Konfrontasi terhadap Buku Herlianto: “Siapakah yang Bernama Allah Itu” (2)
(maaf belum selesai editing agar enak dibaca)
(3) Nama Diri Sang Pencipta
Bagian ini untuk menaggapi buku SYBAI halaman 15-24.
Alkitab Ibrani (PL) secara keseluruhan mencatat adanya berbagai “title” untuk “sesembahan” umat manusia yang terkait dengan posisinya sebagai “Sang Pencipta / Yang Absolut”. Sebutan atau “term” yang digunakan dalam bahasa Ibrani adalah:
(1)
Eohim (bentuk jamak, muncul sekitar 2360 kali),
Eloah (bentuk tunggal, sekitar 49 kali);
(2)
El (bentuk tunggal muncul sekitar 250 kali, bentuk jamaknya
elim, sekitar 3 kali), dan
(3) dalam bahasa Aram,
Elah (bentuk tunggal sekitar 26 kali, bentuk jamaknya
elahin, sekitar 9 kali).
Semua term untuk “sesembahan” tersebut yang biasanya diterjemahkan secara umum sebagai (
the true)
God atau Tuhan adalah
Elohim-Eloah, El dan Elah; jadi, semua bentuk tunggal dan hanya bentuk jamak Elohim saja yang menunjukkan
the true God, sedangkan bentuk jamak elim dan elahin (dengan huruf kecil) selalu menunjuk pada the false god (tuhan-dewa-ilah).
Semua term tersebut muncul dalam bentuk bebas, yakni
Elohim (sekitar 680 kali), maupun dengan artikel-kata sandang,
ha (the) kecuali
Eloah,
ha Elohim (sebanyak kurang lebih 360 kali untuk sesembahan yang benar,
true God), dan 7 kali untuk
false god-dewa-ilah (
ha elohim), dan
ha El (sebanyak 20 kali).
Bentuk jamak,
elim (yang juga berarti
ram = domba jantan), diterjemahkan
the mighty (Ayub 41:17; Mazm 29:1) dan
gods (Dan. 11:36, “..
El of elim” = God of gods). Mazm. 89: 6, “
sons of elim” oleh LAI diterjemahkan “penghuni surgawi”, namun oleh YLT (Young Literal Translation) diterjemakan “
sons of the mighty”, dan oleh Geneva Bible-GNV diterjemahkan “
sonnes of the gods”.
Term
Elohim dan
El, keduanya juga muncul secara
construct, dengan
suffix posesif, mereka-kami-kita-dia dan
of; untuk
Elohim dengan
construct-suffix ini muncul sekitar 1300 kali, dan untuk
El dengan
suffix –ku, Eli, muncul sekitar 12 kali.
Term
Elah dalam bentuk bebas muncul sekitar sebanyak 21 kali, dan sebagai
Elahahon (Elah mereka) 3 kali; sedangkan
elah yang menunjuk
the false god-dewa-ilah-tuhan tercatat 3 kali; bentuk jamak
elahin, hanya menunjuk pada
the false gods sebanyak 9 kali.
Elaha (dengan
the Aramaic article suffix, ‘alef) muncul 30 kali.
Selain itu dikenal pula term
Adonai-Adon yang pada awalnya ditujukan untuk “panggilan” bagi seseorang yang mempunyai posisi sebagai “majikan”, sehingga sering diterjemahkan sebagai Tuan, Mister, Master; pada zaman patriat, posisi majikan relatif terhadap hamba/budaknya sedemikian tingginya sehingga nyawa seorang hamba pun berada dalam “genggaman” majikannya. Kenyataan bahwa term
Adonai ini dikenakan kepada Sang Pencipta, maka sebutan bagi-Nya menjadi superlatif atas Tuan dan nampaknya berubah menjadi Tuhan. Term
Adon juga mempunyai bentuk jamak,
Adonim. Sebutan ini muncul secara variatif, baik dalam bentuk bebas (
Adon), maupun terikat, dengan “akhiran-
suffix” berfungsi posesif/milik (misalnya
Adonaiku) dan dengan kata sandang-artikel
ha (the) baik bentuk tunggalnya,
ha Adonai, maupun bentuk jamaknya
ha adonim.
Satu lagi alkitab mencatat satu-satunya nama pribadi (proper name) untuk Tuhan (for the true God) yakni YHWH (baca YAHWEH) yang muncul sebanyak kurang lebih 6800 kali, suatu jumlah yang jauh melebihi keempat term sesembahan tersebut. Nama YHWH yang muncul secara eksplisit sejak awal sebagai Sang Pencipta (Kej 2:5), muncul secara variatif, baik sebagai fonem bebas (mandiri), sebagai nama
compound (gabungan) dengan term-term di atas misalnya Elohim YHWH dan Adonai YHWH, maupun dengan berbagai atribut (gelar) seperti YHWH Yireh, YHWH Nissi dsb.
Keempat term sesembahan tersebut,
Elohim, Elah, El, dan
Adonai selalu mempunyai bentuk jamak/tunggal, hadir tanpa maupun dengan artikel
ha (the), dan dapat menunjuk baik bagi the true God maupun false god(s); oleh karena itu dapat dipahami bahwa term tersebut adalah term generik (umum), yang juga dipakai bagi para penyembah berhala (pagan). Tambahan pula term-term itu hadir pula dalam bentuk terikat-construct, untuk melukiskan posesif /kepemilikan atau “of” sebagai suffix-akhiran, misalnya Elohim-ku/mu/nya/mereka-Israel menjadi Eloheka (Elohim-mu), Elohe Yisrael (Elohim of Israel); El menjadi Eli (El-ku) Elah menjadi Elahahom/Elahahon (Elah-mereka), Elahakom/Elahakon (Elah-mu), Elahana (Elah-kami). Kenyataan demikian ini dalam konteks seluruh Alkitab tidak mungkin term-term tersebut “disejajarkan” dengan YHWH yang hadir selalu sebagai “noun proper” sedangkan keempat term tersebut, “common noun” sebagaimana dalam parsing menurut WTT BibleWorks 6.
Jadi pernyataan Sdr. Herlianto perihal kesejajaran Elohim-El dengan YHWH dalam berbagai kasus sehingga menengarainya sebagai proper name menunjukkan “kecerobohan” yang luar biasa kalau tidak ingin dikatakan “kacau balau” pemahaman exegesis untuk term tersebut. Kesimpulan yang “lurus” adalah bahwa keempat term tersebut dapat diasosiasikan dengan nama YHWH, dan dengan demikian term itu hanyalah mampu dikategorikan sebagai nama-panggilan generik (umum). Kecerobohan yang luar biasa ini nampak pada berbagai contoh yang dikemukakannya seperti berikut ini:
Sdr. Herlianto menulis dalam bukunya SBYAI, halaman 15:
Nama El dan variasinya (Elohim dan Eloah) adalah nama yang digunakan dalam Alkitab Ibrani sejak awal Kitab Kejadian; nama-nama itu ternyata mempunyai arti baik sebagai nama diri maupun sebagai kata generik (gelar/sebutan, tergantung konteks penggunaannya), ......
“Akulah Allah (MT:El) yang di Betel itu” (Kej. 31:13)
“Allah (MT: Elohim) Israel ialah Allah (MT:El)” (Kej. 33:20)
Halaman 22:
contoh lain di mana “El” sebagai nama diri disamakan dengan “YAHWEH” sebagai nama diri dapat dilihat pada ayat-ayat berikut:
“Allah Israel adalah Allah (MT: El Elohe Yisrael)” (Kej. 33:20)
“Akulah Allah (MT:El), Allah (MT:Elohe) ayahmu” (Kej. 46:3)
“Akulah Allah (MT: El) Yang Mahakuasa (MT: Shadday)” (Kej. 17:1; band. Kel. 6:2)
Bandingkan ayat-ayat tersebut dengan:
“TUHAN (MT:Yahweh), Allah (MT: Elohe) Israel” (Kel. 32:27)
“TUHAN (MT:Yahweh), Allah (MT: Elohe) Israel” (Yos. 8:30)
Tanggapan saya:
Sdr. Herlianto,
Anda telah melakukan kesalahan dalam mentransilerasi dari Teks Ibrani dalam Kej. 31:13 dan Kej. 46:3; yang benar adalah,
Kej. 31:13: אנכי
האל בית־אל
(dibaca dari kanan)
anoki ha-el bet-el (Akulah
ha-El yang di Betel itu); jadi kata “Allah” terjemahan dari Masoretic Text: ha-El, bukan El; demikian juga dalam Kej. 46:3.
Kej 46:3, …. : אנכי
האל אלהי אביך
(dibaca dari kanan)
anoki ha-el elohe abika (Akulah
ha-El, Elohim ayahmu); jadi kata “Allah” terjemahan dari Masoretic Text:
ha-El, bukan hanya
El; oleh karena itu tidak mungkin nama diri memakai kata sandang
ha (the); jelas suatu
kesalahan yang fatal, dan inilah yang dilakukan Sdr. Herlianto.
Jika Anda merasa betul dalam kasus ini, tolong beritahukan kepada saya, Alkitab Hebrew (Tenakh) mana yang Anda salin itu; silakan uji dengan Tenakh yang ditampilkan LAI dalam Alkitab “Perjanjian Lama, Ibrani-Indonesia”, 1999, hal 49 dan 76, maupun dengan WTT BibleWorks 6.
Namun, jika Anda bersikeras menganalisis ayat tersebut yang mengandung
ha-El sebagai nama diri sesuai konteksnya, tolong bandingkan kesejajaran pernyataan berikut ini:
(1) ”Akulah A yang di B itu”
(2) ”Akulah
dosen yang di Universitas itu”
(3) ”Akulah
lurah,
kepala desanya ayahmu”
Hanya orang yang tidak mengerti istilah dosen, dan lurah serta tidak mengerti bahasa Indonesia saja yang mengidentifikasi dosen dan lurah sebagai nama diri.
Untuk mengidentifikasi
El atau
ha-El termasuk nama diri atau tidak, haruslah diketahui lebih dahulu pemakaiannya dalam seluruh Alkitab secara komprehensif; Sdr. Herlianto tidak sedang menganalisis secara konteks, tetapi sedang main comot per ayat-lepas sama sekali; sungguh sangat mengherankan, mengingat ia justru menyatakan bahwa para pengagung Yahweh kesukaannya main comot ayat Alkitab.
Kita kaji Kej. 33:20,
”Ia mendirikan mezbah di situ dan dinamainya itu: ’Allah Israel ialah Allah.’" (LAI)
Berikut saya tampilkan berbagai terjemahan Alkitab sebagai pembanding, dari DBY, NAU, JPS, NIB, NIV, TNK, KJV, ASV, dan ESV:
“And he erected there an altar, and called it (menamainya): ‘El-Elohe-Israel’”
Sementara itu GNV menerjemahkan: “ …….: ‘
The mightie God of Israel’”,
dan YLT: “ …….: ‘
God -- the God of Israel.’”
Nampaknya banyak penerjemah tidak mau menerjemahkan melainkan menyalin secara literal.
Mari kita kaji ayat-ayat berikut ini:
Mazm 63:2(1), “Ya Allah, Engkaulah Allahku, ….”
Transilerasi Ibraninya: “
Elohim Eli atta….”;
terjemahan literalnya, “
Elohim, El-ku Engkau, …”
atau barangkali lebih enak dibaca, ”
Elohim, Engkaulah
El-ku…”.
Mazm 118:28, “Allahku (
El-ku) Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku (
Elohim-ku), aku hendak meninggikan Engkau.”
Jadi posisi
Elohim dan
El dalam Kej. 33:20 jelas
berbalikan dengan Mazm. 63:2(1), dan dalam Mazm 118:28, keduanya menjadi bentuk construct-terikat posesif semua.
eli (el-ku) juga berlaku bagi
false god (dewa-ilah), Yes. 44:17,
“Dan sisa kayu itu dikerjakannya menjadi allah (
el), menjadi patung sembahannya; ia sujud kepadanya, ia menyembah dan berdoa kepadanya, katanya: "Tolonglah aku, sebab engkaulah allahku (
eli = elku)!"
Dari contoh-contoh tersebut jelas bahwa El tidak mungkin bisa diterapkan sebagai nama diri.
Sdr. Herlianto dalam halaman 21 menulis:
Dalam Mazmur 43-83, lima belas kali “El”disebut sebagai nama diri, dan dalam Mazmur 78, 6 kali “El” disebut sebagai “nama diri” untuk menyebut Yahweh. (Mazm 78: 7, 8, 18, 19, 34, 41)
Tanggapan:
Karena rentang Mazm 43-83 yang Anda tulis sangat panjang maka hanya saya ambil sampel pasal awal, 43, dan akhir, 83, saja.
Dalam Mazm. 43 hanya ada 1 kali kata El yang berkaitan dengan term sesembahan, yakni dalam
Mazm 43:4,
“Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah (
Elohim), menghadap Allah (
El), yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah (
Elohim), ya Allahku (
Elohei) !”
Term El dalam Mazm. 83 hanya ditemui 1 kali saja, Mazm 83:2,
“Ya Allah (
Elohim), janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah (
El)!”
Jika sdr. Herlianto meganggap bahwa
El dalam kedua ayat tersebut sebagai nama diri, maka
Elohim pun dapat pula sebagai nama diri; dan bila halnya demikian hanya orang yang kebingungan saja yang mengidentifikasi nama diri sesukanya saja. Koq kayak orang (teroris) menyamar saja pakai nama diri lebih dari satu bahkan dalam satu kalimat.
Berikut contoh ayat Mazm 78.
Mazm 78:7, “supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah (
Elohim) dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah (
El) , tetapi memegang perintah-perintah-Nya;”
Selanjutnya jika dalam Mazm 78, nama diri El dipakai untuk menyebut Yahweh, tentunya demikian juga bagi Elohim, lalu Yahweh sebagai apa? Juga nama diri? Nampaknya Anda memang tidak paham akan kriteria nama diri (proper name) dan generic name. Sdr. Herlianto, saya anjurkan Anda mencoba melakukan
parsing bagi term-term “generic name” dan bandingkan dengan “YHWH”, maka akan diperolah karakter:
noun - common - masculin –kadang singular/plural-kadang ada suffix bagi generic name, dan
noun-proper-no gender-no number-no state, tak pernah ada suffix bagi YHWH. Inilah yang membedakan antara term generik dengan proper name-YHWH.
Sdr. Herlianto, perhatikan pemakaian term El, Elohim dan YHWH secara serentak berturutan dalam Yos. 22:22, ” El Elohim YHWH, El Elohim YHWH, ....”
YLT menerjemahkan, “The God of gods -- Jehovah, the God of gods – Jehovah….”
LAI menerjemahkan, "Allah (El) segala allah (elohim), TUHAN (YHWH) , Allah (El) segala allah (elohim), TUHAN (YHWH)…”
NIV Joshua 22:22 "The Mighty One, God, the LORD! The Mighty One, God, the LORD!....”.
Jelas hanya YAHWEH-lah proper name dalam segala kondisi/struktur apa pun; inilah yang benar-benar proper name.
Pada halaman 24 sdr. Herlianto menulis:
“Rupanya ketika “El” menyatakan diri pada Adam, “El” nyata sekali sebagai pribadi tunggal di hadapan Adam, tetapi kemudian ‘el’ itu dimengerti merosot dengan pengertian politeistik (elohim). Dalam perkembangan penyembahan itu kemudian ‘el’ dianggap sebagai ‘pencipta/penguasa’ atau yang tertinggi dari ‘pantheon deretan sesembahan elohim’ itu dan mulailah disebut dengan nama diri ‘El’ yang definitif (The God) oleh para Patriakh sebelum nama diri YAHWEH diperkenalkan kepada Musa (Kel. 6: 1-2). Tetapi sekalipun YAHWEH disebut sebagai nama Tuhan satu-satunya, ternyata nama ‘El’ sebagai nama diri masih dipakai juga bahkan samapai sesudah Pembuangan di Babel di mana nama itu masih sering dipakai, juga sebagai pengganti nama ‘YAHWEH’.
Tanggapan:
Luar biasa pernyataan Anda di sini;
data mana yang membawa Anda menyimpulkan bahwa El pernah menyatakan diri kepada Adam? Dari mana pula Anda menyimpulkan bahwa Elohim dipahami politeistik?
Meskipun
Elohim dipahami bentuk plural dari bentuk tunggalnya
Eloah,
Alkitab merekamnya dalam bentuk action (ber kata-kerja) selalu tunggal begitu juga ajectivanya. Nampaknya “kenekatan” Anda dalam melakukan tafsir, sangat mirip dengan teolog Barbara Thiering yang menyimpulkan bahwa Yesus punya isteri dan anak.
Renungkan informasi yang dapat ditemui dalam BibleWorks 6 berikut ini:
Elohim. This word, which is generally viewed as the plural of Eloah is found far more frequently in Scripture than either El or Eloah for the true God. The plural ending is usually described as a plural of majesty and not intended as a true plural when used of God. This is seen in the fact that the noun Elohim is consistently used with singular verb forms and with adjectives and pronouns in the singular.
(Terjemahan bebas-singkat:
Elohim dengan akhiran (im) umumnya dipandang sebagai bentuk plural dari Eloah, melukiskan “keagungan plural” dan tidak dimaksudkan benar-benar plural ketika diartikan sebagai Tuhan (God). Ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa kata benda Elohim secara konsisten selalu menggunakan kata-kerja bentuk tunggal dan dengan kata sifat dan pronoun tunggal pula.)
Albright has suggested that the use of this majestic plural comes from the tendency in the ancient near east toward a universalism: "We find in Canaanite an increasing tendency to employ the plural Ashtorot 'Astartes', and Anatot 'Anaths', in the clear sense of totality of manifestations of a deity"' (William F. Albright, From the Stone Age to Christianity, 2d ed., p. 213). But a better reason can be seen in Scripture itself where, in the very first chapter of Gen, the necessity of a term conveying both the unity of the one God and yet allowing for a plurality of persons is found (Gen 1:2, 26). This is further borne out by the fact that the form Elohim occurs only in Hebrew and in no other Semitic language, not even in Biblical Aramaic (Gustav F. Oehler, Theology of the Old Testament, p. 88).
(Terjemahan bebas sebagian saja:
Allbright telah menyarankan bahwa pemakaian “keagungan plural” berasal dari kecenderungan dalam masa kuno timur (dekat) yang umum: ”Kita mendapati di Kanaan suatu peningkatan kecenderungan menerapkan plural bagi Ashtorot yakni ‘Astartes’, dan Anatot yakni Ánaths’, dalam suatu pemahaman yang jelas dari manifestasi total suatu sesembahan.” Tetapi, alasan lebih baik dapat diperoleh dari Alkitab itu sendiri, di mana dalam pasal pertama Kejadian, keharusan sebuah term yang melukiskan ketunggalan Tuhan - Elohim namun juga pribadi yang plural, Kej. 1:2, 26; )
Berikut adalah 2 pernyataan Sdr. Herlianto yang menunjukkan “kecerobohannya” (garis bawah saya tambahkan untuk penekanan saja):
(1) Dari sini kita tahu bahwa nama Ilah/Allah dalam bahasa Arab adalah padanan nama 'El/Elohim/Eloah' bahasa Ibrani dan 'Alah/Alaha/Elah/Elaha' dalam bahasa Aram Siria (kata sandang definitif 'ha' dalam bahasa Ibrani tidak biasa digunakan bila menunjuk pada El/Eloah/Elohim)- Sumber: From: "herlianto" <herlianto@yabina.org> Date: Wed, 10 Aug 2005 06:45:30 +0700 Subject: [perkantas] Bismillah
(2) Dalam dialek Semitik Arab, il disebut ila atau ilah (Allah = al-ilah, ilah itu. Dalam dialek Semitik Ibrani penggunakan kata sandang untuk el tidak umum). Kita mengetahui bahwa dari sumber Islam maupun Kristen bangsa Arab adalah keturunan dari empat jalur Semitik,….. Sumber: Satu Allah Tiga Agama, Kategori: Doktrin Penulis: Herlianto, Tanggal: 12-01-2006; www.sabda.org/artikel/...php?id=407
Dari dua pernyataan tersebut, perihal
tidak umumnya ditemui kata sandang “
ha” baik untuk
Elohim maupun
El, menunjukkan bahwa Sdr. Herlianto hanya membaca teks Alkitab LAI atau barangkali yang berbahasa Inggris saja, dan tidak pernah mengujinya dalam teks Hebrew (Ibrani- Tenakh, PL); dugaan saya tidaklah berlebihan sebagaimana ditunjukkan kesalahannya ketika mengidentifikasi
ha-El dalam Kej. 31:13 dan 46:3 yang telah dibicarakan di atas. Dengan “peralatan” BibleWorks 6, saya sudah mampu
mengkonfirmasi kata sandang tersebut, sebagaimana telah saya sebutkan di atas juga dalam tanggapan saya atas artikel Anda: Bismillah.
(4) Sekali lagi tentang term “Ilah” dan “Allah”
Untuk mempermudah studi, saya tampilkan kedua term tersebut dari salah satu Glosari seperti berikut ini:
Allah – Arabic allâh: the Arabic proper name for the Supreme Deity. The exact derivation of this word is unclear, but it is likely related to the Aramaic Alaha and to the ancient Hebrew El. (Note that the name 'God' is a relatively new, and perhaps unfortunate, European invention that has been the source of much misunderstanding, fear and hatred.) [Glossary for The Sufi Message of Hazrat Inayat Khan (Updated August 15, 2005), wahiduddin.net/mv2/mv_glossary.htm]
ALLAH is the proper name of God among Muslims, corresponding in usage to Jehovah (Jahweh) among the Hebrews. Thus it is not to be regarded as a common noun meaning 'God' (or 'god'), and the Muslim must use another word or form if he wishes to indicate any other than his own peculiar deity. Similarly, no plural can be formed from it, and though the liberal Muslim may admit that Christians or Jews call upon Allah, he could never s Peak of the Allah of the Christians or the Allah of tire Jews. [Encyclopedia of Religion and Ethics, James Hastings, Allah p 326; www.bible.ca/islam/isl...rigin.htm]
The Shorter Encyclopedia of Islam (1965), says that Allah,
"... was and is the proper name of God among Muslims ..." (underline emphasis ours)
Some other references that he cited regarding Allah being a proper name include the following:
Presented in Islam as the proper name of God. (Encyclopedia of Religion, 1987, p. 27; underline emphasis ours)
The proper name of God among Muslims ... (Encyclopedia of Religion and Ethics, 1962, p. 326; underline emphasis ours)
Jadi “Allah” dimaknai sebagai nama diri (proper name) dari sesembahan paling tinggi atau Tuhan, God (ilah); tentu saja ada yang tidak sependapat dengan padangan tersebut, melainkan memahaminya sebagai “God” itu sendiri. Untuk itu akan kita uji “kelurusan” kedua pemahaman tersebut.
Pemahaman term “Ilah” dapat diperoleh dari salah satu “sahadat” (pengakuan iman) dalam Islam sebagai berikut:
la ilaha illa-llah - Arabic lâ ilâha illâ Allâh: The four individual words in the phrase lâ ilâha illâ allâh have the following meanings: lâ = no, not, none, neither; ilâha = a god, deity, object of worship; illâ = but, except; allâh = Allâh. Typical translations include: There is no god but Allâh; There is nothing to worship or adore except Allâh. This phrase is often called tahlîl (acclaim, cry out with with joy), and is used in the Qur'an in sûrah Muhammad (47:19). (also see the tahlil web page) [Glossary for The Sufi Message of Hazrat Inayat Khan (Updated August 15, 2005), wahiduddin.net/mv2/mv_glossary.htm]
Terjemahan untuk tiap kata adalah, lâ = tidak, ilâha = (satu) Tuhan, illâ = kecuali, allâh = Allah, dan terjemahan yang umum: “Tidak ada (satu) Tuhan (pun) selain Allah” (There is no God except Allah). Penulis belum pernah menemui model terjemahan lain misalnya: “There is no god except God” (atau, Tidak ada tuhan selain Tuhan).
Term “Ilah”
Term “Ilah” dapat berbentuk tunggal maupun jamak, dapat juga maskulin ataupun feminin, dapat pula dipakai untuk menunjuk pada “dewa, berhala atauh tuhan” (dengan huruf pertama kecil, false god) maupun menunjuk pada sembahan yang benar (true God, dengan huruf pertama kapital). Selain itu term ini pun dapat diberi “kata sandang” (article) “al” yang artinya “the”; demikian pula dapat memperoleh akhiran (suffix), misalnya ku, mu, kita.
"al-ilahat"(the feminine of "al-ilah", godess),
en.wikipedia.org/wiki/ Talk:Allah, From Wikipedia, the free encyclopedia.
Karakter term “Ilah” ini
sama sekali tidak ditemui dalam karakter term “Allah”. Berikut dikemukakan beberapa contoh dari Quran:
They have taken as lords beside Allah their rabbis and their monks and the Messiah son of Mary, when they were bidden to worship only One God (ilahan wahidan, hanya Tuhan Yang Satu). There is no God (ilaha, Tuhan) save Him. Be He Glorified from all that they ascribe as partner (unto Him)! S. 9:31 (yang digarisbawahi terjemahan saya)
Your God is One God (Ilahukum ilahun wahidan, Tuhanmu itu Tuhan Yang Satu). But as for those who believe not in the Hereafter their hearts refuse to know, for they are proud. S. 16:22 (yang digarisbawahi terjemahan saya)
Allah hath said: Choose not two gods (ilahayni, dua tuhan – dua ilah). There is only One God (ilahun wahidun). So of Me, Me only, be in awe. S. 16:51 (yang digarisbawahi terjemahan saya)
If there were therein gods (alihatun) beside Allah, then verily both (the heavens and the earth) had been disordered. Glorified be Allah, the Lord of the Throne, from all that they ascribe (unto Him). S. 21:22
Say: It is only inspired in me that your God is One God (ilahukum ilahun wahidun). Will ye then surrender (unto Him)? S. 21:108
And argue not with the People of the Scripture unless it be in (a way) that is better, save with such of them as do wrong; and say: We believe in that which hath been revedaled unto us and revealed unto you; our God and your God is One (wa-ilahuna wa-ilahukum wahidun, Tuhan kita dan Tuhanmu itu Satu/Esa), and unto Him we surrender. S. 29:46 (yang digarisbawahi terjemahan saya)
Most surely your God (ilahakum, Tuhanmu) is One: S. 37:4 (yang digarisbawahi terjemahan saya)
And He it is Who in the heaven is God (ilahun), and in the earth God (ilahun). He is the Wise, the Knower. S. 43:84
Dari contoh karakter term “Ilah” tersebut jelas bahwa term ini memang persis sejajar dengan term sesembahan yang ada dalam Alkitab Ibrani (PL), yakni,
El (elim-plural), Eloah (Elohim-plural), Elah (Elahin-plural), atau Elaha (Aramaik), atau God(s).
Karakter Term “Allah”
Secara sederhana term “Allah” dibedakan dalam 2 pemahaman, yakni
(1) bentuk singkat (kontraksi) dari
al-ilah (the god = God) menjadi “Allah”
(2) bukan sebagai bentuk ringkas, melainkan sebagaimana adanya, tidak berasal-usul.
Informasi kedua pendapat tersebut cukup banyak, dan antara lain dapat diakses di
en.wikipedia.org/wiki/Talk:Allah
www.daar-ul-ehsaan.org...HTM#Allaah
Debat mengenai kedua pendapat tersebut sangat argumenatif khususnya untuk pendapat (2), namun bagi saya bukan hal yang penting melainkan bagaimana term “Allah” (dan ilah) diterapkan untuk terjemahan “hebrew-greek” sebagai “bahasa asal” Alkitab PB-PL dengan tanpa menyalahi aturan kebahasaan!
Informasi karakter kedua term,
ilah dan
Allah tentu sangat signifikan diperoleh dari Al Quran sendiri. Berikut pernyataan Hizbullah Mahmud dalam Mengkritisi Kembali Makna "Tuhan" [http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2396&Itemid=0]:
Kata Allah dalam Alqur'an disebut ulang oleh Allah sebanyak 2679 kali semuanya dalam bentuk tunggal, karena memang tidak memiliki bentuk tatsniyah dan jama' sesuai dengan firman-Nya "Allahu ahad" yang berarti Allah maha Tunggal/Esa. Hal ini akan berbeda dengan kata ilah yang berarti tuhan. Didalam Al-Qur'an oleh Allah kata ilah disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrod, ilahaini dalam bentuk tatsniyah 2 kali, dan aalihah dalam bentuk jama' disebut ulang sebanyak 34 kali.
Berdasarkan disiplin ilmu dalam bahasa Arab, apabila isim nakiroh (indefinite article) dapat ditatsniyahkan dan dijama'kan, maka isim ma'rifaah (definite article) juga demikian.
Kita telah mengetahui bahwa dalam Alqur'an tatsniyah dan jama' dari kata ilah masing-masing disebut 2 kali dan 34 kali. Tetapi tidak ditemukan satupun tatsniyah dan jama' dari kata Allah.
Pakar dan ulama besar dari Pakistan Abul A'la Maududi menyebut ma'rifah (definite article) dari kata ilah yang berarti tuhan dengan al ilah jadi, bukan dengan sebutan Allah tegasnya. Ma'rifah dari ilah itu al illah dan bukan Allah. hal ini banyak ditemukan dalam kitab Musthalahatul Fil Qur'an.
Tentu saja saya tidak mungkin mengujinya (maksud saya, membaca Al Quran sendiri), namun saya mempercayai data tersebut. Oleh karena itu dengan mudah dapat dipahami bahwa hanya term “
Ilah” saja yang dapat disejajarkan dengan term Ibrani
eloah-elohim, elah-elahin, el-elim, dan Aramaik
elaha. Sementara itu apa pun teorinya atau bahkan hanya sekedar dialek saja (sebagaimana dilontarkan sdr. Herlianto), term “
Allah” suka atau tidak, ternyata menunjuk pada “
proper name” sebagaimana YHWH. Term ini tidak pernah ditemui bentuk jamak, tanpa definite article “al”, dan dipahami pula tanpa gender.
Jika “
bismillah” dalam inskripsi Zabad (tahun 512) orang-orang Kristen-Arab, dipahami sebagai “
bism al ilah” maka hal ini tidak terlalu mengherankan, karena term
al ilah memang sejajar dengan
ha Elohim yang memang banyak ditemui dalam Hebrew Scripture (PL), 367 kali termasuk 7 kali menunjuk
ha elohim (dewa-berhala). Namun jika “
bismillah” dipahami sebagai “dalam nama Allah” dengan asumsi lanjut Allah adalah bentuk kependekan “
al ilah”, maka tidak mungkin dirumuskan bahwa Allah kemudian menjadi bentuk kependekan dari
ha Elohim; melainkan, kita harus bertanya siapakah
ha Elohim itu, dan jawabnya hanya satu yakni YHWH. Bangsa Israel berulang kali menyebut Bait Suci sebagai “
Bait ha Elohim” dan juga “
Bait YHWH”. Dan dengan demikian bism Allah sejajar dengan
beshem YHWH yang ternyata memang ditemui dalam Alkitab PL.
Sdr. Herlianto menyatakan bahwa ada orang-orang Kristen-Arab pra Islam yang memakai nama dirinya mengandung arti “Allah”, misalnya Abdullah = Abdi Allah; dan yang mengherankan adalah kemudian hal ini menuntun ke arah konklusi bahwa kata “Allah” adalah tepat utuk dipakai sebagai kosa kata dalam terjemahan Alkitab. (berikut adalah pernyataannya)
Pada abad-4 sudah ada uskup Arab Kristen bernama Abdullah (Abdi Allah) dan pada abad-5 ada beberapa inskripsi menggunakan nama itu termasuk sebutan ‘Bismilah’ (dalam nama Allah). Jadi jangan menganggap seakan-akan Kristen menggunakan istilah Islam tetapi Islamlah yang menggunakan istilah Arab yang jauh sebelumnya sudah digunakan oleh orang Yahudi dan Kristen berbahasa Arab. (Ezra 5:1 menulis sebutan Bismilah bhs. Arab dalam bahasa Aram, yaitu ‘Bashum Alaah Yisrael’). Muhammad sendiri menulis bahwa pada masa hidupnya, nama ‘Allah’ sudah disebut baik di Sinagoga, Gereja, maupun Mesjid (QS.22:40), ini berarti bahwa sebelum Ada Mesjid (yang baru ada waktu itu) Sinagoga dan Gereja sudah ada lebih dahulu di jazirah Arab dan di dalamnya disebut nama Allah. (“Pertanyaan dari Pengikut ABA” Diskusi Februari 2006, Yabina.org.)
Tak ada yang mengherankan, karena memang “Allah” sudah dikenal sebagai nama dewa / berhala yang dianggap paling tinggi kedudukannya ketimbang nama dewa-dewa lain sejak zaman Jahiliyah. Jadi, jika ada orang kristen Arab (uskup Arab Kristen) bernama Abdullah adalah hal yang lumrah seperi halnya nama-nama orang Yahudi yang mengadopsi akhiran el, (bahkan nama Yakub yang diubah menjadi Israel), untuk diasosiasikan dengan nama sesembahannya
Elohim. Apalagi umumnya nama seseorang adalah pemberian dari orang tuanya, dan bukan mustahil, orang tua uskup Abdullah tersebut (juga belum tentu Kristen Arab) memang menyembah Sang Dewa Tertinggi yang bernama “Allah” yang pada saat itu (politeis) yang kemudian dalam perkembangannya dipahami sebagai satu-satunya Yang Mahakuasa (monoteis) sebagaimana dilakukan Muhammad dalam ajaran “islam”nya. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa Gereja Kristen-Arab pada waktu itu juga mengumandangkan nama “Allah.” Namun perlu diingat bahwa “Allah” di situ adalah nama diri sementara itu
Elohim nama generik; jika ingin mengasosiasikan dengan nama diri YHWH, maka jadilah nama Yesayah; dan jika igin melibatkan keduanya, jadilah Eliyah (Yah
is my Elohim) misalnya. Oleh karena itu pemakaian nama “Allah” dalam nama-nama Kristen Arab bukanlah referensi yang lurus untk terjemahan Hebrew Scripture.
(5) Penutup
Akhirnya saya harus berani menyatakan bahwa pandangan saya tersebut memang benar-benar kontradiksi dengan pandangan Sdr. Herlianto, dan dengan tujuan untuk “melawannya” oleh karena itu artikel ini saya beri judul “konfrontasi”. Ini berarti bukan saya bermusuhan secara pribadi dengan beliau; saya kenal dalam arti lihat orangnya pun belum pernah sama sekali. Oleh karena itu silakan para pembaca khususnya Sdr. Herlianto sendiri memahami hal ini. Istilah-istilah yang saya ungkapkan cukup “frontal”, karena saya memang juga harus memakai cara yang mirip beliau lakukan agar ungkapannya bisa saling “match”; dan dalam suatu “pertarungan”, jika saya merasa mendapat serangan, maka “pertahanan yang terbaik adalah serangan balik” (demikianlah motto seorang petinju Roberto Durrant ketika mampu mengalahkan Sugar Ray Leonard). Akhirnya saya sekali lagi mengajak Sdr. Herlianto untuk menanggapi tanggapan saya ini agar saya bisa belajar lebih lanjut.
Yogyakarta, 29 April 2006
Penanggap adalah salah seorang anggota GKJ
Pengajar Kimia, FMIPA – UNY, Yogyakarta
kristiansugiyarto @ yahoo.com, HP. 08157935534