Herlianto menulis:
ALLAH’ NAMA SIAPA?
Bulan Desember 2007 dunia dikejutkan keputusan Pemerintah Malaysia yang tidak memperpanjang izin terbit ‘The Herald,’ berita mingguan gereja Katolik, alasannya ‘The Herald’ menggunakan nama ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan dan nama itu dianggap nama tuhannya agama Islam. Pada akhir Desember izin itu kemudian diberikan, namun penggunaan nama Allah tetap dilarang. Fanatisme kepemilikan nama ‘Allah’ juga pernah dilontarkan sekelompok kecil masyarakat di Indonesia namun karena tokoh-tokoh muslim menyadari bahwa klaim itu tidak berdasar maka kemudian dilupakan.
Sungguh menarik untuk dicermati, karena akhir-akhir ini, lagu ‘Rasa Sayange, Angklung, bahkan Reog Ponorogo’ dianggap milik Malaysia, dan kini nama ‘Allah’ bahasa Arab di klaim pula sebagai milik orang Malaysia, padahal orang Arab sendiri yang memiliki bahasa itu tidak mempersoalkannya dan nama ‘Allah’ bersama digunakan baik oleh orang berbahasa Arab yang beragama Yahudi, Kristen, maupun Islam. Injil pertama dalam bahasa Melayu (Corneliz Ruyl, 1629) sudah menulis nama ‘Allah’ didalamnya empat abad yang lalu.
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Memang aneh muslim (Pemerintah) Malaysia melarang penggunaan kata “Allah” bagi non muslim tepatnya ”The Herald” (Kompas Minggu, 6 Januari 2008, hal.2, kolom 1-3, Malaysia: Aksi Protes Kembali Berlangsung), sebab hal ini sesunguhnya melanggar HAM PBB 1948 (khususnya ps 18-19).
18 Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani, dan agama, termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan dan kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaannya dengan cara sendiri maupun bersama-sama orang lain di tempat umum maupun di tempat tersendiri.
19 Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengleluarkan pendapat, termasuk kebebasan mempunyai pendapat tanpa mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima serta menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat-pendapat dengan cara apa pun tanpa memandang batas-batas.
Namun hal ini bisa dipahami dalam 2 hal, pertama Malaysia tidak/ belum meratifikasi HAM PBB tersebut (Indonesia sudah meratifikasi, jika tidak salah Desember 1999), dan kedua yang tidak kalah pentingnya adalah bukan hanya karena “Allah” adalah nama diri Tuhan menurut Quran, melainkan menurut pandangan saya telah terjadi semacam “pemerkosaan-pengrusakan” bahasa oleh kaum non-muslim (“kristiani”) Melayu (bahkan juga Indonesia) dalam pemakaian kata “Allah” /”Ilah”; jadi aneh juga bagi non-muslim demikian ini.
Orang Arab (di negara Arab) memang tidak mempersoalkan pemakaian kata “Allah” oleh mereka yang berbahasa Arab yang beragama Yahudi maupun Kristen, sebab mereka ini menggunakan bahasa / huruf-huruf Arab secara benar (tidak diterjemahkan) terlepas dari benar-tidaknya hasil terjemahannya dari Hebrew-Greek Bible; jadi tentu tidak ada persoalan ditinjau dari “kebahasaan”; sementara itu orang / bahasa Melayu / Indonesia menerjemahkan dan menggunakannya secara salah.
Menurut bahasa Arab, kata “Allah” (alef-lam-lam-heh) adalah nama diri (proper noun-proper name) artinya antara lain no gender, no state-no plural form, dan kata “Ilah” adalah nama generik (common noun) ada bentuk singular-plural.
Dengan karakter proper noun tersebut, dengan kata “Allah” dikenal frase vokatif (seruan) seperti “Ya/O Allah, Allah huma”, tetapi tidak mungkin dikenal frase posesif, “Allah-ku, Allah-mu, Allah-nya, Allah dia, Allah mereka, Allah Israel, Allah Abraham-Ishak-Yakub, dsb.”.
Sementara itu dengan karakter common noun, dengan kata “Ilah” juga bisa membentuk frase vokatif “Ya Ilah” (Ya Tuhan), dan bentuk posesif-milik, “Il ah-ku (Ilahiy), Ilah-mu, Ilah-nya, Ilah mereka, Ilah Israel (God of Israel), Ilah Abraham-Ishak-Yakub, dsb.”; selain itu common noun dapat diberi kata sandang definit “al” menjadi “al Ilah (Ilah itu/tersebut – The Ilah – The God). Akan tetapi tidak mungkin dikenal frase “Ya Al Ilah, Al Ilah huma”, maupun frase posesif, “al Ilah-ku-mu-nya-dia-mereka- Israel, dsb.”.
Anehnya kaum Kristiani Melayu (juga sebagaian besar Kristiani Indonesia) tidak merasa bersalah dalam berbahasa ketika memperkosa kata “Allah” menjadi nama generik (common noun); bahasa Arab “Allah” diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu-Indonesia menjadi “Allah” (tentu tidak keliru), tetapi “Ilah-ku (Ilahiy)” tenyata juga ditejemahkan “Allah-ku dst.). Jadi kaum Kristiani yang demikian ini hanya “nekat” saja dalam memperkosa bahasa. Mungkinkah umat Kristiani (para Teolog) Melayu-Indonesia tidak tahu akan bahasa yang benar.?
Herlianto menulis:
Nama ‘Allah’ adalah nama untuk menyebut Tuhan semitik dalam bahasa Arab, dan nama ini sudah disebut jauh sebelum agama Islam hadir di abad-VII, sedini kehadiran bahasa Arab. Agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) berasal dari rumpun keturunan Sem. Arphaksad adalah putra Sem yang menurunkan bangsa Ibrani (dikaitkan nama Eber cucu Arphaksad), dan Aram putra Sem menurunkan bangsa Aram dan Arab. Dalam hal bahasa, Aram lebih dahulu mengembangkan bahasanya dan nenek moyang bangsa Ibrani mengembangkan bahasa Ibrani dengan berakulturisasi dengan bahasa Kanani dan Amorit dan menggunakan abjad Kanani kuno (Funisia) yang kemudian berkembang dalam bentuk bulat karena pengaruh bahasa Aram.
Abraham berasal dari Mesopotamia dan berbahasa Aram, setelah hijrah ke Palestina, Ishak anaknya mengawini iparnya Ribka, saudara Laban yang tinggal di Mesopotamia, Laban dicatat Alkitab sebagai orang Aram berbahasa Aram (Kejadian 31:20,47). Yakub, putra Ishak dan Ribka, mengawini Lea dan Rachel anak-anak Laban yang berbahasa Aram juga. Jadi orang Israel (keturunan Yakub) mengikuti bahasa Aram bahasa nenek dan ibu mereka. Alkitab menyebut orang Israel adalah keturunan Aram (Kejadian 25:5).
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Jalur Abraham dari Sem adalah: Sem-Arpakhsad-Eber-Abraham-Ishak (dari ibunya Sarai)-Yakub (Israel); jalur Aram adalah Sem-Aram (saudara Arpakhsad)-bangsa (bahasa) Aram; sementara itu jalur Sem-Arpakhsad-Eber-Abraham-Ismael (dari selir Hagar)-bangsa(bahasa) Arab. Jadi jelas bahwa Abraham berbahasa Ibrani, sebab istilah “Ibrani’ memang diambil dari kata ”Eber” yang merupakan kakek moyang-leluhur Abraham.
Alkitab mencatat “Abram orang Ibrani”,
Kej. 14:13: Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram.).
Perlu diingat bahwa Abraham memisahkan diri dari keluarganya dan saudaranya Nahor, dari negeri Ur (Kasdim) menuju negeri Kanaan (kira-kira 1800 BCE); di sanalah kemudian dia berkembang dan dia pun disebut sebagai orang Ibrani (Kej. 14:13). Bahasa di negei Kanaan saat itu sering disebut proto-Kanaanit, yang merupakan induk dialek orang-orang Hittit, Amorit, Hivit, Jebusit, dan Perizit; dan hubungannya dengan orang-orang Ibrani sistem tulisan-tangan proto-Kanaanit sering disebut sebagai ketav Ivri. (www.hebrew4christians.com).
Sebutan sebagai orang Ibrani ini berlanjut terus hingga Yusuf (anak Yakub) ketika di Mesir (Kej. 39:14, 17; 40:15; 41:12):
Kej 39:14, dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: "Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras.
Dalam ayat tersebut Potifar menyebut Yusuf (yang menolak berbuat zinah dengannya) sebagai orang Ibrani.
Saudara-saudara Yusuf dan bahkan hingga seluruh keturunannya menjadi bangsa Israel termasuk Musa di Mesir, disebut sebagai orang-orang Ibrani (Kej. 43: 32; Kel. 1:15, 16, 19, 22; 2: 6, 7, 11, 13). Bahkan YHWH sendiri mengatakan kepada Musa bahwa Dialah Elohim orang-orang Ibrani untuk menunjuk Israel. (Kel 3:18; 9:1, 13; Yer 34:14), dan pemahaman penyebutan Ibrani ini pun dipakai oleh Musa (Kel. 5: 3; 7:16; 10: 3). Dan masih banyak lagi kata Ibrani untuk menunjuk orang Israel (Kel. 1:2; Ul 12:2; 1Sam 13:3, 7); orang-orang Filistin juga menyebutnya Ibrani (1Sam. 4: 6, 9; 13:19; 14:11; 29:3); Yunus pun mengidentifikasi dirinya sebagai orang Ibrani (Yun. 1: 9). Kelanjutan hidup bangsa Israel dalam PB pun menyebutkan bahasa/bangsa Ibrani (Yoh. 5:2; 19:13, 17, 20; 20:16
Laban cucu Nahor saudara Abraham memang disebut orang Aram (Kej. 25:20; 28:5; 31:20, 24),
Kej. 25:20 Dan Ishak berumur empat puluh tahun, ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram, saudara perempuan Laban orang Aram itu (ha arammi), diambilnya menjadi isterinya.
Akan tetapi Yakub (menantu Laban) tetap berbahasa Ibrani, meskipun ia telah tinggal cukup lama bersama Laban (lebih dari 14 tahun untuk mendapatkan kedua isteri dari anak Laban plus beberapa tahun hingga kelahiran anak-anaknya). Hal ini menjadi terang ketika Yakub melarikan diri dari Laban dan lalu mengadakan ”pertemuan-perjanjian” dengan mertuanya itu (Kej. 31:47),
”Laban menamai timbunan batu itu Yegar-Sahaduta, tetapi Yakub menamainya Galed.”
Yegar-Sahaduta merupakan kosa kata Aramaik (yang diucapkan Laban) dan Galed merupakan kosa kata Ibrani (yang diucapkan Yakub), sebagaimana ditemui dalam catatan kaki Kitab Suci New International Version, Kej. 31:47,
Laban called it Jegar Sahadutha, {47 The Aramaic Jegar Sahadutha means witness heap} and Jacob called it Galeed. {47 The Hebrew Galeed means witness heap}
[Laban menyebutnya Yegar Sahadutha (kata Aramaik Jegar Sahaduta berarti saksi timbunan batu) dan Yakub menyebutnya Galeed (kata Ibrani Galeed berarti saksi timbunan batu)]
Jadi, nampaknya paling tidak saat itu terjadi komunikasi antara bahasa Ibrani (dari pihak Yakub) dengan bahasa Aramaik (dari pihak Laban).
Namun demikian kata “laban” sebagai adjektif juga masuk dalam kosa-kata Ibrani yang berarti putih (misalnya Kej 30:25); nampaknya Alkitab kita tidak menjelaskan apakah kaum Nahor – Laban ini memang berkembang atas dominasi pengaruh leluhurnya Aram saudaranya Arpakhsad anak Sem.
Oleh karena Ishak (ayah Yakub) beristerikan Ribka (saudara Laban), dan kemudian Yakub beristerikan Lea dan Rahel (keduanya anak Laban), serta Yakub bergaul cukup lama dalam keluarga Laban, maka dapat dimengerti bahwa perkembangan kedua bahasanya pun sangat mungkin saling mempengaruhi, dan keduanya pun saling mengerti; jadi tidak terlalu mengherankan bahwa terdapat kemiripan bahkan kesamaan banyak kosa kata dari antara kedua bahasa ini, Aramaik dan Ibrani, dan barangkali itulah sebabnya Yakub juga disebut orang dari aram.
Dengan menulis: Alkitab menyebut orang Israel adalah keturunan Aram (Kejadian 25:5), nampaknya Sdr. Herlianto salah kutip untuk Kej. 25:5 (Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak,); ayat ini sama sekali tidak sesuai dengan maksudnya . Nampaknya yang dimaksud Herlianto adalah Ul. 26:5,
Ulangan 26:5 Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN (YHWH), Allahmu (Elohim-mu), demikian: Bapaku dahulu seorang Aram (arammi – aramean-syrian), seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya.
Dalam ayat ini ‘seorang Aram…’ terjemahan dari bahasa Ibrani arammi (bukan aram juga bukan ha arrami) yang artinya bisa saja orang (dari) aram-Syria (NJB menerjemahkan a wandering Aramaean, seorang pengembara dari Aram); dan yang dimasudkan ayat tersebut tentulah menunjuk Yakub. Akan tetapi oleh karena Yakub disebut sebagai orang Ibrani (seperti halnya Abraham), demikian juga Israel sebagai orang-orang ibrani, bahkan YHWH sendiri mengidentifikasi Elohim orang-orang Ibrani, maka tafsir yang lurus adalah bahwa Yakub dapat dipertimbangkan sebagai warga / bangsa Aram meskipun ia orang Ibrani, mirip dengan analogi orang keturunan Indonesia namun mendapat kewarganegaraan Amerika, tentu saja ia bisa dikatakan an American. Hal ini memang bisa dimaklumi karena memang Yakub beristerikan wanita-wanita Aram dan tinggal lama di Aram (Kej. 28:5)
Jadi saya sangat keheranan atas ”kecerobohan” sdr. Herlianto yang menyatakan bahwa Abraham berbahasa Aram dan Israel keturunan Aram. Tak satu ayat pun alkitab menyatakan bahwa Abraham berbahasa/berbangsa Aram. Sangat mungkin sdr. Herlianto benar-benar alergi Ibrani-Israel, juga alergi Yahweh- YHWH yang jelas-jelas muncul sekitar 7000 kali dalam Alkitab, dan lebih suka Aram-Arab bahkan sebutan ”Allah” yang sama sekali tidak ditemui dalam Alkitab Hebrew-Greek. Silakan uji kebenaran ayat-ayat yang saya kemukakan tersebut atas terminologi Ibrani untuk menunjuk Abraham-Yakub-hingga Israel.
Herlianto menulis:
Ensiklopedia Islam (Cyrill Glasse, hlm.49-50) menyebut bangsa Arab adalah masyarakat Semit keturunan Quathan (Joktan, anak Eber) dan juga Adnan (hlm.12-13) yang menurunkan keturunan Ismael (putra Abraham), jadi bangsa Arab merupakan keturunan Semitik, Ibranik dan Abrahamik juga. Bahasa Arab berasal bahasa kuno Aram dan aksaranya merupakan perkembangan dari aksara Nabatea Aram.
Nama Tuhan ‘El’ (Il) sudah lama dikenal di Mesopotamia, dan dalam dialek Aram nama itu disebut ‘Elah/Elaha (atau Alah/Alaha),’ di Israel disebut ‘El/Elohim/Eloah,’ dan dalam bahasa Arab disebut ‘Ilah/Allah.’ Kata sandang difinitif dalam bahasa Aram adalah ‘Ha’ yang diletakkan di belakang kata, dalam bahasa Ibrani diletakkan di depan (Ha Elohim), sedangkan dalam bahasa Arab kata sandang ditulis ‘Al’ diletakkan di depan (Al-Ilah). Jadi baik El/Elohim/Eloah, Elah/Elaha, dan Ilah/Allah menunjuk kepada Tuhan Monotheisme Abraham yang sama, baik sebagai nama pribadi maupun sebutan untuk ketuhanan.
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Kata sandang dalam bahasa Aram bukan ’Ha’-heh alef, melainkan alef saja, misalnya Elah menjadi Elaha (The Elah). Saya tidak tahu dari mana Sdr. Herlianto ini memperoleh pengetahuan tersebut. Nampaknya ia menduga bahwa Elaha tersusun oleh El dan ha; sungguh kecerobohan yang luar biasa. Kata aramaik ”Elah” kira-kira muncul 20 kali (Ezr. 5:1, 11; 6:14; 7:12, 19, 21, 23(2x) Dan.2:18, 23, 28, 37, 44, 45, 47 (elah, elahahon, elahin); 3:15, 28 (god; Elahahon-God-2x), 29; 6:8 (god), 13 (god)); Jika mendapat kata sandang alef menjadi Elaha yang muncul kira-kira 30 kali (Ezr. 4: 24; 5: 2, 8, 13, 14, 15, 16, 17; 6: 3, 5(2x), 7(2x), 8, 12, 16, 17, 18 ; 7:24; Dan. 2: 20 ; 3: 26, 32; 5: 3, 18, 21, 23, 26; 6:21, 27). Bentuk pluralnya adalah Elahin muncul sekitar 9 kali (Dan 2: 11,47 ; 4: 5(8), 6(9), 15(18); 5: 11 (2x), 14; 3:25). Untuk menyatakan milik-ku, Elah-ku, dipakai akhiran ”i” persis sama dengan tata-bahasa Ibrani, yakni Elahi yang muncul sekitar 2 kali (Dan. 4:5(8); 6:23(22))
Untuk terminologi El-Elohim-Eloah-Ilah juga ada bentuk posesif maupun pemberian kata sandang ”ha” (arab-”al”). Jadi saya sangat heran atas kemampuan berbahasa sdr. Herlianto yang menganggapnya sebagai nama pribadi untuk term-term tersebut.
Herlianto menulis:
Di Israel, nama ‘El/Elohim’ adalah nama Tuhan sebelum nama ‘Yahweh’ diperkenalkan kepada Musa (Keluaran 6:1-2), itulah sebabnya sebelum Keluaran tidak ada nama orang yang diberi identitas nama ‘Yahweh’ (seperti Eli’yah’) tetapi nama ‘El’ (a.l. Metusael, Ismael, Israel), dan sekalipun nama Yahweh sudah diperkenalkan, nama El tetap digunakan sebagai nama diri Tuhan. ‘El, elohe Yisrael’ (Kejadian 33:20;46:3) disetarakan dengan ‘Yahweh, elohe Yisrael’ (Keluaran 32:27; Yoshua 8:30). Dalam Perjanjian Lama, nama Elah/Elaha sudah ada dan ditulis pada abad-VI sM dalam kitab Esra yang ditulis dalam bahasa Aram dengan aksara Ibrani ‘Elah Yisrael’ (Allah Israel, 5:1; 6:14). Dalam Alkitab Aram Siria (Peshita) digunakan nama Elah/Elaha juga.
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Nama Yahweh telah ada sebelum Musa, dan memang Dia-lah Sang Pencipta (Kej 2:4-5..), bahkan tentu saja sebelum ada Israel.
Orang mulai menyebut dalam/dengan nama Yahweh (beshem YHWH) sejak kelahiran Enos anak Set anak Adam (Kej. 4: 26), amat sangat jauh sebelum (bangsa) Israel lahir. Jadi, nama Yahweh memang sangat awal, bahkan sesungguhnya alkitab mencatat, Hawa menyebutNya:
Kej. 4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan YHWH (Yahweh)."
Pemakaian nama-nama dengan memasukkan kata ”el” belum tentu berarti pengadopsian dari nama generik ”El” melainkan dari ”kependekan” Elohim.
Alkitab menceriterakan “pergulatan” Yakub dengan Elohim, sebagaimana dituturkan dalam Kej. 32:22-32,
Ayat 29(28), “Lalu kata orang itu: ‘Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Elohim dan manusia, dan engkau menang.’"
Ayat 31(30), “Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: ‘Aku telah melihat Elohim berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!’"
Jadi, akhiran el pada nama Israel, dengan ayat yang terkait ini tidak menunjuk pada El, tetapi menunjuk pada Elohim, seperti halnya nama Pniel; dengan demikian bukan mustahil bahwa nama generik Elohim mengalami penyingkatan menjadi el dalam kasus posisinya sebagai akhiran pada suatu nama, persis dalam kasus nama Eliyahu dengan yahu merupakan kependekan dari Yahweh.
Sesungguhnya cukup mengheankan, nama Ismael ternyata diberikan dengan alasan ’sebab YHWH (bukan El-Elohim) telah mendengar tentang penindasan atasmu itu’. (Kej. 16:11). Septuaginta juga mencatat kurios bukan teos untuk YHWH. Lalu mengapa tidak melibatkan nama Yah(u)? Nampaknya ayat berikutnya memberi jawaban:
Kej. 16:13 Kemudian Hagar menamakan YHWH yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?"
Kej. 16:15 Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael.
Jadi ayat ini menegaskan bahwa sesungguhnya Hagar-Abram mengenal nama YHWH, dan justru Hagar memanggil YHWH yang telah berfirman kepadanya sebagai El-Roi (Kej. 16:13); namun Abram lebih menuruti pemahaman Hagar dengan memberi nama anaknya terkait dengan nama sesembahan ”umum”-generik El, sebab YHWH dalam pandangan Hagar adalah El-Roi. Jadi kita tidak keliru jika pada masa itu memang ”El” adalah nama sesembahan umum (generik) dan YHWH yang berfirman kedapa Hagar itu tidak lain adalah ”El” itu sendiri.
Dengan demikian pemakaian nama seseorang dengan mengambil nama sesembahan sebagai akhiran ataupun awalan, el ataupun yah(u), tidak relevan jika dikaitkan dengan waktu pengenalan nama sesembahan itu sendiri, melainkan lebih pada ”semacam” selera nama mana yang akan dipilih.
Herlianto menulis: ...nama El ada lebih dulu sebelum nama Yahweh diperkenalkan kepada Musa (Kel. 6:1-2).
Jika sdr Herlianto mengujinya dengan ayat teks PL, maka saya pun demikian juga sebagaimana berikut ini:
Term El pertama kali muncul dengan atribut-Nya sebagai El Elyon (El Yang Mahatinggi) dalam perikop pertemuan Abram dengan Melkisedek (Kej. 14:18-), dan El Shaddai justru baru muncul dalam perikop “perjanjian sunat (dan jumlah keturunan) dengan Abraham” dalam Kej. 17:1-
Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka YAHWEH menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah El Yang Mahakuasa (Ani El Shaddai), ….
Nats tersebut sangat tegas bahwa El Shaddai diperkenalkan diri-Nya, namun tegas pula bahwa yang menampakkan diri adalah Pribadi yang bernama YAHWEH. Jika ada pertanyaan, siapakah yang menampakkan diri-Nya dan berfirman kepada Abram saat itu (dalam nats itu)? Jawabnya sudah pasti hanya satu yakni YAHWEH. Ia tidak tertulis sebagai Elohim, Eloah, Adonai, bahkan juga bukan sebagai El ketika Dia menyatakan dirinya sebagai El Shaddai. Pengakuan apa yang diberikan pada diri-Nya yang menampakkan diri itu? Jawabnya sudah pasti hanya satu yakni El Shaddai. Nats ini harus diartikan bahwa El Shaddai dikenal dalam pribadi YAHWEH. (Ayat ini sudah sangat plainly written, tidak perlu ditafsir lebih lanjut, jadi saya cukup heran jika Sdr. Herlianto tidak mampu melihatnya atau tidak mampu membacanya, melainkan mengabaikannya, kecuali dia overlook).
Pengenalan El Shaddai dengan Ishak dan Yakub
Kita tahu bahwa Ishak juga mengenal El Shaddai (Kej. 28:3) ketika dia memberkati Yakub,
“Moga-moga El Shaddai memberkati engkau, membuat engkau …..”
Demikian pula Yakub pun mengenal-Nya melalui pernyataan-Nya (Kej. 35:11):
“Lagi firman Elohim kepadanya (Yakub), “Akulah El Shaddai. Beranakcuculah.”
Jadi, baik Abraham, Ishak, maupun Yakub, memang mengenal El Shaddai sebagaimana juga dinyatakan dalam Kel. 6: 3(2). Namun, secara aktif reflektif , hanya kepada Abraham dan Yakublah Dia menyatakan diri sebagai El Shaddai, “Ani El Shaddai” (Kej. 17:1; 25:11).
Penampakan diri YAHWEH kepada Abraham
Lalu apakah ketiga bapak leluhur Israel itu (Abraham-Ishak-Yakub) belum mengenal nama YHWH, ataukah Sang Pencipta belum menyatakan diri-Nya dengan nama YAHWEH?
Jika pengenalan diri El Shaddai dilakukan melalui penelusuran ayat-ayat sebelum Kel. 6:3(2), hal yang sama pun harus berlaku bagi nama YAHWEH.
Kisah Abram dimulai melalui panggilannya oleh YAHWEH dalam Kej.12:1- . Secara tekstual (Alkitabiah) YAHWEH menampakkan diri kepada Abram dengan janji perihal “tanah Kanaan” (Kej. 12:7) mendahului pengenalannya sebagai El Shaddai (Kej.17:1):
“Ketika itu TUHAN (YAHWEH) menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu’. Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN (YAHWEH) yang telah menampakkan diri kepadanya.” (Kej. 12:7).
Bukti atas penampakan diri tersebut adalah respon Abram dalam bentuk pembangunan mezbah bagi YAHWEH; ketika pindah ke tempat lain pun (dekat Betel), lagi-lagi dia mendirikan mezbah bagi YAHWEH, dan disertai respon memanggil nama YAHWEH (Kej. 12:8),
“Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN (YAHWEH) dan memanggil nama TUHAN (YAHWEH).”
Jika ada pertanyaan, nama mana yang disebutkan oleh Abram pada prosesi panggilan itu? Jawaban secara Alkitabiah hanya satu yakni, nama YAHWEH; ia tidak memanggil dengan nama lain, Elohim, juga El. Bagaimana mungkin jika Abram belum mengenal nama-Nya, namun bisa menyebut-Nya? Jika ada pertanyaan: ”Siapa pula yang menampakkan diri kepada Abram saat itu.” No doubt, plainly written YAHWEH.
Mari kita lanjutkan kisah Abram. Ketika dia bertemu dengan Imam Melkisedek (Kej. 14:18-20), meskipun Sang Pencipta dikenal sebagai El Elyon (Yang Mahatinggi), Alkitab mencatat atas sumpah Abram sebagai berikut (Kej. 14:22),
“Tetapi kata Abram kepada Raja Sodom itu: ‘Aku bersumpah demi TUHAN (beshem YHWH- dalam nama YAHWEH), El Elyon, Pencipta langit dan bumi’”.
Demi nama siapakah Abram bersumpah ketika itu? Definitely, demi YAHWEH. (Sumpah demi YAHWEH juga ditemui dalam Kej. 24:3)
Bagaimana kisah selanjutnya?
Kej. 15:1 mencatat:
“Kemudian datanglah firman TUHAN (YAHWEH) kepada Abram dalam suatu penglihatan: ‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu …’”.
Tak pelak lagi bahwa YAHWEH telah menampakkan diri lagi kepada Abram dalam penglihatan, dan ini dibuktikan dengan responnya (Kej.15:2):
“Abram menjawab: ‘Ya Tuhan ALLAH (Adonai YAHWEH), apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, …’”
Mengapa Abram bisa menyebut nama YAHWEH? Tentulah karena memang YAHWEH telah menampakkan diri kepadanya. Sampai di sini Sdr. Herlianto tetap ”buta” karena memang YAHWEH tidak menampakkan diri kepada beliau melainkan kepada Abram. Barangkali Sdr. Herlianto masih berkelit, “Lho, pernyataan Sang Pencipta kan tidak seperti ketika menyatakan dirinya sebagai El Shaddai? Baik, kita simak ayat selanjutnya,
Kej. 15:7, “Lagi firman TUHAN (YAHWEH) kepadanya: ‘Akulah TUHAN (Ani YHWH), yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.’” Lagi respon Abram (ay.8), “Kata Abram: ‘Ya Adonai YAHWEH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?’”
Cara (style) pengenalan akan nama diri YAHWEH dalam Kej. 15:7 ini jelas-jelas exactly the same as that in the latter, Kej. 17:1 (Ani El Shaddai, Akulah El Yang Mahakuasa); Sdr. Herlianto saya silakan mencermati kedua ayat tersebut jika perlu dengan a magnifying glass, Ani YHWH versus Ani El Shaddai. Tambahan pula penampakan diri YAHWEH kepada Abram dalam ayat ini berkaitan dengan perjanjian atas tanah Kanaan, persis sama dengan Kel 6: 4(3).
Nama YAHWEH tentu saja dikenal pula oleh isterinya, Sarai, sebagaimana Alkitab mencatat dalam Kej. 16: 2, “Berkatalah Sarai kepada Abram: ‘Engkau tahu, TUHAN (YAHWEH) tidak memberi aku ….’”
Penampakan diri YAHWEH kepada Ishak
Lalu Apakah nama YAHWEH juga dikenal oleh Ishak maupun Yakub?
Jawabannya, pasti sudah dikenal.
Ishak berdoa kepada YAHWEH untuk isterinya Ribka yang (masih) mandul (Kej. 25:21).
“Berdoalah Ishak kepada TUHAN (YAHWEH) untuk isterinya, …”;
Secara tekstual, YAHWEH menampakkan diri kepada Ishak sebagaimana tertulis dalam Kej 26:2,
“Lalu TUHAN (YAHWEH) menampakkan diri kepadanya (Ishak) serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu.”
Selanjutnya ay 22,
“….. dan ia (Ishak) berkata: ’Sekarang TUHAN (YAHWEH) telah memberi kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.’”
YAHWEH menampakkan diri lagi kepada Ishak sebagaimana terekam dalam Kej. 26: 24,
“Lalu pada malam itu TUHAN (YAHWEH) menampakkan diri kepadanya (Ishak) serta berfirman: "Akulah Allah (Elohe) ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu."
Ishak mengenal betul akan YAHWEH sebagaimana ia merespon (Kej. 26: 25),
“Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN (YAHWEH), …”
juga ketika dia memberkati Yakub, ay27,
”…..’Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN (YAHWEH)….’”
Dari ayat-ayat tersebut (ps. 25-26) jelas bahwa Ishak mengenali YAHWEH sebab Dia telah menampakkan diri kepadanya, lebih dahulu ketimbang Dia menyatakan diri-Nya sebagai El Shaddai (baru di ps 28:3)
Penampakan diri YAHWEH kepada Yakub
Lalu, apakah Yakub juga mengenal YAHWEH?
Beginilah jawab Yakub ketika dia ditanyai Ishak, mengapa begitu cepat mendapat binatang buruan, Kej.27:20,
“Jawabnya: ‘Karena TUHAN (YAHWEH), Allahmu (Eloheka), membuat aku mencapai tujuanku.’"
Tentulah Yakub mendengar pula ucapan berkat yang disampaikan oleh ayahnya, Ishak, sehingga dia mengenal akan nama YAHWEH, sebagaimana dalam Kej. 27:27,
"Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN (YAHWEH).
Namun, secara khusus ia mengenal-Nya dalam mimpi, sebagaimana terekam dalam
Kej. 28: 12,13,-,
“Maka bermimpilah ia,….. Berdirilah TUHAN (YAHWEH) di sampingnya dan berfirman: ‘Akulah TUHAN (YAHWEH), Allah (Elohe) Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.
Mimpi tersebut dikonfirmasi oleh Yakub melalui ucapannya dalam Kej. 28:16,
“Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: ‘Sesungguhnya TUHAN (YAHWEH) ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.’"
Simpulan:
Dari ayat-ayat tersebut (ps. 27-28) lagi-lagi jelas bahwa Yakub mengenali YAHWEH sebab Dia telah menampakkan diri kepadanya, lebih dahulu ketimbang Dia menyatakan diri-Nya sebagai El Shaddai ( baru di ps 35:11)
Dari data-data tersebut sdr. Herlianto “tersesat” pada terjemahan LAI untuk Kel. 6:1-2.
“wa era el-abraham el-yishaq we el-yaaqob be el shadday usemi yhwh lo nodati lahem”
“And I appeared unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, by the name of God Almighty, but by my name JEHOVAH was I not known to them.” (KJV)
And I appeared to Abraham, to Isaac, and to Jacob, by {the name of} God Almighty, but by my name JEHOVAH was I not known to them. (WEB, 1833)
I appeared to Abraham, to Isaac and to Jacob as God Almighty, {3 Hebrew El-Shaddai} but by my name the LORD {3 See note at Exodus 3:15.} I did not make myself known to them. {3 Or Almighty, and by my name the LORD did I not let myself be known to them?} (New International Version, US 1984)
Terjemahan yang lebih ”lurus” adalah:
“Dan Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, kepada Ishak, dan kepada Yakub; dengan El Shaddai dan nama-Ku YAHWEH, tidakkah Aku telah menyatakan diri kepada mereka?”
”Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.” (LAI).
Terjemahan LAI jelas keliru jika dimaknai Nama YHWH baru dikenalkan setelah Musa, sebab YHWH justru mengenalkan nama-Nya mendahului term El Shaddai. Itu sebabnya terjemahan saya “lebih lurus” ketimbang terjemahan LAI.
Kasus Ezra 5:1 besum Elah Israel, dalam Arabic Bible van Dyke tertulis bism Ilah Israel, bukan bism Allah Israel, bukan dalam nama Allah Israel; jadi Anda memang hanya baca Alkitab LAI saja. Mengapa demikian? Sebab kata “Elah” dalam frase Elah Israel berada dalam bentuk konstruk-terikat- posesif-miliknya. Maka jika ditulis dalam bahasa Arab pasti memakai “Ilah”, sebab kata “Allah” adalah nama diri yang tidak bisa dibuat bentuk konstruknya.
Herlianto menulis:
Setelah berkembangnya bahasa Arab, nama itu menjadi Ilah/Allah, dan orang-orang Yahudi yang berbahasa Arab dan orang Arab yang mengikuti kepercayaan Yahudi juga menggunakan nama Allah itu. Pada jemaat Kristen pertama sudah ada orang Arab yang percaya dan menyebut nama Tuhan dalam bahasa mereka sendiri (Kisah 2:8-11, yang tentunya ‘Allah’), dan rasul Paulus menyebut “Hagar adalah gunung Sinai di tanah Arab’ yang melahirkan anak darah daging Abraham (Galatia 4:21-31).
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Acts 2:7-11 7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."
Saya sangat tercengang atas tafsir sdr. Herlianto dalam Kis.2 -7-11 tersebut. Dalam peristiwa ini jelas bahwa rang-orang Galilea (Yahudi-para murid dari Galilea) kesehariannya bertuturkata dengan bahasa-ibu (Ibrani), dan orang-orang ”asing” (termasuk orang dari Arab) belum tentu mengikuti kepercayaan Yahudi, namun tentu terbiasa mendengar dan bahkan mungkin juga bisa bertutur kata Ibrani (selain bahasa-ibu masing-masing); itu sebabnya mereka orang asing ini terheran-heran (ayat 8) ketika mereka mendengar bahasanya masing-masing perihal ”perbuatan ho teos ( ha-Elohim-menurut HNT)” keluar dari mulut mereka. Jika para murid memang menyebut nama (generik) sesembahan, ucapan yang muncul tentu El-Eloah-Elah-Elohim, dan ini jika pada waktu itu bahasa Arab sudah berkembang adalah ”Ilah”. Jika Anda baca Arabic Bible Van Dyke, memamg tertulis dengan aksara Arab ”Allah”, namun jika Anda baca Arabbible Demo3.0, tidak akan dijumpai satu pun kata ”Allah”, melainkan ”Al Ilah”.
Pertanyaannya adalah: kapankah kata ”Allah” mulai dikenal oleh bangsa/bahasa Arab? Mungkinkah sudah dikenal pada zaman kematian Yesus-YHWShuA? Apa Anda mampu mengajukan bukti dokumen.
Herlianto menulis:
Pada masa jahiliah pra-Islam, sebutan ‘Allah’ pernah merosot dan juga ditujukan kepada Dewa Bulan/Air (di kalangan Ibrani, nama ‘Yahweh’ dan ‘Elohim’ juga pernah merosot digunakan untuk menyebut berhala Anak Lembu Emas; Keluaran 32:1-5;1Raja 12:28), namun Arab Hanif termasuk suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah tetap mempertahankan nama Allah sebagai nama diri Tuhan Abraham. Bahkan sebelum kelahiran agama Islam, nama Allah digunakan dalam pengertian nama diri Tuhan.
Ensiklopedia Islam menyebutkan:
“Gagasan tentang Tuhan Yang Mahaesa yang disebut dengan nama Allah, sudah dikenal oleh bangsa Arab kuno, Ajaran Kristen dan Yudaisme dipraktekkan di seluruh jazirah.” (hlm.50).
“Nama “Allah” telah dikenal dan dipakai sebelum Alquran diwahyukan; misalnya nama Abd. Al-Allah (hamba Allah), nama ayah Nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan.” (hlm.23)
Dalam Al-Quran beberapa kali disebutkan bahwa nama Allah digunakan bersama oleh Umat Yahudi, Kristen dan Islam. Nabi Muhammad mengakui pada masa hidupnya sudah ada orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan nama Allah. Dalam Al-Quran tertulis:
“(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah, Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40).
Menarik untuk diketahui bahwa pada abad yang sama kelahiran agama Islam, terjemahan ‘Injil Muqqadas’ dalam bahasa Arab (643) sudah memuat nama ‘Allah.’ Pada abad sebelum Islam, inskripsi kalangan Kristen ‘Umm al-Jimmal’ menulis ‘Allahu Ghafran’ (Allah yang mengampuni) dan ‘Inskripsi Zabad’ (512) diawali ucapan ‘Bism al-ilah’ (Dengan Nama Allah, dalam kitab Esra 5:1 tertulis ‘Beshum Elah’ Yisrael). Satu abad sebelum ayah Nabi Muhammad lahir, dalam Konsili Efesus (431) hadir uskup Arab Haritz bernama ‘Abd Al-Allah.’
Dalam penemuan arkaeologis tua lebih dari satu milenium sebelum kelahiran Islam ternyata ‘nama Allah’ sudah disebutkan sebagai nama diri dalam beberapa inskripsi yang ditemukan. Artikel ‘Allah Before Islam’ dalam ‘The Muslim World’ (Vol.38, 1938, hlm. 239-248) mencatat bahwa suku-suku Arab kuno ‘Lihyan’ dan ‘Thamudic’ yang bermukim di Jazirah Arab bagian Utara, meninggalkan inskripsi bertuliskan banyak nama ‘Allah’ sebagai nama diri. Pendahulu suku ‘Lihyan’ adalah suku ‘Dedan’ yang dalam Alkitab disebutkan sebagai keturunan Ketura, isteri Abraham (Kejadian 25:1-3). Kita mengetahui bahwa bahasa Arab diturunkan dari bahasa Nabatea Aram dimana nama Tuhan disebut ‘Allaha.’ Maka konsekwensinya, nama ‘Allah’ tertuju pada ‘Allah’ Abraham yang cikal-bakalnya adalah EL (el – ela – elah) atau IL (il – ila – ilah) semitik.
Tanggapan Kristian Sugiyarto
”Alah” memang nama diri (proper name-proper noun), dan justru nama diri inilah yang dipermasalahkan dalam terjemahan LAI. Pada zaman Jahiliyah, kata ”Allah” memang sudah muncul. Namun, pertanyaannya adalah, kapan sesungguhnya kata ”Allah” itu muncul? Apakah ada bukti dokumen yang memuat penyebutan kata ”Allah” sudah muncul sejak zaman Abraham? Atau hanya menurut Quran saja bahwa Abraham menyebutnya dengan kata ”Allah”? Kita tahu bahwa inskripsi kuno Umal Jimmal 512 CE tertulis ”bism al ilah...”, bukan ”bism allah...” sebagaimana Quran menulis. Jadi jka Anda dan juga Bmb. Noorseno membacanya sebabagai bism Allah, itu artinya Anda membaca Quran dan tidak membaca inskripsi Umal Jimmal 512. Untuk bahasa Ibrani, minimal kita memiliki bukti autentik dari Dead Sea Scroll yang berumur sekitar 1-2BCE-1CE.
Bandingkan dengan Hebrew text. Tidak pernah ditemui frase bism El-Elohim-Eloah. Term beshem-etshem-kishem YHWH yang artinya dalam/atas/dengan-nama YHWH muncul kira-kira 46 kali (untuk etshem 2 kali, dan kishem 1 kali), yakni di ayat-ayat berikut:
Kej. 4:26; 12:8 ; 13:4 ; 21:33; 26:25; Kel. 20:7 (´et-šë|m-yhwh); 33:19; 34:5; Ul. 5:11(´et-šë|m-yhwh); 18:5; 18:7; 18:22; 21:5; 32:3 (Kî šëm yhwh); 1Sam.17:45(بِاسْمِ رَبِّ); 20:42; 2Sam. 6:18 (بِاسْمِ رَبِّ); 1Raja.18:24; 18:32(بِاسْمِ الرَّبِّ); 22:16; 2Raja.2:24; 5:11; 1Taw.16:2; 21:19; 2Taw. 18:15; 33:18; Mazm, 20:8(فَاسْمَ الرَّبِّ); 118:10,11, 12, 26; 124:8; 129:8; Yesaya 48:1; 50:10(اسْمِ الرَّبِّ); Yer. 11:21(بِاسْمِ الرَّبِّ); 26:9(بِاسْمِ الرَّبِّ),16, 20; 44:16; Yoel 3:5=2:32(بِاسْمِ الرَّبِّ); Amos 6:10(اسْمُ الرَّبِّ); Mikha 4:5; Zefaya 3:9, 12(اسْمِ الرَّبِّ); Zakharia 13:3 (total 46 kali)
Term beshem tersebut langsung diikuti nama diri misalnya saja beshem Ahab (1Raja. 21:8), beshem Yakub (Yes. 44:5); ada memang yang diikuti dengan artikel-kata sandang misalnya besehem ha-Baal (1Raja 18:26), beshem ha-Melech-yang artinya Sang Raja (Ester 3:12; 8: 8, 10); ini wajar, nmamun pertanyaan selanjutnya adalah siapa Sang Raja itu? Demikian juga , jika ada inskripsi bismi al Ilah adalah wajar dan pertanyaannya adalah siapakah ”al Ilah” itu? Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada pengguna Hebrew Bible, bisa diterjemahkan, siapakah ha elohim itu, dan jawabnya sudah pasti YHWH, bukan El, apalagi bukan ”Allah”.
Jika Anda menyatakan bahawa nama ”Allah” pernah merosot dan ”disalah-gunakan” pada zaman Jahiliyah, ini artinya nama ”Allah” pernah digunakan ”secara benar”. Apa Anda punya bukti dokumen akan hal ini? Apa Anda punya bukti dokumen bahwa kata ”Allah” digunakan secara benar, lalu disalah gunakan?
Anda jelas gegabah menyejajarkan hal ini dengan ”kemerosotan nama YHWH” , sebab memang ini dijelaskan dalam Alkitab PL dimana orang-orang Israel menyalahgunakan nama YHWH ketika ditinggalkan Sang Pemimpin, Musa, naik ke Gunung Sinai.
Bisa saja umat Kristen Arab sebelum Islam memakai sebutan ”Allah”, dan memang inilah yang justru dikritisi. Kita tidak tahu persis kenapa itu terjadi, apakah karena ”kebenaran” ataukah karena sinkretisme; bandingkan dengan istilah ”easter” untuk pengganti ”paskah” yang mestinya ”passover”. Yang jelas adalah bahwa ”Allah” adalah nama diri- proper name-proper noun. Jika umat Kristen dunia memperingati kelahiran Yesus 25 Desember, pertanyaannya adalah benarkah Yesus lahir pada tanggal tersebut? Jika di depan Gereja dipasang ”spanduk” dengan tulisan ”selamat idul fitri” atau ”selamat menunaikan ibadah puasa”, benarkah warga Gereja itu melaksanakan seperti yang tertulis? Jika di atas bangunan Gereja dipasang ”prasasti” yang ditandatangani Sang Bupati, benarkah Sang Bupati ini adalah pemimpin Gereja, dst?
Nama Abdullah, jika ditulis dalam bahasa Arab terdiri atas 2 kata Abd dan Allah, yang artinya memang ”hamba Allah”. Pemakaian nama sesembahan ke dalam nama seseorang adalah hal yang biasa terjadi. Daniel diubah menjadi Belzasar.
Nama Tuhan dalam bahasa Aram bukan ”Allaha” (awas double ”l”) sebagaimana Anda tulis, melainkan ”Elah-Alah” (single ”l”), dan pemberian akhiran ”a” (alef) menunjuk pada kata sandang ”the”. Jadi ”Alaha” sejajar dengan ”Al Ilah” (Arab), ha El – ha Elohim (Ibrani)
Herlianto menulis:
Dapat dimengerti mengapa agama-agama semitik sebelum Islam di kalangan berbahasa Arab sudah lama menggunakan nama ‘Allah.’ Jadi, nama Allah bukan nama Islam tetapi nama Arab untuk menyebut Tuhan Abraham dan El/Il semitik. Kini di negara-negara Arab, baik orang Yahudi, Kristen maupun Islam yang berbahasa Arab, semuanya menggunakan nama Allah tanpa masalah. Bambang Noorsena yang fasih berbahasa Arab dan pernah belajar selama dua tahun di Kairo menyebutkan bahwa di Kairo kota lama, dipintu gereja Al Mu’alaqqah ditulis ‘Allah Mahabah’ (Allah itu kasih) dan di pintu lainnya ‘Ra’isu al-Hikmata Makhaafatu Ilah’ (Permulaan Hikmat adalah Takut kepada Allah). Sinagoga ‘Ben Ezra’ menyebut bahwa dahulu disitu Rabbi ‘Moshe ben Ma’imun’ menulis buku ‘Al Misnah’ dan ‘Dalilat el-Hairin’ dalam bahasa Ibrani dan Arab dimana ‘El/Elohim’ diterjemahkan ‘Allah.’
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Saya tidak silau atas keahlian Bambang Noorsena. Seseorang yang jauh lebih senior ketimbang Bmbng Noorsena menyatakan kepada saya bahwa dialah yang konon membawa Bambng N ke sana, dan mengingatkan agar berhati-hati dalam analisisnya. Ia sudah meninggalkan kata ”Allah”, silakan ikuti ”kotbahnya” di TVRI setiap minggu 1 dan 2, dan buktikan apakah dari mulutnya keluar ucapan kata ”Allah”. Tentu dia pun ahli bahasa Arab bahkan Quran.
Herlianto menulis:
Kini ada 29 juta orang berbahasa Arab yang beragama Kristen dan semuanya menyebut nama ‘Allah,’ dan di kalangan ini beredar empat versi Alkitab berbahasa Arab yang menggunakan nama ‘Allah.’ Maka dari sini jelas bahwa bagi orang-orang Arab penganut Yahudi, Kristen, dan Islam, nama Allah digunakan bersama tanpa rasa curiga sebab mereka menyadari bahwa semua mempercayai Allah Abraham yang sama, sekalipun tidak disangkal adanya perbedaan aqidah yang dipercayai oleh masing-masing mengingat ketiganya memiliki kitab suci yang berbeda. Olaf Schuman teolog Kristen yang tiga tahun mengajar dan belajar di Universitas Al Ashar, Mesir, mengemukakan bahwa:
“Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal dogmatika atau ‘aqidah,’ sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakanny a.” (Keluar Dari Benteng Pertahanan, hlm. 175).
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Sdr. Bambang N (termasuk Anda) hanyalah membaca lalu berteori, dan menganggapnya teorinya adalah kebenaran. Teori yang digemborkan adalah bahwa kata ”Allah” adalah bentuk singkat dari ”al Ilah”. Kalangan yang menentang teori tsb. Juga sangat dan jauh lebih banyak.
Problem Al Ilah = Allah:
1. Jika Allah kependekan dari Al Ilah, kenapa ada ungkapan:
a. la ilaha il allah sangat janggal jika diterjemahkan: tidak ada ilah kecuali ”Ilah tsb.” Di siaran TV tertulis ”Tidak ada Tuhan selain Allah”.
b. “ Sesungguhnya Allah itulah Ilah yang satu maha suci Dia dari mempunyai anak”
(An-Nisa : 171). Sangat janggal jika diganti menjadi ” Sesungguhnya Al Ilah (Ilah tersebut) itulah Ilah yang satu ……..
c. Seruan-vokatif ”Ya Allah”, padahal jika diganti menjadi ”Ya Al Ilah” tidak
mungkin secara gramatika (alasan Allah sudah satu kata), melainkan يَا الَهَ ”Ya Ilah” misalnya Kej. 32: 9; contoh lain ”Ya Rabb” يَا رَبُّ bukan ”Ya Ar Rabb”, misal Hak.21:3)
Gen 32:9 وَقَالَ يَعْقُوبُ: «يَا الَهَ ابِي ابْرَاهِيمَ وَالَهَ ابِي اسْحَاقَ الرَّبَّ الَّذِي قَالَ لِيَ: ارْجِعْ الَى ارْضِكَ وَالَى عَشِيرَتِكَ فَاحْسِنَ الَيْكَ.
Jdg 21:3 وَقَالُوا لِمَاذَا يَا رَبُّ إلهَ إِسْرَائِيلَ حَدَثَتْ هذِهِ فِي إِسْرَائِيلَ حَتَّى يُفْقَدُ الْيَوْمَ مِنْ إِسْرَائِيلَ سِبْطٌ.
d. Seruan ”Allahumma” (dengan akhiran ”meem”) tidak mungkin terjadi pada kata
”al-ilahumma”, atau ”ilahumma”.
2. Jika kata “Allah” sudah satu kata (sebagaimana jawaban Bambng N) dan lalu bisa dianggap “generic-common”, kenapa tidak dimungkinkan gramar ”Allah-ku/mu/nya/dia/mereka/ God of.., melainkan Ilah- ku/mu/nya/dia/mereka/ God of..? Ilah dalam bahasa Arab pun netral artinya bisa false god tetapi juga bisa the true God, misalnya ayat dalam An-Nisa:171 tersebut, dan Al-Baqarah : 133, “Berkatalah mereka (Anak-anak Ya’qub) kami menyembah Ilah engkau dan Ilah bapa-bapaMu yaitu Ilah Ibrahim, Ismail dan Ishaq yaitu Ilah yang Esa dan pada-Nya kami menyerah”
3. Jika Allah = kependekan Al Ilah dengan menghilangkan ”l” (lameh), kenapa hamzah keduanya berbeda? Hamzah pada Alef untuk kata Allah adalah hamzah wasal sehingga bisa dihilangkan pada kasus tertentu (misalnya ”lilah” = kepunyaan Allah) meskipun maknanya tidak berbeda, sedangkan hamzah pada Alef untuk kata Al Ilah adalah hamzah qothi’ yang tidak bisa dihilangkan.
4. Teori ”Allah adalah kependekan dari Al Ilah”, sering menganalogikan ”Allah diterjemahkan God (dengan huruf pertama kapital, G) sebagai ganti the god (al Ilah), dan ini untuk membedakan term god (ilah). Teori ini bertentangan dengan kenyataan bahwa term Ilah bisa menunjuk the true God. Tambahan pula banyak ditemui frase bahasa Inggris ”The God of ....”, yang tidak mungkin menunjuk pada Al Allah atau Al al ilah. Jadi penggunaan huruf kapital hanya untuk membedakan sesembahan yang benar dari sesembahan yang palsu, bukan karena sekedar pengganti artikel definit the dari al.
5. Dalam dokumen Al Quran, kata ”Allah” merupakan proper noun jadi menunjuk nama diri atau proper name.
Jadi teori Allah = kependekan Al Ilah tidak bisa dipertahankan.
Argumentasi saya di atas sudah saya sampaikan dan diperiksa oleh Direktur program Studi Islamika di STT Jakarta pimpinan “Senior mantan muslim yang saya katakana membawa Bmbng N ke timteng di atas”. Ia bersama-sama beberapa kawan lain benar-benar muslim tetapi direkrut di STT tersebut. Ia lulusan IAIN Yogyakarta hingga S2, dan sangat terbuka dalam Ilmu Perbandingan Agama. Pendapatnya adalah bahwa argumentasi saya tersebut “benar” adanya, bahkan ia sangat tercengang.
OK, memang Elohim ada yang diterjemahkan ”Allah”, ini tergantung penerjemahnya.
Meskipun saya tidak bisa berbahasa Arab, tetapi saya dapat dengan mudah mengkritsi ”kekacauan” Arabic Bible terjemahan van Dyke yang sudah sangat terkenal itu.
Jika Anda berpendapat bahwa El/Elohim diterjemahkan ”Allah’ hanya menunjukkan bahwa Anda sama sekali tidak pernah mengujinya baik Arabic Bible maupun Hebew Bible. Anda memang suka baca tetapi tidak suka baca Teks Biblenya. Jika kata ”Elohim” berdiri sendiri seolah-olah sebagai nama diri baru diterjemahkan ”Allah”; tetapi dalam nama gabungan seperti YHWH Elohim, misalnya, diterjemahkan Ar Robbu al Ilah (Ar adalah kata sandang sama seperti Al). Saya katakan terjemahan kacau sebab sama sekali tidak konsisten. Ha El misalnya dalam Kej. 31:13 (Anoki ha El- Akulah El itu..) diterjemahkan Akulah Ilah, bukan Akulah Al Ilah, juga bukan Akulah Allah. Hampir semua kata YHWH yang jelas-jelas nama diri-proper name- noun proper diterjemahkan (Ar) Robbu yang artinya kira-kira “(the Lord)”, namun ada 9 ayat yang menerjemahkan Yahwahu (Kel. 3:15; 6:3; Mazm 83:18; Yer 16:21; 33:2; Hosea 12:5; Amos 4:13; 5:8; 9:6)
Saya tidak terlalu percaya akan pernyataan Anda bahwa semua umat Kristen Arab memakai kata ”Allah”; namun jelas memakai kata ”Ilah”. Saya baca pernyataan lain yang berbeda, banyak Kristen Yahudi yang berbahasa Arab namun menghindari kata ”Allah” .
Kini telah muncul terjemahan Arabic Bible yang menghilangkan kata “Allah”, silakan saja baca Arabbible Demo 3.0. Ini pun tidak dapat disangkal, dan membuktikan bahwa telah terjadi pemahaman ulang atas pemakaian kata ”Allah”.
Tahukah Anda bahwa seluruh umat manusia (Milyaran) tadinya menerima informasi bahwa ”pluto” adalah salah satu Planet yang kita miliki? Tahukah Anda bahwa ”Pluto” yang dulunya dimasukkkan kategori ”planet”, sekarang bukan lagi termasuk ”planet” melainkan ya sekedar ”asteroid-benda angkasa” saja. Para Scientist jauh lebih fair dan jujur dalam diskusi tanpa peduli aliran mana!
Herlianto menulis:
Dalam terjemahan Alkitab ke bahasa Melayu, sejak awal nama Allah sudah digunakan. Daud Susilo, konsultan United Bible Societes, menulis:
“Dalam terjemahan bahasa Melayu dan Indonesia, kata ‘Allah’ sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Corneliz Ruyl, 1629). Begitu juga dalam terjemahan Alkitab Melayu yang pertama (terjemahan Melchior Leijdekker, 1733) dan Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Corneliz Klinkert, 1879) sampai saat ini.” (Forum Biblika, LAI, No.8/1998, hlm. 102)
Alkitab berbahasa Melayu di Malaysia terbitan The Bible Society of Malaysia juga menggunakan nama ‘Allah.’ (Hal seperti itu dilakukan dalam penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Inggeris dimana nama Arab ‘Allah’ diterjemahkan ‘God’ dalam bahasa Inggeris). Dalam Alkitab dalam bahasa Indonesia, nama ‘Allah’ tetap digunakan melanjutkan Alkitab Melayu itu, karena di Indonesia, kata ‘Allah’ sudah lama menjadi bagian kosa kata bahasa Indonesia, karena itu di Indonesia penggunaannya sebagai nama ‘Tuhan Yang Mahaesa’ agama-agama Abraham/Ibrahim adalah umum.
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Tentu saja Dr. Daud Susila ahli bahasa, namun bukan berarti selalu benar sekalipun berbahasa. Jelas bahwa alasannya bukan kebahsaan, melaikan dari sumber pemakaian sebelumnya saja. Saya tidak pelu silau atas keahlian dia, bahkan saya nyatakan saya ini seorang akademik-saintis tepatnya bidang Kimia Anorganik, jauh dari kebahsaan-linguistik. Degree pendidikan akademik saya sudah maksimal termasuk jabatan akademik saya sebagai seorang dosen. Ini bukan pamer atau sombong, namun hanya untuk membandingkan argumentasi yang diajukan. Untuk itu perhatikan contoh ”kesalahan” terjemahan LAI dimana Dr. Susilo menjadi Konsultan UBS.
Isaiah 41:25 Aku telah menggerakkan seorang dari utara dan ia telah datang, dari sebelah matahari terbit Aku telah memanggil dia dengan namanya. Seperti tukang periuk menginjak-injak tanah liat, demikian dia akan menginjak-injak penguasa-penguasa seperti lumpur.
Salah terjemahan,. ”namanya” adalah terjemahan dari Ibrani bismi , jadi yang benar adalah nama-Ku (akhiran Ku huruf besar karena menunjuk Dia yang berfirman yakni YHWH), dan secara keseluruhan: ...... ia akan memanggil/menyatakan/memproklamasikan dalam nama-Ku...... Bahkan seluruh konteks kalimat menjadi rancu. Bandingkan dengan KJV:
KJV Isaiah 41:25 I have raised up one from the north, and he shall come: from the rising of the sun shall he call upon my name: and he shall come upon princes as upon morter, and as the potter treadeth clay.
Tentu masih cukup banyak kesalahan yang tidak saya ungkap disini; pertanyaannya adalah lalau apa peran sdr. Dr. Daud Susilo dalam hal ini? Jadi mari kita berargumentasi dengan menunjuk referensi bukan referee-nya.
Herlianto menulis:
Bila bangsa Arab pemilik bahasa Arab tidak mempermasalahkan penggunaan nama ‘Allah’ oleh agama-agama semitik, maka seyogyanya bangsa-bangsa non-Arab juga tidak mempermasalahkannya karena bukan bahasa mereka. Kesamaan nama ‘Allah’ yang disembah ketiga agama Semitik bisa menjadi perekat bahwa ketiganya sebenarnya bersaudara. Yang perlu disadari adalah bagaimana dalam keeksklusifan iman sesuai ajaran kitab suci masing-masing, agama bisa diamalkan dengan damai dan toleransi.
Amin!
Tanggapan Kristian Sugiyarto
Jika kita mau belajar bertoleransi, ikuti saja HAM PBB 1948 khususnya ps. 18-19 tersebut. Ham ini kan sudah diratifikasi pemerintah RI (desember 1999?). Mari kita teliti produk-produk hukum-undang-undang apakah sudah sejajar HAM.
YBU
Kristian H. Sugiyarto.
|