari merebaknya berita tentang 'surat Mubaligh'. Untuk mengklirkan persoalan ini Pdt. Yakub bersedia berdiskusi khusus dengan umat Kristiani di mana saja berada. Jadi di sini Pak Yakub sendiri bersedia menjawab dan menanggapi setiap pertanyaan Anda. Berdiskusilah dengan dipenuhi kasih Allah. Untuk topik ini Anda mendaftar dulu sebagai member salib.net.
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index > > Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Anas
Newbie
Newbie


Joined: Nov 08, 2004
Posts: 11

PostPosted: Sun Nov 21, 2004 3:24 am    Post subject: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

Beberapa hari lalu, seorang teman dari komunitas jurnalis Kristen meminta saya untuk turut dalam perdebatan soal nama Allah. Terus terang, saya malas. Mengapa? Karena saya sangat mengenal “kaum penentang Allah” itu, pola pikir mereka “hitam putih”, main kutip ayat-ayat Alkitab secara harfiah terlepas dari konteks (mirip dengan “metode ayat bukti” a la bidat Saksi-saksi Yehuwa), dan kekurangan paling serius mereka, tidak menguasai filologi bahasa-bahasa semitis, khususnya keserumpunan bahasa Ibrani, Aram dan Arab.

Karena itu, saya anggap enteng saja gerakan mereka itu. Tetapi setelah melihat sepak terjang mereka semakin ngawur, hantam kromo, dan lebih penting lagi agaknya mereka didukung oleh dana yang cukup besar, saya harus belajar telaten menulis untuk menjelaskan kaum awam dalam bahasa Arab itu. Tulisan singkat ini, kiranya dapat membatu umat Kristiani di Indonesia yang “sedang diombang-ambingkan oleh penga-jaran mereka”.

Kelanjutannya silahkan lihat di www.iscs.or.id/modules...amp;sid=28
Back to top
View user's profile Visit poster's website
kepikbiru
Newbie
Newbie


Joined: Nov 08, 2004
Posts: 18

PostPosted: Sun Nov 21, 2004 1:53 pm    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

Anas = Bambang Noorsena yah ?
Well written article, nicee
Back to top
View user's profile
eirena
Newbie
Newbie


Joined: Nov 21, 2004
Posts: 7

PostPosted: Sun Nov 21, 2004 9:22 pm    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

kepikbiru wrote:
Anas = Bambang Noorsena yah ?
Well written article, nicee


Anas bukan Bammbang Noorsena, tetapi salah satu pengurus iscs surabaya dan pengelola website iscs. Pak Bambang mengirimkan tulisannya ke anas, dan anas meneruskannya ke www.salib.net
Back to top
View user's profile
wijaya
Newbie
Newbie


Joined: Oct 07, 2004
Posts: 32

PostPosted: Wed Nov 24, 2004 2:45 pm    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

eirena wrote:
kepikbiru wrote:
Anas = Bambang Noorsena yah ?
Well written article, nicee


Anas bukan Bammbang Noorsena, tetapi salah satu pengurus iscs surabaya dan pengelola website iscs. Pak Bambang mengirimkan tulisannya ke anas, dan anas meneruskannya ke www.salib.net
kalo eirene itu siapa ya? timnya pak Bambang? Kalau iya, sampaikan salam dari semua umat Kristen di Indonesia. Artikel2nya jadi berkat. oh ya kalau bisa nimbrung dong di sini. GBU.
Back to top
View user's profile
eirena
Newbie
Newbie


Joined: Nov 21, 2004
Posts: 7

PostPosted: Thu Nov 25, 2004 8:06 am    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

wijaya wrote:
eirena wrote:
kepikbiru wrote:
Anas = Bambang Noorsena yah ?
Well written article, nicee


Anas bukan Bammbang Noorsena, tetapi salah satu pengurus iscs surabaya dan pengelola website iscs. Pak Bambang mengirimkan tulisannya ke anas, dan anas meneruskannya ke www.salib.net
kalo eirene itu siapa ya? timnya pak Bambang? Kalau iya, sampaikan salam dari semua umat Kristen di Indonesia. Artikel2nya jadi berkat. oh ya kalau bisa nimbrung dong di sini. GBU.



Saya salah satu dari sekian banyak simpatisan ISCS Bali, dan menjadi anggotanya. Baik nanti akan saya sampaikan salamnya ke Pak Bambang yang masih tinggal di Kairo melalui email. Memang kami yang meminta beliau untuk menulis untuk menanggapi kontroversi Allah supaya ada perimbangan pemikiran dari sudut pandang Kristen Arab. Salut untuk Salibnet.
Back to top
View user's profile
Yakub
Newbie
Newbie


Joined: Nov 06, 2004
Posts: 52

PostPosted: Fri Dec 10, 2004 6:36 pm    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

Anas wrote:
Beberapa hari lalu, seorang teman dari komunitas jurnalis Kristen meminta saya untuk turut dalam perdebatan soal nama Allah. Terus terang, saya malas. Mengapa? Karena saya sangat mengenal “kaum penentang Allah” itu, pola pikir mereka “hitam putih”, main kutip ayat-ayat Alkitab secara harfiah terlepas dari konteks (mirip dengan “metode ayat bukti” a la bidat Saksi-saksi Yehuwa), dan kekurangan paling serius mereka, tidak menguasai filologi bahasa-bahasa semitis, khususnya keserumpunan bahasa Ibrani, Aram dan Arab.

Karena itu, saya anggap enteng saja gerakan mereka itu. Tetapi setelah melihat sepak terjang mereka semakin ngawur, hantam kromo, dan lebih penting lagi agaknya mereka didukung oleh dana yang cukup besar, saya harus belajar telaten menulis untuk menjelaskan kaum awam dalam bahasa Arab itu. Tulisan singkat ini, kiranya dapat membatu umat Kristiani di Indonesia yang “sedang diombang-ambingkan oleh penga-jaran mereka”.

Kelanjutannya silahkan lihat di www.iscs.or.id/modules...amp;sid=28



Tanggapan atas tulisan Sdr. Bambang Noorseno

(BN) :Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad
Beberapa hari lalu, seorang teman dari komunitas jurnalis Kristen meminta saya untuk turut dalam perdebatan soal nama Allah. Terus terang, saya malas. Mengapa? Karena saya sangat mengenal "kaum penentang Allah" itu, pola pikir mereka "hitam putih", main kutip ayat-ayat Alkitab secara harfiah terlepas dari konteks (mirip dengan "metode ayat bukti" a la bidat Saksi-saksi Yehuwa), dan kekurangan paling serius mereka, tidak menguasai filologi bahasa-bahasa semitis, khususnya keserumpunan bahasa Ibrani, Aram dan Arab.

Tanggapan (KS) :Anda boleh membanggakan diri karena lingkungan Anda di sekitar Timur tengah. Kami berterima kasih malahan bisa belajar dari Anda. Saya tidak terlalu silau, sebab saya dapat mengerti kesaksian Alkitab bahwa mereka yang hidup di sekitar Yahshua (Yesus) se-desa saja banyak yang tidak bisa memahami ajaran-Nya. Bahkan Murid-murid Yahshua yang “konon” mengalami peristiwa Pentakosta saja terpaksa mengadakan sidang raya di Yerusalem tentang pertanggungjawaban babtisan Kornelius oleh Petrus yang tadinya juga ragu-ragu melakukannya sampai dengan adanya “penglihatan” khusus. Nah, hal ini bisa menimpa siapa saja termasuk Anda juga. Penuntun kami memang ayat-ayat Alkitab dan inilah yang memang dibaca dan ditafsir setiap kita belajar memahaminya termasuk belajar memahami nama Yahweh dengan segala perintah-perintah-Nya. Terserah atas kesukaan Anda memberi julukan kepada pihak lain, kami tidak akan berubah menjadi sebagaimana yang Anda julukkan. Menurut etika komunikasi umum, pemberian julukan yang tidak dikehendaki, dapat dipertimbangkan sebagai pelecehan atau pencemaran nama baik. Namun kami tidak merasakan itu, karena kami memiliki hikmat yang dari Yahweh.

(BN). Karena itu, saya anggap enteng saja gerakan mereka itu. Tetapi setelah melihat sepak terjang mereka semakin ngawur, hantam kromo, dan lebih penting lagi agaknya mereka didukung oleh dana yang cukup besar, saya harus belajar telaten menulis untuk menjelaskan kaum awam dalam bahasa Arab itu. Tulisan singkat ini, kiranya dapat membatu umat Kristiani di Indonesia yang "sedang diombang-ambingkan oleh penga-jaran mereka".

Tanggapan (KS) : Menurut saya yang main hantam kromo adalah LAI yang antara lain menerjemahkan kyrios menjadi Tuhan. Memang dana besar sangat dibutuhkan; itulah sebabnya kami cukup sulit mempublikasikan dalam bentuk Alkitab. LAI tanpa dukungan dana (subsidi) jelas akan rugi mencetak Alkitab dengan harga jual yang terjangkau. “Ngawur” atau “kurang cerdas” atau terserah julukan sejenis apa yang Anda berikan kepada kami bukan ditentukan oleh penilaian Anda, melainkan ditentukan oleh isi argumentasi dan analisisnya. We are quite sure about this matter.

(BN) Asal-usul Allah: Tinjauan dari Bahasa Arab
Kalau dr. Suradi mula-mula, -- sebagaimana banyak artikel-artikel polemik Kristen terbitan Amerika, -- menyangkal sama sekali bahwa istilah Allah cognate dengan El, Eloah, Elohim (Ibrani) dan Elah, Alaha (Aram/Suryani), kini para penerusnya mencoba memisahkan antara kata-kata ilah (sembahan), alihat, (sembahan-sembahan) dan al-Ilah (sembahan itu, sembahan yang benar) yang se-rumpun dengan istilah el, eloah, elohim dengan Allah yang dianggapnya "nama dari dewa Arab yang mengairi bumi". Allah, yang dianggapnya sebagai nama "dewa air", dirujuknya dari artikel Wahyuni Nafis, dalam bunga rampai The Passing Over: Melintas Batas Agama, menjadi dasar penolakannya terhadap penggunaan kata Allah dalam Alkitab Kristen di Indonesia.
Untuk meneguhkan pembedaan antara ilah, alih-ah, dan al-Ilah dengan Allah, Teguh Hendarto lalu menyangkal bahwa istilah Allah berasal dari al-Ilah (Bahana, Maret 2001). Menurut argumentasinya yang sangat awam mengenai bahasa Arab, ia menulis kalau al-Ilah dapat disingkat menjadi Allah, mengapa Alkitab tidak menjadi Altab? Untuk itu saya harus menjelaskannya secara sabar, karena mungkin ia tidak bisa membaca sepotongpun huruf Arab, meski gayanya yang kelewat percaya diri seolah-olah mau menggurui saya.
Begini, pada prinsipnya sebuah kata dalam bahasa-bahasa semitik dibentuk dari akar kata (al-jidr) yang biasanya terdiri dari 3 konsonan. Akar kata itu bisa dipecah-pecah menjadi kata benda, kata sifat, kata kerja dan kata benda baru. Misalnya, kitab dari kata k-t-b. Dari akar kata ini, lalu dibentuklah menjadi banyak kata: kata benda, kata kerja, dan sebagainya. Dari akar kata k-t-b kita dapat menemukan kata-kata sebagai berikut: kitaab (buku), kaatib (penulis), maktabah (perpustakaan), maktub (tertulis, termaktub), uktub (tulislah!), dan seterusnya.
Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (‘-l-h). Dari akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi dalam bahasa Ibrani atau Aram.
Selanjutnya, memisahkan sebutan Allah dari Ilah, al-Ilah juga tidak bisa dipertahankan. Sebab ahli bahasa Arab, baik dari kalangan Islam maupun Kristen, juga banyak yang menganggap bahwa sebutan Allah itu musytaq atau dapat dilacak asal-usulnya dari kata lain. Jadi, tidak benar anggapan kaum penentang Allah itu yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Memang, ada penerjemah al-Qur’an yang berpandangan demikian, misalnya terjemahan Abdallah Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Quran.

Tanggapan (KS) : Pola berpikir Anda ini jelas jauh dari nilai ilmiah; jelas ada dua “pendapat” koq terus membenarkan pendapat yang sealiran dan menyalahkan pendapat yang lain. Tegasnya di kalangan Islam sendiri kan jelas ada perbedaan pendapat. This is the fact. Pendapat Anda perihal asal-usul kata Allah memang considerably accepted, masuk akal, tetapi ingat ini teori bukan the fact. Faktanya yaitu ada kata Ilah, al-Ilah, dan Allah. Berkacalah pada Teori Evolusi C, Darwin. Evolusi itu teori bukan the fact; memang sangat masuk akal. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa faktanya kerangka fosil monyet serumpun dengan manusia, kemudian Darwin membangun teori evolusi yang menyatakan bahwa manusia diduga kuat berasal dari evolusi monyet! Be carefull if you want to be a scientist. OK!. Pendapat Anda yang memaksakan bahwa Allah itu dari Al-ilah, sama sekali tidak punya dasar pemahaman. Tata Bahasa Arab yang benar dan itu membuktikan Anda perlu belajar lagi. Al itu memang dapat berarti atau sama dengan “The” dan Ilah itu mufrod yaitu satu sesembahan / satu dewa / satu tuhan, tapi jangan main hantam kromo dengan mengatakan bahwa “Allah” itu dari Al-ilah!. Sebab kalau dua illah / tuhan itu namanya Ilahaani ( mutsannah ) sedangkan lebih dari dua illah itu disebut jamak taktsir sehingga menjadi aalihah. Contohnya : Alkitab itu Mufrod, dua kitab itu Alkitabaani (mutsannah), sedangkan kalau lebih dari dua kitab disebut jamak taktsir sehingga menjadi Alkutub. Contoh lain lagi: Alkursi ( satu kursi / mufrod ) kalau dua Kursi menjadi Alkursiaani ( mutsannah ), sedangkan kalau lebih dari dua kursi menjadi Alkaroosi (jamak taktsir). Perlu diketahui, bahwa dalam tata bahasa Arab / Annahwu wa shorfu jamak itu terbagi menjadi tiga yaitu Jamak Mudzkarsalim, contohnya : Almuslimuuna (orang islam laki2 banyak), kedua Jamak Muannassalim, contohnya: Almuslimaat (orang perempuan banyak), ketiga Jamak taktsir, contohnya tadi sudah diuraikan d iatas. Sedangkan “ALLAH” secara etimologi terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua. Kata “ALLAH” adalah ghairu musytag (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain - jadi jangan dibalik donk), karena kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jamak (plural). Demikian pula kata ini tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf. Kata “ALLAH” juga disebut sebagai isim murtajal, maksudnya kata “ALLAH” adalah nama asal bagi Dzat Yang wajib ada. Jadi tidak pernah ada dua Allah (Allahaani) atau banyak Allah (jamak) .... mana ada????!.
Kalau ilah memang bisa diberi Alif Lam (AL) sedangkan Allah tidak bisa diberi Alif Lam sehingga menjadi AlAllah. Karena kalau ilah itu belum diketahui (gelar) ... ilah yang mana???, sedangkan Allah sudah diketahui karena itu nama pribadi. Contoh: Muhammad tidak bisa menjadi Al Muhammad. Ilah bisa diartikan dewa sedangkan Allah tetap Allah (Kamus Indonesia-Arab-Inggris, Abd. Bin Nuh dan Oemar Bakry, cetakan ke 8 Th. 1993, Mutiara Sumber Widya – Jkt Halaman 76).

(BN) Jadi, tidak semua umat Islam berpandangan bahwa istilah Allah itu ghayr al-musytaq (tidak berasal dari kata lain, karena dianggap "the proper name"). Sama seperti "kaum penentang Allah" yang menganggap Yahweh tidak bisa diterjemahkan, begitu juga di kalangan Islam ada yang berpandangan seperti itu. Pdt. Jacob Sulistiono mengutip majalah Islam Sabili, yang memuat tulisan seorang Muslim yang menganggap bahwa Allah itu tidak bisa diterjemahkan, tetapi itu tidak mewakili pendapat seluruh umat Islam di dunia. Bahkan di kalangan Islam sendiri, Sabili sering dianggap mewakili kelompok Islam garis keras, setali tiga uang dengan "kaum penentang Allah", minimal dalam pandangan teologisnya yang sama-sama "hitam putih" itu.

Tanggapan (KS) : Inilah tipe orang yang emosional dalam diskusi ilmiah. Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti, dan sebaliknya Anda juga bersikeras bahwa Nama Yahweh bisa diganti. Sama-sama keras kan! Jadi jangan gunakan istilah ini karena ini bukan bagian dari academic culture. Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi / mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority. Yahweh memberi nama bagi diri-Nya sendiri (Yer 32: 20), manusia memberi nama-nama binatang, orang tua memberi nama anak-anaknya, Yahweh mengganti nama Abram menjadi Abraham (Kej.17:5) dan Sarai menjadi Sarah (Kej. 17:15), Yahweh memberi nama Anak-Nya Yahshua (melalui malaikat-Nya), Pemimpin Pegawai Istana Babel mengganti nama tawanannya, Daniel (yang artinya Elohim adalah hakimku) menjadi Beltsazar (nama Babilonian, yang artinya Bel atau Marduk melindungi hidupnya; Bel = Marduk = nama pemimpin berhala Babil), … dst. Mereka yang memberi atau mengganti nama ini mempunyai wewenang terhadap oknum yang diberi / diganti nama. Anda (dan kelompok sejenis) bertindak justru mengganti nama Yahweh menjadi LORD, GOD, TUHAN, ALLAH, dst. When and how did you get the such authority to do so? Apakah ini karena ilmu Anda yang merasa mahir bahasa semitik kemudian berhak mengganti nama Yahweh?. Menurut saya ini adalah tindakan sangat-sangat lancang. “I am Yahweh, that is My name; and My glory I will not give to another, nor My praise to carved images” (Yes. 42:28 – NKJV).

(BN) Salah satu diantara terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang
menerje-mahkan istilah Allah, misalnya silahkan membaca: The Massage of the Qur’an, oleh Muhammad Asad. Dalam terjemahan yang cukup otoritatif di dunia Islam Barat ini, ungkapan: Bismillahi Rahmani Rahim diterjemahkan: "In the Name of God, The Most Grocious, The Dispenser of Grace".
Memang, Sabili dalam salah satu terbitannya pernah menguraikan bahwa secara etimologis, kata Allah yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha' dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua) adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain). Karena itu, kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama' (plural). Demikian pula kata ini tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf. Jacob Sulistiono mengutip ini, saya yakin ia sendiri tidak mengerti apa itu bentuk mutsanah, jama’ atau mudhaf dalam bahasa Arab.
Harus saya jelaskan sekali lagi, padangan Sabili sama sekali tidak bisa dianggap representatif mewakili Islam. Banyak ulama Islam terkemuka yang berpandangan sebaliknya. Contohnya, kita bisa membaca kitab yang sangat terkenal di dunia Arab, al-Mu’jam al-Mufahras, yang menempatkan kata Allah tersebut di bawah heading (judul): hamzah, lam, haa ( ‘-l-h). Mengapa? Karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, sehingga Al- bisa hilang dalam kata: wallahi, bi-lahi, lil-lahi, dan sebagainya. Misalnya, pada kalimat Alhamdu lil-lah (segala puji bagi Allah), lil-lahi ta’ala (karena Allah Yang Maha Tinggi), kata sandang Al- di depan Allah juga dihilangkan.
Sedangkan kata Allah tidak bisa dijumpai dalam bentuk ganda dan jamak, secara historis dibuktikan karena kata sandang al- yang mendahului kata ilah, muncul untuk menegaskan: ilah itu, yang sudah mengandung makna pengkhususan. Maksudnya, bisa berarti Dia adalah ilah yang paling besar, sedangkan ilah-ilah lain berada di bawahnya, seperti dianut kaum Mekkah pra-Islam, seiring dengan pergeseran dari paham politeisme menuju henoteisme. Sebaliknya, bisa juga berarti "ilah satu-satunya, yang tidak ada ilah selain-Nya". Makna kedua ini, antara lain diberikan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, kaum Hanif pra-Islam di wilayah Arab untuk menegaskan Keesaan-Nya. Tradisi monoteisme inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Islam.
Selanjutnya, kata Allah memang tidak dapat dijadikan mudhaf, tetapi itu tidak berarti bahwa Allah itu nama diri. Sebab bukan hanya "nama diri" yang tidak bisa dijadikan mudhaf, tetapi setiap bentuk ma’rifah juga tidak bisa dijadikan mudhaf. Misalnya, kita berkata: Baitu al-Kabiiri (Rumah yang besar itu). Kata baitu dalam kalimat ini adalah "mudhaf", sedangkan al-kabiiri adalah "mudhaf ilaih". Tetapi kalau kita tambahkan al- sebelum bait, misalnya: al-baitu kabiirun (Rumah itu besar). Jadi, maknanya berbeda. Mengapa? Karena al-bait disini menjadi mubtada’ (subyek), bukan mudhaf lagi, sedangkan kabiirun adalah khabar (predikat).

Tanggapan (KS) : Ini penjelasan sangat bagus, mudah-mudahan semua pemahaman Islam demikian juga; namun kami menginginkan terjemahan Alkitab dari Ibrani aslinya ke dalam bahasa Indonesia, dengan menghindari title yang pernah dipakai sebagai title berhala bagi Nama Yahweh.

(BN) Metode "debat Kusir" dan "Logika
Jungkir Balik" Penentang Allah
Saya sangat paham apabila LAI selama ini tidak pernah menggubris tuntutan kelompok sempalan ini, yang menuntut agar dalam Alkitab bahasa Indonesia dihilangkan kata Allah. Mengapa? Anda baru mengetahui alasannya, kalau anda mengikuti metode "debat kusir" dan "logika jungkir balik" mereka. Saya sekedar mengulang beberapa contoh:
Mula-mula mereka menuduh Allah itu "dewa air" berdasarkan beberapa rujukan yang mereka anggap mendukung, bahwa Allah pernah disembah bersama dewa-dewa kafir Mekkah pra-Islam. Tuduhan ini lalu saya tanggapi, Pertama: berdasarkan inkripsi-inskripsi Arab Kristen pra-Islam, yaitu Zabad (521 M) dan Umm al-Jimmal (perte-ngahan abad ke-6 M) bahwa Allah sudah dimaknai secara monoteistik Kristen, lengkap dengan foto-foto inskripsi, bacaannya, ulasan para ahli filologi, dan perkembangannya di gereja-gereja Arab setelah Islam hingga zaman kita sekarang; dan kedua: berdasarkan inskripsi Kirbeth el-Qom dan Kunlitet Ajrud, yang ditemukan di wilayah Hebron, Yahweh pun juga pernah disembah bersama dewi kesuburan, Asyera.
Tanggapan saya ditanggapi balik. Pertama, bukti-bukti pemakaian Allah menurut inskripsi pra-Kristen itu, menurutnya tidak membuktikan keabsahan kata Allah, melainkan karena orang Arab Kristen tidak tahu asal-usulnya. Jadi, Hendarto sudah mempunyai praduga dulu, bahwa Allah itu "dewa air", "dewa bulan", "dewa matahari", atau dewa apapun Allah itu, ia tidak perduli, yang penting kata itu harus ditolak. Ia tidak menyelidiki dulu, bahkan buku Roberts Morrey, yang lebih merupakan karya polemik yang sangat provokatif anti-Islam itu, disebutnya sebagai "bukti archeologis?".
Padahal, dalam buku ini tidak ada pembahasan arkheologis sama sekali, kecuali berbagai sumber bacaan yang dirangkai-rangkai tanpa penelitian mendalam. Juga buku Steppen van Natan, Allah: Divine or Demonic, yang lebih menyerupai traktat tersebut, bagaimana "buku sampah" begini bisa disejajarkan dengan hasil penelitian Prof. Littmann, misalnya, yang meneliti inkripsi-inskripsi Arab pra-Islam itu sangat menda-lam, bahkan banyak ahli-ahli lain yang reputasinya tidak diragukan, yang telah menyerahkan hampir seluruh hidup mereka untuk penelitian ilmiah.
Jadi, mereka menolak kata Allah berdasarkan buku-buku para penginjil yang berangkat dari asumsi teologis "hitam-putih" dan sama sekali tidak mempunyai keahlian di bidang sejarah dan arkheologi. Tetapi ketika saya counter dengan bukti-bukti sejarah, dikatakannya "bahwa itu hanya statement manusia, yaitu orang Islam dan Kristen Arab, yang tidak korelasinya dengan Firman Tuhan dalam Alkitab". Komentar ini, mungkin disebabkan karena saya tidak banyak "main kutip ayat-ayat" seperti mereka. Maksud-nya, banyak ayat Alkitab mereka ajukan untuk mendukung anggapan mereka bahwa nama Yahwe tidak boleh diterjemahkan, sedangkan mereka mamahami nama ilahi itu sama seperti nama-nama makhluk-Nya. Untuk menunjukkan kedangkalan pemikiran mereka, silahkan baca artikel saya: "Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan?".
Kedua, kalau saya buktikan bahwa Yahwe juga pernah disembah bersama dengan dewi Asyera, dengan enteng ia mengatakan bahwa itu hasil sinkretisme di Israel pada zaman dahulu, tanpa secara fair juga menerapkan penilaian yang sama untuk kata Allah, bahwa istilah Arab ini juga diartikan secara salah oleh orang-orang Arab pra-Islam. Padahal bahasa itu netral, tergantung apa makna yang kita berikan. Inilah yang saya namakan motode "debat kusir" alias debat tukang dokar, dengan "logika jungkir balik" mereka itu.

Tanggapan (KS) :Semua sudah saya tanggapi pada tanggapan terdahulu. Namun perlu saya tambahkan bahwa Anda sendiri bersama-sama Pakar Islam yang sepakat bahwa ay. Al Qur’an (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 3) yang menyatakan bahwa “…. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. …. “ adalah untuk mengubah pemahaman “Allah” model politisme yang dianut pada zaman jahiliyah menjadi monotisme. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di Arab paham politeisme munculnya lebih tua dari monoteisme. Ini berarti bahwa kata “Allah” baik Anda selidiki asal-usulnya (cognate dengan El, Eloah, Elohim) atau tidak memang sudah muncul sebelum zaman Islam itu sendiri, dan kata “Allah” inilah yang diungkap dalam tulisan-tulisan (sebagai berhala/dewa) yang Anda anggap sebagai “buku sampah” tersebut. Ketika Anda menarik kesimpulan dengan mengabaikan umur kemunculan pemahaman kata “Allah” tersebut mencerminkan kualitas Anda seorang yang pandai mengemukakan fakta namun “misleading” dalam menyimpulkan; sebaiknya Anda belajar terus bagaimana menjadi seorang peneliti yang qualified. Siapa yang mengalami jungkir balik?

(BN) Yang lebih menggelikan lagi, Teguh Hendarto mengkoreksi terjemahan Alkitab al-Muqaddas (Today’s Arabic Version), terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut, yang saya kutip dalam makalah saya. Ungkapan Laa Ilaha illa Allah (Tidak ada Ilah kecuali Allah) yang tercatat dalam 1 Korintus 8:4, dengan gayanya yang menggurui, katanya terjemahan yang benar: Laa Ilaha al-Wahid. Ini bahasa Arab apa? Tidak ada artinya sama sekali, dan terang saja akan ditertawakan santri desa yang baru belajar Juzz Amma. Tetapi, ya itulah kualitas rata-rata kaum Penentang Allah itu. Semua ini saya ungkap di sini, karena gerakan mereka semakin gencar dan ngawur, seperti yang akan kita lihat di bawah ini.
Teguran Keras Mubaliq se-Indonesia:
Provokasi Opo maneh iki, Rek?
Sama ngototnya dengan Hendarto, kita juga dikacau oleh Pdt. Jacob Sulistyono, seorang penganut "sekte Yahweh" , yang lebih Yahudi ketimbang Yahudi sendiri, dalam perdebatannya di www.salib.net Banyak orang menduga, bahwa ia sendiri berada di belakang kasus "Surat Teguran Keras Mubaligh se-Indonesia", yang tidak jelas jun-trungannya itu. Menurutnya, Allah dalam Islam dan Yahwe dalam Kristen itu mutlak berbeda. "Umat Islam tidak suka orang Kristen menyebut Allah", tulisnya, "karena ada istilah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, sedangkan Islam percaya bahwa Allah itu tdk bisa disamakan dengan apapun". Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an yang menyebutkan sebagai berikut:
Qul huwa llaahu ahad. Allahush shamad. Lam Yalid wa lam yulad. Wa Lam Yakun lahu kufuwwan ahad. Artinya: "Katakanlah Dialah Allah Yang Esa. Allah, Dia adalah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 4).
Laqad kafar alladzina qaluu Innallaha huwa al-Masih ibn Maryam. Artinya: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih Putra Maryam" (Q.s. Al-Maaidah/5:17).
Dengan keterangan di atas, ia seolah-olah malah membenarkan bahwa Tuhan orang Kristen itu beranak dan diperanakkan. Padahal mestinya, sebagai orang yang mengaku pengikut Kristus, justru seharusnya ia menjelaskan kepada umat Islam bahwa istilah Putra Allah itu bukan dalam makna "beranak dan diperanakkan", bukan malah membenarkannya, sekedar demi mendukung penolakannya atas istilah Allah. Q.s. al-Ikhlas ditujukan untuk menolak keyakinan pra-Islam di Mekkah, bahwa Allah mempu-nyai anak-anak perempuan, yaitu al-Latta, Uzza dan Manah.

Tanggapan (KS) : Anda nampak kesulitan memahami tulisan orang lain, barangkali karena Anda lebih dikuasai emosi ketimbang nalar yang jernih. Yang dikemukakan P. Yakub adalah fakta adanya pemahaman orang-orang Islam yang ketika mendengar Istilah Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus dalam ajaran Kristen, mereka memahami bahwa Allah dalam Kristen itu beranak; ini pemahaman mereka orang-orang Islam tadi, dan oleh karena itu mereka menyerang dengan ayat Al Qur’an yang mereka kuasai (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 3). Ini karena Alkitab memakai istilah yang sama dengan Al Qur’an yaitu untuk kata Allah. Jadi jika dalam Kristen tidak memakai kata Allah melainkan istilah lain yang tidak ada dalam Al Qur’an, tidak akan mungkin mereka menyerangnya dengan ayat tersebut. Jadi dalam pandangan saya Anda sungguh-sungguh ceroboh; bagaimana mungkin Anda mengaku mengenali ajaran Kristen sementara P Yakub adalah seorang Pendeta bisa Anda duga seolah-olah membenarkan bahwa Tuhan orang Kristen itu beranak? Lebih-lebih lagi sebutan Putra Allah bagi Yesus (orang-orang Katolik sering sekali), dan ketika mendengar ajaran bahwa Yesus itu adalah Allah sendiri dalam wudjud manusia, tak pelak lagi orang-orang Islam tadi menjadi lebih merasa terganggu karena Yesus itu dalam Al Qur’an dipahami sebagai Isa al-Masih putra Maryam. Maka serangan lanjut adalah dengan (Q.s. Al-Maaidah/5:17), sehingga tidak mengherankan mereka sering menganggap orang-orang Kristen itu kafir. Jika saya menulis demikian ini jangan Anda anggap seolah-olah saya membenarkan bahwa orang Kristen itu kafir lho!. Sekali lagi ini pandangan kelompok orang-orang islam yang berpandangan demikian. Kita tentu tidak mempunyai wewenang (nanti dikiranya mau mengkristenkan!) menjelaskan ini kepada mereka kecuali jika diminta atau memang dalam wadah yang sesuai.

(BN) Sedangkan Q.s. al-Maidah 17 lebih diarahkan kepada keyakinan semacam mujja-simah (antropomorfisme) bidat Kristen di Mekkah, yang menganggap bahwa Allah sama dengan tubuh kemanusiaan Yesus itu sendiri. Sudah barang tentu, keyakinan ganjil seperti ini juga tidak pernah dianut oleh orang Kristen manapun, baik itu gereja Katolik, gereja-gereja ortodoks dan reformasi Protestan sekarang ini.
Para ahli lain juga menghubungkan keyakinan yang diserang al-Qur’an itu dengan sekte bidat Kristen Maryamin (penyembah Maryam), yang memuja Maryam dan mengarak patungnya di sekeliling ka’bah serta mempersembahkan kepadanya collyrida (roti persembahan), sehingga disebut juga sekte Collyridianisme. Karena itu, tepatnya yang ditolak al-Qur’an adalah keyakinan pseudo-trinity yang terdiri: Allah, ‘Isa al-Masih dan Maryam (Q.s. an-Nisa’/4:171; al-Maidah/5: 73, 116), dan sema sekali tidak cocok diterapkan untuk keyakinan Kristen sebenarnya.
Sebelum saya tutup artikel ini dengan penjelasan singkat makna Putra Allah dalam Iman Kristen, perlu saya tanyakan mengenai tuntutan Mubaligh se-Indonesia? Lembaga ini kalau memang ada, mewakili siapa sehingga berani meng-claim dirinya seolah-olah seluruh umat Islam Indonesia? Ini sangat berbahaya bagi kerukanan umat beragama, apalagi kalau lembaga fiktif ini sengaja dibuat kelompok Kristen tertentu untuk meloloskan pandangan-pandangannya yang tidak ilmiah itu.
Makna term Putra Allah: Belajar
Dari "bahasa teologis" Kristen Arab
Kalau begitu, apakah makna sebenarnya istilah Putra Allah dalam Iman Kristen? Harus ditegaskan, bahwa tidak ada umat Kristen yang pernah mempunyai sebersit pemikiran pun bahwa Allah secara fisik mempunyai anak, seperti keyakinan primitif orang-orang Mekkah pra-Islam tersebut. Saya ingin menjelaskan metafora ini berda-sarkan teks-teks sumber Kristen Arab, supaya terbangun kesalingpahaman teologis Kristen-Islam di Indonesia. Sebab selama ini ada jarak yang cukup lebar secara kultural antara "bahasa teologis" Kristen Barat, yang memang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, sehingga kesalahpahaman semakin berlarut-larut.
Istilah Putra Allah yang diterapkan bagi Yesus dalam Iman Kristen untuk mene-kankan praeksistensi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal, seperti disebutkan dalam Injil Yohanes 1:1-3. Ungkapan "Pada mulanya adalah Firman", untuk menekankan bahwa Firman Allah itu tidak berpermulaan, sama abadi dengan Allah karena Firman itu adalah Firman Allah sendiri.
Selanjutnya, "Firman itu bersama-sama Allah", menekankan bahwa Firman itu berbeda dengan Allah. Allah adalah Esensi Ilahi (Arab: al-dzat, the essence), yang dikiaskan Sang Bapa, dan Firman menunjuk kepada "Pikiran Allah dan Sabda-Nya. Akal Ilahi sekaligus Sabda-Nya" (‘aqlullah al-naatiqi, au natiqullah al-‘aaqli, faahiya ta’na al-‘aqlu wa al-naatiqu ma’an), demikianlah term-term teologis yang sering dijumpai dalam teks-teks Kristen Arab. Sedangkan penegasan "Firman itu adalah Allah", mene-kankan bahwa Firman itu, sekalipun dibedakan dari Allah, tetapi tidak berdiri di luar Dzat Allah. Mengapa? "Tentu saja", tulis Baba Shenuda III dalam bukunya Lahut al-Masih (Keilahian Kristus), "Pikiran Allah tidak akan dapat dipisahkan dari Allah ( ‘an ‘aqlu llahi laa yunfashilu ‘an Allah)". Dengan penegasan bahwa Firman itu adalah Allah sendiri, makan keesaan Allah (tauhid) dipertahankan.
Ungkapan "Firman itu bersama-sama dengan Allah", tetapi sekaligus "Firman itu adalah Allah", bisa dibandingkan dengan kerumitan pergulatan pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam, yang merumuskan hubungan antara Allah dan sifat-sifatnya: Ash Shifat laysat al-dzat wa laa hiya ghayruha (Sifat Allah tidak sama, tetapi juga tidak berbeda dengan Dzat Allah). Jadi, kata shifat dalam Ilmu Kalam Islam tidak hanya bermakna sifat dalam bahasa sehari-hari, melainkan mendekati makna hypostasis dalam bahasa teologis Kristen.
Dalam sumber-sumber Kristen Arab sebelum munculkan ilmu Kalam al-Asy’ari, hyposistasis sering diterjemahkan baik shifat maupun uqnum , "pribadi" (jamak: aqanim), asal saja dimaknai secara metafisik seperti maksud bapa-bapa gereja, bukan dalam makna psikologis. Sedangkan ousia diterjemahkan dzat, dan kadang-kadang jauhar. Istilah dzat dan shifat tersebut akhirnya dipentaskan kembali oleh kaum Suni dalam menghadapi kaum Mu’tazili yang menyangkal keabadian Kalam Allah (Al-Qur’an), sebagaimana gereja menghadapi bidat Arius yang menyangkal keabadian Yesus sebagai Firman Allah.
Kembali ke makna Putra Allah. Melalui Putra-Nya atau Firman-Nya itu Allah menciptakan segala sesuatu. "Segala seuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak sesuatupun yang jadi dari segala yang dijadikan" (Yohanes 1:3). Jelaslah bahwa mem-pertahankan keilahian Yesus dalam Iman Kristen, tidak berarti mempertuhankan kemanusiaan-Nya, apalagi dengan rumusan yang jelas-jelas keliru: "Sesungguhnya Allah adalah al-Masih Putra Maryam" (innallaha huwa al-masih ibn maryam).
Dalam rumusan ini, yang ditentang al-Qur’an adalah menyamakan kemanusiaan Yesus dengan Allah. Padahal yang kita dimaksudkan ketika mempertahankan keilahian Yesus, menunjuk kepada Firman yang kekal bersama-sama Allah, yang melalui-Nya alam semesta dan segala isinya ini telah diciptakan.
Dan karena sejak kekal Kristus adalah Akal Allah dan Sabda-Nya, maka jelaslah Firman itu adalah Allah. Karena Akal Allah berdiam dalam Allah sejak kekal (wa madaama al-Masih huwa ‘aql allah al-naatiqi, idzan faahuwa llah, lianna ‘aql allah ka’inu fii llahi mundzu azali). Dan karena itu pula, Firman itu bukan ciptaan (ghayr al-makhluq), karena setiap ciptaan pernah tidak ada sebelum diciptakan).
Secara logis, mustahillah kita membayangkan pernah ada waktu dimana Allah ada tanpa Firman-Nya, kemudian Allah menciptakan Firman itu untuk Diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada tanpa Pikiran atau Firman-Nya? Kini kita memahami secara jelas ajaran Tritunggal Yang Mahaesa, bahwa Allah, Firman dan Roh-Nya adalah kekal, sedangkan Firman dan Roh Allah selalu berdiam dalam keesaan Dzat-Nya, berada sejak kekal dalam Allah).
Selanjutnya, istilah Putra Allah berarti "Allah mewahyukan Diri-Nya sendiri melalui Firman-Nya". Allah itu transenden, tidak tampak, tidak terikat ruang dan waktu. "Tidak seorangpun melihat Allah", tulis Rasul Yohanes dalam Yohanes 1:18, "tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa Dialah yang menyatakan-Nya". Inilah makna tajjasad (inkarnasi). "Dengan inkarnasi Firman-Nya", tulis Baba Shenouda III, "kita melihat Allah. Tidak seorangpun melihat Allah dalam wujud ilahi-Nya yang kekal, tetapi dengan nuzulnya Firman Allah, kita melihat pewahyuan diri-Nya dalam daging" (Allahu lam yarahu ahadun qathu fi lahutihi, wa lakinahu lamma tajjasad, lamma thahara bi al-jasad).
Melalui Firman-Nya Allah dikenal, ibarat seseorang mengenal diri kita setelah kita menyatakan diri dengan kata-kata kita sendiri. Jadi, sebagaimana kata-kata se-seorang yang keluar dari pikiran seseorang mengungkapkan identitas diri, begitu Allah menyatakan Diri-Nya melalui Firman-Nya. Inilah maka ungkapan dalam Qanun al-Iman (Syahadat Nikea/Konstantinopel tahun 325/381), yang mengatakan bahwa Putra Allah yang Tunggal telah "lahir dari Sang Bapa sebelum segala zaman" (Arab: al-maulud min al-Abi qabla kulli duhur). Adakah di dunia ini seseorang yang dilahirkan dari Bapa? Jawabnya, tentu saja tidak ada! Setiap orang lahir dari ibu. Karena itu, Yesus disebut Putra Allah jelas bukan kelahiran fisik, tetapi kelahiran ilahi-Nya sebagai Firman yang kekal sebelum segala zaman.
Tetapi bukankah secara manusia Yesus dilahirkan oleh Bunda Maria? Betul, itulah makna kelahiran-Nya yang kedua dalam daging. Mengenai misteri ini, Bapa-bapa gereja merumuskan2 makna kelahiran (wiladah) Kristus itu, seperti dirumuskan dalam ungkapan yang indah:
As-Sayid al-Masih lahu miladain: Miladi azali min Ab bi ghayr umm qabla kulli ad-duhur, wa miladi akhara fi mal’i al-zamaan min umm bi ghayr ab. Artinya: "Junjungan kita al-Masih mempunyai dua kelahiran: Kelahiran kekal- Nya dari Bapa tanpa seorang ibu, dan kelahiran-Nya dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa insani’.
"Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu", menunjuk kepada kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. Tanpa seorang ibu, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bi ghayr jasadin) melalui seorang ibu, karena memang "Allah tidak beranak dan tidak diper-anakkan". Jadi, dalam hal ini Iman Kristen bisa sepenuhnya menerima dalil al-Qur’an: Lam Yalid wa Lam Yulad, karena memang tidak bertabrakan dengan makna teologis gelar Yesus sebagai Putra Allah.
Sebaliknya, "Lahir dari ibu tanpa bapa", menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan meneguhkan kelahiran kekal-Nya "sebelum segala abad". Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh Sayidatina Maryam al-Adzra’ (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah.
Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa ajaran Tritunggal sama sekali tidak berbicara tentang ilah-ilah selain Allah. Ajaran rasuli ini justru mengungkapkan misteri keesaan Allah berkat pewahyuan diri-Nya dalam Kristus, Penyelamat Dunia. Dalam Allah (Sang Bapa), selalu berdiam secara kekal Firman-Nya (Sang Putra) dan Roh Kudus-Nya. Kalau Putra Allah berarti Pikiran Allah dan Sabda-Nya, maka Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, yaitu hidup Allah yang abadi. Bukan Malaikat Jibril seperti yang sering dituduhkan beberapa orang Muslim selama ini. Firman Allah dan Roh Allah tersebut bukan berdiri di luar Allah, melainkan berada dalam Allah dari kekal sampai kekal.

Tanggapan (KS) : Sebenarnya apa yang Anda sampaikan dalam tulisan pada kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa kata “Allah” telah Anda jadikan sebagai pengganti kata “Tuhan” dan itu merupakan pemahaman orang Kristen yang saat ini menolak Nama Yahweh sebagai suatu nama pribadi. Padahal kalau Kata “Allah” yang telah dipahami oleh sebagian orang Kristen yang menolak nama Yahweh sebagai pengganti kata “Tuhan”, seharusnya disadari bahwa pemahaman tersebut tidak sah, melainkan terkesan dipaksakan, sebab orang yang beragama Budha dan Hindu tidak menerima kata “Allah” sebagai pengganti kata “Tuhan” dalam pemahaman mereka berbahasa Indonesia. Padahal dalam Kejadian 33: 20. Kata “Allah” telah diterjemahkan sebagai pengganti kata “Tuhan” (sebutan) dan sebagai Nama Diri Yahweh. Ini lucu dan sangat tidak ilmiah.

(BN) Jadi, jelaslah bahwa Iman Kristen tidak menganut ajaran sesat yang diserang oleh al-Qur’an, bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan. Untuk memahami Iman Kristen mengenai Firman Allah yang nuzul (turun) menjadi manusia ini, umat Islam hendaknya membandingkan dengan turunnya al-Qur’an alam Allah (nuzul al-Qur’an). Kaum Muslim Suni (Ahl l-Sunnah wa al-Jama’ah) juga meyakini keabadian al-Qur’an sebagai kalam nafsi (Sabda Allah yang kekal) yang berdiri pada Dzat-Nya, tetapi serentak juga terikat oleh ruang dan waktu, yaitu sebagai kalam lafdzi (Sabda Tuhan yang temporal) dalam bentuk mushaf al-Qur’an dalam bahasa Arab yang serba terbatas tersebut.
Dan sperti fisik kemanusiaan Yesus yang terikat ruang dan waktu, yang "dibu-nuh dalam keadaannya sebagai manusia" (1 Petrus 3:18), begitu juga mushaf al-Qur’an bisa rusak dan hancur. Tetapi Kalam Allah tidak bisa rusak bersama rusaknya kertas al-Qur’an. Demikianlah Iman Kristen memahami kematian Yesus, kematian-Nya tidak berarti kematian Allah, karena Allah tidak bisa mati. Saya kemukakan data-data paralelisasi ini bukan untuk mencocok-cocokkan dengan Ilmu Kalam Islam. Mengapa? Sebab justru seperti sudah saya tulis di atas, pergulatan Islam mengenai Ilmu Kalam dirumuskan setelah teolog-teolog Kristen Arab, menerjemahkan istilah-istilah teologis dari bahasa Yunani dan Aram ke dalam bahasa Arab.

Tanggapan (KS) : Saya kira penjelasan Anda memang standar pengajaran trinitas, dan oleh karena itu tidak perlu saya tanggapi. Hal ini kan mengandung makna yang sama jika kata Allah diganti dengan term Elohim misalnya.

(BN) Akhirul Kalam, semoga tulisan ini semakin merangsang pembaca untuk meng-gumuli teologi kontekstual yang mendesak dibutuhkan gereja-gereja di Indonesia, khususnya dalam merentas jalan menuju dialog teologis dengan Islam. Bukankah dialog teologis Kristen-Islam selama ini sering mengalami kebuntuan, karena "kesenjangan bahasa teologis" antara keduanya, akibat tajamnya pengkutuban Barat-Timur selama ini? Marilah kita realisasikan pesan rasuli, supaya kita siap sedia segala waktu "untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu…." (1 Petrus 3:15), dan bukan malah menghabiskan energi kita untuk mengurusi "kelompok-kelompok kurang cerdas yang suka bikin onar" itu.

Tanggapan (KS) : Terima kasih atas julukannya “kurang cerdas bikin onar”. Sadarkah Anda, bahwa secara tidak langsung Anda sudah menjadikan Yesus (Yahshua) sebagai pribadi kurang cerdas bikin onar juga, karena pengajarannya dianggap membahayakan dan mengusik komunitas “Ahli Taurat” yang merasa diri benar sehingga pengajaranNya ditolak dan dianggap tidak layak, sehingga Yesus lebih cocok disalib?. Tidak inginkah Anda mewujudkan pesan dalam Maleakhi 1:11, “Sebab dari terbit sampai terbenamnya matahari nama-Ku besar (masyhur) di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan kurban bagi nama-Ku ……, sebab nama-Ku besar (masyhur) di antara bangsa-bangsa, firman Yahweh Semesta Alam.” Saat ini “kelompok suka bikin onar” sedang mewujudkan nats tersebut. Kami sedang mengenalkan dan memasyhurkan nama Yahweh bukan TUHAN, apalagi ALLAH, di Indonesia (bukan di Israel). Sayang Anda lebih suka melakukannya tetapi untuk nama Allah (atau nama Ar Rabb?) di negara-negara Arab. Saya lebih membutuhkan hikmat dari Yahweh ketimbang “kecerdasan” sebagaimana Anda miliki dalam menggenapi nats Maleakhi tersebut.

(BN) Bambang Noorsena
Madinat al-Tahrir, Cairo, 16 Nopember 2004.
Note:
Oleh: Bambang Noorsena
Penulis adalah Pengamat Gereja-gereja Arab di Timur Tengah, Pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), anggota dewan konsultatif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), kini sedang melanjutkan studi di Kairo, Mesir.

( KS ) Note:
Yogyakarta, 08 Desember 2004
Penanggap adalah salah seorang anggota GKJ
Pengajar Kimia, FMIPA – UNY, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com
Back to top
View user's profile
Jonathan
Newbie
Newbie


Joined: Nov 08, 2004
Posts: 24

PostPosted: Sun Jan 16, 2005 7:48 am    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

Saya kira kita boleh berdebat dengan sekeras apapun, tapi jangan lupa ini media untuk berbagi kasih.

Jangan menyinggung pribadi begini.

Tampak semua orang di forum ini jadi emosi dan lupa kasih Tuhan.
Sangat menyedihkan kita sudah lupa sdr kita yg perlu kasih Tuhan juga.

Salam semoga bersatu kembali

Jonathan
Back to top
View user's profile
Sugiyarto
Newbie
Newbie


Joined: Nov 26, 2004
Posts: 148

PostPosted: Sat Jan 22, 2005 7:35 pm    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

Jonathan wrote:
Saya kira kita boleh berdebat dengan sekeras apapun, tapi jangan lupa ini media untuk berbagi kasih.

Jangan menyinggung pribadi begini.

Tampak semua orang di forum ini jadi emosi dan lupa kasih Tuhan.
Sangat menyedihkan kita sudah lupa sdr kita yg perlu kasih Tuhan juga.

Salam semoga bersatu kembali

Jonathan

Tanggapan

Sdr. Jonathan yang baik. Anda perlu membaca lebih cermat lagi setiap kata dalam forum diskusi ini. Emosi dan nalar harus imbang. Anda menganggap saya juga emosi; saya bisa saja juga mengatakan bahwa Anda kasih komentar secara emosi juga. Saya berusaha mengikuti alur pemikiran "lawan" diskusi saya agar bahasanya bisa diterima oleh si penerima; perbedaan adalah terletak pada aspek analisisnya. Nampaknya pengenalan Anda perihal kasih Tuhan lebih banyak pada kelemah-lembutan saja. Anda silakan memahami bagaimana proses percakapan Yesus dengan "lawan-lawan" bicaraNya.
Saya memang sangat mengharapkan bahwa diskusi ini justru saling menguatkan kita untuk dipakai sebagai saksiNya, dan menjadi berkat bagi pembacanya. Jika Anda tidak cermat dalam mengikuti diskusi ini, maka yang Anda lihat hanya aspek kekerasan emosi, dan maaf Anda tidak mampu menikmati berkat yang tersedia melalui diskusi ini. Silakan menghayati, dan cobalah buat koreksian.
Terima kasih
Kristian H. S.
Back to top
View user's profile
Jonathan
Newbie
Newbie


Joined: Nov 08, 2004
Posts: 24

PostPosted: Sun Jan 23, 2005 6:32 am    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

Hi all,

Kata siapa tidak ada berkat yg saya dpt dr forum ini. Banyak sekali jadi kenal pa Bambang dan banyak lagi tokoh2 disini termasuk anda.
Yesus memang bisa keras dan lembut sampai menangis sewaktu Lazarus meninggal. Lalu apakah itu jadi pembenaran kita boleh mengumbar kekerasan? Ah tidak menurut saya. Tetap dalam keras ada kasih itu yg benar. Kalau yg saya baca ini kan saling memojokan pribadi yg menulis.
Saling menyalahkan. Sampai ada yg mengkritik salah tulis dsb.

Saya sedih karena diforum ini cuma ribut terus ga ada titik temu. Kan sudah 3 tahun lebih rasanya dari diskusi yg pertama dulu. Dan menurut saya tidak akan ada titik temu, karena semua pihak yg berhadapan cuma mempertahankan pendapat masing2.
Masing2 pihak merasa benar menurut ulasan dan penyelidikannya masing2.

Kalau debat begini seperti saya katakan di bagian lagi di forum ini sama saja debat kusir yg tidak pernah selesai.
Jadi sebaiknya ya sudah tidak usah berdebat.

Menurut saya alasan kedua pihak ada juga benarnya, cuma buat apa kita ganti2 cetakan kan mahal biayanya, ya sudah yg mau baca YHWH ya baca begitu. Pihak lainnya ya baca menurut apa adanya.
Kalau nama Tuhan Allah (eh salah kali huruf besar semua ya) yg terbalik dsb buat saya koq ga soal karena dalam pikiran saya tetap Dia Tuhan yg saya sembah. Jadi pribadi Allah itu tetap sama dlm pikiran saya. Mau disebut apapun juga buat saya tetap sama koq. Dia adalah Allah yg namaNya tidak boleh dan tidak bisa disebut sembarangan itu. Mungkin terlalu simplify masalah ya. Jadi esensi dibalik oknum yg menyandang nama Allah (YHWH) itu yg penting buat saya.
Simple kan kalau masing2 mau terima keadaan ini?

Ya begitulah pendapat saya yg sangat sederhana dan hanya kenal kasih Yesus ini.

Thank and GBU.

Jonathan
Back to top
View user's profile
Sugiyarto
Newbie
Newbie


Joined: Nov 26, 2004
Posts: 148

PostPosted: Mon Jan 31, 2005 8:26 pm    Post subject: Re: Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad Reply with quote

Jonathan wrote:
Hi all,

Kata siapa tidak ada berkat yg saya dpt dr forum ini. Banyak sekali jadi kenal pa Bambang dan banyak lagi tokoh2 disini termasuk anda.
Yesus memang bisa keras dan lembut sampai menangis sewaktu Lazarus meninggal. Lalu apakah itu jadi pembenaran kita boleh mengumbar kekerasan? Ah tidak menurut saya. Tetap dalam keras ada kasih itu yg benar. Kalau yg saya baca ini kan saling memojokan pribadi yg menulis.
Saling menyalahkan. Sampai ada yg mengkritik salah tulis dsb.

Saya sedih karena diforum ini cuma ribut terus ga ada titik temu. Kan sudah 3 tahun lebih rasanya dari diskusi yg pertama dulu. Dan menurut saya tidak akan ada titik temu, karena semua pihak yg berhadapan cuma mempertahankan pendapat masing2.
Masing2 pihak merasa benar menurut ulasan dan penyelidikannya masing2.

Kalau debat begini seperti saya katakan di bagian lagi di forum ini sama saja debat kusir yg tidak pernah selesai.
Jadi sebaiknya ya sudah tidak usah berdebat.

Menurut saya alasan kedua pihak ada juga benarnya, cuma buat apa kita ganti2 cetakan kan mahal biayanya, ya sudah yg mau baca YHWH ya baca begitu. Pihak lainnya ya baca menurut apa adanya.
Kalau nama Tuhan Allah (eh salah kali huruf besar semua ya) yg terbalik dsb buat saya koq ga soal karena dalam pikiran saya tetap Dia Tuhan yg saya sembah. Jadi pribadi Allah itu tetap sama dlm pikiran saya. Mau disebut apapun juga buat saya tetap sama koq. Dia adalah Allah yg namaNya tidak boleh dan tidak bisa disebut sembarangan itu. Mungkin terlalu simplify masalah ya. Jadi esensi dibalik oknum yg menyandang nama Allah (YHWH) itu yg penting buat saya.
Simple kan kalau masing2 mau terima keadaan ini?

Ya begitulah pendapat saya yg sangat sederhana dan hanya kenal kasih Yesus ini.

Thank and GBU.

Jonathan

Tanggapan
Menurut Alkitab aslinya Anda salah terus menulis nama YHWH dengan menggantinya Allah; jika Anda merasa mementingkan sesensinya, jangan dikira kami tidak seperti Anda. perbedaan terletak pada respon Anda terhadap Nama Tuhan menurut Anda, sedangkan saya berusaha menuruti apa yang Dia tuliskan dalam Alkitab, jadi pathokan terletak pada Alkitab, bukan semau saya belaka. Jika Anda sudah merasakan memuliakan NamaNya, ya silakan merasakannya, tetapi sayang saya belum merasakannya dengan cara Anda demikian ini karena mengganti NamaNya. Jika yang diikuti perasaan seseorang bisa-bisa setiap orang mempunyai selera berbeda, dan apakah memang demikian yang dimaksudkan oleh yang empunya Nama?
Mnurut saya Anda kurang fair, baru mengadakan penilaian memojokkan setelah terjadi tanggapan. Anda tidak mampu menilai surat pertama dari Sdr. Bambang N yang sangat emosional dan menganggap pihak lain bikin onar, sekte, kurang cerdas, ngawur, jungkir balik dsb. Saya menanggapi dengan nalar jernih dan dengan bahasa dia yang semacam itu agar dia juga mudah menangkapnya.
Selamat menikmati
YBU
Kristian H Sugiyarto
Back to top
View user's profile
Display posts from previous:   
This forum is locked: you cannot post, reply to, or edit topics.   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.   Printer Friendly Page     Forum Index -> Dialog dengan Pdt. Yakub Soelistio S.Th MA All times are GMT + 7 Hours
Page 1 of 1


Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You can download files in this forum



Semua artikel, forum, dan berita di situs ini adalah tanggung jawab para pengirim.
Silakan menyadur atau meng-copy seizin kami. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber: salib.net.
Hotline kami di 08883023916 bila Anda ingin info lebih lanjut mengenai pelayanan SALIBNET MINISTRIES atau bila Anda membutuhkan pelayanan kami.
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy
Azul theme and related images designed by Jamin - upgraded by Phoenix.